BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Hipotesis
1. Value Added Intellectual Capital dengan Kinerja Perusahaan
Menurut Volkov (2012:12) bahwa Intellectual Capital (IC) telah dipahami menjadi aset strategik yang penting untuk mencapai keungulan yang kompetitif. Sedangkan menurut Heng (2001) dalam Sirapaji (2015:47) mengartikan modal intelektual sebagai aset berbasis teori berbasis kopetensi inti perusahaan yang dapat mempengaruhi daya tahan dan keungulan bersaing. Intellectual Capital (IC) diyakini dapat berperan penting dalam peningkatan kinerja keuangan perusahaan maupun nilai perusahaan. Pemilihan model VAICTM sebagai proksi atas IC mengacu pada penelitian Firer dan Williams (2003); Chen et al. (2005); Tan et al. (2007); dan Ulum (2010).
Bontis (1998) menyatakan bahwa IC sangat penting dalam meningkatkan kemampuan organisasi. Petty (2000) menyatakan bahwa pentingnya teori dan kontribusi empiris yang berhubungan dengan pengukuran dan pelaporan IC (studi pustaka). Dengan adanya pemahaman intellectual capital dapat digunakan untuk mengurangi tuntutan kerja karyawan dan meningkatkan kemampuan karyawan (studi pustaka) dalam Sugeng (2000).
Menurut Ulum (2009) Berdasarkan hasil pengujian dengan PLS diketahui bahwa memiliki pengaruh positif antara IC (VAICTM) terhadap kinerja keuangan perusahaan. Begitu pula menurut penelitian ahangar (2010) adanya pengaruh positif antara IC terhadap kinerja perusahaan. Hasil
yang sama dilakukan oleh Subagyo dan Sarah (2010) serta Hadri dan Kusuma (2015:50) bahwa adanya pengaruh positif variabel intellectual capital terhadap kinerja perusahaan. Hal ini berarti mengindikasikan adanya pengaruh IC (VAIC) yang signifikan terhadap kinerja.
Berdasarkan uraian di atas, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H1 : Terdapat pengaruh positif value added intellectual capital terhadap
kinerja perusahaan
2. Komisaris Independen dengan Kinerja Perusahaan
Dalam penelitiannya Beasley (1996:57) menguji pengaruh antara proporsi dewan komisaris independen dengan kecurangan pelaporan keuangan. Dengan membandingkan perusahaan yang melakukan kecurangan dengan perusahaan yang tidak melakukan kecurangan, ditemukan bahwa perusahaan yang melakukan kecurangan memiliki persentase dewan komisaris eksternal yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan kecurangan.
Berkurangnya presentase kecurangan ini, otomatis meningkatkan kualitas laba sedangkan banyaknya laba merupakan patokan kinerja suatu perusahaan. Semakin besar laba yang dihasilkan suatu perusahaan, maka semakin dianggap baik kinerjanya. Dengan demikian diharapkan kinerja perusahaan akan semakin meningkat dimasa depan dengan adanya komisaris independen di dalam suatu perusahaan. Dikarenakan sebagai anggota yang berasal dari luar pemegang saham perusahaan, yang bebas
dari hubungan bisnis mempengaruhi ataupun hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen.
Menurut Trisnantari (2010:17) Corporate governance yang diproksikan dengan proporsi komisaris independen berpengaruh positif pada kinerja perusahaan. Menurut Muntiah (2013:14) secaraparsial menunjukkan bahwa proporsi dewan komisaris independen berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan.
Penelitian Sylvia dan Siddharta (2005) dalam Carningsih (2009:6) memberikan bukti bahwa pengangkatan dewan komisaris independen oleh perusahaan mungkin hanya dilakukan untuk pemenuhan regulasi saja dan tidak dimaksudkan untuk menegakkan good corporate governance (GCG). Kondisi ini juga ditegaskan dari hasil survey Asian Development Bank dalam Gideon (2005) dalam Carningsih (2009:6) yang menyatakan bahwa kuatnya kendali pendiri perusahaan dan kepemilikan saham.
Berdasarkan uraian di atas, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2 : Terdapat pengaruh positif proporsi komisaris independen terhadap
kinerja perusahaan.
3. Kepemilikan Institusional dengan Kinerja Perusahaan
Mutiah (2014:13) menemukan bahwa good corporate governance yang diproksikan dengan kepemilikan institutional memiliki pengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Artinya dengan adanya kepemilikan
institutional dianggap sebagai controller bagi perusahaan untuk mengawasi tindakan manajer sehingga manager tidak bertindak sesuai keinginan sendiri, sehingga antar manajerial dan institutional dapat saling berkerja sama untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
Menurut Pizarro et al. (2006) dan Bjuggren et al. (2007) dalam Nuraina, menemukan bahwa corporate governance yang diproksikan dengan kepemilikan institusional berpengaruh positif pada kinerja perusahaan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kepemilikan institusional menjadi mekanisme yang handal sehingga mampu memotivasi manajer dalam meningkatkan kinerja.
Siallagan dan Machfoedz (2006) menunjukkan bahwa proporsi komisaris independen berpengaruh signifikan dengan nilai perusahaan. Hasil penelitian lain juga menemukan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan (Xu dan Wang (1997) dan Mutiah (2013:10).
Shleifer dan Vishny (1986) dalam Trisnantari (2010:22) berpendapat bahwa kepemilikan institusional yang cukup besar akan mempengaruhi kinerja perusahaan. Semakin besar tingkat kepemilikan saham oleh institusi, maka semakin efektif mekanisme kontrol terhadap kinerja manajemen independen dapat mempertimbangkan keefektifan pengawasan atas dewan komisaris dan komite audit sebagai jaminan atas integritas nilai dalam laporan keuangan.
Pratama dan Suputra. (2015:6) menyatakan bahwa Good Corporate Governance yang diproksi dengan kepemilikan institutional tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan dalam Artinya, Hal ini bahwa kepemilikan institutional dapat memberikan feedback yakni dalam pengolahan keuntungan yang dilakukan oleh manager dimana pengelolaan laba yang lebih baik dapat berpengaruh pada kinerja suatu perusahaan
Sedangkan penelitian Trisnantari (2010:22) menemukan bahwa kepemilikan institutional berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan. Hal ini dapat disebabkan karena kepemilikan institusional tidak berhasil meningkatkan kinerja perusahaan tapi justru menurunkan kinerja perusahaan karena investor institusional bukan pemilik mayoritas sehingga tidak mampu memonitor kinerja manajer secara baik (Trisnantari, 2010:37). Berdasarkan uraian di atas, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H3 : Terdapat pengaruh positif antara kepemilikan institutional terhadap
kinerja perusahaan.
4. Dewan Direksi dengan Kinerja Perusahaan
Hasil uji hipotesis menunjukan bahwa dewan direksi tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Peneliti Yermack (1996), Eisenberg et al. (1998), Conyon dan Peck (1998), Loderer dan Peyer (2002), dan S. Beiner et al. 2003) dalam Wulandari (2006:5) menemukan pengaruh negatif jumlah dewan direksi terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan Tobins’Q.
Perusahaan dengan jumlah dewan direksi yang besar akan membuat nilai tobins Q menjadi semakin rendah. Disamping itu perusahaan dengan sistem good corporate governance yang tidak berjalan dengan baik juga dikarakteristikan dengan jumlah dewan direksi yang besar. Berdasarkan uraian di atas, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H4: Terdapat pengaruh negatif antara dewan direksi terhadap kinerja
perusahaan.
5. Pergantian Chief Executive Officer dengan Kinerja Perusahaan
Berdasarkan hasil penelitian secara empiris yang dilakukan oleh Kato dan Long (2005) terhadap perusahaan-perusahaan di China pada tahun 1998-2002 menemukan bahwa kinerja perusahaan akan meningkat secara signifikan setelah dilakukan penggantian CEO, selain itu adanya penunjukkan direktur independen juga dapat meningkatkan pergantian dan sensitivitas kinerja.
Temuan empiris Lopez-de-Silanes (1997) dalam Trisnantari (2010:15), yang mengakui bahwa manajemen BUMN yang existing kemungkinan mengalami kesenjangan kompetensi dalam memimpin BUMN yang baru diprivatisasi untuk membawa BUMN-nya berkompetisi di pasar. Lopez-de-Silanes (1997) juga menemukan adanya pengaruh positif dari pergantian CEO terhadap kinerja perusahaanBUMN yang diprivatisasi.
Trisnantari (2010:17) bahwa pergantian CEO berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan, berikut ini mendukung pula penelitian yang dilakukan oleh Lopez (1997), Barberis, et.al. (1996), Megginson, et al.
(1994) bahwa pergantian CEO adanya pengaruh positif terhadap kinerja perusahaan dalam Trisnantari (2010:18) penelitian dengan hasil yang sama dilakukkan oleh Dewi (2013:9) bahwa CEO berpenaruh terhadap kinerja perusahaan.
Namun ada beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari tahu apakah pergantian pemimpin tersebut berpengaruh pada suatu perusahaan akan mempengaruhi kinerja suatu perusahaan seperti Hannan dan Freman (1997:16) pergantian CEO tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Hal ini dikarenakan bahwa setiap perusahaan terutama perusahaan yang besar telah memiliki system yang memungkinkan perusahaan tersebut berjalan dengan sendirinya sehingga meskipun adanya perubahan, pergantian pemimpin dalam perusahaan tidak akan mempengaruhi kinerja.
Berdasarkan uraian di atas, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H5 : Terdapat pengaruh positif pergantian CEO terhadap kinerja perusahaan.