• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Hipotesis

2.4.1 Pengungkapan Sukarela dan Kualitas Laba

Pengertian Pengungkapan Sukarela menurut Meek (2007) merupakan pilihan bebas manajeman perusahaan untuk memberikan informasi akuntansi dan informasi lain yang relevan untuk pembuatan keputusan para pemakai laporan tahunan. Untari & Budiasih (2014) juga mengatakan “pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) adalah mengungkapkan informasi yang dianggap perlu olehperusahaan untuk diungkapkan yang melebihi dari yang diwajibkan”.Menurut Choi & Mueller (1998) Perusahaan umumnya melakukan pengungkapan melebihi kewajiban pengungkapan minimal jika mereka merasa pengungkapan itu dapat menurunkan biaya modalnya dan juga agar dapat bersaing dengan kompetitor, sebaliknya perusahaan akan mengungkapkan lebih sedikit jika mereka merasa pengungkapan tersebut dapat menampakkan informasi rahasia kepada pesaing atau menampakkan sisi buruk perusahaan di depan berbagai pihak. Karena perusahaan memiliki keleluasan dalam melakukan pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan sehingga menimbulkan adanya keragaman atau variasi pengungkapan sukarela antar perusahaan. Luas pengungkapan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi, sosial budaya suatu negara, teknologi informasi, kepemilikan perusahaan dan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang.

Beberapa argumen dikemukakan oleh Eldon (2002) terkait dengan

keengganan perusahaan untuk mengungkapkan laporan diluar yang diwajibkan, diantaranya adalah pengungkapan akan membantu pesaing dengan merugikan pemegang saham, serta serikat pekerja memperoleh keuntungan dalam tawar-menawar upah. Eldon (2002) menanggapi kembali hal tersebut dengan argumen bahwa pesaing biasanya mendapatkan informasi melalui sumber-sumber lain, dan juga pengungkapan yang lengkap biasanya akan memperbaiki iklim tawar menawar upah. Perusahaan yang melakukan pengungkapan sukarela akan mendapat apresiasi yang lebih dari stakeholder, sebab perusahaan terbuka akan permasalahan dan tata kelola perusahaannya, hal ini tentu saja akan membawa dampak baik bagi perusahaan, dalam hal ini meningkatkan kualitas laba. Dari penjelasan diatas, maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut:

Ha1: Pengungkapan Sukarela berpengaruh positif terhadap Kualitas Laba Perusahaan Tambang yang Terdaftar di BEI 2015-2019

2.4.2 Default Risk dan Kualitas Laba

Risiko yang dihadapi oleh investor atau pemegang obligasi dikarenakan obligasi tersebut gagal bayar yang disebut dengan default risk. Risiko gagal bayar hanya ada pada obligasi korporasi. Obligasi korporasi tidak dijamin pemerintah, sehingga bagi investor yang membeli obligasi korporasi harus menyadari bahwa investasinya tidak bisa kembali sebelum obligasi jatuh tempo (Diantimala, 2008).

Penelitian Agustina (2015) dan Ratnasari (2017) menunjukkan hasil yang sama. Default risk berpengaruh negatif signifikan terhadap earnings response coefficient. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi nilai default risk, maka akanmenurunkan nilai ERC.Suatu perusahaan dengan hutang yang tinggi akan menyebabkan ERC lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki hutang rendah (Delvira, 2013). Apabila pada suatu pasar terdapatperusahaan dengan informasi tingkat hutang yang tinggi di masa depan maka kemungkinan besar perusahaan tersebut akan kurang mendapat respons yang baik dari para investor sehingga nilai ERC akan melemah. Maka dapat dikatakan bahwa semakin tinggi default risk suatu perusahaan maka akan semakin rendah pula ERC. Dengan demikian, dapat dikemukakan hipotesis sebagai berikut:

Ha2 : Default Risk berpengaruh negatif terhadap Kualitas Laba Perusahaan Tambang yang terdaftar di BEI 2015-2019

2.4.3 Risiko Sistematis dan Kualitas Laba

Risiko sistematis merupakan risiko yang disebabkan karena risiko keseluruhan pasar. Oleh karena itu risiko sistematis disebut juga risiko pasar (market risk). Sedangkan risiko tidak sistematis merupakan risiko yang hanya khusus pada perusahaan. Dalam penelitian ini, penulis melakukan penelitian risiko perusahaan khususnya risiko sistematis perusahaan. Risiko sistematis atau biasa

disebut sebagai risiko pasar mempengaruhi kualitas laba perusahaan.

Keadaaan politik, sosial dan ekonomi suatu negara mempengaruhi kenginan investor untuk menanamkan modalnya. Hal ini juga mempengaruhi harga pasar saham. Risiko pasar mengalami perubahan yang terbilang fluktuatif. Apabila risiko pasar tinggi, maka manajemen akan mengambil kebijakan untuk menarik investor agar tetap berinvestasi, atau juga untuk menstabilkan harga pasar saham dengan memainkan kebijakan akuntansi baik dalam perataan laba, window dressing, lapping dan sebagainya. Akan tetapi, jika risiko sistematis itu relatif kecil maka akan memperkecil praktik manajemen laba sehingga informasi laba yang dihasilkan bersifat netral dan sesuai dengankeadaan yang sebenarnya. Semakin tinggi risiko suatu perusahaan maka semakin rendah nilai perusahaan di mata investor.

Investor akan melihat laba saat ini sebagai indikator dari kemampuan menghasilkan laba dan return masa depan, sehingga semakin berisiko return masa depan maka semakin rendah reaksi investor terhadap unexpected earning (Imroatussolihah:2013). Dari penjelasan di atas maka dapat ditarik hipotesis penelitian sebagai berikut

Ha3: Risiko Sistematis berpengaruh positif terhadap Kualitas Laba Perusahaan Tambang yang terdaftar di BEI 2015-2019

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian asosiatif kausal. Penelitian asosiatif kausal adalah penelitian yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara suatu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lain (Erlina, 2011). Dengan kata lain desain asosiatif kausal bertujuan untuk mengukur hubungan-hubungan antar variabel penelitian atau berguna untuk menganalisis bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Penelitian ini menguji pengaruh pengungkapan sukarela, default risk, dan risiko sistematis terhadap kualitas laba

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data-data perusahaan yang diperlukan dari website Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id) Data yang diteliti adalah data perusahaan Tambang yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2015-2019

3.3 Populasi dan Sampel Data

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi atau studi populasi atau study sensus (Sabar 2007).

Populasi dalam penelitian ini adalah Sub Sektor Pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indoesia tahun 2015-2019

Sampel adalah sebagian dari subyek dalam populasi yang diteliti, yang sudah tentu mampu secara representative dapat mewakili populasinya (Sabar 2007). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan memiliki kriteria tertentu. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive Sampling dalam penelitian ini, karena pengambilan sampel perusahaan dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut:

1. Perusahaan Pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2015-2019

2. Memiliki data-data lengkap transaksi saham harian yang dapat diakses dalam kurun waktu 2015-2019 (idx.co.id)

3. Perusahaan Pertambangan yang konsisten menghasilkan laba selama periode 2015-2019

Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, dari 54 perusahaan diperoleh 33perusahaan Tabel 3.1

Kriteria Pemilihan Sampel

KETERANGAN JUMLAH

Total Perusahaan tambang yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2015-2019

54 Memiliki data-data lengkap transaksi saham harian yang dapat

diakses dalam kurun waktu 2015-2019

(10) Perusahaan Pertambangan yang konsisten menghasilkan laba

selama periode 2015-2019

(11)

Perusahaan Sampel 33

Periode Penelitian 5

Total Pengamatan (33 x 5) 165 3.4 Jenis dan Sumber Data

Berdasarkan jenis datanya, penelitian ini tergolong penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang menggunakan data berbentuk angka. Berdasarkan dimensi waktunya penelitian ini menggunakan data times series (runtut waktu), yaitu data yang secara kronologis disusun menurut waktu pada suatu variable tertentu. Sementara, berdasarkan sumber datanya jenis penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu data yang dikumpulkan dari lembaga pengumpul data, dalam hal ini bursa efek Indonesia

3.5 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode dokumentasi yaitu dengan cara mengumpulkan, mencatat, dan mengkaji data sekunder yang berupa laporan keuangan perusahaan yang telah di publikasikan dalam periode pengamatan. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dengan mengunduh data dari website Bursa Efek Indonesia yaitu www.idx.co.id untuk mendapatkan annual report dari masing-masing perusahaan dan melalui studi pustaka dengan mengumpulkan buku dan jurnal akuntansi yang berkaitan dengan peneliti terdahulu sebagai referensi.

3.6 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran

Defenisi operasional merupakan bagian dari proses penelitian, dimana peneliti mendefenisikan sebuah konsep atau variabel sehingga bisa diukur, dengan cara melihat pada dimensi (indikator) dari suatu konsep variabel. Defenisi operasional adalah melekatkan arti pada suatu variabel dengan cara menetapkan kegiatan atau tindakan yang di gunakan untuk mengukur variabel tersebut, dengan kata lain defenisi operasional merupakan spesifikasi kegiatan atau tindakan yang perlu mengukur variabel (Erlina, 2011). Variabel sendiri dapat diartikan sebagai esuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang di dapatkan oleh suatu penelitian tentang suatu konsep. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

3.6.1 Variabel Dependen (Y)

Variabel dependen sering juga disebut dengan variabel terikat atau variabel tidak bebas, variabel output, kriteria atau konsekuen, dan menjadi perhatian utama dalam sebuah pengamatan. Variabel ini dijelaskan dan dipengaruhi oleh variabel independen. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2017).

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode Earnings Response Coefficient (ERC). ERC digunakan untuk menjelaskan perbedaan reaksi pasar terhadap informasi laba yang diumumkan oleh perusahaan menghitung ERC dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menghitung Cummulative Abnormal Return (CAR).

CAR merupakan proksi harga saham yang menunjukkan besarnya respons pasar terhadap informasi akuntansi yang dipublikasikan dihitung dengan menggunakan model pasar yang disesuaikan dianggap sebagai penduga terbaik adalah model pasar yang disesuaikan. Dalam model ini, yang dianggap sebagai penduga terbaik untuk mengestimasi return sekuritas adalah return indeks pasar. Model initidak memerlukan periode estimasi untuk membentuk model estimasi, sehingga penghitungan return abnormal adalah:

ARi.t = Ri.t – Rm.t Keterangan:

ARi.t : Abnormal return perusahaan i pada periode ke- t;

Rit : Return tahunan; perusahaan i periode t; dan

Rm.t : Return indeks pasar pada periode ke- t. Untuk memperoleh data abnormal return tesebut, terlebih dahulu harus mencari return saham harian dan return pasar harian.

2. Menghitung Return saham

Keterangan :

Pit : Harga penutupan saham perusahaan i pada hari t; dan Pit-1 : Harga penutupan saham perusahaan i pada hari t-1.

3. Menghitung Return pasar

Keterangan:

Rmt : return pasar hari t

IHSG(t) : indeks harga saham gabungan pada hari t IHSG(t-1) : indeks harga saham gabungan pada hari t-1

Akumulasi abnormal return dalam jendela pengamatan adalah:

Keterangan:

CAR it : Cummulative abnormal return perusahaan i pada hari t waktu jendela pengamatan

ARi.t : Return abnormal perusahaan i pada hari t.

(CAR pada saat laba akuntansi dipublikasikan dihitung dalam periode waktu selama 11 hari pengamatan (5 hari sebelum peristiwa, 1 hari peristiwa, dan 5 hari setelah peristiwa) 4 Menghitung Unexpected Earnings (UE)

Unexpected Earnings atau laba kejutan adalah selisih antara laba sesungguhnya dengan laba ekspektasian. Laba kejutan digunakan dengan pertimbangan bahwa model laba ekspektasian bisa mengisolasi komponen kejutan yang ada didalam laba dengan komponen yang diantisipasi. Didalam

pasar modal yang efisien, komponen yang diantisipasi tidak berkorelasi dengan return laba yang tidak diekspektasi menggunakan model langkah acak sehingga laba yang tidak diekspektasi adalah sebagai berikut:

Dimana:

UEit: Unexpected earnings perusahaan i pada periode t EPSit: Laba per lembar saham perusahaan i pada periode t EPSit-1: Laba per lembar saham perusahaan i pada periode sebelumnya

5 Menghitung ERC

Koefisien respons laba merupakan koefisien yang diperoleh dari regresi antara proksi harga saham dan laba akuntansi (Soewardjono,2005). Proksi harga saham yang digunakan adalah CAR, sedangkan proksi laba akuntansi adalah Unexpected Earnings. Sehingga ERC merupakan koefisien yang diperoleh dari regresi antara CAR dengan Unexpected Earnings dapat dilihat dari slope β. Besarnya koefisien respons laba (ERC) dihitung dengan persamaan regresi atas data tiap perusahaan:

CAR = α +β (UE) + e

Keterangan:

CAR: Cummulative abnormal return UE: Unexpected earnings

β: Koefisien hasil regresi (ERC) e: Komponen error

3.6.2 Variabel Independen (X)

Adalah Variabel bebas yang mempengaruhi variabel Terikat. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pengungkaan Sukarela, Default Risk, dan Risiko Sistematis

3.6.2.1 Pengungkapan Sukarela

Pengungkapan sukarela adalah mengungkapkan informasi tambahan yang dianggap perlu dari pengungkapan yang diwajibkan.

Ukuran yang digunakan mengacu pada penelitian Harjanti (2002), Peraturan Bapepam No. Kep-134/BI/2006, menggunakan indeks pengungkapan sukarela (SPI) dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

PSi= Indeks Pengungkapan Sukarela perusahaan i.

∑Xi= Jumlah item yang diungkapkan oleh perusahaan i (skor 1 jika item diungkapkan. Skor 0 jika item tidak diungkapkan).

n= Jumlah item maksimum pengungkapan.

Daftar item pengungkapan sukarela dalam penelitian ini mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No 29 /POJK.04/2016 tentang laporan tahunan emiten atau perusahaan publik dan penelitian yang dilakukan oleh Choi dan Mueller (1992), Bambang (1999), dan Fajar (2017).

Tabel 3.2

Daftar item Pengungkapan Sukarela

No. Item Pengungkapan Sukarela

1 Waktu Pendirian

2 Tujuan umum perusahaan 3 Strategi perusahaan

4 Deskripsi umum perusahaan 5 Posisi kantor pusat atau perwakilan 6 Lokasi pabrik

7 Informasi mengenai status perusahaan (PMA/PMDN) 8 Produk utama yang diproduksi perusahaan atau sub bidang

bergerak

9 Merk dagang yang digunakan perusahaan 10 Kemampuan perusahaan berproduksi per tahun 11 Informasi mengenai pangsa pasar yang dikuasai 12 Kinerja keuangan perusahaan periode terakhir 13 Rencana investasi baru atau perluasan pasar 14 Uraian mengenai estimasi hasil investasi

15 Hutang atau bantuan yang diterima perusahaan periode tersebut

16 Pembagian dividen

No. Item Pengungkapan Sukarela

17 Kerjasama dengan perusahaan lama atau grup perusahaan 18 Daftar stakeholder (pemegang saham)

19 Daftar direktur perusahaan 20 Jumlah karyawan perusahaan

21 Penghargaan yang telah diraih perusahaan terhadap produk tersebut

22 Dampak operasi perusahaan terhadap lingkungan 23 Informasi mengenai tanggung jawab perusahaan 24 Uraian mengenai program riset dan pengembangan

25 Uraian mengenai pesanan atau kontrak yang belum terealisasi 26 Uraian mengenai kondisi kesehatan dan keselamatan kerja 27 Informasi mengenai jaringan pemasaran

28 Informasi nilai tambah baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif

29 Ringkasan rasio keuangan untuk 5 tahun terakhir atau lebih

30

Elemen – elemen laporan laporan laba rugi untuk 3 tahun terakhir atau lebih

31 Elemen – elemen neraca untuk 3 tahun terakhir atau lebih 32 Dampak inflasi terhadap perusahaan

33 Daftar manajer senior (nama dan tanggung jawab) Sumber: Suripto Bambang (1999)

3.6.2.2 Default Risk

Risiko kegagalan ini sama dengan struktur modal dalam penelitian ini diproksikan dengan leverage keuangan. Perusahaan yang tingkat leverage keuangan yang tinggi, berarti memiliki utang yang

38 lebih besar dibandingkan modal (Brigham dan Houston, 2001).

Dimana bagi perusahaan yang memiliki leverage yang tinggi, laba yang dihasilkannya memberikan keselamatan untuk obligasi dan hutangnya. Hal tersebut merupakan kabar baik bagi debtholders dibandingkan pemegang sahamnya, karena debitur mempunyai keyakinan bahwa perusahaan akan mampu melakukan pembayaran atas hutang. Namun hal ini akan direspon negatif oleh investor karena investor akan beranggapan bahwa perusahan akan lebih mengutamakan pembayaran hutang daripada pembayaran dividen (Scott, 2009). Default Risk dihitung dengan menggunkan rumus sebagai berikut:

Default Risk:

3.6.2.3 Risiko Sistematis

Risiko sistematik merupakan risiko keseluruhan di pasar modal yang menyebabkan semua aset investasi di pasar modal terkena dampaknya dan tidak bisa dihilangkan dengan diversifikasi atau portofolio. Ukuran risiko sistematik mengacu pada penelitian Silalahi (2014) dengan menggunakan single model sebagai berikut:

Keterangan:

= Return saham perusahaan i periode t.

Rmt = Return pasar pada periode t.

Tabel 3.3

Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel

Variabel Definisi Operasional Pengukuran Skala Kualitas Laba/ERC

3.7.1 Uji Statisik Deskriptif

Statistik deskriptif merupakan metode analisa data yang menggambarkan atau mendeskripsikan data secara keseluruhan

dengan menggunakan tabel statistik deskriptif dari variabel dependen yaitu Kualitas Labaserta variabel independen yaitu Pengungkapan Sukarela, Default Risk, dan Risiko Sistematis.Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi (standard deviation), varian, maksimum, minimum, sum, range, skewness (kemencengan distribusi), kurtosis (Ghozali, 2018)

3.7.2 Uji Asumsi Klasik

3.7.2.1 Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regeresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen) (Ghozali 2018:107). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas di dalam model regresi adalah sebagai berikut:

1. Nilai R2 dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel independen banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel independen.

2. Menganalisis matriks korelasi variabel-variabel independen.

3. Melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan tolerance value. Apabila tolerance value > 0,10 dan nilai VIF < 10, maka

suatu model regresi dapat diasumsikan tidak ada multikolinearitas antar variabel independen. Apabila tolerance value < 0,10 dan nilai VIF > 10, maka dapat diasumsikan ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

3.7.2.2 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali 2018:161). Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Apabila asumsi ini dilanggar, maka uji statistic menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik.

3.7.2.3 Uji Heteroskedastisitas

Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variabel dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain Model regresi yang baik adalah model regresi yang memiliki persamaan varians residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain atau disebut juga sebagai homokedasitisitas. Salah satu cara uji heterokedastisitas

Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat grafik scatterplot antara nilai prediksi variabel dependen, yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID.

Penelitian dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas apabila:

1. Titik-titik data menyebar di atas dan di bawah atau di sekitar angka 0.

2. Titik-titik data tidak mengumpul hanya di atas atau di bawah saja.

3.Penyebaran titik-titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali.

4. Penyebaran titik-titik data sebaiknya tidak berpola.

3.7.2.4 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (Ghozali 2018:111). Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya.

3.7.3 Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi berganda digunakan untuk meramalkan bagaimana tingkat signifikan paling tinggi diantara variabel –

variabel tersebut. Persamaan regresi linier berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Y = a +b1x1 +b2x2+ b3x3+e Keterangan:

Y = Kualitas Laba a = Konstanta

b = Koefisien Regresi X1 = PengungkapanSukarela

X2 = Default Risk X3 = Resiko Sistematis e = Standard Error 3.7.4 Uji Hipotesis

3.7.4.1 Uji Koefisien determinasi

Tujuan uji koefisien determinasi adalah untuk mengukur kemampuan sebuah model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 sampai 1. Nilai adjusted R² yang kecil berarti variasi variabel dependen yang sangat terbatas dan yang mendekati 1menunjukkan bahwa kemampuan variabel independen dalam memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.

3.7.4.2 Uji F

Uji statistik F menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen.

Berdasarkan nilai F hitung dengan F tabel, cara pengujian statistik F adalah sebagai berikut:

1. Jika F-hitung < F-tabel, maka variabel independen secara simultan tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

2. Jika F-hitung > F-tabel, maka variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen.

Berdasarkan nilai signifikansi output SPSS, cara pengujian statistik F

adalah sebagai berikut:

1. Jika nilai Sig. < 0,05 maka variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

2. Jika nilai Sig. > 0,05 maka variabel independen secara simultan tidakberpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

3.7.4.3 Uji t

Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen.

Berdasarkan nilai t hitung dengan t tabel, cara pengujian statistik t adalah sebagai berikut:

1. Jika t-hitung < t-tabel, maka variabel independen secara individual tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

2. Jika t-hitung > t-tabel, maka variabel independen secara individual berpengaruh terhadap variabel dependen.

Berdasarkan nilai signifikansi output SPSS, cara pengujian statistik t adalah sebagai berikut:

1. Jika nilai Sig. < 0,05 maka variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

2. Jika nilai Sig. > 0,05 maka variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskriptif Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linear berganda.

Analisis input data pada program SPSS versi 22.0. Proses pengolahannya dimulai dengan memasukkan data-data penelitian ke program SPSS sehingga menghasilkan output yang sesuai dengan metode analisis data yang digunakan. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Penelitian ini memiliki 33 perusahaan pertambangan yang memenuhi kriteria dengan empat tahun periode pengamatan dari tahun 2015-2018 dengan jumlah analisis 132

4.2 Uji Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui karakteristik sampel yang digunakan dan menggambarkan variabel – variabel dalam penelitian. Peneliti menggunakan analisis deskriptif pada variabel skala rasio. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari Pengungkpan Sukarela, Default Risk, Risiko Sistematis dan Kualitas laba.

Statistik deskriptif dari variabel dependen dan independen pada sampel perusahaan tambang pada periode 2015 - 2018 disajikan dalam Tabel 4.1

Tabel 4.1

Hasil Analisis Statistik Deskriptif Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Pengungkapan Sukarela 132 ,70 ,97 ,8636 ,07143

Default Risk 132 -391,79 53,34 -1,4801 34,69912

Risiko Sistematis 132 -10,63 3,76 1,0642 1,53616

Kualitas Laba 132 -,97 2,66 ,0118 ,25931

Valid N (listwise) 132

Berdasarkan gambar 4.1 dapat dideskripsikan hal – hal sebagai berikut:

1. Jumlah seluruh sampel penelitian adalah 33 perusahaan dengan 165 pengamatan, yaitu 33 perusahaan dikali 5 periode, dengan 3 variabel independen yang menggunakan skala rasio.

2. Variabel Pengungkapan Sukarela memiliki nilai minimum 0,70 nilai maksimum 0,97 dan nilai rata – rata 0,86 dengan standar deviasi variabel 0,71 nilai minimun Pengungkapan Sukarela dimiliki oleh PT Medco Internasional Tbk pada tahun 2018, sedangkan untuk nilai maksimum Pengungkapan Sukarela dimiliki oleh PT. Antam pada tahun 2015-2018, PT Bumi 2015-2018, PT Bukit Asam, PT Vale 2015-2018. Hal ini menunjukan bahwa presentase Pengungkapan Sukarela perusahaan

2. Variabel Pengungkapan Sukarela memiliki nilai minimum 0,70 nilai maksimum 0,97 dan nilai rata – rata 0,86 dengan standar deviasi variabel 0,71 nilai minimun Pengungkapan Sukarela dimiliki oleh PT Medco Internasional Tbk pada tahun 2018, sedangkan untuk nilai maksimum Pengungkapan Sukarela dimiliki oleh PT. Antam pada tahun 2015-2018, PT Bumi 2015-2018, PT Bukit Asam, PT Vale 2015-2018. Hal ini menunjukan bahwa presentase Pengungkapan Sukarela perusahaan

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH ANANDA PUTRA NATANIEL PASARIBU (Halaman 40-101)

Dokumen terkait