• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN PENGEMBANGAN

3.2. HipotesisPenelitian

Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan teoritis, tinjauan penelitian terdahulu dan kerangka konseptual, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut : desentralisasi fiskal, belanja modal, angkatan kerja, dan investasi berpengaruh positif signifikan terhadap PDRB di Provinsi Sumatera Utara.

PDRB (Y)

Belanja Modal

(X2) Desentralisasi

Fiskal (X1)

Angkatan Kerja (X3)

Investasi (X4)

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kausal (causal), Umar (2008) menyebutkan desain kausal berguna untuk menganalisis bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lain, dan juga berguna pada penelitian yang bersifat eksperimen dimana variabel independennya diperlakukan secara terkendali oleh peneliti untuk melihat dampaknya pada variabel dependennya secara langsung.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian adalah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara, waktu yang direncanakan untuk melakukan penelitian adalah bulan November 2012 sampai dengan selesai.

4.3 Metode Pengumpulan Data

Sumber data penelitian merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan dalam penentuan metode pengumpulan data. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data skunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara. Data dalam penelitian ini merupakan data time series (runtun waktu) yaitu tahun 1990 sampai dengan tahun 2012 (jadi N=23).

4.4. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ordinary least square (OLS) dengan menggunakan sofwer SPSS 19. Analisis data

dilakukan dengan melakukan pengujian asumsi klasik dan pengujian hipotesis.

Untuk Kegunaan analisis regresi linier berganda untuk mengukur pengaruh antara lebih dari satu variabel prediktor (variabel bebas) terhadap variabel terikat.

4.4.1. Analisis Deskriptis

Data statistik yang diperoleh dalam penelitian perlu diringkas dengan baik dan teratur. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang sekumpulan data yang diproleh baik mengenai sampel atau populasi.

4.4.2. Uji Asumsi Klasik

Sebelum dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis regresi maka diperlukan pengujian asumsi klasik meliputi :

1. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui distribusi data dalam variabel yang digunakan dalam penelitian. Data yang baik dan layak digunakan dalam penelitian adalah data yang memiliki distribusi normal. Untuk menguji apakah distribusi normal atau tidak dapat dilihat melalui normal probability plot dengan membandingkan distribusi kumulatif dan distribusi normal. Data normal akan membentuk satu garis lurus diagonal, dan ploting data akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi data adalah normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya. Uji statistik dilakukan uji one sample Kolmogorov Smirnov Test, jika nilai

Kolmogorov Smirnov signifikannya di atas α = 0,05, maka Ho diterima yang berarti data residual berdistribusi normal (Ghozali, 2005).

2. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas diperlukan untuk mengetahui apakah ada tidaknya variabel independen yang memiliki kemiripan dengan variabel independen lain dalam satu model. Selain itu deteksi terhadap multikolinieritas juga bertujuan untuk menghindari bias dalam proses pengambilan keputusan mengenai pengaruh pada uji parsial masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen.

Deteksi multikolinieritas pada suatu model dapat dilihat jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) tidak lebih dari 10 dan nilai Tolerance tidak kurang dari

0,1, maka model tersebut dapat dikatakan terbebas dari multikolinieritas. VIF = 1/Tolerance, maka jika VIF = 10 maka Tolerance = 1/10 = 0,1 (Ghozali, 2005).

3. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Pengujian asumsi ketiga ini, dilakukan dengan menggunakan uji Durbin Watson (Durbin-Watson Test), yaitu untuk menguji apakah terjadi korelasi serial atau tidak dengan menghitung nilai d statistik. Salah satu pengujian yang digunakan untuk mengetahui adanya autokorelasi adalah dengan memakai uji statistik Durbin Watson (DW test). Jika nilai Durbin Watson berada diantar -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi.

Nilai Durbin Watson yang diperoleh dibandingkan dengan nilai tabel dengan

menggunakan nilai signifikansi 5%. Jika nilai Durbin Watson > batas atas (du), dan kurang dari jumlah variabel independen–batas atas (du), maka dapat disimpulkan bahwa terima Ho, yang berarti tidak terdapat autokorelasi (Ghozali, 2005).

4.4.3. Model Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan bantuan SPSS versi 19.0. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan model analisis regresi berganda. Persamaan regresinya adalah :

PE = bo + b1 BM + b2 AK + b3 INV + b4 D1

= Desentralisasi Fiskal (Dummy)

1

D

= 0 untuk sebelum Desentralisasi Fiskal (1990-2000)

1

e = error term

= 1 untuk sesudah Desentralisasi Fiskal (2001-2012)

4.5. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 1. PDRB

Perekonomian daerah dimaksud dalam penelitian ini adalah Produk Domestik Regional Bruto per tahun menurut harga konstan, yang dinyatakan dalam satuan milyar Rupiah.

2. Desentralisasi Fiskal

Desentralisasi Fiskal dimaksud dalam penelitian ini adalah proses distribusi

yang lebih rendah untuk mendukung fungsi atau tugas pemerintahan dan pelayanan publik sesuai dengan banyaknya kewenangan bidang pemerintahan yang dilimpahkan. Untuk memberikan gambaran mengenai kondisi yang terjadi selama masa pengamatan, yakni era sebelum desentralisasi fiskal dan sesudah desentralisasi fiskal maka digunakan variabel dummy, dimana waktu-waktu sebelum diberlakukannya desentralisasi fiskal (1990-2000) diberikan nilai 0 dan waktu sesudah desentralisasi fiskal (2001-2012) diberi nilai 1.

3. Belanja Modal

Belanja Modal adalah pengeluaran pengeluaran yang digunakan untuk pembelian/pengadaan/pembangunan aset tetap berwujud yang nilai manfaatnya lebih dari setahun dan atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintah daerah yang dinyatakan dalam satuan juta Rupiah.

4. Angkatan Kerja

Angkatan kerja adalah jumlah penduduk usia kerja (berusia 10 tahun ke atas) yang bekerja, yaitu melakukan kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang/jasa secara kontinu paling sedikit satu jam dalam seminggu yang dinyatakan dalam satuan ribuan jiwa.

5. Investasi Swasta

Investasi adalah meliputi pertambahan barang-barang dan jasa dalam masyarakat, seperti pertambahan mesin-mesin baru, pembuatan jalan baru, pembukaan tanah baru dan sebagainya, yang dinyatakan dalam satuan juta Rupiah.

Berikut adalah jenis variabel yang digunakan oleh peneliti serta definisi operasional variabel dan skala pengukurannya :

Tabel 4.2. Definisi Operasional Variabel dan Skala Pengukuran

No. Variabel

Pengukuran Variabel Definisi Operasional Skala

1. PDRB(Y)

Diproksi dari PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000

PDRB merupakan pendapatan daerah yang dihasilkan dari produksi dan pendapatan suatau daerah dalam kurun waktu satu tahun.

Desentralisasi Fiskal adalah proses distribusi anggaran dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi kepada pemerintahan yang lebih rendah untuk mendukung fungsi atau tugas pemerintahan dan pelayanan publik.

Belanja Modal yaitu pengeluaran yang dilakukan dalam rangka kegiatan, pengadaan, sarana dan prasarana fisik pembangunan,

Angkatan Kerja Angkatan Kerja adalah jumlah penduduk usia kerja (berusia 10 tahun ke atas) yang bekerja, yaitu melakukan kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang/jasa secara kontinu paling sedikit satu jam dalam seminggu.

Rasio

5. Investasi (X4)

Jumlah Investasi Investasi adalah seluruh investasi swasta dalam negeri (PMDN) di Sumatera Utara.

Rasio

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Deskripsi Variabel Penelitian

Data yang dikumpulkan berdasarkan data time series dengan kurun waktu 23 tahun yaitu dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2012. Berdasarkan data deskriptif pada variabel-variabel diatas dapat dirangkum dan dikumpulan dalam Tabel 5.1:

Tabel 5.1 Hasil Deskriptif Statistik

PDRB

Mean 51.268.17 372.408.52 5.234.30 698881.13

Std. Deviation 44.747.65 318.023.79 927.12 738855.71

Minimum 5.934.00 15.125.00 3.820.00 67239.00

Maximum 132.694.00 934.502.00 7.021.00 2644965.00

Sum 1.179.168.00 8.565.396.00 120.389.00 16074266.00 Sumber : Lampiran (Hasil Olah SPSS)

Berdasarkan Tabel 5.1 diketahui bahwa jumlah data yang diobservasi sebanyak 23 observasi yaitu tahun 1990 s/d tahun 2012.

PDRB

Rata-rata (mean) PDRB Provinsi Sumatera Utara yang diteliti adalah sebesar Rp. 51.268,17 milyar. Standar deviasi sebesar Rp. 44.747,65 milyar.

PDRB Provinsi Sumatera Utara terendah yang dicapai adalah Rp. 5.934 milyar dan PDRB Provinsi Sumatera Utara tertinggi yang dicapai adalah Rp. 132.694 milyar, dengan nilai sum sebesar 1.179.168 milyar.

Belanja Modal

Rata-rata (mean) belanja modal Provinsi Sumatera Utara yang diteliti adalah sebesar Rp. 372.408,52 juta. Standar deviasi sebesar Rp. 318.023,79 juta.

Belanja modal Provinsi Sumatera Utara terendah yang dicapai adalah Rp.

15.125,00 juta dan belanja modal Provinsi Sumatera Utara tertinggi yang dicapai adalah Rp. 934.502,00 juta, dengan nilai sum Rp. 8.565.396 juta.

Angkatan Kerja

Rata-rata (mean) angkatan kerja Provinsi Sumatera Utara yang diteliti adalah sebesar 5.234,30 ribu jiwa. Standar deviasi sebesar 927,12 ribu jiwa.

Angkatan kerja Provinsi Sumatera Utara terendah yang dicapai adalah sebesar 3.820 ribu jiwa dan angkatan kerja Provinsi Sumatera Utara tertinggi yang dicapai adalah 7.021 ribu jiwa, dengan nilai sum sebesar 120.389 ribu jiwa.

Investasi

Rata-rata (mean) investasi Provinsi Sumatera Utara yang diteliti adalah sebesar Rp. 698.881,13 juta. Standar deviasi sebesar Rp. 738.855,71 juta.

Investasi Provinsi Sumatera Utara terendah yang dicapai adalah Rp. 67.239,00 juta dan investasi Provinsi Sumatera Utara tertinggi yang dicapai adalah Rp.

2.644.965,00 juta, dengan nilai sum Rp. 16.047.266,00 juta.

Nilai mean dan standar deviasi biasa digunakan untuk membandingkan apakah data memiliki kecenderungan normal atau tidak. Hasil tersebut menunjukan hampir semua data normal karena nilai mean lebih besar dibandingkan dengan nilai standar deviasi kecuali nilai investasi dimana nilai

standar deviasi sebesar 738.855.71 lebih besar dibandingkan nilai mean sebesar 698.881.13.

5.2. Hasil Analisis 5.2.1 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dilakukan dalam upaya untuk memperoleh hasil analisis regresi yang sahih (valid). Ada 4 asumsi klasik yang harus dipenuhi, yaitu: tidak ada multikolinearitas, tidak ada heteroskedastisitas, data normal dan tidak ada autokorelasi Berikut ini pengujian untuk menentukan apakah ketiga asumsi klasik tersebut dipenuhi atau tidak.

5.2.1.1 Uji Normalitas Data

Uji normalitas residual dilakukan untuk menganalisis apakah syarat persamaan regresi sudah dipenuhi atau belum.Output dari uji normalitas data adalah berupa gambar visual yang menunjukkan jauh-dekatnya titik-titik pada gambar tersebut dengan garis diagonal. Jika data berasal dari distribusi normal, maka nilai-nilai sebaran data yang tercermin dalam titik-titik pada output akan terletak di sekitar garis diagonal. Sebaliknya, jika data berasal dari distribusi yang tidak normal maka titik-titik tersebut tersebar tidak di sekitar garis diagonal (terpencar jauh dari garis diagonal).

0.00.2Observed Cum Prob0.40.60.81.0

0.00.20.40.60.81.0Expected Cum ProbDependent Variable: Perekonomian Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual

Gambar 5.1 Uji Normalitas Residual

Dengan melihat tampilan grafik histogram dapat disimpulkan bahwa pola distribusi data adalah normal.Kemudian pada grafik normal plot terlihat titik-titik sebaran data normal.Normalitas data dilakukan dengan menstranformasi data kedalam data logaritma agar data menunjukan pergerakan yang tidak terlalu berbeda dengan tahun sebelumnya.

Uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual antara lain adalah uji statistik non parametrik Kolmogorov-Smirnov (S). Uji K-S dilakukan dengan membuat hipotesis :

Ho : Data residual tidak berdistribusi normal Ha : Data residual berdistribusi normal Untuk menentukannya maka kriterianya adalah :

Ho diterima apabila nilai signifikansi (Asymp.Sig) < 0,05 Ha diterima apabila nilai signifikansi (Asymp.Sig) > 0,05

Tabel 5.2. Kolmogorov – Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 23

Normal Parameters(a,b) Mean .0000000

Std. Deviation 14176.63778759

Most Extreme Differences Absolute .180

Positive .180

Negative -.117

Kolmogorov-Smirnov Z .865

Asymp. Sig. (2-tailed) .443

a Test distribution is Normal.

b Calculated from data.

Dari hasil uji statistik pada Tabel 5.2. menunjukkan bahwa nilai Kolmogorov-Smirnov Z sebesar 0,865 dan signifikansinya pada 0,443 dan

nilainya di atas α = 0,05 (Asymp.Sig = 0,443 > 0,05) sehingga hipotesis Ha diterima yang berarti data residual berdistribusi normal.

5.2.1.2 Uji Multikolinearitas

Ada tidaknya masalah multikolinearitas dalam sebuah model regresi dapat dideteksi dengan nilai VIF (variance inflactor factor) dan nilai toleransi (tolerance). Suatu model regresi dikatakan bebas dari masalah multikolinearitas jika mempunyai nilai VIF lebih kecil dari 10 dan mempunyai nilai tolerance di atas 0,1 (Ghozali, 2005). Dalam model regresi ini, hasil uji multikolinearitas dapat dilihat dari Tabel 5.3

Tabel 5.3. Uji Multikolinearitas

Model

a Dependent Variable: PDRB

Nilai VIF dan tolerance pada tabel 5.3 menunjukkan bahwa semua variabel dalam penelitian ini tidak mengalami multikolinearitas. Hal ini ditunjukkan oleh nilai VIF variabel tersebut yang besarnya kurang dari 10 (Ghozali, 2005), dan nilai tolerance jauh melebihi angka 0,1.

5.2.1.3. Uji Autokorelasi

Untuk mendeteksi terjadinya autokorelasi dilakukan perbandingan nilai Durbin-Watson (DW)-statistik dengan nilai DW-tabel. Nilai DWstatistik dalam

penelitian ini dapat diketahui dengan melihat koefisien korelasi DW-statistik (DW-test) melalui uji Durbin-Watson pada Tabel berikut ini:

Tabel 5.4. Uji Durbin Watson

Model R Durbin-Watson

1 .948(a) 1.555

a Predictors: (Constant), Desentralisasi Fiskal, Investasi, Belanja Modal, Angkatan Kerja b Dependent Variable: Perekonomian

Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai DW-statistik yang didapatkan sebesar 1,555. Untuk mendeteksi terjadinya autokorelasi, angka ini kemudian diklasifikasikan menurut kriteria yang ditentukan sesuai dengan tabel 5.4

Tabel 5.5. Pengukuran Autokorelasi Durbin Watson Kesimpulan Kurang dari 1,10

1,10 sampai dengan 1,54 1,55 sampai dengan 2,46 2,47 sampai dengan 2,90

Lebih dari 2,91 Sumber : Algifari (2000)

Untuk menilai ada atau tidaknya autokorelasi, nilai Durbin-Watson statistik yang didapatkan dari penghitungan pada tabel di atas, yang menunjukkan nilai sebesar 1,555 diklasifikasikan menurut kriteria pengukuran autokorelasi pada tabel di atas. Dilihat dari tabel 5.4, pengukuran autokorelasi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terjadi autokorelasi dalam model regresi ini. Hasil uji asumsi klasik di atas menunjukkan bahwa data yang akan diolah dalam penelitian ini bebas dari masalah multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi.

5.3 Hasil Pengujian Hipotesis

Penggunaan persamaan regresi berganda dibentuk fungsi persamaan faktor-faktor yang mempengaruhi PDRB Provinsi Sumatera Utara. Variabel-variabel yang dianggap memberikan pengaruh terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara adalah : Desentralisasi Fiskal (Dummy), Belanja Modal(BM), Angkatan Kerja (AK), Investasi (INV).

5.3.1. Hasil Uji Koefisien Determinasi ( R2

Koefisien determinasi digunakan untuk menguji goodness-fit dari model regresi yang dapat lihat dari nilai R Square. Untuk mengetahui hubungan PDRB Pemerintah Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Utara dengan faktor desentralisasi fiskal (dummy), belanja modal, angkatan kerja dan investasi dapat dilihat melalui besarnya koefisien determinasi.

)

Tabel 5.6. Koefisien Determinasi

Model R R Square

Adjusted R

Square Std. Error of the Estimate

1 .948(a) .900 .877 15672.86278

a Predictors: (Constant), Desentralisasi Fiskal, Investasi, Belanja Modal, Angkatan Kerja b Dependent Variable: PDRB

Perhitungan nilai R Square adalah 0,900. Hal ini berarti 90,0 persen PDRB Pemerintah Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Utara dapat dijelaskan oleh keempat variabel independen (desentraliasi fiskal (dummy), belanja modal, angkatan kerja dan investasi) di atas, sedangkan sisanya yaitu 10,0 persen dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain.

5.3.2. Hasil Pengujian Hipotesis Simultan (Uji F)

Hasil analisis data dapat dilihat pada tabel 5.7 berikut : Tabel 5.7. Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji F)

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 39630253966.172 4 9907563491.543 40.334 .000(a)

Residual 4421495297.132 18 245638627.618

Total 44051749263.304 22

a Predictors: (Constant), Desentralisasi Fiskal, Investasi, Belanja Modal, Angkatan Kerja b Dependent Variable: PDRB

Tabel di atas dapat diketahui nilai probabilitas sig 0.000 <α0,05, maka Ha diterima, dan Ho ditolak maka hasilnya menunjukkan ada pengaruh signifikan secara simultan Desentralisasi Fiskal, Belanja Modal, Angkatan Kerja dan Investasi berpengaruh terhadap PDRB di Provinsi Sumatera Utara.

5.3.4. Hasil Pengujian Hipotesis Parsial (Uji t)

Analisa pengujian hipotesis parsial dapat dilihat pada Tabel 5.8. berikut : Tabel 5.8. Hasil Uji t Parsial (Uji Signifikansi)

Coefficients(a)

a Dependent Variable: PDRB

Dari tabel 5.8. tersebut, uji statistik t, diperoleh sebagai berikut :

1. Variabel Belanja Modal : t-hitung = 0,818, t-tabel = 2,010, dengan tingkat profitabilitas 0,424. Dengan demikian dapat disimpulkan p = 0,424 > α = 0,05, terima hipotesis Ho dan tolak Hipotesis Ha yang menyatakan Belanja Modal secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara.

2. Variabel Angkatan Kerja : t-hitung = 3,051, t-tabel = 2,010, dengan tingkat profitabilitas 0,007. Dengan demikian dapat disimpulkan p = 0,007 < α = 0,05, terima

hipotesis Ha dan tolak Hipotesis Ho yang menyatakan Angkatan Kerja secara parsial berpengaruh signifikan terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara.

3. Variabel Investasi : t-hitung = 2,864, t-tabel = 2,010, dengan tingkat profitabilitas 0,010. Dengan demikian dapat disimpulkan p = 0,010 < α = 0,05, terima hipotesis Ha

dan tolak Hipotesis Ho yang menyatakan Investasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara.

4. Variabel Dummy (Desentralisasi Fiskal) : t-hitung = 0,290, t-tabel = 2,010, dengan tingkat profitabilitas 0,775. Dengan demikian dapat disimpulkan p = 0,775 > α = 0,05, terima hipotesis Ho dan tolak Hipotesis Ha yang menyatakan Desentralisasi Fiskal secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara.

Dari uraian di atas maka dapat disusun persamaan regresi berganda, sebagai berikut :

PDRB = -97069,204 + 0,017 BM + 23,770 AK + 0,023 INV + 3162,790 D Model persamaan regresi berganda tersebut bermakna :

1. Nilai konstanta sebesar – 97069,204 yang berarti apabila nilai variabel independen (Desentralisasi Fiskal (dummy), Belanja Modal, Angkatan Kerja dan Investasi) dianggap konstan, maka PDRB Provinsi Sumatera Utara sebesar -97.069,204 (Milyar Rupiah).

2. Belanja Modal (BM) memiliki koefisien regresi sebesar 0,017, menunjukkan bahwa Belanja Modal berpengaruh positif terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara, yang berarti jika pemerintah Provinsi Sumatera Utara memiliki belanja modal 1 juta maka PDRB Provinsi Sumatera Utara akan bertambah sebesar 0,017 milyar rupiah.

3. Angkatan Kerja (AK) memiliki koefisien regresi sebesar 23,770, menunjukkan bahwa Angkatan Kerja berpengaruh positif terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara, yang berarti jika pemerintah Provinsi Sumatera Utara memiliki angkatan kerja 1 ribu maka PDRB Provinsi Sumatera Utara akan bertambah sebesar 23,770 milyar rupiah.

4. Investasi (INV) memiliki koefisien regresi sebesar 0,023, menunjukkan bahwa Investasi berpengaruh positif terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara, yang berarti jika pemerintah Provinsi Sumatera Utara memiliki investasi 1 juta rupiah maka PDRB Provinsi Sumatera Utara akan bertambah sebesar 0,023 milyar rupiah.

5. Dummy (Desentralisasi Fiskal (DF)) memiliki koefisien regresi sebesar 3162,770 menunjukkan bahwa Desentralisasi Fiskal berpengaruh positif terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara, yang berarti pemerintah Provinsi Sumatera Utara sesudah adanya desentralisasi fiskal maka PDRB Provinsi Sumatera Utara akan bertambah sebesar 3.162,770 milyar rupiah.

5.4. Pembahasan

Berdasarkan hasil evaluasi data diketahui bahwa secara simultan pengaruh desentralisasi fiskal, belanja modal, investasi, dan angkatan kerja berpengaruh signifikan terhadap PDRB di Sumatera Utara. Secara parsial belanja modal berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap PDRB di Sumatera Utara.

Angkatan kerja dan investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap PDRB di Sumatera Utara Desentralisasi fiscal (dummy) berpengaruh positif dan tidak signifikan dalam mempengaruhi PDRB di Sumatera Utara.

Belanja modal berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara selama periode tahun 1990-2010. Pengujian secara individu (partial) menunjukkan bahwa koefisien belanja modal pemerintah

menunjukkan nilai yang positif (0,017), tetapi tidak signifikan yang ditunjukkan dari nilai prob (t-statistik) 0,424 yang lebih besar dari alpha 0,05. Hal ini dapat dikatakan bahwa selama periode 1990-2012 bahwa belanja modal pemerintah yang selama ini dilaksanakan oleh pemerintah Provinsi Sumatera Utara seperti infrastruktur/sarana dan pelayanan publik tidak berpengaruh bagi peningkatan PDRB di Provinsi Sumatera Utara. Ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah belanja modal yang dibelanjakan pemerintah daerah tidak menyebabkan adanya peningkatan yang signifikan pada perekonomian daerah tersebut. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hendarmin (2012) yang menyatakan variabel belanja modal pemerintah daerah di kabupaten/kota Provinsi Kalimantan Barat walaupun memiliki slope positif (sesuai dengan teori ekonomi) namun tidak signifikan.

Menurut Dumairy (1996) pemerintah melakukan banyak sekali pengeluaran untuk membiayai kegiatan-kegiatannya. Pengeluaran-pengeluaran itu bukan saja untuk menjalankan roda pemerintah sehari-hari, akan tetapi juga membiayai kegiatan perekonomian. Bukan berarti pemerintah turut berbisnis,melainkan dalam arti pemerintah harus menggerakan dan merangsang kegiatan ekonomi secara umum. Pemerintah yang baik harus senantiasa berusaha menghindari dan memperbaiki kegagalan pasar demi tercapainya efisiensi.

Pemerintah juga harus memperjuangkan pemerataan melalui program perpajakan dan redistribusi pendapatan untuk kelompok atau golongan masyarakat tertentu.

Pemerintah harus menggunakan perangkat perpajakan, pembelanjaan dan peraturan moneter untuk menggapai stabilitas dan perekonomian,mengurangi laju inflasi dan pengangguran serta memacu perekonomian secara keseluruhan.

Pengeluaran pemerintah (goverment expenditure) adalah bagian dari kebijakan

fiskal yakni suatu tindakan pemerintah untuk mengatur jalannya perekonomian dengan cara menentukan besarnya penerimaan untuk nasional dan APBD untuk daerah/regional (Sukirno,2000). Tujuan dari kebijakan fiskalini adalah dalam rangka menstabilkan harga, tingkat output maupun kesempatan kerja dan memacu perekonomian.

Pada abad ke 19 Wagner mengemukakan, ada lima hal yang menyebabkan pengeluaran selalu meningkat. Kelima penyebab dimaksud adalah tuntunan peningkatan pertahanan dan keamanan, kenaikan tingkat pendapatan masyarakat, urbanisasi yang mengiringi pertumbuahan ekonomi, perkembangan demokrasi dan ketidakefesienan birokrasi yang mengiringi perkembangan pemerintah.

Peacock dan Wiseman (1961) dalam Guritno Mangkoesobroto (1999) mengemukakan pendapat lain dalam menerangkan perilaku perkembangan pengeluaran pemerintah. Pemerintah lebih cenderung menaikkan pajak untuk membiayai anggarannya. Di sisi lain masyarakat memiliki keengganan untuk membayar pajak, terlebih lagi jika pajak terus dinaikkan. Mempertimbangkan teori pemungutan suara dimana masyarakat memiliki batas toleransi pembayaran pajak.

Perkembangan ekonomi menyebabkan pemungutan pajak yang semakin meningkat. Oleh karena itu, dalam keadaan normal meningkatnya GNP akan menyebabkan penerimaan pemerintah yang semakin besar, begitu juga dengan pengeluaran pemerintah menjadi semakin besar. Akibat adanya keadaan tertentu yang mengharuskan pemerintah untuk memperbesar pengeluarannya, maka pemerintah memanfaatkan pajak sebagai alternatif untuk peningkatan penerimaan negara. Jika tarif pajak dinaikkan maka pengeluaran investasi dan konsumsi

masyarakat menjadi berkurang. Keadaan ini disebut efek pengalihan (displacement effect) yaitu adanya suatu gangguan sosial menyebabkan aktivitas swasta dialihkan pada aktivitas pemerintah.

Angkatan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara selama periode tahun 1990-2010. Pengujian secara individu (partial) menunjukkan bahwa koefisien angkatan kerja menunjukkan nilai yang positif (23,770), dan signifikan yang ditunjukkan dari nilai prob (t-statistik) 0,007 yang lebih kecil dari alpha 0,05. Hal ini dapat dikatakan bahwa selama periode 1990-2012 bahwa angkatan kerja di pemerintah Provinsi Sumatera Utara berpengaruh bagi peningkatan PDRB di Provinsi Sumatera Utara. Ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah angkatan kerja yang ada di Provinsi Sumatera Utara menyebabkan adanya peningkatan yang signifikan pada PDRB daerah tersebut.

Selain investasi, penduduk merupakan faktor utama lainnya yang mempengaruhi perekonomian. Peranan penduduk dalam penelitian ini dalam

Selain investasi, penduduk merupakan faktor utama lainnya yang mempengaruhi perekonomian. Peranan penduduk dalam penelitian ini dalam