BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Review PenelitianTerdahulu
Brodjonegoro dan Dartanto (2003) bahwa, setelah pelaksanaan desentralisasi fiskal kesenjangan antar wilayah semakin besar antar daerah di Indonesia. Dalam era desentralisasi fiskal dengan transfer dana dari Pemerintah Pusat dan kewenangan yang luas kepada daerah untuk mengelola dan mengoptimalkan potensi-potensi ekonomi yang ada memberi efek positif terhadap perekonomian daerah.
Sasana (2006) menemukan bahwa desentralisasi fiskal berpengaruh positif dan signifikan terhadap perekonomian. Hal ini dilihat dari koefisien jalur yang bertanda positif sebesar 0,268 dengan nilai C.R sebesar 3,662 dan diperoleh
yang ditentukan sebesar 0,05. Dengan demikian desentralisasi fiskal berpengaruh secara langsung pada perekonomian sebesar 0,268, yang berarti bahwa setiap ada kenaikan desentralisasi fiskal satu satuan maka akan menaikkan perekonomian sebesar 0,286 persen. Hasil estimasi ini memberikan dukungan atas hipotesis satu pada penelitian ini, bahwa desentralisasi fiskal berpengaruh signifikan terhadap perekonomian di kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah.
Wibowo (2008) menemukan bahwa (1) desentralisasi fiskal di Indonesia secara umum memberikan pengaruh positif terhadap pembangunan daerah selama periode 1999-2004. (2) Era baru desentralisasi fiskal yang diluncurkan sejak tahun 2001 ternyata memberikan dampak yang relatif lebih baik terhadap pembangunan daerah dibanding dengan rezim desentralisasi fiskal sebelumnya. (3) Sekurang-kurangnya terdapat dua alasan yang dapat menjelaskan fenomena otonomi fiskal yang kurang favourable sebelum periode reformasi fiskal, yakni (i) kurangnya kompetensi para aparatur dan politisi daerah dalam menetapkan instrumen pendapatan daerah, dan (ii) monitoring pemerintah pusat atas penerapan Perda tentang pajak retribusi daerah yang kurang efektif.
Harianto dan Adi (2007) menemukan bahwa Dana Alokasi Umum sangat berpengaruh terhadap Belanja Modal. Belanja Modal mempunyai dampak yang signifikan dan negatif terhadap Pendapatan Per Kapita dalam hubungan langsung, tetapi juga mempunyai hubungan yang positif dalam hubungan tidak langsung melalui Pendapatan Asli Daerah. Pendapatan Asli Daerah sangat berpengaruh terhadap Pendapatan Per Kapita, tetapi pertumbuhan yang terjadi masih kurang merata sehingga banyak ketimpangan/jarak ekonomi antar daerah. Dana Alokasi
Umum mempunyai dampak yang signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah melalui Belanja Modal (efek tidak langsung).
Pujiati (2007) meneliti Analisis Perekonomian di Karesidenan Semarang Era Desentralisasi Fiskal. Tujuan penelitian ini untuk mengestimasi pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi Hasil (DBH) dan tenaga kerja terhadap perekonomian kabupaten/kota di wilayah Karesidenan semarang yaitu kota semarang. Penelitian menunjukkan bahwa PAD berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan, DBH berpengaruh positif dan signifikan terhadap perekonomian, DAU berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perekonomian serta tenaga kerja sebagai faktor utama dalam mempercepat perekonomian mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perekonomian
Tabel 2.2. Review Penelitian Terdahulu
Nama/Tahun Peneliti
Judul Penelitian Variabel yang Digunakan fiskal kesenjangan antar wilayah semakin besar antar daerah di Indonesia. Dalam era desentralisasi fiskal dengan transfer dana dari pemerintah pusat dan kewenangan yang luas kepada daerah untuk mengelola dan mengoptimalkan potensi-potensi ekonomi yang ada memberi efek positif terhadap perekonomian daerah.
)
Sasana (2006) Analisis Dampak Desentralisasi Fiskal signifikan terhadap perekonomian di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah.
Nama/Tahun Peneliti
Judul Penelitian Variabel yang Digunakan
(1) Desentralisasi fiskal di Indonesia secara umum memberikan pengaruh positif terhadap pembangunan daerah selama periode 1999-2004. (2) Era baru desentralisasi fiskal yang diluncurkan sejak tahun 2001 ternyata memberikan dampak yang relatif lebih baik terhadap
pembangunan daerah dibandingkan dengan rezim
desentralisasi fiskal sebelumnya.
(3) sekurang-kurangnya terdapat dua alasan yang dapat menjelaskan fenomena otonomi fiskal yang kurang favourable sebelum periode reformasi fiskal, yakni (i) kurangnya kompetensi para aparatur dan politisi daerah dalam menetapkan instrumen pendapatan daerah, dan (ii) monitoring pemerintah pusat atas penerapan Perda tentang pajak dan retribusi daerah yang kurang efektif.
(1) Dana Alokasi Umum sangat berpengaruh terhadap Belanja Modal (2) Belanja Modal mempunyai dampak yang signifikan dan negatif terhadap Pendapatan Per Kapita dalam hubungan langsung, tetapi juga mempunyai hubungan yang positif dalam hubungan tidak langsung melalui Pendapatan Asli Daerah (3) Pendapatan Asli Daerah sangat berpengaruh terhadap Pendapatan Perkapita (4) Dana Alokasi Umum mempunyai dampak yang signifika terhadap Pendapatan Asli Daerah melalui Belanja Modal (efek tidak langsung)
) dan Pendapatan Per Kapita (Y)
Pujiati (2007) AnalisisPertumbuhan
Ekonomi di
PAD berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. DBH berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. DAU berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Tenaga Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konseptual
Beberapa alasan yang mendasari bahwa desentralisasi fiskal, Belanja modal, Angkatan Kerja dan Investasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian suatu daerah adalah sebagai berikut :
1. Pengaruh Desentraliasi Fiskal terhadap PDRB
Diberlakukannya kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia pada tahun 2001 juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi perekonomian daerah.
Dengan adanya pelimpahan wewenang dibidang fiskal dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah maka akan dapat meningkatkan kemampuan daerah dalam melayani kebutuhan barang publik dengan lebih baik dan efisien. Selain itu, desentralisasi fiskal juga dapat meningkatkan efesiensi ekonomi karena pemerintah daerah dianggap lebih mengerti sejauh mana kebutuhan masyarakat dan keterbatasan anggaran yang dimiliki.
Menurut hasil penelitian Brodjonegoro dan Dartanto (2003) Dalam era desentralisasi fiskal dengan transfer dana dari Pemerintah Pusat dan kewenangan yang luas kepada daerah untuk mengelola dan mengoptimalkan potensi-potensi ekonomi yang ada memberi efek positif terhadap perekonomian daerah.
Kemudian hal yang sama juga dikemukakan dalam hasil penelitian Sasana (2006) menyatakan bahwa desentralisasi fiskal berpengaruh positif dan signifikan terhadap perekonomian. Kemudian Wibowo (2008) menemukan bahwa (1)
desentralisasi fiskal di Indonesia secara umum memberikan pengaruh positif terhadap pembangunan daerah.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian di atas diketahui adanya pengaruh positif desentralisasi fiskal terhadap perekonomian yang terjadi karena adanya desentralisasi fiskal akan memudahkan daerah untuk membangun daerahnya masing-masing dengan kapasitas yang lebih akurat. Desentralisasi fiskal sangat signifikan mempengaruhi perekonomian, dengan adanya desentralisasi fiskal akan meningkatkan kapasitas pengeluaran daerah sehingga meningkatkan produksi dan perekonomian.
2. Pengaruh Belanja Modal terhadap PDRB
Pengaruh belanja modal terhadap PDRB dikemukakan dalam pendapat Todaro dan Smith (2006), tiga faktor yang mempengaruhi perekonomian antara lain akumulasi modal dalam bentuk investasi, partisipasi tenaga kerja lokal dan kemajuan teknologi. Akumulasi modal dalam bentuk investasi diyakini sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi perekonomian daerah baik yang dilakukan oleh swasta maupun oleh pemerintah daerah. Salah satu bentuk investasi modal yang dilakukan oleh pemerintah daerah adalah alokasi belanja modal yang salah satunya ditujukan untuk pembangunan sarana dan prasarana publik.
Berdasarkan penjelasan di atas diketahui bahwa secara positif dan signifikan adanya akumulasi modal (investasi) akan mendorong naiknya kapasitas produksi, naiknya kapasitas produksi akan meningkatkan perekonomian. Positif dalam artian naiknya investasi akan meningkatkan PDRB, sedangkan signifikan mencakup besarnya kenaikan tersebut.
3. Pengaruh Angkatan Kerja terhadap PDRB
Selain investasi, penduduk merupakan faktor utama lainnya yang mempengaruhi perekonomian. Peranan penduduk dalam penelitian ini dalam bentuk tenaga kerja produktif (angkatan kerja). Semakin besar jumlah tenaga kerja produktif maka output yang dihasilkan oleh perekonomian akan meningkat sehingga PDRB daerah tersebut juga meningkat.
Hubungan angkatan kerja dan PDRB dijelaskan menurut Todaro dan Smith (2006), dimana pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan tenaga kerja secara tradisional dianggap salah satu faktor positif yang dapat meningkatkan perekonomian. Jumlah tenaga kerja yang lebih besar akan menambah jumlah tenaga kerja produktif, sedangkan pertumbuhan penduduk yang lebih besar berarti meningkatkan ukuran pasar domestiknya. Namun demikian, pertumbuhan angkatan kerja di satu sisi dapat berdampak positif namun di sisi lain dapat berdampak negatif pada pembangunan ekonomi di daerah tersebut. Dampak yang ditimbulkan tersebut tergantung pada kemampuan sistem perekonomian yang bersangkutan dalam menyerap dan secara produktif memanfaatkan tambahan tenaga kerja tersebut ( Todaro dan Smith, 2006).
Berdasarkan penjelasan tersebut diketahui bahwa naiknya angkatan kerja secara positif berhubungan dengan naiknya PDRB, kemudian signifikan angkatan kerja berkaitan dengan besaran kenaikan angkatan kerja terhadap PDRB. Faktor sumber daya manusia yang banyak sebagai sumber utama perekonomian.
4. Pengaruh Investasi terhadap PDRB
Investasi yang akan berlanjut dengan suatu proses produksi akan menciptakan lapang kerja, menciptakan barang-barang dan jasa untuk di pasarkan
kepada konsumen, dan interaksi antara produsen, dalam hal ini investor, dan konsumen dalam menawarkan dan mengkonsumsi barang-barang atau jasa, dan pada giliranya akan menciptakan kemejuan prekonomian dalam suatu negara.
Pengaruh investasi terhadap perekonomian suatu negara atau daerah dapat di lihat pula melalui multi flier effect yang di timbulkannya. Pengeluaran investasi menentukan tingkat pertambahan stok kapital dalam prekonomian, dimana stok kapital ini sangat menentukan tingkat pertumbuhan suatu negara dalam jangka panjang (Nangan, 2005). Investasi akan mendorong dalam pembentukan modal juga relatif tinggi yang di sebabkan oleh lemahnya kemampuan menabung dari masyarakatnya yang tentu saja akan menciptakan kondisi yang kondusif bagi terciptanya lembaga-lembaga keuangan padahal faktor-faktor tersebut sangat di perlukan di dalam proses pembangunan guna memacu perekonomian (Jhingan,2006).
Berdasarkan latar belakang dan landasan teori dapat dibuat kerangka konseptual yang akan diteliti seperti yang terlihat dalam Gambar 3.1. Dari Gambar 3.1. tersebut dapat dilihat pengaruh Desentralisasi Fiskal, Belanja Modal, Angkatan Kerja dan Investasi secara parsial terhadap Perekonomian. Dari pengaruh Desentralisasi Fiskal, Belanja Modal, Angkatan Kerja dan Investasi secara simultan terhadap PDRB.
Gambar 3.1. Kerangka Konseptual
3.2 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan teoritis, tinjauan penelitian terdahulu dan kerangka konseptual, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut : desentralisasi fiskal, belanja modal, angkatan kerja, dan investasi berpengaruh positif signifikan terhadap PDRB di Provinsi Sumatera Utara.
PDRB (Y)
Belanja Modal
(X2) Desentralisasi
Fiskal (X1)
Angkatan Kerja (X3)
Investasi (X4)
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kausal (causal), Umar (2008) menyebutkan desain kausal berguna untuk menganalisis bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lain, dan juga berguna pada penelitian yang bersifat eksperimen dimana variabel independennya diperlakukan secara terkendali oleh peneliti untuk melihat dampaknya pada variabel dependennya secara langsung.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian adalah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara, waktu yang direncanakan untuk melakukan penelitian adalah bulan November 2012 sampai dengan selesai.
4.3 Metode Pengumpulan Data
Sumber data penelitian merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan dalam penentuan metode pengumpulan data. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data skunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara. Data dalam penelitian ini merupakan data time series (runtun waktu) yaitu tahun 1990 sampai dengan tahun 2012 (jadi N=23).
4.4. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ordinary least square (OLS) dengan menggunakan sofwer SPSS 19. Analisis data
dilakukan dengan melakukan pengujian asumsi klasik dan pengujian hipotesis.
Untuk Kegunaan analisis regresi linier berganda untuk mengukur pengaruh antara lebih dari satu variabel prediktor (variabel bebas) terhadap variabel terikat.
4.4.1. Analisis Deskriptis
Data statistik yang diperoleh dalam penelitian perlu diringkas dengan baik dan teratur. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang sekumpulan data yang diproleh baik mengenai sampel atau populasi.
4.4.2. Uji Asumsi Klasik
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis regresi maka diperlukan pengujian asumsi klasik meliputi :
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui distribusi data dalam variabel yang digunakan dalam penelitian. Data yang baik dan layak digunakan dalam penelitian adalah data yang memiliki distribusi normal. Untuk menguji apakah distribusi normal atau tidak dapat dilihat melalui normal probability plot dengan membandingkan distribusi kumulatif dan distribusi normal. Data normal akan membentuk satu garis lurus diagonal, dan ploting data akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi data adalah normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya. Uji statistik dilakukan uji one sample Kolmogorov Smirnov Test, jika nilai
Kolmogorov Smirnov signifikannya di atas α = 0,05, maka Ho diterima yang berarti data residual berdistribusi normal (Ghozali, 2005).
2. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas diperlukan untuk mengetahui apakah ada tidaknya variabel independen yang memiliki kemiripan dengan variabel independen lain dalam satu model. Selain itu deteksi terhadap multikolinieritas juga bertujuan untuk menghindari bias dalam proses pengambilan keputusan mengenai pengaruh pada uji parsial masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen.
Deteksi multikolinieritas pada suatu model dapat dilihat jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) tidak lebih dari 10 dan nilai Tolerance tidak kurang dari
0,1, maka model tersebut dapat dikatakan terbebas dari multikolinieritas. VIF = 1/Tolerance, maka jika VIF = 10 maka Tolerance = 1/10 = 0,1 (Ghozali, 2005).
3. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Pengujian asumsi ketiga ini, dilakukan dengan menggunakan uji Durbin Watson (Durbin-Watson Test), yaitu untuk menguji apakah terjadi korelasi serial atau tidak dengan menghitung nilai d statistik. Salah satu pengujian yang digunakan untuk mengetahui adanya autokorelasi adalah dengan memakai uji statistik Durbin Watson (DW test). Jika nilai Durbin Watson berada diantar -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi.
Nilai Durbin Watson yang diperoleh dibandingkan dengan nilai tabel dengan
menggunakan nilai signifikansi 5%. Jika nilai Durbin Watson > batas atas (du), dan kurang dari jumlah variabel independen–batas atas (du), maka dapat disimpulkan bahwa terima Ho, yang berarti tidak terdapat autokorelasi (Ghozali, 2005).
4.4.3. Model Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan bantuan SPSS versi 19.0. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan model analisis regresi berganda. Persamaan regresinya adalah :
PE = bo + b1 BM + b2 AK + b3 INV + b4 D1
= Desentralisasi Fiskal (Dummy)
1
D
= 0 untuk sebelum Desentralisasi Fiskal (1990-2000)
1
e = error term
= 1 untuk sesudah Desentralisasi Fiskal (2001-2012)
4.5. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 1. PDRB
Perekonomian daerah dimaksud dalam penelitian ini adalah Produk Domestik Regional Bruto per tahun menurut harga konstan, yang dinyatakan dalam satuan milyar Rupiah.
2. Desentralisasi Fiskal
Desentralisasi Fiskal dimaksud dalam penelitian ini adalah proses distribusi
yang lebih rendah untuk mendukung fungsi atau tugas pemerintahan dan pelayanan publik sesuai dengan banyaknya kewenangan bidang pemerintahan yang dilimpahkan. Untuk memberikan gambaran mengenai kondisi yang terjadi selama masa pengamatan, yakni era sebelum desentralisasi fiskal dan sesudah desentralisasi fiskal maka digunakan variabel dummy, dimana waktu-waktu sebelum diberlakukannya desentralisasi fiskal (1990-2000) diberikan nilai 0 dan waktu sesudah desentralisasi fiskal (2001-2012) diberi nilai 1.
3. Belanja Modal
Belanja Modal adalah pengeluaran pengeluaran yang digunakan untuk pembelian/pengadaan/pembangunan aset tetap berwujud yang nilai manfaatnya lebih dari setahun dan atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintah daerah yang dinyatakan dalam satuan juta Rupiah.
4. Angkatan Kerja
Angkatan kerja adalah jumlah penduduk usia kerja (berusia 10 tahun ke atas) yang bekerja, yaitu melakukan kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang/jasa secara kontinu paling sedikit satu jam dalam seminggu yang dinyatakan dalam satuan ribuan jiwa.
5. Investasi Swasta
Investasi adalah meliputi pertambahan barang-barang dan jasa dalam masyarakat, seperti pertambahan mesin-mesin baru, pembuatan jalan baru, pembukaan tanah baru dan sebagainya, yang dinyatakan dalam satuan juta Rupiah.
Berikut adalah jenis variabel yang digunakan oleh peneliti serta definisi operasional variabel dan skala pengukurannya :
Tabel 4.2. Definisi Operasional Variabel dan Skala Pengukuran
No. Variabel
Pengukuran Variabel Definisi Operasional Skala
1. PDRB(Y)
Diproksi dari PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000
PDRB merupakan pendapatan daerah yang dihasilkan dari produksi dan pendapatan suatau daerah dalam kurun waktu satu tahun.
Desentralisasi Fiskal adalah proses distribusi anggaran dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi kepada pemerintahan yang lebih rendah untuk mendukung fungsi atau tugas pemerintahan dan pelayanan publik.
Belanja Modal yaitu pengeluaran yang dilakukan dalam rangka kegiatan, pengadaan, sarana dan prasarana fisik pembangunan,
Angkatan Kerja Angkatan Kerja adalah jumlah penduduk usia kerja (berusia 10 tahun ke atas) yang bekerja, yaitu melakukan kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang/jasa secara kontinu paling sedikit satu jam dalam seminggu.
Rasio
5. Investasi (X4)
Jumlah Investasi Investasi adalah seluruh investasi swasta dalam negeri (PMDN) di Sumatera Utara.
Rasio
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Deskripsi Variabel Penelitian
Data yang dikumpulkan berdasarkan data time series dengan kurun waktu 23 tahun yaitu dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2012. Berdasarkan data deskriptif pada variabel-variabel diatas dapat dirangkum dan dikumpulan dalam Tabel 5.1:
Tabel 5.1 Hasil Deskriptif Statistik
PDRB
Mean 51.268.17 372.408.52 5.234.30 698881.13
Std. Deviation 44.747.65 318.023.79 927.12 738855.71
Minimum 5.934.00 15.125.00 3.820.00 67239.00
Maximum 132.694.00 934.502.00 7.021.00 2644965.00
Sum 1.179.168.00 8.565.396.00 120.389.00 16074266.00 Sumber : Lampiran (Hasil Olah SPSS)
Berdasarkan Tabel 5.1 diketahui bahwa jumlah data yang diobservasi sebanyak 23 observasi yaitu tahun 1990 s/d tahun 2012.
PDRB
Rata-rata (mean) PDRB Provinsi Sumatera Utara yang diteliti adalah sebesar Rp. 51.268,17 milyar. Standar deviasi sebesar Rp. 44.747,65 milyar.
PDRB Provinsi Sumatera Utara terendah yang dicapai adalah Rp. 5.934 milyar dan PDRB Provinsi Sumatera Utara tertinggi yang dicapai adalah Rp. 132.694 milyar, dengan nilai sum sebesar 1.179.168 milyar.
Belanja Modal
Rata-rata (mean) belanja modal Provinsi Sumatera Utara yang diteliti adalah sebesar Rp. 372.408,52 juta. Standar deviasi sebesar Rp. 318.023,79 juta.
Belanja modal Provinsi Sumatera Utara terendah yang dicapai adalah Rp.
15.125,00 juta dan belanja modal Provinsi Sumatera Utara tertinggi yang dicapai adalah Rp. 934.502,00 juta, dengan nilai sum Rp. 8.565.396 juta.
Angkatan Kerja
Rata-rata (mean) angkatan kerja Provinsi Sumatera Utara yang diteliti adalah sebesar 5.234,30 ribu jiwa. Standar deviasi sebesar 927,12 ribu jiwa.
Angkatan kerja Provinsi Sumatera Utara terendah yang dicapai adalah sebesar 3.820 ribu jiwa dan angkatan kerja Provinsi Sumatera Utara tertinggi yang dicapai adalah 7.021 ribu jiwa, dengan nilai sum sebesar 120.389 ribu jiwa.
Investasi
Rata-rata (mean) investasi Provinsi Sumatera Utara yang diteliti adalah sebesar Rp. 698.881,13 juta. Standar deviasi sebesar Rp. 738.855,71 juta.
Investasi Provinsi Sumatera Utara terendah yang dicapai adalah Rp. 67.239,00 juta dan investasi Provinsi Sumatera Utara tertinggi yang dicapai adalah Rp.
2.644.965,00 juta, dengan nilai sum Rp. 16.047.266,00 juta.
Nilai mean dan standar deviasi biasa digunakan untuk membandingkan apakah data memiliki kecenderungan normal atau tidak. Hasil tersebut menunjukan hampir semua data normal karena nilai mean lebih besar dibandingkan dengan nilai standar deviasi kecuali nilai investasi dimana nilai
standar deviasi sebesar 738.855.71 lebih besar dibandingkan nilai mean sebesar 698.881.13.
5.2. Hasil Analisis 5.2.1 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan dalam upaya untuk memperoleh hasil analisis regresi yang sahih (valid). Ada 4 asumsi klasik yang harus dipenuhi, yaitu: tidak ada multikolinearitas, tidak ada heteroskedastisitas, data normal dan tidak ada autokorelasi Berikut ini pengujian untuk menentukan apakah ketiga asumsi klasik tersebut dipenuhi atau tidak.
5.2.1.1 Uji Normalitas Data
Uji normalitas residual dilakukan untuk menganalisis apakah syarat persamaan regresi sudah dipenuhi atau belum.Output dari uji normalitas data adalah berupa gambar visual yang menunjukkan jauh-dekatnya titik-titik pada gambar tersebut dengan garis diagonal. Jika data berasal dari distribusi normal, maka nilai-nilai sebaran data yang tercermin dalam titik-titik pada output akan terletak di sekitar garis diagonal. Sebaliknya, jika data berasal dari distribusi yang tidak normal maka titik-titik tersebut tersebar tidak di sekitar garis diagonal (terpencar jauh dari garis diagonal).
0.00.2Observed Cum Prob0.40.60.81.0
0.00.20.40.60.81.0Expected Cum ProbDependent Variable: Perekonomian Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Gambar 5.1 Uji Normalitas Residual
Dengan melihat tampilan grafik histogram dapat disimpulkan bahwa pola distribusi data adalah normal.Kemudian pada grafik normal plot terlihat titik-titik sebaran data normal.Normalitas data dilakukan dengan menstranformasi data kedalam data logaritma agar data menunjukan pergerakan yang tidak terlalu berbeda dengan tahun sebelumnya.
Uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual antara lain adalah uji statistik non parametrik Kolmogorov-Smirnov (S). Uji K-S dilakukan dengan membuat hipotesis :
Ho : Data residual tidak berdistribusi normal Ha : Data residual berdistribusi normal Untuk menentukannya maka kriterianya adalah :
Ho diterima apabila nilai signifikansi (Asymp.Sig) < 0,05 Ha diterima apabila nilai signifikansi (Asymp.Sig) > 0,05
Tabel 5.2. Kolmogorov – Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 23
Normal Parameters(a,b) Mean .0000000
Std. Deviation 14176.63778759
Most Extreme Differences Absolute .180
Positive .180
Negative -.117
Kolmogorov-Smirnov Z .865
Asymp. Sig. (2-tailed) .443
a Test distribution is Normal.
b Calculated from data.
Dari hasil uji statistik pada Tabel 5.2. menunjukkan bahwa nilai Kolmogorov-Smirnov Z sebesar 0,865 dan signifikansinya pada 0,443 dan
nilainya di atas α = 0,05 (Asymp.Sig = 0,443 > 0,05) sehingga hipotesis Ha diterima yang berarti data residual berdistribusi normal.
5.2.1.2 Uji Multikolinearitas
Ada tidaknya masalah multikolinearitas dalam sebuah model regresi dapat dideteksi dengan nilai VIF (variance inflactor factor) dan nilai toleransi (tolerance). Suatu model regresi dikatakan bebas dari masalah multikolinearitas jika mempunyai nilai VIF lebih kecil dari 10 dan mempunyai nilai tolerance di atas 0,1 (Ghozali, 2005). Dalam model regresi ini, hasil uji multikolinearitas dapat dilihat dari Tabel 5.3
Tabel 5.3. Uji Multikolinearitas
Model
a Dependent Variable: PDRB
Nilai VIF dan tolerance pada tabel 5.3 menunjukkan bahwa semua variabel dalam penelitian ini tidak mengalami multikolinearitas. Hal ini
Nilai VIF dan tolerance pada tabel 5.3 menunjukkan bahwa semua variabel dalam penelitian ini tidak mengalami multikolinearitas. Hal ini