• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE Lokasi dan Waktu

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penggilingan merupakan proses merubah bahan baku berbentuk kasar (butiran) menjadi halus. Proses penggilingan dapat dilakukan pada mesin giling tipe

semi fixed hammer mill. Bahan baku yang digiling pada penelitian ini yaitu jagung

dan bungkil kedelai karena diantara semua bahan baku yang digunakan dalam formulasi ransum, hanya kedua bahan tersebut yang berbentuk butiran dan berukuran kasar. Penggunaan screen (saringan) pada mesin giling yang berukuran 2 mm (halus), 3 mm (medium) dan 5 mm (kasar) masing-masing dapat menghasilkan ukuran partikel bahan yang halus, medium dan kasar. Gambar Bahan baku jagung dan bungkil kedelai setelah digiling dengan menggunakan screen berukuran 2, 3 dan 5 mm dapat dilihat pada Gambar 5 dan 6.

Gambar 5. Bahan Baku Jagung Setelah Digiling dengan Menggunakan

Screen yang berukuran 2, 3 dan 5 mm untuk Gambar 1, 2 dan 3.

Gambar 6. Bahan Baku Bungkil Kedelai Setelah Digiling dengan Menggunakan Screen yang Berukuran 2, 3 dan 5 mm untuk Gambar 1, 2 dan 3.

Berdasarkan Gambar 5 dan 6 dapat dilihat bahwa jagung dan bungkil kedelai berukuran dan bertekstur semakin kasar dengan semakin besar ukuran screen yang

24 digunakan. Komposisi jagung dan bungkil kedelai sebesar 60 % dalam formulasi ransum dan oleh karena itu ukuran partikel kedua bahan tersebut sangat mempengaruhi ukuran partikel ransum bentuk mash. Ransum bentuk mash pada penelitian ini adalah ransum yang telah mengalami proses pencampuran untuk kemudian diolah menjadi bentuk pellet.

Perbedaan ukuran dalam ransum bentuk mash dapat mempengaruhi kualitas dan proses produksi pellet. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Fairfield (1994) bahwa ukuran partikel bahan dari berbagai bahan dalam formulasi ransum akan mempengaruhi kualitas dan proses produksi pellet. Selain faktor ukuran partikel, parameter lain yang turut berperan dalam kualitas dan proses produksi pellet adalah kadar air. Nilai rataan ukuran partikel dan kadar air disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Parameter yang Berpengaruh Terhadap Kualitas Fisik Ransum

Parameter Mash Pellet P1 P2 P3 P1 P2 P3 Ukuran partikel (mm) 0,75 0,94 1,01 6,56 6,74 6,60 Tingkat kehalusan 2,84 3,18 3,28 5,98 6,02 5,97 Kadar air 15,53 16,33 16,47 12,93 14,87 15,54 Ukuran partikel

Ukuran partikel merupakan salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap sifat fisik dan proses produksi pellet. Ukuran

screen yang digunakan pada mesin giling adalah diameter pada masing-masing

lubang saringan yang dapat berukuran 2, 3 atau 5 mm. Semakin besar diameter lubang tersebut maka semakin kasar partikel bahan yang lolos saringan. Oleh karena itu, ukuran partikel jagung dan bungkil kedelai semakin kasar antar perlakuan sehingga ukuran partikel mash antar perlakuan juga semakin kasar. Perbedaan ukuran partikel mash dapat mempengaruhi kelancaran proses produksi yang pada akhirnya akan mempengaruhi ukuran partikel dan kualitas fisik pellet

Penentuan besarnya nilai ukuran partikel bahan berdasarkan tingkat kehalusan yang diperoleh masing-masing perlakuan. Nilai tingkat kehalusan terbagi menjadi tiga yaitu 4,1-7,0 termasuk kategori bahan kasar, 2,9-4,1 termasuk kategori bahan medium dan lebih kecil dari 2,9 termasuk kategori bahan halus. Tabel 4

25 menunjukkan bahwa ukuran partikel mash pada P1 termasuk kategori halus (fine), P2 termasuk kategori sedang (medium), dan P3 termasuk kasar (coarse) karena tingkat kehalusan pada P1 sebesar 2,84, P2 sebesar 3,18 dan P3 sebesar 3,28. Ukuran partikel pellet pada P1, P2 dan P3 secara keseluruhan termasuk kategori kasar (besar) karena tingkat kehalusannya antara 5,98-6,02. Meskipun semua pellet penelitian termasuk kategori besar tetapi dilihat dari nilai rataan maka P1 memiliki ukuran partikel yang kecil, P2 memiliki ukuran partikel yang besar dan P3 memiliki ukuran partikel yang medium.

Kadar Air

Kadar air merupakan salah satu parameter yang dapat mempengaruhi sifat-sifat fisik mash dan pellet yang dihasilkan pada proses produksi berkesinambungan. Kadar air adalah persentase banyaknya kandungan air dalam bahan berdasarkan berat kering (Syarief dan Halid, 1994). Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa nilai rataan kadar air mash berkisar antara 15,53-16,47 % dan kadar air pellet berkisar antara 12,93-15,54 %. Nilai rataan kadar air mash dan pellet yang tertinggi ditunjukkan oleh P3 dan yang terendah ditunjukkan oleh P1. Peningkatan nilai rataan kadar air antar perlakuan dapat dilihat pada Gambar 7.

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 1 2 3 Perlakuan N ila i R a ta a n K a d a r Air (%) mash pelet

Gambar 7. Histogram Hubungan Antara Perlakuan dengan Kadar Air Ransum Penelitian

Nilai rataan kadar air mash yang semakin meningkat disebabkan oleh kadar air bahan baku ransum dan periode penyimpanan bahan baku yang terlalu lama. Hal ini sesuai dengan pendapat Fairfield (2003) bahwa kadar air mash berasal dari kadar air bahan baku pakan dan dapat mempengaruhi kualitas pellet. Periode penyimpanan bahan baku pakan yang terlalu lama menyebabkan terjadinya penyerapan uap air dari

26 udara kedalam bahan ransum tersebut. Hal tersebut mengakibatkan bahan baku ransum menjadi lembab sehingga mempengaruhi peningkatan kadar air mash antar perlakuan. Oleh karena itu, bahan baku sebaiknya tidak disimpan terlalu lama dan lebih memperhatikan keadaan suhu dan kelembaban lingkungan sekitarnya.

Kadar air pellet penelitian yang semakin tinggi antar perlakuan dikarenakan proses pendinginan yang belum sempurna. Penggunaan kipas angin sebagai alat pendingin mempengaruhi proses pendinginan dalam cooler. Pendinginan dalam

cooler terjadi melalui penggunaan aliran udara kipas angin untuk mempercepat

proses pengurangan kadar air yang terjadi melalui penguapan. Penguapan tersebut hanya menguapkan air dibagian permukaan bahan (pellet) dan tidak sampai ke bagian dalam pellet. Akibatnya nilai rataan kadar air pellet yang berkisar antara 12,93-15,54% masih sangat tinggi bila dibandingkan dengan kadar air pellet pada penelitian Anggareni (2004) yaitu antara 9,80-10%. Oleh karena itu sebaiknya terdapat lebih dari satu buah kipas angin dalam cooler.

Berdasarkan Gambar 7 dapat dilihat bahwa kadar air pellet lebih rendah daripada mash. Hal ini dikarenakan pada saat pelleting (proses pencetakan mash menjadi pellet) berlangsung proses penekanan dan pemadatan mash oleh roller dan die sehingga terjadi gesekan antara mash dengan roller dan die. Gesekan tersebut menimbulkan pemanasan secara mekanik yang menyebabkan penguapan air dalam mash. Akibatnya mash yang telah dicetak menjadi bentuk pellet memiliki kadar air yang lebih rendah.

Peubah yang diukur dalam menentukan kelancaran proses produksi adalah waktu produksi dan penyusutan pada setiap alat produksi dan kualitas pellet ditentukan berdasarkan sifat-sifat fisiknya. Pada pembahasan selanjutnya akan dijelaskan mengenai pengaruh ukuran partikel bahan terhadap proses produksi dan sifat fisik pellet.

Sifat Fisik Ransum

Sifat fisik ransum penelitian yang diukur pada penelitian ini yaitu berat jenis, daya ambang, sudut tumpukan, kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan. Nilai sifat fisik ransum penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.

27 Tabel 5. Nilai Sifat Fisik Ransum Penelitian

Peubah

Mash Pellet P1 P2 P3 P1 P2 P3

Berat jenis (g/ml) 1,43 1,40 1,45 1,35 1,35 1,34

Daya ambang (m/detik) 3,15 2,80 3,09 4,62a 3,62b 3,55b

Sudut tumpukan (0) 40,13 38,87 40,74 22,35A 18,27B 22,99A Kerapatan tumpukan (kg/m3) 523a 498b 526a 720A 710A 650B Kerapatan pemadatan tumpukan (kg/m3) 654 620 652 770a 820b 790a *)

Superskrip dengan huruf besar pada baris yang sama menunjukkan hasil yang sangat berbeda nyata (p<0,01)

*)

Superskrip dengan huruf kecil pada baris yang sama menunjukkan hasil yang berbeda nyata (p<0,05).

Berat Jenis

Berat jenis merupakan perbandingan antara massa bahan dengan volumenya. Nilai rataan berat jenis mash dan pellet dapat dilihat pada Tabel 5. Nilai rataan berat jenis mash berkisar antara 1,40-1,45 g/ml sedangkan berat jenis pellet berkisar antara 1,34-1,35 g/ml. Grafik batang nilai rataan berat jenis disajikan pada Gambar 8.

1.25 1.30 1.35 1.40 1.45 1.50 1 2 3 Perlakuan N ila i R a ta a n B e r a t J e n is (g /m l) mash pellet

Gambar 8. Histogram Hubungan Antara Perlakuan dengan Berat Jenis Ransum Penelitian.

Hasil sidik ragam (ANOVA) berat jenis antar perlakuan, baik mash maupun

pellet, menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Hal ini sesuai dengan penelitian

Gautama (1998) bahwa berat jenis tidak berbeda nyata terhadap perbedaan ukuran partikel karena ruang antar partikel bahan sudah terisi oleh aquades dalam pengukuran berat jenis. Hasil yang tidak berbeda nyata pada ANOVA menunjukkan bahwa perlakuan tidak mempengaruhi berat jenis mash maupun pellet. Hal tersebut

28 diduga karena ruang antar partikel dalam mash maupun pellet sudah terisi air selama proses pengurangan (pengecilan) ukuran partikel dan selama proses produksi berlangsung.

Gambar 8 menunjukkan bahwa nilai berat jenis mash lebih tinggi

dibandingkan dengan berat jenis pellet. Hal ini menunjukkan bahwa mash yang berbentuk tepung memiliki perbandingan massa bahan tiap satuan volume yang lebih tinggi daripada pellet yang berbentuk silinder.

Berat jenis ransum penting diketahui karena menentukan tingkat ketelitian dalam proses penakaran secara otomatis pada pabrik pakan, seperti dalam proses pengeluaran bahan dari silo untuk dicampur atau digiling (pada ransum bentuk mash) dan proses pengemasan (pada ransum bentuk pellet). Selain itu, berat jenis bersama dengan ukuran partikel bahan bertanggung jawab terhadap homogenitas penyebaran partikel dan stabilitasnya dalam suatu campuran pakan.

Daya Ambang

Daya ambang adalah jarak yang ditempuh oleh suatu bahan selama jangka waktu tertentu pada ketinggian tertentu. Nilai rataan daya ambang mash dan pellet masing-masing berkisar antara 2,80-3,15 m/detik dan 3,55-4,62 m/detik. Nilai rataan daya ambang dapat dilihat pada Tabel 5. Nilai rataan daya ambang mash yang tertinggi ditunjukkan oleh P1 dan yang paling rendah adalah P2, sedangkan nilai rataan daya ambang pellet yang paling tinggi adalah P1 dan yang terendah adalah P3. Grafik batang nilai daya ambang mash dan pellet disajikan pada Gambar 9.

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 1 2 3 Perlakuan N il a i Ra ta a n Da y a A m bang ( m /d et ik ) mash pellet

Gambar 9. Histogram Hubungan Antara Perlakuan dengan Daya Ambang Ransum Penelitian.

29 Hasil sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap daya ambang mash. Nilai daya ambang mash yang cenderung menurun dipengaruhi oleh tingginya kandungan air dalam mash. Hal ini sesuai dengan penelitian Suadnyana (1998) bahwa kadar air bahan yang semakin tinggi menyebabkan berat partikel bahan menjadi meningkat sehingga akan jatuh lebih cepat karena gaya gravitasi yang dialami menjadi besar.

Pengangkutan dengan alat screw conveyor harus diperhatikan agar bahan tidak mudah terpisah berdasarkan ukuran dan berat partikel akibat hisapan udara, karena partikel yang lebih kecil ukurannya dengan bobot lebih ringan mempunyai daya ambang lebih besar sehingga akan lebih cepat dihisap oleh alat pengangkut tersebut (Khalil,1999b).

. Sidik ragam menujukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap daya ambang pellet. Nilai rataan daya ambang pellet tertinggi adalah P1 (4,62 m/detik) dan yang terendah adalah P3 (3,55 m/detik). Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa P1 berbeda nyata (p<0,05) dengan P2 dan P3, tetapi P2 tidak berbeda nyata dengan P3. Berdasarkan Gambar 9 dapat terlihat bahwa nilai rataan daya ambang pellet semakin menurun antar perlakuan. Penurunan nilai daya ambang antar perlakuan diduga disebabkan oleh kadar air yang semakin tinggi antar perlakuan. Kadar air yang semakin tinggi tersebut dapat meningkatkan berat partikel dalam pellet sehingga

pellet akan jatuh lebih cepat. Akibatnya nilai rataan daya ambang semakin menurun

karena waktu jatuh pellet menjadi semakin cepat.

Histogram pada Gambar 9 memperlihatkan bahwa nilai daya ambang mash lebih kecil daripada pellet. Hal tersebut menunjukkan bahwa pellet yang berbentuk silinder akan jatuh lebih cepat dibandingkan dengan mash yang berbentuk tepung pada bidang datar dan ketinggian yang sama.

Sudut Tumpukan

Sudut tumpukan adalah sudut yang terbentuk jika bahan dicurahkan melalui sebuah corong terhadap bidang datar dan merupakan kriteria kebebasan bergerak partikel dari suatu tumpukan bahan. Nilai rataan sudut tumpukan mash dan pellet dapat dilihat pada Tabel 5. Nilai rataan sudut tumpukan mash berkisar antara 38,87-40,740 sedangkan sudut tumpukan pellet berkisar antara 18,27-22,990. Grafik batang nilai sudut tumpukan mash dan pellet antar perlakuan disajikan pada Gambar 10.

30 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 1 2 3 Perlakuan N ila i R a ta a n Su d u t T u mp ukan ( 0 ) mash pellet

Gambar 10. Histogram Hubungan Antara Perlakuan dengan Sudut Tumpukan Ransum Penelitian.

Hasil sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap sudut tumpukan mash. Khalil (1999a) menyatakan bahwa ukuran partikel berpengaruh nyata terhadap sudut tumpukan ransum. Pendapat Khalil (1999a) berbeda dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sudut tumpukun mash tidak dipengaruhi oleh perbedaan ukuran partikel mash. Nilai sudut tumpukan mash di duga dipengaruhi oleh kadar air yang tinggi yang berkisar antara 15,53-16,47%. Nilai rataan kadar air yang semakin tinggi menyebabkan sudut tumpukan mash cenderung meningkat. Berdasarkan Tabel 5 dapat terlihat bahwa

mash dengan ukuran partikel yang kasar (P3) memiliki sudut tumpukan tertinggi

sedangkan mash yang berukuran partikel medium (P2) menghasilkan sudut tumpukan terendah diantara semua perlakuan. Pola sudut tumpukan mash tersebut cenderung sesuai dengan pola yang terbentuk pada berat jenis dan kerapatan tumpukan mash. Gambar 8 dan 11 memperlihatkan bahwa nilai rataan berat jenis dan kerapatan tumpukan yang tertinggi sama-sama dicapai oleh mash yang berukuran partikel kasar (P3) dan nilai rataan terendah ditunjukkan oleh mash yang berukuran partikel medium (P2).

Sidik ragam pada sudut tumpukan pellet menunjukkan hasil yang sangat berbeda nyata (p<0,01). Selanjutnya pada uji lanjut diperoleh bahwa P2 berbeda nyata dengan P1 dan P3, tetapi P1 tidak berbeda nyata dengan P3. Perbedaan ukuran partikel pellet mempengaruhi sudut tumpukan pellet. Ukuran partikel pellet yang besar (P2) cenderung menghasilkan sudut tumpukan yang terendah dan sebaliknya pellet yang berukuran partikel medium (P3) cenderung menghasilkan sudut tumpukan yang tertinggi diantara semua perlakuan. Semakin besar ukuran partikel

31

pellet maka sudut tumpukannya cenderung semakin kecil. Hal ini sesuai dengan

penelitian Anggraeni (2003) bahwa semakin besar ukuran partikel pellet maka sudut tumpukan semakin kecil.

Nilai rataan sudut tumpukan pellet lebih kecil daripada mash (terlihat pada Gambar 10). Hal tersebut menunjukkan bahwa pellet yang berbentuk silinder lebih mudah bergerak bebas dibandingkan dengan mash yang berbentuk tepung saat dicurahkan pada sudut kemiringan yang sama. Bahan yang mudah bergerak bebas saat dicurahkan pada sudut kemiringan tertentu akan membentuk sudut tumpukan yang lebih kecil bila dibandingkan dengan bahan yang tidak mudah bergerak bebas (Geldart et al., 1990).

Sudut tumpukan akan mempengaruhi laju alir suatu bahan terutama pada saat pengangkutan maupun pembongkaran dengan menggunakan alat mekanik seperti traktor, sekop dan conveyor. Fasina and Sokhansanj (1993) mengklasifikasikan laju alir bahan padat berdasarkan besarnya sudut tumpukan, yaitu sangat mudah mengalir (20-300), mudah mengalir (30-380), sedang (38-450) dan sulit (45-550). Mash memiliki nilai rataan sudut tumpukan antara 38,87-40,740, oleh karena itu termasuk kategori bahan dengan laju alir yang sedang. Berbeda dengan pellet yang sudut tumpukannya berkisar antara 18,27-22,990 yang termasuk bahan yang sangat mudah mengalir sehingga lebih mudah diangkut oleh alat mekanik.

Kerapatan Tumpukan

Kerapatan tumpukan merupakan perbandingan antara berat bahan dengan volume ruang yang ditempatinya (Khalil, 1999a). Nilai kerapatan tumpukan mash berkisar antara 498-526 kg/m3 dan kerapatan tumpukan pellet berkisar antara 650-720 kg/m3. Nilai rataan kerapatan tumpukan mash dan pellet dapat dilihat pada Tabel 5. Nilai rataan kerapatan tumpukan disajikan dalam bentuk grafik batang pada Gambar 11.

32 0 200 400 600 800 1 2 3 Perlakuan Ni la i Ra ta a n K er a pat a n Tu m p u k a n (kg /m 3 ) mash pellet

Gambar 11. Histogram Hubungan Antara Perlakuan dengan Kerapatan Tumpukan Ransum Penelitian.

Sidik ragam kerapatan tumpukan mash menunjukkan hasil yang berbeda nyata (p<0,05). Selanjutnya pada uji lanjut diperoleh hasil bahwa P2 berbeda nyata dengan P1 dan P3, tetapi P1 tidak berbeda nyata dengan P3. Berdasarkan hasil sidik ragam (ANOVA) dapat diketahui bahwa perlakuan proses penggilingan dengan ukuran screen yang semakin besar cenderung meningkatkan nilai kerapatan tumpukan mash. Perbedaan ukuran partikel mash mempengaruhi nilai kerapatan tumpukan mash. Mash dengan ukuran partikel medium (P2) membentuk nilai kerapatan tumpukan yang terendah sedangkan mash dengan ukuran partikel kasar (P3) memiliki nilai kerapatan tumpukan yang tertinggi diantara semua perlakuan. Ukuran partikel mash yang semakin kasar cenderung meningkatkan nilai kerapatan tumpukannya.

Johnson (1994) berpendapat bahwa kerapatan tumpukan akan semakin meningkat dengan semakin banyak jumlah partikel halus dalam ransum. Pendapat Johnson (1994) berbeda dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kerapatan tumpukan cenderung semakin meningkat dengan semakin kasar ukuran partikel. Perbedaan tersebut diduga karena kadar air dalam mash yang semakin tinggi antar perlakuan menyebabkan berat bahan meningkat, sehingga kerapatan tumpukan mash juga semakin tinggi.

Faktor lain yang juga mempengaruhi besarnya nilai kerapatan tumpukan mash adalah berat jenis. Menurut Khalil (1999a), berat jenis merupakan faktor penentu kerapatan tumpukan dan memberikan pengaruh yang besar terhadap daya ambang. Oleh karena itu berat jenis mash memperlihatkan pola yang sama dengan kerapatan tumpukan mash baik dalam nilai rataan tertinggi maupun yang terendah.

33 Nilai rataan berat jenis dan kerapatan tumpukan mash yang tertinggi sama-sama diperoleh mash yang berukuran partikel kasar (P3) dan yang terendah diperoleh oleh mash dengan ukuran partikel sedang (P2).

Berdasarkan Sidik ragam kerapatan tumpukan pellet diperoleh hasil bahwa perlakuan berpengaruh nyata (p<0,01) terhadap nilai kerapatan tumpukan pellet. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa P3 berbeda nyata dengan P1 dan P2, tetapi P1 tidak berbeda nyata dengan P2. Nilai rataan kerapatan tumpukan pellet pada P1, P2 dan P3 dipengaruhi oleh perbedaan ukuran partikel pellet. Hal tersebut terlihat pada nilai kerapatan tumpukan yang tertinggi ditunjukkan oleh pellet yang berukuran partikel kecil (P1) sedangkan pellet dengan ukuran partikel medium (P3) membentuk kerapatan tumpukan yang terendah. Ukuran partikel pellet yang cenderung semakin besar dapat menurunkan nilai kerapatan tumpukan pellet.

Syarief dan Irawaty (1993) menyatakan bahwa kerapatan tumpukan digunakan untuk menentukan volume ruang penyimpanan bahan dengan berat tertentu. Nilai rataan kerapatan tumpukan yang semakin menurun dapat memperbesar volume ruang penyimpanan. Nilai rataan kerapatan tumpukan yang paling tinggi adalah pellet yang berukuran partikel kecil (P1) dan yang paling rendah adalah pellet dengan ukuran partikel sedang (P3). Hal tersebut menunjukkan bahwa

pellet pada P3 membutuhkan volume ruang penyimpanan yang lebih besar daripada

pellet pada P1 dan P2.

Nilai rataan kerapatan tumpukan pellet lebih tinggi daripada kerapatan tumpukan mash (terlihat pada Gambar 11). Hal tersebut menunjukkan bahwa pellet yang berbentuk silinder memiliki berat bahan tiap satuan volume yang lebih tinggi daripada mash yang berbentuk tepung. Mash memiliki kisaran nilai kerapatan tumpukan antara 498-526 kg/m3 dan lebih rendah daripada kerapatan tumpukan

pellet yang berkisar antara 650-720 kg/m3 yang menandakan bahwa pellet

membutuhkan waktu jatuh dan mengalir lebih singkat daripada mash.. Hal ini sesuai dengan Khalil (1999) bahwa bahan dengan kerapatan tumpukan tinggi membutuhkan waktu jatuh dan mengalir yang lebih singkat daripada bahan ransum dengan kerapatan tumpukan yang rendah.

34

Kerapatan Pemadatan Tumpukan

Kerapatan pemadatan tumpukan merupakan perbandingan antara berat bahan terhadap volume ruang yang ditempatinya setelah melalui proses pemadatan. Nilai rataan kerapatan pemadatan tumpukan mash dan pellet masing-masing berkisar antara 620-654 kg/m3 dan 770-820 kg/m3. Grafik hubungan antara perlakuan dengan nilai kerapatan pemadatan tumpukan mash dan pellet disajikan pada Gambar 12.

0 200 400 600 800 1000 1 2 3 Perlakuan Ni la i Ra ta a n K er a pat a n Pe m a d a ta n Tu m p u k a n (kg /m 3 ) mash Pellet

Gambar 12. Histogram Hubungan Antara Perlakuan dengan Kerapatan Pemadatan Tumpukan Ransum Penelitian.

Hasil sidik ragam (ANOVA) kerapatan pemadatan tumpukan mash

menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata antar perlakuan. Nilai rataan kerapatan pemadatan tumpukan mash yang tertinggi adalah P1 (654 kg/m3) dan yang terendah adalah P2 (620 kg/m3). Perbedaan ukuran partikel mash tidak mempengaruhi kerapatan pemadatan tumpukan mash. Khalil (1999a) menyatakan bahwa kandungan air dan ukuran partikel berpengaruh nyata terhadap semua jenis pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan pemadatan tumpukan cenderung meningkat antar perlakuan. Hal tersebut dikarenakan kadar air mash yang semakin tinggi menyebabkan berat mash tiap satuan volume menjadi meningkat sehingga tingkat pemadatan mash menjadi meningkat.

Pemadatan pada bahan yang mempunyai berat jenis tinggi akan meningkatkan tingkat kepadatannya, sehingga berat bahan tiap satuan volume akan meningkat (Gautama, 1998). Oleh karena itu, kerapatan pemadatan tumpukan mash yang tinggi cenderung terjadi pada mash yang memiliki berat jenis tinggi dan begitu pula sebaliknya. Selain berat jenis yang mempengaruhi nilai kerapatan pemadatan tumpukan, faktor lain yang berpengaruh menurut Sayekti (1999) adalah intensitas

35 dan cara pemadatan. Intensitas dan cara pemadatan yang berbeda pada setiap perlakuan dapat mempengaruhi nilai kerapatan pemadatan tumpukan ransum. Sebaiknya pengukuran kerapatan pemadatan tumpukan ransum dilakukan dengan metode atau cara pemadatan yang sama atau konsisten sehingga menghasilkan pengukuran kerapatan pemadatan tumpukan yang akurat.

Hasil analisa dari pengukuran kerapatan pemadatan tumpukan pellet berkisar antara 770-820 g/cm3. Nilai rataan kerapatan pemadatan tumpukan pellet dapat dilihat pada Tabel 5. Sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap nilai kerapatan pemadatan tumpukan pellet. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa P2 berbeda nyata (p<0,05) dengan P1 dan P3 sedangkan P1 tidak berbeda nyata dengan P3. Ukuran partikel pellet selain mempengaruhi sudut tumpukan dan kerapatan tumpukan juga mempengaruhi besarnya nilai kerapatan pemadatan tumpukan. Hal ini sesuai dengan Khalil (1999) bahwa ukuran partikel bahan berpengaruh nyata terhadap kerapatan pemadatan tumpukan pakan. Pellet dengan ukuran partikel yang kecil (P1) dapat membentuk kerapatan pemadatan tumpukan yang paling rendah sedangkan pellet berukuran partikel besar (P2) membentuk kerapatan pemadatan tumpukan paling tinggi diantara semua perlakuan. Semakin besar ukuran partikel pellet maka kerapatan pemadatan tumpukannya cenderung semakin tinggi.

Berdasarkan histogram pada Gambar 12 dapat terlihat bahwa nilai rataan kerapatan pemadatan tumpukan mash lebih kecil daripada kerapatan pemadatan tumpukan pellet. Hal tersebut menunjukkan bahwa mash yang berbentuk tepung memiliki tingkat pemadatan yang rendah sedangkan pellet yang berbentuk silinder menghasilkan tingkat pemadatan yang tinggi.

Kerapatan pemadatan tumpukan berguna untuk menentukan kapasitas dan akurasi pengisian tempat penyimpanan seperti silo, kontainer dan kemasan. Semakin tinggi nilai kerapatan pemadatan tumpukan maka volume ruang yang ditempati menjadi lebih kecil dan sebaliknya. Nilai rataan kerapatan pemadatan tumpukan

Dokumen terkait