• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KONSEP PEMIKIRAN FIQH SOSIAL

A. Historisitas Fiqh Sosial

30

BAB III

KONSEP PEMIKIRAN FIQH SOSIAL KH. MA. SAHAL MAHUFDH

A. Historisitas Fiqh Sosial

Kiai Sahal adalah seorang filosof kontemporer karena selalu resah memikirkan kebenaran ilmu pengetahuan dan realitas riil masyarakat yang masih mengalami kesenjangan dan ketimpangan sosial. Islam, khususnya fikih yang dipelajarinya sejak dini ternyata kurang merespon masalah kemiskinan, stagnasi berpikir, kejumudan, dan keterbelakangan umat. Fikih sebagai manifestasi doktrin Tuhan telah kehilangan fungsi transformatifnya baik struktural maupun kultural dalam realitas individu dan sosial. Ia terjebak oleh tekstual, formalitas, dan simbolitas sehingga terkesan rigid, eternal dan konservatif. Di sisi lain, perilaku masyarakat jauh dari nilai-nilai agama, khususnya doktrin fikih. Sekularitas, hedonitas, materialitas dan imoralitas menjadi bukti untuk itu. Skeptisisme, kegelisahan akademik dan sosial membawa Kiai Sahal ke arah pergolakan intelektual yang akhirnya melahirkan magnum opus yang kemudian berkontribusi bagi karya intelektual dan sosial.

Fikih sosial kemudian lahir sebagai jawaban atas kegelisahan Kiai Sahal terhadap dua ketimpangan di atas – meminjam istilah Muhammad Iqbal – Kiai Sahal turun dari singgasana kekuasaan menuju grassroot untuk menggerakkan perubahan sosial. Islam in book and Islam in action seperti kata Roscoue Pound harus selaras, tidak dikotomi dan terfragmentasi baik secara teori maupun praktik.56 Dalam bahasa Amin Abdullah, Islam normatif dan historis terintegrasi dengan apik. Kiai Sahal meneladani akhlak Rasulullah saw. dalam membebaskan kaum mustad}’afi>n (lemah dan tertindas) dengan membangkitkan harga diri dan keteladanan hidup

56 Istilah ini dipakai Abu Hafsin, Ph.D, ketika memberikan mata kuliah Metodolgi Studi Islam di IAIN Walisongo Semarang, 30 Agustus 2010. Lihat Jamal Ma’mur Asmani, Mengembangkan

Fikih Sosial KH. MA. Sahal Mahfudh Elaborasi Lima Ciri Utama (Jakarta: Elex Media

31

sederhana.57 Hal ini sangat penting untuk meraih kejayaan. Buya Syafi’i Ma’arif menyatakan kejayaan di dunia diperlukan untuk meraih kejayaan di akhirat. Karir hidup di dunia, menurut pandangan al-Qur’an, akan sangat menentukan corak kehidupan di alam sana.58

Fikih sosial Kiai Sahal mencoba menerjang batas paradigma tradisional masyarakat Kajen, Pati yang secara geografis tandus dan kering menjadi masyarakat yang maju, dan berperadaban. Paradigma tradisional berpandangan qana>’ah adalah kondisi alamiah, normal, dan bukan merupakan masalah, serta menerima pemberian Tuhan apa adanya tanpa perlu bekerja keras untuk meraih segalanya. Persepsi itu tidak salah, namun sangat tekstual. Dari hal ini, Kiai Sahal terpanggil untuk mendobrak paradigma yang sudah lama mengakar di masyarakat Kajen. Ia melakukan revolusi teologis tentang hakikat qana>’ah, zuhu>d, kaya, miskin, tasawuf. Setelah menyitir banyak ayat al-Qur’an dan hadis, Kiai Sahal mengeluarkan statement kontroversial kala itu, bahwa miskin, keterbelakangan bertentangan dengan Islam. Islam menginginkan kemakmuran, kesejahteraan, ketercukupan, dan kemajuan ekonomi.

Masyarakat Kajen terhenyak mendengarkan pernyataan Kiai Sahal yang dianggap nyeleneh, keluar dari hal-hal umum, dan radikal. Bagi Kiai Sahal, menjadi miskin adalah berdosa, sebab miskin menjadi sumber bencana, mendekati kekufuran, pendidikan tidak maju, pikiran tidak terbuka, malu untuk berdiri tegap dalam menyuarakan kebenaran, mudah tergoda pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab sampai mengorbankan keyakinan agama. Na’u>dhubilla>h.

Tidak hanya kontroversial, Kiai Sahal juga membangun kerangka paradigmatik secara sistematis, institusional dan gradual. Kerja-kerja nyata pemberdayaan ekonomi, revolusi pendidikan, menjalin relasi dengan banyak kalangan seperti ulama, cendekiawan, birokrat, ekonom, aktivis LSM menjadikan paradigma berpikir Kiai Sahal inklusif, moderat, dan progresif.

57 Jalaluddin Rahmat, Islam Alternatif (Bandung: Mizan, 1998), cet. X, 79084.

58 A. Syafi’i Ma’arif, Islam, Kekuatan Doktrin dan Kegamangan Umat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), cet. I, 9.

32

Karakter Kiai Sahal yang aktivis-organisatoris menjadikan setiap agenda pembaruannya selalu dalam naungan organisasi dengan manajemen yang akuntabel dan terstruktur rapi serta profesional. Membumikan hal di atas tidaklah mudah, ulama sekaliber Kiai Sahal pun tetap menemukan kendala, yakni paradigma mayoritas Kiai Kajen yang menggunakan fikih sebagai kacamata hitam dalam menjawab setiap masalah. Fikih mereka tekstualis, rigid, eternal dan final. Para kiai menuduh Kiai Sahal sebagai agen zionis dengan segala program kebaruannya. Dalam konteks inilah, Kiai Sahal melakukan ijtihad intelektual dan sosial dalam kapasitas terbaiknya untuk membuktikan bahwa fikih tidak anti terhadap segala apa yang dilakukannya, justru fikih harus tampil sebagai pionir kebangkitan ekonomi umat sebagaimana perintah al-Qur’an dan al-hadis.

Dekonstruksi menjadi langkah awal Kiai Sahal dalam melakukan redefinisi makna miskin, faqi>r, kaya, qana>’ah, zuhu>d, agama, fikih dan dunia yang mendorong produktivitas dan kreativitas. Agaknya Kiai Sahal terinspirasi dari Jacquess Derrida di mana term dekonstruksi darinya betul-betul diimplementasikan Kiai Sahal. Potensi revolusi yang membawa keadilan dan kesejahteraan yang ada pada Islam sebagaimana pemikiran Gus Dur.59 Tentu dalam kerangka mengubah dunia sesuai ajaran agama. Kerja transformasi Kiai Sahal sesuai dengan ungkapan Karl Marx (1818-1883): “Para filosof sampai sekarang hanya menafsirkan dunia. Kini tibalah saatnya untuk mengubah dunia.”60

Implikasinya, kontroversi dari gagasan fikih sosial menyebar ke mana-mana. Di kalangan NU sendiri, terjadi pro kontra dalam merespons gagasan fikih sosial Kiai Sahal. Melalui ijtiha>d bi qauli> (presentasi ilmiah), bi al-fi’li>/ h}a>l (kerja riil), dan bi al-kita>bi> (makalah, teori, buku ilmiah), Kiai Sahal berhasil mempertahankan sekaligus orang pertama yang secara apik merumuskan formula gagasan fikih sosial. Schopenhauer mengatakan, ide

59 Kata pengantar dalam bukunya Hassan Hanafi, Agama, Ideologi dan Pembangunan (Jakarta: P3M, 1991), vii.

60 Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat relasiIlmu (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), cet. IX, 6.

33

brilliant harus melalui tiga fase yakni dihujat, ditentang hebat, dan akhirnya terbukti dengan sendirinya.61 Tiga fase ini dilalui Kiai Sahal dengan penuh kemantapan dan kematangan berpikir serta kapasitas intelektual yang memadai. Kapabilitasnya tidak diragukan lagi sebagaimana tercermin dalam

wise wordnya, seorang manusia hendaknya tidak hanya meninggalkan karya

intelektual, tetapi juga karya sosial. Menurut Prof. Dr. Liek Wilarjo, pada suatu waktu memang dibutuhkan lompatan pemikiran yang melawan arus

mainstream demi kemajuan masyarakat di masa depan.62 Dan Kiai Sahal berani membuat sebuah keputusan besar dengan mengambil risiko demi kemajuan bangsa ini ke depan.