Kasus penyakit HIV AIDS dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan Kasus. Dari laporan berdasarkan hasil pemeriksaan Voluntary Counseling and Testing (VCT) RSU di Kabupaten Dairi terdapat 24 orang dan positif HIV 6 orang. Disamping itu juga dilakukan sero survey di Lembaga Pemasyarakatan Sidikalang sebanyak 60 orang dan ditemukan Positif HIV satu orang.
Penemuan kasus HIV dan AIDS merupakan fenomena “ Gunung Es” bahwa kasus yang terdata hanya cerminan sedikit kasus yang sebenarnya ada dimasyarakat. Secara teori adanya 1 kasus HIV dan AIDS yang terdeteksi , kasus yang sebenarnya ada di masyarakat adalah 100 kasus. Upaya yang dapat dilaksanakan adalah dengan meningkatkan kinerja Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) di Puskesmas Sitinjo dan VCT di RSUD Sidikalang. Klinik ini harus dengan intensif melaksanakan kegiatan penyuluhan ,
pemeriksaan dan pemberian kondom. Selanjutnya menggalakkan kembali upaya promosi dan sosialisasi HIV AIDS bagi masyarakat luas.
a. Status Gizi
Seperti halnya di Negara Indonesia pada umumnya, Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Dairi memiliki permasalahan Gizi yaitu permasalahan gizi makro, khususnya Balita dengan gizi buruk, gizi kurang dan permasalahan gizi mikro terutama Kurang Vitamin A , Anemia Gizi Besi dan Gangguan Akibat Kurang Yodium. Indikator yang digunakan untuk menilai keberhasilan Program perbaikan Gizi adalah tingkat Prevalensi Balita Gizi Buruk, Prevalensi Gizi Kurang .
Kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi Angka Prevalensi Gizi Buruk,Kurang dan Bumil KEK maka sejak tahun 2009 telah dilaksanakan kegiatan Pemberian makanan Tambahan (PMT) kepada balita Gizi Buruk sebanyak 80 Balita, Balita Gizi Kurang sebanyak 70 orang anak balita. Pada Tahun 2010 dilaksanakan Kegiatan Pemberian Makanan kepada Balita Gizi Buruk sebanyak 575 or, Balita Gizi Kurang sebanyak 1581 orang serta Ibu Hamil KEK sebanyak 3915 orang. Peningkatan kasus yang ditemukan ini disebabkan adanya dukungan Proyek NICE dari bantuan ADB dengan kegiatan Pemberdayaan Masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi di 66 desa yang ada di Kabupaten Dairi. Tahun 2011 dilaksanakan kegiatan Pemberian Makanan tambahan bagi balita Gizi Buruk sebanyak 145 orang dan Balita gizi kurang sebanyak 1173 orang. Pada tahun 2012 melalui kegiatan PMT diberikan kepada Bayi gizi buruk sebanyak 45 orang , Balita gizi kurang sebanyak 500 orang. Disamping itu dilaksanakan juga
pencetakan Kartu Menuju Sehat (KMS) sebanyak 4400 eksemplar dan pertemuan pembinaan petugas gizi puskesmas sebanyak 18 orang.
Hasil kegiatan dari program perbaikan gizi selama tahun 2009-2013 dapat dilihat dari Angka Prevalensi Gizi buruk dan Gizi kurang sebagai berikut:
Tabel 2.11
Prevalensi Balita dengan Gizi Buruk dan Kurang Tahun 2009-2013
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa Prevalensi Gizi Kurang ,Gizi Buruk dan Bumil KEK menunjukkan adanya trend menurun sejak tahun 2009.Hal ini menunjukan bahwa secara umum telah terjadi peningkatan kesejahtraan dan adanya peningkatan kesadaran masyarakat terutama ibu untuk memantau perkembangan anak balitanya. Penelitian menjelaskan bahwa adanya korelasi antara anemia Bumil dengan kejadian BBLR. Beberapa faktor penyebabnaya antara lain perilaku masyarakat terhadap
No Angka Prevalensi
Tahun
2009 2010 2011 2012 2013 1 Balita Gizi Kurang (
Terget Nasional 11,9%)
12,07% 6,97% 4,79% 1,8% 3,50%
2 Balita Gizi Buruk (Target Nasional 3,6%)
1,15% 2,53% 1,63% 0,27% 0,49 %
3 Bumil KEK ( Target Nasional 15%)
pola konsumsi atau pola makan yang ternyata kurang mendukung kesehatan individu, penyuluhan masyarakat mengenai pentingnya tablet gizi masih kurang intensif, tingkat social ekonomi yang rendah dan sosialisasi mengenai pola makan gizi seimbang masih rendah.
Jika dibandingkan dengan Indikator MDGs Tahun 2015 Prevalensi Gizi Kurang sebesar 11,9%, Gizi Buruk 3,6% serta Bumil KEK 15 % maka kita optimis Target yang ditetapkan tersebut dapat dicapai Oleh Pemerintah Kabupaten Dairi.
RENCANA STRATEGIS PUSKESMAS SITINJO TAHUN 2014-2019 Page 24
2.3.3. Pencapaian SPM
PENCAPAIAN KINERJA PELAYANAN DINAS KESEHATAN KABUPATEN DAIRI TAHUN 2013
NO INDIKATOR SPM / STANDAR NASIONAL WAKTU CAPAIAN Target Capaian Tahun 2013 Realisa si Tahun 2013 Ket 1 2 3 4 5 6 7
1 Cakupan kunjungan ibu hamil K4 95 % Tahun 2015 80% 81,91%
2 Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 80 % Tahun 2015 60 % 70,32% 3 Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
memiliki kompetensi kebidanan 90 % Tahun 2015 80 %
83,63%
4 Cakupan pelayanan Nifas 90 % Tahun 2015 90 % 83,63 %
5 Cakupan Neonatus dengan komplikasi yang ditangani 80 % Tahun 2015 80 % 14,91 %
6 Cakupan kunjungan bayi 90 % Tahun 2010 85 % 70,27 %
7 Cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 100 % Tahun 2010 85 % 70,41 %
8 Cakupan pelayanan anak balita 90 % Tahun 2010 80 % 73,76%
9 Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada usia 6 – 24
bulan keluarga miskin 100 % Tahun 2010 80 %
-10 Cakupan balita gizi burukmendapat perawatan 100 % Tahun 2010 90 % 100 % 11 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat 100 % Tahun 2010 90 % 98,79 %
RENCANA STRATEGIS PUSKESMAS SITINJO TAHUN 2014-2019 Page 25
12 Cakupan peserta KB aktif 70 % Tahun 2010 80 % 64,70 %
13 Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit 100 % Tahun 2010 a. AFP Rate /100.000 penduduk <15 Tahun
100 % Tahun 2010 2 kasus
(-)
b. Penemuan Penderita Pneumonia Balita 0 kasus
c. Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif 100 % Tahun 2015 83,47 %
d. Penderita DBD yang ditangani 100 % Tahun 2015 100 %
e. Penemuan Penderita Diare 100 %
14 Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin 100 % Tahun 2015 90 % 82,65 % B Pelayanan Kesehatan Rujukan
1 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat
miskin 80 % Tahun 2015 90 % 28,8%
C Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa / KLB
1 Cakupan Desa/Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan
penyelidikan epidemologi < 24 jam 100 % Tahun 2015 100 % 100 % D Promosi Kesehatan dan P emberdayaan Masyarakat
BAB III
ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI
3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan fungsi Pelayanan SKPD
a. Isu Internal
1). Sumber Daya Manusia Aparatur
Jumlah dan jenis tenaga kesehatan terus meningkat namun kebutuhan dan pemerataan distribusinya belum terpenuhi, utamanya di desa di setiap kecamatan. Kualitas tenaga kesehatan juga masih rendah, sistem penghargaan, dan sanksi belum sebagaimana mestinya. Masalah kurangnya tenaga kesehatan terutama bidan dan dokter, baik jumlah, jenis dan distribusinya menimbulkan dampak terhadap rendahnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan berkualitas, di samping itu juga menimbulkan permasalahan pada rujukan dan penanganan pasien untuk kasus tertentu.
2). Sarana dan Prasarana
Masih terbatasnya Sarana dan Prasarana di puskesmas terutama puskesmas rawat inap sehingga bangunan untuk rawat inap belum bisa difungsikan secara optimal. Beberapa desa masih belum mempunyai bangunan pustu maupun poskesdes sehingga upaya pendekatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat masih belum maksimal.
Sistem informasi kesehatan (SIK) belum diterapkan secara optimal. Keterbatasan data menjadi kendala dalam pemetaan masalah dan penyusunan kebijakan. Pemanfaatan data belum optimal dan surveilans belum dilaksanakan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Proses sosialisasi yang belum optimal berpotensi menimbulkan masalah pada buruknya pelayanan kesehatan yang diberikan bagi masyarakat. Permasalahan tersebut antara lain muncul pada pembagian peran dinas
pelaksanaan kebijakan termasuk sinkronisasi dinas kesehatan dan manajemen Rumah Sakit, serta komitmen pemerintah daerah untuk biaya operasional dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar.
3). Keterbatasan Kemampuan Anggaran Pemerintah Daerah
Untuk anggaran pembiayaan kesehatan, permasalahannya lebih pada alokasi yang cenderung pada upaya kuratif dan masih kurangnya anggaran untuk biaya operasional dan kegiatan langsung untuk Puskesmas. Selain itu terhambatnya realisasi anggaran juga terjadi sehingga berpengaruh terhadap penyerapan anggaran.
Akibat dari pembiayaan kesehatan yang masih cenderung kuratif dibandingkan pada promotif dan preventif mengakibatkan pengeluaran pembiayaan yang tidak efektif dan efisien, sehingga berpotensi menimbulkan permasalahan pada kecukupan dan optimalisasi pemanfaatan pembiayaan kesehatan. Adanya masyarakat yang belum terlindungi oleh jaminan kesehatan mengakibatkan rendahnya akses masyarakat dan risiko pembiayaan kesehatan yang berakibat pada timbulnya kemiskinan.
b. Isu Eksternal 1). Globalisasi
Keterikatan Indonesia dengan berbagai komitmen internasional seperti Millennium Development Goals , Sustainable Development Principles , World Fit for Children dan agendaagenda internasional lainnya di bidang kesehatan,
perlu dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan dan penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Kondisi ini juga menjadi target dalam pembangunan bidang Kesehatan di Kabupaten Dairi, khususnya dalam pencapaian target MDGs bidang kesehatan dan Target Standard Pelayanan Minimal yang belum tercapai pada tahun 2015.
seperti Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang merupakan penyesuaian (revisi) dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992; Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran; dan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Berbagai kebijakan dalam tingkatan manajerial juga tersedia, seperti Sistem Kesehatan Nasional (SKN), Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJPK) Tahun 2005-2025, Rencana Strategis (Renstra) Departemen Kesehatan 2010-2015, dan telah ditetapkannya Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan. Kebijakan teknis sebagian besar sudah tersedia. Namun dirasakan hubungan antar sekuen perencanaan belum berjalan baik, antara Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan Renstra, Rencana Kerja Pemerintah Daerah dengan Rencana Kerja (Renja) Dinas Kesehatan dan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Dinas Kesehatan, dan juga antara dokumen kebijakan dengan dokumen perencanaan dan anggaran yang masih harus disinkronkan. Pada masa yang akan datang berbagai panduan ini perlu disempurnakan seperti sistem penganggaran yang berbasis kinerja untuk selanjutnya dilengkapi dengan panduan tentang Kewenangan Wajib serta implementasi SPM dalam rangka desentralisasi. Sementara itu hukum kesehatan perlu ditata secara sistematis, serta banyak peraturan yang masih harus dilengkapi. Dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan kualitas pelayanan kesehatan, maka masyarakat dan tenaga kesehatan sebagai pengguna dan pemberi pelayanan kesehatan perlu dilindungi.
Permasalahan
Berdasarkan kondisi pencapaian kinerja ada beberapa hal yang menjadi permasalahan dalam upaya pembangunan di bidang kesehatan di Kabupaten Dairi, diantaranya :
1. Pencapaian Standard Pelayananan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan, masih terdapat beberapa indikator yang masih belum tercapai yaitu :
b. Cakupan Desa/Kelurahan UCI 100 % pada tahun 2010 namun pencapaian sampai dengan tahun 2013 sebesar 70,41%.
c. Cakupan Pelayanan anak balita 90 % pada tahun 2010 namun pencapaian sampai dengan tahun 2013 sebesar 80,05 %.
d. Cakupan Pemberian MP ASI pada anak usia 6-24 bulan keluarga miskin 100 % pada tahun 2010 namun pencapaian sampai dengan tahun 2012 sebesar 48,88%.
e. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan Setingkat 100 % pada tahun 2010 namun pencapaian sampai dengan tahun 2013 sebesar 55,77 %.
f. Cakupan peserta KB Aktif 70 % pada tahun 2010 namun pencapaian sampai dengan tahun 2013 sebesar 66,91 %.
g. Cakupan Desa Siaga Aktif 80 % pada tahun 2015 namun pencapaian sampai dengan tahun 2013 sebesar 70,37 %
Dampak
Upaya kesehatan di Indonesia belum terselenggara secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Penyelenggaraan upaya kesehatan yang bersifat peningkatan (promotif) dan pencegahan (preventif) masih dirasakan kurang. Meskipun sarana pelayanan kesehatan dasar milik pemerintah seperti Puskesmas telah terdapat di semua kecamatan dan ditunjang oleh Puskesmas Pembantu, Poskesdes, dan Posyandu , namun upaya kesehatan belum dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat. Kabupaten Dairi memang masih menghadapi permasalahan pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. Masih terdapat desa yang masih belum memiliki sarana pelayanan kesehatan. Selanjutnya meskipun rumah sakit telah di bangun, namun sistem rujukan pelayanan kesehatan perorangan juga belum dapat berjalan dengan semestinya. Pengalokasian dana bersumber pemerintah yang dikelola oleh sektor kesehatan sampai saat ini belum begitu efektif. Dana pemerintah lebih banyak dialokasikan pada upaya kuratif dan sementara itu besarnya dana yang dialokasikan
pemerintah belum cukup adil untuk mengedepankan upaya kesehatan masyarakat dan bantuan untuk keluarga miskin.
Tantangan dan Peluang
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berdasarkan pada perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian, adil dan merata, serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan, antara lain ibu, bayi, anak, lanjut usia (lansia), dan keluarga miskin.
Pembangunan kesehatan di Kabupaten Dairi dilaksanakan melalui peningkatan:
a. Upaya Pelayanan kesehatan khususnya pelayanan kesehatan dasar, b. Pembiayaan kesehatan,
c. Sumber daya manusia kesehatan,
d. Sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan, e. Manajemen dan informasi kesehatan, dan
f. Pemberdayaan masyarakat.
Dengan penerapan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang terhalang dalam mengakses pelayanan kesehatan khususnya masyarakat miskin.
3.2. Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih
3.2.1. Visi
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Dairi mempunyai kurun waktu perencanaan dari tahun 2014-2019. Visi Pemerintah Kabupaten Dairi yaitu “MASYARAKAT KABUPATEN DAIRI YANG LEBIH MAJU DAN SEJAHTERA MELALUI AGRIBISNIS
Masyarakat Kabupaten Dairi, adalah seluruh penduduk yang berdiam di wilayah Kabupaten Dairi yang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan menikmati hasil pembangunan.
Yang Lebih Maju dan sejahtera, dimaknai dengan adanya suatu peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Peningkatan kualitas kehidupan adalah kondisi dimana terjadi peningkatan mutu kehidupan masyarakatdari berbagai aspek atau ukuran dibanding sebelumnya.
Agribisnis, adalah cara pandang melihat pertanian sebagai suatu sistem bisnis yang terdiri dari empat sub sistem yang terkait (terintegrasi) satu sama lainnya yaitu :
1. Sub sistem agribisnis hulu (up stream agribusiness ) meliputi semua kegiatan yang memproduksi dan menyalurkan input-input pertanian dalam arti luas;
2. Sub sistem agribisnis usaha tani (on farm agribusiness) merupakan kegiatan yang dilakukan di tingkat petani untuk menghasilkan produk pertanian;
3. Sub sistem agribisnis hilir (down stream agribusiness) merupakan kegiatan agroindustri yaitu industri yang mengolah produk pertanian sebagai bahan bakunya termasuk penyimpanan, pemasaran untuk meningkatkan nilai tambah.
4. Sub sistem jasa pendukung lainnya (supporting institution) yang meliputi seluruh kegiatan layanan jasa dalam pengembangan agribisnis seperti lembaga keuangan, penyuluhan dan penelitian dan lain-lain termasuk kebijakan pemerintah.
3.2.2. MISI
1. Mewujudkan pemerintahan daerah yang berkualitas berbasis berbasis tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih ( clean government).
2. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Penjelasan makna atas pernyataan misi dimaksud adalah :
1. Meningkatkan kapasitas pemerintahan daerah yang berkualitas dalam kerangka tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean government ), bermakna bahwa untuk meningkatkan pelayanan kepemerintahan , maka arah kebijakan ke depan diarahkan kepada pembinaan aparatur pemerintah yang profesional dan berkompetisi, pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam rangka peningkatan efisiensi, efektifitas dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan dengan menjunjung tinggi empat pilar kebangsaan.
2. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui peningkatan pendidikan, kesehatan, penegakan hukum dan kebebasan berdemokrasi , bermakna untuk mewujudkan kondisi masyarakat Kabupaten Dairi yang berkualitas yang diwujudkan melalui arah kebijakan peningkatan derazat kesehatan, pendidikan serta peningkatan standard hidup layak, penurunan penduduk miskin, peningkatan pengelolaan budaya, menciptakan kondisi saling menghormati dan mencegah konflik antar masyarakat yang berbeda agama, adat dan budaya, mendorong penegakan hukum yang konsisten penghormatan terhadap hak azasi manusia ,persamaan gender dan menjamin kebebasan dalam berdemokrasi .
3. Meningkatkan pengelolaan potensi daerah, bermakna bahwa untuk menunjang pembangunan dan pengembangan ekonomi daerah maka arah kebijakan pembangunan ke depan diarahkan kepada peningkatan pengelolaan sumber daya alam dan pengembangan 4 sub sistem agribisnis, dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
4. Peningkatan infrastruktur daerah dan penataan ruang wilayah, bermakna bahwa untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat yang berkualitas maka arah
pendidikan, kesehatan, air minum dan sanitasi, rehabilitasi rumah layak huni, penataan ruang permukiman perdesaan dan perkotaan, serta pelaksanaan pembangunan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup.
3.3. Telaahan Renstra K/L dan Renstra Provinsi Sumatera Utara
Kebijakan dalam melaksanakan tugas, kegiatan dan program di bidang kesehatan di Kabupaten Dairi selama ini Dinas Kesehatan berpedoman dan mengacu kepada Kebijakan Nasional dan Provinsi antara lain:
a. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
b. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; c. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan;
d. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;
e. Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005-2025;
f. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
741/MENKES/PER/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota;
g. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 12 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Sumatera Utara Tahun 2005-2025;
h. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013-2018;
Selanjutnya berdasarkan kebijakan Nasional, maka ditetapkan indikator kinerja di bidang kesehatan di Kabupaten Dairi dengan mengacu Visi dan Misi Pemerintah Kabupaten Dairi
BAB IV
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN
4.1. Visi dan Misi SKPD
4.1.1.Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi
Visi Dinas KesehatanKabupaten Dairi: ”Penggerak Pembangunan Kesehatan Menuju Masyarakat Sehat, Mandiri dan Berkualitas”.
Penggerak Pembangunan Kesehatan yaitu bahwa Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi berkewajiban untuk menggerakkan pembangunan kesehatan sehingga dapat meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.
Masyarakat Sehat adalah masyarakat yang memiliki kondisi sehat baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Mandiri adalah masyarakat Dairi yang bisa memberdayakan diri sendiri dalam bidang kesehatan dengan sadar, mau dan mampu untuk mengenali, mencegah, dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga bebas dari gangguan kesehatan akibat bencana maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat.
4.1.2. Misi Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi
Untuk mewujutkan visi Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi maka misi yang dibangun adalah sebagai berikut :
1. Melaksanakan pelayanan kesehatan yang merata dan bermutu
2. Melaksanakan penanggulangan masalah kesehatan dan penyehatan lingkungan
3. Meningkatkan kemandirian masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat dan kemitraan di bidang kesehatan
4. Mengupayakan tersedianya pembiayaan jaminan kesehatan yang menyeluruh
5. Mengupayakan ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan yang bermutu
6. Melaksanakan pengawasan dan pengaturan di bidang kesehatan
7. Menyelenggarakan manajemen kesehatan dan informasi kesehatan (SIK)
4.2. Visi dan Misi Puskesmas Sitinjo VISI :
Mewujudkan masyarakat kecamatan Sitinjo yang sehat dan mandiri Tahun 2022
MISI:
- Menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan masyarakat yang sesuai dengan standar
- Meningkatkan informasi, akses dan keterjangkauan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan
- Menggalang kemitraan dan kerjasama dengan masyarakat dan lintas sektoral untuk mewujudkan masyarakat sehat dan mandiri
1. TATA NILAI: “BISA”