BAGIAN I: KEHAMILAN & PERSOALAN DISEKITARNYA
2. HIV DAN AIDS
penyebab AIDS ini dengan mengisolasi virus dari kelenjar getah bening dalam tubuh ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS) yang membengkak. Kemudian pada bulan Juli 1994 Dr. Robert Gallo dari Lembaga Kanker Nasional di Amerika Serikat menyatakan bahwa dia menemukan virus baru dari seorang penderita AIDS yang diberi nama HTLV-III Kemudian llmuwan lainnya, J. Levy juga menemukan virus penyebab AIDS yang ia namakan AIDS Related Virus yang disingkat ARV. Akhir Mei 1986 Komisi Taksonomi International sepakat menyebut nama virus AIDS ini dengan HIV. Akhirnya virus ini terus berkembang dengan nama HIV.
Mengapa istilah HIV dan AIDS sering bersamaan tetapi terpisah?
Orang yang baru terpapar HIV belum tentu menderita AIDS. Hanya saja lama kelamaan sistem kekebalan tubuhnya makin lama semakin lemah, sehingga semua penyakit dapat masuk ke dalam tubuh. Pada tahapan itulah penderita disebut sudah terkena AIDS.
Kapan HIV menjadi AIDS?
HIV menjadi AIDS dalam tahapan/fase perkembangannya
Fase pertama
Individu sudah terpapar dan terinfeksi. Tetapi ciri-ciri terinfeksi belum terlihat meskipun ia melakukan tes darah. Pada fase ini antibodi terhadap HIV belum terbentuk. Fase ini akan berlangsung sekitar 1-6 bulan dari waktu individu terpapar.
Fase ke dua
Berlangsung lebih lama, yaitu sekitar 2-10 tahun setelah terinfeksi HIV. Pada fase kedua ini individu sudah positif HIV dan belum menampakkan gejala sakit, tetapi sudah dapat menularkan pada orang lain.
Fase ketiga
Mulai muncul gejala-gejala awal penyakit yang disebut dengan penyakit terkait dengan HIV. Tahap ini belum dapat disebut sebagai gejala AIDS. Gejala-gejala yang berkaitan antara lain keringat yang berlebihan pada waktu malam, diare terus menerus, pembengkakan kelenjar getah bening, flu yang tidak sembuh-sembuh, nafsu makan berkurang dan badan menjadi lemah, serta berat badan terus berkurang. Pada fase ketiga ini sistem kekebalan tubuh mulai berkurang.
Fase keempat
Sudah masuk pada fase AIDS. AIDS baru dapat terdiagnosa setelah kekebalan tubuh sangat berkurang dilihat dari jumlah sel-T nya. Timbul penyakit tertentu yang disebut dengan infeksi oportunistik yaitu kanker, khususnya sariawan, kanker kulit atau sarcoma kaposi, infeksi paru-paru yang menyebabkan radang paru-paru dan kesulitan bernafas, infeksi usus yang menyebabkan diare parah berminggu-minggu, dan infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental dan sakit kepala.
B. PENDERITA HIV DAN AIDS
Bagaimana ciri-ciri orang yang sudah terinfeksi HIV?
Orang yang telah terpapar dan terinfeksi HIV tidak bisa dicirikan. Secara penampilan fisik individu yang telah terpapar akan sama saja dengan orang yang tidak terinfeksi HIV. Orang yang sudah terinfeksi HIV tidak ada bedanya dengan individu yang masih sehat di masyarakat. Individu yang terinfeksi HIV masih dapat melakukan aktivitas, badan terlihat sehat dan masih dapat bekerja dengan baik. Individu yang masih berada pada fase HIV masih produktif.
Apakah ada istilah khusus untuk penderita HIV dan AIDS?
Ada, ODHA dan OHIDHA. ODHA adalah Orang Dengan HIV dan AIDS, sedangkan OHIDHA adalah Orang yang Hidup Dengan orang HIV AIDS
Dengan tahapan perkembangan virus tadi, maka terjadi apa yang disebut sebagai “Fenomena Gunung Es”. Artinya adalah data kasus statistik mengenai jumlah angka individu yang terinfeksi HIV maupun individu yang AIDS bukan jumlah yang sebenarnya. Terdapat banyak kasus HIV dan AIDS yang tidak dilaporkan mengingat pada fase awal AIDS selain tanpa gejala, juga tidak dapat dideteksi. Selain itu kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV masih rendah. Sehingga dimungkinkan masih banyak kasus yang tidak terdata, dan menjadikan data yang ada adalah bukan angka yang sebenarnva.
Apa konsekuensi bagi ODHA?
Terdapat banyak pendapat untuk memasukkan ODHA ke penampungan (shelter) khusus penderita HIV dan AIDS. Namun ini berarti merupakan satu bentuk diskriminasi terhadap ODHA. Padahal, tanpa melakukan kontak seksual maupun kontak darah dengan ODHA, HIV dan AIDS yang ada pada tubuh ODHA tidak akan menular ke individu lain, termasuk kepada OHIDHA. Selain itu individu yang masih ada dalam fase HIV masih produktif. Sehingga individu yang bersangkutan masih dapat bekerja dan menghasilkan. Dengan adanya shelter berarti terjadi proses pembedaan dalam perlakuan.
Mengapa masyarakat cenderung mendiskriminasi ODHA?
Sebagian masyarakat melakukan diskriminasi karena :
Kurang memperoleh informasi yang benar bagaimana cara penularan HIV dan AIDS, hal-hal apa saja yang dapat menularkan dan apa yang tidak menularkan
Ketakutan terhadap HIV dan AIDS sebagai penyakit yang mematikan. Sehingga mereka belum percaya sepenuhnya informasi yang diberikan.
Apa yang dapat dilakukan masyarakat terhadap ODHA?
Sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan kepada ODHA yaitu dengan memberikan dukungan. Di antaranya anggota masyarakat harus peduli dengan penanggulangan epidemi AIDS dan mendukung
ODHA untuk melawan diskriminasi, peduli terhadap ODHA yang sering mendapatkan penolakan dari orang lain.
C. PENULARAN HIV DAN AIDS
Apakah HIV dan AIDS termasuk dalam kategori PMS ?
HIV dan AIDS termasuk salah satu PMS yang ditularkan tidak hanya melalui hubungan seksual, tetapi juga melalui hubungan seksual, darah, ibu hamil kepada bayinya, jarum suntik, serta alat cukur.
Bagaimana proses penularan HIV ?
HIV menular melalui kontak darah dan kontak seksual dengan mereka yang sudah terpapar HIV. Syarat utama penularan HIV untuk bisa masuk ke dalam tubuh adalah melalui:
Aliran darah, bisa berbentuk luka
Cairan sperma
Cairan vagina
Apakah HIV dan AIDS juga menular lewat jabat tangan dan ciuman ?
HIV tidak menular melalui jabatan tangan, makan dengan menggunakan piring yang telah dipergunakan oleh orang yang terpapar HIV. Secara lebih jelas lagi HIV hanya dapat ditularkan melalui kontak darah, kontak seksual dan ibu hamil yang telah terpapar HIV kepada bayinya.
HIV hanya terdapat dalam tubuh manusia serta hanya dapat hidup dalam tubuh manusia dan tidak terdapat dalam tubuh hewan dan tidak hidup dalam tubuh hewan. Jadi walaupun nyamuk baru saja menggigit tubuh orang yang telah terpapar HIV, nyamuk bukan media penularan HIV, karena virus tersebut tidak dapat hidup di dalam tubuh hewan.
HIV memang hidup di seluruh cairan tubuh manusia termasuk di air liur maupun keringat. Deep kissing tidak menularkan HIV. Yang berisiko adalah jika pada bagian dalam mulut pasangan yang berciuman terdapat luka yang menganga (sariawan) sehingga virus dari pasangan yang sudah terinfeksi HIV akan masuk ke dalam tubuh melalui luka tersebut. Begitu juga dengan kasus kontak keringat dengan orang yang telah terpapar HIV.
Kegiatan apa saja yang berisiko untuk menularkan HIV dan AIDS?
♦ Hubungan seksual yang tidak aman dengan orang yang telah terpapar HIV
♦ Penggunaan jarum suntik, tindik, tattoo yang dapat menimbulkan luka yang tidak disterilkan secara bersama-sama dipergunakan dan sebelumnya telah dipakai orang yang telah terinfeksi HIV. Cara-cara ini dapat menularkan HIV karena terjadi kontak darah
♦ Melalui transfusi darah yang tercemar HIV
Bagaimana proses penularan HIV dan AIDS dari Ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya?
Penularan HIV dan AIDS dari ibu hamil kepada bayinya dapat terjadi ketika berlangsung prose persalinan dan perlukaan yang terjadi pada proses persalinan.
Baigaimana cara pecegahaan penularan dari ibu yang telah terpapar HIV agar bayinya tidak terpapar HIV?
Beberapa hal yang harus diperhatikan bila ibu yang terinfeksi HIV positif untuk memilih hamil adalah:
♦ Perawatan sebelum melahirkan yang baik
♦ Persalinan sebaiknya berlangsung dalam 4 jam setelah kutban pecah
♦ Dalam proses persalinan sebaiknya hindari teknik-teknik yang membuat luka yang dapat menimbulkan terjadinya kontak darah antara ibu dengan bayinya
♦ Bila bayi tidak tertular HIV lewat persalinan, sebaiknya tidak diberi ASI karena ASI termasuk cairan yang ada di dalam tubuh yang juga salah satu media HIV.
Bagaimana kaitan “Drug User” (Pengguna narkoba) dengan HIV dan AIDS?
Drug user termasuk kelompok individu yang berisiko tinggi untuk terpapar HIV, karena sering kali mereka menggunakan jarum suntik yang tidak steril. Hal inilah yang menjadikan drug user sangat berisiko untuk terpapar HIV dan AIDS.
Junkies (Pecandu Narkoba) yang tidak menggunakan jarum suntik juga berisiko terpapar HIV dan AIDS. Narkoba sangat dekat hubungannya dengan penularan PMS dan HIV dan AIDS. Pemakai narkoba kadang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan seks bebas. Hal inilah yang memicu junk-ies terpapar PMS dan HIV dan AIDS. ODHA yang mengkonsumsi narkoba akan lebih cepat memasuki fase AIDS, karena sifat narkoba yang menggerogoti organ tubuh. ODHA yang perokok saja akan membuatnya lebih cepat masuk pada tahapan AIDS.
Apakah IDU dapat terbebas dari tertular HIV dan AIDS ?
Pencandu yang IDU dapat terbebas dari penularan HIV dan AIDS jika: a. Jarum sehabis dipakai satu orang langsung di buang. b. Kalau menggunakan jarum yang sama, terlebih dahulu
direndam dengan cairan pemutih atau didihkan dengan Pecandu narkoba yang menggunakan jarum suntik/ Intravenous Drug User (IDU) dapat tertular HIV dan AIDS apabila:
a. Satu jarum suntik yang digunakan secara bersama-sama tanpa diganti
b. Jarum suntik yang sudah digunakan bersama-sama tidak dicuci atau disterilkan.
Orang yang sudah terinfeksi menggunakan menggunakan jarum suntik secara bersamaan dengan pengguna yang lainnya.
suhu tinggi.
c. Diupayakan dalam pemakaian harus satu jarum satu orang.
D. PENCEGAHAN PENULARAN HIV DAN AIDS
Tindakan apa yang perlu dilakukan untuk mencegah penularan AIDS?
Abstinentia (menunda melakukan Hubungan Seksual sebelum atau di luar pernikahan)
Bagi orang yang telah aktif berhubungan seks adalah: berhubungan seks dengan pasangan yang tetap, hindari hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan, serta dengan menagunakan kondom
Menghindari transfusi darah yang tidak jelas asalnya dan transfusi yang menggunakan jarum suntik tidak steril
Memastikan penggunaan alat-alat medis dan non medis dari dokter atau petugas kesehatan yang tidak steril dan tidak bekas pakai
Bagaimana cara yang efektif untuk mencegah penularan HIV dan AIDS pada remaja ?
Karena semua orang tanpa kecuali dapat tertular HIV apabila perilakunya sehari-hari termasuk dalam perilaku yang berisiko tinggi terpapar HIV, maka yang perlu dilakukan remaja antara lain:
Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah.
Mencari informasi yang lengkap dan benar yang berkaitan dengan HIV dan AIDS
Mendiskusikan secara terbuka permasalahan yang sering dialami remaja dalam hal ini tentang masalah perilaku seksual dengan orang tua, guru, teman maupun orang yang memang paham mengenai hal ini.
Menghindari penggunaan obat-obatan terlarang dan jarum suntik, tattoo dan tindik
Tidak melakukan kontak langsung percampuran darah dengan orang yang sudah terpapar HIV
Menghindari perilaku yang dapat mengarah pada perilaku yang tidak sehat dan tidak bertanggung jawab
E. ASAL HIV DAN AIDS DAN PENYEBARANNYA Dl INDONESIA
Dari mana AIDS berasal ?
Belum diketahui dengan jelas dari mana dan kapan jelasnya HIV dan AIDS muncul. Diperkirakan pada akhir 1970-an di daerah sub Sahara Afrika HIV sudah berkembang dan meluas. Perkiraan ini dibuat berdasarkan catatan kasus-kasus penyakit yang ada di rumah-rumah sakit di beberapa negara Afrika pada saat itu. Hal ini juga diperkuat oleh beberapa contoh darah pada tahun 1950-an yang telah mengandung HIV. Tetapi kasus HIV dan AIDS pertama kali dilaporkan oleh Gottleib dan kawan-kawan di Los Angeles pada tanggal 5Juni 1981.
Kapan pertama kali HIV ditemukan di Indonesia?
Secara resmi kasus AIDS pertama di Indonesia yang dilaporkan adalah pada seorang turis asing di Bali pada tahun 1987. Walaupun
sebelumnya sudah ada berita tidak resmi bahwa sedikitnya ada tiga kasus AIDS di Jakarta pada tahun 1983 tetapi karena tidak tercatat di Indonesia maka kasus pertama di Indonesia disepakati pada tahun 1987.
Mengapa penyebaran HIV dan AIDS di Indonesia cukup tinggi?
Dari tahun ke tahun kasus HIV maupun kasus AIDS di Indonesia semakin bertambah jumlahnya. Menurut Jaringan Epidemiologi Nasional ada beberapa kondisi yang membuat penyebaran AIDS di Indonesia menjadi cepat, antara lain :
Meluasnya pelacuran
Peningkatan hubungan seks pra nikah (sebelum menikah) dan ekstra marital (di luar nikah)
Prevalensi penyakit menular seksual yang tinggi
Kesadaran pemakaian kondom masih rendah
Urbanisasi dan migrasi penduduk yang tinggi
Penggunaan jarum suntik yang tidak steril
Lalu lintas dari dan ke luar negeri yang bebas
F. DIAGNOSA HIV dan AIDS
Bagaimana untuk mengetahui seseorang terkena HIV dan AIDS?
tanpa melakukan tes HIV dan AIDS lewat sampel darah yang bersangkutan.
Apa yang dimaksud dengan tes HIV dan AIDS itu ?
Tes HIV adalah tes yang dilakukan untuk memastikan apakah individu yang bersangkutan telah dinyatakan terkena HIV atau tidak. Tes HIV berfungsi untuk mengetahui adanya antibodi terhadap HIV atau mengetes adanya antigen HIV dalam darah. Ada beberapa jenis tes yang biasa dilakukan di antaranya yaitu tes Elisa, tes Dipstik dan tes Western Blot.
Masing-masing alat tes memiliki sensitivitas atau kemampuan untuk menemukan orang yang mengidap HIV dan spesifitas atau kemampuan untuk menemukan individu yang tidak mengidap HIV. Untuk tes antibodi HIV semacam Elisa memiliki sensitivitas yang tinggi. Dengan kata lain persentase pengidap HIV yang memberikan hasil negatif palsu sangat kecil. Sedangkan spesifitasnya adalah antara 99,7%-99,90% dalam arti 0,1% - 0,3% dari semua orang yang tidak berantibodi HIV akan dites positif untuk antibodi tersebut. Untuk itu hasil Elisa positif perlu diperiksa ulang (dikonfirmasi) dengan metode Western Blot yang mempunyai spesifisitas yang lebih tinggi.
Apakah untuk tes HIV dan AIDS ada prosedurnya ?
Tes HIV dan AIDS harus dilakukan dengan prosedur tertentu. Syarat tes darah untuk keperluan HIV adalah :
Bersifat rahasia
Harus dengan konseling baik pra tes maupun pasca tes
Tidak ada unsur paksaan
dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu :
a. Pre tes konseling
Identifikasi risiko perilaku seksual (pengukuran tingkat risiko perilaku)
Penjelasan arti hasil tes dan prosedurnya (positif/negatif)
b. Tes darah Elisa
Hasil tes Elisa (-) balik konseling, penataan perilaku safer sex (ingat periode jendela). Pemeriksaan diulang kembali dalam waktu 3-6 bulan berikutnya. ;;
Hasil tes Elisa (+), konfirmasikan dengan Western Blot
c. Tes Western Blot
Hasil tes Western Blot (+) laporkan ke dinas kesehatan (dalam keadaan tanpa nama). Lakukan post konseling dan pendampingan (menghindari emosi putus asa keinginan untuk bunuhdiri).
Hasil tes Western Blot (-) sama dengan Tes Elisa {-)
Prosedur tersebut di atas harus dilakukan untuk menjaga kemungkinan buruk yang terjadi apabila yang bersangkutan memang positif HIV.
Tes HIV harus diulang kembali dalam jangka waktu beberapa bulan kemudian oleh individu yang telah melakukan tes HIV. Dikhawatirkan individu yang bersangkutan ada dalam masa jendela atau window period, di mana sistem antibodi terhadap HIV belum terbentuk, sehingga hasil tes bisa saja negatif. Pada saat ini individu yang telah terpapar sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain. Sehingga
bagi mereka yang hasil tesnya negatif maka disarankan untuk mengulang tes lagi dalam waktu 6 bulan berikutnya.
Bagan tes HIV dan AIDS
Pra tes Konseling
Bersedia Tidak Bersedia
Tes Konseling
Hasil (-) Hasil (+)
Konseling persiapan
tes selanjutnya Konseling
Pendampingan
G. PROGNOSA (KEMUNGKINAN SEMBUH) HIV DAN AIDS Apakah HIV dan AIDS dapat disembuhkan?
Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang dapat menghilangkan HIV dari dalam tubuh individu.
Ada beberapa kasus yang menyatakan bahwa HIV dan AIDS dapat disembuhkan. Setelah diteliti lebih lanjut, pengobatannya tidak dilakukan dengan standar medis, tetapi dengan pengobatan alternatif atau pengobatan lainnya. Obat-obat yang digunakan adalah untuk menahan penyebaran HIV dalam tubuh tetapi tidak menghilangkan HIV dari dalam tubuh. Hal inilah yang dialami Magic Johnson, pebasket tim LA Lakers. Konsumsi obat-obatan dilakukan untuk menahan jalannya virus sehingga kondisi tubuh tetap terjaga. Namun demikian obat-obatan yang dikonsumsinya tidak dipasarkan dan biayanya tidak diketahui. Jadi Pengobatan HIV Magic Johnson hanya bersifat kasus, belum tentu dapat diterapkan pada orang lain. Meskipun semakin hari makin banyak individu yang dinyatakan positif HIV, namun sampai saat ini belum ada informasi adanya obat yang dapat menyembuhkan HIV dan AIDS. Bahkan sampai sekarang belum ada perkiraan resmi mengenai kapan obat yang dapat menyembuhkan AIDS atau vaksin yang dapat mencegah AIDS ditemukan.
H. TERAPI HIV dan AIDS
Untuk menahan laju perkembangan HIV dan AIDS, jenis obat apakah yang digunakan?
yang ada adalah antiretroviral dan infeksi oportunistik. Obat anti retro viral adalah obat yang dipergunakan untuk retrovirus seperti HIV guna menghambat perkembang-biakan virus. Obat infeksi oportunistik adalah obat yang digunakan untuk penyakit yang mungkin didapat karena sistem kekebalan tubuh sudah rusak atau lemah. Obat-obatan yang termasuk anti retroviral yaitu AZT, Didanoisne, Zaecitabine, Stavudine. Sedangkan obat yang bersifat infeksi oportunistik adalah Aerosol Pentamidine, Ganciclovir, Foscamet.
Mitos-mitos seputar HIV dan AIDS
a. HIV dan AIDS merupakan penyakit kutukan Tuhan
HIV dan AIDS bukan merupakan penyakit kutukan Tuhan, karena setiap orang bisa tertular baik itu orang dewasa (laki-laki maupun perempuan), remaja, anak-anak bahkan bayi sekalipun.
b. HIV dan AIDS adalah penyakit orang barat atau turis saja
Selama ini mitos yang berkembang di masyarakat bahwa AIDS hanya diderita oleh orang barat atau turis adalah tidak benar. Penyebaran HIV dan AIDS tidak tergantung pada suatu daerah tertentu, dan tidak hanya berdasarkan pada ras. Saat ini di Indonesia penyebaran HIV dan AIDS melaju dengan cepat.
c. HIV dan AIDS hanya penyakit kaum homoseksual dan penyakit kaum pekerja seks komersial saja
HIV dan AIDS bukan merupakan penyakit yang hanya menimpa kaum homoseksual maupun pekerja seks komersial saja. HIV dan AIDS justru paling banyak diderita oleh golongan heteroseksual. Tidak ada kategori pekerjaan khusus yang membuat individu dapat tertular HIV. Siapa saja dengan profesi apapun beresiko untuk terpapar HIV apabila individu yang bersangkutan berperilaku dalam kategori perilaku beresiko tinggi.
KASUS 1: Selaput dara yang robek
Aku seorang pelajar cewek kelas 2 SMA. Aku sedang mesra-mesranya pacaran dengan Y. Ternyata doi agresif banget bo.... Pernah ya ..kita sedang berdua aja, eh tiba-tiba doi cium bibir aku dan aku bales. Cuma, lama-lama jari doi meraba daerah “intim” aku. Untung aku segera sadar dan menolak. Tapi doi udah sempat menyentuh “bagian dalam” daerah “intim”ku. Waktu doi bilang pengen em el (making love - berhubungan seksual), aku bilangin perbuatan ini belum waktunya. Doi mau mengerti walaupun keliatan kecewa. Aku mau nanya, apa aku sudah tidak perawan lagi, abis, setelah itu ada bercak darah di celana dalam aku. Aku takut sekali, apalagi waktu ingat kata-kata teman aku. Katanya bermesraan dengan tetap pake celana dalam, bisa menyebabkan kehamilan. Bener ya?
U di J JAWABAN
Wah saya salut pada kamu karena berani menolak untuk berhubungan intim. Sungguh, tidak mudah Iho menolak keinginan kekasih untuk bermesraan, apalagi kamu juga menyukainya.
BEDAH KASUS BAGIAN
Sebaiknya kamu tidak membiarkan diri kamu berduaan saja dengan pacar kamu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kehamilan di luar pernikahan. Karena biasanya, hubungan seksual remaja terjadi secara tidak direncanakan (aksidental). Bercak darah di celana dalam kamu, bila kamu tidak sedang dalam masa menstruasi (mulai atau akhir menstruasi), barangkali itu memang darah akibat robeknya selaput dara, karena letak selaput dara hanya 1 sampai 1,5 cm dari permukaan vagina. Namun jangan berkecil hati. Yakinlah bahwa selama kamu tidak melakukan hubungan seks berarti kamu masih perawan, tidak peduli keadaan selaput dara kamu. Yang terpenting adalah kamu jujur pada diri sendiri.
Teman kamu ada benarnya, bermesraan dengan menggesekkan alat kelamin, walaupun masih menggunakan pakaian dalam, juga berisiko terjadi kehamilan. Karena bila letak kelamin saling berdekatan, sperma yang keluar bisa menempel pada pakaian dalam kamu. Vagina mengeluarkan cairan yang mempermudah masuk sperma ke dalam rahim, dan sel sperma dapat hidup lebih dari satu hari, Maka sel sperma dapat “berenang” dan membuahi sel telur yang matang, dan bisa menyebabkan kehamilan. Jadi jangan coba-coba lagi ya.
KASUS 2: Terperosok hubungan seksual bebas
Gue cowok, 16 tahun, kelas 2 SMU. Biasanya gue main dengan teman-teman bermain sejak SD, di sekitar rumah. Tapi 3 bulan terakhir ini, gue lebih gaul dengan temen cowok dari SMU lain. J namanya. Kita