• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAGIAN I: KEHAMILAN & PERSOALAN DISEKITARNYA

8. KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN (KTD), ABORSI

(KDT), ABORSI DAN INFORMASI

ALAT KONTRASEPSI

Karena alasan itu pula orang pertama yang diberi tahu akan kehamilannya bukanlah orang tua remaja putri tetapi pacarnya. Mereka berharap sang pacar bertanggung jawab atau ikut mencarikan solusi akan kehamilannya. Orang lain yang diberi tahu selain sang pacar biasanya adalah sahabat terdekat.

Ketakutan akan konsekuensi psikologis (malu dan tertekan) dan sosial ekonomi, reaksi awal mereka pada umumnya adalah keinginan dan usaha untuk aborsi. Usaha aborsi awal itu menggunakan cara-cara yang bervariasi, mulai dari self-treatment sampai meminta bantuan tenaga medis. Usaha self-treatment itu antara lain dengan mencoba minum jamu-jamu tradisional pelancar haid yang dijual bebas di pasaran umum dengan dosis tinggi; dengan meminum ramuan tradisional yang diracik sendiri seperti ragi tape dan air perasan buah nanas muda; mencoba datang ke dukun paraji atau tukang urut tradisional; atau menenggak minuman keras dan obat-obatan tanpa resep dengan dosis tinggi.

Apa akibat yang timbul jika penanganan KTD lewat usaha Self treatment?

Usaha-usaha self-treatment, kebanyakan tidak membuahkan hasil, justru menciptakan masa menunda yang lama sebelum mereka akhirnya mencoba mendatangi klinik kebidanan atau dokter kandungan. Ketika mereka datang ke klinik kebidanan atau dokter kandungan, usia kandungan mereka sudah cukup tinggi akibatnya mereka ditolak karena risiko medis tinggi.

Tenaga medis tidak mau mengambil risiko melakukan aborsi kecuali atas indikasi medis. Tidak semua remaja mencoba pergi ke dukun.

Mereka takut membayangkan hal-hal negatif akibat layanan yang tidak higienis dan tidak profesional menimpa mereka. Mereka mencoba usaha-usaha self-treatment karena percaya pada cerita atau pengalaman orang lain (biasanya teman/sahabat mereka) dan mempercayai bahwa usaha-usaha itu akan berhasil menggugurkan kandungan mereka.

Apa itu aborsi?

Secara medis, aborsi adalah berakhirnya atau gugurnya kehamilan sebelum kandungan mencapai usia 20 minggu, yaitu sebelum janin dapat hidup di luar kandungan secara mandiri. Tindakan aborsi mengandung risiko yang cukup tinggi, apabila dilakukan tidak sesuai standar profesi medis, misalnya dengan cara :

Penggunaan ramuan yang membuat panas rahim seperti nanas

muda yang dicampur dengan merica atau obat-obatan yang keras lainnya.

Manipulasi fisik, seperti melakukan pijatan pada rahim agar

janin terlepas dari rahim.

Menggunakan alat bantu tradisional yang tidak steril (misalnya ujung

bambu yang diruncingkan) yang dapat mengakibatkan infeksi pada rahim.

Apa akibat yang timbul bila aborsi dilakukan secara tidak aman?

Pendarahan sampai menimbulkan shock dan gangguan neurologis/syaraf di kemudian hari. Pendarahan juga dapat

Infeksi alat reproduksi karena kuretasi yang dilakukan secara tidak steril. Hal tersebut dapat membuat remaja mengalami kemandulan di kemudian hari setelah menikah.

Risiko terjadinya ruptur uterus (robek rahim) besar dan penipisan dinding rahim akibat kuretasi. Hal tersebut dapat menyebabkan kemandulan karena rahim yang robek harus diangkat seluruhnya.

Terjadinya fistula genital traumatis. Fistula genital adalah timbulnya suatu saluran /hubungan yang secara normal tidak ada antara saluran genital dan saluran kencing atau saluran pencernaan.

Mengapa remaja sampai mengambil tindakan aborsi?

Alasan-alasan yang membuat remaja mengambil tindakan aborsi adalah :

Ingin terus melanjutkan sekolah atau kuliah.

Takut pada kemarahan orangtua.

Belum siap secara mental dan ekonomi untuk menikah dan mempunyai anak.

Malu pada lingkungan sosial bila ketahuan hamil sebelum nikah.

Tidak mencintai pacar yang menghamili. Hubungan seks terjadi karena iseng saja.

Ingin terus bekerja. Bila tidak melakukan aborsi akan dipecat dari pekerjaan karena terikat kontrak untuk tidak hamil selama 2 tahun pertama bekerja.

perkosaan, terlebih bila pemerkosa tidak dikenal oleh si remaja putri.

Bagaimana menjelaskan mengenai alat kontrasepsi kepada remaja ?

Alat kontrasepsi (alkon) digunakan pada program keluarga berencana untuk menunda, mengatur jarak dan mencegah terjadinya kehamilan. Remaja sebenarnya tidak membutuhkan alkon, tetapi pada beberapa kasus di mana terjadi remaja telah seksual aktif, bahkan kadang-kadang pernah melakukan aborsi biasanya dilakukan konseling untuk mencari jalan keluarnya. Setelah melalui proses konseling, dapat diketahui perilaku remaja tersebut dan bila memang sulit untuk dihentikan aktivitas seksualnya dan tidak/belum mau menikah maka dapat dipertimbangkan konseling untuk penggunaan alkon. Konselor harus memiliki pengetahuan mengenai seluruh metode kontrasepsi beserta jenisnya, indikasi, kontraindikasi, cara kerja, efektivitas, efek samping, waktu penggunaan dan cara penggunaan yang benar.

Mengapa remaja tidak dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi ?

Ada beberapa hal mengapa remaja tidak dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi:

Peraturan Perundang-undangan di Indonesia tidak memperbolehkan penggunaan Alkon bagi remaja yang belum menikah;

Ada jenis Alkon tertentu, misalnya IUD tidak boleh digunakan pada rahim yang belum pernah hamil karena dapat merusak dinding rahim

Selain itu secara mental remaja yang menggunakan alkon akan merasa bahwa dia dapat berperilaku seksual aktif tanpa risiko kehamilan dalam arti dia akan permisif terhadap perilaku tersebut dan akan sangat mudah terjadi gonta-ganti pasangan, padahal semua alkon tetap punya angka kegagalan dan hubungan seksual tidak hanya berakibat kehamilan tetapi juga terkena PMS (Penyakit Menular Seksual).

Lebih baik bila jalan keluar yang dipilih adalah pengendalian dorongan seksual, menikah atau mengalihkan ke aktivitas lain yang lebih positif.

Mengapa baru mengalami menstruasi pada usia 15 tahun?

Perbedaan antara individu bisa terjadi, ada yang lebih dahulu matang dan ada yang terlambat. Umumnya memang terjadi antara 9 sampai 13 tahun, tetapi ada pula yang terlambat, tergantung faktor-faktor gizi/nutrisi, stimulus/rangsangan dan genetik.

Apakah keterlambatan awal perlu diwaspadai?

Ya. Keterlambatan awal menstruasi perlu diwaspadai karena bisa merupakan indikasi adanya kelainan, misalnya selaput dara (hymen) tidak memiliki lubang sebagaimana seharusnya, kelainan hormon atau kelainan sistem reproduksi secara keseluruhan. Oleh sebab itu harus konsultasi ke dokter.

Kapan perlu konsultasi ke dokter karena terlambat?

Jika ada keluhan nyeri, atau bila sudah berusia 17 tahun dan belum menstruasi.

Mengapa ada remaja yang menstruasinya banyak dan ada yang sedikit?

Tidak ada orang yang sama persis. Bahkan satu orang pun, dari waktu ke waktu juga bisa berbeda. Begitu juga dalam volume cairan

Dokumen terkait