Peninggalan bangunan bersejarah yang dapat ditemukan di Kota Medan adalah bangunan peninggalan pemerintah Hindia-Belanda yang berada di jalan Balai Kota nomor 2 Medan, tepatnya bersebelahan dengan kantor Bank Indonesia (BI) di sebelah kiri. Bangunan ini pada awalnya merupakan sebuah hotel yang di dalamnya terdapat bar dan restoran mewah di masa pemerintahan Belanda. Bangunan bersejarah ini berada di lingkungan Kecamatan Medan Barat, Kelurahan Kesawan lingkungan IX.
Dalam proses sejarahnya, Hotel De Boer yang letaknya di jalan Balai Kota ini dibangun tahun 1909. Nama hotel ini sesuai dengan nama pemiliknya yaitu Herman De Boer yang datang ke Medan tahun 1899. Hotel ini sekarang bernama Hotel Dharma Deli dan dibangun lagi bangunan baru 8 tingkat namun bangunan lama masih tetap dipertahankan (Surapati, 2014).
Gambar 3.17. Hotel De Boer in Medan Sumber: Atlas Mutual Heritage
BAB 4
KANTOR POS MEDAN DALAM LINTASAN SEJARAH Kantor pos merupakan tumpuan bagi masyarakat untuk memenuhi aktivitas berkomunikasi dan melakukan pengiriman barang. Kantor pos Medan pada masa lalu bahkan hingga kini masih merupakan salah satu infrastruktur kota yang penting. Menelusuri keberadaan gedung ini maka kita harus menyelami sejarah perkembangan kota Medan, yaitu bagaimana keberadaannya berkaitan erat dengan sejarah dan latar belakang perkembangan sosial budaya kota.
Medan Tempat Pertemuan Budaya
Dulu kota Medan merupakan salah satu kota yang terkemuka di Sumatera bahkan di Asia Tenggara. Dan merupakan kota di pesisir timur pulau Sumatera yang menghadap Selat Malaka. Selat ini merupakan jalur strategis pelayaran internasional antara Eropa, Timur Tengah dan Timur Jauh atau Asia Tenggara sejak masa lalu. Jauh sebelum kota Medan berdiri, dari berbagai catatan para pelancong Cina maupun India, menunjukkan bahwa banyak orang berbagai suku bangsa telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di Sumatera yang bagian dari mata rantai Jalur Sutera (The Silk Road) melalui jalur lautan.
Sejarah kota ini konon dirintis ketika Guru Patimpus Sembiring yang berasal dari Karo Toba membangun suatu permukiman atau kampung.
Patimpus merupakan anak Tuan Siraja Hita anak Raja Singa Maharaja dari negeri Bakerah. Patimpus memiliki kesenangan menuntut ilmu sehingga disebut Guru. Patimpus berguru agama Islam bersama 7 (tujuh) orang sesepuh lainnya kepada Datuk Kota Bangun di kampung Pulau Berayan.
Setelah menikah dengan anak keturunan Panglima Hali yang bermarga Tarigan, Guru Patimpus ini antara 1614-1630 mendirikan kota Medan. Dari anak Guru Patimpus yang bernama Hafidz Muda, kemudian menurunkan Sutan Sri Ahmad yang memerintah Kota Hamparan Perak. Para raja disebut Sultan yang memerintah beberapa negeri di sekitar Medan.
Merupakan keturunan Melayu dan masyarakat Batak. Kisah ini menunjukkan alkulturasi budaya lokal Batak, Melayu, dan budaya Islam membentuk kebudayaan Medan seperti yang dapat kita lihat sekarang ini.
Masyarakat dan Budaya Melayu
Sebenarnya banyak suku bangsa berdiam di kota Medan. Namun di antara berbagai budaya yang berkembang, budaya Melayu merupakan budaya dominan di antara berbagai budaya di Medan.
Kebudayaan budaya Melayu identik dengan tradisi Islam di Sumatera maupun Semenanjung Malaya. Kebudayaan ini dipengaruhi tradisi dan budaya suku bangsa yang membawanya seperti budaya Arab dan India. Maka dominasi budaya-budaya tersebut masuk dalam seni dan budaya masyarakat Melayu.
Sejarah menunjukkan penyebaran ajaran Islam baik melalui kekuatan politik pada masa kekuasaan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh, interaksi ekonomi dengan para pedagang Arab dan Gujarat yang beragama Islam. Jaringan perdagangan yang membawa para pelaut Islam telah sampai ke wilayah ini sekalipun masih terbatas pada wilayah pesisir dan sungai besar, belum mencapai daerah pedalaman. Agama Islam menjadi sumber keyakinan dan pedoman tradisi masyarakat Melayu dan agama resmi kerajaan-kerajaan Melayu dan pola pemerintahan mengikuti model pemerintahan Islam yang ada sebelumnya seperti di Aceh serta Pasai.
Gambar 4.1. Jalan Balai Kota Masa Lalu Sumber: Atlas Mutual Heritage
Tidak mengherankan banyak para pendatang yang mendatangi serta menetap di kota ini sehingga membentuk keragaman bangsa dan budaya.
Pengaruh kebudayaan Islam ini dapat dilihat dari berbagai unsur kesenian, bangunan, sastra, dan adat istiadat masyarakat setempat. Pada budaya arsitektur dapat dilihat adanya bangunan mesjid dan surau sebagai bagian tata bangunan dalam perkampungan atau negeri. Bahkan terdapat jejak arsitektur Melayu pada bangunan kantor pos Medan.
Asal Nama Medan
Nama Medan berasal dari bahasa Arab yaitu “ Maidan “ artinya tempat berkumpul atau lapangan. Kata Maidan ini diserap ke dalam bahasa Melayu kemudian menjadi kata Medan. Sejak jaman dahulu wilayah Medan ini merupakan tempat berkumpul untuk berdagang, bertaruh, dan berinteraksi berbagai orang dari Hamparan Perak dan Sukapiring. Wilayah ini dikelilingi kampung-kampung Melayu seperti Kesawan, Binuang, Tebingtinggi, dan Merbau. Kampung-kampung ini merupakan bagian yang terpisah-pisah namun disatukan oleh ikatan budaya Melayu. Keramaian tempat ini sebagai “pasar“atau tempat bertemu berbagai orang maupun pendatang telah membuat kota ini semakin makmur dan kaya.
Jejak sejarah kemakmuran kota ini dapat dilihat dari cerita Putri Hijau yang memiliki saudara kembar sebuah meriam dan seekor naga. Putri ini tinggal di sungai Deli. Konon putri cantik ini menolak lamaran raja Aceh sehingga kemudian diserang hingga melarikan diri sampai laut. Sang putri bertahan dengan meriam serta saudaranya yang berwujud naga. Cerita ini tidak hanya menunjukkan bahwa ada hubungan masyarakat Karo yang pindah ke Deli namun juga kemakmuran wilayah sekitar Medan yang menarik hati negeri lain untuk menguasainya.
Medan Kota Kolonial
Dalam bukunya bernama “Mission to the Eastcoast of Sumatera”
yang diterbitkan tahun 1826, seorang Inggris bernama John Anderson menceritakan kunjungannya ke Medan pada tahun 1823. Medan saat itu masih merupakan suatu kampung kecil dengan penduduk sekitar 200 orang.
Hingga pada tahun 1863, dari Jawa Tembakau diperkenalkan ke Medan.
Corr Passchier juga menceritakan bahwa pada tahun 1860-an, pelabuhan lama Labuan Deli telah mulai ramai dengan perdagangan mancanegara.
Sebuah kantor pos dibangun untuk melayani kebutuhan masyarakat.
Perkembangan Medan menjadi kota besar menerima banyak berbagai budaya lokal maupun asing seperti India, Cina, dan Belanda. Hal ini semakin pesat ketika Belanda menguasai Medan dan sekitarnya, yang mengakibatkan proses interaksi budaya dengan para pendatang semakin tinggi. Orang India, Arab maupun orang-orang asing dari daratan Cina didatangkan sebagai pekerja menempati Medan. Jejak-jejak alkulturasi budaya dalam konteks arsitektur ini dapat dilihat dari berbagai bangunan yang ada.
Pemerintah Belanda membangun kota ini baik secara fisik maupun sosial sebagai kota yang memiliki ciri-ciri kota kolonial. Budaya kolonial Belanda yang dominan tidak serta merta menghapuskan lokalitas tersebut bahkan sebaliknya beradaptasi dengan budaya setempat. Cara seperti ini merupakan kebiasaan orang Belanda untuk melakukan adopsi unsur-unsur lokal. Keragaman tersebut membentuk karakter kota Medan yang pluralistik dan unik.
Salah satu peninggalan kolonial di kawasan pusat kota Medan adalah gedung Kantor Pos Medan. Bangunan ini berada di depan lapangan Kesawan yang dulu bernama Esplanada. Sekilas bangunan ini nampak megah dan berbeda dengan bangunan kolonial lain yang ada di lingkungan tersebut. Gedung ini hingga sekarang masih dipakai sebagai wadah pelayanan pos.
Gambar 4.2. Foto Lama Kantor Pos dan Lingkungannya Masih Nampak Asri
Sumber: Koleksi Widodo, 2010
Bangunan kantor pos Medan dibangun pada masa kolonial ketika masa keemasan dan kejayaan kota ini berlangsung. Bangunan yang diperuntukkan pelayanan jasa pos bagi masyarakat menampakkan berbagai pengaruh budaya yang menjadi ciri khas kota Medan.
Landmark Kota
Pada saat ini keberadaan bangunan kantor pos Medan telah dianggap sebagai landmark atau tetenger (penanda) bagi kota Medan. Bangunan ini mewakili suatu unsur yang berasal dari perkembangan Medan sebagai kota kolonial yang memiliki perbedaan dengan bangunan-bangunan kolonial lain seperti Bank Indonesia atau Balai Kota. Kehilangan bangunan ini akan merusak sistem arsitektur pusat kota Medan secara keseluruhan baik secara fisik maupun visual. Bagi PT Pos Indonesia, keberadaan kantor ini merupakan “kebanggaan dan monumen“ perjalanan pelayanan jasa pos di Indonesia. Pelestarian gedung ini menunjukkan kepedulian PT Pos pada konservasi gedung bersejarah. Masyarakat kota Medan sangat berharap PT Pos Indonesia selaku pemilik bangunan ini tetap mempertahankan kehadiran bangunan ini sebagai “life monument “. Secara keseluruhan bangunan kantor pos ini tidak mengalami perubahan yang berarti sejak dibangun tahun 1909. Namun, ada beberapa unsur bangunan yang karena ketidakpahaman terhadap konsepsi perlindungan terhadap cagar budaya diganti dengan material baru.
Sejarah Pelayanan Pos
Menurut Luckmann dan Passchier, pelayanan pos di Medan sudah ada sejak tahun 1879 atau 1883. Sebelumnya pada tahun 1860-an, sebuah kantor pelayanan pos juga telah didirikan di pelabuhan lama Labuan Deli yang menunjukkan bahwa tempat ini penting bagi perdagangan masa itu.
Pada saat kantor pos dibangun, kota Medan sedang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini tidak mengherankan karena Medan merupakan kota besar di Sumatera sehingga tidak mustahil berbagai aktivitas industri, perkebunan, dan perdagangan sudah berkembang pesat dan membutuhkan layanan jasa pos. Sultan Deli pada tahun 1632 telah membangun istana yang megah dari hasil perkebunan tembakau Deli yang termashur saat itu.
Insinyur Snufy Sang Perancang
Gedung kantor pos Medan dirancang oleh insinyur Snufy pada tahun 1909 dan diselesaikan pembangunannya tahun 1911. Keterangan tahun
selesai pembangunan tersebut tertera pada dinding bangunan. Snufy merupakan seorang insinyur pada Dinas BOW yang bertanggung jawab penuh pada bangunan-bangunan pemerintah saat itu. Bangunan kantor pos merupakan salah satu bangunan milik pemerintah saat itu.
Kekhasan bangunan-bangunan kolonial awal abad 20 adalah mulai diperhatikannya unsur-unsur lokal di samping mulai dikenal adanya teknologi bangunan yang lebih baik. Penyebabnya adalah mulai berkembangnya paham politik etis atau politik balas budi. Asal mula politik balas budi ini ketika golongan liberal di negeri Belanda melihat bahwa cara-cara memerintah negeri jajahan seperti Hindia Belanda harus dirubah.
Rakyat negeri jajahan harus dikembangkan karena akan menguntungkan bagi masa depan negeri Belanda. Bila tidak, maka akan timbul pemberontakan atau gerakan yang merugikan kepentingan pemerintah kolonial. Paham ini mempengaruhi cara berpikir para birokrat bahkan para arsitek yang dipercaya merancang berbagai bangunan pemerintah. Tercatat antara lain Thomas Kartsen yang memiliki kekhasan merancang dengan mengambil berbagai unsur lokal. Mc Line Point mengambil berbagai unsur rupa bangunan tradisional untuk merancang gereja Poh Sarang.
Namun, bangunan kantor pos Medan agak berbeda dengan bangunan-bangunan kantor pos lain di Indonesia yang sebenarnya tidak banyak mengambil unsur tradisional. Sekalipun demikian banyak di antaranya tampil dengan ciri khas yang berbeda satu dengan yang lain.
Benang merah antara gedung kantor pos dengan lainnya nyaris tidak ada.
Misal kantor pos Yogyakarta, Semarang atau Bandung tidak ada unsur rupa atau bentuk yang menyerupai.
Gambar 4. 4. Bangunan Kantor pos yang Tampak Monumental
Gambar 4.5. Tahun Akhir Pembangunan 1911
Kantor Pos Lain
Berdasarkan informasi, ada 2 (dua) bangunan kantor pos lainnya yaitu Kantor Pos Polonia dan Kantor Pos Pringgan yang merupakan bangunan bersejarah. Namun demikian, hanya gedung kantor pos Polonia yang masih dipertahankan secara baik. Sedangkan kantor pos Pringgan telah berganti menjadi bangunan baru.
Gambar 4. 6. Gedung Kantor Pos Polonia Dari arsitekturnya menunjukkan usia yang lebih muda.
BAB 5
BANGUNAN LAIN DI SEKITAR KANTOR POS
Ada asumsi yang sering kita dengar bahwa kantor pos pada masa lalu berada di pusat kota. Di dalamnya, terdapat kantor pos, kabupaten, masjid, penjara, dan alun-alun. Sepertinya asumsi tersebut juga berlaku di Medan.
Kantor Pos Medan berada di Balai Kota sebagai pusat pemerintahan.
Sementara penjara dan masjid tidak ada di lapangan Merdeka karena Medan bukan prototipe kota-kota tradisional-kolonial seperti Yogyakarta atau kota kolonial yang meniru struktur kota tradisional seperti Bandung.
Titik Nol
Kantor Pos berada pada titik nol yang ditandai bangunan air mancur depan gedung ini. Pada beberapa kota, lokasi kantor pos banyak yang menjadi titik nol kota. Hal ini dimengerti karena fasilitas kantor pos dan telegraf merupakan elemen kota yang sangat strategis. Pusat kota Medan dibentuk berbagai elemen antara lain Gedung Balai Kota, Gedung Javasche Bank (Bank Indonesia), lapangan, dan jalan utama selain gedung kantor pos. Bangunan lain antara lain adalah Stasiun Kota. Penyebutan titik nol secara politis dilakukan oleh Kota Praja Medan atau Gemeente Medan pada tahun 1918 melalui keputusan sidang dewan kota. Sebagai patokan adalah Balai Kota karena merupakan bangunan awal yang dibangun di lokasi tersebut.
Gambar 5. 1 Kantor Pos Medan dari Arah Hotel De Bour
Dengan demikian, lapangan Kesawan dan Esplanade sebenarnya memiliki hirarki berbeda. Nilai ruang Esplanade lebih tinggi karena di sini ditempatkan bangunan-bangunan penting. Esplanade bisa dikelompokkan sebagai lapangan Medan Merdeka di Jakarta atau yang lebih akrab disebut lapangan Monas. Sedangkan Kesawan bersifat lebih umum sehingga bisa dipakai untuk fungsi-fungsi pribadi masyarakat seperti rumah Tjong Afie seorang jutawan legendaris di Medan.
Hotel De Boer
Bangunan lama yang berada di sekitar (barat) kantor pos adalah Hotel De Boer yang dimiliki oleh Herman De Boer, yang merupakan salah satu pemilik restoran Grim di Surabaya. Hotel ini berada di jalan Balai Kota.
Gambar 5. 2 Hotel De Boer Tempo Dulu.
Sumber:
http://www.e-pics.ethz.ch/index/ETHBIB.Bildarchiv/
ETHBIB.Bildarchiv_Dia_249-006_29574.html
Boer datang ke Medan tahun 1899. Hotel ini dibangun tahun 1909 dan memiliki 40 buah kamar. Bangunannya sedikit banyak menampakkan beberapa unsur setempat seperti lengkung-lengkung yang menjadi kekhasan arsitektur hibrida Medan. Pasca kemerdekaan, hotel dinasionalisasi menjadi milik pemerintah Indonesia serta diganti namanya menjadi Hotel Dharma Deli. Bangunan lama hotel ini tidak dipakai lagi karena dianggap sudah tidak aman lagi sebagai ruang hunian. Sebagai gantinya pemerintah membangun sebuah gedung baru berlantai 8 di sampingnya.
Dari jendela kamar hotel yang menghadap lapangan Merdeka, kita dapat menikmati keindahan bangunan kantor pos dengan jelas. Beberapa foto kantor pos dalam buku ini diambil dari jendela gedung ini.
Gambar 5.3. Bangunan Hotel Dharma Deli Pengganti Hotel Boer sayang fisik bangunan sama sekali tidak
menampakkan ciri khas budaya Sumatra Timur.
Gedung Balai Kota
Gedung Balai Kota berada di lapangan Esplanada. Gedung ini dirancang oleh arsitek dari Biro Hulswit tahun 1900 yang kemudian dimodernisasi tahun 1923. Sekarang bangunan ini menjadi Kantor Walikota Medan. Bangunan ini juga merupakan foreground dari bangunan baru yang berada di belakangnya. Berbagai penambahan elemen bangunan baru membuat sistem visual bangunan ini menjadi rusak karena menghalangi penampilan fasad serta membuatnya seperti tempelan belaka.
Gambar 5.4. Air Mancur Depan Kantor Pos Sumber:
http://bungryan.com/jalan-jalan/pic-medan-tempo-doeloe-bag-2/
Gedung Bank Indonesia
Gedung Bank Indonesia ini dahulu bernama “ Javasche Bank “ dan dirancang oleh arsitek dari Biro Hulswit-Fermont & Ed. Cuypers Amsterdam tahun 1910. Bangunan ini mencirikan gaya kolonial sepenuhnya. Kehadiran bangunan ini menunjukkan bahwa kota Medan merupakan salah satu kota besar yang telah menunjukkan peran penting pada masa itu. Beberapa gedung bank lain juga hadir di lingkungan Taman Merdeka ini antara lain Bank Mandiri. Sosok bangunan ini relatif masih terjaga dengan baik karena tidak ada bangunan lain yang menghalanginya.
Namun demikian, bangunan inipun sebatas hanya menjadi “unsur estetika visual saja“ bukan bagian dari estetika pengalaman karena fungsinya sebagai bangunan privat.
Gambar 5.5. Gedung Baru di Belakang Eks Balaikota Lama
Taman Esplanada
Dulu taman ini adalah kebun tembakau serta rawa-rawa, dan namanya sekarang adalah taman Merdeka. Orang-orang Belanda pernah menjulukinya sebagai “Taman Burung” karena banyak burung hinggap di pepohonan yang banyak di lapangan ini. Sedangkan, orang-orang Jepang menjulukinya “Fuku Raidu”. Dulu ada Museum Medan berada di depan pos polisi yang terbakar tahun 1944. Pada 6 Oktober 1945 di lapangan ini Gubernur Sumatera Timur, Mr Muhammad Hasan mengumumkan kemerdekaan RI kepada seluruh masyarakat kota Medan (Mahyuni, 2009).
Gambar 5.6. Gedung Balaikota dan Bank Indonesia Sekarang Gambar diambil dari arah depan kantor pos.
Gambar 5.7. Suasana Sekarang Sekitar Lapangan Merdeka
Sebagai suatu taman, keberadaan Esplanada sesungguhnya mirip sebuah lapangan kota yang kecil karena menghadap gedung Balai Kota dan beberapa perkantoran pemerintah. Meskipun kemungkinan lapangan ini bukan satu-satunya lapangan yang besar di Medan, keberadaan Esplanada dapat dibandingkan seperti Lapangan Banteng. Pada masa lalu, lapangan ini adalah tempat rekreasi keluarga. Menurut sejarahwan Drs H Muhammad Tok Wan Haria (Muhammad TWH) di bawah Lapangan Merdeka Medan, dulu terdapat parit besar untuk pembuangan air yang mengalir ke sungai Deli.
Keberadaan gedung kantor pos di depan lapangan seperti ini merupakan prototipe kantor-kantor pos lain di beberapa kota antara lain Bandung, Magelang, dan kota-kota kecil lainnya. Namun keberadaan kantor pos yang berhadap-hadapan dengan gedung balaikota hanya ditemukan di Medan. Sayang keberadaan taman Merdeka menjadi rusak baik secara citra, visual maupun fisik ini dipengaruhi oleh bangunan-bangunan modern seperti café dan sebagainya. Ada beberapa bagian taman ini yang dibangun beberapa bangunan semi permanen. Akibatnya keindahan taman ini tidak lagi nampak.
Gambar 5.8. Bangunan Baru di Lapangan Merdeka Bangunan baru yang berfungsi sebagai café ini merusak struktur visual kawasan sekitar lapangan
Merdeka
Lapangan ini yang seharusnya terbuka kini dipenuhi bangunan-bangunan semi permanen yang berfungsi sebagai restoran dan café.
Kehadirannya sekarang ini yang dipenuhi bangunan-bangunan baru tersebut sangat mengganggu sistem visual sebagai sebuah ruang terbuka kota. Di tempat inilah diselenggarakan pasar malam pertama pada tahun 1908.
BAB 6
UNSUR-UNSUR RUPA BANGUNAN
Arsitektur bangunan kantor pos dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu kepala, badan, dan kaki. Gaya arsitektur yang digunakan dipastikan bukan bangunan jenis manapun juga baik Gothic (klasik) atau bangunan tradisional.
Arsitektur Indis
Bentuk mengambil pola arsitektur Indis yaitu gaya arsitektur yang merupakan gabungan antara arsitektur Belanda dengan unsur lokal. Sosok bangunan ini jelas berbeda dari bangunan-bangunan lama seperti Balai Kota ataupun Bank Indonesia. Kedua bangunan ini seperti benar-benar bangunan Eropa yang berada di bumi Nusantara. Sedangkan, bangunan kantor pos mengambil berbagai unsur elemen lokal seperti penonjolan panggung di samping kanan. Keberadaan unsur panggung ini tidak menjadi unsur utama dengan diletakkan di depan namun berada di samping. Jenis bangunan dengan panggung seperti ini dapat kita lihat di kantor pos Yogyakarta. Ada keinginan dari sang perancang memasukkan unsur-unsur lokal, yaitu ciri khas bangunan Melayu.
Tujuan menerapkan unsur-unsur lokal ini bukan karena adanya ikatan emosional, namun dipengaruhi paham yang tengah berkembang kuat yaitu Indis. Paham Indis ini memiliki ciri khas masih memiliki dasar bangunan Eropa bahkan ruhnya sekalipun masih menempatkan landasan berpikir bumi seberang. Namun, ada beberapa penyelesaian arsitektural yang mengadopsi unsur-unsur lokal. Beberapa arsitek ternama sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya memang sengaja mengadopsi unsur-unsur lokal tanpa menjelaskan bentuk asalnya atau memang berusaha mengadopsi dengan memperlihatkan asalnya.
Bangunan kantor pos ini jdipengaruhi gaya Belanda dilihat dari unsur atap dan dindingnya. Adanya unsur atap yang menjulang tinggi seperti menara hanya untuk menonjolkan kesan monumentalnya. Fungsinya tidak jelas namun sebagai unsur bangunan membuat bangunan kantor pos nampak megah dari bangunan sekitarnya. Menara ini hanya untuk membentuk rongga di dalam yang besar dan tinggi. Diameter rongga kurang lebih mencapai 20 meter. Adanya rongga ini membuat kita yang berada di dalamnya merasa pada ruang yang megah.
Gambar 6.1. Bangunan Bergaya Indis Kesan Kolonial Sangat Kuat Ditampakkan Bangunan
Kantor Pos.
Gambar 6.2. Entrance Utama Entrance utama ini diperkuat dengan Gable yang membangun kesan mengundang serta
memperlunak menara di atasnya.
Gambar 6.3. Atap Sebagai Unsur Arsitektural Bangunan Atap Merupakan Unsur Arsitektur yang Membentuk
Wujud Bangunan.
Gambar 6.4. Kubah yang Terbentuk Dalam Interior Gedung
Gambar 6.5. Berbagai Sudut Pandangan yang Menarik
Gambar 6.6. Berbagai Bentuk Bukaan
Gambar 6.7. Berbagai Bentuk Bukaan Utama
BAB 7
ARSITEKTUR HIBRIDA
Tidak ada yang menyangkal bahwa bangunan kantor pos merupakan salah satu arsitektur kolonial yang tidak sepenuhnya mengacu pada bangunan Belanda ataupun bangunan setempat, namun lebih tepat dikatakan sebagai suatu arsitektur hibrida. Hibrida atau pencampuran secara fungsional maupun simbolik adalah ekspresi perancangan arsitektur yang tanggap terhadap kondisi lingkungan namun juga upaya mempertahankan berbagai unsur sosial budaya yang masih dominan. Pada awal abad 20, konsep ini menjadi spirit para perancang untuk tidak menerapkan konsep-konsep kolonial secara membabi buta di Hindia Belanda. Selain itu, ada faktor lain yaitu politik etis yang membawa suasana baru bagi orang-orang Belanda terutama dari kalangan intelektual dalam memandang hubungan dengan bumi putera. Konsep arsitektur hibrida ini lahir dari kebutuhan yang harus diakomodasi guna memenuhi faktor-faktor lingkungan maupun keinginan perancangnya.
Arsitektur Panggung
Arsitektur kantor pos ini pada bagian kanan menunjukkan suatu bentuk yang menyerupai rumah panggung. Jenis panggung ini juga digunakan pada arsitektur Istana Maimoon. Arsitektur panggung ini dipengaruhi oleh arsitektur Melayu. Arsitektur Melayu merupakan adaptasi bentuk pada lingkungan tropis serta lingkungan yang berawa. Dari kondisi lingkungan tersebut terbentuk jenis arsitektur panggung. Pada kasus gedung Kantor Pos Medan ini memang tidak ada bagian kolom bawah bangunan, namun adanya bagian bangunan lantai dua dengan selasar yang menunjukkan kesan sebagai rumah panggung. Konsep ini tidak ditemukan pada bangunan yang benar-benar murni kolonial, seperti Javasche Bank atau gedung Balai Kota.