C.3
C.3
C.3
Sepli Yandri, lahir di Benai, Kuantan Singingi, 9 September 1994. Adalah lulusan Arsitektur Universitas Riau yang saat ini sedang melanjutkan studi pascasarjana Arsitektur di Universitas Diponegoro, Semarang
TENTANG PENULIS
R. Siti Rukayah, lahir di Garut 28 Juni 1968.
Kini berprofesi sebagai akademis maupun professional. Mengajar di Departement Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro dan juga aktif sebagai arsitek in charge di berbagai projek
Sudarmawan Juwono, lahir di Wonosobo 22 November 1966 adalah pegawai PT Pos Indonesia di bagian Proyek Pengembangan Gedung Pos Ibukota di Jakarta.
E-mail : [email protected]
C.3
BANGUNAN HERITAGE KANTOR POS
MEDAN
Oleh :
Sudarmawan Juwono R.Siti Rukayah Sepli Yandri (editor)
Biro Penerbit Planologi UNDIP
C.3
BANGUNAN HERITAGE KANTOR POS MEDAN
Penulis
Sudarmawan Juwono R. Siti Rukayah
EditorSepli Yandri
PenerbitBadan Penerbit Planologi UNDIP bekerjasama dengan PT POS INDONESIA (PERSERO) dan Universitas Bung Karno Jakarta
Cetakan kedua Tahun 2018
ISBN
978-602-60454-4-7
Hak Cipta Dilindungi Undang Undang Dilarang
memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk apapun
dan dengan cara apapun, termasuk fotocopy, tanpa
ijin tertulis dari penerbit.
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan limpahan rahmatnya maka buku Kantor Pos Medan, dari Esplanade hingga lapangan Merdeka ini dapat kami selesaikan. Hampir bahasan mengenai arsitektur kota Medan tidak luput dari gedung ini dari sekian bangunan-bangunan bersejarah menarik lainnya.
Tidak salah juga bila gedung kantor pos telah menjadi penanda kota di berbagai daerah.
Gedung kantor pos Medan merupakan salah satu bangunan kolonial cagar budaya dengan nilai-nilai arsitektur sangat menarik. Eksplorasi gedung ini masih sangat terbatas pada beberapa deskripsi fisik yang kurang mendalam serta tidak memperhatikan nilai-nilai arsitekturnya. Berdasar hasil pengamatan awal maka dapat dikemukakan bahwa kekuatan bangunan ini terletak pada konsep monumental dan penggabungan berbagai elemen arsitektur kolonial dan lokal. Berbagai kriteria perlu diangkat agar penggunaan maupun berbagai pengembangannya tidak merusak karakter arsitektural gedung. Tulisan ini mendeskripsikan gedung Kantor Pos Medan secara umum dari aspek arsitektural dan umum yang dapat digunakan dalam rangka mempertahankan keberadaannya sebagai bangunan penanda maupun wadah pelayanan jasa pos di Indonesia.
Penulis merasa bertanggung jawab untuk melakukan dokumentasi dan eskplorasi yang dapat mengantarkan pada revitalisasi gedung ini. Dari tulisan ini diharapkan dapat mengetuk hati semua pihak yang memiliki peran dan kompetensi untuk melestarikan gedung ini. Bangunan bersejarah memiliki banyak keterbatasan fisik yang tidak boleh dilanggar karena akan mengakibatkan kerusakan serta kehilangan identitas arsitekturnya.
Penjagaan serta perhatian dalam memelihara ciri khas ini sangat penting untuk menjaga aspek historisnya. Namun tidak ada niat sedikitpun bagi penulis untuk hanya menjadikan gedung ini sebatas monumen mati yang dilestarikan fisiknya belaka. Pelestarian yang diharapkan adalah proses pemeliharaan dan perawatan secara berkelanjutan sehingga fungsinya dapat dikembangkan sesuai kebutuhan.
Pembahasan materi ini diharapkan membuka cakrawala untuk melestarikan bangunan secara berkelanjutan sehingga memiliki manfaat antar generasi maupun masyarakat luas.
Namun demikian seperti kata pepatah ” Tiada gading yang tak retak
” tulisan ini masih jauh dari sempurna. Kami mengharapkan adanya kritik dan saran dari seluruh pembaca agar tulisan ini dapat diperbaiki lebih lanjut baik secara redaksional maupun substansinya.
Jakarta, Desember 2018
Penulis
SAMBUTAN DARI AHLI PERKOTAAN Prof. Dr. Ir. Sugiono Soetomo, DEA
Kantor pos memiliki peranan sejarah bagi pelayanan pos di Indonesia. Dalam bidang arsitektur, gedung kantor pos menjadi penanda titik nol kota. Dalam bidang ekonomi, kantor pos menjadi penanda nilai strategis jasa pada waktu itu.
Bertepatan dengan kejayaan kota Medan karena hasil perkebunan tembakau yang melimpah, gedung kantor pos ini menandakan bahwa kota ini memiliki hubungan dengan kota-kota besar lainnya di dunia. Maka nilai simbolik gedung kantor pos sangat penting untuk menjadi rangkaian sejarah masa lalu dan perkembangan kota untuk dilestarikan dan dikembangkan. Bangunan kantor pos ini memiliki nilai estetika arsitektur campuran Hindia dan lokal sehinga tidak bisa dikatakan memiliki gaya Eropa sepenuhnya.
Bangunan tersebut bergaya Eropa ( klasik ) dari Eropa lama, tetapi
hebatnya ruang bentuk bangunan mempunyai kemampuan dalam
menghadapi iklim tropis, maka bangunan tersebut dapat dikatakan
sebagai ”Tropical Occidental” artinya bersifat barat dan bersifat
tropis. Bangunan tersebut secara detail memiliki banyak elemen –
elemen yang melindungi dari panas dan air hujan dengan
penggunaan kantilevel. Ruang – ruang bangunan memiliki plafon
tinggi dan ventilasi yang berfungsi secara optimal sehingga tanpa
pendingin ruangpun sudah nyaman.
Kantor pos pertama didirikan pada tanggal 24 Agustus 1746 oleh Gubernur Jenderal GW. Van Inholf bersama dengan ditemukannya telegraph dan telepon, di Jakarta. Di kota Medan, menurut Luckmann dan Passchier pelayanan pos sudah ada tahun 1879 atau 1883. Medan sebagai kota besar dengan berbagai aktivitas industri, perkebunan dan perdagangan yang berkembang pesat sehingga sangat membutuhkan layanan jasa pos. Akhirnya dibangunlah gedung kantor pos Medan yang dirancang oleh insinyur Snufy pada tahun 1909 - 1911.
Kekhasan arsitektur dan usia bangunan yang lebih dari 100 tahun menjadikan bangunan kantor pos sebagai bagunan yang memerlukan upaya pelestarian. Bagi PT Pos Indonesia bahwa tujuan pelestarian bukan semata-mata hanya mempertahankan keberadaan bangunan kantor pos tetapi juga mempertahankan warisan historis kota dan motivasi simbolis yang merupakan manifestasi fisik dari identitas suatu kelompok masyarakat tertentu yang pernah menjadi bagian dari sejarah pertumbuhan kota.
Semarang, 14 Februari 2017
Prof. Dr. Ir. Sugiono Soetomo, DEA
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii
SAMBUTAN ... v
DAFTAR ISI ... vii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
BAB 2 INI (KANTOR POS) MEDAN, BUNG ! 3
BAB 3 KECANTIKAN MEDAN DAN KANTOR POS MEDAN DALAM KOLEKSI FOTO BELANDA ... 9
BAB 4 KANTOR POS MEDAN DALAM LINTASAN SEJARAH ... 22
BAB 5 BANGUNAN LAIN DI SEKITAR KANTOR POS ... 30
BAB 6 UNSUR-UNSUR RUPA BANGUNAN 38 BAB 7 ARSITEKTUR HIBRIDA ... 45
BAB 8 FUNGSI BANGUNAN PADA MASA KINI ... 61
BAB 9 PELESTARIAN BANGUNAN SECARA BERKELANJUTAN ... 67
KESIMPULAN DAN SARAN ... 75
DAFTAR PUSTAKA ... 77
TENTANG PENULIS ... 78
BAB 1 PENDAHULUAN
Kantor Pos hingga sekarang ini merupakan potensi sosial ekonomi kota yang perlu dikembangkan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kota melalui aktivitas pengiriman dokumen, uang, dan barang. Dikaitkan dengan program pengembangan pariwisata, keberadaan kantor pos memiliki peluang untuk memberikan kontribusi yang sangat berarti.
Produk-produk untuk pengiriman yang cepat dan aman dapat memberikan kemudahan bagi para wisatawan untuk tidak perlu bersusahpayah membawa barang sendiri.
Di tengah-tengah persaingan jasa pengiriman maupun perbankan, terbukti masyarakat masih membutuhkan pelayanan pos untuk berbagai keperluan. Kebutuhan ini semakin meningkat bilamana kantor pos dapat melayani berbagai permintaan pengiriman barang-barang souvenir yang memiliki nilai ekonomi tinggi hasil produksi industri. Terlebih di era digital marketing, di mana jarak antara pembeli dan penjual tidak lagi terbatasi, pelayanan kantor pos menjadi sarana yang sangat diandalkan.
Kantor Pos dapat berperan sebagai mediator yang tidak hanya sekedar melayani pengiriman yang handal melainkan sebagai “pemberi jasa memilih produk yang berkualitas“. Betapa tidak, pengguna digital marketing sangat mengandalkan “kesungguhan penjual memberikan produk yang berkualitas”. Di sini peran kantor pos dapat menjadi surveyor sekaligus penjamin produk yang berkualitas.
Menurut PT. Pos Indonesia, keberadaan Kantor Pos Indonesia pertama didirikan di Batavia (sekarang Jakarta) oleh Gubernur Jenderal G.W Baron van Imhoff pada tanggal 26 Agustus 1746. Tujuannya untuk lebih menjamin keamanan surat-surat penduduk, terutama bagi mereka yang berdagang dari kantor-kantor di luar Jawa dan bagi mereka yang datang dan pergi ke Negeri Belanda. Empat tahun kemudian didirikan kantor pos Semarang untuk mengadakan perhubungan pos yang teratur antara kedua kota tersebut. Kedua jalur tersebut menghubungkan kota Karawang, Cirebon, dan Pekalongan.
Pada era Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda tahun 1808-1811, dibangunlah jalur de groote postweg yang menghubungkan Anyer-Panarukan. Jalur sepanjang 1.000 kilometer di pesisir utara Jawa (Pratiwo, 2002).
Jalan Raya Pos awalnya dibangun untuk pertahanan militer Belanda pada masa itu dan memperlancar komunikasi antar daerah yang dikuasai
dari Surabaya ke Batavia yang sebelumnya ditempuh 40 hari bisa dipersingkat menjadi tujuh hari. Kini kota-kota yang dilaluinya memang akhirnya berkembang secara ekonomi (Pratiwo, 2002) (Rukayah et al, 2015). Sisi gelap yang jarang diungkap secara arsitektur dan tata kota yang memang ada misalnya hilangnya identitas alun-alun sebagai pusat kota tradisional seperti di Semarang dan Demak. (Rukayah dan Malik, 2012)
Sejak jalur tersebut dibangun, praktis pembangunan kantor pos menjadi penanda kota-kota yang dilaluinya. Kini setelah hampir 2 abad lebih, keberadaan kantor pos yang kala itu menjadi sebuah tanda kota, kini menjadi sebuah bangunan yang layak untuk dilindungi. Karakter arsitektur yang khas mewakili jamannya dan menjadi bangunan yang langka merupakan bangunan cagar budaya yang layak untuk dilindungi (Centre, 2002).
Tujuan penulisan buku ini adalah sebagai upaya perlindungan terhadap benda yang sudah dikategorikan sebagai cagar budaya. Tujuan jangka panjang adalah melakukan pendataan dan inventarisir seluruh bangunan kantor pos di sepanjang jalur postweg di pulau Jawa bahkan yang ada di luar pulau Jawa. Manfaat dari penulisan buku ini adalah sebagai alat inventarisir PT. Pos Indonesia guna menjadikannya sebagai bangunan cagar budaya yang memiliki nilai untuk dikembangkan sesuai dengan fungsi baru dalam menghadapi perkembangan jaman.
BAB 2
INI (KANTOR POS) MEDAN, BUNG !
Gedung Kantor Pos Medan merupakan salah satu ikon bangunan bersejarah yang dibanggakan kota Medan. Tidak lengkap bila menceritakan arsitektur lama kota Medan tanpa menyebut kehadiran gedung yang hingga ini masih berfungsi melayani masyarakat. Seratus abad lamanya gedung ini berdiri sejak dimulai pembangunan tahun 1909 dan diresmikan penggunaannya tahun 1911. Pada tahun 2011 mencapai usia 100 tahun, kantor pos Medan masih digunakan sebagaimana awal pendiriannya. Tidak banyak gedung berusia setua ini masih dimanfaatkan dengan baik tanpa banyak perubahan fisik yang berarti. Seakan-akan bangunan ini dengan setia mengawal perjalanan sejarah kota yang pernah disebut Paris van Sumatera.
Lokasi di Pusat Kota Medan
Seperti pada umumnya, pada masa lalu keberadaan kantor-kantor pos sengaja dibangun di lokasi strategis pusat-pusat kota berdampingan dengan gedung-gedung pemerintah, tidak terkecuali kantor pos Medan. Bila kita ingin mengunjungi bangunan kantor pos ini, kita dapat mengunjunginya dengan sangat mudah karena sangat familiar bagi warga kota Medan.
Kantor pos Medan berada pada jalan Balai Kota kota Medan yang merupakan salah satu jalan utama di kota ini. Jalan ini disebut jalan Balai Kota karena di ruas jalan ini terdapat bangunan Balai Kota lama yang pernah dipergunakan masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Hingga kini, jalan Balai Kota merupakan jalan yang strategis dan menjadi jalan yang memiliki keramaian tinggi. Dengan demikian letaknya sangat mudah dijangkau dari arah manapun juga dari segala penjuru kota. Angkutan- angkutan umum melewati gedung ini termasuk yang mengarah ke stasiun kota.
4
Bangunan kantor pos menempati bagian akhir ruas jalan ini menghadap sebuah ruang terbuka atau lapangan yang disebut lapangan Merdeka. Dulu namanya Esplanade, sebuah ruang terbuka yang berada di depan bangunan utama kota yaitu gedung Balaikota. Keberadaan lapangan ini menandai koordinat nol kota Medan, sehingga dapat dibayangkan pada masa itu, gedung kantor pos merupakan tempat yang sangat strategis. Kita dapat membandingkan dengan gedung-gedung kantor pos lain di tanah air.
Gedung ini terletak tidak jauh dengan stasiun kereta api. Pola yang kurang lebih sama bisa kita dapatkan pada kantor pos Semarang, Surabaya, atau Madiun.
Gambar 2.1. Lokasi Kedudukan Kantor Pos Medan Sumber: Mora Adoe. 2015
Simbol Kota Medan
Menurut UU no. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, yang dimaksud dengan benda cagar budaya adalah : (dalam Bab 1 pasal 1) yaitu : (1) Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak, yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagian atau sisa sisanya, yang berumur minimal 50 tahun atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun , serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan;
(2) Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
Suatu bangunan bersejarah dianggap memiliki nilai arsitektural bilamana memiliki kriteria tertentu. Kantor pos Medan memiliki nilai-nilai yang sesuai dengan kriteria untuk dilestarikan (Catanese, 1979) yaitu : (a) Estetika
Bangunan kantor pos ini memiliki nilai estetika arsitektur yang tinggi.
Hal ini dapat dilihat dari gaya ”yang tidak bisa dikatakan Eropa sepenuhnya”, bentuk yang tinggi besar (berbeda dengan kantor pos lain yang cenderung horizontal), struktur untuk mendukung atap yang besar, dan tata ruang yang monumental terutama bagian vestibule.
Gambar 2.2. Peta Lama Kota Medan (1) Kantor Pos; (2) Stasiun Kereta Api;
(3) Lapangan Merdeka 1
2 3
(b) Kejamakan
Bangunan ini merepresentasikan bangunan kolonial awal abad 20, atau merupakan arsitektur yang memiliki gaya berbeda dengan bangunan-bangunan bersejarah lainnya di Medan.
(c) Kelangkaan
Kelangkaan suatu jenis karya yang mewakili sisa dari peninggalan terakhir yang tidak dimiliki kawasan atau daerah lain.
(d) Keluarbiasaan
Obyek konservasi memiliki bentuk yang menonjol atau memberi ciri dan karakter pada suatu kawasan.
(e) Memperkuat kawasan
Kehadiran bangunan ini memperkuat kesejarahan kawasan lapangan Merdeka. Suatu obyek atau kehadiran suatu karya akan mempengaruhi kawasan sekitar dan bermakna untuk meningkat citra dan kualitas lingkungan.
(f) Peranan sejarah
Bagi sejarah pelayanan pos di Indonesia, gedung ini sebagai penanda nilai strategis jasa pada masa lalu. Hal ini bertepatan dengan kejayaan kota Medan karena hasil perkebunan tembakau yang melimpah.
Dengan demikian, keberadaan gedung ini menandakan bahwa kota ini memiliki hubungan dengan kota-kota besar lainnya di dunia. Maka, nilai simbolik gedung kantor pos sangat penting untuk menjadi rangkaian sejarah masa lalu dan perkembangan kota untuk dilestarikan dan dikembangkan.
Memerlukan Lebih Dari Sekedar Perhatian
Berbagai pihak menaruh perhatian mengenai pelestarian gedung ini karena gedung ini menyangkut berbagai kepentingan baik secara fungsional maupun non-fungsional. Hal ini mengingatkan pada PT. Pos Indonesia bahwa tujuan konservasi bukan semata-mata hanya mempertahankan keberadaan bangunan kantor pos ”an sich ”, melainkan tujuan yang lebih luas antara:
(a) Mempertahankan warisan historis kota.
(b) Motivasi menjamin terwujudnya variasi bangunan perkotaan sebagai tuntutan estetis dan keragaman budaya masyarakat setempat.
(c) Motivasi ekonomi yang mengasumsikan bahwa bangunan bersejarah yang dilestarikan akan meningkatkan nilainya sehingga memiliki nilai komersial yang digunakan sebagai modal lingkungan kota.
Gambar 2.3. Situasi Lapangan Esplanade Masa Lalu Sumber: Koleksi Widodo, 2010
(d) Motivasi simbolis yang merupakan manifestasi fisik dari identitas suatu kelompok masyarakat tertentu yang pernah menjadi bagian dari sejarah pertumbuhan kota.
Adapun kriteria untuk melestarikan bangunan kantor pos Medan bukan sekedar mempertahankan fisiknya namun atas dasar pertimbangan pada hal-hal sebagai berikut :
(a) Nilai (value) dari obyek menyangkut antara lain nilai estetik didasarkan pada kualitas bentuk arsitekturnya. Suatu obyek dapat dengan nilai keunikan dan karya yang terpandang yang memiliki gaya dari suatu periode tertentu bisa digunakan contoh suatu obyek konservasi.
(b) Fungsi obyek pada kawasan kota Medan secara keseluruhan.
Bangunan ini merupakan bagian dari suatu kawasan bersejarah kota dan menjadi landmark kota yang memperkuat karakter kota.
(c) Bangunan hingga sekarang masih mempertahankan fungsinya sebagai kantor pos tanpa adanya perubahan fisik yang berarti.
Dari uraian di atas, maka perlu bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap pelestarian ini harus memperhatikan hal-hal tersebut. Pelaksanaan konservasi harus memperhatikan kesejarahan maupun maknanya pada masa ini.
BAB 3
KECANTIKAN MEDAN DAN KANTOR POS MEDAN DALAM KOLEKSI FOTO BELANDA
3.1. Kawasan Lapangan Merdeka
Lapangan Merdeka merupakan salah satu ruang terbuka publik di Kota Medan. Letaknya yang berada di jantung kota menjadi salah satu penunjang bagi area publik ini karena dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat kota. Lapangan tersebut sering dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana olahraga, tempat interaksi, aktivitas sosial, dan kebutuhan rekreasi (Mandai, 2016).
Lapangan Merdeka pada mulanya dikenal dengan Esplanade yang merupakan bagian dari perkebunan tembakau. Di sekitar Lapangan Merdeka secara bertahap dibangun gedung-gedung untuk mewadahi kebutuhan perkebunan saat itu. Jika kita lihat, hampir keseluruhan bangunan yang ada di sekitar Lapangan Merdeka merupakan bagian dari fasilitas penunjang perkebunan dan pendukung bagi masyarakat kolonial baik Inggris maupun Belanda saat itu. Selain dibangunannya beberapa kantor dan gedung penunjang di sekitar Lapangan Merdeka, di kawasan tersebut juga dibangun bangunan-bangunan penunjang di beberapa lorong disekitar Lapangan Merdeka yang mempunyai akses ke pusat kota saat itu bahkan sampai sekarang (Utami dkk, 2004).
Lapangan tersebut saat ini dikelilingi bangunan-bangunan lampau atau bangunan kolonial. Seiring dengan perkembangan jaman, kawasan ini dibangun beberapa bangunan dengan bentuk yang baru untuk menunjang kebutuhan masyarat masa kini.
Bangunan-bangunan yang bertahan dari segi fungsi dan bentuk bangunan, antara lain Kantor Pos dan Stasiun Kereta Api. Bangunan- bangunan yang ada sampai saat ini merupakan cerita masa lalu yang bisa diangkat kembali untuk dijadikan identitas kawasan yang diambil dari awal kota Medan sebagai kota perkebunan dan kota Medan sebagai kota kolonial dalam perkembangannya. Beberapa bangunan sampai saat ini masih terlihat kontinuitasnya dan persistensinya misalnya Gedung London Sumatera, Kantor Pos, Stasiun Kereta Api, dan beberapa bangunan yang mempunyai histori yang kuat yang ikut membentuk Lapangan Merdeka sebagai kawasan kolonial saat itu (Utami dkk, 2004).
Gambar 3.1. Kawasan Lapangan Merdeka dan Bangunan di Sekitarnya
Sumber: Atlas Mutual Heritage
Gambar 3.2. Kawasan Lapangan Merdeka dan Bangunan di Sekitarnya
Sumber: Atlas Mutual Heritage
3.2. Istana Maimoon
Istana Maimoon adalah sebuah istana yang masih melestarikan budaya secara baik dalam berbagai aspek. Nilai serta wujud budaya material masih hidup dalam masyarakat tersebut. Pada budaya material seperti budaya tradisional terkonsentrasi dan terpelihara secara baik serta yayasan istana sepakat untuk memelihara. Hal ini tentunya menjadi daya tarik serta keunikan tersendiri dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan serta pemaanfaatan sumber daya budaya untuk kepentingan komersial yang dapat membawa dampak pada peningkatan ekonomi rakyat (Binarwan dan Usman, 2014).
Keberadaan Istana Maimoon yang telah diklasifikasi bukan sebagai tempat rekreasi semata namun sebagai cagar budaya yang perlu dilestarikan, dengan perawatan yang baik, misalnya adanya fasilitas infrastruktur dan adanya peningkatan kemampuan manajerial. Untuk kegiatan promosi, Istana Maimoon diharapkan akan menambah manfaat utamanya. Dalam hal peningkatan kegiatan ekonomi di lingkungan istana dan masyarakat setempat agar penataan ruang komersil di sekitar istana lebih teratur dan diupayakan untuk melestarikan lingkungan istana tidak merusak lingkungan.
Pengaruh Eropa terlihat pada balairung atau ruang tamu, jendela, pintu dan sebuah prasasti di depan tangga yang bertuliskan huruf latin
Gambar 3. 3. Kawasan Lapangan Merdeka Tampak dari Udara
Sumber: Atlas Mutual Heritage
berbahasa Belanda. Sedangkan ciri Islam muncul pada atapnya yang bergaya Persia melengkung, style yang dijumpai pada bangunan bangunan di kawasan Timur Tengah. (Binarwan dan Usman, 2014)
Daya Tarik Istana Maimoon
Kemegahan istana Maimoon bukan hanya terletak pada ukuran komplek bangunan yang besar, tetapi juga desain dan gaya arsitektur yang ditampilkan. Istana Maimoon meliputi bangunan induk terdapat ruang tamu (balairung) yang berisikan singgasana yang didominasi warna kuning.
Bagian ruang ini dilengkapi dengan benda-benda antik peninggalan Sultan seperti, meja, sofa, kursi, buffet, lemari, serta lampu gantung kristal. Salah satu ruang untuk acara penobatan Raja dan acara adat lainnya ini digunakan pula oleh Sultan menerima acara sujud kepada sanak saudaranya pada hari- hari raya keagamaan.
Pengaruh arsitektur gaya Belanda nampak pada pintu serta jendela yang lebar dan tinggi. Sementara pengaruh Islam terlihat pada bentuk lengkungan di sejumlah bagian atap istana. Lengkungan yang berbentuk perahu terbalik itu dikenal dengan lengkungan Persia, banyak dijumpai pada bangunan di kawasan Timur Tengah, Turki, dan India. Terdapat beberapa pintu yang menunjukkan pengaruh Spanyol, pengaruh Islam tampak pada keberadaaan lengkungan pada atap. Keberadaan bangunan istana dapat menjadikan ilmu pengetahuan bagi pengunjung untuk mempelajari arsitek bangunan masa lampau. (Binarwan dan Usman, 2014)
Sebagai Tujuan Wisata
Istana Maimoon menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga atraksi wisata yang terdapat di istana Maimoon dengan memadukan unsur unsur warisan budaya Melayu. Kondisi bangunan bangunan di istana Maimoon cukup terawat dan terpelihara keaslian bangunan baik bentuk, bahan maupun warnanya Keterawatan yang hingga kini masih dipertahankan. Dengan demikian upaya pelestarian istana Maimoon dapat tetap dipertahankan hingga saat ini.
Letak istana menyatu dengan mesjid dan lapangan terbuka.
Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tidak ada tembok yang memisahkan ketiganya sehingga memungkinkan bagi masyarakat umum mendekati bahkan memasuki area istana. Di sekitar istana Maimoon tidak ada batas bangunan sebagai perlindungan, hanya hamparan tanah lapang dengan rumput hijau dan taman bunga yang tertata dan pohon palem menambah pesona area istana Maimoon. Dalam waktu-
waktu tertentu, di istana Maimoon diadakan pertunjukan musik tradisional Melayu.
Gambar 3.4. Istana Maimoon Tempo dulu Sumber: Atlas Mutual Heritage
Gambar 3.5.Istana Maimoon Tempo dulu Sumber: Atlas Mutual Heritage
3.3. Masjid Raya Al Mashun
Masjid Al Mashun dengan konsep bangunan utama beserta bangunan sayap merupakan konsep bangunan masjid kuno di Timur Tengah. Masjid dibangun dengan ruang tengah sebagai ruang utama (disebut sahn) dan empat sayap berupa gang beratap untuk berteduh (disebut mugatha/suntuh).
Hiasan di masjid ternyata bukan berupa kaligrafi melainkan ukiran bunga dan tumbuhan. Berbeda dengan mesjid lainnya, kubah masjid ini tidak berbentuk bulat namun persegi delapan dan agak gepeng. Kubah berjumlah lima buah, yang paling besar berada di atas bangunan utama dan empat lainnya di atas masing-masing sayap. Di setiap ujung kubah terdapat ornamen bulan sabit sebagai penghias.
Istana Maimoon memiliki tradisi seni dan budaya yang mempunyai daya tarik tersendiri sebagai salah satu tempat untuk menyaksikan kesenian Melayu. Keunikan seni budaya Melayu yang tumbuh berkembang secara alami dan memiliki karakter tersendiri yang mengungkapkan identitas masyarakat Melayu yang beragam. Meskipun di sisi lain adanya beberapa nilai tertentu yang mendapat pengaruh arus globalisasi dan budaya asing, akan tetapi tidak mengurangi norma-norma adat istiadat budaya tersebut.
Pagelaran yang ditampilkan yaitu upacara adat Melayu, menyaksikan Gambar 3.6. Interior Istana Maimoon
Sumber: Atlas Mutual Heritage
pertunjukan kesenian tradisional Melayu, dan pagelaran budaya Melayu (Binarwan dan Usman, 2014).
Gambar 3.8. Masjid Raya Medan Tempo Dulu Sumber: Atlas Mutual Heritage Gambar 3.7. Masjid Raya Medan 1938-1939
Sumber: Atlas Mutual Heritage
Gambar 3.9 Masjid Raya Medan Tempo Dulu Sumber: Atlas Mutual Heritage
Gambar 3.10. Masjid Raya Medan Tempo Dulu Sumber: Atlas Mutual Heritage
Gambar 3.11. Masjid Raya Medan Tempo Dulu Sumber: Atlas Mutual Heritage
Gambar 3.12. Gerbang Utama Mesjid Raya Medan Sumber : Atlas Mutual Heritage
3.4. Kantor Pos Medan
PT. Pos Indonesia (Persero ) Medan adalah salah satu bagian dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada di Indonesia. Gagasan untuk mendirikan perusahaan ini timbul dari mengingat pentingnya komunikasi secara tertulis, sehingga diperlukan suatu badan khusus yang menjadi penyelenggara informasi antar daerah wilayah di Indonesia.
Kantor pos pertama didirikan pada tanggal 24 Agustus 1746 oleh Gubernur Jenderal GW. Van Inholf bersama dengan ditemukannya telegraph dan telepon. Badan tersebut dinamakan perusahaan telepon dan telegraph (PTT). Kantor PTT pertama kali berkedudukan di Weltervenden (Gambir Jakarta) antara tahun 1922-1923 dan di pindahkan ke gedung
“Bulgerlijke Open Bare Wareken” (BOBW) yang sekarang menjadi gedung dinas pekerjaan umum Bandung (Surapati, 2014).
Selama masa penduduk Jepang Jawatan, PTT terpecah-pecah mengikuti struktur organisasi pemerintahan militer Jepang, sehingga terbagi menjadi PTT Sumatera, PTT Jawa, dan PTT Sulawesi.
Kantor Pos Medan juga merupakan salah satu peninggalan bangunan bersejarah yang dapat ditemukan di Kota Medan yaitu peninggalan pemerintah Hindia-Belanda yang berada di jalan Balaikota, tepatnya di depan Hotel Dharma Deli. Bangunan ini merupakan salah satu dari dampak kemajuan tembakau Deli, yang dalam perkembangannya dibangun sarana dan prasarana infrastruktur dalam menunjang kegiatan perkebunan.
Bangunan bersejarah ini berada di lingkungan Kecamatan Medan Barat, Kelurahan Kesawan lingkungan IX. Dalam proses sejarahnya, bangunan yang terletak berhadapan dengan Hotel De Boer, disebelah Utara Lapangan Merdeka ini dibangun menggunakan lantai tegel, atap genteng, dan tiang beton bertulang.
Bangunan bersejarah ini memiliki atap langit-langit yang tinggi dan memiliki struktur bangunan yang kokoh serta memiliki ruangan yang cukup luas. Selain itu, bangunan kantor pos ini memiliki nilai historis yang kental terutama dari segi bentuk arsitektur bangunannya yang berbeda sekali dengan bangunan-bangunan modern yang terdapat disekitarnya.
Gambar 3.14. Kantor Pos Medan Tempo Dulu Sumber: Atlas Mutual Heritage Gambar 3. 13. Kantor Pos Medan Tempo Dulu
Sumber : Atlas Mutual Heritage
Gambar 3.15. Tampak Depan Kantor Pos Medan Sumber: Atlas Mutual Heritage
Gambar 3.16. Parade in Medan on the Occasion of the Birthday of Prince (Collectie Tropenmuseum)
Sumber: Atlas Mutual Heritage
3.5. Hotel De Broer
Peninggalan bangunan bersejarah yang dapat ditemukan di Kota Medan adalah bangunan peninggalan pemerintah Hindia-Belanda yang berada di jalan Balai Kota nomor 2 Medan, tepatnya bersebelahan dengan kantor Bank Indonesia (BI) di sebelah kiri. Bangunan ini pada awalnya merupakan sebuah hotel yang di dalamnya terdapat bar dan restoran mewah di masa pemerintahan Belanda. Bangunan bersejarah ini berada di lingkungan Kecamatan Medan Barat, Kelurahan Kesawan lingkungan IX.
Dalam proses sejarahnya, Hotel De Boer yang letaknya di jalan Balai Kota ini dibangun tahun 1909. Nama hotel ini sesuai dengan nama pemiliknya yaitu Herman De Boer yang datang ke Medan tahun 1899. Hotel ini sekarang bernama Hotel Dharma Deli dan dibangun lagi bangunan baru 8 tingkat namun bangunan lama masih tetap dipertahankan (Surapati, 2014).
Gambar 3.17. Hotel De Boer in Medan Sumber: Atlas Mutual Heritage
BAB 4
KANTOR POS MEDAN DALAM LINTASAN SEJARAH Kantor pos merupakan tumpuan bagi masyarakat untuk memenuhi aktivitas berkomunikasi dan melakukan pengiriman barang. Kantor pos Medan pada masa lalu bahkan hingga kini masih merupakan salah satu infrastruktur kota yang penting. Menelusuri keberadaan gedung ini maka kita harus menyelami sejarah perkembangan kota Medan, yaitu bagaimana keberadaannya berkaitan erat dengan sejarah dan latar belakang perkembangan sosial budaya kota.
Medan Tempat Pertemuan Budaya
Dulu kota Medan merupakan salah satu kota yang terkemuka di Sumatera bahkan di Asia Tenggara. Dan merupakan kota di pesisir timur pulau Sumatera yang menghadap Selat Malaka. Selat ini merupakan jalur strategis pelayaran internasional antara Eropa, Timur Tengah dan Timur Jauh atau Asia Tenggara sejak masa lalu. Jauh sebelum kota Medan berdiri, dari berbagai catatan para pelancong Cina maupun India, menunjukkan bahwa banyak orang berbagai suku bangsa telah mengunjungi pelabuhan- pelabuhan di Sumatera yang bagian dari mata rantai Jalur Sutera (The Silk Road) melalui jalur lautan.
Sejarah kota ini konon dirintis ketika Guru Patimpus Sembiring yang berasal dari Karo Toba membangun suatu permukiman atau kampung.
Patimpus merupakan anak Tuan Siraja Hita anak Raja Singa Maharaja dari negeri Bakerah. Patimpus memiliki kesenangan menuntut ilmu sehingga disebut Guru. Patimpus berguru agama Islam bersama 7 (tujuh) orang sesepuh lainnya kepada Datuk Kota Bangun di kampung Pulau Berayan.
Setelah menikah dengan anak keturunan Panglima Hali yang bermarga Tarigan, Guru Patimpus ini antara 1614-1630 mendirikan kota Medan. Dari anak Guru Patimpus yang bernama Hafidz Muda, kemudian menurunkan Sutan Sri Ahmad yang memerintah Kota Hamparan Perak. Para raja disebut Sultan yang memerintah beberapa negeri di sekitar Medan.
Merupakan keturunan Melayu dan masyarakat Batak. Kisah ini menunjukkan alkulturasi budaya lokal Batak, Melayu, dan budaya Islam membentuk kebudayaan Medan seperti yang dapat kita lihat sekarang ini.
Masyarakat dan Budaya Melayu
Sebenarnya banyak suku bangsa berdiam di kota Medan. Namun di antara berbagai budaya yang berkembang, budaya Melayu merupakan budaya dominan di antara berbagai budaya di Medan.
Kebudayaan budaya Melayu identik dengan tradisi Islam di Sumatera maupun Semenanjung Malaya. Kebudayaan ini dipengaruhi tradisi dan budaya suku bangsa yang membawanya seperti budaya Arab dan India. Maka dominasi budaya-budaya tersebut masuk dalam seni dan budaya masyarakat Melayu.
Sejarah menunjukkan penyebaran ajaran Islam baik melalui kekuatan politik pada masa kekuasaan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh, interaksi ekonomi dengan para pedagang Arab dan Gujarat yang beragama Islam. Jaringan perdagangan yang membawa para pelaut Islam telah sampai ke wilayah ini sekalipun masih terbatas pada wilayah pesisir dan sungai besar, belum mencapai daerah pedalaman. Agama Islam menjadi sumber keyakinan dan pedoman tradisi masyarakat Melayu dan agama resmi kerajaan-kerajaan Melayu dan pola pemerintahan mengikuti model pemerintahan Islam yang ada sebelumnya seperti di Aceh serta Pasai.
Gambar 4.1. Jalan Balai Kota Masa Lalu Sumber: Atlas Mutual Heritage
Tidak mengherankan banyak para pendatang yang mendatangi serta menetap di kota ini sehingga membentuk keragaman bangsa dan budaya.
Pengaruh kebudayaan Islam ini dapat dilihat dari berbagai unsur kesenian, bangunan, sastra, dan adat istiadat masyarakat setempat. Pada budaya arsitektur dapat dilihat adanya bangunan mesjid dan surau sebagai bagian tata bangunan dalam perkampungan atau negeri. Bahkan terdapat jejak arsitektur Melayu pada bangunan kantor pos Medan.
Asal Nama Medan
Nama Medan berasal dari bahasa Arab yaitu “ Maidan “ artinya tempat berkumpul atau lapangan. Kata Maidan ini diserap ke dalam bahasa Melayu kemudian menjadi kata Medan. Sejak jaman dahulu wilayah Medan ini merupakan tempat berkumpul untuk berdagang, bertaruh, dan berinteraksi berbagai orang dari Hamparan Perak dan Sukapiring. Wilayah ini dikelilingi kampung-kampung Melayu seperti Kesawan, Binuang, Tebingtinggi, dan Merbau. Kampung-kampung ini merupakan bagian yang terpisah-pisah namun disatukan oleh ikatan budaya Melayu. Keramaian tempat ini sebagai “pasar“atau tempat bertemu berbagai orang maupun pendatang telah membuat kota ini semakin makmur dan kaya.
Jejak sejarah kemakmuran kota ini dapat dilihat dari cerita Putri Hijau yang memiliki saudara kembar sebuah meriam dan seekor naga. Putri ini tinggal di sungai Deli. Konon putri cantik ini menolak lamaran raja Aceh sehingga kemudian diserang hingga melarikan diri sampai laut. Sang putri bertahan dengan meriam serta saudaranya yang berwujud naga. Cerita ini tidak hanya menunjukkan bahwa ada hubungan masyarakat Karo yang pindah ke Deli namun juga kemakmuran wilayah sekitar Medan yang menarik hati negeri lain untuk menguasainya.
Medan Kota Kolonial
Dalam bukunya bernama “Mission to the Eastcoast of Sumatera”
yang diterbitkan tahun 1826, seorang Inggris bernama John Anderson menceritakan kunjungannya ke Medan pada tahun 1823. Medan saat itu masih merupakan suatu kampung kecil dengan penduduk sekitar 200 orang.
Hingga pada tahun 1863, dari Jawa Tembakau diperkenalkan ke Medan.
Corr Passchier juga menceritakan bahwa pada tahun 1860-an, pelabuhan lama Labuan Deli telah mulai ramai dengan perdagangan mancanegara.
Sebuah kantor pos dibangun untuk melayani kebutuhan masyarakat.
Perkembangan Medan menjadi kota besar menerima banyak berbagai budaya lokal maupun asing seperti India, Cina, dan Belanda. Hal ini semakin pesat ketika Belanda menguasai Medan dan sekitarnya, yang mengakibatkan proses interaksi budaya dengan para pendatang semakin tinggi. Orang India, Arab maupun orang-orang asing dari daratan Cina didatangkan sebagai pekerja menempati Medan. Jejak-jejak alkulturasi budaya dalam konteks arsitektur ini dapat dilihat dari berbagai bangunan yang ada.
Pemerintah Belanda membangun kota ini baik secara fisik maupun sosial sebagai kota yang memiliki ciri-ciri kota kolonial. Budaya kolonial Belanda yang dominan tidak serta merta menghapuskan lokalitas tersebut bahkan sebaliknya beradaptasi dengan budaya setempat. Cara seperti ini merupakan kebiasaan orang Belanda untuk melakukan adopsi unsur-unsur lokal. Keragaman tersebut membentuk karakter kota Medan yang pluralistik dan unik.
Salah satu peninggalan kolonial di kawasan pusat kota Medan adalah gedung Kantor Pos Medan. Bangunan ini berada di depan lapangan Kesawan yang dulu bernama Esplanada. Sekilas bangunan ini nampak megah dan berbeda dengan bangunan kolonial lain yang ada di lingkungan tersebut. Gedung ini hingga sekarang masih dipakai sebagai wadah pelayanan pos.
Gambar 4.2. Foto Lama Kantor Pos dan Lingkungannya Masih Nampak Asri
Sumber: Koleksi Widodo, 2010
Bangunan kantor pos Medan dibangun pada masa kolonial ketika masa keemasan dan kejayaan kota ini berlangsung. Bangunan yang diperuntukkan pelayanan jasa pos bagi masyarakat menampakkan berbagai pengaruh budaya yang menjadi ciri khas kota Medan.
Landmark Kota
Pada saat ini keberadaan bangunan kantor pos Medan telah dianggap sebagai landmark atau tetenger (penanda) bagi kota Medan. Bangunan ini mewakili suatu unsur yang berasal dari perkembangan Medan sebagai kota kolonial yang memiliki perbedaan dengan bangunan-bangunan kolonial lain seperti Bank Indonesia atau Balai Kota. Kehilangan bangunan ini akan merusak sistem arsitektur pusat kota Medan secara keseluruhan baik secara fisik maupun visual. Bagi PT Pos Indonesia, keberadaan kantor ini merupakan “kebanggaan dan monumen“ perjalanan pelayanan jasa pos di Indonesia. Pelestarian gedung ini menunjukkan kepedulian PT Pos pada konservasi gedung bersejarah. Masyarakat kota Medan sangat berharap PT Pos Indonesia selaku pemilik bangunan ini tetap mempertahankan kehadiran bangunan ini sebagai “life monument “. Secara keseluruhan bangunan kantor pos ini tidak mengalami perubahan yang berarti sejak dibangun tahun 1909. Namun, ada beberapa unsur bangunan yang karena ketidakpahaman terhadap konsepsi perlindungan terhadap cagar budaya diganti dengan material baru.
Sejarah Pelayanan Pos
Menurut Luckmann dan Passchier, pelayanan pos di Medan sudah ada sejak tahun 1879 atau 1883. Sebelumnya pada tahun 1860-an, sebuah kantor pelayanan pos juga telah didirikan di pelabuhan lama Labuan Deli yang menunjukkan bahwa tempat ini penting bagi perdagangan masa itu.
Pada saat kantor pos dibangun, kota Medan sedang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini tidak mengherankan karena Medan merupakan kota besar di Sumatera sehingga tidak mustahil berbagai aktivitas industri, perkebunan, dan perdagangan sudah berkembang pesat dan membutuhkan layanan jasa pos. Sultan Deli pada tahun 1632 telah membangun istana yang megah dari hasil perkebunan tembakau Deli yang termashur saat itu.
Insinyur Snufy Sang Perancang
Gedung kantor pos Medan dirancang oleh insinyur Snufy pada tahun 1909 dan diselesaikan pembangunannya tahun 1911. Keterangan tahun
selesai pembangunan tersebut tertera pada dinding bangunan. Snufy merupakan seorang insinyur pada Dinas BOW yang bertanggung jawab penuh pada bangunan-bangunan pemerintah saat itu. Bangunan kantor pos merupakan salah satu bangunan milik pemerintah saat itu.
Kekhasan bangunan-bangunan kolonial awal abad 20 adalah mulai diperhatikannya unsur-unsur lokal di samping mulai dikenal adanya teknologi bangunan yang lebih baik. Penyebabnya adalah mulai berkembangnya paham politik etis atau politik balas budi. Asal mula politik balas budi ini ketika golongan liberal di negeri Belanda melihat bahwa cara-cara memerintah negeri jajahan seperti Hindia Belanda harus dirubah.
Rakyat negeri jajahan harus dikembangkan karena akan menguntungkan bagi masa depan negeri Belanda. Bila tidak, maka akan timbul pemberontakan atau gerakan yang merugikan kepentingan pemerintah kolonial. Paham ini mempengaruhi cara berpikir para birokrat bahkan para arsitek yang dipercaya merancang berbagai bangunan pemerintah. Tercatat antara lain Thomas Kartsen yang memiliki kekhasan merancang dengan mengambil berbagai unsur lokal. Mc Line Point mengambil berbagai unsur rupa bangunan tradisional untuk merancang gereja Poh Sarang.
Namun, bangunan kantor pos Medan agak berbeda dengan bangunan-bangunan kantor pos lain di Indonesia yang sebenarnya tidak banyak mengambil unsur tradisional. Sekalipun demikian banyak di antaranya tampil dengan ciri khas yang berbeda satu dengan yang lain.
Benang merah antara gedung kantor pos dengan lainnya nyaris tidak ada.
Misal kantor pos Yogyakarta, Semarang atau Bandung tidak ada unsur rupa atau bentuk yang menyerupai.
Gambar 4. 4. Bangunan Kantor pos yang Tampak Monumental
Gambar 4.5. Tahun Akhir Pembangunan 1911
Kantor Pos Lain
Berdasarkan informasi, ada 2 (dua) bangunan kantor pos lainnya yaitu Kantor Pos Polonia dan Kantor Pos Pringgan yang merupakan bangunan bersejarah. Namun demikian, hanya gedung kantor pos Polonia yang masih dipertahankan secara baik. Sedangkan kantor pos Pringgan telah berganti menjadi bangunan baru.
Gambar 4. 6. Gedung Kantor Pos Polonia Dari arsitekturnya menunjukkan usia yang lebih muda.
BAB 5
BANGUNAN LAIN DI SEKITAR KANTOR POS
Ada asumsi yang sering kita dengar bahwa kantor pos pada masa lalu berada di pusat kota. Di dalamnya, terdapat kantor pos, kabupaten, masjid, penjara, dan alun-alun. Sepertinya asumsi tersebut juga berlaku di Medan.
Kantor Pos Medan berada di Balai Kota sebagai pusat pemerintahan.
Sementara penjara dan masjid tidak ada di lapangan Merdeka karena Medan bukan prototipe kota-kota tradisional-kolonial seperti Yogyakarta atau kota kolonial yang meniru struktur kota tradisional seperti Bandung.
Titik Nol
Kantor Pos berada pada titik nol yang ditandai bangunan air mancur depan gedung ini. Pada beberapa kota, lokasi kantor pos banyak yang menjadi titik nol kota. Hal ini dimengerti karena fasilitas kantor pos dan telegraf merupakan elemen kota yang sangat strategis. Pusat kota Medan dibentuk berbagai elemen antara lain Gedung Balai Kota, Gedung Javasche Bank (Bank Indonesia), lapangan, dan jalan utama selain gedung kantor pos. Bangunan lain antara lain adalah Stasiun Kota. Penyebutan titik nol secara politis dilakukan oleh Kota Praja Medan atau Gemeente Medan pada tahun 1918 melalui keputusan sidang dewan kota. Sebagai patokan adalah Balai Kota karena merupakan bangunan awal yang dibangun di lokasi tersebut.
Gambar 5. 1 Kantor Pos Medan dari Arah Hotel De Bour
Dengan demikian, lapangan Kesawan dan Esplanade sebenarnya memiliki hirarki berbeda. Nilai ruang Esplanade lebih tinggi karena di sini ditempatkan bangunan-bangunan penting. Esplanade bisa dikelompokkan sebagai lapangan Medan Merdeka di Jakarta atau yang lebih akrab disebut lapangan Monas. Sedangkan Kesawan bersifat lebih umum sehingga bisa dipakai untuk fungsi-fungsi pribadi masyarakat seperti rumah Tjong Afie seorang jutawan legendaris di Medan.
Hotel De Boer
Bangunan lama yang berada di sekitar (barat) kantor pos adalah Hotel De Boer yang dimiliki oleh Herman De Boer, yang merupakan salah satu pemilik restoran Grim di Surabaya. Hotel ini berada di jalan Balai Kota.
Gambar 5. 2 Hotel De Boer Tempo Dulu.
Sumber: http://www.e-
pics.ethz.ch/index/ETHBIB.Bildarchiv/
ETHBIB.Bildarchiv_Dia_249-006_29574.html
Boer datang ke Medan tahun 1899. Hotel ini dibangun tahun 1909 dan memiliki 40 buah kamar. Bangunannya sedikit banyak menampakkan beberapa unsur setempat seperti lengkung-lengkung yang menjadi kekhasan arsitektur hibrida Medan. Pasca kemerdekaan, hotel dinasionalisasi menjadi milik pemerintah Indonesia serta diganti namanya menjadi Hotel Dharma Deli. Bangunan lama hotel ini tidak dipakai lagi karena dianggap sudah tidak aman lagi sebagai ruang hunian. Sebagai gantinya pemerintah membangun sebuah gedung baru berlantai 8 di sampingnya.
Dari jendela kamar hotel yang menghadap lapangan Merdeka, kita dapat menikmati keindahan bangunan kantor pos dengan jelas. Beberapa foto kantor pos dalam buku ini diambil dari jendela gedung ini.
Gambar 5.3. Bangunan Hotel Dharma Deli Pengganti Hotel Boer sayang fisik bangunan sama sekali tidak
menampakkan ciri khas budaya Sumatra Timur.
Gedung Balai Kota
Gedung Balai Kota berada di lapangan Esplanada. Gedung ini dirancang oleh arsitek dari Biro Hulswit tahun 1900 yang kemudian dimodernisasi tahun 1923. Sekarang bangunan ini menjadi Kantor Walikota Medan. Bangunan ini juga merupakan foreground dari bangunan baru yang berada di belakangnya. Berbagai penambahan elemen bangunan baru membuat sistem visual bangunan ini menjadi rusak karena menghalangi penampilan fasad serta membuatnya seperti tempelan belaka.
Gambar 5.4. Air Mancur Depan Kantor Pos Sumber: http://bungryan.com/jalan-jalan/pic-
medan-tempo-doeloe-bag-2/
Gedung Bank Indonesia
Gedung Bank Indonesia ini dahulu bernama “ Javasche Bank “ dan dirancang oleh arsitek dari Biro Hulswit-Fermont & Ed. Cuypers Amsterdam tahun 1910. Bangunan ini mencirikan gaya kolonial sepenuhnya. Kehadiran bangunan ini menunjukkan bahwa kota Medan merupakan salah satu kota besar yang telah menunjukkan peran penting pada masa itu. Beberapa gedung bank lain juga hadir di lingkungan Taman Merdeka ini antara lain Bank Mandiri. Sosok bangunan ini relatif masih terjaga dengan baik karena tidak ada bangunan lain yang menghalanginya.
Namun demikian, bangunan inipun sebatas hanya menjadi “unsur estetika visual saja“ bukan bagian dari estetika pengalaman karena fungsinya sebagai bangunan privat.
Gambar 5.5. Gedung Baru di Belakang Eks Balaikota Lama
Taman Esplanada
Dulu taman ini adalah kebun tembakau serta rawa-rawa, dan namanya sekarang adalah taman Merdeka. Orang-orang Belanda pernah menjulukinya sebagai “Taman Burung” karena banyak burung hinggap di pepohonan yang banyak di lapangan ini. Sedangkan, orang-orang Jepang menjulukinya “Fuku Raidu”. Dulu ada Museum Medan berada di depan pos polisi yang terbakar tahun 1944. Pada 6 Oktober 1945 di lapangan ini Gubernur Sumatera Timur, Mr Muhammad Hasan mengumumkan kemerdekaan RI kepada seluruh masyarakat kota Medan (Mahyuni, 2009).
Gambar 5.6. Gedung Balaikota dan Bank Indonesia Sekarang Gambar diambil dari arah depan kantor pos.
Gambar 5.7. Suasana Sekarang Sekitar Lapangan Merdeka
Sebagai suatu taman, keberadaan Esplanada sesungguhnya mirip sebuah lapangan kota yang kecil karena menghadap gedung Balai Kota dan beberapa perkantoran pemerintah. Meskipun kemungkinan lapangan ini bukan satu-satunya lapangan yang besar di Medan, keberadaan Esplanada dapat dibandingkan seperti Lapangan Banteng. Pada masa lalu, lapangan ini adalah tempat rekreasi keluarga. Menurut sejarahwan Drs H Muhammad Tok Wan Haria (Muhammad TWH) di bawah Lapangan Merdeka Medan, dulu terdapat parit besar untuk pembuangan air yang mengalir ke sungai Deli.
Keberadaan gedung kantor pos di depan lapangan seperti ini merupakan prototipe kantor-kantor pos lain di beberapa kota antara lain Bandung, Magelang, dan kota-kota kecil lainnya. Namun keberadaan kantor pos yang berhadap-hadapan dengan gedung balaikota hanya ditemukan di Medan. Sayang keberadaan taman Merdeka menjadi rusak baik secara citra, visual maupun fisik ini dipengaruhi oleh bangunan- bangunan modern seperti café dan sebagainya. Ada beberapa bagian taman ini yang dibangun beberapa bangunan semi permanen. Akibatnya keindahan taman ini tidak lagi nampak.
Gambar 5.8. Bangunan Baru di Lapangan Merdeka Bangunan baru yang berfungsi sebagai café ini merusak struktur visual kawasan sekitar lapangan
Merdeka
Lapangan ini yang seharusnya terbuka kini dipenuhi bangunan- bangunan semi permanen yang berfungsi sebagai restoran dan café.
Kehadirannya sekarang ini yang dipenuhi bangunan-bangunan baru tersebut sangat mengganggu sistem visual sebagai sebuah ruang terbuka kota. Di tempat inilah diselenggarakan pasar malam pertama pada tahun 1908.
BAB 6
UNSUR-UNSUR RUPA BANGUNAN
Arsitektur bangunan kantor pos dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu kepala, badan, dan kaki. Gaya arsitektur yang digunakan dipastikan bukan bangunan jenis manapun juga baik Gothic (klasik) atau bangunan tradisional.
Arsitektur Indis
Bentuk mengambil pola arsitektur Indis yaitu gaya arsitektur yang merupakan gabungan antara arsitektur Belanda dengan unsur lokal. Sosok bangunan ini jelas berbeda dari bangunan-bangunan lama seperti Balai Kota ataupun Bank Indonesia. Kedua bangunan ini seperti benar-benar bangunan Eropa yang berada di bumi Nusantara. Sedangkan, bangunan kantor pos mengambil berbagai unsur elemen lokal seperti penonjolan panggung di samping kanan. Keberadaan unsur panggung ini tidak menjadi unsur utama dengan diletakkan di depan namun berada di samping. Jenis bangunan dengan panggung seperti ini dapat kita lihat di kantor pos Yogyakarta. Ada keinginan dari sang perancang memasukkan unsur-unsur lokal, yaitu ciri khas bangunan Melayu.
Tujuan menerapkan unsur-unsur lokal ini bukan karena adanya ikatan emosional, namun dipengaruhi paham yang tengah berkembang kuat yaitu Indis. Paham Indis ini memiliki ciri khas masih memiliki dasar bangunan Eropa bahkan ruhnya sekalipun masih menempatkan landasan berpikir bumi seberang. Namun, ada beberapa penyelesaian arsitektural yang mengadopsi unsur-unsur lokal. Beberapa arsitek ternama sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya memang sengaja mengadopsi unsur- unsur lokal tanpa menjelaskan bentuk asalnya atau memang berusaha mengadopsi dengan memperlihatkan asalnya.
Bangunan kantor pos ini jdipengaruhi gaya Belanda dilihat dari unsur atap dan dindingnya. Adanya unsur atap yang menjulang tinggi seperti menara hanya untuk menonjolkan kesan monumentalnya. Fungsinya tidak jelas namun sebagai unsur bangunan membuat bangunan kantor pos nampak megah dari bangunan sekitarnya. Menara ini hanya untuk membentuk rongga di dalam yang besar dan tinggi. Diameter rongga kurang lebih mencapai 20 meter. Adanya rongga ini membuat kita yang berada di dalamnya merasa pada ruang yang megah.
Gambar 6.1. Bangunan Bergaya Indis Kesan Kolonial Sangat Kuat Ditampakkan Bangunan
Kantor Pos.
Gambar 6.2. Entrance Utama Entrance utama ini diperkuat dengan Gable yang membangun kesan mengundang serta
memperlunak menara di atasnya.
Gambar 6.3. Atap Sebagai Unsur Arsitektural Bangunan Atap Merupakan Unsur Arsitektur yang Membentuk
Wujud Bangunan.
Gambar 6.4. Kubah yang Terbentuk Dalam Interior Gedung
Gambar 6.5. Berbagai Sudut Pandangan yang Menarik
Gambar 6.6. Berbagai Bentuk Bukaan
Gambar 6.7. Berbagai Bentuk Bukaan Utama
BAB 7
ARSITEKTUR HIBRIDA
Tidak ada yang menyangkal bahwa bangunan kantor pos merupakan salah satu arsitektur kolonial yang tidak sepenuhnya mengacu pada bangunan Belanda ataupun bangunan setempat, namun lebih tepat dikatakan sebagai suatu arsitektur hibrida. Hibrida atau pencampuran secara fungsional maupun simbolik adalah ekspresi perancangan arsitektur yang tanggap terhadap kondisi lingkungan namun juga upaya mempertahankan berbagai unsur sosial budaya yang masih dominan. Pada awal abad 20, konsep ini menjadi spirit para perancang untuk tidak menerapkan konsep-konsep kolonial secara membabi buta di Hindia Belanda. Selain itu, ada faktor lain yaitu politik etis yang membawa suasana baru bagi orang-orang Belanda terutama dari kalangan intelektual dalam memandang hubungan dengan bumi putera. Konsep arsitektur hibrida ini lahir dari kebutuhan yang harus diakomodasi guna memenuhi faktor-faktor lingkungan maupun keinginan perancangnya.
Arsitektur Panggung
Arsitektur kantor pos ini pada bagian kanan menunjukkan suatu bentuk yang menyerupai rumah panggung. Jenis panggung ini juga digunakan pada arsitektur Istana Maimoon. Arsitektur panggung ini dipengaruhi oleh arsitektur Melayu. Arsitektur Melayu merupakan adaptasi bentuk pada lingkungan tropis serta lingkungan yang berawa. Dari kondisi lingkungan tersebut terbentuk jenis arsitektur panggung. Pada kasus gedung Kantor Pos Medan ini memang tidak ada bagian kolom bawah bangunan, namun adanya bagian bangunan lantai dua dengan selasar yang menunjukkan kesan sebagai rumah panggung. Konsep ini tidak ditemukan pada bangunan yang benar-benar murni kolonial, seperti Javasche Bank atau gedung Balai Kota.
Gambar 7.2. Kolom Konstruksi Baja Penopang Struktur Panggung
Gambar 7.1. Konsep Rumah Panggung 2 (Dua) bangunan bersejarah ini menggunakan konsep
panggung. Sepintas ada kemiripan dengan bangunan kantor pos.
Unsur Panggung
Bangunan kantor pos berlantai 2 (dua). Ada berbagai bentuk yang tidak jelas diketahui berasal dari pengaruh mana, seperti adanya berbagai bentuk lengkungan yang membentuk fasad bangunan. Kolom-kolom pemikul selasar bagian kanan ditampilkan dengan baik. Kesan kokoh diperkuat dengan penonjolan pilar-pilar serta overstek kembar yang menopang bagian atas. Bahkan konstruksi baja yang menjadi penguat juga dibiarkan menonjol.
Adanya pilar-pilar ganda diteruskan pada pilar bagian selasar atas yang terbuat dari kayu. Biasanya pada bangunan kolonial yang memiliki lantai dua dengan model selasar seperti ini tiang-tiangnya tidak sebesar ini.
Agaknya sang perancang ingin menonjolkan kegagahan bangunan ini.
Bangunan sayap kanan memiliki keliling selasar terbuka (sekarang ada yang ditutup) sehingga membuat bangunan ini mendapat pencahayaan dan udara yang baik.
Gambar 7.3. Bagian Selasar Dipandang Dari Bawah Bangunan
Gambar 7.4. Selasar
Gambar 7.5. Bagian Selasar Menuju Ruang Administrasi
Gambar 7.6. Pola Rumah Panggung dengan Selasar dan Lengkung-Lengkung Lantai Satu pada Bangunan Kantor
Pos dan Bangunan Sayap Kiri Istana Maimoon.
Material Bangunan
Material bangunan diperkirakan sudah menggunakan baja untuk rangka kolom dan sloof serta ringbalk. Sebagian besar bangunan menggunakan dinding batu, dan hanya sebagian bangunan menggunakan kayu untuk lantainya. Tangga di bangunan ini menggunakan kayu.
Sedangkan tangga baru yang terdapat di bagian tengah bangunan terbuat dari besi.
Gambar 7.7. Material Bangunan
Gambar 7.8. Detail Pegangan Pintu Bangunan
Gambar 7.9. Keindahan Interior Bangunan
Gambar 5.09. Salah Satu Pintu Masuk
Gambar 7.10. Salah Satu Pintu Masuk
Lantai Bangunan
Pada bagian lantai bangunan menggunakan marmer serta ubin lama (namun telah diganti keramik). Lantai marmer asli masih ditemukan pada bagian vestibule atau lobby. Sedangkan, keramik yang diganti adalah bagian ruang pengantar maupun ruang samping kiri bangunan. Informasi ini berdasar pada keterangan dari berbagai pihak seperti pegawai pos maupun para arsitek yang bernaung di bawah institusi BWS (Badan Warisan Surakarta). Berdasarkan informasi ketika penggantian berlangsung, mendapat protes dari BWS yang menyayangkan kerusakan tersebut sehingga proyek penggantian lantai digunakan.
Penggantian keramik ini terjadi pada tahun 1990-1999. Sebenarnya dalam konteks konservasi dapat disebut sebagai pengrusakan elemen cagar budaya. Pelakunya dapat dikenai hukuman badan dang anti rugi. Kasus
Gambar 7.11. Sudut Unsur Bangunan Kolom yang Menarik
semacam ini tidak hanya dijumpai pada kantor pos Medan saja melainkan pada bangunan-bangunan kantor pos lain. Kebanyakan orang menganggap lantai lama ini sudah tidak menarik sehingga harus diganti dengan keramik.
Lantai lama memang nampak kusam, namun sebenarnya lantai lama memiliki arsitektur tinggi. Pemeliharaan lantai lama di bangunan-bangunan tua akan meningkatkan nilai bangunan.
Gambar 7.12. Suasana Interior Bangunan
Gambar 7.13. Dominasi Lengkungan dalam Struktur Bangunan
Gambar 7.14. Persamaan antara Istana Maimoon dan Kantor Pos
Gambar 7.15. Bagian dari Kubah Kantor Pos
Gambar 7.16. Detail Tangga Kayu dari Lantai Dua ke Lantai satu
BAB 8
FUNGSI BANGUNAN PADA MASA KINI
Suatu bangunan bersejarah akan lebih memiliki makna bilamana fungsinya masih bertahan. Pada kasus-kasus tertentu bahkan suatu gedung bersejarah dipertahankan dengan cara mengisi fungsi baru. Namun, juga dipertimbangkan bahwa fungsi yang baru tidak merusak fisik yang ada sehingga mengurangi nilai bangunan. Kita akan melihat sejauh mana fungsi gedung ini.
Bangunan Berlantai Dua
Bangunan ini masih sepenuhnya berfungsi sebagai wadah pelayanan jasa pos di Medan. Di jalan Bukit Barisan ini juga terdapat aset PT Pos Indonesia lainnya yang sekarang berfungsi sebagai pelayanan logistik (dulu merupakan Sentral Giro). Bangunan kantor pos ini terdiri dari sebagai berikut :
a. Lantai Satu
Ruang Lobi
Ruang Vestibule
Ruang Belakang Loket
Ruang Antaran
Ruang Pemrosesan
Ruang Administrasi b. Lantai Dua
Ruang Rapat
Ruang Kepala Kantor
Mushola
Ruang Administrasi
Bagian tengah bangunan ini merupakan ruang terbuka (void) yang berfungsi sebagai sirkulasi udara. Dari bagian tengah ini kemudian dibangun tangga baru menuju lantai dua yang menghubungkan lantai satu dengan mushola. Ruang wudlu juga dibangun berdekatan dengan mushola ini. Adanya tangga baru ini cukup baik karena akan mengurangi beban sirkulasi bangunan yang sebelumnya bertumpu pada tangga kayu.
Mempertimbangkan Fungsi Mendatang
Saat ini pelayanan jasa pos tetap menggunakan ruang vestibule sebagaimana pada masa lalu. Adanya perkembangan jaman membuat berbagai kebutuhan masyarakat ke kantor pos tidak lantas menurun sekalipun kebutuhan berkirim surat mengalami penurunan. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi membuat cara mengirim dan menerima berita tidak lagi mengandalkan sistem transportasi fisik melainkan transmisi data yang lebih canggih. Cara berkomunikasi melalui telepon dan seluler juga menyebabkan komunikasi lisan secara langsung dianggap lebih efektif daripada berkirim surat. Masyarakat juga tidak lagi mengandalkan pengiriman uang melalui Wesel karena melalui bak lebih mudah. Akibatnya, ada beberapa layanan jasa pos yang tergantikan atau menurun akibat adanya perkembangan jasa kurir dan layanan sejenis.
Masyarakat bisa mengirim surat melalui perusahaan kurir swasta sekalipun jangkauan mereka terbatas.
Namun, ada beberapa karakter jasa pos yang tetap tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi antara lain pengiriman barang secara fisik. Jasa pos tetap tidak tergantikan seluruhnya bahkan mendatang bisa akan kembali berjaya bila mampu direvitalisasi dengan baik. Kita bisa menyelusuri perkembangan kebutuhan dan kemunduran jasa pos dari keberadaan kantor pos ini. Saat kota Medan tumbuh besar dengan adanya perdagangan yang berskala internasional, aktivitas tersebut membutuhkan pelayanan jasa pos untuk pengiriman surat-surat dan dokumen berharga.
Kedudukan kantor pos sangat strategis. Bila tidak strategis, pemerintah tidak akan membangun gedung yang sedemikian megah.
Pertanyaannya adalah bagaimana memfungsikan gedung bersejarah ini secara bijaksana sehingga mendapatkan keuntungan yang optimal, yaitu dapat melestarikannya dan mampu mempertahankan manfaat sebagai aktivitas yang menunjang pendapatan. Program pengembangan seperti ini tetap harus berada dalam koridor pelestarian dengan konsep revitalisasi.
Prinsip revitalisasi yaitu pelestarian dengan mengembangkan fungsi-fungsi yang tepat. Bahkan, tujuan untuk mempertahankan keberadaan kantor pos sebagai ikon kota Medan dapat tercapai. Masyarakat tetap dapat mengunjungi kantor pos untuk tujuan-tujuan yang lebih sesuai seperti untuk mendapatkan layanan filateli.
Gambar 8.1 Ruang Vestibule di Lantai 1
Gambar 8.2
Ruang Di Belakang Loket Lantai 1
Gambar 8.3 Ruang Pengantar di Lantai 1
Gambar 8.4 Ruangan Rapat di Lantai 2
Mungkinkan Wisata Pos dan Berkelanjutan Fungsi
Sudah lumrah dan biasa dilakukan bahwa bangunan bersejarah memiliki peluang untuk dikembangkan fungsinya sebagai obyek wisata.
Kehadiran kantor pos yang tetap lestari menjadi rangkaian dari jejaring wisata kota Medan. Khusus kantor pos, sebenarnya upaya menarik para pengunjung sudah terbentuk. Hal ini berbeda dengan bangunan-bangunan lainnya yang harus dibangun terlebih dulu sehingga mampu membuat orang datang. Kantor pos tidak perlu dijadikan museum an-sich dan mengabaikan fungsi sebenarnya karena bangunan ini masih berfungsi. Hal ini tidak terjadi pada bangunan Balai Kota yang telah tidak difungsikan lagi. Namun, hal ini bagi pelestarian kantor pos bukan tanpa masalah karena dapat berpotensi menyebabkan kerusakan bangunan akibat pemanfaatan yang di luar kapasitasnya. Daya dukung fungsional bangunan perlu dipertimbangkan baik-baik agar bangunan kantor pos tetap dilestarikan.
Gambar 8.5 Sarana Pelayanan Kotak Pos
Ada beberapa kemungkinan pengembangan fungsi yang dilakukan untuk menambah nilai bangunan ini namun tetap selaras dengan karakter bangunan kantor pos, antara lain adalah dengan melakukan wisata kantor pos, yaitu pengenalan aktivitas produksi kantor pos meliputi pelayanan kantor pos, penyortiran surat, pembukaan kantung pos hingga penjualan benda filateli. Khusus untuk aktivitas terakhir ini dapat dikembangkan sebagai produk unggulan wisata kantor pos karena produk filateli sendiri adalah obyek seni dan edukasi yang telah cukup populer
.
BAB 9
PELESTARIAN BANGUNAN SECARA BERKELANJUTAN
Pelestarian bangunan bersejarah sebaiknya tidak semata-mata didasarkan pada kewajiban belaka melainkan tumbuh dari kesadaran generasi sekarang untuk memberikan sesuatu yang berharga pada generasi mendatang. Bila aspek kesadaran ini telah tertanam, keberlanjutan bangunan konservasi tidak diragukan lagi akan terwujud. Patut disayangkan bahwa selama ini pelestarian lebih banyak dianggap upaya memenuhi kewajiban dengan berbagai alasan, antara lain masalah biaya dan kebutuhan untuk memenuhi fungsi sekarang. Khusus untuk bangunan kantor pos, bila kesadaran pelestarian tidak diwujudkan, dikhawatirkan kita tidak akan dapat menikmati keindahannya pada masa mendatang. Dalam formulasi pelestarian atau konservasi, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan, yaitu menyangkut fisik, fungsi, citra, dan maknanya.
Fisik Bangunan
Pelestarian fisik bangunan dengan menjaga, tidak ada perubahan yang signifikan dari unsur-unsur arsitektural dan strukturnya. Pertama mengenai unsur arsitektural mencakup bagian bangunan dan detail bangunan. Hilangnya unsur arsitektural karena rusak mengakibatkan perbaikan yang sangat mahal karena harus mengganti dengan bahan bangunan dengan desain bentuk yang sama. Dengan demikian, perawatan bangunan sangat penting untuk diperhatikan. Penambahan unsur-unsur baru harus memenuhi ketentuan konservasi agar tidak merusak keasliannya maupun kekuatan bangunannya.
Ada beberapa unsur fisik bangunan yang menjadi kekhasan arsitektur kantor pos antara lain :
Atap bangunan
Kolom-kolom bangunan
Dinding bangunan
Jendela bangunan
Penggantian atau perubahan bahan atap bangunan baik material dan konstruksinya mempengaruhi kekuatannya. Akumulasi beban tambahan tersebut akan berdampak pada berat yang harus ditopang strukturnya.
Penggantian sirap yang merupakan material penutup atap dengan bahan