HOTEL ALIA CIKINI
HOTEL MARCOPOLO IBIS BUDGET HOTEL BALAIRUNG HOTEL SENTRAL HOTEL MEGA HOTEL AMARIS
36
pasar masing-masing, misal Hotel The Hermitage yang terletak di Jl. Cilacap. Hotel dengan 90 kamar ini merupakan bangunan hasil konsevasi yang diperuntukan menjadi hotel. Arsitektur bangunan kolonial merupakan nilai jual bagi hotel Hermitage. Sedangkan, Sofyan Hotel Betawi dan Alia ditujukan pada tamu kelas menegah.
Persaingan antar hotel tidak hanya meliputi soal harga kamar, fasilitas yang disediakan, makanan, dan pelayanan yang ramah, tapi ada nilai jual lain yang menjadi “ciri khas” dari hotel tersebut yang tidak dimiliki oleh hotel lain. Bagaimana rancangan hotel DoubleTree menyikapi kondisi ini, menjadi bangunan komersil dengan peruntukan hotel dan menjadi bagian dari kawasan Menteng. Kawasan yang awalnya merupakan kawasan perumahan dan asri ?
Hotel DoubleTree dirancang dengan gaya modern, sesuai dengan konsep urban. Tower 15 lantai yang diperuntukkan untuk kamar, beroritentasi ke Utara- Selatan, agar terhindar dari sinar matahari langsung. Sisi Barat Hotel mengarah ke node (pertemuan jalan) Jl, Proklamasi , Jl.Cikini, dan Jl. Pegangsaan Timur. Taman Proklamator dan Gedung Pola di sisi Barat merupakan kawasan bersejarah.
Pada sisi Timur, kamar hotel mengarah ke kolam renang terbuka, Universitas Bung Karno, serta rumah dan bangunan komersil yang ada di kawasan Menteng. Orientasi hotel mengarah ke area yang mempunyai bangunan atau ruang
terbuka yang “khas Menteng.”
Apa yang menjadi nilai tambah rancangan Hotel DoubleTree di kawasan Menteng? Hotel DoubleTree mengikuti perkembangan rancangan arsitektur bangunan tinggi (high rise) pada masanya, pada masa kini. Bentuk arsitektur kubus dengan bidang datar yang lebar, masa bangunan yang berkesinambungan, ruang dan kamar hotel dirancang simple, efektif, dan efisien. Lahan yang terbatas harus mampu mengakomodasi semua fasilitas hotel baik fasilitas untuk ruang terbuka dan fasilitas di dalam ruangan, dan secara ekonomis memberikan hasil yang maksimal bagi pengelola.
Lokasi lahan yang terletak di Kawasan Menteng yang terkenal dengan bangunan kolonial dan lingkungan yang sejuk dan asri, ditampilkan melalui konsep melestarikan pohon-pohon eksisting dan “memberikan”nya sebagai ruang terbuka hijau kota. Ini merupakan nilai tambah pada rancangan Hotel DoubleTree dibandingkan dengan hotel yang lain.
Beberapa pohon eksisting yang sudah berusia lanjut dan mempunyai tajuk yang lebar dan batang yang besar menjadi ikon hotel. Luas lahan yang terbatas dan mengantong menyebabkan arsitek harus pandai-pandai menata masa bangunan, agar sirkulasi/pergerakan di dalam lahan efisien dan lahan terbuka digunakan untuk taman dan fasilitas ruang terbuka.
Pemanfaatan lahan untuk taman dan fasilitas ruang terbuka merupakan
keputusan yang sulit, karena nilai lahan yang tinggi di Jakarta, seyogyanya menghasilkan pendapatan (return) yang maksimal. Akan tetapi, ini menjadi salah satu nilai jual hotel dan terintegrasi dengan kawasan Menteng yang (sebagian area) masih ditumbuhi oleh pohon besar dan teduh. Fasilitas ruang terbuka dan ruang terbuka hijau dapat membuat tamu betah berlama-lama berada di dalam lingkungan hotel yang asri dan teduh, jauh dari kebisingan dan kesemrawutan kota.
Jumlah kamar di Hotel Double Tree sebanyak 196 kamar dan 25 suites untuk fase pertama (tower 15 lantai), sedangkan fase ke dua akan dibangun tower 17 lantai. Ruang rapa (meeting) dan kapasitas kamar yang banyak, menjadi daya tarik untuk acara seminar dan konfrensi dalam skala besar. Yang paling penting lahan parkir luas, yang dapat memuat kendaraan dalam jumlah banyak dalam satu waktu.
Ruang terbuka, taman, dan kolam renang di Hotel Double Tree memberikan nilai lebih dibandingkan dengan hotel yang lain. Pohon-pohon yang rindang dengan suasana yang asri, serta lingkungan hotel yang akomodatif untuk anak dan keluarga, membuat pengunjung/ tamu hotel lepas dari kebisingan dan kesemrawutan kota Jakarta.
Ada 23 peserta yang memasukkan karya untuk kategori hunian. Dari 23 peserta ada dua pemenang, yaitu Rumah Swadaya, mendapat penghargaan kategori hunian dan DoubleTree mendapat penghargaan Pujian. Juri teknis untuk kategori hunian Faried MS dan Tak Tik Lam, sedangkan juri utama …,…,…
Tak Tik Lam mengatakan DoubleTree seharusnya masuk kategori komersil, karena karya tersebut berupa hotel (kamar sewa), berbeda dengan rumah atau apartemen (berupa hunian), sehingga ia hanya fokus menilai untuk karya peserta hunian saja. Sedangkan juri teknis yang lain, Faried M, memberikan penilaiannya untuk DoubleTree.
Kriteria apa yang dimiliki oleh DoubleTree sehingga mendapatkan penghargaan Pujian?
“Penghargaan ini diberikan, karena DoubleTree dianggap memenuhi 13 aspek kompetensi yang harus dimiliki seorang arsitek, yang disyaratkan untuk mendapatkan penghargaan pujian.”x
Bagaimana pendapat Bapak terhadap
karya DoubleTree?
“Design Hotel DoubleTree ini, mempunyai beberapa keunggulan yang menonjol, salah satunya adalah strategi peletakkan massa bangunan terhadap bentuk site yang tidak beraturan dan tidak ‘biasa’. Letak massa bangunan yang setback ke belakang juga memberi konstribusi terhadap lingkungan yang ada sekitarnya. Yang paling utama adalah memberi jeda dan penghijauan pada ruang kota di koridor Jl. Pengangsaan Timur.”
“Strategi ini sekaligus memberi ruang bagi dua pohon besar (eksisting) yang menjadi penanda kontekstual terhadap identitas hotel ini. Angle massa bangunan yang bersudut terhadap jalan raya juga merupakan strategi jitu terhadap arah sinar matahari langsung, sekaligus menciptakan ruang-ruang positif di area lansekapnya.”
“Di bagian muka (area main entrance) , ada ruang yang cukup lapang sebagai bagian prosesi kedatangan tamu. Pada bagian belakang tercipta ruang rekreatif yang optimal terhadap bentuk lahan. Bentukan Arsitektur Hotel DoubleTree simple, bersih , dan jelas. Namun hotel ini tetap mempunyai identitas yang spesifik. Gubahan
selubung kuning menjadi poin positif. Selain itu, tata massa, flow sirkulasi dan pengaturan space bangunan ini, memberikan pengalaman ruang yang sangat baik bagi pemakainya. Dari mulai pintu masuk, perjalanan menuju lobby, ke dalam bangunan, hingga ke area belakang, yang merupakan area rekreatif. Tata letak dan bentukan- bentukan arsitekturalnya sangat terjaga dan konsisten.”
Apakah Bapak pernah ke DoubleTree?
“Saya pernah beberapa kali mengunjungi hotel ini sebagai user/guest. Sebagai tamu, saya merasakan hotel ini seperti resort di tengah kota, tanpa harus mempunyai bentukan arsitektur hotel resort. Namun letak yang setback, sudah menciptakan suasana yang lebih rileks karena berjarak dengan keramaian kota. Flow yang nyaman, bukaan- bukaan yang optimal terhadap cahaya dan view, kemudian diakhiri dengan suasana resort yang kental pada area belakang hotel yang merupakan sarana rekreasi, sehingga bentukan massa dan arsitektural hotel ini bukan hanya baik, namun juga bisa mengakomodasi fungsinya sebagai sarana beristirahat dan rekreasi bagi pemakainya.”