DAFTAR ISI
6
22
42
60
Doubletree Hilton Jakarta
Hotel The Hermitage
Kasana Office
Rumah Swadaya
BAN
G
U
NAN
K
O
NSERV
ASI
K
O
M
ERSIAL
HUNI
AN
HUNI
AN
DAFTAR REDAKSI
IAI AWARD 2015
Pemimpin Redaksi:
Astrid Haryati, IAI
Editor:
Peter Yoga, IAI
Penulis:
Safitri Ahmad
Ellen Kusuma
Desainer & Tata Letak
POTRET ARSITEKTUR MENUJU TAHUN EKONOMI KREATIF: Pemenang Program Penghargaan IAI Jakarta 2015
2015 adalah tahun yang menarik untuk kita pelajari dan rayakan terutama dalam upaya membuka wawasan, memberikan apresiasi terhadap karya arsitektur unggulan, dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi. Melalui Program Penghargaan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta 2015 parade karya-karya yang selesai dibangun dan yang telah digunakan dalam waktu tiga tahun sebelumnya mencerminkan perjuangan para arsitek dalam konteks tantangan pembangunan perkotaan Jakarta di kurun waktu tersebut. Apakah ada peran khusus yang telah dan dapat dilakukan oleh para arsitek yang bisa membantu masyarakat luas untuk tetap mendapatkan ruang manusia yang baik? Apakah ada produk arsitektur Indonesia yang tidak banyak terpengaruh oleh tantangan makro di sekitarnya?
Berbagai fenomena dan pencapaian pemikiran dan karya arsitektural yang mendobrak dinding prestasi membuat tahun ini menjadi tahun yang unik dan penting dalam penguatan jati diri arsitektur kontemporer, di Indonesia maupun dalam konteks internasional.
Di tahun tersebut masyarakat arsitektur dunia harus menyampaikan selamat tinggal pada Michael Graves dan Charles Correa, dua tokoh yang memberikan kontribusi yang luar biasa untuk perkembangan arsitektur. Sebagai arsitek, urban planner, dan aktivis Charles Correa dikenal dengan karya arsitektur modern di era kemerdekaan negara India yang sangat responsif terhadap tantangan masyarakat dengan kemampuan ekonomi rendah dengan mengedepankan solusi, metoda konstruksi, dan pemilihan bahan bangunan berdasarkan kearifan lokal.
Michael Graves yang dikenal sebagai penggagas arsitektur post-modernisme, New Urbanism, dan New Classical Architecture yang mendobrak teori dan ideologi modernisme juga dikenal dengan karya-karya yang menantang dinamika hubungan yang problematik antara arsitektur dan ekspresi seni. Karya desain produk masalnya bahkan berhasil menembus pasar retail dengan harga yang sangat terjangkau dan membantu membentuk apresiasi yang lebih luas terhadap potensi kontribusi hasil karya arsitek di kehidupan sehari-hari kita. Dalam skalanya masing-masing, kedua tokoh arsitektur dunia ini memberikan kontribusi yang riil terhadap bentukan ruang manusia dan memberikan inspirasi di kalangan yang luas.
Pemimpin Redaksi:
Arsitektur dunia juga merayakan tahun 2015 dengan pencapaian yang sangat beragam. Di awal tahun itu telah dibuka Philharmonie de Paris karya Jean Nouvel, Whitney Museum of American Art di Meatpacking District – Manhattan New York City karya Renzo Piano, juga Darbishire Place Social Housing di London karya Niall McLaughlin Architects.
Di akhir tahun tersebut telah pula diselesaikan bangunan tertinggi di Cina dan kedua tertinggi di dunia karya Gensler yaitu Shanghai Tower, juga bangunan hunian tertinggi di dunia karya Rafael Vinoly yaitu 432 Park Avenue di Manhattan New York City, dan terselenggaranya World Architecture Festival ke-8 di Singapura.
Di tahun ini pula dunia arsitektur Indonesia mendapatkan angin segar dengan perhatian yang diberikan terhadap kontribusinya sebagai salah satu tulang punggung perekenomian nasional. Dengan adanya kepemimpinan negara yang baru, terbentuknya Badan Ekonomi Kreatif di tahun 2015 ini secara khusus memberikan dorongan agar arsitektur Indonesia juga bisa mencapai potensinya sebagai sub-sektor ekonomi kreatif yang mandiri, meningkatkan daya saingnya di dunia internasional, membuka wawasan dan apresiasi masyarakat terhadap kinerja dan nilai dari karya para arsitek, juga meraih kesempatan untuk menjadi bagian dari rencana strategis dalam menempatkan Indonesia dalam peta ekonomi kreatif dunia.
Tetapi di kurun waktu yang sama, terjadi pula perlambatan ekonomi yang membayangi kinerja industri perbankan Indonesia. Dengan adanya pengetatan kebijakan Loan to Value (LTV), di akhir tahun 2013 Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit di tahun 2014 untuk berada di bawah 16,6% yang dimana berada di bawah perkiraan tahun 2013 yaitu sebesar 20,8%. Hal ini menyebabkan naiknya suku bunga kredit dan menurunnya daya beli masyarakat untuk berbagai industri, termasuk properti, yang tentunya sangat mempengaruhi kemampuan pasar untuk mendorong perdagangan jasa arsitektur di Indonesia selama kurun waktu tiga tahun tersebut.
Lanskap kebijakan, sosial, dan perekonomian Indonesia serta beragamnya prestasi arsitektur dunia ini menjadi latar belakang yang sangat menarik dalam meneropong karya-karya arsitektur kita yang pantas dan patut diberikan penghargaan.
Dengan melihat karya-karya yang diselesaikan dan digunakan dalam kurun waktu tiga tahun sebelumnya,
Dilihat dari karya yang dinominasikan, kurun waktu tiga tahun tersebut diwakili oleh beragam karya arsitektur yang cukup menarik. Kategori fasilitas publik diwakili oleh nominasi karya berupa fasilitas pedagang kaki lima, juga fasilitas ibadah gereja dan mushola. Kategori bangunan hunian diwakili oleh beberapa hasil karya berskala bangunan tinggi serta dalam bentuk rumah tapak. Kategori bangunan komersial bisa dilihat dari berbagai fasilitas perkantoran yang dinominasikan, sementara kategori konservasi mengangkat berbagai karya yang unik termasuk hotel dan fasilitas museum sejarah.
Edisi ini secara khusus mengulas hasil karya pemenang Program Penghargaan IAI Jakarta 2015 yaitu Rumah Swadaya hasil karya Wiyoga Nurdiansyah, IAI dan Muhamad Sagitha, IAI dan Hotel Double Tree hasil karya DCM untuk kategori bangunan hunian, Kasana Office karya Gregorius Supie Yolodi, IAI untuk kategori bangunan komersial, dan The Hermitage hasil karya KIAT Arsitek untuk kategori bangunan konservasi.
Dilihat dari karya-karya yang dinominasikan dan yang menjadi pemenang untuk masing-masing kategori, daya tahan arsitektur Indonesia di bawah beratnya tempaan tantangan perekonomian terlihat cukup tinggi. Keragaman dan kualitas dari masing-masing karya ini dapat dibanggakan.
Tetapi melalui karya-karya pemenang Program Penghargaan IAI Jakarta 2015 ini yang perlu diperhatikan adalah bagaimana hasil karya arsitektur Indonesia di Jakarta benar-benar dapat berkontribusi dalam pencarian strategi pembangunan yang berkelanjutan dan tidak berkelit dari tantangan global terhadap kualitas hidup perkotaan kita kedepannya dengan berfokus pada eksplorasi solusi jangka pendek saja.
Arsitektur terbukti tidak bisa lepas dari konteks perkotaannya. Karena itu melalui ulasan karya-karya pemenang Program Penghargaan IAI Jakarta 2015 ini juga diharapkan dapat lebih dipahami latar belakang dan konteks perkembangan perkotaan yang ada dan bagaimana karya-karya ini memiliki potensi membuka wawasan dan menjadi sumber inspirasi yang dapat mendorong kolaborasi yang lebih baik antara arsitek dengan klien, mitra, dan masyarakat luas.
PROJEK OLEH: PT KIAT ARCHITECTS
BANG
U
NAN
K
ONSERVASI
H O T E L
T H E
H E R M I T A G E
BANGUNAN KONSERVASI
Hotel The Hermitage berada di pertemuan Jl. Cilacap, Jl. Semarang, dan Jl. Bandung. Pintu masuk hotel di Jl. Cilacap, sedangkan parkir di tiga area ; 1) Sisi kanan bangunan menghadap Jl. Semarang, 2) Sisi kiri bangunan menghadap Jl. Bandung. 3) Basement. Jalur jalan tidak besar, karena bangunan berada di kawasan perumahan. Di depan hotel terdapat Sekolah Dasar Negeri dan Sekolah Menengah Pertama. Dari ketiga ruas jalan di depan hotel Hermitage, jalur Jl. Cilacap mempunyai traffic (pergerakan kendaraan dan orang ) yang lebih tinggi, sedangkan jalur Jl. Semarang lebih rendah (lenggang).
Jarak pandang dari Jl. Cilacap ke Hotel The Hermitage lebih luas, karena dapat melihat keseluruhan bangunan, persamaan detil (detil jendela dan pintu) bangunan utama yang terletak di depan
khas bangunan kolonial.
Menurut Jasin Tedjasukmana dari Kiat Architects yang mengonservasi Hotel The Hermitage, bangunan utama yang menghadap Jl. Cilacap merupakan bangunan cagar budaya kategori A, sedangkan tiga bangunan lain yang terletak di sisi kanan, kiri, dan bagian belakang bangunan utama, merupakan bangunan cagar budaya kategori C. Kenapa pada satu tapak yang sama, ada dua bangunan dengan kategori berbeda? Berdasarkan hasil survey yang dilakukan, bangunan utama yang menghadap ke Jl. Cilacap mempunyai gaya neo klasik, gaya bangunan pada saat awal kawasan Menteng dibangun, sedangkan bangunan yang lain merupakan bangunan tambahan yang dibangun beberapa tahun setelah bangunan utama. Gaya bangunan ke
Sesuai peraturan Daerah DKI Jakarta tentang cagar budaya bangunan utama dengan kategori A tidak dapat dibongkar, sedangkan tiga bangunan lain dapat dibongkar karena merupakan bangunan kategori C.
Menurut Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 9 Tahun 1999 Tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Cagar Budaya, bangunan cagar budaya dari segi arsitektur maupun sejarahnya dibagi dalam 3 golongan, yaitu A, B, dan C. 1
Berikut aturan mengenai pemugaran bangunan cagar budaya Golongan A menurut Perda DKI:
Bangunan Cagar Budaya
KONSERVASI
BANGUNAN KOLONIAL
HASIL KOMPROMI
H
otel The Hermitage, berasal dari bangunan bersejarah dan mempunyai nilai
arsitektur tinggi yang dibangun pada masa kolonial, setelah dikonservasi dan
direvitalisasi menjadi hotel bintang lima. Hotel ini yang terletak di kawasan cagar
budaya Menteng, Jakarta Pusat.
Sebelum/Sesudah
BAN
G
U
NAN
K
O
NSERV
ASI
Sebelum/Sesudah
buruk, roboh, terbakar atau tidak layak tegak dapat dilakukan pembongkaran untuk dibangun kembali sama seperti semula sesuai dengan aslinya.
3. Pemeliharaan dan perawatan bangunan harus
menggunakan bahan yang sama / sejenis atau memiliki karakter yang sama, dengan mempertahankan
detail ornamen bangunan yang telah ada
4. Dalam upaya revitalisasi dimungkinkan adanya penyesuaian / perubahan fungsi sesuai rencana kota yang berlaku tanpa mengubah bentuk bangunan aslinya
5. Di dalam persil atau lahan bangunan cagar budaya dimungkinkan adanya bangunan tambahan yang menjadi satu kesatuan yang utuh dengan bangunan utama
Bangunan Cagar Budaya Golongan C
1. Perubahan bangunan dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan pola tampak muka, arsitektur utama dan bentuk atap bangunan.
2. Detail ornamen dan bahan bangunan disesuaikan dengan arsitektur bangunan disekitarnya dalam keserasian lingkungan.
3. Penambahan Bangunan di dalam perpetakan atau persil hanya dapat dilakukan di belakang bangunan cagar budaya yang harus sesuai dengan arsitektur bangunan cagar budaya dalam keserasian lingkungan.
“Dalam proses perancangan dan pemugaran Hotel The Hermitage, ada dua pilihan, yaitu ; apakah akan
merancang bangunan baru, maka bangunan tersebut harus menjadi latar dari bangunan eksisting, tidak sebaliknya, lebih menarik perhatian. Setelah berbagai pertimbangan diputuskan untuk membangun kembali dengan langgam yang sama,” kata Jasin.
Jasin menyadari bahwa bangunan terletak di daerah perumahan. Perubahan fungsi bangunan dari kantor ke hotel (komersil) tentu membawa dampak pada kawasan, antara lain ; tower bangunan yang terlalu tinggi dapat “menekan” rumah yang ada di sekitarnya. Jumlah kendaraan pada saat-saat tertentu (ada acara di meeting room) membludak dan tak tertampung, sehingga kendaraan tamu parkir di jalur jalan perumahan. Sisi lain, bangunan komersil berorientasi pada pendapatan. Bagaimana mengompromikan kedua hal itu? Bangunan kanan dan kiri dirancang dengan skala perumahan (3 lantai), sedangkan tower 9 lantai (unit kamar hanya sampai lantai 8) dirancang di bagian belakang.
Keputusan untuk membangun tower 9 lantai dengan membuat simulasi berapa kamar yang diperlukan untuk pendapatan optimal. Setelah dihitung secara rinci didapat 90 kamar kamar (88 suites dan 2 president suites) yang menyebar pada bangunan di sisi kanan dan kiri (bangunan 3 lantai) dan tower. Modul kamar mengikuti langgam fasad depan (jendela), 4m x 12m.
Untuk menentukan tinggi bangunan yang ideal, dilakukan dengan cara membuat simulasi masa bangunan, menggunakan maket, untuk melihat proporsi dan ketinggian yang imbang dengan lingkungan perumahan yang ada di sekitarnya, sehinga didapat angka 9 lantai. Ketinggian tower 9 lantai dan bangunan eksisting dengan tinggi dua lantai yang terletak di depannya berada pada jarak pandang yang terukur, artinya ketinggian 9 lantai, cukup ideal, tidak terlalu tinggi, jika dilihat dari Jl. Cilacap. Tentu tower ini terlihat sangat tinggi, jika pengamat datang dari arah Jl. Bandung dan Jl. Semarang (belakang bangunan).
dibangun kembali sesuai dengan fasad asli dengan menyesuaikan dengan fungsi baru (kamar). Garis-garis vertical bangunan dipertajam dan diperjelas dibanding bangunan asal. Sedangkan bangunan bagian belakang dibongkar, dibangun tower 9 lantai dengan fasad yang sama dengan bangunan eksisting yang ada di depannya.
Bangunan eksisting terbagi tiga bagian ; kaki, badan, dan kepala. Langgam kaki bangunan di bagian depan sama dengan langgam kaki tower 9 lantai, karena 9 lantai, maka kakinya lebih panjang. Begitu juga dengan langgam badan, dan kepala (atap) dirancang proporsional.
Bangunan eksisting di lantai 1 digunakan untuk lobby, bar, Lounge, fine dining, buffet area, restaurant, dan reception. Sedangkan lantai 2 digunakan untuk meeting room dan bussines room. Ruang eksisting di lantai 2 tidak ada sekat (berupa dinding), sehingga dibagi menjadi beberapa meeting room.
Pada awalnya bangunan ini merupakan bangunan untuk kantor, tentu saja ruang yang dirancang sesuai dengan kebutuhan kantor. Ketika berpuluh tahun kemudian berubah fungsi menjadi hotel dan ruang yang ada disesuaikan memenuhi kebutuhan hotel, maka ada perasaan “dipaksakan” ketika memasuki ruang makan (fine dining), bagi yang pernah merasakan ruang makan bangunan khas kolonial yang besar, dengan langit-langit yang tinggi dan semua jendela menghadap taman. Lahan dan ruang yang terbatas membuat arsitek tidak mempunyai pilihan untuk menjadikan ruangan kantor itu menjadi ruang makan.
BAN
G
U
NAN
K
O
NSERV
ASI
Sebelum/Sesudah
Sebelum/Sesudah
eksisting yang ada di atasnya tidak dibongkar.
“Struktur bangunan eksisting merupakan teknologi struktur awal yang ada di Indonesia, dinding berfungsi sebagai struktur vertikal –load bearing wall-, karena itu perubahan dinding hanya dilakukan sebanyak 5 % (misal jendela kecil dari dapur ke ruang saji), sisanya eksisting. Dinding menggunakan material bata dengan ketebalan 40 – 60 cm,” kata Jasin.
Menurut Jasin, “Kuda-kuda bangunan mengunakan kayu jati dan masih bagus. Beberapa kuda-kuda yang rapuh diganti atau diperbaiki. Material lain yang digunakan, seperti atap menyesuaikan dengan atap eksisting, tapi mengunakan material terbaru. Atap baru ini sedikit dimodifikasi agar bentuknya sesuai dengan eksisting. Batu eksisting dimanfaatkan untuk lantai courtyard.”
Jasin menjelaskan, marmer asli banyak yang dicukil. Marmer tersebut diganti dengan keramik 30 x 30 cm pada saat bangunan masih digunakan Universitas Bung Karno. Ketika dikonservasi, semua keramik diganti dengan marmer baru. Ada sedikit sisa marmer asli di ruang cooffe shop. “Marmer lama berwarna agak kekuningan, dibandingkan dengan marmer baru yang lebih putih, tapi marmer itu meninggalkan “jejak” masa lalu pada ruangan itu,” kata Jasin.
Pintu mengikuti ketebalan pintu eksisting. Tangga beton menuju lantai 2 dipertahankan, dan handrail yang terpasang di kanan kiri tangga dibersihkan dan diperbaiki. Dinding kaca lebar di depan tangga dibuat baru, tapi jenis kacanya dirancang agar terkesan lama.
Agar serasi antara arsitektur dan interior, maka Jasin meminta disainer interior, Tom Elliot dari PT Paramita Abirama Istasadhya merancang ruangan dengan tema Indonesia pada
masa kolonial, masa tahun 1920-an. Jasin, Tom Elliot, dan tim, mencari furnitur ke Solo dan beberapa daerah di pulau Jawa, agar mendapatkan furnitur yang original, misal lemari, lampu, dan kursi. Gentong berusia 400 tahun dari tanah liat ditemukan di salah satu mesjid di Cirebon. Dulu gentong tersebut digunakan menampung air untuk wudhu. Foto bangunan eksisting sebelum dilakukan konservasi, hitam-putih, memberikan informasi pada tamu sejarah bangunan dan detil konstruksinya. Peta Batavia dan peta Menteng difoto ulang dan diperbesar menjadi hiasan dinding.
Courtyard dipertahankan agar terdapat ruang terbuka di tengah bangunan yang berfungsi untuk memasukkan sinar matahari, sirkulasi udara, dan melakukan kegiatan di ruang luar secara private (out door dining, membaca, dan beristirahat). Courtyard menguatkan karakter arsitektur kolonial.
Pekerjaan konservasi membutuhkan koordinasi secara terus menerus dan intens dari semua pihak yang terlibat dalam proses pengerjaannya ; arsitek, interior desainer, kontraktor, dan mekanikal elektrikal. “Semua harus diputuskan on the spot, setelah itu dibuat gambar kerja,” ujar Jasin, sehingga setiap keputusan yang dibuat merupakan keputusan yang disetujui oleh semua pihak, misal pemasangan instalasi AC di dalam ruangan, agar ruangan tetap tampil elegan, AC dirancang seperti balok (eksisting). Secara visual, balok tersebut “seakan-akan” bukan instalasi AC, tapi balok eksisting.
Menurut Jasin, Hotel The Hermitage merupakan hotel pertama di Jakarta yang dibangun melalui proses konservasi dan revitalisasi. Semua prosedur operasional konservasi bangunan lama dilakukan, antara
lain ; pendokumentasian lengkap (kondisi sebelum konservasi, selama penanganan konservasi, dan pasca konservasi. Pemilihan material yang diupayakan sama atau mendekati aslinya. Setelah direvitalisasi bangunan terlihat lebih baik dari sebelumnya dan dapat dimanfaatkan secara optimal menjadi hotel.
Perjalanan bangunan lama ini menjadi Hotel The Hermitage cukup panjang dan butuh kompromi dari banyak pihak. Di mulai dari mendapatkan perizinan dari Tim Sidang Pemugaran (TSP) dan Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG) dulu bernama TPAK. Banyak pihak yang berharap bangunan ini tampil “apa adanya”, dengan sedikit perubahan yang tidak signifikan. Akan tetapi, kebutuhan hotel yang kompleks menyebabkan perlu banyak fasilitas yang perlu diakomadasi pada lahan yang terbatas, salah satunya pengerjaan basement. Tenaga ahli yang terlibat dalam proyek ini ; arsitek, desainer interior, sipil, dan Mekanikal elektrikal harus bekerja secara simultan. Arsitek pengawas pada saat tertentu harus datang setiap hari untuk memastikan pekerjaan sesuai rencana.
BANGUNAN KONSERVASI
Location
Jl. Cilacap 1 Menteng - Jakarta
Client / Owner
PT Wijaya Wisesa
Principal Architect
Ir. Jasin Tedjasukmana
Architectural Consultant
PT KIAT ARCHITECTS
Wisma MRA lt 16
Jl. TB Simatupang No. 19
Cilandak Barat
Jakarta 12430
T 021 – 27651310
F 021 – 27651303
Interior Design
PT Paramita Abirama Istasadhya (Tom Elliot)
Landscape Architect
Tropica Greeneries
Construction Management
In House
Quantity Surveyor
In House
Structural Consultant
PT Rekatama Konstruksindo
MEP Consultant
PT Asdi Swasatya
Main Contractor
PT Total Bangun Persada
Lighting Design
Hadi Komara
Project Manager
PT Total Bangun Persada
Design
2010-2011
Construction Period
2012-2014
Completion
2014
Building Area
20.000 m²
Land Area
4092 m²
Building Height
9 storeys
Total # Bays & Keys
95 bays & 89 keys
Room mix
88 suites & 2 president suites
All Day Dining
110 seats
Other F&B
Lobby Lounge / Bar, restaurant
Meeting Space
40-350 m²/ 5 meeting rooms
Leisure facilities
Outdoor Pool, Gym, Spa
BANGUNAN KONSERVASI
TARIK ULUR
PERUBAHAN FUNGSI
BANGUNAN CAGAR
BUDAYA MENJADI
HOTEL
SAFITRI AHMAD
Salah satu bangunan tua yang memberi nilai tambah pada kota Jakarta adalah Hotel The Hermitage. Tahun 1923-1924 bangunan ini berdiri dan dinamakan Telefoongebouw, berfungsi sebagai kantor, kemudian menjadi kantor Pusat Komite Nasional Indonesia, setelah itu kantor Departemen Pendidikan dan terakhir digunakan oleh Universitas Bung Karno. Beberapa kali mengalami perpindahan kepemilikan dan pengunaan bangunan, untuk kantor dan ruang kuliah.
Tahun 2008, PT. Menteng Heritage Realty (MHR) pemilik bangunan
bangunan diubah fungsinya menjadi Hotel The Hermitage yang berada dibawah pengelolaan operator GLA (Grace Leo Associates).
Bagaimana mengonservasi dan meningkatkan nilai ekonomi bangunan lama tanpa mengubah arsitektur dan jiwa bangunan, tapi tetap mengakomodasi kebutuhan dan gaya hidup masyarakat yang menggunakannya (sesuai masa) ? Sebagian besar bangunan tua menjadi toko baju, toko makanan, dan café. Akan tetapi, perubahan peruntukan bangunan tua yang sebelumnya berfungsi sebagai kantor menjadi hotel, membuat perubahan yang signifikan pada
Skenario Perubahan Fungsi Bangunan Kolonial Dari Kantor atau Rumah Menjadi Hotel
Ada tiga skenario perubahan fungsi rumah atau bangunan bangunan kolonial menjadi hotel ; (1)Tidak ada penambahan bangunan baru, hanya perbaikan dan renovasi –tampil apa adanya- (2) Bangunan utama dipertahankan. Untuk memenuhi kebutuhan hotel dibangun bangunan baru pada lahan yang ada di sekitarnya, atau (3) Sebagian bangunan dipertahankan dan sebagian lain dibongkar dan dibangun baru dengan
S
alah satu masalah perkotaan adalah menyelamatkan bangunan tua, baik bangunan
tradisional maupun bangunan peninggalan kolonial. Banyak bangunan tua yang
tidak dapat diselamatkan, karena tidak ada negosiasi dalam masalah kepemilikan,
regulasi, dan peruntukan bangunan yang berhubungan dengan biaya perawatan dan
pemeliharaan. Hal lain yang lebih mendasar adalah ketidakmampuan meningkatkan nilai
ekonomi bangunan tersebut, sehingga memberi nilai tambah pada kota. Perlu kreatifitas
BANGUNAN KONSERVASI
hanya perbaikan dan renovasi –tampil apa adanya –misalnya ; Mustokoweni The Heritage Hotel, Yogyakarta. Rumah tersebut dibangun pada awal abad ke-20 atau kira – kira tahun 1920-an. Bangunan rumah tinggal dengan kombinasi gaya arsitektur Indish-Jawa yang difungsikan sebagai hotel sejak tahun 1977. Hotel milik Ibu Larasati Suliantoro Sulaiman merupakan hotel yang mempunyai citra sebagai The Heritage Hotel.1
Skenario kedua
Bangunan utama dipertahankan, untuk memenuhi fasililtas hotel (kamar) dibangun bangunan baru pada lahan yang ada di belakangnya, contoh Hotel Sidji, Pekalongan.
Bangunan dengan arsitektur kolonial ini dibangun tahun 1918, milik pasangan Hoo Tong Koey (1885-1964) dan Tan Seng Nio. Bangunan ini kemudian diwariskan ke anak, cucu, dan cicit. Karena tidak ada lagi keluarga yang menempati, maka diputuskan untuk mengubah fungsi rumah menjadi hotel butik (bukan hotel bisnis) dengan kapasitas
76 kamar dan tiga suite.
A boutique hotel is a small hotel which typically has between 10 and 100 rooms[1] in unique settings with upscale
sedangkan bangunan lain (di bagian kiri bangunan utama ) yang berfungsi sebagai gudang, paviliun bagi tamu yang menginap, ruang keluarga, ruang makan, dua kamar mandi, dan dua WC, dibongkar.
Bangunan utama terdiri dari ruang tamu dan 4 kamar. Ruang tamu menjadi lobby dan kamar menjadi ruang rapat (meeting room). Sisa tanah yang terdapat di belakang bangunan utama cukup luas, dibangun bangunan baru dengan pola U, untuk kamar. Bangunan baru ini bergaya minimalis, tidak terinspirasi atau menyerupai bangunan utama yang bergaya kolonial. Di bawah bangunan baru terdapat basement untuk menampung kendaraan. 3
Skenario ketiga
Hotel The Hermitage, Jakarta. Bangunan terdiri dari empat sisi bangunan yang diikat oleh courtyard di bagian tengah. Bangunan yang terletak di bagian belakang dibongkar dan dibangun bangunan baru (tower 9 lantai). Pembongkaran dan pembangunan kembali menyesuaikan diri dengan detil rancangan arsitektur bangunan utama yang ada di depannya. Pembongkaran dan pembangunan kembali dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hotel (kamar, parkir, ruang rapat, dan fasilitas lain).
dan perbedaan yang mendasar. Akan tetapi, jika bicara bangunan cagar budaya, maka tujuan utama dari bangunan itu adalah mempertahankan dan melestarikan bangunan, agar jejak arsitektur pada “masanya” tidak hilang. Penghilangan keunikan arsitektur pada masanya atau kekhususan yang melekat pada bangunan itu, akan menghilangkan jejak arsitektur kota.
Apakah ketiga skenario itu dapat diterapkan di kawasan Menteng, Jakarta? Hotel The Hermitage terletak di Jakarta, sedangkan dua bangunan yang lain di Pekalongan dan Yogya. Jakarta mempunyai daya tarik ekonomi yang sangat kuat, mengambil keuntungan sebesar-besarnya, merupakan sistem ekonomi yang dominan di Jakarta. Akan tetapi, pada dasarnya setiap pihak yang “memiliki” bangunan lama berhak menentukan pilihan dari ketiga skenario itu.
BANGUNAN KONSERVASI
kebutuhan hotel dengan target komersil yang diinginkan. Jika bangunan tampil “apa adanya”, keuntungan yang ingin diperoleh tidak tercapai.
Selalu ada tarik ulur dalam melestarikan bangunan tua, antara kepentingan ekonomi dan pelestarian. Dalam hal ini Tim Sidang Pemugaran (TSP) berusaha melestarikan dan menyelamatkan bangunan dan situs cagar budaya yang ada Jakarta. Untuk itu, semua proyek yang berhubungan dengan bangunan cagar budaya harus mendapat izin dari TSP.
Setiap pihak mempunyai pandangan yang berbeda-beda dalam melestarikan bangunan cagar budaya, dan berusaha untuk saling berkompromi satu dengan yang lain. Satu sisi kepentingan ekonomi terakomodasi, sedangkan sisi yang lain pelestarian bangunan tidak berabaikan dan situs cagar budaya dapat dinikmati warga.
Bagaimana aturan main, “memperlakukan” bangunan cagar budaya sebagai aset ekonomi ? Seharusnya berbeda dengan bangunan biasa. Akan tetapi, belum ada aturan main yang jelas, apa saja rambu-rambu yang perlu dilalui, ketika sebuah bangunan cagar budaya berubah fungsi menjadi hotel (komersil). Selain itu, Bangunan cagar budaya mempunyai “nilai” khusus yang terikat dengan publik.
“Walau milik swasta, sebenarnya bangunan itu memiliki muatan publik, karena aspek cagar budaya yang
diterapkan untuk publik,” (Bambang Eryudhawan, Ketua Tim Sidang Pemugaran Jakarta).
DAMPAK HOTEL THE HERMITAGE PADA LINGKUNGAN SEKITAR
Aspek Transportasi dan Arus Pergerakan di Sekitar Hotel
Hotel The Hermitage terletak di 3 jalur jalan yaitu ; Jl. Cilacap, Jl. Semarang, dan Jl.Bandung. Ketiga jalan tersebut merupakan jalur jalan perumahan. Di Jl. Cilacap di depan Hotel The Hermitage terdapat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Pada waktu-waktu tertentu (pagi) dan pulang sekolah, pergerakan/arus pergerakan kendaraan dan orang di jalan itu tinggi.
Perubahan fungsi bangunan Hotel The Hermitage dari peruntukan kantor menjadi hotel menyebabkan peningkatan jumlah kendaraan dan orang di dalam dan di sekitar bangunan hotel. Salah satu cara menambah kapasitas parkir dengan membuat basement dan parkir di sisi kanan dan kiri bangunan. Akan tetapi, pada saat-saat tertentu, jumlah kendaraan yang parkir akan meningkat dan melebihi kapasitas parkir, maka jalur jalan di sekitar hotel terpaksa digunakan untuk parkir sementara.
Dampak Ekonomi Lingkungan di Sekitar Hotel
Hotel The Hermitage merupakan hotel mewah dan ekslusif dengan bangunan kolonial dan disain interior bertema Indonesia tahun 20-an. Ini merupakan daya tarik bagi tamu. Pada saat survei, Mutia Sari, Public Relation Manager Hotel The Heritage mengatakan bahwa sebagian besar tamu merupakan warga asing. Ini menjelaskan ketertarikan warga asing untuk menginap di hotel konservasi ( bangunan lama), sangat tinggi. Mereka menghargai karya arsitektur kolonial dan suasana yang dihadirkan dalam disain interior.
Potensi warga asing yang menginap di hotel dapat dikembangkan dengan meningkatkan potensi wisata di sekitar hotel ; misal wisata bangunan tua, wisata barang antik (di Jl. Surabaya), wisata kuliner nusantara (Bunga Rampai), dan wisata sejarah (ke Museum).
Kawasan Menteng, lokasi Hotel the Hermitage, merupakan kawasan perumahan yang dibangun pada masa pemerintahan Kolonial, banyak bangunan kolonial dengan rancangan arsitektur yang unik dan menarik yang masih tersisa. Sebagian bangunan berubah fungsi menjadi peruntukan komersil, misal menjadi café, toko barang antik, kerajinan khas Indonesia, dan kuliner. Tingginya warga asing yang berkegiatan di kawasanMenteng menjadikan kawasan ini berkembang menjadi kawasan wisata “berkelas”.
1. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/2014/11/25/hotel-mustokoweni-yogyakarta 2. https://en.wikipedia.org/wiki/Boutique_hotel diakses 20/01/2017 pukul 10:18 WIB)
JUMLAH DAN JENIS KAMAR HOTEL BERBINTANG 4 DAN 5
1 General Manager
Suites
dan President
suites
Suites
dan President
suites
Suites
dan President
suites
65-100
100-200
1 General Manager
2 General Manager
200-350
Jumlah Kamar
Jenis Kamar
Jumlah Kamar
Jenis Kamar
Jumlah Kamar
Jenis Kamar
BAN
G
U
NAN
K
O
NSERV
ASI
Bangunan Konservasi merupakah salah satu kategori penghargaan utama yang diberikan oleh IAI Jakarta pada IAI Jakarta Awards 2015. Penghargaan diberikan pada peserta yang berupaya merancang bangunan yang memenuhi kaidah-kaidah arsitektur yang perwujudannya untuk perlindungan, pelestarian, pemeliharaan, dan peremajaan. Dalam konteksnya dapat berupa bangunan konservasi, renovasi, rehabilitasi, restorasi, dan revitalisasi.
Ada dua orang juri untuk kategori konservasi, Arya Abieta dan Nadia Purwestri. Apa pendapat juri tentang proyek konservasi Hotel The Hermitage yang mendapat penghargaan? Arya salah seorang juri memberikan pendapatnya.
Berapa banyak proyek konservasi yang mengikuti penghargaan IAI Jakarta 2015?
“Pada tahun 2015 peserta yang mengirimkan karya untuk kategori konservasi hanya 3 karya yaitu ;
1 Hotel The Hermitage, bangunan kantor yang berubah fungsi jadi hotel di Jl. Cilacap, Menteng, Jakarta Pusat.
2 Istal kuda yang berubah
fungsi menjadi gudang di Museum Sejarah Jakarta. 3 Perancangan gudang di
Museum Wayang, Jakarta.
“Jumlah karya masuk ke panitia sayembara sedikit, karena proyek sejenis tidak banyak. Karya yang masuk hanya berdasarkan pekerjaan yang dilakukan pada bangunan/kawasan cagar budaya dan masuk dalam kriteria konservasi.”
“Akhirnya juri memutuskan Hotel The Hermitage yang pendapatkan penghargaan kategori konservasi, dengan pertimbangan apa?
“Tentu saja, tiga karya yang masuk tidak dapat disandingkan satu dengan yang lain dalam sebuah penghargaan kategori konservasi. Akhirnya, juri kategori konservasi memilih Hotel The Hermitage, karena karya tersebut mempunyai tingkat kesulitan dan masalah yang lebih kompeks dibandingkan dengan karya yang lain.”
“Juri menganggap perancangan Hotel The Hermitage merupakan sebuah proses kreatif dengan berbagai batasan yang ada, untuk memasukkan fungsi-fungsi baru pada bangunan konservasi. Arsitek mampu memecahkan semua
masalah arsitektur dan diselesaikan dengan cara yang baik.
“Kecerdasan arsitek adalah bagaimana bangunan masa lalu dapat digunakan untuk masa sekarang. Kami, juri mengapresiasi upaya ini, karena secara professional mencoba menggabungkan kutub komersial dan pelestarian. Ideal atau tidak ideal tergantung dari sisi cara pandang masing-masing. Jasin, arsitek dari Kiat Architects mampu membuat bangunan itu mempunyai nyawa, walau dari sisi lain, lahannya sangat terbatas dan kapasitas parkir tidak memadai pada waktu-waktu tertentu.”
Apakah Bapak pernah mengunjungi bangunan itu sebelum menjadi hotel?
“Saya pernah mengunjungi bangunan ini sebelum jadi hotel. Bangunan ini cukup unik, balkonnya dari kayu. Setelah jadi hotel, jika dilihat sekilas hampir sama dengan bangunan lama, tapi setelah diperhatikan lebih detil, ada yang berbeda, tidak banyak. Tentu menyesuaikan dengan fasilitas hotel.”
Pendapat Tamu Hotel The Hermitage
Bagaimana pendapat tamu yang menginap di Hotel The hermitage? Beberapa pendapat diambil dari review traveloka. Bangunan klasik dan ikonik, serasa menginap di rumah Gubernur Belanda. Setiap tempat di hotel ini fotogenik, karena rancangan interior didesain secara mewah. Lokasi yang strategis dekat dengan pusat bisnis, mal, dan pusat kuliner (Metropole). 1
Lokasi sangat tidak strategis, di dalam komplek perumahan, jauh dari pusat kota dan akses jalan yang sempit. Kolam renang kecil sekali dan khusus dewasa, anak anak tidak bisa berenang karena kolamnya dalam (kolam renang terdapat di tower 9 lantai paling atas), ruang fitnes sempit sekali dan hanya ada 3 alat. Bagian lobi hotel dan ruang-ruang di bagian lain sempit,
BAN
Arya Abieta dan Nadia Purwestri.
Sebelum dibangun Hotel The Hermitage harus melalui sidang Tim Penasehat Arsitektur Kota (TPAK), sekarang bernama TABG (Tim Ahli Bangunan Gedung) dan Tim Sidang Pemugaran (TSP). Hotel The Hermitage berlokasi di kawasan Menteng dan merupakan bangunan cagar budaya. Untuk itu, proyek ini harus melalui Sidang Pemugaran yang beranggota dari berbagai profesi antara lain ; arsitek, budayawan, dan arkeolog. TSP memberikan izin, rekomendasi, dan catatan terhadap proyek yang diajukan ke sidang. Sidang dilaksanakan setiap hari Senin.
Ketua Tim Sidang Pemugaran, Bambang Eryudhawan periode 2014-2017 dan 2014-2017-2020 menjelaskan proses perizinan yang diperoleh Hotel The Hermitage.
“Bagaimana proses perizinan Hotel The Hermitage di Sidang Pemugaran?”
“Kami mengetahui kronologis perpindahan kepemilikan dan penggunaan bangunan ini dari satu pihak ke pihak yang lain. Semula dimiliki oleh Direktorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan kemudian dijual ke pihak swasta. Pihak swasta akan menggunakan proyek ini untuk apa, sehingga dapat memperpanjang usia bangunan itu. Tentu Kami berharap bangunan itu tetap dipertahankan seperti adanya. Akan tetapi, dalam setiap proyek cagar budaya selalu selalu ada tarik ulur dan toleransi.”
“Proses perizinannya agak rumit dan akhirnya diizinkan. Bangunan kategori A di Jl. Cilacap direstorasi sehingga menjadi bangunan yang lebih baik dari sebelumnya. Bangunan yang terletak di kanan dan kiri dibongkar untuk dibuat basement dan memenuhi fasilitas hotel, kemudian dibangun kembali.”
“Tower (bangunan belakang yang dijadikan tower 9 lantai) sempat menjadi kontroversi, karena banyak yang tidak setuju adanya menara di tapak itu, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya disetujui dengan beberapa catatan ; antara lain ketinggian tower dikurangi.”
Apakah Bapak pernah ke bangunan itu setelah jadi hotel?
“Saya pernah sekali ke Hotel The Hermitage, kebetulan ada acara di sana. Bangunan itu jadi baru, fresh, sesuai dengan kebutuhan hotel.”
“Dalam penanganan bangunan cagar budaya di seluruh dunia ada dua mazhab ; 1) Bangunan lama jadi baru, tapi tidak merubah bentuk. Jika merubah bentuk tidak dominan, aslinya masih terlihat. 2) Ada yang berusaha mempertahankan bangunan itu apa adanya, rehabnya terbatas, agar suasana “lama” masih terasa. Itu pilihan.”
“Walau milik swasta, sebenarnya bangunan itu memiliki muatan publik, karena aspek cagar budaya yang diterapkan untuk publik. Masyarakat
dapat manfaat dengan menikmati bangunan tersebut, dengan demikian fungsi sosial dari cagar budaya tersebut terpenuhi.”
“Selama ini bangunan itu dapat diakses publik (digunakan oleh Universitas Bung Karno), sekarang menjadi milik swasta dan jadi hotel. Tidak semua orang dapat mengunjungi dan menikmati bangunan itu lagi. Walaupun menjadi milik swasta seharusnya ada aturan, agar bangunan cagar budaya tetap dapat diakses publik atau komunitas, misalnya dengan mengadakan open house 2-3 bulan sekali, secara berkala.”
Istana Bogor, setiap ulang tahun kota Bogor, selalu mengadakan open house ( 5 hari). Warga dapat mengunjungi istana dengan syarat berusia di atas 10 tahun, berpakaiaan bebas rapi, sopan dan bersepatu, tidak diizinkan membawa tas dan makanan. Warga dapat menikmati bangunan dan ruang-ruang yang ada di dalamnya, serta koleksi lukisan, patung, dan benda seni lainnya. Ada area tertentu yang diizinkan untuk diakses warga, antara lain bangunan, taman depan dan taman belakang (f).
“Yang paling penting, bangunan itu masih lestari dan setiap orang dapat mengakses bangunan tersebut.”
PROJEK OLEH: PT DUTA CERMAT MANDIRI
HUNI
AN
D O U B L E T R E E
H I L T O N
J A K A R T A
HUNIAN
JIWA KAWASAN
MENTENG DALAM
RANCANGAN HOTEL
DOUBLE TREE
H
otel DoubleTree by Hilton Jakarta - Diponegoro terletak di Jl. Pengangsaan Timur,
bersebelahan dengan pasar Cikini, dan Universitas Bung Karno. Pintu masuk
utama tidak lebar dan mencolok, sehingga harus seksama melihat papan nama
hotel, agar tidak terlewat. Padahal dari kejauhan, tower berbentuk bidang datar lebar yang
didominasi warna biru dan kuning sudah jelas terlihat, sangat ikonik.
SAFITRI AHMAD
Jarak antara pintu masuk utama dan lobby tidak terlalu jauh. Ada pohon besar, eksisting, di depan hotel, sangat signifikan, dengan batang dan cabang yang besar dan tajuk yang rindang. Sebagian cabang pohon menabrak bangunan, tampak jelas sisi bangunan yang ditabrak mengalah-menyesuaikan diri dengan cabang pohon-. Kendaraan masuk dan keluar mengelilingi pohon besar itu. Kesan dari luar, lahan terbatas, akan tetapi di dalam terasa luas, karena kondisi lahan yang mengantong.
Dari pohon dan bentuk bangunan, ada dua cerita yang ingin disampaikan, bahwa pohon tumbuh dan berkembang dari masa lalu dan menjadi bagian dari masa kini. Sedangkan bangunan, lahir dari masa kini dan merupakan produk perkembangan kota. Mereka dihadirkan dalam masa yang sama, walau lahir pada masa yang berbeda.
hektar itu direncanakan akan dibangun dua tower , yaitu 15 lantai pada fase pertama dan 17 lantai pada fase kedua. Peruntukan tower 15 lantai untuk kamar hotel dan tower 17 lantai untuk apartement resident.
Fase pertama pembangunan terdiri dari tower 15 lantai (196 kamar dan 25 suites). Ruang makan dengan kapasitas 160 tempat duduk, lobby lounge/bar, 65 tempat duduk untuk restauran-mediterranean cuisine-, 400 seat banquet/ 4 ruang meeting, ball room, kolam renang terbuka, gym, dan spa.
Pada fase kedua akan dibangun tower 17 lantai, di dekat Jl. Kimia. Jalur jalan dari arah Jl. Kimia sudah dibangun pada fase pertama, sehingga tamu/penghuni apartemen dapat menggunakan akses jalan dari Jl. Kimia, (tidak perlu melalui
Tahapan jalur sirkulasi tamu ; naik menuju lobby yang terletak di lantai 2, mengitari taman berbentuk segi empat dan pohon besar, menurunkan penumpang di area drop off, lalu kendaraan menuju basement. Sedangkan jalur sirkulasi service, langsung menuju area service yang terletak di lantai 1.
Parkir dirancang khusus di basemen, agar lahan yang tersedia digunakan untuk ruang terbuka ; taman, kolam hias, dan hamparan rumput. Ada 3-4 taksi khusus (mewah) yang parkir di depan lobby, sedangkan semua kendaraan harus parkir di basemen.
HUNIAN
Sisi kanan bangunan menjadi jalur sirkulasi kendaraan menuju dan keluar basement, pergerakan kendaraan di dalam lahan dibatasi dari pandangan tamu, hanya kendaraan di depan lobby, area drop off -area menaikkan dan menurunkan tamu- yang terlihat. Mengurangi/menutup pergerakan kendaraan dari pandangan tamu di dalam lahan akan berdampak secara psikologis.
ORIENTASI DAN MASA BANGUNAN
Orientasi bangunan pada skala podium dan skala tower. Pada skala podium, (fungsi publik hotel), orientasi mengarah ke depan, menghadap Jl. Pengangsaan Timur. Dari lobyy, tamu dapat menyaksikan kesibukan kota, melihat kereta api yang sedang berjalan di atas rel di stasiun Cikini, jalur jalan Pengangsaan Timur yang padat oleh kendaraan, dan bangunan di depan hotel. Orientasi ini mengikat tamu terhubung dengan jalan. Walaupun tapak dirancang tertutup (bambu menutup rapat tapak dari lingkungan sekitar), tapi pada bagian depan, sengaja dirancang terbuka, sehingga ada perasaaan terhubung dengan kota.
Pada skala tower, orientasi mengarah ke Utara-Selatan, menghindari sinar matahari langsung masuk kamar. Posisi ini menyebabkan bidang datar tower 15 tidak berhadapan langsung dengan jalur Jl. Pegangsaan Timur, tapi miring. Ini menyebabkan bidang tower ke arah Barat menghadap node Jl. Proklamasi , Jl.Cikini, dan Jl. Pegangsaan Timur, sehingga mudah dilihat dari perempatan jalan tersebut, sedangkan ke Timur mengarah ke kolam renang terbuka dan Universitas Bung Karno.
Orientasi tower memancing keingintahuan dari kejauhan. Ibarat sebuah pintu yang terbuka, dan setiap orang berusaha untuk mendekat dan memasukinya.
Koridor yang menuju ruang meeting (lantai 2) tegak lurus dengan tower. Koridor ini sejajar dengan masa
bangunan spa dan gym. Sedangkan koridor yang menuju tower 17, tegak lurus dengan Jl. Pegangsaan Timur, koridor ini disamarkan oleh toko dan business center, sehingga bila berjalan dari arah tower 17 tidak akan langsung terlihat Jl. Pengangsaan Timur, tapi tertutup dinding toko (saat ini dijadikan ruang multi fungsi).
Jalur sirkulasi di dalam bangunan ini mengarahkan tamu ke berbagai ujung dan kegiatan yang berbeda-beda. Ada dua area yang mempunyai jalur sirkulasi yang jelas dan tegas, misal dari lobby ke ball room atau dari lobby ke meeting room. Jalur ini lurus, langsung, dan tujuan yang akan dicapai jelas. Tapi, di area kolam renang, spa dan gym, dan restoran, jalur sirkulasi dirancang berkelok-kelok, santai, rileks, dan menimbulkan rasa keingintahuan. Perbedaan konsep sirkulasi berdasarkan peruntukan ruang.
Sirkulasi berupa garis lurus memberikan kesan tegas dan jelas, sedangkan sirkulasi yang berkelok-kelok memberikan kesan santai dan rileks.1
Selain itu, jalur sirkulasi menyebabkan setiap orang yang bergerak dari satu area (kegiatan) ke area (kegiatan) yang lain harus berjalan melalui beberapa area (kegiatan), tidak bisa langsung, misal dari dari kamar ke gym, dapat melalui lobby utama, ruang makan, dan spa.
SOSOK TOWER 15 LANTAI
Tower 15 seperti bidang datar besar yang di bagian tengah terdapat dua kubus yang “seakan-akan” keluar dari bidang datar itu dan tiga kubus yang masuk (hilang di dalam bidang). Ini menjadi aksen dari bidang besar itu.
Deretan jendela yang tersusun rapi pada bidang datar itu dengan mudah ditebak, kamar. Posisi lift dan tangga darurat juga terlihat jelas dari arah depan (Barat).
Rancangan tower 15 yang terdiri dari bidang datar, garis-garis lurus, dan kubus, mengambarkan rancangan urban yang sesuai dengan perkembangan kota Jakarta. Dari samping, tower berlantai 15 ini terlihat seperti dua masa bangunan yang berdekatan dan saling terhubung oleh garis lurus di bagian tengah. Garis lurus berupa dinding kaca tipis, tempat sinar matahari masuk menerangi selasar (koridor) kamar.
“DCM selalu membagi-bagi bangunan, kami tidak ingin bangunan berkesan gemuk”, kata Budiman Hendropurnomo, principal arsitek DCM (Duta Cermat Mandiri) yang merancang Hotel DoubleTree. Kedua masa bangunan itu sengaja dirancang berselisih untuk memberikan kesan dinamis. Jika kedua bangunan itu dilihat dari posisi tertentu, ada kesan “gerak”, bergerak saling mendekat dan menempel satu dengan yang lain, atau sebaliknya, bergerak menjauh, pada satu garis. Kesan ini yang ingin ditampilkan DCM, sehingga tidak muncul kesan, satu bangunan besar yang dibagi dua sama besar, jika tidak ada selisih di antara keduanya.
Kedua bangunan itu tidak menempel/ berpijak di atas tanah, tapi ditopang oleh kolom-kolom yang ramping. Seirama dengan bentuk bangunan yang tinggi menjulang.
LANSEKAP
HUNIAN
Arsitek lansekap menjadi bagian dari team DCM (tidak dari konsultan lain), sehingga selalu terintegasi antara arsitektur dan lansekap dalam merancang tapak. Tapak sebelumnya merupakan lahan kosong yang ditumbuhi tanaman liar. “Ada tiga pohon besar yang dipertahankan, tapi salah satu pohon mati pada saat proses pembangunan”, kata Budiman. Salah satu misi pembangunan Hotel DoubleTree adalah melestarikan pohon-pohon eksisting, merancang ruang terbuka hijau dan “memberikan”nya sebagai ruang terbuka hijau kota.
Di depan hotel, satu pohon eksisting trembesi (Samanea saman) berukuran besar dan pohon palem raja (Roystonea regia) berjejer di bagian pintu masuk. Palem raja berfungsi sebagai pengarah.
Ruang terbuka hijau dan ruang terbuka
dewasa dan kolam renang anak. Ruang terbuka hijau menyebar di pinggir kolam renang dan di pulau yang terletak di tengah kolam renang dewasa. Di area dekat kolam renang di dominasi tanaman dadap merah (Erythrina cristagali), palem, Philodendron bipinnatifidum, dan kelapa (Cocos nucifera). Pemilihan tanaman di dekat kolam renang didominasi oleh jenis tanaman yang tidak berbunga, tapi sebagai aksen terdapat bunga merah pada tanaman dadap merah. Kelapa memberikan suasana relaks.
Jalur sirkulasi dirancang berkelok-kelok sehingga pengunjung dapat menikmati beragam pengalaman ruang di sekitar kolam renang. Pulau di bagian tengah kolam renang memberikan pengalaman berbeda, karena berada di antara air. Jembatan penghubung menuju pulau dipagar dengan kaca, sehingga pandangan lepas tidak tertutup. Untuk
diskusi. Mereka duduk di atas pagar, berjejer dan saling berhadapan, serta membangun diskusi di area ini.
Seluruh pandangan menuju kolam renang dirancang terbuka, termasuk dari arah podium. Pohon Ketapang Kencana (Terminalia Catappa) dirancang di restoran di dekat kolam. Pohon mempunyai tekstur daun yang halus, sehingga tidak menutup pandangan dan memberikan kesan ringan pada area ini. Tajuk yang lebar dan rapat menaungi ruang-ruang yang ada di bawahnya. Cabang pohon yang satu menyatu dengan pohon yang lain.
HUNIAN
ruang luar yang mengarah ke konsep tropis.
The Various elements the Japanese garden is made of –plants, stones, sand, and ornaments have become so well know that they are now representative of the garden themselves.2
Dari lantai 15, terlihat garis-garis atap yang menaungi ruang-ruang yang ada di bawahnya. Ada garis atap yang sejajar satu dengan yang lain, tapi ada garis atap yang membentuk sudut. Agar terlihat dinamis, atap dibentuk menjadi bidang diagonal yang diisi dengan warna hijau, putih, dan abu-abu. Warna hijau mengesankan rumput, tapi jika diperhatikan lebih baik seperti karpet. Sedangkan warna putih dan abu-abu menggunakan batu alam putih dan abu-abu, dilekatkan ke atap, agar polanya tidak berubah.
Yang menarik, atap yang menaungi ruang spa dan gym, bentuk atap itu
Jika mengacu ke misi hotel DoubleTree “memberikan” ruang terbuka hijau untuk kota, maka seharusnya ruang yang tersedia dan memungkinkan, digunakan untuk ruang terbuka hijau sebesar-besarnya, misal ruang di atas atap. Ruang di atas atap dapat dirancang dengan untuk taman atap (roof garden).3
1. A garden on the roof of a building, especially one found in an urban setting.
2. The roof or top floor of a building designed for use by the public that often contains outdoor seating or dining facilities.
JIWA KAWASAN MENTENG DALAM RANCANGAN
Bagi yang mengenal “Menteng” yang terbayang adalah kawasan perumahan yang asri, teratur, rumah dan bangunan bergaya kolonial, kawasan yang
Merancang bangunan yang terinspirasi dari gaya kolonial merupakan pilihan yang sederhana. Akan tetapi, apakah pilihan itu realitis, bila diterapkan pada bangunan hotel bintang 4 dengan tuntutan fasilitas yang lengkap dan jumlah kamar yang banyak? Gaya kolonial mempunyai pakem-pakem tersendiri yang tidak mungkin dipaksakan pada kebutuhan ruang dan fasilitas dengan kondisi tertentu.
HUNI
AN
Location
Pegangsaan Timur, Cikini, Menteng - Jakarta
Client / Owner
PT Nurtirta Nusa Lestari
Principal Architect
Ir. Budiman Hendropurnomo IAI FRAIA
Ir. Dicky Hendrasto
Architectural Consultant
DCM – PT Duta Cermat Mandiri Denton Corker Marshall Jakarta
Wijaya Grand Centre Blok G-30 Jl Wijaya II, Kebayoran Baru
Jakarta 12160 - Indonesia
W www.dentoncorkermarshall.com
E [email protected]
T 021 –721 0210
F 021 – 720 2926
Interior Design
DCM - PT Duta Cermat Mandiri
Landscape Architect
DCM - PT Duta Cermat Mandiri
Construction Management
-Quantity Surveyor
PT Davis Langdon & Seah
Structural Consultant
PT Bentara Karya Mandiri
MEP Consultant
PT Makesthi Enggal Engineering
Main Contractor
PT Tatamulia Nusantara Indah
Lighting Design
-Project Manager
Design
2009 – 2010
Construction Period
2011 – 2012
Completion
2012
Building Area
Phase 1 – approximately 18,000 m²
Land Area
2,2 ha
Building Height
15 storeys
Total # Bays & Keys
300 bays & 252 keys
Room mix
196 rooms & 25 suites
All Day Dining
160 seats
Other F&B
Lobby Lounge / Bar, 65 seats Specialty Restaurant –
Mediterranean Cuisine.
Meeting Space
400 seats Banquet / 4 meeting rooms
Leisure facilities
Outdoor Pool, Gym, Spa
DATA BANGUNAN
PERTUMBUHAN EKONOMI DI SEKITAR KAWASAN MENTENG
Pusat perekonomian menyebar di seluruh Jakarta, termasuk Kawasan Menteng. Kawasan Menteng terletak di antara pusat-pusat ekonomi Jakarta, antara lain : Jl. Sudirman-Thamrin, Pasar Senen, dan Pasar Jatinegara. Tentu saja konsep pertumbuhan ekonomi di kawasan Menteng mempunyai keunikan tersendiri ; lingkungan perumahan dan banyak ekspatriat yang bermukim di kawasan ini menyebabkan bisnis mengarah ke Café, restoran, barang antik, dan hotel. Café , restoran , dan toko yang tumbuh di kawasan Menteng mempunyai tema yang unik, misal tema Jawa pada Restoran Loro Jongrang atau atau tema nusantara pada restoran Kayu Manis.
Kawasan Menteng merupakan
dan sejarah kota membawa Menteng menjadi kawasan yang mempunyai karakter yang kuat bagi kota Jakarta, karena di kawasan ini teks Proklamasi dibacakan oleh Soekarno yang didampingi oleh Mohammad Hatta, Sekolah kedokteran pertama di Indonesia (STOVIA) dan Pusat kebudayaan (Taman Ismail Marzuki). P.A.J. Moojen sang arsitektur Belanda yang pertama kali merancang kawasan Menteng. Rancangan awalnya memiliki kemiripan dengan model kota taman dari Ebenezer Howard, seorang arsitektur pembaharu asal Inggris. Bedanya, Menteng tidak dimaksudkan berdiri sendiri namun terintegrasi dengan suburban lainnya. Thomas Karsten seorang pakar tata lingkungan semasanya, memberi komentar bahwa Menteng memenuhi semua kebutuhan perumahan untuk kehidupan yang layak.1
pertumbuhan kota yang sangat cepat. Bangunan kolonial yang masih bertahan berubah fungsi dari perumahan menjadi peruntukan komersil. Sebagian bangunan tua yang tidak dapat bertahan dipugar, dan digantikan dengan bangunan yang baru. Hilanglah satu karya arsitektur yang menjadi karakter “khas Menteng”, menjadi masa lalu. Untuk itu, pemerintah provinsi DKI Jakarta, aktif mengonservasi beberapa bangunan tua, agar tidak rusak dan punah.
TRANSPORTASI
Salah satu masalah yang muncul dengan pembangunan hotel baru adalah kemacetan yang terjadi di depan hotel, karena antri masuk ke dalam hotel dalam waktu yang bersamaan. Lahan DoubleTree, berada pada dua muka jalan yatu Jl. Pengangsaan Timur
HOTEL DOUBLETREE
DI KAWASAN MENTENG
BAGIAN DARI EKONOMI
KOTA
H
otel DoubleTree by Hilton Jakarta - Diponegoro terletak di Jl. Pengangsaan Timur,
bersebelahan dengan pasar Cikini, dan Universitas Bung Karno. Pintu masuk
utama tidak lebar dan mencolok, sehingga harus seksama melihat papan nama
hotel, agar tidak terlewat. Padahal dari kejauhan, tower berbentuk bidang datar lebar
yang didominasi warna biru dan kuning sudah jelas terlihat, sangat ikonik.
HUNIAN
Timur, sedangkan jalur jalan dari Jl. Kimia ditutup, karena tower apartemen residen 17 lantai yang terletak di dekat Jl. Kimia belum dibangun.
Jalur sirkulasi kendaraan di dalam lahan Hotel DoubleTree cukup panjang untuk kendaraan antri, sehingga tidak menimbulkan kemacetan di Jl. Pegangsaan Timur yang menjadi akses masuk menuju kompleks hotel. Jalur Jl Pegangsaan Timur merupakan akses jalan dari arah Jakarta Pusat menuju Jakarta Timur, jalur ini merupakan jalur padat, terutama pada saat pagi dan sore hari. Apalagi, terdapat stasiun Cikini yang merupakan titik pertemuan komuter naik dan turun. Sirkulasi dan jumlah kendaraan yang keluar masuk hotel yang sesuai kapasitas dan lancar tidak akan menganggu traffic di kedua jalan tersebut. Parkir kendaraan dipusatkan di basement.
(angkutan kota yang melalui jalur Jl. Pegangsaan Timur banyak, dan transjakarta ). Ini tentu memudahkan tamu dan pegawai hotel yang melakukan kegiatan di hotel itu. Kondisi lalu lintas Jakarta yang semakin macet dan sulit memprediksi jalur jalan dengan traffic yang padat menyebabkan kereta api (commuter line) menjadi salah satu alternative yang diandalkan. Apalagi, jadual commuter line yang semakin banyak dan tepat waktu.
DAYA SAING HOTEL DOUBLETREE DIBANDING DENGAN HOTEL YANG ADA DI SEKITARNYA.
Lahan Hotel DoubleTree berada dalam satu kawasan dengan Universitas Bung Karno, Metropole, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Yayasan Eijkman (Eijkman Institute for Molecular Biology) yang berada dalam komplek
Akan tetapi, di sekitar Hotel Double Tree juga tumbuh bangunan tinggi, seperti Apartment Excecutive Menteng, pasar Cikini, dan Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr .Cipto Mangunkusumo (bangunan baru). Pusat-pusat kegiatan ini merupakan pangsa pasar yang dibidik oleh Hotel DoubleTree.
Lokasi ini sangat strategis karena terletak di tengah kota. Di kawasan ini banyak tumbuh hotel dan apartemen. Hotel yang terdapat di sekitar Hotel Double Tree antara lain ; Hotel Alia Cikini, Marcopolo Hotel, Ibis Budget Hotel, hotel Central, Hotel Balairung, Hotel Mega Matra, Amaris Hotel Senen, Arcacia Hotel dan Resort, Treva International Hotel, Amaris Hotel Senen, Sofyan Hotel Betawi, Alia Matraman., dan Hotel The Hermitage.
2Dalam ekonomi perkotaan, terdapat
HUNI
AN
HOTEL DI SEKITAR HOTEL DOUBLE TREE
HOTEL ALIA CIKINI
HOTEL MARCOPOLO
IBIS BUDGET
HOTEL BALAIRUNG HOTEL SENTRAL
HOTEL MEGA HOTEL AMARIS
pasar masing-masing, misal Hotel The Hermitage yang terletak di Jl. Cilacap. Hotel dengan 90 kamar ini merupakan bangunan hasil konsevasi yang diperuntukan menjadi hotel. Arsitektur bangunan kolonial merupakan nilai jual bagi hotel Hermitage. Sedangkan, Sofyan Hotel Betawi dan Alia ditujukan pada tamu kelas menegah.
Persaingan antar hotel tidak hanya meliputi soal harga kamar, fasilitas yang disediakan, makanan, dan pelayanan yang ramah, tapi ada nilai jual lain yang menjadi “ciri khas” dari hotel tersebut yang tidak dimiliki oleh hotel lain. Bagaimana rancangan hotel DoubleTree menyikapi kondisi ini, menjadi bangunan komersil dengan peruntukan hotel dan menjadi bagian dari kawasan Menteng. Kawasan yang awalnya merupakan kawasan perumahan dan asri ?
Hotel DoubleTree dirancang dengan gaya modern, sesuai dengan konsep urban. Tower 15 lantai yang diperuntukkan untuk kamar, beroritentasi ke Utara-Selatan, agar terhindar dari sinar matahari langsung. Sisi Barat Hotel mengarah ke node (pertemuan jalan) Jl, Proklamasi , Jl.Cikini, dan Jl. Pegangsaan Timur. Taman Proklamator dan Gedung Pola di sisi Barat merupakan kawasan bersejarah.
Pada sisi Timur, kamar hotel mengarah ke kolam renang terbuka, Universitas Bung Karno, serta rumah dan bangunan komersil yang ada di kawasan Menteng. Orientasi hotel mengarah ke area yang mempunyai bangunan atau ruang
terbuka yang “khas Menteng.”
Apa yang menjadi nilai tambah rancangan Hotel DoubleTree di kawasan Menteng? Hotel DoubleTree mengikuti perkembangan rancangan arsitektur bangunan tinggi (high rise) pada masanya, pada masa kini. Bentuk arsitektur kubus dengan bidang datar yang lebar, masa bangunan yang berkesinambungan, ruang dan kamar hotel dirancang simple, efektif, dan efisien. Lahan yang terbatas harus mampu mengakomodasi semua fasilitas hotel baik fasilitas untuk ruang terbuka dan fasilitas di dalam ruangan, dan secara ekonomis memberikan hasil yang maksimal bagi pengelola.
Lokasi lahan yang terletak di Kawasan Menteng yang terkenal dengan bangunan kolonial dan lingkungan yang sejuk dan asri, ditampilkan melalui konsep melestarikan pohon-pohon eksisting dan “memberikan”nya sebagai ruang terbuka hijau kota. Ini merupakan nilai tambah pada rancangan Hotel DoubleTree dibandingkan dengan hotel yang lain.
Beberapa pohon eksisting yang sudah berusia lanjut dan mempunyai tajuk yang lebar dan batang yang besar menjadi ikon hotel. Luas lahan yang terbatas dan mengantong menyebabkan arsitek harus pandai-pandai menata masa bangunan, agar sirkulasi/pergerakan di dalam lahan efisien dan lahan terbuka digunakan untuk taman dan fasilitas ruang terbuka.
Pemanfaatan lahan untuk taman dan fasilitas ruang terbuka merupakan
keputusan yang sulit, karena nilai lahan yang tinggi di Jakarta, seyogyanya menghasilkan pendapatan (return) yang maksimal. Akan tetapi, ini menjadi salah satu nilai jual hotel dan terintegrasi dengan kawasan Menteng yang (sebagian area) masih ditumbuhi oleh pohon besar dan teduh. Fasilitas ruang terbuka dan ruang terbuka hijau dapat membuat tamu betah berlama-lama berada di dalam lingkungan hotel yang asri dan teduh, jauh dari kebisingan dan kesemrawutan kota.
Jumlah kamar di Hotel Double Tree sebanyak 196 kamar dan 25 suites untuk fase pertama (tower 15 lantai), sedangkan fase ke dua akan dibangun tower 17 lantai. Ruang rapa (meeting) dan kapasitas kamar yang banyak, menjadi daya tarik untuk acara seminar dan konfrensi dalam skala besar. Yang paling penting lahan parkir luas, yang dapat memuat kendaraan dalam jumlah banyak dalam satu waktu.
Ada 23 peserta yang memasukkan karya untuk kategori hunian. Dari 23 peserta ada dua pemenang, yaitu Rumah Swadaya, mendapat penghargaan kategori hunian dan DoubleTree mendapat penghargaan Pujian. Juri teknis untuk kategori hunian Faried MS dan Tak Tik Lam, sedangkan juri utama …,…,…
Tak Tik Lam mengatakan DoubleTree seharusnya masuk kategori komersil, karena karya tersebut berupa hotel (kamar sewa), berbeda dengan rumah atau apartemen (berupa hunian), sehingga ia hanya fokus menilai untuk karya peserta hunian saja. Sedangkan juri teknis yang lain, Faried M, memberikan penilaiannya untuk DoubleTree.
Kriteria apa yang dimiliki oleh DoubleTree sehingga mendapatkan penghargaan Pujian?
“Penghargaan ini diberikan, karena DoubleTree dianggap memenuhi 13 aspek kompetensi yang harus dimiliki seorang arsitek, yang disyaratkan untuk mendapatkan penghargaan pujian.”x
Bagaimana pendapat Bapak terhadap
karya DoubleTree?
“Design Hotel DoubleTree ini, mempunyai beberapa keunggulan yang menonjol, salah satunya adalah strategi peletakkan massa bangunan terhadap bentuk site yang tidak beraturan dan tidak ‘biasa’. Letak massa bangunan yang setback ke belakang juga memberi konstribusi terhadap lingkungan yang ada sekitarnya. Yang paling utama adalah memberi jeda dan penghijauan pada ruang kota di koridor Jl. Pengangsaan Timur.”
“Strategi ini sekaligus memberi ruang bagi dua pohon besar (eksisting) yang menjadi penanda kontekstual terhadap identitas hotel ini. Angle massa bangunan yang bersudut terhadap jalan raya juga merupakan strategi jitu terhadap arah sinar matahari langsung, sekaligus menciptakan ruang-ruang positif di area lansekapnya.”
“Di bagian muka (area main entrance) , ada ruang yang cukup lapang sebagai bagian prosesi kedatangan tamu. Pada bagian belakang tercipta ruang rekreatif yang optimal terhadap bentuk lahan. Bentukan Arsitektur Hotel DoubleTree simple, bersih , dan jelas. Namun hotel ini tetap mempunyai identitas yang spesifik. Gubahan
selubung kuning menjadi poin positif. Selain itu, tata massa, flow sirkulasi dan pengaturan space bangunan ini, memberikan pengalaman ruang yang sangat baik bagi pemakainya. Dari mulai pintu masuk, perjalanan menuju lobby, ke dalam bangunan, hingga ke area belakang, yang merupakan area rekreatif. Tata letak dan bentukan-bentukan arsitekturalnya sangat terjaga dan konsisten.”
Apakah Bapak pernah ke DoubleTree?
“Saya pernah beberapa kali mengunjungi hotel ini sebagai user/guest. Sebagai tamu, saya merasakan hotel ini seperti resort di tengah kota, tanpa harus mempunyai bentukan arsitektur hotel resort. Namun letak yang setback, sudah menciptakan suasana yang lebih rileks karena berjarak dengan keramaian kota. Flow yang nyaman, bukaan-bukaan yang optimal terhadap cahaya dan view, kemudian diakhiri dengan suasana resort yang kental pada area belakang hotel yang merupakan sarana rekreasi, sehingga bentukan massa dan arsitektural hotel ini bukan hanya baik, namun juga bisa mengakomodasi fungsinya sebagai sarana beristirahat dan rekreasi bagi pemakainya.”
OPINI JURI
Faried Masdoeki,PENDAPAT TAMU TENTANG HOTEL DOUBLETREE
“Tempat yang tepat untuk liburan keluarga. Hotel yang bagus dan nyaman dengan kolam renang yang luas. Lokasinya dekat dengan tempat tujuan kami beraktifitas.”3
“Kantor saya sering mengadakan rapat di DoubleTree. Soal makanan jangan diragukan, karena sebagian besar menu yang ditawarkan sangat beragam dan kualitas makanan juga sangat enak. Selain itu lokasi yang terletak di tengah kota dan dekat dekat Stasiun Cikini serta Halte Busway mempermudah kita untuk menuju lokasi.”4
“Lokasi yang baik, dekat dengan Metropole XXI, terdapat banyak restoran, jadi tidak perlu khawatir mencari makan di sekitaran. Kolam cukup luas, sehingga walau sedang ada acara di Indigo, tamu hotel tetap bisa menikmati kolam di sisi lain tanpa terganggu.”5
“Kolam renang cukup besar dan bersih yang terdiri dari kolam dewasa dan kolam anak dengan dikelilingi taman dengan pepohonan yang besar dan rimbun sehingga nyaman untuk berenang maupun bersantai.”6
“Menu sarapan cukup lengkap dari menu Western maupun menu Indonesian food. Lokasi restoran bersisian dengan kolam renang, sehingga dapat menikmati breakfast dengan suasana yang santai.”7
Saya diminta memilih dua karya, pilihan jatuh ke Hotel DoubleTree by Hilton, Jakarta dan The Hotel Hermitage dengan alasan ke dua proyek itu dekat dari rumah. Alasan sederhana. Ketika mengetahui bahwa Hotel DoubleTree dirancang Budiman –DCM-, wah pilihan yang tepat. Saya pernah meliput salah satu karya Budiman, Hotel Novotel, Palembang. Suka. Dan penasaran ingin mengetahui karya ia yang lain. Ini kesempatan yang menarik, karena, pasti konsep hotel di Jakarta berbeda dengan di Palembang.
Proyek hotel The Hermitage membuat penasaran. Pada saat survei, saya datang mendadak, karena sekretariat IAI Jakarta sudah melayangkan surat izin survei, tapi tidak mendapat respon yang diharapkan. Padahal dalam menulis, saya perlu survei. Saya perlu rasakan ruang-ruangnya. Selain itu, pada saat bertemu arsitek untuk mendapatkan info lebih lanjut, sudah mempunyai pengetahuan yang cukup.
Ketika memasuki hotel, serasa bukan hotel, tapi rumah “pembesar” pada masanya. Saya diminta menunggu di ruang lounge, serasa berada di restoran kecil, dengan suasana kolonial, tapi ber AC. Kemudian, saya diantar menuju area kolam renang dan roof top. Dari
restoran kecil itu melewati lobby dan koridor. Koridor itu terasa sempit dan menekan, untung tidak ada orang dari arah berlawanan, sehingga saya dapat berjalan dengan lancar. Kolam renangnya kecil, menyesuaikan dengan ruang yang tersedia. Di bagian roof top, area untuk melihat pemandangan Jakarta juga terbatas. Hotel ini lebih menekankan pada kamar yang besar (ukuran suite), sehingga ruang umum menjadi terbatas.
Saya merasakan bagaimana Jasin, arsitek, mempunyai banyak batasan dalam berkarya. Tantangannya bukan pada konsep rancangan, karena rancangan mengikuti gaya bangunan lama, tapi pada saat pelaksanaan dan rancangan detil. Masalah yang ada pada saat pelaksanaan pekerjaan harus secara cepat dan tepat diselesaikan. Berbeda dengan Budiman (Hotel DoubelTree) yang lebih bebas dalam berkarya. Walau tipe lahan mengantong, dan bangunannya tidak berada di tepi jalan, tapi tower bangunan tampil signifikan bagi lingkungannya.
Sebelum menemui Budiman, saya sudah menulis karya itu sebagian dari data yang saya terima dari IAI Jakarta (berupa gambar, foto, deskripsi proyek) dan survey awal. Karya itu mudah sekali
dibaca dan argumennya jelas dan tegas. Terima kasih untuk Pak Gun (Gunawan Tjahjono) yang sudah memaksa saya membaca dan mempelajari karya arsitekturnya dengan mandiri. Ini menjadi bekal dalam membaca karya-karya arsitektur. Ketika saya menemui Budiman dan “ngobrol” tentang proyek itu, penekanan pembicaraan pada “gaya” arsitektur DCM. Gaya ini pernah sebagian saya dengar pada saat Budiman mempresentasikan karyanya di acara mahasiswa arsitektur Universitas Pelita Harapan di Kota. Saat itu, saya hadir. Budiman mempunyai kekuatan memahami karakter kawasan secara detil, mengadopsinya, dan menjadi bagian dari konsep.
“Ngobrol” tentang proyek dengan Jasin, tidak hanya mengenai proyek Hotel The Hermitage, tapi mengenai beberapa proyek Jasin yang lain, yang ia berperan sebagai arsitek lokal yang bekerja sama dengan arsitek asing. Saya menemukan sisi lain dari dunia arsitektur yang jarang diungkap, karena tidak banyak arsitek lokal yang berpartner dengan arsitek asing.
Dalam setiap proyek selalu ada hal-hal menarik yang tak ada/dapat digambar dan cerita dari arsitek dalam setiap karya selalu menarik.
Safitri Ahmad, lulus dari jurusan Arsitektur Lansekap, Universitas Trisakti, Jakarta, tahun 1995, dan menyelesaikan program pasca sarjana di Kajian Pengembangan Perkotaan, Universitas Indonesia, tahun 2005. Saat ini, berkegiatan sebagai arsitek lansekap (arsitek lansekap bersertifikat keahlian-madya-), urban planner, dan penulis. Buku pertama “Gunawan Tjahjono : Arsitek Pendidik”, terbit tahun 2013. Selain itu, founder untuk start up majalaharsitekturlansekap.com dan jamgadang04. com.