5 PEMBAHASAN
5.2 Hubungan Antara Bulu babi dan Padang Lamun
Berdasarkan pada hasil analisis regresi yang menyebutkan terdapat hubungan antara bulu babi dengan tutupan lamun (Gambar 4.11). Hubungan tersebut digambarkan dengan regresi non linier logaritmik. Fungsi tersebut menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat kerapatan lamun semakin tinggi pula jumlah individu bulu babi pada daerah lamun. Dimana jumlah individu bulu babi tidak akan meningkat pada saat telah mencapai titik tertentu. Nilai dari koefisien determinasi adalah sebesar 0,296, yang berarti bahwa keragaman dan kelimpahan bulu babi sekitar 30% ditentukan oleh tutupan lamun dan sisanya dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya
Hasil analisis regresi juga menunjukan terdapat hubungan antara kehadiran bulu babi dengan keberadaan T. hemprichii (Gambar 4.12). Berdasarkan hasil tersebut keragaman dan kelimpahan bulu babi sekitar 30% ditentukan oleh lamun jenis T. hemprichi. Hubungan tersebut dapat dimungkinkan karena bulu babi mengkonsumsi lamun jenis T. hemprichii. Hal tersebut dperkuat oleh temuan T. hemprichii yang merata disetiap transek pengukuran, sehingga memudahkan bulu babi untuk menjadikan T. hemprichii sebagai diet utamanya. Beberapa penelitian terdahulu juga menyebutkan bahwa bulu babi memang menjadikan T. hemprichii menjadi salah satu diet makanannya. Penelitian Vonk (2008) di kepulauan Spermonde, Kasim (2009) di Sulawesi Tenggara, dan Mukai &Nojima (1985) dalam Lawrence & Agatsuma (2007) di Papua New Guinea menyebutkan bahwa bulu babi mengkonsumsi T. hemprichii.
Karena sebaran bulu babi sangat luas dan terdapat diberbagai macam habitat, makatidak heran jika memiliki berbagai pola maka yang berbeda-beda pada setiap habitatnya. Bulu babi ternyata juga mengkonsumsi lamun jenis Cymodocea rotundata dan Syringodium isotifolium (Aziz, 1999; Vaitilingon, et al., 2003. Selain lamun, bulu babi juga mengkonsumsi beberapa jenis alga (Dy et al., 2002; Lison de Loma, Conand, Harmelin-Vivien, & Ballesteros, 2002; Stimson, Cunha, & Philippoff, 2007). Beragamnya pola makan bulu babi sedikit banyak dipengaruhi oleh keberadaan sumber makanan di tempatnya hidup.
Bulu babi memiliki kebiasaan unik yaitu membungkus dirinya dengan daun lamun, seperti yang ditunjukan pada Lampiran 8. Aktivitas tersebut dilakukan bulu babi muda untuk melindungi dirinya dari serangan predator (Aziz, 1994, Pena et al., 2010). Petit (1930) dalam Lawrence & Agatsuma (2007) menyebutkan bahwa aktivitas menyelimuti atau menutup diri ini dilakukan karena bulu babi adalah hewan yang photodefensive, oleh karena itu dengan menutup dirinya dengan daun lamun akan mengurangi sinar radiasi yang mengenai tubuhnya (Kehas et al., 2005, dalam Lawrence & Agatsuma 2007). Selain itu aktvitas membungkus diri ini juga karena aktivitas makan dari bulu babi tersebut (Nojima Mukai, 1985 dalam Lawrence & Agatsuma 2007).
5.3 Pemanfaatan Bulu Babi oleh Masyarakat 5.3.1 Metode Pemanfaatan Bulu Babi
Pemanfaatan bulu babi pada daerah Sanur masih sangat sederhana, baik secara peralatan maupun metode yang dilakukan. Nelayan bulu babi atau ibu “toro-toro” hanya membawa keranjang, yang digunakan sebagai tempat menaruh hasil tangkapan. Selain itu juga sebuah pisau atau sabit untuk membelah cangkang bulu babi. Pada beberapa daerah di dunia, pemanfaatan bulu babi telah menggunakan jaring tangkap ataupun dengan cara menyelam (Williams, 2002). Berdasarkan penuturan ibu “toro-toro” yang rata-rata telah berumur 60-70 tahun (Gambar 4.13A), mereka telah melakukan kegiatan ini sejak 10 tahun bahkan ada yang sejak masih remaja (Gambar 4.13B). Sebelumnya, orang tua mereka juga telah melakukan kegiatan ini, sehingga kegiatan ini telah turun temurun dilakukan oleh masyarakat sekitar Sanur.
Ibu “toro-toro” melakukan pemanfaatan bulu babi pada saat air laut surut (Gambar 4.14), sehingga mereka hanya perlu berjalan sepanjang daerah pesisir Sanur untuk mencari bulu babi. Daerah Sanur memiliki paling tidak sebanyak 16 hari surut selama satu bulan, yaitu 4 hari sebelum dan sesudah tilem (bulan mati) dan purnama. Sebelum tilem atau purnama, air laut surut terjadi pada siang hingga petang, sekitar pukul 13.00 hingga 18.00 WITA. Setelah tilem atau purnama, air
laut surut terjadi pada pagi hingga siang hari, mulai dari pukul 06.00 hingga 10.00 WITA.
Dalam Gambar 4.14 dan Gambar 4.24 dilihat bahwa pada waktu pengambilan bulu babi kelompok B dan D, yaitu surut yang terjadi pada siang hari, ternyata memiliki jumlah ibu “toro-toro” cukup banyak. Surut yang terjadi pada siang hari memiliki waktu yang cukup panjang, sehingga banyak dari ibu “toro-toro” yang memanfaatkannya untuk melaut. Dibandingkan dengan kelompok A dan C, yaitu surut yang terjadi pagi hari, pada Gambar 4.14 dan Gambar 4.24, ibu “toro-toro” yang melaut lebih sedikit, karena waktu surut relatif lebih pendek. Hal ini adalah salah satu penyebab sedikitnya ibu “toro-toro” yang melaut.
Selain pasang surut air laut, faktor angin juga mempengaruhi kegiatan ibu toro- toro untuk mengambil bulu babi. Angin yang kencang membuat air menjadi kabur dan keruh, sehingga ibu toro-toro tidak dapat dengan jelas melihat ke dasar air untuk mencari toro-toro. Hujan juga termasuk faktor yang mempengaruhi kegiatan pengambilan toro-toro, jika hujan terjadi bulu babi akan sulit ditemui. Kegiatan upacara di Bali begitu banyak, mulai dari acara rutin Sembahyang di Pura saat purnama dan tilem, Nyepi, hingga acara besar Galungan dan Kuningan memerlukan banyak persiapan, dan mempengaruhi kegiatan pengambilan bulu babi. Sehingga dalam sebulan mereka hanya bisa melaut rata-rata sebanyak 7 kali.
Untuk mencari bulu babi, ibu “toro-toro” berjalan sekitar 100-300 m ke arah tubir, karena pada saat ini bulu babi lebih susah ditemukan (Gambar 4.23) sehingga perlu berjalan lebih ke tengah. Mereka mencari bulu babi dengan cara mengkorek- korek daerah lamun dan juga ceruk-ceruk karang dengan mengunakan pisau yang mereka bawa. Jika keadaan laut sedikit keruk mereka mencari bulu babi dengan cara menginjak-injak dasar laut untuk merasakan keberadaan bulu babi. Diameter bulu babi yang diambil adalah berkisar 4-7 cm dengan rata-rata 5,5 cm (Gambar 4.20). Ukuran yang lebih kecil dari 4 cm tidak diambil karena dianggap telurnya hanya sedikit. Gonad bulu babi yang didapat kemudian dimasukan dalam botol air mineral berukuran 600ml. Harga jual untuk satu botol gonad bulu babi adalah Rp
15.000. Untuk mengisi penuh botol tersebut, diperlukan setidaknya 50-70 ekor bulu babi, dengan rata-rata perbotolnya 61,33 ekor bulu babi.
5.3.2 Penghasilan Nelayan Bulu Babi
Nilai CPUE yang ada pada Tabel 4.5 sangat beragam, dan memiliki rata-rata 2,07 botol dalam sekali melaut. Kemampuan mendapatkan bulu babi adalah salah satu yang mempengaruhi nilai CPUE, seperti yang terlihat pada Gambar 2.24. Dalam Kelompok B dan D, yaitu surut terjadi pada siang, dengan waktu surut yang relatif lebih lama sehingga ibu “toro-toro” memiliki kesempatan lebih besar untuk mendapatkan bulu babi. Hasil yang didapatkan juga cenderung lebih banyak dibandingkan kelompok A dan C yang surut pada pagi hari. Selain waktu surut yang lebih lama, hal lain yang mempengaruhi adalah pekerjaan ibu “toro-toro” itu sendiri. Sebagian dari ibu “toro-toro” memiliki kegiatan di pagi hari seperti berdagang ataupun kegiatan lainnya, sehingga mereka hanya bisa melaut pada saat surut di siang hari. Hal tersebut yang membuat terdapat perbedaan hasil tangkapan pada surut pagi dengan siang hari, dan membuat nilai CPUE juga beragam
Berdasarkan Tabel 4.5, penghasilan nelayan bulu babi berkisar antara 45.000 hingga 435.000 selama waktu penelitian.. Jika dilihat dari nilai RPUE, rata-rata hasil yang didapatkan dari setiap kali pengambilan bulu babi adalah sebesar Rp 31.058. Nilai RPUE ini dapat diartikan bahwa dalam setiap kali melaut, penghasilan yang didapatkan adalah sebesar itu. Hal ini ini lah yang menjadi salah satu penyebab semakin berkurangnya pencari bulu babi di Sanur.
Berdasarkan penuturan masyarakat dan ibu “toro-toro”, harga bulu babi saat ini per botolnya meningkat lebih dari dua kali lipat lebih dari yang sebelumnya Rp 5.000 kemudian Rp 7.000 dan sekarang Rp 15.000. Pada beberapa tahun yang lalu untuk mencari bulu babi juga sangatlah mudah, dan dalam sekali melaut bisa menghasilkan lebih dari 4 botol. Disamping itu, jumlah nelayan bulu babi juga lebih banyak dan tidak terbatas hanya pada kaum wanita saja. Kelangkaan bulu babi di alam adalah penyebab dari berkurangnya nelayan bulu babi yang kemudian juga diikuti menurunnya nilai CPUE dan RPUE.