BAB II URAIAN TEORITIS
E. Hubungan Antara Informasi Laporan Keuangan dengan Return Saham
Dalam PSAK No.1 (49) ditegaskan bahwa unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah aktiva, kewajiban dan ekuitas. Aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dan peristiwa masa lalu dan darimana manfaat ekonomi dimasa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan. Kewajiban merupakan hutang perusahaan dimasa kini yang timbul akibat peristiwa dimasa lalu. Penyelesaiannya diharapkan
mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi. Sedangkan ekuitas merupakan hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban.
1. Pengaruh Aktiva terhadap return saham
Semakin besar aktiva menunjukkan semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk melakukan aktivitas operasionalnya sehingga kinerja perusahaan makin baik. Dengan meningkatnya kinerja perusahaan maka harga saham perusahaan dipasar modal cenderung naik/ meningkat dan hal itu berdampak pada meningkatnya return saham. Dengan demikian assets berpengaruh positif terhadap return saham.
2. Pengaruh kewajiban (liability) terhadap return saham
Kewajiban merupakan suatu tugas atau tanggung jawab untuk bertindak atau untuk melaksanakan dengan cara tertentu. Semakin besar kewajiban menunjukkan semakin besar pula beban perusahaan terhadap pihak luar baik yang berupa pokok maupun bunga pinjaman. Jika beban perusahaan semakin besar maka kinerja perusahaan semakin memburuk dan hal ini berdampak pada penurunan harga saham dipasar modal. Dengan menurunnya harga saham perusahaan tersebut di pasar modal maka return saham juga menurun. Dengan demikian kewajiban berhubungan atau berpengaruh negativ terhadap harga atau return saham.
3. Pengaruh NPM (Net Profit Margin) terhadap return saham
Salah satu indikator keberhasilan perusahaan adalah kemampuan mencetak laba secara efisien. Yaitu bahwa manajer perusahaan tersebut mampu membukukan pendapatan dan sales yang signifikan, dan dalam
waktu yang sama manajer mampu meminimalisir biaya – biaya. Mengingat laba adalah selisih antara pendapatan dan biaya, maka ukuran efisiensi dapat dilihat dengan membandingkan (rasio) antara laba terhadap pendapatan. Rasio ini terkenal dengan sebutan NPM (Net Profit Margin), dimana tingginya NPM menyiratkan keahlian manajer dalam mencetak laba dengan meminimalisir biaya – biaya. Investor di bursa seringkali mengkaitkan antara NPM terhadap return saham, dimana perusahaan dengan NPM yang tinggi dipersepsikan sebagai perusahaan yang memiliki prospek baik dimasa datang.
4. Pengaruh ROE (Return On Equity) terhadap retun saham
Indikator Profitabilitas ROE adalah rasio antara laba terhadap modal sendiri (Equity) dimana semakin naik ROE berarti para pemegang saham (shareholder) menikmati porsi laba yang semakin besar. ROE merupakan parameter yang menunjukkan tingkat imbal hasil atas investasi yang ditanamkan oleh pemegang saham dalam perusahaan. Bila ROE tinggi berarti para investor menikmati kesejahteraan yang lebih baik dan begitu juga sebaliknya. Rasio ROE seringkali dipakai investor dibursa untuk mengukur tingkat hasil investasi bila dia membeli saham tersebut. Karena itu ROE memiliki pengaruh terhadap return saham, dimana saham perusahaan yang memiliki ROE tinggi cenderung membukukan return yang positif.
BAB III
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN TELEKOMUNIKASI DI BURSA EFEK INDONESIA
A. Sejarah Bursa Efek Indonesia
Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak zaman kolonial Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC. Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti Perang Dunia I dan II, perpindahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah RI, dan berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek dan dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Bursa efek merupakan suatu lembaga perantara investor dengan perusahaan di Indonesia. Melalui bursa efek ini investor dapat membeli saham perusahaan yang diinginkan dan sebaliknya melalui bursa ini juga perusahaan dapat memperoleh sejumlah dana melalui sejumlah penjualan sahamnya. Hal-hal mengenai tata cara jual beli saham ini telah diatur oleh bursa efek dengan cara yang sistematis. Bursa Efek Indonesia berawal dari pendirian bursa di Batavia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 14 Desember 1912. Sekuritas yang diperdagangkan adalah saham dan obligasi yang diterbitkan pemerintah Hindia Belanda dan sekuritas lainnya. Perkembangan bursa efek di Batavia (Jakarta sekarang) sangat pesat sehingga mendorong pemerintah Belanda membuka Bursa Efek Surabaya pada tanggal 11 Januari 1925 dan Bursa Efek Semarang pada
tanggal 1 Agustus 1925. Kedua bursa ini kemudian ditutup karena terjadinya gejolak politik di Eropa pada awal tahun 1939. Bursa Efek pun akhirnya ditutup karena terjadinya Perang Dunia II, sekaligus menandai berakhirnya aktivitas pasar modal di Indonesia.
Pasar modal di Indonesia kembali digiatkan dengan dibukanya kembali Bursa Efek Jakarta pada tanggal 3 Juni 1952. Pada tahun 1958 kegiatan Bursa Efek Jakarte kembali dihentikan karena adanya inflasi dan resesi ekonomi. Hal ini tak berlangsung lama sebab Bursa Efek Jakarta buka kembali dan akhirnya mengalami kebangkitan pada tahun 1970. Kebangkitan ini disertai dengan dibentuknya Tim Uang dan Pasar Modal, disusul dengan tahun 1976 berdirinya BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal) serta berdirinya perusahaan dan investasi PT. Dana Reksa. Kebangkitan ini disukung dengan diresmikannya aktivitas perdagangan di Bursa Efek Jakarta oleh Presiden Soeharto pada tahun 1977.
Pemerintah mengeluarkan kebijakan paket deregulasi Desember 1987 dan Desember 1988 tentang diperbolehkannya swastanisasi Bursa Efek. Paket deregulasi ini kemudian mendorong Bursa Efek Jakarta berubah menjadi PT Bursa Efek Jakarta pada tanggal 13 Juli 1992. Pemilik saham adalah perusahaan efek yang menjadi anggota bursa. Pada tahun itu juga BAPEPAM yang awalnya sebagai Badan Pelaksana Pasar Modal berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal.
Bursa Efek Jakarta berkembang dengan pesat sehingga kegiatannya semakin ramai dan kompleks. Hal ini ditandai dengan bertumbuhnya jumlah saham yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dari 24 saham pada tahun 1988
menjadi lebih dari 200 saham. Hal ini menyebabkan sistem perdagangan manual yang selama ini dilakukan di Bursa Efek Jakarta tidak lagi memadai. Pada tanggal 22 Mei 1995 diterapkanlah suatu sistem otomatis yang dinamakan dengan JATS (Jakarta Automatic Trading System). Dengan sistem yang baru ini para pialang dan juga investor dapat memonitor aktivitas perdagangan yang terjadi di bursa.
Penerapan JATS ini juga mendorong pelaksanaan order jual dan beli saham yang adil dan transparan. Pada tanggal 10 November 1995: Pemerintah mengeluarkan Undang-undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang- undang ini mulai diberlakukan mulai Januari 1996. Pada tahun 2000, Sistem Perdagangan tanpa Warkat (scripless trading) mulai dipublikasikan di Paar Modal Indonesia. Tahun 2002, Bursa Efek Jakarta mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading) dan diawal tahun 2008, penggabungan Bursa Efek Surabaya ke Bursa Efek Jakarta dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia.