• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara Kondisi Sosial dan Ekonomi terhadap

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Hubungan antara Kondisi Sosial dan Ekonomi terhadap

Hubungan antara kondisi sosial dan ekonomi dalam penelitian ini meliputi hubungan antara tingkat pendidikan kepala keluarga terhadap pendapatan rumah tangga, hubungan antara pendapatan rumah tangga terhadap kualitas perumahan, dan hubungan antara status kepemilikan tanah terhadap kualitas perumahan. 2.4.1 Hubungan antara Tingkat Pendidikan Kepala Keluarga terhadap

Pendapatan Rumah Tangga

Tingkat pendidikan dalam penelitian ini diasumsikan memiliki hubungan terhadap pendapatan rumah tangga karena sesuai dengan yang dijelaskan Sagir (1989) dalam Tarigan (2006), bahwa sumber daya manusia mampu meningkatkan kualitas hidupnya melalui suatu proses pendidikan, latihan, dan pengembangan yang akan menjamin produktivitas kerja yang semakin meningkat, sehingga menjamin pula pendapatan yang cukup dan kesejahteraan hidupnya yang semakin meningkat. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan pendidikan

yang tinggi memungkinkan seseorang memiliki peluang untuk dapat menduduki jenjang atau jabatan atau pekerjaan yang lebih tinggi, sekaligus memiliki tingkat pendapatan yang tinggi.

Pendidikan diyakini sangat berpengaruh terhadap kecakapan tingkah laku dan sikap seseorang, dan hal ini semestinya terkait dengan pendapatan seseorang. Artinya secara rata-rata semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin memungkinkan orang tersebut untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi. Pendidikan memang sangat diperlukan dan sangat berguna bagi anggota masyarakat. Pendidikan sebenarnya bukan hanya terkait dengan kemampuan utuk memperoleh tingkat pendapatan yang lebih baik akan tetapi juga berpengaruh terhadap sikap dan perilaku seseorang terkait dengan dengan kehidupan sehari-hari.

Maryadi (1999), juga menjelaskan dengan bermodalkan wawasan yang luas diharapkan dapat meningkatkan keperdulian terhadap pembangunan yang akhirnya akan meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap pembangunan. Pendidikan merupakan faktor penting dalam upaya membangun manusia. Salah satu tujuan pendidikan ialah mengubah tingkah laku manusia. Tingkah laku manusia sejalan dengan perubahan pengetahuan dan sikapnya. Mengubah sikap manusia merupakan pekerjaan yang sulit karena ada keunikan-keunikan di dalam diri setiap manusia. Tujuan pendidikan dalam pembangunan ialah mengubah atau menghapus kebiasaan-kebiasaan yang menghambat pembangunan dan memperkuat sikap-sikap yang menunjang pembangunan.

Pembangunan yang menjadi hak setiap warga negara menjadi kewajiban pemerintah dan masyarakat sendiri untuk menjaga pelaksanaan pemenuhan hak-hak tersebut yang diwujudkan dalam pelaksanaan pendidikan, baik melalui jalur formal, nonformal, maupun informal. Pendidikan nasional yang diusung dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 2003 adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pendidikan nasional sendiri berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Penjabaran dari pendidikan nasional dalam satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.

2.4.2 Hubungan antara Pendapatan Rumah Tangga terhadap Kualitas Perumahan

Pendapatan rumah tangga dalam penelitian ini diasumsikan memiliki hubungan terhadap kualitas perumahan, sesuai dengan Kurniasih (2007) dalam Mayasari, menjelaskan terbatasnya kemampuan ekonomi penduduk untuk membeli atau membangun rumah sehingga untuk masyarakat yang berpenghasilan rendah tidak dapat memperoleh dan menikmati yang perumahan yang layak.

Selain itu menurut Turner (1971:166-168) dalam Panudju (1999), yang merujuk pada teori Maslow, terdapat kaitan antara kondisi ekonomi seseorang dengan skala prioritas kebutuhan hidup dan prioritas kebutuhan perumahan.

Faktor yang dibutuhkan dalam memenuhi standar rumah yang layak huni adalah dana yang sesuai. Hal itu menjadi kebutuhan awal setelah pengetahuan yang mereka peroleh dari suatu pendidikan akan informasi tentang rumah layak huni. Banyak orang atau keluarga berusaha memenuhi pembangunan rumah layak huni agar kehidupan mereka lebih layak meskipun masih sederhana. Usaha pembangunan yang kurang baik disebabkan oleh kurangnya dana untuk memenuhi pembangunan fasilitas tersebut. Kondisi yang masih belum lengkap ini memberikan penilaian bahwa masih ada kekurangan dalam pemenuhan rumah layak huni meskipun pada dasarnya mereka sudah mengusahakannya.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun suatu rumah yaitu tingkat kemampuan ekonomi penduduk. Hal ini dimaksudkan rumah dibangun berdasarkan kemampuan keuangan penghuninya, sehingga bahan-bahan pokok pembuatan rumah berasal dari daerah setempat yang murah. Perlu dicatat bahwa mendirikan rumah adalah bukan sekedar berdiri pada saat itu saja, namun diperlukan pemeliharaan seterusnya.

2.4.3 Hubungan antara Status Kepemilikan Tanah terhadap Kualitas Perumahan

Status kepemilikan tanah dalam penelitian ini diasumsikan memiliki hubungan terhadap kualitas perumahan, sesuai dengan penelitian Atmaja (2004), yang menunjukkan bahwa status tanah mempunyai hubungan sedang dan positif.

Apabila terjadi peningkatan status tanah maka kondisi fisik rumah akan meningkat pula. Hal ini sejalan dengan pendapat Panudju (1999:10), tanpa jaminan adanya kejelasan tentang status pemilikan rumah dan lahannya, seseorang atau sebuah keluarga akan selalu tidak merasa aman sehingga mengurangi minat mereka untuk memperluas, memelihara atau meningkatkan kualitas rumahnya dengan baik. Berdasarkan teori tersebut disimpulkan bahwa dengan tanah yang statusnya hak milik dapat menjadi penunjang bagi seseorang atau keluarga untuk memiliki perumahan yang baik sehingga mereka akan mengupayakan pembangunan rumah yang sehat dan layak huni.

Tanah merupakan suatu yang amat penting dalam kehidupan manusia baik dilihat dari segi ekonomi, sosial maupun budaya. Manusia dalam kehidupannya selalu berhubugan dengan tanah, bahkan setelah manusia meninggal dunia sekalipun masih berkaitan dengan tanah. Segala aktivitas keseharian manusia pada umumnya dan sebagian terbesar dilakukan di atas tanah. Dilihat dari segi ekonomis, tanah mempunyai nilai ekonomis tinggi baik sebagai kebutuhan rumah tangga, tempat usaha, bahkan sudah menjadi komuditi investasi yang menggiurkan, dengan nilai jual semakin hari semakin tinggi. Tanah memiliki nilai ekonomis yang tinggi, sehingga memiliki kecenderungan menjadi objek sengketa. Banyak permasalahan yang timbul menyangkut dengan tanah terutama mengenai hak atas tanah. Permasalahan ini dapat menimbulkan gangguan bagi ketertiban umum, sebab tanah sudah dianggap sebagai harta yang sangat penting terkait dengan hajat hidup. Tanah sering memunculkan permasalahan dalam kedamaian dan sering pula menimbulkan goncangan dalam masyarakat, bahkan juga menjadi

penghambat dalam pelaksanaan pembangunan. Kaitannya dengan pembangunan status kepemilikan tanah dalam penelitian ini memberikan pengaruh terhadap kualitas perumahan.

Dokumen terkait