BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Kondisi Sosial dan Ekonomi
Pengertian sosial dalam ilmu sosial menunjuk pada objeknya yaitu masyarakat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996:958), kata sosial berarti segala sesuatu yang berkenaan dengan masyarakat. Berdasarkan konsep sosiologi, manusia sering disebut sebagai makhluk sosial yang artinya manusia tidak dapat hidup wajar tanpa adanya bantuan orang lain disekitarnya. Kata sosial sering diartikan sebagai hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat. Berbeda dengan istilah ekonomi, yang berarti ilmu yang mengenai asas-asas produksi, distribusi dan pemakaian barang-barang serta kekayaan (seperti keuangan, perindustrian dan perdagangan) (KBBI, 1996:251).
Berdasarkan pengertian di atas dapat tarik kesimpulan bahwa sosial ekonomi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat, antara lain sandang, pangan, perumahan, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Pemenuhan kebutuhan tersebut berkaitan dengan penghasilan. Masalah sosial ekonomi merupakan masalah yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari suatu masyarakat, kondisi sosial ekonomi berarti keadaan yang berkaitan dengan masyarakat. Kondisi ini selalu mengalami perubahan melalui proses sosial dan interaksi sosial, interaksi sosial berarti proses hubungan dan saling mempengaruhi yang terjadi antar individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok. Menurut Soehandono (2000:20), kondisi sosial ekonomi meliputi:
1. Kondisi rumah dan kepemilikan perabotan keluarga yang mempunyai kondisi rumah yang bagus dan kepemilikan barang-barang perabot yang banyak
jumlahnya dan lengkap dapat diketahui kondisi sosial ekonominya melalui: 1) luas lantai yang dihuni, 2) jenis dinding rumah, 3) jenis atap rumah, 4) jenis lantai, 5) fasilitas MCK atau WC, 6) fasilitas air bersih, 7) kepemilikan fasilitas duduk/meja kursi,
2. Kegiatan ekonomi dan penghasilan kegiatan ekonomi dan penghasilan dalam keluarga dapat diukur kondisi sosial ekonomi dengan indikator sebagai berikut: 1) jumlah anggota rumah tangga yang bekerja, 2) status pekerjaan dari yang paling menunjang, 3) jenis pekerjaan yang paling menunjang, 4) yang memiliki penghasilan terbesar yang dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari, 5) kepemilikan aset, 6) jumlah penghasilan perbulan, 7) ketergantungan terhadap pemberian atau kiriman, 8) mengalami kesulitan makan apabila anggota rumah tangga yang menunjang kehidupan sehari-hari tidak bekerja selama satu minggu, 9) jumlah anggota rumah tangga perempuan usia 15 tahun yang mencari pekerjaan,
3. Pangan merupakan suatu penentuan kondisi sosial ekonomi, kondisi sosial ekonomi dapat dilihat melalui kondisi pangan yang terdiri dari: 1) frekuensi makan dalam hari, 2) variasi konsumsi lauk pauk, 3) mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan makan dalam tiga bulan yang lalu,
4. Sandang merupakan kebutuhan manusia yang sangat penting, indikator sosial ekonomi dapat diketahui dari kebutuhan sandang, sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan sandang meliputi: 1) kepemilikan 2 setel pakaian untuk berpergian, 2) setiap anggota rumah tangga mampu membeli satu setel pakaian dalam setahun, 3) dalam setahun lalu pernah mengalami kesulitan memenuhi
kebutuhan pakaian, 4) kebiasaan berobat jika ada anggota rumah tangga yang sakit, 5) pernah mengalami kesulitan dalam berobat jalan, 6) kepemilikan tabungan dalam bentuk uang atau barang,
5. Aktivitas sosial yaitu kondisi sosial ekonomi dapat diketahui melalui aktivitas sosial yang dilakukan seseorang dalam keluarga, meliputi: 1) menjadi atau pernah menjadi anggota atau pengurus uaha kelompok, 2) kehadiran dalam rapat RT atau desa dalam kaitan pembangunan desa (Soehandono, 2000:11-12).
Kondisi disini meliputi kondisi sosial dan kondisi ekonomi. Kondisi sosial antara lain yaitu: tempat lahir, umur, agama, status perkawinan, jumlah anak, pendidikan, kegiatan sosial, perilaku anggota keluarga dan kondisi kesehatan keluarga. Kondisi ekonomi meliputi: mata pencaharian, pendapatan, keadaan rumah, kondisi sarana yang ada di perumahan (keterjangkauan tempat kerja, jalan utama, pasar, tempat sekolah anak-anak, rumah sakit, tempat ibadah dan keadaan jalan). Pada landasan teori tidak semua kondisi dijelaskan hanya beberapa kondisi yang dianggap perlu untuk diketahui secara mendetail.
2.3.1 Kondisi Sosial
Kondisi sosial dalam penelitian ini meliputi: 1. Tingkat Pendidikan
Pendidikan berperan membantu manusia untuk memahami rahasia dan cara hidup dibalik kehidupan. Dengan pemahaman tersebut, manusia dididik untuk dapat memahami arti, hakikat, dan tujuan hidup dengan benar (Mulyasana 2011:2 dalam Purwitasari).
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dari proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya pendidikan sekolah terdiri atas:
a. Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menegah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.
b. Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar, yang terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
c. Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Pendidikan tinggi ini diselenggarakan dengan sistem terbuka.
Pendidikan merupakan faktor yang penting, terutama berkaitan dengan kehidupan keluarga, yang berkaitan dengan fungsi. Peranan pendidikan dalam kehidupan masyarakat sebagai berikut:
a. Mengadakan transmisi kebudayaan ke generasi berikutnya, b. Mengajarkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat,
c. Mengadakan promosi mobilitas sosial ke tingkat yang lebih tinggi, d. Mengadakan sertifikasi,
e. Mengadakan latihan kerja,
f. Menciptakan hubungan sosial secara timbal balik, g. Membangun jiwa nasional,
h. Menjaga atau memelihara anak-anak (Murdiyastuti, 1993:5 dalam Habibah, 2008).
Pada umumnya, tingkat pendidikan seseorang berpengaruh terhadap besar kecilnya pendapatan yang diperoleh, di samping masa kerja dan potensi yang dimiliki. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi peluang kerja serta semakin tinggi pendapatan dan status sosialnya.
2. Jumlah Anggota Keluarga
Keluarga adalah satu kumpulan manusia yang dihubungkan melalui pertalian darah, perkawinan atau pengambilan anak angkat. Jumlah keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang ada di rumah atau tempat tinggal yang didiami.
Jumlah anggota keluarga adalah benyaknya orang yang basanya bertempat tinggal disuatu rumah tangga, baik yang berada di rumah waktu
pencacahan maupun sementara tidak ada. Anggota rumah tangga yang telah berpergian selama 6 bulan atau lebih dan anggota keluarga yang berpergian kurang dari 6 bulan tetapi dengan tujuan pindah atau akan meninggalkan rumah selama 6 bulan atau lebih tidak dianggap sebagai anggota keluarga. 2.3.2 Kondisi Ekonomi
Kondisi ekonomi dalam penelitian ini kondisi ekonomi meliputi: 1. Mata Pencaharian
Mata pencaharian merupakan aktivitas manusia untuk memperoleh taraf hidup yang layak dimana antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya berbeda sesuai dengan taraf kemampuan penduduk dan keadaan demografinya (Daldjoeni, 1987: 89).
2. Pendapatan Keluarga
Pendapatan dapat diartikan sebagai hasil pencaharian atau perolehan usaha sesuatu yang dapat didapatkan yang sedianya belum ada (Purwodarminto, 1976:228).
Pendapatan keluarga adalah besarnya pendapatan atau penghasilan keluarga yang diterima suami, istri, dan anak (bila ada) baik pendapatan pokok maupun pendapatan tambahan yang diukur dari rata-rata rupiah pendapatan setiap bulan (dalam Widiyastuti, 2000:17).
3. Status kepemilikan tanah
Status kepemilikan tanah dalam penelitian ini menunjukkan hak-hak seseorang yang berkaitan dengan tanah, yaitu hak untuk menempati, menggunakan, untuk mengembangkan, mewarisi, dan untuk menntransfer
kepemilikan tanah. Status kepemilikan tanah dikelompokkan menjadi 3, yaitu sewa, turun temurun dan hak milik. Status kepemilikan tanah sewa diartikan sebagai tanah yang dibebankan biaya sewa yang harus dibayar atas penggunaan suatu tanah. Turun temurun artinya tanah diperoleh dari warisan keluarga, dan tanahnya belum hak milik. Status tanah hak milik merupakan tanah yang diperoleh dari hasil membeli sendiri atau merupakan warisan keluarga dan sudah menjadi hak milik.
2.4. Hubungan antara Kondisi Sosial dan Ekonomi terhadap Kualitas