BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
6.2 Hubungan antara Penyakit Ginjal Kronis dengan
Penurunan produksi eritropoietin dan defisiensi asam folik pada penyakit ginja kronis menyebabkan anemia sehingga warna gingiva pada penderita penyakit ginjal kronis menjadi lebih pucat. Hal ini jelas terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Lucas di mana 95% dari sampel mencatat nilai indeks gingivitis ringan yaitu dalam rentang 0,1 -1,0. Roberts dalam penelitiannya pada tahun 2005 turut menunjukkan hasil penelitiannya bahwa gingiva yang berwarna pucat terjadi karena individu menderita anemia sehingga gambaran klinisnya menutupi tanda-tanda inflamasi. Warna merah pucat pada gingiva juga berkaitan dengan
malnutrisi pada penderita yang menjalani hemodialisis akibat keterbatasan produk protein di dalam diet seharian. Hal ini seiring dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Little J dkk yang menyatakan bahwa 82% dari penderita hemodialisis mengalami malnutrisi dan terjadi perubahan warna gingiva menjadi merah sehingga kelainan hematologi seperti hemofilia,
leukemia, limfoma,
bias pada hasil penelitian. Hal ini seiring dengan hasil dari penelitian ini di mana rerata indeks gingiva penderita penyakit ginjal kronis lebih tinggi dari rerata indeks gingiva non penderita penyakit ginjal kronis dan perbedaan tersebut bermakna secara statistik (p<0,05). 26,33
Pada penelitian ini ditemukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara kadar variabel uji laboratorium dengan indeks gingiva. Walaupun hasil dari penelitian ini mendukung ke arah tiadanya korelasi antara indeks gingiva dengan penyakit ginjal kronis, namun Nadre dkk pernah mengungkapkan bahwa inflamasi gingiva pada penderita penyakit ginjal kronis bersifat multifaktorial, salah satu hipotesisnya sangat mirip dengan hipotesis Gonzalez J dkk, di mana Gonzalez dkk meneliti inflamasi pada mukosa gingiva berdasarkan hipotesis stimulasi melalui peninggian kandungan potasium atau kalium dalam tubuh penderita di mana inflamasi dan hiperplasia gingiva sering terjadi namun hal ini ditutupi oleh manifestasi sindroma uremia yang lain yaitu gingiva berwarna merah pucat dan anemia. Menurutnya, inflamasi merupakan hasil proses dari phosphorylation dan kalium yang merupakan stimulator yang memenuhi peran tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat peneliti. Nadra dkk turut mendukung hipotesis ini dengan menunjukkan BCP (Ca Phosphate Crystals)
sebagai aktivator proses inflamasi interselular yang mungkin terbentuk akibat peninggian kalium.42
6.3 Hubungan antara Penyakit Ginjal Kronis dengan Indeks Debris
Potter dan Wilson menyatakan bahwa tanpa penjagaan dan perawatan gigi yang rutin, kondisi higiene oral penderita akan bertambah buruk apabila kesehatan umumnya menurun. Hal ini dijelaskan oleh Naugle dkk bahwa penderita yang menjalani hemodialisis seringkali tidak memperhatikan kondisi kesehatan rongga mulutnya dan hal ini seiring dengan hasil penelitian ini di mana, terdapat penderita yang mengaku tidak pernah menyikat gigi atau berkunjung ke dokter gigi sejak terdiagnosis menderita penyakit ginjal kronis. Namun, prevalensi karies tidak meningkat. Hal ini mungkin dikarenakan efek buffer dari peningkatan kalsium dan fosfat di dalam saliva. Pada penelitian ini didapati rerata indeks debris penderita penyakit ginjal lebih tinggi dari bukan penyakit ginjal kronis, namun tidak ada korelasi yang bermakna antara indeks debris dengan kadar hemoglobin, kalsium, fosfor, kreatinin, hematokrit dan ureum darah mungkin dapat dijelaskan dengan Penelitian Cohen S menjelaskan bahwa penderita yang menjalani hemodialisis kurang menjaga kondisi higiene oral karena lebih menumpu pada kesehatan tubuh. 1,10,27,35
6.4 Hubungan antara Penyakit Ginjal Kronis dengan Indeks Kalkulus
Secara teoris, kalkulus memainkan peranan yang penting terhadap gingiva dan risiko kondisi higiene oral yang parah. Pada mayoritas penderita penyakit ginjal kronis dijumpai peningkatan pembentukan kalkulus yang hebat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan menurut Souza dkk, Atassi F, Gavalda C dkk dan Naugle K dkk. Penelitian McDonald R menunjukkan bahwa prevalensi kalkulus pada individu normal hanya mencapai 40% dari prevalensi pada penderita penyakit ginjal kronis. Martins dalam laporannya mengatakan, pembentukan kalkulus dapat ditemukan pada 86,6% penderita penyakit ginjal
kronis namun hanya 46,6% pada individu yang normal. Hal ini sejalan dengan pendapat McDonald R. Pembentukan kalkulus pada penderita penderita penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis lebih cepat dibandingkan dengan individu normal hal ini karena kandungan fosfat dan urea saliva yang terbukti tinggi yang sesuai dengan pendapat Epstein S dkk. Jaffe dkk turut menunjukkan fakta ini dari hasil penelitiannya 6 tahun kemudian. Davidovich E dkk, menunjukkan ekuilbrium rongga mulut seperti kalsium, fosfat (P), magnesium, oksalat dan lain lain terganggu, maka kalsium (Ca) yang terkandung dalam saliva akan mengalami presipitasi dan mineralisasi dan membentuk kalkulus. 27,31,33,38
Pada penelitian ini, peneliti turut mendapatkan nilai Ca dan P dari pemeriksaan laboratorium penderita di Rumah Sakit Umum H.Adam Malik menunjukkan fakta yang sama. Pada penderita penyakit ginjal kronis, proses ini terjadi dengan cepat akibat peningkatan pH yang disebabkan hidrolisis ammonia di dalam rongga mulut menjadi urea dan fosfat, fakta ini juga didukung penelitian Peterson S dkk turut mengatakan, fenomena peningkatan natrium, urea, kalium dan protein saliva dapat meningkatkan kapasitas buffer pH saliva sehingga menyebabkan tingkat karies yang rendah. Hasil dari penelitian ini mendukung teori di atas karena rerata indeks kalkulus pada penderita penyakit ginjal kronis lebih tinggi dibandingkan bukan penyakit ginjal kronis dan hal ini berlaku secara signifikan. Selain itu, konsumsi kalsium karbonat sebagai pengikat fosfat di dalam proses hemodialisis turut berperan sebagai faktor utama peningkatan kalkulus pada penderita penyakit ginjal kronis. Penelitian Gortner R pada tikus membuktikan oksalat mampu meningkatkan deposit kristal kalkulus sepuluh kali lebih efektif dibandingkan dengan kalsium, dan menurut penelitian yang sama, nilai oksalat pada penderita penyakit ginjal kronis jelas lebih tinggi akibat terjadinya penurunan glomerulus
dengan indeks kalkulus lemah dari hasil penelitian ini, peneliti tetap percaya efek peningkatan kalkulus mampu memparah kondisi higiene oral tetapi tetap diperlukan penelitian lanjutan di masa mendatang untuk membuktikan hal ini. 27,31,33,38
6.5 Hubungan antara Penyakit Ginjal Kronis dengan Kebersihan Rongga oooMulut (OHIS)
Penyaktit ginjal kronis berperan penting terhadap manifestasi yang abnormal pada jaringan rongga mulut. Kebersihan rongga mulut diklasifikasikan sebagai buruk apabila aliran saliva menurun, kalkulus meningkat, pH saliva terganggu, hiperplasia gingiva dan lain sebagainya. Hiperplasia gingiva merupakan salah satu punca menurunnya kondisi higiene oral akibat perubahan pada kontur gingiva sehingga memanfaatkan deposit sisa makanan yang tidak mudah dibuang melalui metode pembersihan manual. Hal ini didukung penelitian Frankethal di mana perubahan homeostasis kalsium akan mengakibatkan terjadinya hipertiroidisme sekunder. Apabila komplikasi ini muncul, inflamasi gingiva, hiperplasia gingiva serta destruksi tulang akan terjadi akibat pertambahan hormon paratiroid dan seterusnya terpapar langsung dalam peningkatan indeks periodontal penderita seperti yang diteliti oleh Chuang dkk. Penelitian Souza terhadap populasi penderita penyakit ginjal Brazil turut sejalan dengan hasil penelitian Frankethal. Selain itu, sindroma uremia turut bertanggungjawab terhadap peningkatan inflamasi pada penderita penyakit ginjal kronis dan akibatnya, periodontitis akan terjadi seperti yang didukung oleh hasil penelitian Duran. Hemostasis juga sering ditemukan pada penderita penyakit ginjal kronis akibat abnormalitas hematopoietik. Apabila fungsi ginjal semakin menurun terjadi anemia dan timbulnya masalah hemostasis merupakan dua kondisi yang paling sering terjadi. Menurut Hamid M dkk dan Naylor G, walaupun anemia sering terjadi dan bersifat multifaktorial, namun gagal ginjal
sebagai sumber produksi sel darah merah tetap disifatkan sebagai penyebab gingiva berwarna pucat. Selain itu, perdarahan cenderung terjadi karena kondisi uremia pada penderita penyakit ginjal kronis pada tahap 5 dapat mensupresi respons limfositik dan imunitas selular. Penjelasan ini seiring dengan hasil penelitian peneliti. Sebagai tambahan, antikoagulan seperti heparin yang dipakai selama hemodialisis turut menjelaskan bahwa pengurangan risiko perdarahan dapat terjadi dalam 6 jam setelah hemodialisis atau sekurang-kurangnya 24 jam setelah hemodialisis. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh 6 peneliti seperti Stewart (1967), Dobkin dkk (1978), Mannuci dkk (1983), De Rossi dan Glick (1996), dan Naylor dan Fredericks (1996). Hal di atas seiring dengan hasil penelitian peneliti di mana terdapat korelasi positif antara semua variabel penderita penyakit ginjal kronis dengan variabel kondisi higiene oral. 1,13, 35,38, 49,50
BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah:
7.1.1 Ada perbedaan nilai indeks gingiva penderita penyakit ginjal kronis `````dengan bukan penderita penyakit ginjal kronis.
7.1.2 Ada perbedaan nilai indeks debris penderita penyakit ginjal kronis `````dengan bukan penderita penyakit ginjal kronis.
7.1.3 Ada perbedaan nilai indeks kalkulus penderita penyakit ginjal kronis
`````dengan bukan penderita penyakit ginjal kronis.
7.1.4 Ada perbedaan nilai indeks OHIS penderita penyakit ginjal kronis `````dengan bukan penderita penyakit ginjal kronis.
7.1.5 Ada perbedaan nilai IPPD penderita penyakit ginjal kronis dengan `````bukan penderita penyakit ginjal kronis.
7.1.6 Tidak ada korelasi yang bermakna antara kadar Hb dengan indeks `````gingiva, indeks debris, indeks kalkulus, indeks OHIS, dan IPPD pada `````penderita penyakit ginjal kronis.
7.1.7 Tidak ada korelasi yang bermakna antara kadar kalsium dengan `````indeks gingiva, indeks debris, indeks kalkulus, indeks OHIS, dan `````IPPD pada penderita penyakit ginjal kronis.
7.1.8 Tidak ada korelasi yang bermakna antara kadar fosfor dengan indeks
`````gingiva, indeks debris, indeks kalkulus, indeks OHIS, dan IPPD pada
`````penderita penyakit ginjal kronis.
7.1.9 Tidak ada korelasi yang bermakna antara kadar kreatinin dengan `````indeks gingiva, indeks debris, indeks kalkulus, indeks OHIS, dan `````IPPD pada penderita penyakit ginjal kronis.
7.1.10 Tidak ada korelasi yang bermakna antara kadar ureum dengan indeks
`````gingiva, indeks debris, indeks kalkulus, indeks OHIS, dan IPPD pada
`````penderita penyakit ginjal kronis.
7.1.11 Tidak ada korelasi yang bermakna antara kadar hematokrit dengan `````indeks gingiva, indeks debris, indeks kalkulus, indeks OHIS, dan `````IPPD pada penderita penyakit ginjal kronis.
7.1.12 Ternyata perawatan hemodialisis pada penderita penyakit ginjal kronis berperan penting untuk menurunkan komplikasi atau penyakit rongga mulut yang
disebabkan sindroma uremia seperti kalkulus yang tinggi, serostomia, inflamasi pada mukosa gingival dan karies.