PERSEKUTUAN PERDATA
D. Hubungan Antara Sekutu Maatschap
Hubungan intern para anggota persercan (maatschap)oleh KUHS manurut I.G. Rai Widjaya diatur sebagai berikut:
Pasal 1630 menyatakan, bahwa setiap anggota harus menanggung penggantian kerugian kepada perseroan apabila kerugian itu terjadi karena salahnya sendiri.
55 I.G. Rai Widjaya, Hukum Peusahaan, (Jakarta: Kesaint Balanc, 2005), hlm. 36-37.
30 Pasal 1633 menetapkan bahwa keuntungan dan kerugian dibagi menurut perbandingan besarnya sumbangan modal yang diberikan oleh anggota-anggota masing-masing apabila dalam persetujuan tidak ditentukan bagian masing-masing anggota dalam hal untung rugi perseroan.
Pasal 1639 menjelaskan bahwa semua anggota boleh menyelenggarakan pemeliharaan perseroan, kecuali apabila telah dimufakati, bahwa hanya seorang dari mereka itu diserahi kewajiban itu.
Apabila semua anggota yang menyelenggarakan pemeliharaan itu, maka tindakan seorang anggota juga mengikat anggota-anggota yang lainnya. Jila seseorang yang ditugaskan menyelenggarakan pemeliharaan tersebut, maka ia bertanggung jawab kepada anggota-anggota lainnya.56
Sedangkan menurut HMN Purwosutjipto, mengenai perikatan antar para sekutu atau hubungan ke dalam ini diatur dalam Bagian Kedua, Bab VIII, Buku III, KUHPerdata mulai Pasal 1624 s/d 1641. Hubungan ke dalam ini mengenai perikatan antara seorang sekutu dengan sekutu yang lain, adapun jenis hubungan tersebut dapat diperinci sebagai berikut:57
1. Kewajiban memberikan pemasukan;
2. Asas kepentingan bersama;
3. Pemeliharaan atau pengurusan;
4. Perbedaan kedudukan hukum antara sekutu statute dan sekutu mandater;
5. Pengurus bukan sekutu;
6. Kekuasaan berbuat sekutu statute;
7. Arti pengurusan dan penguasaan;
8. Pembagian tugas antarpengurus;
9. Peraturan pemeliharaan (pengurusan);
10. Cara membagi keuntungan dan kerugian;
11. Mutasi sekutu dari persekutuan perdata.
Ad.1 Kewajiban memberikan pemasukan
Tiap-tiap sekutu harus memenuhi kesanggupannya untuk memberikan pemasukan (Pasal 1625 KUHPerdata), dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
56 Ibid, HLM. 68-69
57 HMN Purwosutjipto, 2007, Op.Cit, hlm. 24-32.
31 a. Terhadap benda-benda yang dimasukkan itu sekutu harus menjamin terhadap gugatan hak dari orang lain dan terhadap cacat yang tidak dapat dilihat oleh pemeriksa biasa secara seksama. Hal ini sama dengan kewajiban penjual terhadap pembeli seperti diatur dalam Pasal 1491 KUHPerdata.
b. Kecuali benda dalam arti fisiknya, para sekutu juga dapat memasukkan penggunaan atau manfaatnya (Het genot)- Pasal 1631 ayat (1) KUHPerdata dalam hal yang dimasukkan itu manfaatnya, maka sekutu yang bersangkutan harus memikul risiko benda yang dimasukkan itu, kecuali bila denda itu sendiri turut dimasukkan, maka sekutu yang bersangkutan bebasdari risiko, karena risiko sudah diambil alih oleh persekutuanperdata (Pasal 1631 ayat(2) KUHPerdata).
c. Pemasukan yang berwujud uang diatur dalam Pasal 1626 KUHPerdata. Bila pada saat pemasukan seperti yang telah ditetapkan dalam perjanjian tidak ditepati oleh sekutu yang bersangkutan, maka dia harus membayar bunga selama belum setor. Keharusan membayar bunga itu terbit tanpa adanya teguran (aanmaning)- Pasal 1626 ayat (1) KUHPerdata. Hal ini berbeda dengan Pasal 1250 ayat (3) bsd 1238 KUHPerdata. Lagi pula kepada sekutu yang bersangkuta yang alpa, bisa diminta penambahan bunga, jika untuk itu ada alasannya (Pasal 1626 ayat (3) KUHPerdata ). Hal ini menyimpang dari ketentuan dalam Pasal 1250 ayat (1) KUHPerdata, yang hanya membolehkan bunga menurut undang-undang yaitu 6 % setahun (S.1848-22). Begitu pula bagi seorang sekutu yang meminjamuang dari kas persekutuan, dia harus membayar bunga mulai dari saat dia meminjamnya (Pasal 1626 ayat (2) KUHPerdata).
d. Pemasukan yang berwujud tenaga kerja diatur dalam Pasal 1627 KUHPerdata. Sudah tentu tenaga itu harus sesuai dengan kebutuhan persekutuan, sehingga tenaga itu benar-benar dapat dimanfaatkan oleh persekutuan. Biasanya sekutu tersebut tidak menyumbangkan seluruh tenaganya, melainkan pekerjaan-pekerjaan tertentu mengingat akan kebutuhan persekutuan.
Ad.2. Asas kepentingan bersama
Asas ini tampak dijunjung tinggi dalam Pasal 1628 KUHPerdata, yang tidak membolehkan seorang sekutu lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan bersama. Hal ini bisa terjadi secara konkret bila pada suatu saat yang sama, seorang debitur harus membayar utangnya yang sudah dapat ditagih kepada salah seorang sekutu persekutuan perdata dan juga harus membayar utangnya Kepada persekutuan perdata yang sama. Misalnya : seorang debitur A
32 mempunyai utang Rp. 1000,- kepada B, sekutu persekutuan perdata "Usaha Bersama", dan rnemnunyai utang juga kepada persekutuan perdata yang sama sebanyak Rp. 2000,-. Bila debitur A hanya dapat membayar Rp. 900,- untuk B dan persekutuan perdata "Usaha Bersama", maka B harus memberikan 2/3 x Rp. 900,- itu kepada "Usaha Bersama" yakni Rp. 60C,- sedangkan yang Rp. 300,- untuk B sendiri. Bila pembayaran utang itu dimaksudkan untuk dibayarkan atau dicicilkan seluruhnya kepada "Usaha Bersama", maka uang Rp. 900,- itu harus diserahkan kepada
"Usaha Bersama", sedangkan B tidak menerima apa-apa.
Mengenai berlakunya Pasal 1628 KUHPerdata itu ada dua pendapat yang agak berlainan, yaitu:
1. Pitlo58 membatasi berlakunya Pasal 1628 KUHPerdata pada peristiwa bila si penagih (sekutu persekutuan perdata) menagih bagi diri sendiri, tetapi sebaliknya Pasal 1628 KUHPerdata tidak berlaku bila debitur memilih mengutamakan pembayaran utangnya kepada kreditur sebagai pribadi.
2. Hofmann59 sebaliknya berpendapat bahwa meskipun debitur memilih mengutamakan pembayaran utangnya kepada kreditur sebagai pribadi, tetap kreditur sekutu persekutuan perdata ini harus melaksanakan ketentuan Pasal 1628 KUHPerdata tersebut.
Asas kepentingan bersama ini juga tersimpul pada Pasal 1629 KUHPerdata, yang berbunyi : Jika salah seorang sekutu telah menerima seluruh bagiannya dalam suatu piutang bersama, kemudian si debitur jatuh pailit atau dalam keadaan tidak mampu, maka sekutu tersebut diwajibkan memasukkan apa yang telah diterimanya itu ke dalam kas persekutuan, meskipun dia telah menyatakan menerima pembayaran itu sebagai pelunasan utangnya.
Atas kepentingan bersama juga tersimpul dalam Pasal 1630 KUHPerdata, di mana ditetapkan bila seorang sekutu persekutuan dalam tindakannya membuat kerugian pada persekutuan, maka sekutu itu harus membayar ganti rugi kepada persekutuan. Jumlah ganti rugi itu tidak boleh dikurangi dengan keuntungan-keuntungan yang diperoleh sekutu itu dalam bidang lain. Jadi, jika keuntungan Itu dapat sekutu dari bidang yang sama, maka keuntungan itu dapat dipakai untuk mengurangi jumlah ganti kerugian yang harus dibayarkan.
58Pitlo, Het Verbintenissenrecht naar het Ned, (Burg. Wetboek, Druk 6, 1964), hlm. 463 dalam HMN Purwosutjipto, 2007, Ibid, hlm. 26.
59Hofmann, Het Ned. Verbintenissenrecht II, (Deel I, 6e Druk. 1936), hlm. 271 dalam HMN Purwosutjipto, 2007, Ibid, hlm. 26.
33 Asas kepentingan bersama juga terkandung dalam istilah “maatschap” pada pasal 1625, 1626 dan 1630 KUHPerdata, yang baik Polak maupun Hofmann memberikan arti sebagai “para sekutu bersama” (de gezamenlijke vennoten). Di sini muncul unsur “koperasi” atau kesatuan, yaitu suatu unsur yang sangat dibutuhkan dalam persekutuan perdata sebagaiamana yang dikemukakan oleh Pitlo. Dari itu mengenai persoalan “siapakah yang harus menuntut sekutu yang alpa seperti disebut dalam 1630 KUHPerdata itu”. Dapat dijawab bahwa persekutuan perdatalah yang berhak. Asas kepentingan bersama ini juga tersimpul dalam Pasal 1632 KUHPerdata, yaitu mengenai hak menagih seorang sekutu kepada persekutuannya tentang pengeluaran-pengeluaran yang telah diadakan untuk kepentingan persekutuan.
Ad.3. Pemeliharaan atau pengurusan
Pemeliharaan atau pengurusan (behereer) dalam persekutuan perdata diatur dalam Pasal 1632 s/d 1639 KUHPerdata. Pembebanan tugas pengurusan pada sekutu persekutuan perdata dapat dilakukan dengan dua cara (Pasal 1636), yaitu :
1. Diatur sekaligus bersama-bersama dalam akta pendirian persekutuan perdata. Sekutu persekutuan ini disebut “sekutu statuter” (gerant statutaire).
2. Diatur sesudah persekutuan perdata berdiri dengan kata khusus. Sekutu pengurus ini dinamakan “sekutu mandater” (gerant mandataire).
Ad.4. Perbedaan kedudukan hukum antara sekutu statuter dan sekutu mandater
Terdapat beberapa kedudukan hukum antara sekutu statur dan sekutu mandater, yaitu : 1. Menurut Pasal 1636 ayat (2) KUHPerdata, selama berjalannya persekutuan perdata,
sekutu statuter tidak boleh diberhentikan, kecuali atas dasar alasan-alasan menurut hukum. Misal alasan-alasan tersebut menurut Hofmann60 ialah : tidak cakap, kurang saksama, menderita sakit dalam waktu lama dan sebagainya. Menurut Soekardono alasan-alasan tersebut ialah keadaan-keadaan atau peristiwa-peristiwa yang tidak memungkinkan seseorang sekutu pengurus itu melakukan tugasnya secara baik.
2. Yang dapat memberhentikan sekutu statuter ialah persekutuan perdata. Atas pemberhentian ini sekutu statuter yang bersangkutan dapat minta putusan hakim tentang soal, apakah pemberhentian itu benar-benar berdasarkan alasan-alasan menurut
60 Hofmann, Op.Cit, hlm. 277 dalam HMN Purwosutjipto, 2007, Ibid, hlm. 27.
34 hukum. Kalau putusan hakim menguntungkan sekutu pengurus yang bersangkutan, maka dia dapat minta ganti kerugian berdasarkan Pasal 1632 KUHPerdata.
3. Seorang sekutu mandater itu kedudukannya sama dengan seorang pemegang kuasa (Pasal 1814 KUHPerdata), jadi kekuasaanya dapat dicabut sewaktu-waktu. Juga dia sendiri dapat meminta agar kekuasaannya dicabut.
Ad.5. Pengurus bukan sekutu
Pengurus pada persekutuan perdata biasanya adalah sekutu sendiri, disebut “pengurus sekutu”. Kalau dia antara para sekutu tidak ada yang dianggap cakap atau mereka tidak merasa cakap untuk menjadi pengurus, maka para sekutu dapat menetapkan orang luar yang cakap sebagai pengurus. Jadi di sini ada pengurus bukan sekutu. Hal ini dapat ditetapkan dalam akta pendirian persekutuan perdata atau dalam perjanjian khusus.
Ad.6. Kekuasaan berbuat sekutu statuter
Menurut Pasal 1636 ayat (1) KUHPerdata, seorang sekutu stauter asalkan dia bertindak jujur, dapat melakukan perbuatan pengurusan, meskipun perbuatan itu bertentanagn dengan kehendak sekutu-sekutu yang lain. Ketentuan ini sebetulnya bertentangan dengan asas kerjasama (koperasi) dalam mencapai tujuan bersama dalam persekutuan perdata. Kalau perbuatan tujuan bersama dalam persekutuan perdata. Kalau perbuatan pengurusan itu mengakibatkan kerugian pada persekutuan, maka menurut Pasal 1630 KUHPerdata, pengurusan yang bersangkutan bertanggung jawab terhadap teman-teman sekutu lainnya. Jadi dia harus mengganti kerugian yang diakibatkan karena perbuatannya.
Ad.7. Arti pengurusan dan penguasaan
Menurut Pitlo61 perbuatan pengurusan (beher) adalah tiap-tiap perbuatan yang perlu atau yang termasuk golongan perbuatan yang biasa dilakukan untuk mengurus/memelihara persekutuan perdata. Sedangkan perbuatan penguasaan (beschikkingsdaad) adalah perbuatan yang mengakibatkan perubahan-perubahan yang tidak khusus diperlukan mengingat akan keadaan-keadaan dalam kenyataan.
61 Pitlo, Op.Cit, hlm.466 dalam HMN Purwosutjipto, 2007, Ibid, hlm.28
35 Perbuatan pengurusan itu baik secara terang-terang, maupun secara diam-diam harus ada persetujuan bulat dari para sekutu bersama sedangkan untuk perbuatan pengurusan atau pemeliharaan, persetujuan semacam itu tidak diperlukan (Pasal 1636 ayat (1) KUHPerdata) asal perbuatan itu dilakukan secara jujur.
Perbedaan antar perbuatan pengurusan dan perbuatan penguasaan ialah :
a. Perbuatan pengurusan tidak memerlukan kata sepakat lebih dulu dari sekutu-sekutu yang lain, tetapi harus dilakukan dengan jujur serta mengingat akan kepentingan bersama terhadap tujuan persekutuan perdata. Sanksi atas ketentuan tersebut terdapat dalam Pasal 1630 KUPerdata.
b. Sebaliknya, perbuatan penguasaan memerlukan kata sepakat dari semua sekutu.
KUHPerdata tidak mengatur secara khusus mengenai perbuatan penguasaan ini. Akan tetapi bila pengurusan memerlukan pengluasan sampai penguasaan, maka harus ada kata sepakat dan semua sekutu terlebih dahulu.
c. Asas “kata sepakat” ini juga terdapat dalam Pasal 1639 ayat (4) KUHPerdata, yang juga berlaku terhadap benda bergerak dari persekutuan perdata, meskipun tidak disebutkan secara khusus.
d. Tiap-tiap pengurus bertanggung jawab terhadap persekutuan, baik mengenai pengurusan maupun mengenai penguasaan.
Ad.8. Pembagian tugas antar pengurus
Kalau sekutu statuter lebih dari seorang, maka tugas pengurusan harus dibagi antar mereka.
Bila tidak ada pembagian pekerjaan tertentu atau apabila tidak diadakan ketentuan bahwa seorang pengurus tidak boleh bertindak di luar pengetahuan pengurus yang lain, maka masing-masing sekutu pengurus diperbolehkan melakukan semua perbuatan pengurusan (Pasal1637 KUHPerdata).
Bila salah seorang pengurus berhalangan untuk memberikan persetujuan atau berhalangan berbuat, dalam hal mana diperlukan turut sertanya sekutu yang berhalangan itu, maka pelaksanaan perbuatan itu ditunda samapi halangan itu lenyap dan pengurus yang berhalangan itu dapat turut serta menunaikan kewajibannya (Pasal 1638 KUHPerdata). Tetapi bila perbuatan itu dianggap mendesak atau akan lebih meguntungkan bila perbuatan itu segera dilakukan, maka
36 menurut Pitlo62 dan Hofmann63 pengurus yang ada data bertindak merangkap sebagai penyelenggara urusan (zaakwaarnemer) dari pengurus yang berhalangan itu.
Ad. 9 Peraturan pemeliharaan (pengurusan)
Karena pengurusan itu adalah suatu hal yang penting, maka biasnya pendiri persekutuan perdata tidak lupa untuk mengaturnya dalam akta pendirian persekutuan perdata itu atau dalam perjanjian yang khusus diadakan untuk mengatur pengurusan itu. Tetapi bila para pendiri tidak mengaturnya, maka undang-undang telah menyediakan peraturan pengurusan sebagaimana yang disebut dalam Pasal 1639 KUHPerdata, yang isinya adalah sebagai berikut :
a. Pasal 1639 sub 1 KUHPerdata mengandung ketentuan yang sangat penting, yaitu bahwa para sekutu dianggap saling memberikan kuasa untuk melakukan pengurusan bagi kawannya, jadi semacam pemberian kuasa itu tidak berdasa Bab XVI, Buku III KUHPerdata, tetapi hak mengurus pada tiap-tiap sekutu itu timbul berdasarkan perjanjian pendirian persekutuan perdata itu sendiri. Tiap-tiap sekutu diberi hak untu mencegah dilangsungkannya suatu perbuatan pengurusan oleh teman sekutu lainnya yang tidak disetujui. Hak ini tidak boleh dipakai, kecuali bila dikhwatirkan perbuatan pengurus itu akan mendatangkan kerugian bagi kepentingan bersama (Pasal 1639 sub 1 ayat (2) KUHPerdata). Dalam hal yang sebaliknya, yakni terhadap sekutu yang mencegah tanpa alasan yang pantas, dapat dituntut pembayaran ganti rugi oleh persekutuan (Pasal 1630 KUHPerdata).
b. Menurut Soekardono64 dalam Pasal 1639 sub 2 dan 3 KUHperdata tidak diatur tntang perbuatan pengurusan, tetapi tentang pemakaian benda-benda milik persekutuan. Dalam memakai benda-benda itu para sekutu diwajibkan mengindahkan kepentingan persekutuan. Semuanya harus mendapat manfaat dan tiap-tiap sekutu harus ikhlas bersedia memberikan sumbangan untuk menjaga keselamatan benda-benda itu. Asas ini berlaku juga bagi benda yang hanya kemanfaatannya yang dimasukkan sebagai pemasukan.
c. Sub 4 dari Pasal 1639 KUHPerdata ini melarang perbuatan penguasaan (beschikkingsdaden) tanpa persetujuan dari semua sekutu.
62 Pitlo, Op.Cit, HLM. 467 dalam HMN Purwosutjipto, 2007, Ibid, hlm. 29.
63 Hoffmann, Op.Cit, hlm. 278 dalam HMN Purwosutjipto, 2007, Ibid, hlm. 29
64 Soekardoni, Hukum Dagang Indonesia I, Bagian II, Cetakan Ketiga, hlm. 50 dalam HMN Purwosutjipto, 2007, Ibid, hlm.30.
37 Ad. 10. Cara membagi keuntungan dan kerugian
Persekutuan perdata bertujuan untuk memperolah keuntungan (Pasal 1618 KUHPerdata).
Kalau sudah ada keuntungan, maka keuntungan harus dibagi antar para sekutu. Bagaimana membagi keuntungan aiatur dalam Pasal 1633, 1634 dan 1635 KUHPerdata.
Menurut pasal 1633 KUHPerdata cara membagi keuntungan dan kerugian itu sebaliknya diatur dalam perjanjian mendirikan persekutuan perdata, dengan cara tidak boleh memberikan seluruh keuntungan kepada seorang sekutu saja (Pasal 1635 ayat (1) KUHPerdata), sebab ini melanggar
“mengejar kemanfaatan bersama". Tetapi sebaliknya undang-undang memperbolehkan pembebanan seluruh kerugian kepada seorang sekutu (Pasal 1635 ayat (2) KUHPerdata).
Kalau dalam perjanjian tidak ada aturan tentang cara membagi keuntungan dan kerugian, maka berlakukah Pasal 1633 ayat (1) KUHPerdata, yang menetapkan bahwa pembagian itu harus dilakukan menurut asas “keseimbangan pemasukan",dengan pengertian bahwa pemasukan yang berupa tenaga kerja hanya dipersamakan dengan pemasukan uang atau benda yang terkecil (Pasal 1633 ayat (2) KUHPerdata). Menurut HMN Purwosutjipto, cara pembagian terhadap pemasukan tenaga kerja ini tidak adil, karena ternyata pembentuk undang-undang tidak menghargai tenagakerja, baik fisik maupun pikiran, padahal untuk zaman sekarang “tenaga kerja” ini merupakan faktor yang menonjol dalam bidang produksi. Di sini asas “perikemanusiaan dan keadiian sosial” (sila kedua dan keempat dari Pancasila) tidak mendapat perhatian dengan semestinya. Untuk Negara RI peraturan yang demikian ini harus segera mendapat perhatian dari Pemerintah, sebab merupakan unsur yang menggerogoti Pancasila yang menjadi asas filsafat Negara RI. Menurutnya sebaiknya dipergunakan sebagai ukuran untuk menilai tenaga kerja yang diberikan sebagai pemasukan (inbreng) ialah “hasil karya” tenaga tersebut terhadap kemajuan persekutuan dalam arena perusahaan, khususnya sampai di mana tenaga kerja tersebut berpengaruh pada keuntungan yang didapat perusahaan. Kalau tenaga kerja yang dimaksudkan tersebut mengakibatkan kemajuan ataukeuntungan persekutuan yang besar, maka tenaga kerja tersebut harus dinilai besar juga. Sebaliknya kalau tenaga kerja (fisik) yang dimasukkan itu kurang memberi pengaruh kepada keuntungan persekutuan, maka tidak keberatan kalau tenaga kerja (tisik) itu dinilai kurang. Untuk mendapat angka penilaian yang jelas, HMN Purwosutjipto mengusulkan agar tenaga kerja itu dihargai antara pemasukan yang tinggi nilainya dengan pemasukan benda atau uang yang terendah nilainya. Hal ini menurutnya perlu dimusyawarahkan dalam rapat pengurus supaya tenaga kerja itu mendapatkan penilaian yang adil. Penetapan nilai
38 tenaga kerja oleh pengurus ini adalah yang terbaik, sebab undang-undang menetapkan bahwa penetapan pembagian keuntungan dan kerugian oleh pinak ketiga tidak diperbolehkan (Pasal 1634 ayat (1) KUHPerdata).
Ad.11. Mutasi sekutu dari persekutuan perdata
Seorang sekutu persekutuan perdata diperbolehkan memasukkan seorang pihak ketiga hanya dalam bagiannya saja dari permodalan seluruhnya (Pasal 1641 KUHPerdata). Dengan begitu laiu ada “ondermaatschap" atau menurut Molengraaff lalu terjadi sebuah "maatschap"
antara sekutu lama dengan pihak ketiga yang dimasukkan itu.
Untuk memasukkan pihak pihak ketiga ke dalam bagiannya, sekutu yang bersangkutan tidak perlu minta izin dari sekutu lainnya, tetapi sebaiknya orang luar (pihak ketiga yang masuk) itu tidak berhak mencampuri urusan dan kekayaan persekutuan.
Pihak ketiga dapat diterima sebagai sekutu penuh dari persekutuan bila ada persetujuan bulat- dari semua sekutu persekutuan. Persetujuan bulat dari para sekutu ini penting sesuai dengan asas kepribadian yang ada pada persekutuan perdata, yakni tiap-tiap sekutu harus dikenal pribadinya oleh sekutu-sekutu yang lain.
Mengenai asas kepribadian ini ada arrest H.R tanggal 6 Pebruari 1935 yang sedikit banyak meninggalkan asas kepribadian pada persekutuan perdata, sebab menurut H,R para pendiri persekutuan itu dalam anggaran dasarnya dapat menetapkan bahwa tiap-tiap sekutu dapat melepaskan kedudukannya sebagai sekutu dan menyerahkan kepada orang lain, tanpa persetujuan sekutu-sekutun Iain. Dengan demikian, personalia persekutuan perdata dimungkinkan berganti-ganti seperti halnya pada pemegang saham perseroan terbatas, sehingga Pitlo berpendapat bahwa H.R dengan arrest tersebut menuju kearah pengakuan persekutuan perdata sebagai badan hukum.
Sebagai akibat adanya arrest H.R tersebut ada kemungkinan seluruh sekutu 'persekutuan perdata berganti, sedangkan persekutuan berjalan terus. Kalau persekutuan perdata itu akan menuju ke badan hukum, maka soal pendaftaran dan pengumuman harus menjadi perhatian pembentuk undang-undang, agar persekutuan perdata itu diketahui oleh pihak ketiga.