KATA PENGANTAR
Segala kalimat thoyyibah penulis lapadzkan kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan segala rahmat, nikmat, dan hidayahNya kepada penulis dan keluarga, sehingga dengan berkah tersebut penulis dapat menyelesaikan buku ini dengan judul PENGANTAR HUKUM DAGANG INDONESIA.
Buku ini tercipta atas permintaan para mahasiswa Fakultas Hukum USU yang mengambil mata kuliah HUKUM DAGANG. Buku ini disusun yang sebagian besar pada umumnya adalah bahan- bahan kuliah kami. Harapan kami semoga buku ini akan bermanfaat bagi semua pihak dan sangat berguna bagi para mahasiswa Fakultas Hukum untuk memperluas dan memperdalam wawasan dalam materi Hukum Perdata pada umumnya dan Hukum Dagang pada khususnya.
Kami mengharapkan dari para pembaca dan teman sejawat, saran-saran dan tegur sapa maupun koreksi yang bersifat membangun demi kesempurnaan buku ini terutama pada penerbitan berikutnya. Terima kasih kepada penerbit CV. Dharma Persada yang telah bersedia menerbitkan buku ini dan kepada saudara Johan Agustian, SH.M.Kn yang telah bersedia meluangkan waktunya menjadi editor dalam buku ini, semoga Allah SWT membalas segala amal kebaikan kepada semua pihak yang telah membantu terbitnya buku ini. Aamiin.
Medan, Desember 2013
Penulis
Puspa Melati Hasibuan, SH.M.Hum
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I : DASAR-DASAR HUKUM DAGANG 1
A. Pengertian Hukum Dagang 1
B. Hubungan Hukum Dagang Dengan Hukum Perdata 4
C. Sejarah Hukum Dagang Indonesia 5
D. Perdagangan 7
E. Perusahaan 11
F. Pekerjaan 17
BAB II : PERSEKUTUAN PERDATA 21
A. Pengertian Persekutuan 21
B. Pengaturan Maatschap 25
C. Jenis-jenis Maatschap 28
D. Hubungan Antara Sekutu Maatschap 29
E. Hubungan Maatschap dengan pihak Ketiga 38
F. Maatschap Bukan Badan Hukum 39
G. Berakhirnya Maatschap 41
BAB III : PERSEROAN FIRMA 42
A. Pengertian Firma 42
B. Struktur Organisasi Firma 46
C. Cara Mendirikan Firma 48
D. Kebaikan dan Keburukan Firma 54
E. Berakhirnya Firma 55
BAB IV : PERSEROAN KOMANDITER (CV) 57
A. Pengertian Perseroan Komanditer 57
B. Keanggotaan Perseroan Komanditer 60
C. Jenis-jenis Perseroan Komanditer 61
D. Kewajiban Anggota Komanditer 62
E. Cara Mendirikan Perseroan Komanditer 66
F. Kebaikan dan Keburukan Perseroan Komanditer 69
G. Kedudukan Hukum Perseroan Komanditer 70
H. Berakhirnya Perseroan Komanditer 71
BAB V : PERSEROAN TERBATAS 74
A. Pengertian 74
B. Pendirian, Anggaran Dasar dan Perubahan Anggaran Dasar,
Daftar Perseroan dan Pengumuman 78
C. Modal dan Saham Perseroan Terbatas 86
D. Rencana Kerja, Laporan Tahunan dan Penggunaan Laba 96
E. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan 100
F. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) 100 G. Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan Terbatas 106 H. Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan dan Pemisahan 117
I. Pemeriksaan terhadap Perseroan 122
J. Pembubaran Likuidasi dan Berakhirnya Statusa Badan Hukum 124 Perseroan
K. Biaya Pengurusan Perseroan Terbatas 128
BAB VI : YAYASAN 130
A. Pengertian dan Tujuan Yayasan 131
B. Pendirian Yayasan 135
C. Perubahan Anggaran Dasar Yayasan 138
D. Pengumuman Yayasan 139
E. Kekayaan Yayasan 139
F. Organ-organ Yayasan 140
G. Laporan Tahunan Yayasan 147
H. Pemeriksaan Terhadap Yayasan 148
I. Penggabungan Yayasan 149
J. Pembubaran Yayasan 151
K. Yayasan Asing 152
DAFTAR PUSTAKA 156
1 BAB I
DASAR-DASAR HUKUM DAGANG
A. Pengertian Hukum Dagang
Menurut HMN Purwosutjipto, hukum adalah keseluruhan norma, yang oleh penguasa negara atau penguasa masyarakat yang berwenang menetapkan hukum, dinyatakan atau dianggap sebagai peraturan yang mengikat bagi sebagian atau seluruh anggota masyarakat, dengan tujuan untuk mengadakan suatu tata yang dikehendaki oleh [enguasa tersebut.1
Beberapa sarjana hukum telah memberikan batasan dan pengertian mengenai Hukum Dagang sebagai berikut :
1. R. Soerjatin
Hukum Dagang adalah Kesatuan ketentuan-ketentuan yang berlaku terhadap seorang pedagang yang menjalankan suatu perusahaan, kesatuan-kesatuanmana terdapat dalam KUHD dalam hal-hal khusus perdagangan.2
2. HMN. Purwosutjipto
Hukum Dagang adalah Hukum Perikatan yang timbul khusus dari lapangan perusahaan.3
3. Achmad Ichsan
Hukum Dagang adalah Hukum yang mengatur soal-soal yang timbul karena tingkah laku manusia (perorangan) dalam perdagangan.4
4. Mustafa A. Siregar
Hukum Dagang adalah Seperangkat peraturan yang mengatur tingkah laku manusia yang bergerak dalam bidang perdagangan atau yang menjalankan perusahaan, dan bila dalam aktivitasnya berusaha memperoleh keuntungan.5
1 HMN. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Cetakan Kelima, (Jakarta : Penerbit Djambatan, 1988), hlm. 1.
2 R. Soejain, Hukum Dagang I dan II, (Jakarta: PPAKRI Bhayangkara, Direktorat Pralatan MABAK, 1969), hlm.7.
3 HMN. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Cetakan Pertama, (Jakarta: Penerbit Djambatan, 1980), hlm. 5. Hukum Dagang adalah Hukum Perdata Khusus (ingatpada adagium: lex specialis derogate lex generalis, dan Pasal 1 KUHD), lihat HMN. Purwosutjipto , Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Cetakan Kesebelas, (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2007), hlm.2.
4Achmad Ichsan, Hukum Dagang, Cetakan Ketiga, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1975), hlm. 17.
5Mustafa A. Siregar, Kapita Selekta Pengetahuan Hukum Dagang, (Jakarta: Ind Hill Co, 1990), hlm.1.
2 Sehingga dapat disimpulkan bahwa Hukum Dagang merupakan Hukum yang mengatur tentang hubungan yang terjadi dalam dunia perusahaan dan merupakan bagian dari hukum privat.
Hukum berwujud norma-norma yang banyak sekali jumlahnya, sehingga untuk menguasainya perlu adanya pengelompokan norma-norma secara praktis, yang disebut sistem hukum. Negara Republik Indonesia mempunyai sistem hukumnya tersendiri, yang terdiri dari lapangan hukum, yaitu :
a. Hukum Tata Negara;
b. Hukum Administrasi (Tata Usaha, Tata Pemerintahan);
c. Hukum Pidana;
d. Hukum Perdata;
e. Hukum Acara;6
Sistem hukum Republik Indonesia seperti tersebut di atas mempunyai sumbernya, yang menurut van Apeldoorn dapat dibagi sebagai berikut :
1. Sumber hukum dalam arti formil
a. Peraturan perundangan: Ketetapan MPR, Undang-Undang Dasar 1945, Undang- Undang, Peraturan-peraturan lainnya;
b. Hukum Kebiasaan;
c. Perjanjian antarnegara (convention, tractaat, vedrag).
2. Faktor-faktor yang turut serta dalam memperkembangkan hukum a. Perjanjian perorangan (Pasal 1338 KUHPerdata);
b. Jurisprudensi c. Ajaran Ilmu hukum.7
Menurut HMN Purwosutjipto, ada 5 (lima) jenis sumber hukum, yaitu : 1. Peraturan perundangan;
2. Hukum kebiasaan;
3. Perjanjian antarnegara;
4. Perjanjian perseorangan;
5. Jurisprudensi;8
6HMN. Purwosutjipto, 1980, Loc.Cit, hlm.1.
7Apeldoorn, Inleiding tot de studie van het Ned. Recht, (Nederland:11e druk, 1952), hlm. 58.
8HMN. Purwosutjipto, 1980, Loc.Cit, hlm.3.
3 Pasal 1 KUHD, berbunyi sebagai berikut :
“Kitab Undang-Undang Hukum Sipil (KUHS) berlaku juga untuk hal-hal yang diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, kecuali jika di dalam KUHD diadakan peraturan-peraturan khusus yang menyimpang dari KUHS”.
Berdasarkan hal itu, maka sumber Hukum Dagang selain terdapat pada KUHD, juga terdapat dalam KUHS. Umpamanya peraturan-peraturan yang ditentukan dalam KUHS, seperti:
perikatan, jual beli, maatschap, berlaku dalam KUHD.9
Hukum Dagang terletak dalam lapangan hukum perikatan, yang khusustimbul dari lapangan perusahaan. Perikatan-perikatan itu ada yang bersumber dari perjanjian dan ada yang bersumber dari undang-undang.
a. Yang bersumber dari perjanjian, misalnya: pengangkutan, asuransi, jual beli perusahaan, makelar, komisioner, wesel, cek dan lain-lain;
b. Yang bersumber dari undang-undang, misalnya: tubrukan kapai (Pasal 534) dan lain-lain.
Hukum Dagang diatur dalam:
1. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), sebagai kodifikasi;
2. Peraturan-peraturan lain di luar kodifikasi, misalnya:
a. S. 1927 - 262, mengenai pengangkutan dengan kereta api (bepalingen vervoer spoorwagen);
b. S. 1939 - 100 jo 101, mengenai pengangkutan dengan kapal terbang di pedalaman dan perubahan-perubahan serta tambahan-tambahan selanjutnya;
c. S. 1941 -101, mengenai perusahaan pertanggungan jiwa;
d. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1959 Tentang Pos;
e. Peraturan Pemerintah Nomor 36Tahun 1948 tentang Damri;
f. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1959 tentang Pos Internasional dan lain-lain.
3. Kebiasaan yang berlaku.10
Berbicara mengenai tujuan Hukum Dagang, maka pada dasanya adalah sama dengan membicarakan mengenai tujuan hukum pada umumnya. Pada umumnya Hukum Dagang itu bertujuan untuk menjamin adanya kepastian hukum dan untuk mencapai keadilan dalam
9Mustafa A. Siregar, Op.Cit, hlm.1.
10HMN. Purwosutjipto, 1980, Loc.Cit, hlm. 5-6.
4 masyarakat. Di samping kedua tujuan itu masih ada lagi tujuan-tujuan lain yang hendak diciptakan oleh hukum misalnya tata tertib, aman, suasana damai, sejahtera, bahagia dan lain- lain.
Sejalan dengan itu, maka Hukum Dagang dapat juga dikatakan bertujuan menjamin adanya kepastian dalam hubungan privat khusus mengenai perniagaan, wesel, promes dan cek, asuransi, perniagaan laut dan segala sesuatu yang berhubungan dengan itu, kepailitan, hak pengarang dan keoktroian.
Tujuan Hukum Dagang juga untuk menjamin kepastian hukum dalam perdagangan, dan untuk mencapai keadilan dalam transaksi dagang, yakni:
a. Pemberi perantara kepada produsen dan konsumen;
b. Membelikan dan menjualkan barang-barang;
c. Memudahkan dan menjatuhkan pembelian dan penjualan.11
L.J. Van Apeldoorn dalam bukunya “Inleiding tot de Studie van het Nederlandse Recht”
menyatakan bahwa tujuan Hukum Dagang adalah mengatur pergaulan hidup manusia secara resmi.12
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan Hukum Dagang itu pada umumnya ialah untuk menjamin adanya kepastian hukum dalam bidang perdagangan bagi para pengusaha khususnya dan masyarakat pedagang pada umumnya, sehingga tercapai apa yang disebut dengan keadilan dan masyarakat pedagang yang aman dan tertib.13
B. Hubungan Hukum Dagang dengan Hukum Perdata
Subekti berpendapat bahwa terdapatnya KUHD di samping KUHS (Burgerlijk Wetboek) sekarang ini dianggap tidak pada tempatnya, oleh karena sebenarnya “Hukum dagang” tidaklah lain dari pada “Hukum Perdata”, dan perkataan “ dagang” bukanlah suatu pengertian hukum, melainkan suatu pengertian perekonomian.
Pembagian hukum sipil ke dalamKUHS dan KUHD hanyalah berdasarkan sejarah saja, yaitu karena dalam Hukum Romawi (yang menjadi sumber terpenting dari Hukum Perdata Eropa
11Mustafa A. Siregar, Loc. Cit, hlm.2-3
12L.J Van Apeldoorn, Inleiding tot de Studie van het Nederlandse Recht, Cetakan kedelapan Belas, diterjemahkan oleh Oetarid Sadino, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1981), hlm.18
13Mustafa A. Siregar, Loc.Cit, hlm.3.
5 Barat) belum terkenal peraturan-peraturan sebagaimana sekarang termuat dalam abad pertengahan.
Di Nederland sudah ada aliran yang bertujuan menghapuskan pemisahan Hukum Perdata dalam dua kitab Undang-Undang itu (bertujuan mempersatukan Hukum Perdata dan Hukum Dagang dalam suatu Kitan Undang-Undang saja).
Pada beberapa negara lainnya, misalnya di Amerika Serikat dan Swiss, tidaklah terdapat suatu KUHD yang terpisah dari KUHS. Dahulu memang peraturan=peraturan yang termuat dalam KUHD dimaksudkan hanya berlaku bagi orang-orang “pedagang” saja, misalnya hanyalah orang pedagang diperbolehkan membuat surat wesel.
KUHPerdata (BW) merupakan hukum perdata umum, sedangkan KUHD (WvK) merupakan hukum perdata khusus, jadi hubungan antara kedua macam hukum ini seperti genus (umum) dan specialis (khusus). Mengenai hubungan ini berlaku adagium (rechtsspreuk, azas hukum yang terkandung dalam kalimat “lex specialis derogate lex generalis” (hukum khusus menghapus hukum umum). Adagium ini dirumuskan dalam undang-undang sebagai yang tercantum dalam Pasal 1 KUHD yang berbunyi :
“Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, seberapa jauh dalam Kitab Undang-Undang ini (KUHD) tidak khusus diadakan penyimpangan-penyimpangan, berlaku juga terhadap hal- hal yang disinggung dalam kitab ini (KUHD)”.
Bahwa hubungan antara KUHPerdata dan KUHD sebagai hukum umum dan hukum khusus dapat dibuktikan lagi dari Pasal 1319, Pasal 1339, Pasal 1347 KUHPerdata dan Pasal 15 dan Pasal 396 KUHD.14
C. Sejarah Hukum Dagang Indonesia
Perkembangan Hukum Dagang sebenarnya telah dimulai sejak abad pertengahan di Eropa kira-kira dari tahun 1000 sampai dengan 1500. pada masa itu banyak lahir kota-kota di Eropa Barat sebagai pusat perdagangan seperti di italia dan Perancis Selatan. Hukum Romawi pada waktu itu, yaitu Corpus Juris Civilis, ternyata tidak dapat menyelesaikan seluruh perkara-perkara yang timbul di sidang perdagangan. Oleh karena itu, di kota-kota Eropa Barat disusun peraturan- peraturan hukum baru yang berdiri sendiridi samping hukum-hukum Romawi yang berlaku.
14 HMN. Purwosutjipto, 1980, Loc.Cit, hlm.6
6 Corpus Juris Civilis adalah peraturan perundang-undangan tentang perdagangan di Romawi, tetapi tidak mengenal Hukum Dagang secara khusus, lagi pula tidak dapat menyelesaikan seluruh perkara-perkara yang timbul di bidang perdagangan. Oleh karena itu lahir hukum baru untuk para pedagang yang disebut dengan “ koopmansrecht”.15
Hukum yang baru ini berlaku bagi golongan pedagang yang disebut Hukum Dagang, disebabkan karena sifat perdagangan makin lama makin berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, otomatis kebutuhan Hukum Dagang makin bertambah. Sehingga lama kelamaan, Hukum Dagang yang pada waktu itu masih merupakan bersifat kedaerahan, dan kemudian disebabkan bertambah eratnya hubungan antardaerah yang begitu kompleks, maka dirasa perlu adanya suatu kesatuan hukum di bidang Hukum Dagang ini.16
1. Asal-usul KUHD
Berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, maka KUHD masih berlaku di Indonesia.
KUHD Indonesia diumumkan dengan publikasi tanggal 30 April1847 (S. 1847 - 23), yang mulai berlaku pada tanggal 1 Mei 1848. KUHD Indonesia itu hanya turunan belaka dari “Wetboek vanKoophandel”, Belanda yang dibuat atas dasar asas konkordansi (Pasal 131 IS). Wetboek van Koophandel Belanda itu berlaku mulai tanggal 1 oktober 183817 dan 1 Januari 1842 (di Limburg).
Selanjutnya Wetboek van Koophandel Belanda itu juga meneladani dari “Code du Commerce”
Perancis 1808, tetapi anehnya tidak semua lembaga hukum yang diatur dalam “Code du Commerce” Perancis itu diambil alih oleh “wetboek van Koophandel” Belanda. Ada beberapa hal yang tidak diambil, misalnya mengenai peradilan khusus tentang perselisihan-perselisihan dalam lapangan perniagaan (special handelsrechtbanken).18
2. Kodifikasi Hukum Dagang yang Pertama
Dahulu sebelum zaman Romawi, di samping Huku Perdata yang mengatur hubungan- hubungan hukum antara perseorangan yang sekarang termasuk dalam KUHPerdata, para pedagang membutuhkan peraturan-peraturan mengenai perniagaan. Karena perniagaan makin lama makin berkembang, maka kebutuhanhukum perniagaan atau Hukum Dagang makin bertambah. Lama kelamaan, Hukum Dagang yang pada waktu itu masih merupakan hukum
15 Koopmasrecht adalah Hukum Dagang sebelum dikodifikasi yang bersifat kedaerahan.
16 Mustafa A. Siregar, Op.Cit, hlm. 6-7.
17 Van Kan, Inleiding tot de Rechtswetenschap, (Nederland: 7e druk, 1948), hlm. 54.
18 Soekardono, Hukum Dagang Indonesia I, Bagian I, Cetakn 3, hlm.11.
7 kebiasaan, begitu banyak, sehingga dipandang perlu untuk mengadakan kodifikasi. Kodifikasi Hukum Dagang yang pertama dibuat, atas perintah Raja Lodewijk XIV di Perancis, yaitu Ordonnance du Commerce 1673 dan Ordonannce de la Marine 1681.19
S. Adiwinata mengatakan bahwa kata kodifikasi berasal dari bahasa latin yang terdiri dari 2 (dua) suku kata, yaitu :
1. Codex yang artinya catatan/tulisan, dan 2. Fecere yang artinya membuat.
Kodifikasi berarti membuat catatan atau tulisan-tulisan yang berhubungan dengan kaedah-kaedah tertentu, dalam suatu buku Undang-Undang.20
Aliran kodifikasi lahir akibat pengaruh revolusi Perancis. Menurut aliran ini, kodifikasi maksudnya menuangkan norma hukum sebanyak-banyaknya mungkin ke dalam suatu bidang tertentu. Dibentuk pula sebagai undang-undang yang mengandung arti dan pengertian yang luas.
Pembentukan undang-undang memakai suatu sistem tertentu.
Sebelum revolusi di perancis, kekuasaan eksekutif, yudikatif dan legislatif berada ditangan raja. Sesudah revolusi, Pemerintah diwajibkan untuk patuhdan tunduk kepada hukum yang tertulis. Kekuasaannya dikembangkan dengan mencatat segala perintah atau kebijaksanaannya.
Dan catatan diolah, kemudian dijadikan undang-undang, undang-undang ini tidak saja dipatuhi oleh anggota masyarakat biasa, akan tetapi raja juga harus tunduk kepada undang-undang tersebut.21
D. Perdagangan
Hukum Dagang timbul dan lahir karena adanya kaum pedagang. Hukum Dagang adalah Hukum Perdata bagi kaum pedagang. Jadi Hukum Dagang bagi pedagang. Sehingga timbul pertanyaan, siapakah pedagang itu? Soal ini dijawab oleh Pasal 2 (lama) KUHD yang berbunyi :
Pedagang adalah mereka yang melakukan perbuatan perniagaan (daden van koophandel) sebagai pekerjaannya sehari-hari.
19 Ibid, hlm.11-12. Menurut Mustafa A. Siregar, bahwa pada abad ke XVII diadakanlah kodifikasi Hukum Dagang yang petama, oleh Menteri Keuangan Perancis “Colbert” atas perintah raja Luis XIV, yaitu suatu peraturan
“Ordonance du commerce” (1673) kemudian disusul suatu peraturan lain, yakni “Ordonance de la Marine” (1681).
20 S. Adiwinata, Istilah-istilah Hukum, Latin Indonesia, Cetakan Pertama, (Jakarta: PT. Intermasa, 1977), hlm.
23.
21 Mustafa A. Siregar, Op.Cit, hlm.9
8 Menurut Mustafa A. Siregar, pedagang adalah mereka yang melakukan perbuatan perniagaan (perbuatan pembelian barang-barang untuk dijual lagi).22
Sedangkan perniagaan terdapat pada Pasal 3 (lama) KUHD yang berbunyi:
Perbuatan perniagaan pada umumnya adalah perbuatan pembelian barang-barang untuk dijual lagi.23
Selain Pasal 3 (lama) KUHD di atas, perbuatan perniagaan juga diatur oleh Pasal 4 (lama) KUHD, yang memasukkan beberapa macam perbuatan lain dalam pengertian perbuatan perniagaan, yaitu perbuatan-perbuatan yang mengenai :
1. Perusahaan komisi;
2. Perniagaan wesel dan surat-surat berharga lain-lainnya;
3. Pedagang, banker, kasir, makelar dan yang sejenisnya;
4. Pembangunan, perbaikan dan perlengkapan kapal untuk pelayaran di laut;
5. Ekspedisi dan pengangkutan barang-barang;
6. Jual beli perlengkapan dan keperluan kapal;
7. Rederij, carter-mencarter kapal, bodemerij dan perjanjian lain-lain tentang perniagaan laut;
8. Mempekerjakan nakhoda dan anak kapal untuk kepentingan kapal niaga;
9. Perantara/ makelar laut, cargadoor, convooilopers, pembantu-pembantu pengusaha perniagaan dan lain-lain;
10. Perusahaan asuransi.24
Pasal 5 (lama) KUHD juga mengatur tentang perbuatan perniagaan, yang bunyi singkatnya adalah sebagai berikut :
“Perbuatan-perbuatan yang timbul dari kewajiban-kewajiban menjalankan kapal untuk melayari laut, kewajiban-kewajiban yang mengenai tubrukan kapal, menolong dan menyimpan barang-barang-barang di laut yang berasal dari kapal karam atau kapal
22 Ibid, hlm.4.
23 Perbuatan “Perniagaan” dalam pasal ini hanya perbuatan pembelian saja, sedang perbuatan “penjualan”
tidak termasuk di dalamnya, karena “penjualan” merupaka tujuan dari perbuatan pembelian itu. Ingat: membeli barang untuk dijual lagi. “Barang” dalam pasal ini berarti “barang bergerak” tidak termasuk barang tetap.
24 HMN. Purwosutjipto, 1980, Op.Cit, hlm.10.
9 terdampar, begitupula penemuan barang-barang dilaut, pembuangan barang-barang di laut pada waktu ada averai, itu semua termasuk dalam golongan perbuatan perniagaan”.
Pasal 2 sampai dengan Pasal 5 (lama) KUHD ini termasuk dalam Bab I KUHD yang berjudul : Tentang Pedagang dan Perbuatan Perniagaan. Pasal-pasal ini telah dicabut dengan S. 1938-276, yang mulai berlaku pada tanggal 17Juli 1938.
Menurut C.S.T Kansil, perdagangan atau perniagaan pada umumnya adalah pekerjaan membeli barang dari suatu tempat atau pada suatu waktu yang berikut dengan maksud memperoleh keuntungan.25 Selanjutnya beliau berpendapat bahwa dalam zaman modern ini perdagangan adalah pemberian perantara antara produsen dan konsumen untuk membelikan dan menjualkan barang yang memudahkan dan memajukan pembelian dan penjualan.26
Perniagaan (perdagangan) menurut M.H. Tirtamidjaja adalah pemberian perantara antara produsen dan konsumen, membelikan dan menjualkan dan membuat perjanjian-perjanjian yang memudahkan dan memajukan pembelian dan perjanjian itu.27
Pada umumnya perdagangan adalah suatu kegiatan dari perdagangan untuk membeli darang dagangan itu kepada orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan daripadanya.
Sedangkan perngertian perdagangan dalam zaman modern menurut Mustafa A. Siregar semakna dengan C.S.T Kansil di atas, yaitu pemberian perantaraan antara produsen dan konsumen untuk membeli dan menjual barang yang memudahkan dan memajukan pembelian dan penjualan.28
Berdasarkan pengertian-pengertian yang diberikan oleh sarjana-sarjana tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya pengertian perdagangan (perniagaan) yang diberikan adalah sama, yakni tetap mempunyai pemberian perantara kepada produsen dan konsumen, membeli dan menjualkan barang-barang, memudahkan dan memajukan pembelian dan penjualan.29
Bagi pedagang yang melakukan kegiatan perdagangan ialah seorang yang bertindak sebagai orang “khusus” karena tindakan itu dilakukan oleh mereka yang berhubungan atau yang
25 C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Aksara Baru, 1979), hlm.40.
26 Ibid
27 M.H. Tirtamidjaja, Pokok-pokok Hukum Perniagaan, Cetakan Keempat, (Jakarta: Djambatan, 1970), hlm.
62.
28 Mustafa A Siregar, Op.Cit, hlm.3.
29 Ibid, hlm.5.
10 dihubungkan dengan tindak perdagangan, sehingga tindakannya itu merupakan tindakan dari seorang pedagang.
Untuk mereka yang melakukan tindakan perdagangan diadakan apa yang disebut “Hukum Eksepsionil” (uitzonderingsrechten) tersendiri yang ketentuan-ketentuannya antara lain terdapat dalam :
1. KUHPerdata
a. Seorang istri yang menjadi pedagang untuk tindakan tidak memerlukan bantuan dari suaminya.
b. Pengakuan perjanjian hutang sepihak, hanya meru[akan bukti sempurna apabila ditulis sendiri oleh yang berhutang kecuali dalam hal-hal yang bersangkutan dengan perdagangan.
c. Bukti saksi untuk hal-hal yang menyangkut jumlah Rp. 300,- ke atas tidak diperkenankan.
2. KUH Acara Perdata (Rv)
a. Waktu gugatan lebih singkat dari pada hal-hal keperdataan biasa.
b. Penyitaan konservatoir dapat diadakan secara lebih luas.
c. “Vonnis verstek” dapat dilaksanakan lebih dahulu.
d. Kemungkinan penggunaan “lijfsdwang” lebih besar.
e. Kompetensi “relatif´lebih luas.
3. S. 171 tahun 1857
Bunga moratior untuk hal-hal keperdataan biasa adalah 5% sedangkan untuk hal-hal perdagangan adalah 6%.
Dengan berkembangnya perbuatan-perbuatan pedagang ini maka istilah pedagang tersebut mengalami perubahan menjadi orang/mereka yang menjalankan perusahaan. Definisi perusahaan tidak terdapat dalam pasal-pasal KUHDagang. Dalam Pasal 6 KHUDagang hanya menyinggung bahwa setiap orang yang menyelenggarakan suatu perusahaan diwajibkan membuat pembukuan.
Istilah perusahaan berasal dari bahasa Belanda “Bedrijf”. Bedrijfreglementering merupakan suatu peraturan yang sangat popular mengenai perusahaan pada waktu itu di Belanda. Hal ini dapat dikaitkan dengan berubahnya istilah Pedagang menjadi Perusahaan pada tahun 1938.
11 E. Perusahaan
Hukum Dagang ialah hukum perikatan yang timbul khusus dari lapangan perusahaan.
Istilah perusahaan baru kemudian timbulnya, sedangkan sebelum itu yang lazim ialah istilah perdagangan.30
S. 1938-276 tanggal 17 Juli 1938, istilah pedagang dalam KUHD dihapus, diganti dengan istilah perusahaan. Kalau pengertian pedagang dapat ditemukan dalam Pasal 2 sampai dengan 5 (Lima) KUHD, sebaliknya pengertian “perusahaan” tidak terdapat dalam KUHD. Hal ini rupanya memang disengaja oleh pembentuk undang-undang, tidak mengadakan penafsiran resmi dalam KUHD, agar pengertian perusahaan dapat berkembang baik sesuai dengan gerak langkah dalam lalu lintas perusahaan sendiri. Terserah kepada ilmiah dan jurisprudensi tentang perkembangan selanjutnya.31
Perusahaan adalah istilah ekonomi yang dipakai dalam KUHD dan perundang-undangan di luar KUHD. Tetapi dalam KUHD sendiri tidak dijelaskan pengertian resmi istilah perusahaan itu.
Rumusan pengertian perusahaan terdapat dalam Pasal 1 Undang-Undang No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan (selanjutnya disebut UWDP).32
Suatu perusahaan dimiliki oleh seseorang adalah perusahaan perorangan dan oleh orang banyak disebut persekutuan perdagangan seperti firma, komanditer, perseroan terbatas dan lain-lain.33
Mengenai perumusan pengertian perusahaan ini secara ilmiah terdapat beberapa pendapat pakar, yang penting diantaranya ialah:
a. Rumusan Pernerintah Belanda
Menurut Pernerintah Belanda, yang pada waktu itu membacakan "memorie van toelichtincf' rencana undang-undang "Wetboek van Koophandef di muka Parlemen, menerangkan bahwa yang disebut "perusahaan" ialah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara tidak terputus-putus, dengan terang-terangan, dalam kedudukan tertentu dan untuk mencari laba (bagi diri sendiri).34
b. Rumusan Undang-Undang No. 3 Tahun 1982
30 HMN. Purwosutjipto, 1980, Op.Cit, hlm.15
31Ibid.
32Abdulkadir Muhammad, Pengantar Hukum Perusahaan Indonesia, Cetakan Ketiga, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1995), hlm. 7-8.
33Mustafa A Siregar, Op.Cit, hlm. 21.
34M. Polak, Handboek voor net Ned, Handels en Falllissementsrecht, Cetakan Kelima, (Nederland: le deel, 5e druk, 1935), hlm. 85.
12 Menurut Pasal 1 huruf b Undang-Undang No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan (UWDP), definisi perusahaan adalah sebagai berikut: "Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus-menerus dan didirikan, bekerja, serta berkedudukan dalam wilayah Negara Indonesia untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba".
Dalam Pasal 1 huruf d UWDP dirumuskan bahwa yang dimaksud dengan usaha adalah setiap tindakan, perbuatan atau kegiatan apa pun dalam bidang perekonomian, yang dilakukan oleh setiap pengusaha untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba. Sedangkan yang dimaksud dengan "pengusaha" adalah setiap orang perseorangan atau persekutuan atau badan hukum yang menjalankan suatu jenis perusahaan (Pasai 1 huruf c UWDP).
Berdasarkan ketentuan pasal tersebut diperoleh kenyataan bahwa dalam pengertian perusahaan tersimpul 2 (dua) hal, yaitu;
1. Bentuk usaha yang berupa organisasi atau badan usaha, dalam bahasa Inggris disebut
"company"'.
2. Jenis usaha yang berupa kegiatan dalam bidang perekonomian yang dilakukan secara terus-menerus oleh pengusaha untuk memperoleh keuntungan dan atau laba, dalam bahasa Inggris disebut "business.
Apabila rumusan ini dibandingkan dengan rumusan Molengraaff dan Polak, ternyata rumusan ini lebih sempurna. Dengan terpenuhi unsur "bentuk usaha" (badan usaha) dan "jenis usaha" (kegiatan bidang perekonomian), maka unsur-unsur lain terpenuhi juga. Berdasarkan undang-undang yang berlaku sekarang, walaupun kegiatan dalam bidang ekonomi dilakukan terus-menerus, terang-terangan, terhadap pihak lain (pihak ketiga), dengan tujuan memperoieh keuntungan dan atau laba, jika tidak dijalankan dengan badan usaha, itu bukan perusahaan, melainkan hanya pekerjaan.35
c. Rumusan Molengraaff
Menurut Molengraaff, perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus menerus, bertindak keluar untuk mendapatkan penghasilan, dengan cara memperdagangkan barang-barang atau menyerahkan barang-barang, atau rnengadakan
35Abdulkadir Muhammad, Op.Cit, hlm. 9-10.
13 perjanjian-perjanjian perdagangan. Di sini Molengraaff memandang perusahaan dari sudut ekonomi.36 Karena tujuan perusahaan dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Memperdagangkcin barang, artinya membeli barang dan menjualnya lagi dengan perhitungan memperoieh penghasilan berupa keuntungan atau laba,
2. Menyerahkan barang, artinya melepaskan penguasaan atas barang dengan perhitungan memperoieh penghasilan, misalnya menyewakan barang,
3. Perjanjian perdagangan, artinya menghubungkan pihak satu dengan pihak lain dengan perhitungan memperoieh penghasilan berupa keuntungan atau laba bagi pemberikuasa, dan upah bagi penerima kuasa, misalnya makelar, komisioner, agen perusahaan dan lain-lain.
Perbuatan ekonomi tersebut merupakan mata pencaharian, artinya dilakukan secara terus menerus, tidak insidental, bertindak keluar menghadapi pihak lain (pihak ketiga). Di sini muncul aspek hukum dari perusahaan, yaitu perjanjian dengan pihak lain yang menjadi dasar kewajiban dan hak masing-masing pihak. Tetapi perlu dikemukakan bahwa dalam rumusan Molengraaff tidak dipersoalkan tentang perusahaan sebagai badan usaha. Yang dikemukakan justru perusahaan sebagai perbuatan, jadi ada kesan hanya meliputi kegiatan usaha.37
d. Rumusan Polak
Menurut Polak, baru ada perusahaan, bila diperlukan adanya perhitungan-perhitungan tentang laba rugi yang dapat diperkirakan, dan segala sesuatu itu dicatat dalam pembukuan. Di sini Polak memandang perusahaan dari sudut "komersiil"38 dan menambah unsur '"pembukuan laba rugi" pada unsur-unsur iain seperti yang telah dikemukakan oleh Molengraaff.
Polak mengakui ada unsur-unsur lain itu terbukti dari penjelasannya bahwa apakah suatu perusahaan dijalankan menurut cara-cara yang iazim atau tidak, dapat diketahui dari keteraturan menjalankan perusahaan itu dan bukan dijalankan secara gelap. Jika unsur-unsur ini tidak ada, hilanglah sifat perusahaan dari aspek hukum perusahaan.
Dengan adanya unsur pembukuan laba rugi, maka rumusan pengertian perusahaan lebih dipertegas lagi, sebab pembukuanlaba rugi merupakan unsur mutlak yang harus ada pada perusahaan menurut ketentuan Pasal 6 KUHD. Laba adalah tujuan utama setiap perusahaan jika
36WLPA Molengraaff, Leidraad bij de Beofenlng v.h. Ned. Handelsrecht, Cetakan 9, (deel I, druk IX, herzien door C.W. Starbusman, Chr. Zevenbergen en G.H.C. Bodenhausen), hlm. 38.
37Abdulkadir Muhammad, Loc.Cit, hlm. 8-9.
38 M. Polak, loc.Cit, hlm. 88.
14 tidak demikian, itu bukan perusahaan. Namun, dalam rumusan perusahaan menurut Polak tetap tidak disinggung soal perusahaan sebagai badan usaha.39
Berdasarkan rumusan yang dikemukakan di atas, maka dapat diidentifikasi unsur-unsur yang terdapat dalam pengertian perusahaan. Unsur-unsur tersebut dibahas satu demi satu dalam uraian berikut ini.
1. Badan usaha
Badan usaha yang menjalankan kegiatan dalam bidang ekonomi itu mempunyai bentuk tertentu, seperti Perusahaan Dagang, Firma, Persekutuan Komanditer, Perseroan Terbatas, Perusahaan Umum, Koperasi. Hal ini dapat diketahui melalui akta pendirian perusahaan. Bagi perusahaan yang tidak memiliki akta pendirian, dapat diketahui melalui izin usaha seperti pada perusahaan perseorangan.
Dalam rumusan Molengraaff dan Polak. unsur "badan usaha" tidak dipersoalkan.
Kenyataannya saat ini menunjukkan bahwa setiap kegiatan dalam bidang ekonomi tentu dijalankan oleh badan usaha. Jika tidak demikian, itu hanya merupakan "pekerjaan" belaka.
2. Kegiatan dalam bidang ekonomi
Objek kegiatan dalam bidang ekonomi ialah harta kekayaan, tujuannya ialah memperoleh keuntungan dan atau laba. Kegiatan dalam bidang ekonomi meliputi : perdagangan, pelayanan dan industri yang dapat dirinci sebagai berikut:
a. Perdagangan meliputi jual beli barang bergerak dan tidak bergerak, misalnya ekspor - impor, bursa efek, restoran, toko swalayan, perumnas, valuta asing, dll.
b. Pelayanan meliputi penyediaan jasa, misalnya biro perjalanan, biro konsultan, salon kecantikan, kursus keterampilan, menjahit, busana, perbankan, pengangkutan, perbengkelan, dll.
c. Industri meliputi mencari dan mengolah, serta mengadakan sumberdaya dan kekayaan, misalnya eksplorasi dan pengeboran minyak, penangkapan ikan, usaha pertanian/perkayuan, makanan dalam kaleng, barang kerajinan, obat-obatan, kendaraan bermotor, rekaman dan perfilman, percetakan dan penerbitan, dli.
Dalam rumusan Molengraaff, kegiatan daiam bidang ekonomi hanya meliputi kegiatan memperdagangkan barang, menyerahkan barang, atau mengadakan perjanjian perdagangan.
39 Abdulkadir Muhammad, Loc.Cit, hlm.9
15 Tegasnya, hanya meliputi kegiatan perdagangan, yang hanya sebagian kecil kegiatan bidang ekonomi yang /nenjadi unsur pengertian perusahaan.
3. Terus-menerus
Berdasarkan rumusan perusahaan di atas, menentukan bahwa kegiatan dalam bidang ekonomi itu dilakukan secara terus-menerus, artinya tidak terputus-putus, tidak secara insidental, tidak sebagai sambilan, bersifat tetap untuk jangka waktu lama. Jangka waktu tersebut ditentukan dalam akta pendirian perusahaan atau dalam surat izin usaha.
4. Terang-terangan
Terang-terangan artinya diketahui oleh umum dan ditujukan kepada umum, tidak selundup-selundupan, diakui dan dibenarkan oleh masyarakat, diakui dan dibenarkan oleh pemerintah berdasarkan undang-undang, dan bebas berhubungan denqan pihak lain (pihak ketiga). Bentuk terang-terangan ini dapat diketahui dari akta pendirian perusahaanf surat izin usaha, surat izin tempat usaha, akta pendaftaran perusahaan.
Molengraaff menggunakan istilah "bertindak keluar" yang maksudnya berhubungan dengan pihak lain (pihak ketiga), tetapi tidak dipersoalkan apakah secara terang-terangan atau selundup-selundupan. Jika bertindak keluar itu secara terang-terangan, juga tidak dipersoaikan bentuk terang-Lerangan itu. Undang-undang mengatur bentuk terang-terangan ini. Jika unsur ini tidak ada, perusahaan itu dikatakan liar, dan melanggar undang-undang.
5. Keuntungan dan atau laba
Molengraaff menggunakan istilah "penghasilan", Polak menggunakan istilah "laba".
pembentuk undang-undang menggunakan istilah "keuntungan dan atau laba". Ketiga macam istilah ini adalah istilah ekonomi yang menunjukkan nilai lebih (hasil) yang diperoleh dari modal yang dijalankan. Setiap kegiatan menjalankan perusahaan tentu berdasarkan sejumlah modal.
Dengan modal perusahaan itu keuntungan dan atau laba dapat diperoleh. Ini adalah tujuan utama setiap perusahaan.
6. Pembukuan
Dalam rumusan Molengraaff tidak terdapat unsur pembukuan, tetapi Polak menambahkan unsur ini dalam pengertian perusahaan. Pasal 6 KUHD mengharuskan perusahaan membuat pembukuan yang berisi catatan tentang harta kekayaan dan kewajiban perusahaan.
Keuntungan dan atau laba yang diperoleh hanya dapat diketahui dari pembukuan. Pembukuan juga menjadi dasar perhitungan pajak yang wajib dibayarkan kepada Pemerintah.
16 Berdasarkan unsur-unsur yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan definisi perusahaan dari segi hukum, yaitu "setiap badan usaha yang menjalankan kegiatan dalam bidang ekonomi secara terus-menerus dan terang-terangan dengan tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba yang dibuktikan dengan pembukuan". Supaya perusahaan dapat didaftarkan, perusahaan itu harus didirikan, bskerja dan berkedudukan dalam wilayah Negara Repubiik Indonesia.40
Dalam masyarakat ada berbagai macam jenis perusahaan, yakni :
1. Perusahaan swasta,. yaitu perusahaan yang modal seiuruhnya dimiliki oleh swasta dan tidak ada campur tangan pemerintah. Perusahaan swasta ini ada 3 (tiga) macam, yaitu:
a. Perusahaan swasta nasional, yaitu perusahaan swastamilik warga negara Indonesia;
b. Perusahaan swasta asing, yaitu perusahaan swasta milikwarga negara asing;
c. Perusahaan swasta campuran (joint venture), yaitu perusahaan swasta milik warga negara Indonesia dan warga negara asing.
2. Perusahaan Negara, yaitu perusahaan yang modalseluruhnya milik Negara Indonesia. Mengenai jenisperusahaan ini juga ada bermacam-macam, yaitu :
a. Perusahaan Negara berdasar IBW (Indonesisch Bedrijven Wet, S. 1927-419 bsd S.
1936-445). Perusahaan ini tiap-tiap tahun mendapat pinjaman uang dengan bunga dari Pemerintah, misalnya DKA (Jawatan Kereta Api) dulu, dengan keuangan yang otonom. DKA ini selanjutnya menjadi PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api), yang dibentuk dengan PP No. 22 Tahun 1963 (LN 1963-43), dan sekarang PNKA ini menjadi PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api), yang dibentuk dengan PP No. 61 Tahun 1971 (LN 1971-75).
b. Perusahaan Negara berdasar ICW (Indonesisch Comptabiliteits Wet, S. 1925-448).
Perusahaan negara macam ini tidak mempunyai keuangan yang otonom (keuangan sendiri). Keuangannya merupakan bagian dari keua.-igan Negara pada umumnya,. misalnya: Jawatan Pegadaian Negara. Perusahaan ini menjadi perusahsan Negara berdasar PP No. 178 Tahun 1961 (LN 1961 - 209), dan akhimya
40Ibid, hlm. 11-14.
17 menjadi perusahaan jawatan (Perjan Pegadaian) berdasarkan PP No. 7 Tahun 1969 (LN 1969-9).
c. Perusahaan Negara berdasar Undang-Undang Nasionalisasi perusahaan- perusahaan Belanda, yaitu Undang-Undang No. 86 Tahun 1958 (LN 1958-162).
d. Perusahaan Negara berdasar Undang-Undang No. 19 prp Tahun 1960 (LN 1960- 59). Menurut undang-undang ini, yang disebut perusahaan negara ialah perusahaan dengan bentuk apa saja, yang modal seluruhnyamerupakan kekayaan Negara Republik Indonesia, kecuali jika ditentukan lain berdasarkan undang- undang (Pasal 1 Undang-Undang No. 19 prp Tahun 1960).
F. Pekerjaan
Pekerjaan (beroep) adalah istilah yang mempunyai pengertian yang lebih luas dari pada pengertian perusahaan (bedrijf). Tidak semua orang yang menjalankan pekerjaan itu menjalankan pula perusahaan. Sebaliknya, setiap orang yang menjalankan perusahaan sudah tentu menjalankan pekerjaan. KURD sendiri tidak memberikan rumusan resmi mengenai pekerjaan. Terserah pada pakar ilmu hukum dan hakim untuk merumuskan pengertian pekerjaan.
1. Rumusan Pemerintah Belanda
Ketika merancangkan perubahan WvK tahun 1934, Pemerintah Belands dalam penjelasannya di muka Parlemen merumuskan pekerjaan itu sebagai "perbuatan yang dilakukan tidak terputus-putus, secara terang-terangan, dan dalam kedudukan tertentu". Dalam rumusan ini ternyata unsur "keuntungan dan atau laba" bukan unsur pokok. Sedangkan dalam pengertian perusahaan, unsur ini justru harus ada.
Selanjutnya Pemerintah Belanda menjelaskan bahwa seorang dokter, pengacara, notaris, juru sita dianggap menjalankan pekerjaan. Alasannya ialah bahwa orang-orang yang berkepentingan mendatangi mereka karena mereka memiliki kualitas, yaitu keahlian atau kedudukan yang resmi, walaupun mereka bertindak tidak terputus-putus dan secara terang- terangan untuk memperoleh penghasilan.
Sebaliknya, seorang apoteker dianggap telah memenuhi syarat menjalankan perusahaan, sehingga ia dinyatakan sebagai menjalankan perusahaan. Demikian juga akuntan, yurisprudensi menetapkan bahwa seorang akuntan menjalankan perusahaan, karena perbuatan akuntan
18 bersambungan dengan perbuatan menjalankan perdagangan (arrest H.R. 25 September 1925, W.11451).
Terhadap rumusan Pemerintah Belanda mengenai pekerjaan yang telah dijelaskan di muka Parlemen itu dapat diajukan beberapa keberatan, antara lain sebagai berikut.
a. Pemerintah Belanda tidak membedakan antara pekerjaan sumber penghasilan dan pekerjaan sumber pengabdian. Pekerjaan sumber penghasilan bertujuan memperoleh penghasilan, sedangkan pekerjaan sumber pengabdian bertujuan memperoleh pengalaman, amal, atau pengembangan iimu pengetahuan. Tidak ada pembedaan ini dapat diketahui dari tidak dicantumkannya unsur penghasilan dalam rumusan pengertian pekerjaan.
b. Pemerintah Beianda membedakan antara dokter, pengacara, notaris, juru sita yang menjalankan pekerjaan di satu pihak dan apoteker, akuntan yang menjalankan perusahaan di lain pihak. Padahal semua mereka itu melakukan perbuatan berdasarkan keahlian atau kedudukan resmi untuk memperoleh penghasilan. Untuk membedakan apakah menjalankan pekerjaan atau perusahaan, seharusnya dilihat apakah unsur-unsur perusahaan dipenuhi atau tidak. Jika dipenuhi berarti menjalankan perusahaan, jika tidak dipenuhi berarti menjaiankan pekerjaan.
2. Rumusan Polak
Walaupun sebenarnya Polak (1935) mengakui adanya unsur-unsur tidak terputus-putus, terang-terangan, iamenambahkan unsur "penghasilan yang dapat diperkirakan lebih dahulu", tetapi tidak memperhitungkan laba - rugi. Dengan demikian, dokter yang melakukan tugas di rumah sakit dikatakan menjalankan pekerjaan. Apabila ia membuka praktek di rumahnya sendiri, menurut Polak dokter itu dikatakan menjalankan perusahaan. Alasannya ialah dokter itu menjalankan pekerjaan dengan memperhitungkan laba rugi yang dapat diperkirakan lebih dahulu dengan melakukan pencatatan.
Untuk menentukan apakah dokter itu menjalankan pekerjaan atau perusahaan, perlu dilihat apakah ia membuka praktek di rumah sendiri itu memenuhi unsur-unsur perusahaan sebagai berikut:
1. Melakukan kegiatan ekonomi atau sosial, 2. Ada akta pendirian/izin usaha atau tidak, 3. Terus-menerus atau insidental,
19 4. Terang-terangan (ada papan nama, jam kerja, izin praktek) atau tidak,
5. Bertujuan memperoleh keuntungan dan atau laba dengan menerima pembayaran berdasarkan tarif tertantu, atau tanpa dibayar.
6. Ada catatan daftar pasien yang menunjukkan berapa pendapatan yang diperoleh, atau tidak.
Jika jawabannya memenuhi syarat unsure-unsur perusahaan, maka dokter itu menjalankan perusahaan. Jika jawabannya tidak memenuhi syarat unsur-unsur perusahaan, maka dokter itu hanya menjalankan pekerjaan. Berdasarkan UWDP No. 3 Tahun 1982, dokter yang menjalankan perusahaan wajib mendaftarkan perusahaannya pada Kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan setempat.
Untuk membedakan mana perbuatan yang termasuk dalam pengertian pekerjaan dalam arti hukum dan mana yang bukan, perlu ditentukan unsur-unsur pekerjaan seperti yang diuraikan berikut ini.
3. Perbuatan atau kegiatan
Unsur ini meliputi perbuatan atau kegiatan dalam bidang apa saja, misalnya bidang ekonomi, sosial, politik, pemerintahan, pendidikan.
4. Terus-menerus
Perbuatan atau kegiatan itu dilakukan terus-menerus, artinya tidak terputus-putus, tidak insidental, merupakan pencaharian pokok yang bersifat tetap, untuk jangka waktu lama.
7. Terang-terangan
Terang-terangan artinya mendapat pengakuan atau izin dari pemerintah, atau mendapat pengangkatan dari pemerintah, atau mendapat pengangkatan dari lembaga/badan tempat ia melakukan kegiatan, sehingga diketahui oleh masyarakat luas.
8. Kualitas tertentu
Kualitas tertentu adaiah keahlian khusus yang diakui oleh pemerintah, atau keahlihan/keterampilan khusus yang diakui oleh lembaga/badan yang berkepentingan.
Keahlian/ keterampilan khusus ini diperoleh melalui jenjang pendidikan dan pelaLihan tertentu, atau karena pengalaman yang mendalam.
9. Penghasilan
Penghasilan adaiah imbalan yang diperoleh dari pelayanan yang diberikan. Ini adaiah tujuan yang diperhitungkan.
20 Berdasarkan unsur-unsur yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan definisi pekerjaan dari segi hukum, yaitu "perbuatan atau kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus, terang- tcrangan, berdasarkan kualitas tertentu, dengan tujuan memperoleh penghasilan". Pekerjaan yang memenuhi unsur-unsur ini biasa disebut "profesi".41
Kalau pada pengertian perusahaan unsur laba merupakan unsur rnutlak, maka pada pengertian pekerjaan unsur laba tidak merupakan unsur mutlak. Jadi dasar perbuatan-perbuatan yang dilakukan bagi suatu pekerjaan itu tidak untuk mencari laba, tetapi misalnya atas dasar cinta ilmiah, perikemanusiaan atau agama.
Menurut pendapat Pemerintah Belanda Perencana Wetboek van Koophandel, pekerjaan itu perbuatan-perbuatan yang dilakukan tidak terputus-putus, secara terang-terangan dan dalam kedudukan tertentu. Jadi, laba tidak merupakan unsur mutlak. Menurut Polak pekerjaan itu dapat direncanakan sebelumnya dan dicatat (meskipun tidak dicatat dalam pembukuan), tetapi tidak memperhitungkan laba - rugi.42 Adapun misal pekerjaan ialah:
1. Pekerjaan dinas pemerintah yang melayani rakyat, misainya: pencatatan sipil, pencatatan perkawinan, peradilan, kepamongprajaan, kepolisian dan lain-lain.
2. Pekerjaan sosial, misalnya: Palang Merah Indonesia, perkumpulan kematian, perkumpulan oiah raga, perkumpulan kebudayaan dan lain-lain.
3. Pekerjaan-pekerjaan untuk agama, misalnya: Muhammadiyah, Dakwah Islamiyah dan lain-lain.
41Abdulkadir Muhammad, Op.dt, hlm. 18-23.
42 M. Polak, Op.Ot, hlm. 87-88.
21 BAB II
PERSEKUTUAN PERDATA
Pesatnya perkembangan perdagangan di tanah air ini, maka dari kalangan pengusaha tidak lagi bertindak seorang diri, melainkan mereka bersama-sama mendirikan persekutuan- persekutuan atau perseroan-perseroan.
Maksud para pengusaha menggabungkan diri dalam persekutuan-persekutuan terutama ialah untuk dapat bekerjasama secara teratur guna rnemudahkan tercapainya tujuan bersama yakni dengan menjalankan perusahaan memperoleh laba sebesar-besarnya.
Persekutuan-persekutuan itu dapat berupa Perseroan Firma, Perseioan Komanditer ataupun Perseroan terbatas. Dalam pengertian perusahaan, maka setiap pengusaha bertindak secara terus menerus dan terang-terangan.
Bertindak terang-terangan mengandung arti, bahwa tindakan-tindakan pengusaha harus dapat diketahui oleh pihak ketiga oleh umum dengan cara melakukan pengumuman- pengumuman dengan cara tertentu.
Oleh karena itulah badan-badan baru yang didirikan oleh pengusaha-pengusaha yang menggabungkan diri itu, oleh KUHD diharuskan tunduk kepada peraturan-peraturan mengenai pengumuman.
Mengenai Perseroan Firma, peraturan-peraturan pengumumannya diatur dengan Pasal 23 dengan 28 KUHD, yang antara lain dinyatakan, bahwa para pesero Firma diharuskan mendaftarkan akta pendiriannya dalam register pada Pengadilan Negeri dan setiap orang diperbolehkan memeriksa akta tersebut serta harus pula diumumkan dalam Berita Negara.
Demikian pula halnya dengan suatu Perseroan Terbatas, yang diatur dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007.
Walaupun demikian, untuk menjalankan suatu perusahaan dengan tujuan mencapai keuntungan tidaklah mutlak seharusnya bertindak terang-terangan, apabila kita mendirikan sebuah perseroan yang disebut "maatschap" yang diatur dalam Bab 8 Kitab III KUHS.
Maatschap yang diatur dalam KUHS ini berbeda dengan bentuk-bentuk perusahaan lainnya, yakni bahwa cara bekerjasama perseroan ini tidak ternyata keluar, tidak terlihat oleh umum.
Bentuk perusahaan yang oleh KUHS disebut v"Mdatschap" oleh Sukardono dinamakan
"Perserikatan Perdata" dan Tirtaamidjaja menyebutkannya "Persetujuan Perseroan"
22 (Parthership), Subekti mempergunakan istilah "Perseroan",43 sedangkan HMN Purwosutjipto menggunakan istilah Persekutuan Perdata.44
Perseroan adalah berbeda dengan perseroan-perseroan dagang lainnya walaupun menurut Pasal 1681 KUHS jugabertujuan untuk bersama-sama membagi-bagi keuntungan yang diperoleh.45
A. Pengertian Persekutuan
Menurut pandangan klasik, Burgelijk Maatschap atau lebih popular disebut Maatschap merupakan bentuk genus (umum) dari Persekutuan Firma (VoF) dan Persekutuan Komanditer (CV). Bahkan menurut pandangan klasik, Maatschap tersebut mulanya merupakan bentuk genus pula dari Perseroan Terbatas (PT). Hanya saja, karena saat ini tentang PT sudah jauh berkembang, maka ada pendapat yang mengatakan PT bukan lagi termasuk bentuk spesies (khusus) dari Maatschap.46
Bila Firma dan CV sebagai bentuk Maatschap, maka ia akan mengandung pula karakteristik-karakteristik dari Maatschap, sepanjang tidak diatur secara khusus dan menyimpang dalam KURD. Jelasnya apa yang diatur dalam KUHPerdata mengenai Maatschap berlaku pula terhadap Firma dan CV Keadaan ini terbaca dalam Pasal 15 KUHD, yang menyatakan bahwa persekutuan-persekutuan yang disebut dalam Buku I, Bab III, Bagian I KUHD, diatur oleh perjanjian-perjanjian antara para pihak dan oleh KUHPerdata. Sebenarnya, apa yang diatur dalam Pasal 15 KUHD sejalan dengan apa yang diatur dalam Pasal 1 KUHD. Sebab KUHD itu sendiri merupakan spesies dari KUHPerdata yang merupakan genus-nya.
Dalam kepustakaan dan ilmu hukum, istilah persekutuan bukanlah istiiah tunggal, karena ada istilah pendampingnya yaitu perseroan dan perserikatan. Ketiga istilah ini sering digunakan untuk menerjemahkan istilah bahasa Belanda "maatschap" dan "vennootschap". Maat maupun vennoot daiam bahasa aslinya (Belanda) berarti kawan atau sekutu.
H. Van der Tas, dalam Kamus Hukum menerjemahkan Maatschap sebagai perseroan, perserikatan, persekutuan. Fockema Andreae, menerjemahkannya sebagai perseroan, perseroan perdata. R. Subekti dalam terjemahan BW menyebut istilah Maatschap sebagai persekutuan.
43 CTS Kansil, Pokok-pokok Pengetahuan Hukum dagang Indonesia, Buku Kesatu Hukum Dagang Menurut KUHD dan KUHPerdata, (Jakarta: Sinar Grafika, 1992), hlm. 62.
44 HMN Purwosutjipto, 2007, Op.Cit, hlm. 17
45 CST Kansil, Loc.Cit, hlm. 62.63.
46Rudhi Prasetya, Maatschap, Firma dan Persekutuan Komanditer, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2002), hlm. 2.
23 Penulis lain menerjemahkannya sebagai persekutuan perdata atau perserikatan perdata (burgelijke maatschap).
"Persekutuan" artinya persatuan orang-orang yang sama kepentingannya terhadap suatu perusahaan tertentu. Sedangkan "sekutu" artinya peserta dalam persekutuan. Jadi, persekutuan berarti perkumpuian orang-orang yang menjadi peserta pada perusahaan tertentu.47 Jika badan usaha tersebut tidak menjalankan perusahaan, maka badan itu bukanlah persekutuan perdata, tetapi disebut "perserikatan perdata". Sedangkan orang-orang yang mengurus badan itu disebut sebagai "anggota", bukan sekutu. Dengan demikian, terdapat dua istilah yang pengertiannya hampir sama, yaitu "perserikatan perdata" dan "persekutuan perdata". Perbedaannya, perserikatan perdata tidak menjalankan perusahaan, sedangkan persekutuan perdata menjalankan perusahaan. Dengan begitu, maka perserikatan perdata adalah suatu badan usaha yang termasuk hukum perdata umum, sebabtidak menjalankan perusahaan. Sedangkan
tpersekutuan perdata adalah suatu badan usaha yang termasuk dalam hukum perdata khusus (hukum dagang), sebab menjalankan perusahaan.48
Menurut HMN Purwosutjipto, persekutuan perdata (burgelijke maatschap) sebagaimana diatur dalam Buku III, Bab VIII KUHPerdata adalah persekutuan yang termasuk dalam bidang hukum perdata umum) sebab apa yang disebut "burgelijke maatschap" itu pada umumnya tidak menjalankan perusahaan. Tetapi dalam praktik, persekutuan perdata juga sering menjalankan perusahaan. Namun persekutuan yang dimaksud adalah persekutuan perdata khusus. Hal ini dapat diketahui dari Pasal 1623 KUHPerdata jo. Pasal 16 KUHD.
Pasal 1623 KUHPerdata berbunyi:
"Persekutuan perdata khusus iaiah persekutuan perdata yang hanya mengenai barang- barang tertentu saja, pemakaian atau hasil yang didapat dari barang-barang itu atau menyenai suatu usaha tertentu, melakukan perusahaan ataupun melakukan pekerjaan".Sedangkan Pasal 16 KUHD berbunyi: "Yang dinamakan persekutuan firrna ialah persekutuan perdata yang didirikan untuk menjalankan perusahaan dengan nama bersama (firma)".
Istilah persekutuan yaitu persekutuan orang-orang yang sama kepentingannya (terhadap suatu perusahaan tertentu), sedangkan kata "sekutu" berarti pada suatu perusahaan, jadi
47H.M.N. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang (Bentuk-bentuk Perusahaan), Cetakan Kedua, (Jakarta: Penerbit pjambatan, 1982), hlm. 16.
48HMN Purwosutjipto, 2007, Op.Cit, hlm. 17.
24 persekutuan adalah suatu badan usaha yang terdiri daripada para sekutu serta menjalankan perusahaan.
Pengertian yuridis tentang persekutuan (maatschap) dimuat dalam Pasal 1618 KUHPerdata yang dirumuskan sebagai berikut: “Persekutuan adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih mnengakibatkan diri untuk memasukkan sesuatu dalam persekutuan, dengan maksud untuk membagi keuntungan yang terjadi karenanya".
Menurut R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, bahwa Persekutuan adalah suatu perjanjian antara dua orang atau lebih untuk berusaha bersama-sama mencari keuntungan yang akan dicapai dengan jalan masing-masing memasukkan sesuatu dalam suatu kekayaan bersama.49
Menurut Soenawar Soekowati, Maatschap adalah suatu organisasi kerja sama dalam bentuk taraf permulaan dalam suatu usaha. Yang dimaksudkan dalam taraf permulaan di sini adalah bahwa Maatschap merupakan suatu badan yang belum menjadi perkumpulan berbadan hukum. la merupakan bentuk badan yang paling sederhana, sebagai dasar dari bentuk-bentuk badan usaha yang telah mencapai taraf yang sempurna (berbelit-bclit) pengaturannya. Jadi, Maatschap bentuknya belum sempurna, artinya belum memiliki pengaturan yang rumit atau belum memenuhi unsur-unsur sebagai badan hukum.
Menurut kepustakaan, Maatschap itu bersifat dua muka, yaitu bisa untuk kegiatan yang bersifat komersial atau bisa pula untuk kegiatan non-komersial termasuk dalam hal ini untuk persekutuan-persekutuan menjalankan profesi. Dalam praktek dewasa ini, yang paling banyak dipakai justru untuk non profit kegiatan profesi itu, misalnya persekutuan diantara para lawyeryang biasa dikenal sebagai "associated" atau "partner" (rekan) atau "compagnon" yang disingkat "Co".50
Menurut Pasal 1618 KUHPerdata bahwa salah satu unsur maatschap adalah setiap sekutu harus memasukkan sesuatu ke dalam maatschap. Istilah pemasukan sering dikenal dengan kata Inbreng. Inbreng ini dapat berwujud: uang, benda, tenaga kerja maupun goodwill.
Persekutuan (maatschap) ini merupakan bentuk kerjasama yang paling sederhana untuk bersama-sama mencari keuntungan. Persekutuan artinya persatuan orang-orang yang sama kepentingannya (terhadap suatu perusahaan tertentu), sedangkan sekutu artinya peserta pada
49R. Subekti dan R. Tjiprosudibio, KUHPerdata, Cetakan ke 12, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1980), hlm. 378
50Rudhi Prasetya, Op.Cit, hlm. 4-5.
25 suatu perusahaan. Jadi persekutuan berarti perkumpulan orang-orang yang menjadi peserta pada suatu perusahaan tertentu.51
Sukardono berpendapat bahwa perseroan adalah suatu perserikatan yang bercorak khusus mengenai tujuan memperoleh keuntungan ekonomis dan Subekti menganggap maatschap sebagai suatu bentuk kerjasama yang paling sederhana yang diatur dalam KUHS,.
sedangkan Tirtaamidjaja berpendapat bahwa maatschap adaiah bentuk pokok untuk perusahaan-perusahaan yang diatur dalam KUHD dan juga perusahaan-perusahaan yang diatur di luar KUHD.
Sukardono dalam menguraikan bentuk-bentuk perusahaan sela'u diperbedakan antara perserikatan perdata, persekutuan Firma dan Perseroan. Terbatas oleh karena menurut beliau ketigajenis perusahaan ini mengandung bermacam-macam kekhususan. Tirtaamidjaja membedakan antara Partnership (persetujuan perseroan = maatschap} dan Companies (Perseroan Perniagaan: Perseroan Firma, Perseroan Komanditer, Perseroan Terbatas, Perkumpulan Koperasi).
Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapatlah diambil kesimpulan bahwa perusahaan meliputi:
1. Bentuk perusahaan yang diatur dalam KUHS: Perseroan (maatschap}, 2. Bentuk perusahaan yang diatur dalam KUHD:
a. Perseroan Firma, b. Perseroan Komanditer, c. Perseroan Terbatas,
3. Bentuk perusahaan yang diatur di luar KUHD (diatur dalam peraturan-peraturan khusus):
a. Koperasi,
b. Perusahaan Negara/Persero/Perum/Perjan.52
B. Pengaturan Maatschap
Perseroan adalah salah satu bentuk perusahaan yang diatur dalam KUHS, sehingga menurut Tirtaamidjaja, perseroan adalah bentuk pokok untuk perusahaan yang diatur dalam KUHD dan juga yang diatur di luar KUHD.
51Mustafa A. Siregar, Kapita Selekta Pengetahuan Hukum Dagang, (Jakarta: Ind Hill Co, 1990), hlm. 21-22.
52Ibid, hlm. 64.
26 Hal ini mengandung pengertian bahwa peraturan-peraturan mengenai perseroan pada umumnya juga berlaku untuk perusahaan lainnya, sekedar KUHD ataupun peraturan-peraturan khusus lainnya tidak mengalur secara tersendiri. Pengertian dalamPasal 1 KUHD, bahwa peraturan- peraturan di dalam KUHS berlaku juga terhadap hal-hal yang diatur dalam Hukum Dagang sepanjang KUHD dengan tegas dinyatakan bahwa segala perseroan yang tersebut dalam KUHD dikuasai oleh:
1. Persetujuan pihak-pihak yang bersangkutan, 2. KUHD dan
3. KUHS.
Perseroan diatur dalam KUHS Kitab III Bab VIII Pasal 1618 s/d 1652. Menurut Pasal 1618 KUHS, Perseroan (maatschap) adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih mengikatkan diri untuk memasukkan sesuatu dalam persekutuan dengan maksud untuk membagi keuntungan yang terjadi karenanya.
Dalam bentuk perusahaan ini terdapat beberapa orang yang mengadakan persetujuan akan berusaha bersama-sama guna memperoleh keuntungan benda, dan untuk mencapai tujuan itu mereka masing-masing berjanji akar. menyerahkan uang atau barang-barang atau rnenyediakan kekuatan kerja/kerajinannya.53
Dengan demikian, perseroan rnerupakan suatu bentuk kerjasama yang paling sederhana oleh karena tidak ada penetapan jumlah modal tertentu yang hams disetor, bahkan dapat diperbolehkan pula seorang anggota hanya menyumbangkan tenaganya saia. Selain itu lapangan pekerjaannya tidak dibatasi pada sesuatu hal tertentu, sehingga bentuk ini kiranya dapatlah dipakai juga untuk melakukan perdagangan. Bentuk ini sebenarnya hanya mengatur perhubungan intern saja antara orang-orang yang tergabung di dalamnya. Maksud perseroan ini adalah:
1. Harus bersifat kebendaan,
2. Harus untuk memperoleh keuntungan,
3. Keuntungan itu harus dibagi-bagikan antara para anggota-anggotanya, 4. Harus mempunyai sifat yang baik dan dapat diizinkan.
53Vide Pasal 1619 KUHS
27 Walaupun perusahaan ini bersifat kebendaan dengan mencari keuntungan, tetapi perseroan bertindak tidak terang-terangan, dan tak ada peraturan pengumuman-pengumuman terhadap pihak-pihak ketiga seperti yang diadakan pada perseroan Firma.
Menurut Pasal 1624 KUHS perseroan mulai berlaku sejak saat persetujuan, jika dalam persetujuan ini tidak ditetapkan suatu saat lain.
Para anggota perseroan mengatur segala sesuatu atas dasar persetujuan. Persetujuan ini pun tidak memerlukan suatu bentuk tertentu. Pada umumnya yang diatur dalam perjanjian ini ialah:
a. Bagian yang harus dimasukkan oleh tiap-tiap peserta dalam perseroan, b. Cara bekerja,
c. Pembagian keuntungan, d. Tujuan bekerja sama, e. Lamanya (waktunya),
f. Hal-hal lain yang dianggap perlu.
Apabila akta persetujuan ini tidak ada, maka keuntungan dibagi menurut undang-undang.
Pembagian menurut undang-undang adalah berdasarkan besar kecilnya bagian yang dimasukkan ke dalam persekutuan.
Dalam Pasal 1623 KUHS dijelaskan, bahwa bagian keuntungan masing-masing adalah seimbang dengan apa yang ia telah masukkan dalam perseroan.
Terhadap si pesero yang hanya memasukkan kerajinannya atau pengetahuan/pengalarnan, tenaganya, maka bagian keuntungan yang akan diperolehnya ditetapkan sama dengan bagian pesero yang memasukkan uang atau barang yang paling sedikit.
Mengenai modal perseroan, dalam Pasal 1618 KUHS disebutkan bahwa setiap anggota harus memasukkan sesuatu sebagai sumbangannya. Hal ini merupakan suatu syarat mutlak untuk perseroan. Yang dimaksud dengan "sesuatu" dijelaskan dalam Pasal 1619 ayat 20 KUHS, bahwa seciap anggota diwajibkan memasukkan uang atau barang-barang lain ialah hal-hal dalam arti yang seluas-luasnya termasuk nama baik, kredit, goodwill dapat dimasukkan. Selain itu dapat disumbangkan sekedar kerajinan atau keahlian atau kekuatan bekerja seseorang anggota.
Walaupun perseorangan ini mempunyai suatu cara bekerjasama seperti juga halnya dengan bentuk-bentuk perusahaan lainnya (memasukkan modal, berusaha memperoleh sesuatu yang tak mudah diperoleh secara individual), namun bentuk perusahaan ini mempunyai sekedar perbedaannya dengan cara bekerjasama pada perseroan tidaklah temyata keluar, yakni tidak terlihat oleh umum. Perjanjian kerja sama yang diadakan para anggotanya. Perseroan tidaklah
28 diberitahukan kepada pihak luar, sehingga keluar masing-masing dari mereka itu bertindak seakan-akan untuk diri sendiri.
Perseroan mempunyai tujuan antara lain untuk menjalankan bersama suatu pekerjaan tetap (beroep) misalnya:
kerjasama pengacara-pengacara, kerjasama arsitek-arsitek, dapat juga menjalankan kursus memegang buku antara beberapa guru, malahan dapat bertujuan untuk menjalankan suatu perusahaan, asal saja perseroan itu tidak dijalankan dengan nama bersama yang disebut Firma.
Perseroan yang diatur dalam KUHS adalah bentuk pokok untuk perusahaan-perusahaan yang diatur dalam KUHD seperti Perseroan Firma, Perseroan Komanditer, Perseroan Terbatas dan lain-lain. Berdasarkan Pasal 1 KUHD, maka peraturan-peraturan mengenai perseroan pada umumnya juga berlaku bagi bentuk perusahaan tersebut.
Seorang anggcta perseroan dapat memindahkan keanggotaannya kepada orang lain dengan atau tanpa persetujuan anggota-anggota lainnya, hal mana tergantung pada isi statute (anggaran dasar) mereka.
Perseroan bukaniah suatu badan hukum dengan harta kekayaan tersendiri terhadap pihak ketiga. Yang ada ialah harta tersendiri terhadap anggota-anggotanya satu sama lain, harta mana tak dapat dibagi-bagikan tanpa izin seluruh anggotanya.
Seorang kreditur hanya dapat menuntut piutangnya atau harta yang merupakan bagian dari anggota debitur, dan tak dapat menuntut piutangnya atas harta perseroan itu.
Penuntutan piutang atas harta perseroan hanya dapat dilakukan:
1. Jika para anggota lainnya telah memberi kekuasaan penuh kepada anggota yang bertindak atas tanggungan perseroan dan dalam hal ini dengan nyata telah diberitahukan kepada pihak ketiga, atau.
2. Jika tindakan anggota tersebut memberikan keuntungan untuk perseroan.54
C. Jenis-jenis Maatschap
Sesuai dengan KUHPerdata sebagai sumber hukumnya, maatschap itu terbagi 2 (dua), yaitu sebagai berikut:
1. Maatschap Umum (Pasal 1622 KUHPerdata)
54CST Kansil, Op.Cit, hlm. 65-68.