ANALISIS HUKUM PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT PADA PENGADAAN ALAT KESEHATAN
(Studi Kasus : Putusan KPPU Nomor 24/KPPU-I/2016 Tentang Dugaan Pelanggaran Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999)
JURNAL
Oleh :
CHRIS AGAVE VALENTIN BERUTU 140200512
DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
CURRICULUM VITAE A. Data Pribadi
Nama Lengkap Chris Agave Valentin Berutu
Jenis Kelamin Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir Sintang, 25 September 1996 Kewarganegaraan Indonesia
Status Belum Menikah
Identitas NIK KTP. 3314096509960001
Agama Kristen Protestan
Alamat Domisili
Jl. Bunga Melati No 15 LK VII Padang Bulan Selayang II, Kec. Medan Selayang, Medan, Sumatera Utara.
Alamat Asal
Jl. Bunga Melati No 15 LK VII Padang Bulan Selayang II, Kec. Medan Selayang, Medan, Sumatera Utara.
No.Telp 082314478923
Email [email protected]
B. Pendidikan Formal
Tahun Institusi Pendidikan Jurusan IPK
2002 - 2008 SD Negeri 43 Curup - -
2008 - 2011 SMP Negeri 4 Sragen - -
2011 – 2014 SMA Negeri 1 Sragen IPA -
2014 - 2018 Universitas Sumatera Utara Ilmu Hukum 3,55
C. Data Orang Tua
Nama Ayah/Ibu : Lisfer Berutu, SH,MH/Cahaya Nurdina Siahaan, S.Pd,M.Pd
Pekerjaan : Hakim / PNS Guru
Alamat : Jl. Bunga Melati No 15 LK VII Padang Bulan Selayang II, Kec.
Medan Selayang, Medan, Sumatera Utara.
ABSTRAK
Chris Agave Valentin Berutu*
Ningrum Natasya Sirait**
Detania Sukarja***
Persekongkolan dalam tender merupakan suatu bentuk kerjasama yang dilakukan oleh dua atau lebih pelaku usaha dalam rangka memenangkan peserta tender tertentu. Mengenai persekongkolan tender, diatur dalam Pasal 22 Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Kegiatan bersekongkol dalam tender ini dapat dilakukan oleh satu atau lebih peserta yang menyetujui satu peserta dengan harga yang lebih rendah, dan kemudian melakukan penawaran dengan harga di atas harga perusahaan yang direkayasa sebagai pemenang. Kesepakatan semacam ini bertentangan dengan proses pelelangan yang wajar, karena penawaran umum dirancang untuk menciptakan keadilan dan menjamin dihasilkannya harga yang murah dan paling efisien.
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimana persekongkolan tender ditinjau dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, dan apakah PT Synergy Dua Kawan Sejati, PT Kembang Turi Healthcare, PT Dwi Putra Unggul Pratama, CV Trimanunggal Mandiri, dan CV Tiga Utama yang bergerak dalam bidang alat-alat kesehatan terbukti melanggar pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 sebagaimana diputus oleh Majelis KPPU dalam perkara Nomor 24/KPPU-I/2016. Metode penulisan dalam skripsi ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif, yaitu dengan cara meneliti bahan pustaka yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat tiga bentuk persekongkolan tender, yaitu persekongkolan vertikal, horizontal, dan gabungan (vertikal dan horizontal). Untuk mengetahui apakah suatu tindakan dapat dikategorikan sebagai persekongkolan tender harus memenuhi unsur-unsur pelaku usaha, bersekongkol, mengatur atau menentukan pemenang tender dan mengakibatkan terjadinya persaingan usaha yang tidak sehat. Perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan sebagaimana disebutkan diatas melakukan persekongkolan horizontal dan terbukti melanggar pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999.
Kata Kunci : Persekongkolan Tender, Persaingan Usaha
*Mahasiswa Fakultas Hukum USU Stambuk 2014
**Dosen Pembimbing I
***Dosen Pembimbing II
ABSTRACT
Chris Agave Valentin Berutu*
Ningrum Natasya Sirait**
Detania Sukarja***
Conspiracy in tender is a collaboration done by two or more business people in order to win certain bidders. Tender is regulated in Article 22 of Law No. 5/1999 on Anti-Monopoly and Unhealthy Business Competition. This conspiracy can be done by one or more bidders who agree on only one bidder with lower tender and bids higher than the real offer which is considered as the winner. This kind of collaboration is contrary to the process of normal tender because public tender is intended to create justice and to guarantee low and efficient price.
The research problems are how about conspiracy in tender viewed from Law No. 5/1999 and whether PT Synergy Dua Kawan Sejati, PT Kembang Turi Healthcare, PT Dwi Putra Unggul Pratama, CV Trimanunggal Mandiri, and CV Tiga Utama which operate in health equipment have violated Article 22 of Law No. 5/1999 as it is pronounced by KPPU Council in the case No. 24/KPPU- I/2016. The research used juridical normative by studying literature materials related to the research problems.
The conclusion of the research was that there are three types of conspiracy: vertical conspiracy, horizontal conspiracy, and mixed (vertical and horizontal) conspiracy. In order to find out whether an action is categorized as conspiracy in tender, it has to meet the elements of business people, conspiring, organizing, or determining the winner of tender which can induce unhealthy business competition. The above companies that operate in heath equipment have done horizontal conspiracy so that they have violated Article 22 of Law No.
5/1999.
Keywords: Conspiracy in Tender, Business Competition
*Student of the Faculty of Law, USU, Academic Year of 2014
**Supervisor I
***Supervisor II
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam menyusun kebijakan perekonomian nasional, negara merujuk kepada Pasal 33 UUD 19451 dimana tujuan pembangunan ekonomi adalah berdasarkan demokrasi yang bersifat kerakyatan dengan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dengan pendekatan kesejahteraan dan mekanisme pasar.
Pemerintah berkewajiban memberikan pengarahan dan bimbingan terhadap pertumbuhan ekonomi serta menciptakan iklim yang sehat bagi perkembangan dunia usaha, dan sebaliknya dari dunia usaha diharapkan adanya tanggapan terhadap pengarahan dan bimbingan tersebut serta menciptakan iklim yang sehat2, tetapi dalam perkembangan untuk mencapai tujuan sebagaimana yang dicita- citakan oleh UUD 1945 tersebut, marak terjadi kegiatan konglomerasi3,penguasaan bisnis pada sentralisme kekuasaan yang disinyalir kuat mengandung unsur praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).4 Hal tersebut membuat Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan dan dibuktikan dengan adanya krisis ekonomi di Indonesia sejak tahun 1997 dan mencapai puncaknya pada tahun 1998.
Salah satu dari berbagai faktor penyebab rapuhnya perekonomian adalah karena Indonesia tidak mengenal kebijakan persaingan (competition policy) yang jelas dalam menentukan batasan tindakan pelaku usaha yang menghambat persaingan dan merusak mekanisme pasar.5 Terjadinya persaingan usaha tidak sehat dan perbuatan monopoli merupakan gambaran telah terjadi konsentrasi
1 Pasal 33 UUD 1945 mengatakan bahwa :
a.perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan;
b.cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara;
c.bumi, air, dan kekayaan alam lainnya dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran Rakyat Indonesia.
2 Rochmat Soemitro, Himpunan Kuliah Pengantar Ekonomi dan Ekonomi Pancasila (Jakarta-Bandung : PT. Eresco, 1983), hal. 185.
3 Konglomerasi merupakan proses atau keadaan yang membentuk kumpulan atau penyatuan berbagai elemen. Dalam kegiatan bisnis, konglomerasi terjadi melalui merger atau penggabungan berbagai unit usaha. Dilihat di Suyud Margono, Hukum Anti Monopoli (Jakarta : Sinar Grafika, 2009), hal. 7.
4Ibid, hal. 1.
5 Ningrum Natasya Sirait (1), Asosiasi dan Persaingan Usaha Tidak Sehat,(Medan : Pustaka Bangsa Press, 2003), hal. 2.
2
kekuatan ekonomi yang dikontrol oleh beberapa pihak saja. Konsentrasi pemusatan kekuatan ekonomi oleh beberapa pelaku usaha memberikan pengaruh buruk pada kepentingan umum dan masyarakat. Hal ini disebabkan karena konsentrasi pemusatan kekuatan ekonomi secara langsung akan berakibat pada pasar dan keinginan untuk bersaing. Akibat pengontrolan pasar dan harga oleh beberapa pelaku usaha maka dalam jangka panjang dapat membatasi keinginan pelaku usaha lain untuk masuk ke pasar karena mereka tidak mendapat kesempatan berusaha yang sama.6 Keadaan KKN yang terus-menerus terjadi mengakibatkan Indonesia tidak mampu membangun fondasi ekonomi nasional yang kuat dan menimbulkan dampak negatif lanjutan yang menimbulkan krisis ekonomi berkepanjangan.7Kondisi tersebut akhirnya mendorong masyarakat Indonesia untuk selanjutnya mengeluarkan Undang-Undang Anti Monopoli.
Secara historis, kemunculan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (selanjutnya disebut UU No. 5 Tahun 1999) tidak terlepas dari peran IMF (International Monetary Fund) yang mendorong pemerintah untuk mengeluarkan peraturan perundang-undangan mengenai persaingan usaha. IMF menyetujui pemberian bantuan keuangan kepada Negara Republik Indonesia sebesar US$ 43 miliar yang bertujuan untuk mengatasi krisis ekonomi, akan tetapi dengan syarat Indonesia melaksanakan reformasi ekonomi dan hukum ekonomi tertentu. Hal ini menyebabkan diperlukannya undang-undang anti monopoli. Akan tetapi perjanjian dengan IMF tersebut bukan merupakan satu-satunya alasan penyusunan undang-undang tersebut.8
Persekongkolan tender merupakan suatu kegiatan yang dilarang sebagaimana tercantum dalam Pasal 22 UU No.5 Tahun 1999. Pasal 22 mengatakan bahwa pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan
6 Ningrum Natasya Sirait (2), Hukum Persaingan di Indonesia,(Medan : Pustaka Bangsa Press,2011) , hal. 5.
7 Insan Budi Mulia, Catatan Singkat Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2000), hal. vi.
8 Andi Fahmi Lubis, et al, Hukum Persaingan Usaha, (Jakarta : KPPU, 2009), hal. 33.
3
terjadinya persaingan usaha tidak sehat.9 Pengertian persekongkolan sendiri, menurut penjelasan Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 adalah tawaran mengajukan harga untuk memborong suatu pekerjaan, untuk mengadakan barang-barang, atau untuk menyediakan jasa.
Bentuk-bentuk persekongkolan itu sendiri dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu: 10 Persekongkolan Horizontal, Persekongkolan Vertikal, dan Persekongkolan Horizontal dan Vertikal. Salah satu putusan KPPU sebagai penegak UU No. 5 Tahun 1945 yang menunjukkan adanya persekongkolan tender adalah Putusan KPPU No. 24/KPPU-I/2016 tentang Pengadaan Alat Kesehatan di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda yang diduga melanggar Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999. Dalam kasus ini terdapat 5 (lima) terlapor yang mengajukan penawaran dan menang terhadap proses pengadaan tender tersebut, yaitu PT Synergy Dua Kawan Sejati, PT Kembang Turi Healthcare, PT Dwi Putra Unggul Pratama, CV Trimanunggal Mandiri, dan CV Tiga Utama.
Jurnal Ilmiah ini membahas mengenai bagaimana persekongkolan tender ditinjau dari UU No.5 Tahun 1999 dan apakah para terlapor dalam putusan KPPU Nomor 24/KPPU-I/2016 terbukti bersalah melakukan praktek persekongkolan tender.
9Indonesia (Persaingan Usaha Tidak Sehat), Undang-Undang Tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, UU No. 5 Tahun 1999, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3817, Pasal 22.
10KPPU (Pedoman Larangan Persekongkolan Tender), Peraturan KPPU Tentang Pedoman Pasal 22 Tentang Larangan Persekongkolan dalam Tender, Peraturan KPPU No. 2 Tahun 2010, hal. 7.
4
II. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pengaturan Persekongkolan Tender ditinjau dari UU No. 5 Tahun 1999
1. Praktek Persekongkolan Tender Termasuk Dalam Kegiatan yang Dilarang dalam Hukum Persaingan Usaha
UU No. 5 Tahun 1999 melarang perbuatan atau kegiatan pelaku usaha yang bertujuan menghambat atau bertentangan dengan prinsip persaingan yang sehat, seperti kegiatan monopoli, monopsoni, penguasaan pasar dan persekongkolan yang diatur dari Pasal 17-24 UU No. 5 Tahun 1999. Praktek persekongkolan tender sendiri diatur dalam Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.11
UU No. 5 Tahun 1999 melarang setiap persekongkolan oleh pelaku usaha dengan pihak lain dengan tujuan untuk mengatur dan/atau menentukan pemenang suatu tender. Hal tersebut jelas merupakan perbuatan curang dan tidak fair terutama bagi peserta tender lainnya. Oleh karena itu, perbuatan persekongkolan untuk mengatur dan menentukan pemenang tender, dapat mengakibatkan terjadinya suatu persaingan usaha yang tidak sehat. Peranan panitia tender dalam perkara persaingan usaha dalam hal terjadinya pelanggaran Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 sangat menentukan serta sangat mempengaruhi terciptanya persaingan yang sehat dalam suatu tender pekerjaan belanja barang/jasa milik pemerintah. Hal ini karena panitia tender sangat berhubungan langsung dengan para penyedia jasa disamping panitia tender dapat dengan mudah untuk memberikan informasi kepada salah satu peserta tender atau dengan melakukan /memfasilitasi antar satu peserta tender dengan peserta tender lainnya. Sehingga terjadinya persaingan tidak sehat (tidak jujur) dalam pelaksanan suatu tender
11Indonesia (Persaingan Usaha Tidak Sehat), op.cit, Pasal 22.
5
proyek pengadaan barang /jasa pemerintah baik itu vertikal maupun horizontal tidak akan terlepas dari pengaruh panitia tender itu sendiri.12
Pada hakekatnya, pelaksanaan tender wajib memenuhi asas keadilan, keterbukaan, dan tidak diskriminatif. Selain itu, tender harus memperhatikan hal- hal yang tidak bertentangan dengan asas persaingan usaha yang sehat. Pertama, tender tidak bersifat diskriminatif, dapat dipenuhi oleh semua calon peserta tender dengan kompetensi yang sama. Kedua, tender tidak diarahkan pada pelaku usaha tertentu dengan kualifikasi dan spesifikasi teknis tertentu. Ketiga, tender tidak mempersyaratkan kualifikasi dan spesifikasi teknis produk tertentu. Keempat, tender harus bersifat terbuka, transparan, dan diumumkan dalam media massa dalam jangka waktu yang cukup. Karena itu, tender harus dilakukan secara terbuka untuk umum dengan pengumuman secara luas melalui media cetak dan papan pengumuman resmi untuk penerangan umum dan bilamana dimungkinkan melalui media elektronik, sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya.13
2. Unsur-Unsur Praktek Persekongkolan ditinjau dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999
Untuk mengetahui apakah suatu perbuatan termasuk dalam praktek persekongkolan tender, maka harus memenuhi unsur-unsur yang terdapat dalam persekongkolan tender, yaitu :14
1. Pelaku Usaha
Dalam Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 juga dicantumkan adanya pihak lain selain pelaku usaha dalam persekongkolan, dimana dalam ketentuan Pasal 22 tersebut persekongkolan tender terdiri atas beberapa unsur, yakni unsur pelaku usaha, bersekongkol, adanya pihak lain, mengatur dan menentukan pemenang tender, serta persaingan usaha tidak sehat.
12 Daniel Jusuf, Persekongkolan Tender Secara Vertikal Dan Gabungan Horizontal Dan Vertikal Di Indonesia Ditinjau Dari Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Tahun 2013 Sampai Tahun 2014, Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2016, hal. 5. Diakses di http://e-journal.uajy.ac.id/10595/1/0HK10983.pdf pada tanggal 14 November 2017.
13Mochamad Yusuf Adidana, Persekongkolan Tender Sebagai Suatu Tindakan yang Anti Persaingan Sehat, diakses di http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol18357/persekongkolan- tender-sebagai-suatu-tindakan-yang-anti-persaingan-sehatpada tanggal 11 November 2017.
14KPPU (Pedoman Larangan Persekongkolan Tender), op.cit, hal. 5-6.
6
Istilah “pelaku usaha” diatur dalam Pasal 1 angka 5 UU No. 5 Tahun 1999 yaitu, bahwa pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara RI, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian, menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi.
2. Bersekongkol
Adapun istilah “bersekongkol” diartikan sebagai kerjasama yang dilakukan oleh pelaku usaha dengan pihak lain atas inisiatif siapapun dan dengan cara apapun dalam upaya memenangkan peserta tender tertentu. Istilah tersebut mengandung unsur-unsur sebagai berikut : kerjasama antara dua pihak atau lebih, secara terang-terangan maupun diam-diam melakukan tindakan penyesuaian dokumen dengan peserta lainnya, membandingkan dokumen tender sebelum penyerahan, menciptakan persaingan semu, menyetujui dan atau memfasilitasi terjadinya persekongkolan, tidak menolak melakukan suatu tindakan meskipun mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk mengatur dalam rangka memenangkan peserta tender tertentu, pemberian kesempatan eksklusif oleh penyelenggara tender atau pihak terkait secara langsung/tidak langsung kepada pelaku usaha yang mengikuti tender, dengan cara melawan hukum.15 Kerjasama antara dua pihak atau lebih dengan diam-diam biasanya dilakukan secara lisan, sehingga membutuhkan pengalaman dari lembaga pengawas persaingan usaha guna membuktikan adanya kesepakatan yang dilakukan secara diam-diam.
3. Unsur Pihak Lain
Adanya unsur “pihak lain” menunjukkan bahwa persekongkolan selalu melibatkan lebih dari satu pelaku usaha. Pengertian pihak lain dalam hal ini meliputi para pihak yang terlibat, baik secara horizontal maupun vertikal dalam proses penawaran tender.
4. Unsur mengatur dan menentukan pemenang tender
Mengatur dan menentukan pemenang tender adalah suatu perbuatan para pihak yang terlibat dalam proses tender secara bersekongkol yang bertujuan untuk
15 Andi Fahmi Lubis, et al, op.cit, hal. 213.
7
menyingkirkan pelaku usaha lain sebagai pesaingnya dan /atau untuk memenangkan tender tersebut antara lain dilakukan dalam hal penetapan criteria pemenang, persyaratan teknik, keuangan, spesifikasi, proses tender dan sebagainya.
5. Unsur persaingan usaha tidak sehat
Persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antara pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.
3. Jenis-Jenis Persekongkolan Tender
Persekongkolan tender dibagi menjadi 3 macam16, yaitu : 1. Persekongkolan Tender Horizontal
Merupakan persekongkolan yang terjadi antara pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa dengan sesama pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa pesaingnya. Persekongkolan ini dapat dikategorikan sebagai persekongkolan dengan menciptakan persaingan semu diantara peserta tender.
Skema 1.
2. Persekongkolan Tender Vertikal
Merupakan persekongkolan yang terjadi antara salah satu atau beberapa pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa dengan panitia tender atau panitia lelang atau pengguna barang dan jasa atau pemilik dan pemberi pekerjaan.
16 Ibid, hal. 214-215.
Panitia Pengadaan/Panitia Lelang
Pelaku Usaha/
Penyedia Barang atau Jasa
Pelaku Usaha/
Penyedia Barang atau Jasa
Pelaku Usaha/
Penyedia Barang atau Jasa
Pelaku Usaha/
Penyedia Barang atau Jasa
PERSEKONGKOLAN
8
Persekongkolan ini dapat terjadi dalam bentuk di mana panitia tender atau panitia lelang atau pengguna barang dan jasa atau pemilik atau pemberi pekerjaan bekerja sama dengan salah satu atau beberapa peserta tender.
Skema 2.
3. Persekongkolan Tender Gabungan (Horizontal & Vertikal)
Merupakan persekongkolan antara panitia tender atau panitia lelang atau pengguna barang dan jasa atau pemilik atau pemberi pekerjaan dengan pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa. Persekongkolan ini melibatkan dua atau tiga pihak yang terkait dalam proses tender.
Salah satu bentuk persekongkolan ini adalah tender fiktif, dimana pihak panitia tender, pemberi pekerjaan, maupun sesama pelaku usaha melakukan suatu proses tender hanya secara administratif dan tertutup.
Skema 3.
Panitia Pengadaan/Panitia Lelang
Pelaku Usaha/
Penyedia Barang atau Jasa Pelaku
Usaha/
Penyedia Barang atau Jasa Pelaku
Usaha/
Penyedia Barang atau Jasa Pelaku
Usaha/
Penyedia Barang atau Jasa
PERSEKONGKOLAN
Panitia Pengadaan/Panitia Lelang
Pelaku Usaha/
Penyedia Barang atau Jasa
Pelaku Usaha/
Penyedia Barang atau Jasa
Pelaku Usaha/
Penyedia Barang atau Jasa Pelaku
Usaha/
Penyedia Barang atau Jasa
PERSEKONGKOLAN
9
4. Persekongkolan Tender Merupakan Suatu Perjanjian
Dalam Pasal 1 Angka 7 Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 disebutkan bahwa Perjanjian adalah suatu perbuatan satu atau lebih pelaku usaha untuk mengikatkan diri terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama apapun, baik tertulis maupun tidak tertulis. Dalam UU No. 5 Tahun 1999 dikatakan bahwa persekongkolan tender masuk ke dalam bagian kegiatan yang dilarang dalam UU No. 5 Tahun 1999.
Hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan kegiatan pengadaan tender barang maupun jasa adalah adanya kemungkinan terjadinya persekongkolan dalam proses tender tersebut. Banyak dijumpai dalam praktek, bahwa kegiatan tender barang/jasa selalu dikaitkan dengan persekongkolan.
Nuansa persekongkolan/konspirasi senantiasa menyertai pada setiap kegiatan tender barang/jasa. Persekongkolan mempunyai karakteristik tersendiri, karena dalam persekongkolan (conspiracy/konspirasi) terdapat kerjasama yang melibatkan dua atau lebih pelaku usaha yang secara bersama-sama melakukan tindakan melawan hukum. Disamping itu, agar perusahaan dapat membuat perjanjian kolusi yang sukses, mereka harus setuju dengan suatu tindakan yang sama dalam mengimplementasikan perjanjian tersebut, mengawasi apakah perusahaan lain mengikuti perjanjian, dan menciptakan cara untuk menghukum perusahaan yang melanggar perjanjian.17
Persekongkolan dalam tender merupakan suatu bentuk kerjasama yang dilakukan oleh dua atau lebih pelaku usaha dalam rangka memenangkan peserta tender tertentu dan dapat dilakukan oleh satu atau lebih peserta yang menyetujui satu peserta dengan harga yang lebih rendah, dan kemudian melakukan penawaran dengan harga di atas harga perusahaan yang direkayasa sebagai pemenang.
Kesepakatan semacam ini bertentangan dengan proses pelelangan yang wajar, karena penawaran umum dirancang untuk menciptakan keadilan dan menjamin dihasilkannya harga yang murah dan paling efisien.
Oleh karena itu, apabila dilihat dari pengertian perjanjian diatas yang menyebutkan bahwa perjanjian merupakan tindakan mengikatkan diri terhadap
17 Andi Fahmi Lubis, et al, op.cit, hal. 210.
10
satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama apapun, baik tertulis maupun tidak tertulis, seharusnya persekongkolan tender masuk ke dalam bagian perjanjian yang dilarang dalam undang-undang, bukan pada bagian kegiatan yang dilarang, hal ini dikarenakan dalam persekongkolan terdapat tindakan mengikatkan diri terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain atau bahkan pihak lain untuk memenangkan tender dengan cara yang tidak kompetitif. Maka dari itu, perlu dilakukan perubahan dalam UU No. 5 Tahun 1999 mengenai substansi perjanjian maupun kegiatan yang dilarang.
5. Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 2 Tahun 2010 Tentang Pedoman Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Persekongkolan Dalam Tender
Berdasarkan Penjelasan Pasal 22 UU No. 5/1999, tender adalah tawaran mengajukan harga untuk memborong suatu pekerjaan, untuk mengadakan barang- barang atau untuk menyediakan jasa. Dalam hal ini tidak disebut jumlah yang mengajukan penawaran (oleh beberapa atau oleh satu pelaku usaha dalam hal penunjukan/pemilihan langsung).
Pengertian tender tersebut mencakup tawaran mengajukan harga untuk:18 1. Memborong atau melaksanakan suatu pekerjaan.
2. Mengadakan barang dan atau jasa.
3. Membeli suatu barang dan atau jasa.
4. Menjual suatu barang dan atau jasa.
Berdasarkan definisi tersebut, maka cakupan dasar penerapan Pasal 22 UU No. 5/1999 adalah tender atau tawaran mengajukan harga yang dapat dilakukan melalui tender terbuka, tender terbatas, pelelangan umum, dan pelelangan terbatas. Berdasarkan cakupan dasar penerapan ini, maka pemilihan langsung dan penunjukan langsung yang merupakan bagian dari proses tender/lelang juga tercakup dalam penerapan Pasal 22 UU No. 5/1999.
Untuk mengetahui telah terjadi tidaknya suatu persekongkolan dalam tender, dapat diketahui berbagai indikasi persekongkolan yang sering dijumpai pada pelaksanaan tender. Perlu diperhatikan bahwa bentuk atau perilaku
18 KPPU (Pedoman Larangan Persekongkolan Tender), op.cit, hal.5.
11
persekongkolan maupun ada tidaknya persekongkolan tersebut harus dibuktikan melalui pemeriksaan oleh Tim Pemeriksa atau Majelis KPPU.19 Adapun sanksi yang dapat dijatuhkan kepada pelaku usaha yang melakukan persaingan usaha tidak sehat berdasarkan UU No. 5 Tahun 1999 adalah sanksi administratif. Sanksi administratif diatur dalam Pasal 47 yakni :
Ayat(1) Komisi berwenang menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang- undang ini.
Ayat(2) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) dapat berupa :
a. Penetapan pembatalan perjanjian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 13, Pasal 15 dan Pasal 16, dan atau
b. Perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan integrasi vertikal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dan atau
c. Perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan kegiatan yang terbukti menimbulkan praktek monopoli dan atau menyebabkan persaingan usaha tidak sehat dan atau merugikan masyarakat, dan atau
d. Perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan penyalahgunaan posisi dominan dan atau
e. Penetapan pembatalan atas penggabungan atau peleburan badan usaha dan pengambilalihan saham sebagaimana dimaksud Pasal 28 dan atau
f. Pengenaan pembayaran ganti rugi, dan atau
g. Pengenaan denda serendah-rendahnya Rp. 1.000.000.000 (satu milyar rupiah)dansetinggi-tingginya
Rp.25.000.000.000 (dua puluh lima milyar rupiah).
19 Rachmadi Usman, Hukum Persaingan Usaha di Indoneisia, (Jakarta : Sinar Grafika, 2013), hal. 488.
12
Terhadap pelanggaran Pasal 22 juga dapat dikenakan hukuman pidana pokok sebagaimana diatur dalam Pasal 48 UU No.5 Tahun 1999,yakni :
a. Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 4, Pasal 9 sampai dengan Pasal 14, Pasal 16 sampai dengan Pasal 19, Pasal 25 dan Pasal 28diancam pidana denda serendah- rendahnya Rp. 25.000.000.000(dua puluh lima milyar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp.100.000.000.000 (seratus milyar rupiah) atau pidana kurunganpengganti denda selama-lamanya 6 (enam) bulan.
b. Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 5, sampai dengan Pasal 8, Pasal 15, Pasal 20 sampai dengan Pasal 24 dan Pasal 26,diancam pidana denda serendah-rendahnya Rp.
5.000.000.000(lima milyar rupiah) dan setinggitingginya Rp. 25.000.000.000(dua puluh lima milyar rupiah) atau pidana kurungan penggantidenda selama-lamanya 5 (lima) bulan.
c. Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 41, diancam pidana denda serendah-rendahnya Rp. 1.000.000.000 ( satu milyar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp. 5.000.000.000 ( lima milyar rupiah)atau pidana kurungan pengganti denda selama-lamanya 3 (tigabulan).
Selanjutnya juga dapat dijatuhkan pidana tambahan sebagaimana diatur dalam Pasal 49, berupa :
a) Pencabutan izin usaha;
b) Larangan kepada pelaku usaha yang telah terbukti melakukanpelanggaran terhadap Undang-Undang ini untuk menduduki jabatan Direksi atau Komisaris sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan selama-lamanya 5 (lima) tahun;
c) Penghentian kegiatan atau tindakan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian pada pihak lain. Apabila dikaji ketentuan sanksi yang tersebut di atas, maka sanksi administratif yang dapat diterapkan kepada pelaku usaha yang melakukan persekongkolandalam tender
13
adalah berupa perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan kegiatan yang terbukti menimbulkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat (Pasal 47 ayat 2 huruf c), pengenaan pembayaran ganti rugi (Pasal 47 ayat 2 huruf f), dan Pengenaan denda (Pasal 47 ayat 2 huruf g).
B. ANALISIS HUKUM TERHADAP PUTUSAN MAJELIS KOMISI DALAM MEMUTUS PERKARA NO. 24/KPPU-I/2016
1. Kasus Posisi
Kasus Posisi Putusan KPPU No. 24/KPPU-I/2016 adalah bahwa PT Synergy Dua Kawan Sejati (Terlapor I), PT Kembang Turi Healthcare (Terlapor II), PT Dwi Putra Unggul Pratama (Terlapor III), CV Trimanunggal Mandiri (Terlapor IV) , dan CV Tiga Utama (Terlapor V) diduga melakukan persekongkolan tender untuk memenangkan pelelangan tender yang diadakan oleh RSUD yang meliputi Ruang Intensif APBD, alat-alat kedokteran radiologi BLUD, alat kedokteran ICU/ICCU APBD, dan alat-alat kedokteran umum APBD. Proses pengadaan alat-alat kesehatan yang termasuk dalam persekongkolan tender tersebut dibuktikan dengan adanya kesamaan pada pengurus pendirian akta yang dilakukan oleh Sonny Listanto (berprofesi sebagai biro jasa pengurusan akta-akta perusahaan di notaris), Internet Protocol Address (IP Address) ,pemberi dukungan, merek, dan tipe alat kedokteran.Para Terlapor pada saat persidangan mengaku bahwa mereka tidak mengetahui adanya pengaturan mengenai persekongkolan tender yang diatur dalam UU No. 5 Tahun 1999. KPPU memutuskan amar putusan sebagai berikut :
1. Menyatakan bahwa Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV dan Terlapor V terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999; -
2. Menghukum Terlapor I, membayar denda sebesar Rp. 2.050.400.000,00 (Dua Milyar Lima Puluh Juta Empat Ratus Ribu Rupiah) yang harus disetor ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan
14
Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha);
3. Menghukum Terlapor II, membayar denda sebesar Rp. 233.300.000,00 (Dua Ratus Tiga Puluh Tiga Juta Tiga Ratus Ribu Rupiah) yang harus disetor ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha);
4. Menghukum Terlapor III, membayar denda sebesar Rp. 275.100.000,00 (Dua Ratus Tujuh Puluh Lima Juta Seratus Ribu Rupiah) yang harus disetor ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha);
5. Menghukum Terlapor IV, membayar denda sebesar Rp. 41.800.000,00 (Empat Puluh Satu Juta Delapan Ratus Ribu Rupiah) yang harus disetor ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui Bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha;
6. Menghukum Terlapor V, membayar denda sebesar Rp. 152.100.000,00 (Seratus Lima Puluh Dua Juta Seratus Ribu Rupiah) yang harus disetor ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui Bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha;
7. Memerintahkan Terlapor I, Terlapor II,Terlapor III, Terlapor IV dan Terlapor V melakukan pembayaran dendadan menyerahkan salinan bukti pembayaran denda tersebut ke KPPU.
15 2. Analisis Putusan
Analisis mengenai putusan majelis yang menyatakan bahwa para Terlapor terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 dapat dilihat dari unsur-unsur pasal 22 Undang-Undang No.5 Tahun 1999 yaitu pelaku usaha, bersekongkol, mengatur dan menentukan pemenang tender dan menyebabkan persaingan tidak sehat. Unsur Pelaku usaha dalam putusan ini yang diduga melakukan pelanggaran Pasal 22 adalah Terlapor I, PT Synergy Dua Kawan Sejati, Terlapor II, PT Kembang Turi Healthcaredan Terlapor III, PT Dwi Putra Unggul Pratama yang melakukan kegiatan usaha di bidang penyalur alat- alat kesehatan di wilayah hukum negara Republik Indonesia, dan peserta tender pada pengadaan alat-alat kedokteran radiologi BLUD Tahun anggaran 2013, pengadaan alat-alat kedokteran ICU/ICCU APBD Tahun Anggaran 2013, serta pengadaan alat-alat kedokteran umum APBD tahun anggaran 2013.Terlapor IV, CV Trimanunggal Mandiri, yang melakukan kegiatan usaha di bidang penyalur alat-alat kesehatan di wilayah hukum Negara Republik Indonesia dan peserta tender pada pengadaan peralatan ruang intensif APBD Tahun 2012. Terlapor V, CV Tiga Utama adalah peserta tender pada Pengadaan Alat-alat Kedokteran Umum APBD Tahun Anggaran 2013.
Berdasarkan pedoman Pasal 22 Tentang Larangan Persekongkolan Dalam Tender diuraikan mengenai pengertian “bersekongkol” yaitu “kerjasama yang dilakukan oleh pelaku usaha dengan pihak lain atas inisiatif siapapun dan dengan cara apapun dalam upaya memenangkan peserta tender tertentu”.Unsur
“bersekongkol” tersebut dapat berupa kerja sama antara dua pihak atau lebih, secara terang-terangan maupun diam-diam melakukan tindakan penyesuaian dokumen dengan peserta lain, membandingkan dokumen tender sebelum penyerahan, menciptakan persaingan semu, menyetujui atau memfasilitasi terjadinya persekongkolan, tidak menolak melakukan suatu tindakan meskipun mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk mengatur dalam rangka memenangkan peserta tender tertentu, pemberian kesempatan ekslusif oleh penyelenggara tender atau pihak terkait secara langsung maupun tidak langsung kepada pelaku usaha yang mengikuti tender dengan cara melawan hukum.
16
Dalam hal ini persekongkolan yang terjadi adalah persekongkolan horizontal yang telah dilakukan secara terang-terangan atau diam-diam oleh PT Synergy Dua Kawan Sejati, PT Dwi Putra Unggul Pratama, PT Kembang Turi Healthcare, CV Trimanunggal dan CV Tiga Utama (selanjutnya disebut para Terlapor) pada pengadaan alat kesehatan dimana ditemukan fakta bahwa adanya hubungan pertemanan diantara para direktur dan komisaris para terlapor, adanya kesamaan IP Address diantara para terlapor, adanya kesamaan dokumen teknis yang sama diantara para terlapor, adanya kerjasama dalam penentuan harga tender, dan adanya kerjasama dalam pengaturan harga tender.
Hubungan pertemanan antara peserta tender tersebut didasarkan dengan adanya fakta bahwa Saudara Marta Arifin selaku Direktur Utama CV Trimanunggal Mandiri merupakan Komisaris PT Kembang Turi Healthcare, Saudara Abdullah (alm) pernah menjabat sebagai direktur PT Dwi Putra Unggul Pratama dan pemegang saham di PT Synergy Dua Kawan Sejati. Dapat diketahui bahwa Direktur PT Synergy Dua Kawan Sejati (Sdr. Tedy Hartadi), Komisaris PT Synergy Dua Kawan Sejati (Sdr. Ir. Agus Kurniawan) dan mantan Direktur PT Dwi Putra Unggul Pratama (Sdr. Abdullah, alm) saling mengenal satu sama lain karena pernah bekerja sebagai marketing di perusahaan yang sama yaitu PT Putria Pratama Hayu. Sedangkan Direktur Utama CV Trimanunggal Mandiri (Sdr. Marta Arifin) kenal dengan Direktur PT Synergy Dua Kawan karena satu daerah dan satu SMP di Serang.
Unsur pihak lain dalam Pengadaan Peralatan Ruang Intensif APBD Tahun Anggaran 2012, adalah peserta pendamping yaitu Terlapor III dan Terlapor IV, pada Pengadaan Alat-alat Kedokteran Radiologi BLUD Tahun Anggaran 2013 yang menjadi pihak lain yang merupakan peserta pendamping adalah Terlapor I dan Terlapor III, pada Pengadaan Alat Kedokteran ICU/ICCU APBD Tahun Anggaran 2013 yang menjadi pihak lain yang merupakan peserta pendamping adalah Terlapor I, Terlapor II dan Terlapor V, dan pada Pengadaan Alat-alat Kedokteran Umum APBD Tahun Anggaran 2013 yang menjadi pihak lain yang merupakan peserta pendamping adalah Terlapor I, Terlapor III dan Terlapor V.
Dalam unsur mengakibatkan persaingan tidak sehat, fakta lain menunjukkan bahwa adanya persaingan semu yang diciptakan oleh PT Synergy
17
Dua Kawan, PT Kembang Turi Healthcare, PT Dwi Putra Unggul Pratama dan CV Trimanunggal Mandiri dengan mengikuti masing-masing paket tender dan bergantian menjadi perusahaan pendamping dalam tender seperti dalam pengadaan peralatan ruang intensif APBD tahun anggaran 2012, CV Pelita Jaya Mandiri, PT Dwi Putra Unggul Pratama dan CV Trimanunggal Mandiri tidak lulus karena neraca perusahaan tidak memenuhi syarat sesuai yang dipersyaratkan yaitu neraca perusahaan harus hasil audit Akuntan Publik, sehingga PT Synergy Dua Kawan memenangkan tender.
Dalam hal adanya kesamaan IP Addressdibuktikan dengan adanya kesamaan dalam mengakses Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Kalimantan Timur pada beberapa tahapan tender antara lain pengumuman pascakualifikasi, download dokumen penawaran, pemberian peenjelasan, dan upload dokumen penawaran. Yaitu 119.47.90.10; 10.20.20.100;
27.111.46.83; 192.168.100.1 yang mana IP tersebut adalah IP Lokal yang berlokasi di Samarinda, Kalimantan Timur. Kesamaan dokumen teknis berupa surat dukungan yang diberikan oleh Terlapor I kepada distributor pemberi dukungan, merek, dan tipe alat kedokteran di antara para terlapor.
Unsur menetapkan harga dan pemenang tender, adalah adanya kerjasama dalam pengaturan harga yang diajukan oleh para peserta tender pada masing- masing paket tender untuk menentukan pemenang tender, yang diatur sedemikian rupa oleh Terlapor I sehingga masing-masing penawaran mencapai nilai lebih dari 90% (Sembilan puluh persen) terhadap nilai Harga Perkiraan Sendiri (HPS).
Disamping itu, Terlapor I menyatakan bahwa pemenang tender memperoleh 15%
(lima belas persen) sampai dengan 20% (dua puluh persen) dan besaran feeuntuk pendamping tender antara 1% (satu persen) sampai dengan 2% (dua persen).
Dalam hal ini, Terlapor II mengakui mendapatkan fee sebagai pemenang tender sebesar 2,5% (dua koma lima persen) dari nilai kontrak setelah dipotong pajak- pajak dan sisanya diberikan kepada Terlapor I. Terlapor III menyatakan menerima fee sebagai pemenang tender kurang lebih 2,5% (dua koma lima persen) dari nilai Dasar Pengenaan Pajak, setelah dipotong PPN dan PPH. Sisanya diserahkan ke Terlapor I untuk dikoordinir pembagiannya ke tim yang lain. Terlapor IV menyatakan menerima fee sebagai pendamping tender dari Terlapor I sekitar Rp
18
10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) sampai dengan Rp 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah). Sedangkan Terlapor V menyatakan menerima fee sebagai pendamping tender dari Terlapor I sekitar Rp 2.000.000,- (dua juta rupiah) sampai dengan Rp 3.000.000,- (tiga juta rupiah).
Dengan demikian, tindakan persekongkolan dan upaya yang dilakukan antar peserta untuk dapat menjadikan peserta tender tertentu sebagai pemenang sebagaimana yang dilakukan oleh Terlapor I terhadap terlapor lain agar memenangkan tender dan memberikan kompensasi kepada terlapor lain dapat dikategorikan sebagai persekongkolan yang secara jelas menyebabkan persaingan usaha tidak sehat diantara peserta tender lainnya, karena yang dilakukan oleh para terlapor adalah tindakan tidak jujur dan melawan hukum yang dapat menghilangkan persaingan dan berpotensi menimbulkan kerugian negara.
Dari analisis putusan KPPU diatas, dapat dilihat bahwa semua unsur-unsur persekongkolan terpenuhi dan dengan demikian pelaku usaha sah melanggar Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999. Melihat dari analisis diatas, maka penulis setuju dengan putusan Komisi yang menyatakan bahwa para Terlapor terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999.
19 III. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat mengatur mengenai persekongkolan tender dalam Pasal 22. Terjadinya persaingan usaha tidak sehat dalam hal persekongkolan tender disebabkan oleh adanya pelaku usaha yang melakukan persaingan secara tidak kompetitif. KPPU sebagai lembaga yang independen dalam mengawasi pelaksanaan UU ini mengeluarkan pedoman mengenai persekongkolan tender yang diatur dalam Peraturan Komisi No. 2 Tahun 2010 dimana dalam pedoman tersebut, KPPU membagi persekongkolan tender menjadi tiga bentuk, yaitu persekongkolan vertikal, persekongkolan horizontal, dan persekongkolan gabungan (vertikal dan horizontal). Unsur-unsur yang terdapat dalam persekongkolan tender adalah pelaku usaha, bersekongkol, mengatur atau menentukan pemenang tender; dan mengakibatkan terjadinya persaingan usaha yang tidak sehat.
2. Berdasarkan analisa putusan KPPU No. 24/KPPU-I/2016 disimpulkan bahwa PT Synergy Dua Kawan Sejati, PT Kembang Turi Healthcare, PT Dwi Putra Unggul Pratama, CV Trimanunggal Mandiri, dan CV Tiga Utama (Para Terlapor) secara sah melakukan persaingan usaha tidak sehat dalam hal persekongkolan tender. Hasil analisis ini sesuai dengan putusan Majelis KPPU No. 4/KPPU-I/2016 yang menyatakan bahwa para Terlapor terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 22 UU No.5 Tahun 1999. Mengenai persekongkolan tender yang dilakukan oleh oleh para Terlapor, diketahui bahwa para Terlapor melakukan persekongkolan tender horizontal. Segala jenis kegiatan yang dilarang oleh undang-undang termasuk persekongkolan tender, akan menimbulkan akibat yang buruk bagi dunia persaingan usaha karena dapat menimbulkan hilangnya minat persaingan diantara pelaku usaha yang dapat menyebabkan tidak adanya variasi harga, barang/jasa yang beranekaragam maupun tidak adanya
20
variasi kualitas dari sebuah barang/jasa dan dengan demikian dapat menimbulkan kerugian baik bagi konsumen maupun bagi negara.
B. Saran
1. Bagi para pelaku usaha agar bersaing secara sehat dan kompetitif dalam menjalankan usahanya dengan cara melakukan inovasi terbaru dengan memperbaiki kualitas produk sehingga dalam menghadapi persaingan dalam hal tender benar-benar dapat memenangkan tender tersebut berdasarkan persaingan yang sehat. Disamping itu, mengenai ketidaktahuan pelaku usaha dalam hal pengaturan persekongkolan tender, hendaknya pelaku usaha banyak mencari informasi mengenai pengaturan tentang persaingan usaha baik dari buku, maupun media elektronik.
2. KPPU lebih efektif dalam melakukan sosialisasi kepada pelaku usaha yang melakukan kegiatan usaha di bidang penyalur alat-alat kesehatan di wilayah hukum negara Republik Indonesia seperti kepada Perkumpulan Organisasi Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium di Indonesia (GakeslabIndonesia)agar para pelaku usaha tersebut lebih mengetahui secara jelas mengenai aturan, sanksi serta akibat yang ditimbulkan dari praktik persekongkolan tersebut sehingga hal tersebut menjadi perhatian khusus dan menimbulkan kesadaran dari para pelaku usaha agar mengikuti proses tender sesuai dengan prinsip – prinsip persaingan yang sehat sehingga dengan hal tersebut dapat mengurangi angka persekongkolan tender yang terjadi di Indonesia.
21
DAFTAR PUSTAKA Buku
Soemitro, Rochmat.Himpunan Kuliah Pengantar Ekonomi dan Ekonomi Pancasila. Jakarta : PT Eresco, 1983.
Margono, Suyud.Hukum Anti Monopoli. Jakarta : Sinar Grafika, 2009.
Sirait, Ningrum Natasya.Asosiasi dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Medan : Penerbit Pustaka Bangsa Press, Medan, 2003.
Sirait, Ningrum Natasya.Hukum Persaingan di Indonesia. Medan : Penerbit Pustaka Bangsa Press, 2011.
Lubis, Andi Fahmi et al.Hukum Persaingan Usaha.Jakarta : KPPU, 2009.
Mulia, Insan Budi.Catatan Singkat Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.Bandung:Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, 2000.
Usman, Rachmadi.Hukum Persaingan Usaha di Indoneisia. Jakarta : Sinar Grafika, 2013.
Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 2 Tahun 2010 Tentang Pedoman Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Persekongkolan Dalam Tender.
Jurnal Hukum
Jusuf, Daniel, Persekongkolan Tender Secara Vertikal Dan Gabungan Horizontal Dan Vertikal Di Indonesia Ditinjau Dari Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Tahun 2013 Sampai Tahun 2014,Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta,2016.
Website
http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol18357/persekongkolan-tender- sebagai-suatu-tindakan-yang-anti-persaingan-sehat diakses pada tanggal 11 November 2017.