PENGARUH BUDAYA PERUSAHAAN TERHADAP AKTIVITAS KERJA
4.3. Dampak Budya Perusahaan Terhadap Hubungan Internal di PT PLN (Persero) UIP KITSUM
4.3.3. Hubungan Atasan (GM Dengan) Pegawai
Perusahaan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera Utara (UIP KITSUM) dipimpin oleh General Manager. Pada saat ini jabatan General Manager dipimpin oleh Bapak Heru Sriwidodo Sarimenggantikan General Manager sebelumnya yaitu Bapak Ahmad Rofik. Sosok General Manager (GM) yang baru saat ini ditengah-tengah para pegawai cukup baik dan disenangi.
Hal ini terjadi karena bapak Heru sangat ramah dan mau duduk bergabung bersama pegawai lainnya ketika makan siang di kantin, bahkan pernah menyempatkan ikut pada perayaan ulang tahun pegawai lainnya atau datang ke
satu bidang untuk sekedar bertegur sapa atau mengobrol sedikit seputar pekerjaan.
Satu hal yang selalu di ucapkan Bapak Heru Sriwidodo Sari saat datang ke kantor atau ke bidang yang lain yaitu selalu mengucapkan salam.
Salah satu sekretaris General Manager Susi Herawati (28 Tahun Pegawai Tetap) menjelaskan pekerjaannya ketika diwawancarai oleh peneliti sebagai berikut :
“... tugas dan fungsi pokok sebagai GM di perusahaan ini banyak sekali dari mulai memimpin perusahaan, mengurus kerjasama dengan pihak lain, sampai mengurusi hal-hal kecil seperti hasil kerja pegawai. Tetapi walau begitu, Bapak Heru selalu nyempatkan diri untuk berkomunikasi atau sekedar betegur sapa dengan bawahan lain. Selain pekerjan di kantor, sebagai GM sering juga ditugaskan keluar kota atau provinsi untuk berbagai tugas yang diserahkan oleh perusahaan ...”
Seorang General Manager khususnya PT PLN (Persero) UIP KITSUM bertanggung jawab memimpin terselenggaranya perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan dan pengawasan kegiatan pembangunan Pembangkit listrik, memastikan pengendalian terhadap biaya, jadwal, dan mutu sesuai target kinerja yang ditetapkan Direksi dengan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia, dan memastikan tersedianya analisa dan mitigasi risiko, serta proses bisnis, dengan tugas pokok sesuai SK No. 0043.P/DIR/2016 tanggal 19 Februari 2016 tentang Organisasi PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera meliputi:
a. Memastikan penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi strategi dan kebijakan pembangunan dan menetapkannya dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) Unit lnduk Pembangunan;
b. Memastikan penyusunan, evaluasi dan kelancaran koordinasi pekerjaan
supevisi dan menetapkan Sevice Level Agreement (SLA) dengan pihak supervisi konstruksi dan supervisl desain;
c. Memastlkan pengelolaan, pengendalian, dan evaluasi kegiatan perijinan, pembebasan tanah, pembangunan, serta bertindak sebagal wakil pemilik (owner);
d. Memastikan penyusunan, menetapkan, dan evaluasi Sistem Manajemen Kinerja dan Sistem Manajemen Mutu, serta penyusunan Laporan Manajemen Unit lnduk Pembangunan;
e. Memastikan pengendalian dan pelaksanaan pembangunan, pengembangan dan evaluasi hubungan dengan pihak lain untuk integrasipembangunan, kelancaran dan keberhasilan penyelesaian pembangunan, sesuai dengan biaya, jadwal dan mutu yang ditetapkan;
f. Memastikan penyusunan dan pelaksanaan mitigasi risiko serta memberikan early warning system terhadap pelaksanaan konstruksi, infrastruktur ketenagalistrikan, serta pengembangan, pemeliharaan dan evaluasi kompetensi organisasi dan kompetensi anggola organisasi Unit lnduk Pembangunan.
Di dalam suatu perusahaan, seorang pemimpin harus mampu mempengaruhi agar orang-orang yang dipimpinnya patuh, hormat dan mempercayai dirinya. Selanjutnya dengan ikhlas dan rela melaksanakan semua petunjuk, bimbingan, pengarahan, perintah dan keputusan pimpinannya, baik secara perseorangan maupun dalam bentuk kerjasama. Oleh karena itu seorang pemimpin harus mempunyai figur yang dipilih dan diharapkan mampu untuk mengatur serta mewakili orang lain dalam suatu organisasi dan disertai dengan tanggung jawab.
Perusahaan tidak hanya mengandalkan seorang pegawai untuk meningkatkan kinerjanya, tetapi harus memiliki seorang pemimpin yang mampu
bekerja sama untuk mencapai tujuan perusahaan. Seorang pemimpin dalam melakukan tugasnya harus berupaya menciptakan dan memelihara hubungan baik dengan bawahanya agar mereka dapat bekerja secara produktif. Seorang pemimpin harus cakap dalam mengambil suatu keputusan karena keputusan yang diambil seorang pemimpin dapat berpengaruh besar terhadap kelangsungan kegiatan dan perkembangan perusahaan.
Apabila seorang pemimpin tidak cakap dalam mengambil keputusan dan memperlakukan pegawainya secara semena-mena maka akan menimbulkan kekacauan di lingkungan perusahaan seperti menurunnya semangat kerja pegawai dan sering terjadinya konflik dengan pegawai. Hal ini menyebabkan seorang pemimpin kurang disegani sehingga wibawa seorang pemimpin di mata pegawai menurun.
Seorang pemimpin dalam memberlakukan kebijakan-kebijakannya harus dapat diterima oleh seluruh pegawainya apabila seluruh pegawainya tidak dapat menerima kebijakan-kebijakan tersebut maka akan berdampak buruk bagi perusahaan. Seorang pegawai tentu mengharapkan seorang pemimpin yang mampu memberikan semangat dan masukan yang baik, sehingga seorang pemimpin harus memotivasi pegawainya agar ia berupaya sekuat tenaga untuk mencapai tujuan dan meningkatkan kinerjanya.
Pentingnya pegawai dalam pencapaian tujuan perusahaan, maka salah satu cara perusahaan meningkatkan kinerja para pegawainya adalah melalui motivasi, karena pada dasarnya motivasi merupakan hal-hal yang menyebabkan, menyalurkan, dan mendukung perilaku manusia supaya mau bekerja giat dan antusias untuk mencapai hasil yang optimal. Motivasi juga dapat diartikan sebagai kebutuhan yang distimulasi dan berorientasi kepada tujuan individu dalam
mencapai rasa puas (Mangkunegara, 2007:93).
Dorongan dan keinginan kerja antara pegawai yang satu dengan yang lain itu berbeda, hal ini dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri pegawai itu sendiri maupun faktor dari luar. Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya motivasi kerja seseorang adalah minat atau perhatian terhadap pekerjaan, faktor upah atau gaji, status sosial dari pekerjaan, pekerjaan yang mengandung pengabdian, dan faktor suasana kerja serta hubungan kemanusiaan yang baik.
Tinggi rendahnya motivasi kerja sangat berpengaruh terhadap kinerja seorang pegawai. Semakin tinggi motivasi kerja pegawai maka akan semakin meningkatkan kinerja pegawai tersebut begitu pula sebaliknya, apabila motivasi kerja pegawai itu rendah maka kinerja pegawai tersebut akan menurun. Salah satu cara perusahaan untuk memotivasi pegawainya adalah dengan memberikan kompensasi, karena kompensasi memiliki fungsi sebagai penyemangat dan dorongan yang berupa upah/gaji agar pegawai lebih antusias dalam menyelesaikan pekerjaanya.
Perusahaan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera merupakan salah satu BUMN yang berkecimpung menangani masalah pembangunan pembangkit khususnya di Sumatera. Secara spesifik budaya dalam perusahaan akan ditentukan oleh kerja sama tim, kepemimpinan, karakteristik organisasi dan proses administrasi yang berlaku. Budaya perusahaan penting karena merupakan kebiasan-kebiasaan yang terjadi dalam hirarki organisasi yang mewakili norma-norma perilaku yang diikuti oleh anggota organisasi. Budaya yang produktif adalah budaya yang dapat menjadikan organisasi menjadi kuat dan tujuan organisasi dapat terakomodasi (Sinungan, 2003 : 48).