• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN BUDAYA PERUSAHAAN PT PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA

3.1 Budaya Perusahaan PT PLN (Persero) UIP KITSUM

3.1.2 Nilai –Nilai Yang Ditaati (SIPP)

Di dalam buku pedoman perilaku, selain terdapat hal–hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, terdapat juga budaya yang dibentuk oleh PT PLN (Persero) yang di dalamnya terkandung tata nilai dan budaya pengelolaan perusahaan yang dibentuk oleh PT PLN (Persero) dan merupakan tata nilai untuk seluruh unit PLN, dalam hal ini termasuk PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera (UIP KITSUM). Terdiri dari saling percaya, Integritas, Peduli, dan Pembelajar (SIPP).

Penerapan budaya perusahaan pada PT. PLN (Persero) UIP KITSUM dapat diwujudkan melalui penanaman nilai-nilai budaya, seperti wawancara dengan beberapa pekerja di PT. PLN (Persero) UIP KITSUM sebagai berikut :

Saling Percaya

Butir-butir dari saling percaya adalah: saling menghargai, beritikad baik, dan transparan.

“... Nilai saling percaya diwujudkan dengan percaya terhadap kemampuan diri sendiri, menerima masukan dari rekan kerja maupun dari atasan ...”(Bapak Surya Dharma, Bidang SDM dan Umum)

Nilai saling percaya diwujudkan dengan adanya rasa saling percaya antara atasan kepada bawahan maupun kepercayaan dalam tim. Hal ini dianggap sangat penting karena nilai saling percaya adalah suatu hal yang harus dimiliki oleh setiap pegawai yang bekerja dalam suatu perusahaan. Dengan nilai saling percaya maka kerjasama tim dalam usaha mencapai target perusahaan akan mudah dicapai. Lebih lanjut bapak Ryan Rusnanda mengatakan kepada peneliti mengenai pandangannya terhadap nilai saling percaya sebagai berikut:

“ Nilai saling percaya dapat di lihat dari adanya koordinasi bersama antara teman satu tim, adanya komunikasi dan berusaha menjalankan pekerjaan sesuai dengan kapasitas dan ruang lingkup pekerjaan.” (Bapak Ryan Rusnanda, Bagian SDM)

Pendapat bapak Ryan Rusnanda tadi serupa dengan apa yang dikatakan oleh ibu Lamretta Uli Sitinjak yang juga bekerja di bagian SDM sebagai berikut:

“... Nilai saling percaya yaitu dengan adanya penugasan dan memberi bawahan kepercayaan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik ...”(Ibu Lamretta Uli Sitinjak, Bagian SDM)

Lebih lanjut bapak Rusdy Syahputra juga menambahkan mengenai betapa pentingnya rasa saling percaya antara sesame pegawai sebagai berikut:

“... Kalau nilai saling percaya yaitu bukan hanya kepada sesama pegawai ataupun atasan, tetapi saling percaya ke pihak lain diluar PLN itu sendiri, karena hubungan kerja kita tidak hanya kepada sesama pegawai di lingkungan PLN, tetapi juga kepada pihak di luar PLN. Dengan kepercayaan yang baik maka terjalin kerjasama yang baik pula ...” (Bapak Rusdy Syahputra, Bagian Pengadaan)

Rasa saling percaya merupakan landasan dari suatu komunikasi yang baik antara masing-masing pegawai di suatu perusahaan, dimana komunikasi merupakan aktivitas dasar. Pentingnya komunikasi bagi manusia tidaklah dapat

dipungkiri begitu juga halnya bagi suatu organisasi. Dalam melaksanakan pekerjaan, karyawan tidak lepas dari komunikasi dengan sesama rekan sekerja, dengan atasan dan dengan bawahan. Komunikasi yang baik dapat menjadi sarana yang tepat dalam meningkatkan kinerja karyawan. Komunikasi yang efektif adalah penting bagi semua organisasi. Oleh karena itu, menurut Kohler (dalam Arni Muhammad, 2002;1) para pimpinan organisasi dan para komunikator dalam organisasi perlu memahami dan menyempurnakan kemampuan komunikasi mereka.

Integritas

Butir-butir dari integritas adalah: jujur dan menjaga komitmen, taat aturan dan bertanggung jawab, keteladanan. Dalam menjawab bagaimana nilai integritas ini dijalankan di perusahaan PT PLN UIP KITSUM maka peneliti mewawancarai bapak Surya Dharma yang menangani bagian SDM dan Umum sebagai berikut:

“... Integritas yaitu dapat dilihat dari kedisipinan pegawai tersebut, dalam hal ini contoh kecilnya dari kedisiplinan dalam kehadiran saat bekerja dan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan sesuai dengan target yang ditentukan oleh perusahaan ...” (Bapak Surya Dharma, Bagian SDM dan Umum)

Nilai integritas dapat dilihat dari pegawai yang bekerja sesuai dengan target dan peraturan yang berlaku pada perusahaan, misalnya menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan tidak menunda-nunda pekerjaan. Hal ini juga dikatakan oleh bapak Hartoyo yang bekerja di bagian Akuntansi PT PLN UIP KITSUM.

“... Nilai-nilai integritas dapat dilihat dari mencegah ter-jadinya tindak pelanggaran disiplin dengan menanamkan nilai-nilai dan pedoman perilaku yang sudah ditetapkan oleh perusahaan ...”

(Bapak Hartoyo, Bagian Akuntansi)

Pendapat bapak artoyo tersebut seolah menjelaskan bahwa penerapan

budaya organisasi tidak dapat secara praktis ditanamkan kepada masing-masing pekerja. Nilai integritas akan tumbuh sejalan dengan pengalaman dan proses belajar dari seseorang di lingkungan tempatnya bekerja.

“... Integritas itu tidak hanya untuk hal-hal yang besar, dari hal-hal yang kelihatan sederhana namun berpengaruh yaitu dari segi berpakaian, perusahaan pasti telah menetapkan seragam yang digunakan setiap harinya oleh pegawai, jika untuk hal yang kecil seperti ini saja pegawai bisa menaatinya maka untuk hal–hal yang lain mungkin tidak terlalu sulit untuk dilaksanakan dan ditaati ...”

(Bapak Ryan Rusnanda, Bagian SDM)

PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera (UIP KITSUM) beranggapan bahwa apabila integritas seseorang tinggi dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai pegawai dan sebagai anggota organisasi, maka nilai kepedulian akan tumbuh untuk memberikan kontribusi positif bagi perkembangan organisasi dan akan lebih mudah menanamkan nilai pembelajar sehingga nilai saling percaya akan tumbuh dengan sendirinya.

Peduli

Butir-butir dari peduli adalah: proaktif dan saling membantu, memberi yang terbaik, dan menjaga citra perusahaan

“... Peduli itu menurut saya adalah kita mampu menjaga nama baik perusahaan, menjaga rahasia perusahaan dengan baik dan menjaga martabat perusahaan, karena perusahaan itu sendiri tercermin dari para pegawai-pegawainya, karena walau perusahaan itu punya aturan-aturan yang baik, tetapi kalau pegawainya tidak mencerminkan itu semua, maka perusahaan itu punya image yang tidak baik pastinya ...” (Bapak Widodo S. Ismail, Bagian Hukum)

Nilai peduli diwujudkan dengan peduli terhadap pegawai sebagai anggota organisasi, yang biasa mereka lakukan untuk mewujudkan budaya peduli terhadap

sesama teman yaitu dengan menjenguk teman yang sedang sakit atau membantu mengerjakan pekerjaan teman yang sedang sakit dan saling tolong menolong.

Seperti yang dikatakan oleh bapak Ryan Rusnanda sebagai berikut:

“... Peduli yaitu saling membantu satu sama lain dalam pekerjaan, karena kita bekerja di perusahaan ini dengan satu tujuan, contoh kecil saja mungkin saat teman satu bidang kita ada yang sakit atau tidak bisa hadir, tidak ada salahnya jika kita membantu pekerjaan mereka dengan tidak mengabaikan pekerjaan kita sendiri pastinya ...” (Bapak Ryan Rusnanda, Bagian SDM)

Nilai peduli bukan lah semata-mata menjadi nilai yang hanya tertulis dalam aturan perusahaan. Nilai peduli harus ditanamkan kepada setiap pegawai untuk meningkatkan rasa solidaritas antara sesame pegawai baik itu pegawai tetap maupun pekerja di bidang outsourcing. Apabila nilai peduli tidak dimiliki oleh para pegawai dalam suatu perusahaan tentu nilai-nilai lainnya tidak dapat diharapkan bisa tumbuh sejalan, seperti yang dikatakan oleh bapak Zulham Efendi sebagai berikut:

“... Peduli itu salah satunya adalah bekerja dengan baik untuk perusahaan, dan memberikan hasil yang terbaik untuk perusahaan, dengan cara bekerja dengan loyal untuk perusahaan dengan memaksimalkan tenaga dan waktu dalam bekerja,tanpa menunda–

nunda pekerjaan yang ada ...” (Bapak Zulham Efendi Hasyim, Bagian Umum)

Pembelajar

Butir-butir dari Pembelajar adalah: belajar berkelanjutan dan beradaptasi, berbagi pengetahuan dan pengalaman, berinovasi

“ Pembelajar yaitu kita sebagai pegawai harus mampu jika kita mungkin di berikan pekerjaan yang belum pernah kita kerjakan atau tidak sesuai dengan keahlian kita, karena kita tidak selamanya

berada di pekerjaan yang itu–itu saja, kita juga harus mampu beradaptasi dengan pekerjaan yang baru, dan kita harus siap dengan itu semua “ (Bapak Ryan Rusnanda, Bagian SDM)

Nilai pembelajar diwujudkan dengan banyak belajar dari pegawai-pegawai lain yang lebih berpengalaman dan lebih banyak mengupdate pengetahuan melalui training, melalui training yang dapat diikuti oleh pekerja-pekerja dan diharapkan dapat memperbaiki serta mengembangkan kinerja mereka.

“ Nilai pembelajar dapat di wujudkan dengan mengadakan forum diskusi sebagai sarana bertukar fikiran dan informasi, baik secara internal di bidang masing – masing ataupun antara bidang yang satu dengan bidang yang lainya, dengan membuat forum seperti ini maka akan menambah wawasan antar pegawai” (Bapak Dimas Hartono, Bagian SDM)

Cara lain yaitu dengan mencari alternatif belajar dengan menggunakan media online seperti browsing. Namun perwujudan nilai pembelajaran masih kurang karena ilmu yang sudah didapat setelah training belum di akomodir oleh sistem yang baik dan mekanisme sharing knowledge belum di fasilitasi. Nilai-nilai budaya yang ditanamkan oleh pemimpin perusahaan seperti Countinous learning, dimana pegawai di biasakan untuk selalu belajar baik dari pegawai-pegawai yang sudah berpengalaman maupun dari media-media lain, seperi internet atau Koran.

“Nilai Pembelajar yaitu kita sebagai pegawai bukan hanya belajar dan mengembangkan ilmu kita untuk diri sendiri, tetapi juga untuk perusahaan, dengan cara membuat inovasi–inovasi yang bertujuan untuk perkembangan perusahaan ke arah yang lebih baik lagi, dengan menerapkan pengalaman–pengalaman yang sudah kita punya untuk diimplementasikan ke perusahaan kita” (Bapak Zulham Efendi Hasyim, Bagian Umum)

Nilai–nilai budaya perusahaan di atas dapat disimpulkan bahwa perwujudan saling percaya dapat dilihat dengan percaya akan kemampuan sendiri dalam bekerja serta selalu melakukan koordinasi pekerjaan kepada sesama pegawai di bidang masing–masing atau pun di bidang lainya. Tidak hanya sesama pegawai namun juga dengan atasan masing–masing dan saling percaya atasan dengan bawahan seperti saat atasan memberikan wewenang dalam melakukan keputusan–keputusan dalam pekerjaan. Nilai ini juga di wujudkan kepada seluruh pihak–pihak di luar perusahaan yang bekerja sama dengan PT PLN (Persero), penerapan nilai ini akan berdampak baik untuk kelancaran pekerjaan internal maupun external perusahaan.

Perwujudan nilai integritas dapat dilihat mulai dari hal–hal yang kecil yaitu seragam pegawai yang dikenakan saat bekerja, kehadiran pegawai setiap harinya, dan menaati peraturan–peraturan perusahaan. Integritas yang baik juga akan berpengaruh kepada citra perusahaan, karena dengan pegawai–pegawai yang berintegritas dengan sendirinya akan bepengaruh kepada kinerja perusahaan, serta dengan pegawai yang berintegritas maka akan menghindari terjadinya pelanggaran–pelanggaran disiplin di perusahaan.

Nilai peduli diwujudkan dengan perilaku pegawai yang peduli dengan perusahaan dan nama baik perusahaan itu sendiri, tidak hanya itu peduli juga diwujudkan dalam ruang lingkup pekerjaan seperti membantu teman kita yang mungkin tidak hadir karena sakit atau dikarenakan hal lain. Selain itu wujud dari nilai peduli adalah loyal terhadap perusahaan dalam bekerja. bekerja dengan optimal tanpa menunda–nunda pekerjaan yang di berikan serta bekerja dengan maksimal untuk hasil yang maksimal juga.

Perwujudan nilai pembelajar adalah mampu dan mau untuk beradaptasi

dengan pekerjaan baru yang mungkin tidak sesuai dengan pekerjaan yang kita kerjaakan saat ini, dengan sendirinya ini akan menambah ilmu untuk pegawai dan berpengaruh kepada pengembangan pegawai. Hal lain yaitu selalu membagikan ilmu yang didapat dengan cara membentuk forum diskusi dengan dengan bidang sendiri atau dengan bidang lain, serta wujud pembelajaran kepada perusahaan adalah belajar untuk membuat inovasi–inovasi yang berpengaruh kepada kemajuan perusahaan dengan memanfaatkan pengalaman–pengalaman dan ilmu yang kita dapatkan.