BAB 5. PEMBAHASAN
5.3. Hubungan Faktor Psikologis dengan Pemanfaatan
Hubungan faktor psikologis dengan pemanfaatan program jampersal di Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang meliputi : pengetahuan, sikap dan kepercayaan seperti dibawah ini :
5.3.1. Hubungan Pengetahuan dengan Pemanfaatan Program Jampersal di Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang
Hasil penelitian tentang variabel pengetahuan ditemukan responden pada pengetahuan dengan kategori baik dengan proporsi memanfaatkan program jampersal 57,9%. Uji statistik regresi logistic ganda menunjukkan variabel pengetahuan nilai p < 0,05 dengan OR 4,4 (95% CI = 2,206-9,121) berhubungan dengan pemanfaatan program jampersal.
Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan bahwa tingkat pengetahuan berbanding lurus dengan pemanfaatan program jampersal, artinya semakin rendah pengetahuan responden maka pemanfaatkan program jampersal juga rendah. Demikian juga sebaliknya jika pengetahuan responden tinggi maka pemanfaatan program jampersal juga akan meningkat.
Pengetahuan responden yang baik tentang pemanfaatan program jampersal memengaruhi mereka dalam memanfaatkannya yang akan digunakan termasuk pelayanan yang diberikan, jenis pelayanan jaminan persalinan dan manfaat yang diterima oleh penerima jaminan persalinan, sehingga demikian kesadaran mereka tinggi untuk terus memanfaatkan program jampersal.
Pada penelitian ini pengetahuan responden masih banyak yang salah bahwa bahwa Jampersal merupakan program bantuan pemerintah yang khusus diberikan kepada ibu dalam rangkaian kehamilan dengan persentase 42,4%, Jampersal merupakan program bantuan pemerintah yang khusus diberikan kepada ibu dalam rangkaian persalinan dengan persentase 21,0% Jampersal merupakan program pemeriksaan yang sudah mempunyai jaminan kesehatan pada fasilitas kesehatan dengan persentase 33,3%, manfaat yang menjadi peserta Jampersal adalah pemeriksaan kehamilan secara gratis dengan persentase 42,4%, program Jampersal memberikan pelayanan gratis pada ibu nifas sampai dengan hari ke 21 dengan persentase 35,2%, yang mengadakan program jampersal adalah pemerintah dengan persentase 31,9%, sasaran peserta jampersal adalah orang tua dengan penyakit berat dengan persentase 29,5%, bayi baru lahir adalah sasaran utama peserta jampersal dengan persentase 39,5%, tujuan umum diadakannya Jampersal adalah untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan anak dengan persentase 46,2% dan tujuan diadakannya Jampersal tidak dapat menurunkan Angka Kematian anak dengan persentase 35,7%.
Hal ini sesuai dengan pendapat Blum yang dikutip oleh Notatmodjo (2010) yang menyatakan bahwa tindakan seseorang individu termasuk kemandirian dan tanggung jawabnya dalam berperilaku sangat dipengaruhi oleh domain kognitif atau pengetahuan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Siregar (2012) yang menyatakan bahwa ada pengaruh yang bermakna pengetahuan ibu terhadap pemilihan penolong persalinan di Kecamatan Bandar Pulau Kabupaten Asahan Tahun 2012 (koefisien regresi=3,103 dan nilai p=0,001).
Penelitian lain menurut Sumarni (2012), diperoleh bahwa ada hubungan pengetahuan ibu hamil dan nifas tentang jaminan persalinan (Jampersal) dengan pelaksanan jaminan persalinan (Jampersal) dengan nilai p = 0,007 (α = 0,05).
5.3.2. Hubungan Sikap dengan Pemanfaatan Program Jampersal di Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang
Hasil penelitian tentang variabel sikap yang menggunakan memanfaatkan jampersal dengan persentase tertinggi berada pada sikap negatif yaitu sebesar 46,6%, sedangkan yang tidak memanfaatkan jampersal dengan persentase tertinggi berada pada sikap positif sebesar 56,6%. Uji statistik uji chi square prob > α = 0,05 menunjukkan variabel sikap tidak berhubungan dengan pemanfaatan jampersal.
Sikap akseptor KB tentang pemanfaatan jampersal beraneka ragam misalnya merasa senang dengan keberadaan program jampersal di Kecamatan Beringin ini, bersedia menggunakan pelayanan jampersal yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan, suami mengizinkan untuk menggunakan program jampersal untuk pertolongan
persalinan, merasa senang biaya pelayanan jampersal dijamin pemerintah, yakin akan mendapat pertolongan persalinan oleh bidan yang professional, merasa perlu untuk mengikuti pemeriksaan nifas pada program jampersal, merasa perlu berkonsultasi dengan bidan dalam perawatan bayi, bersedia kontrol ke puskesmas untuk memeriksakan kondisi bayi, setelah melahirkan anak yang sekarang ini, berniat menunda kehamilan dan tidak terpengaruh dengan pandangan orang lain mengenai jampersal.
Hal ini tidak sesuai dengan penelitian Harun (2011), bahwa sikap ibu berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dengan lengkap menggunakan pembiayaan Jamkesmas. Sikap dan perilaku merupakan dua dimensi dalam diri individu yang berdiri sendiri, terpisah dan berbeda. Sikap yang telah diketahui tidak berarti dapat memprediksi perilaku seseorang. Perilaku tidak selalu mencerminkan sikap seseorang, seringkali bahwa tindakan seseorang bertentangan dengan sikapnya. Perilaku manusia tidak hanya dapat ditinjau dari sikap saja tetapi juga ditentukan oleh pengetahuan, motivasi, kemampuan, sudut pandang dan lain- lain1. Hal inilah yang memungkinkan ibu dengan sikap negatif terhadap Jampersal namun tetap memanfaatkannya.
5.3.3. Hubungan Keyakinan dengan Pemanfaatan Program Jampersal di Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang
Hasil penelitian tentang variabel keyakinan ditemukan responden dengan percaya memanfaatkan program jampersal sebesar 54,5%. Uji statistik regresi logistik
ganda menunjukkan variabel keyakinan nilai p < 0,05 dengan OR 3,8 (95% CI = 1,808-7,991) berhubungan dengan pemanfaatan program jampersal.
Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan bahwa keyakinan responden berbanding lurus dengan pemanfaatan program jampersal, artinya semakin banyak responden yang percaya maka pemanfaatkan program jampersal juga tinggi. Demikian juga sebaliknya jika responden semakin banyak tidak percaya maka pemanfaatan program jampersal juga akan menurun.
Berdasarkan hasil penelitian ini, responden masih banyak tidak percaya dengan program jampersal misalnya tidak percaya terhadap hasil pemeriksaan nifas dan perawatan bayi baru lahir program jampersal, tidak percaya pelayanan jampersal yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan, tidak percaya terhadap peralatan yang digunakan oleh bidan dalam jampersal, tidak percaya atas keselamatan yang diberikan oleh bidan pada saat menolong persalinan, tidak percaya dengan cara yang digunakan bidan dalam menolong persalinan, tidak percaya untuk mengikuti pemeriksaan nifas pada program jampersal, tidak percaya akan mendapat konsultasi dari bidan yang profesional pada saat mengikuti program jampersal, tidak percaya setelah melahirkan anak yang sekarang ini program jampersal akan membantu sampai 42 hari pasca kelahiran.
Hal ini menunjukkan bahwa ibu yang mempergunakan atau memanfaatkan program jampersal berpengaruh terhadap keyakinan yang dimiliki responden. Responden percaya kurang dalam pemanfaatan program jampersal, mereka lebih
memilih tidak mempergunakan program jampersal untuk memeriksakan keadaan kehamilan dan bersalin.
Menurut Mawarni (2008), bahwa kepercayaan yang dimiliki seseorang akan menjadi budaya atau kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk.