• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Hasil Visual Analog Scale (VAS) dengan Tinnitus Handicap

Dalam dokumen HUBUNGAN POLA PENGGUNAAN EARPHONE (Halaman 38-98)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.8 Hubungan Hasil Visual Analog Scale (VAS) dengan Tinnitus Handicap

VAS dan THI sering digunakan pada pemeriksaan tinnitus. VAS digunakan untuk menilai tingkat keparahan tinnitus dengan meminta pasien untuk menilai volume dan gangguan dengan skor 0-10. Pemeriksaan VAS dapat dipahami dan diaplikasikan dengan mudah oleh pasien, namun ini hanya pemeriksaan awal karena dapat dipengaruhi oleh nilai budaya, intelektual, dan psikologis (Figueiredo, De Azevedo and Oliveira, 2009).

THI saat ini digunakan sebagai alat diagnostik dan skrining yang telah diakui oleh berbagai konsensus untuk mengukur dampak tinnitus dalam kehidupan sehari-hari. Untuk kebutuhan klinis, THI telah dikembangkan sehingga dapat mengklasifikasikan tingkat keparahan tinnitus menjadi lima kategori (slight, mild, moderate, severe and catastrophic). Terdapat tiga poin utama yang dinilai oleh THI, yaitu dampak fungsional akibat tinnitus (gangguan konsentrasi dan anti social), dampak emosional akibat tinnitus (marah, frustasi, dan depresi), dan dampak katastrofik akibat tinnitus (perasaan putus asa, ketakutan mengidap penyakit parah, kehilangan kendali, dan ketidakmampuan dalam bekerjasama) (Figueiredo, De Azevedo and Oliveira, 2009; Fackrell and Hoare, 2014).

Pada penelitian yang dilakukan pada 43 penderita tinnitus dilakukan pemeriksaan VAS dan THI, lalu kedua hasil dibandingkan dengan Uji Korelasi Spearman’s. Hasilnya menunjukkan terdapat korelasi signifikan antara VAS dan THI (rs = 0.564; p = 0.0001; n = 43) sehingga kesimpulannya semakin tinggi hasil VAS, semakin tinggi juga hasil dari THI (Figueiredo, De Azevedo and Oliveira, 2009; Raj-Koziak et al., 2018).

Gambar 2.5 Hubungan skor VAS dan THI (Figueiredo, De Azevedo and Oliveira, 2009)

Peningkatan

 Kerusakan sel rambut koklea

 Kerusakan organ korti

Perubahan Faktor Metabolik:

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional (potong lintang), dimana pengambilan data hanya dilakukan sekali saja (Sastroasmoro & Ismael, 2017). Penelitian bertujuan untuk melihat hubungan pola penggunaan earphone dengan angka kejadian tinnitus pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2017-2019.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dengan mengisi kuesioner secara online melalui Google Form. Pemilihan tempat dipilih dengan alasan memudahkan proses pengumpulan data yang diperlukan sehingga diharapkan dapat memenuhi besar sampel minimal penelitian. Waktu pengambilan dan pengumpulan data penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2020 sampai dengan Agustus 2020.

3.3 Populasi dan Subjek Penelitian

3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2017-2019 yang menggunakan earphone.

3.3.2 Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah bagian dari populasi yang mewakili populasi yang akan diambil. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2017-2019. Mahasiswa tersebut masih aktif kuliah, tidak sedang cuti, dan bersedia menjadi responden peneliti.

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Besar sampel dapat dihitung dengan

menggunakan rumus penelitian analitik terhadap dua proporsi dengan variabel kategorik:(Dahlan, 2016)

(𝑍1−𝛼⁄ √2𝑃(1 − 𝑃) + 𝑍1−𝛽 √𝑃1(1 − 𝑃1) + 𝑃2(1 − 𝑃2))2

𝑛 = 2

(𝑃1 − 𝑃2)2 Keterangan:

n: Besar Sampel

P1: Proporsi kejadian pada salah satu partisipasi pada kelompok tertentu (Pengguna earphone berisiko), (dari jurnal=75%=0,75)(Putri, 2016) P2: Proporsi kejadian pada salah satu partisipasi pada kelompok tertentu

(Pengguna earphone tidak berisiko) (dari jurnal=25%=0,25)(Putri, 2016) P: Rata-rata P1 dan P2 (𝑃1+𝑃2) (0,5)

2

𝑍1−𝛼⁄2 : Nilai Z pada derajat kemaknaan (1,96)

𝑍1−𝛽 :Nilai Z pada kekuatan uji power (1,64)

𝑛 = (1,96√2 × 0,5(1 − 0,5) + 1,64 √0,75(1 − 0,75) + 0,25(1 − 0,25))2 (0,75 − 0,25)2

𝑛 = 23

Hasil perhitungan di atas menunjukkan jumlah subjek penelitian yang dibutuhkan minimal 23 orang tiap kelompok. Total subjek penelitian adalah 46 orang.

3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.4.1 Kriteria Inklusi

 Mahasiswa Kedokteran USU angkatan 2017-2019 yang bersedia bepartisipasi dalam penelitian.

 Pengguna earphone.

3.4.2 Kriteria Eksklusi

1. Mahasiswa Kedokteran USU angkatan 2017-2019 yang sedang mengambil cuti akademik.

2. Tidak mengisi kuesioner dengan lengkap 3. Membatalkan menjadi responden

4. Pernah terpapar suara bising dalam jangka waktu lama seperti yang bertempat tinggal di daerah industri.

5. Memiliki riwayat trauma kepala.

6. Sedang mengalami infeksi telinga dan saluran napas.

3.5 Metode Pengumpulan Data

3.5.1 Instrumen Penelitian

 Kuesioner Pola Penggunaan Earphone

 Kuesioner Tinnitus

 Visual Analog Scale

 Tinnitus Handicap Inventory Questionnaire

3.5.2 Cara Kerja Penelitian

Penelitian ini menggunakan kuesioner yang telah dimodifikasi untuk menentukan apakah responden mengalami tinnitus atau tidak.

Responden dipilih berdasarkan sistem consecutive sampling dan diberikan kuesioner pola penggunaan earphone, dan nantinya yang termasuk ke dalam kriteria inklusi akan dilanjutkan dengan pengisian kuesioner tinnitus. Kemudian, berdasarkan hasil kuesioner pola penggunaan earphone, responden dibagi menjadi dua golongan, yaitu berisiko dan tidak berisiko dan dihubungkan dengan angka kejadian tinnitus berdasarkan hasil kuesioner tinnitus. Berdasarkan kuesioner tinnitus, mahasiswa yang diduga mengidap tinnitus akan melanjutkan pengisian Visual Analog Scale dan Tinnitus Handicap Inventory Questionnaire.

3.6 Metode Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

1. Editing, peneliti pada tahap ini akan memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh responden, apakah terdapat kekeliruan atau tidak dalam pengisiannya.

2. Coding, mengklasifikasikan kategori-kategori dari data yang didapat dan dilakukan dengan cara memberi tanda atau kode berbentuk angka pada masing-masing kategori.

3. Tabulating, data yang telah diberi kode kemudian dikelompokkan, lalu dihitung dan dijumlahkan dan kemudian disajikan dalam bentuk tabel.

4. Cleaning, proses pengolahan data dengan melakukan pengecekan kembali data yang sudah di entry untuk melihat ada tidaknya kesalahan terutama kesesuaian pengkodean yang telah ditetapkan dengan pengetikan melalui komputer. Selanjutnya dianalisis dengan bantuan perangkat lunak SPSS.

5. Computer output, proses akhir dalam pengolahan data dimana hasil analisis oleh komputer kemudian dicetak.

3.7 Metode Analisis Data

3.7.1 Analisis Univariat

Analisis univariat disajikan dalam bentuk tabel dengan menampilkan distribusi frekuensi sehingga terlihat gambaran deskriptif semua variabel yang terdapat dalam penelitian.

3.7.2 Analisis Bivariat

Uji statistik yang digunakan adalah Chi Square namun bila tidak memenuhi syarat, digunakan uji alternatif Fisher exact. Berdasarkan hasil perhitungan statistik dapat dilihat kemaknaan hubungan antar variabel berdasarkan probabilitas. Signifikansi sebesar 0,05 mempunyai kesempatan untuk benar sebesar 95% dan untuk salah sebesar 5%. Jika angka signifikansi sebesar 0,05, maka tingkat kepercayaan adalah sebesar 95%. Jika probabilitas (p-value)

≤0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima.

3.8 Definisi Operasional

Tabel 4.1 Definisi Operasional

No. Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala

Pengukuran 1. Tinnitus Persepsi yang hanya

dapat dirasakan oleh

3. Durasi

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara melalui kuesioner secara daring menggunakan Google Form. Penelitian potong lintang ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola penggunaan earphone dengan angka kejadian tinnitus serta tingkat keparahan tinnitus yang diukur dengan Visual Analog Scale dan Tinnitus Handicap Inventory Questionnaire.

Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Utara angkatan 2017, 2018, dan 2019. Total subjek penelitian 160 orang yang melakukan pengisian kuesioner, lalu yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 148 orang.

Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yang dibagi menjadi dua tahap yaitu, tahap pertama pengisian Kuesioner Pola Penggunaan Earphone dan Kuesioner Tinnitus, lalu kemudian hasil Kuesioner Tinnitus diperiksa dan didata kembali seluruh subjek penelitian yang diduga menderita tinnitus. Tahap kedua, subjek penelitian yang diduga menderita tinnitus dan telah didata sebelumnya, diminta untuk melanjutkan pengisian Kuesioner Tinnitus Handicap Inventory Questionnaire dan Visual Analog Scale, lalu kemudian dilakukan analisis data univariat dan bivariat, dan pembuatan hasil skripsi, berikut hasil yang diperoleh:

4.1 Gambaran Distribusi Pola Penggunaan Earphone Responden

Tabel 4.1 Gambaran Distribusi Pola Penggunaan Earphone pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2017-2019

f %

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa responden yang menggunakan earphone dengan lama penggunaan 0-3 tahun berjumlah 51 orang (34,5%), sedangkan responden dengan lama penggunaan >3 tahun berjumlah 97 orang (65,5%). Penelitian sebelumnya yang dilakukan di Zaima diperoleh hasil pengguna earphone dengan lama penggunaan >3 tahun berjumlah 114 (49,8%) dan 0-3 tahun berjumlah 115 (50,2%) (Ilma, 2016). Hasil tersebut menunjukkan bahwa pengguna earphone di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dengan lama penggunaan >3 tahun lebih tinggi dibandingkan penelitian sebelumnya, hal ini disebabkan karena saat ini remaja banyak yang sudah menggunakan earphone, bahkan sejak di bangku sekolah menengah pertama (Ilma, 2016).

Responden yang menggunakan earphone dengan durasi penggunaan <1 jam berjumlah 57 orang (38,5%), durasi penggunaan 1-2 jam berjumlah 55 orang (37,2%), dan durasi penggunaan 2-4 jam berjumlah 36 orang (24,3%). Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Shah dan teman-teman menunjukkan bahwa hanya 5% mahasiswa yang menggunakan earphone <1 jam dan rata-rata penggunaan >4 jam (Shah et al., 2009). Hasil tersebut menunjukkan durasi penggunaan earphone di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara lebih baik jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, hal ini dapat disebabkan oleh tingkat pengetahuan tentang bahaya penggunaan earphone, kepedulian tentang bahaya penggunaan earphone terhadap kesehatan telinga, pemahaman bahwa gangguan pendengaran akibat bising tidak dapat diubah kembali, serta tingkat paparan informasi tentang kesehatan telinga yang lebih tinggi pada mahasiswa kedokteran (Shah et al., 2009).

Responden yang menggunakan earphone dengan frekuensi penggunaan 1-2 hari berjumlah 35 orang (23,6%), frekuensi penggunaan 3-4 hari berjumlah 60 orang (40,5%), frekuensi penggunaan 5-6 hari berjumlah 27 orang (18,2%), dan frekuensi penggunaan setiap hari berjumlah 26 orang (17,6%). Hasil tersebut didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fitri Sakinah memperoleh hasil 78,9% responden menggunakan earphone 1-4 hari/minggu dan 21,1% menggunakan earphone >5 hari/minggu. Sebaliknya pada penelitian yang dilakukan oleh Almeida dan Silvestre menunjukkan hasil 74,43% menggunakan earphone >5 hari/minggu. Ketidaksesuaian ini dapat disebabkan oleh penggunaan earphone tidak dalam jangka waktu yang lama atau secara terus menerus dengan volume atau intensitas yang relatif rendah (Kandou, 2009; Sakinah, 2017).

Responden yang menggunakan earphone dengan volume penggunaan <60%

berjumlah 53 orang (35,8%), volume penggunaan 60-80% berjumlah 80 orang (54,1%), dan volume penggunaan >80% berjumlah 15 orang (10,1%). Hasil tersebut didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fitri dimana 77,3% responden menggunakan earphone dengan volume yang berbahaya. Hasil tersebut juga didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Levey dan kawan-kawan yang memperoleh hasil 189 mahasiswa menggunakan earphone

dengan rata-rata 92,3 dB atau setara dengan 60% dari volume total (Levey et al., 2012). Penggunaan earphone dengan volume tinggi dapat terjadi karena pengguna earphone tidak dapat menikmati musik yang didengarkan dengan volume rendah sehingga memilih untuk meningkatkan volume musik meskipun mereka mengetahui tentang bahaya penggunaan earphone dengan volume tinggi (Levey et al., 2012).

Responden dengan pola penggunaan earphone tidak berisiko berjumlah 53 orang (35,8%) dan responden dengan pola penggunaan earphone berisiko berjumlah 95 orang (64,2%). Hasil tersebut didukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Febianza dimana diperoleh 61,7% responden merupakan pengguna earphone berisiko (Putri, 2016). Pola penggunaan earphone berisiko yang tinggi ini disebabkan oleh lama penggunaan earphone >3 tahun, durasi penggunaan earphone >1 jam/hari, frekuensi penggunaan earphone >4 hari/minggu, serta volume penggunaan earphone >60% (Almeida and Silvestre, 2013; Putri, 2016).

4.2 Gambaran Distribusi Tinnitus Responden

Tabel 4.2 Gambaran Distribusi Tinnitus pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2017-2019

f %

Angka Kejadian Tinnitus

Tidak 96 64,9

Ya 52 35,1

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa responden yang diduga memiliki gejala tinnitus berjumlah 52 orang (35,1%) dari total keseluruhan 148 responden.

Hasil tersebut nilainya lebih tinggi dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Oghu, dkk. diperoleh hasil tinnitus terjadi 10,33% pada prevalensi global (Oghu, Nkiruka and Somefun, 2012). Hasil tersebut juga lebih tinggi jika dibandingkan yang dilakukan Nondahl, dkk. dengan hasil 10,6% responden yang menderita tinnitus (Nondahl et al., 2011). Peningkatan jumlah tinnitus dibandingkan penelitian sebelumnya dapat terjadi karena prevalensi tinnitus yang termasuk luas pada remaja (0,6-49,25%), peningkatan tersebut juga dapat terjadi

karena pada remaja terdapat perubahan-perubahan kognitif dan hormonal yang dapat menyebabkan reaksi tinnitus, dan dapat disertai ansietas atau depresi (Gilles et al., 2013; Rosing et al., 2016; Fligor, 2017).

4.3 Hubungan Pola Penggunaan Earphone dengan Angka Kejadian Tinnitus Tabel 4.3 Hubungan Pola Penggunaan Earphone dengan Angka Kejadian Tinnitus pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2017-2019

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa perbandingan jumlah responden yang mengalami tinnitus dengan pola penggunaan earphone berisiko (27%) lebih besar dari responden dengan pola penggunaan earphone tidak berisiko (8,1%). Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara pola penggunaan earphone berisiko dan tidak berisiko dengan angka kejadian tinnitus dengan nilai p = 0,017 (p < 0,05) sehingga dapat dikatakan terdapat hubungan antara pola penggunaan earphone dengan angka kejadian tinnitus. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Almeida dan teman-teman di Curitiba, Brazil bahwa terdapat hubungan antara pola penggunaan earphone dengan angka kejadian tinnitus (p < 0,05). Kebiasaan menggunakan earphone dapat menyebabkan tinnitus, meskipun mulai disebabkan jika penggunaan lebih dari tiga tahun, penggunaan beberapa kali dalam seminggu, penggunaan dalam waktu yang lama dalam satu hari, dan penggunaan dengan volume yang tinggi (Almeida and Silvestre, 2013).

4.4 Tingkat Keparahan Tinnitus yang Diukur dengan Visual Analog Scale dan Tinnitus Handicap Inventory Questionnaire

Berdasarkan Kuesioner Tinnitus, responden yang diduga memiliki tinnitus berjumlah 52 orang. Responden yang diduga memiliki tinnitus kemudian melakukan pengisian Visual Analog Scale (VAS) dan Tinnitus Handicap Inventory Questionnaire (THI-Q).

Tabel 4.4 Tingkat Keparahan Tinnitus yang Diukur dengan Visual Analog Scale pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2017-2019

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa gambaran distribusi tingkat keparah tinnitus yang diukur dengan Visual Analog Scale (VAS), dimana tidak terdapat responden yang merasa tidak nyeri, yang merasa nyeri ringan berjumlah 29 orang (55,8%), yang merasa nyeri sedang berjumlah 23 orang (44,2%), dan tidak terdapat responden yang merasa nyeri berat dan sangat berat. Hasil tersebut mirip dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Figueiredo, dkk. dengan hasil tidak nyeri tidak ada, nyeri ringan 13%, nyeri sedang 32,6%, nyeri berat 37%, dan nyeri sangat berat 17,4% (Figueiredo, De Azevedo and Oliveira, 2009). Perbedaan yag ditemui terdapat pada nyeri berat dan nyeri sangat berat yang tidak ditemukan pada penelitian ini. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan usia, konsisten dengan penelitian sebelumnya dimana tingkat keparahan tinnitus berbanding lurus dengan pertambahan usia (Park et al., 2014).

Tabel 4.5 Tingkat Keparahan Tinnitus yang Diukur dengan Tinnitus Handicap Inventory Questionnaire pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2017-2019

Tabel 4.5 menunjukkan gambaran distribusi tingkat keparahan tinnitus yang diukur dengan Tinnitus Handicap Inventory Questionnaire pada derajat 1 (sangat ringan) berjumlah 18 orang (34,6%), pada derajat 2 (ringan) berjumlah 28 orang (53,8%), pada derajat 3 (sedang) berjumlah 6 (11,5%), dan tidak terdapat responden pada derajat 4 (berat) dan derajat 5 (sangat berat). Hasil tersebut mirip dengan penelitian yang dilakukan oleh Jamil Al-Swiahb karena distribusi tingkat ringan (32,5%) dan sedang (37,5%) yang hampir sama, perbedaannya pada penelitian ini tidak ditemukan responden dengan tingkat tidak nyeri (13,75%), berat (12,5%), dan sangat berat (3,75%) (Al-Swiahb and Park, 2016). Hasil tersebut cenderung mirip dengan hasil yang diperoleh Jamil Al-Swiahb, namun pada penelitian ini tidak ditemukan tingkat berat dan sangat berat. Pada penelitian ini dapat dilihat hasil Tinnitus Handicap Inventory Questionnaire cenderung selaras dengan Visual Analog Scale sesuai dengan pernyataan Figueiredo dan teman-teman (Figueiredo, De Azevedo and Oliveira, 2009).

4.5 Etik Penelitian

Penelitian ini telah memperoleh persetujuan dari Komite Etik Penelitian Universitas Sumatera Utara Pelaksanaan Penelitian Kesehatan NO:449/KEP/USU/2020 dan telah memperoleh izin penelitian dari Medical Education Unit (MEU) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara NO: 203/UN5.2.1.1.3/SPB/2020.

4.6 Keterbatasan Penelitian

1. Pada penelitian ini, pemeriksaan hanya berdasarkan gejala tinnitus yang dirasakan oleh penderita, perlu dilakukan pemeriksaan audiometri agar mampu mengetahui secara lebih detail sekaligus mengetahui apakah terdapat gangguan pendengaran akibat bising.

2. Penelitian ini tidak menilai komponen pola penggunaan earphone telepon genggam seperti jenis jenis earphone yang digunakan dan jenis musik yang didengarkan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Terdapat hubungan bermakna antara pola penggunaan earphone dengan angka kejadian tinnitus pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (p = 0,017).

2. Prevalensi pengguna earphone berisiko pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara adalah 64,2% dan tidak berisiko adalah 35,8%.

3. Prevalensi tinnitus pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara adalah 52 orang (35,1%) dengan rincian 27% pengguna earphone berisiko dan 8,1% pengguna earphone tidak berisiko.

4. Prevalensi tingkat keparahan tinnitus berdasarkan Visual Analog Scale (VAS) pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara adalah ringan (55,8%) dan sedang (44,2%).

5. Prevalensi tingkat keparahan tinnitus berdasarkan Tinnitus Handicap Inventory Questionnaire (THI-Q) pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara adalah sangat ringan (34,6%), ringan (53,9%), dan sedang (11,5%).

6. Prevalensi frekuensi penggunaan earphone pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara sebanyak 1-2 hari adalah 23,6%, 3-4 hari adalah 40,5%, 5-6 hari adalah 18,2%, dan setiap hari adalah 17,6%.

7. Prevalensi volume penggunaan earphone pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara sejumlah <60% adalah 35,8%, 60-80% adalah 54,1%, dan >60-80% adalah 10,1%.

8. Prevalensi lama penggunaan earphone pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara selama 0-3 tahun adalah 34,5%

dan selama >3 tahun adalah 65,5%.

9. Prevalensi durasi penggunaan earphone pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara selama <1 jam adalah 38,5%, 1-2 jam adalah 37,1-2%, dan 1-2-4 jam adalah 1-24,3%.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil, pembahasan dan kesiumpulan penelitian yang telah dilakukan, maka disarankan :

1. Diharapkan kepada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara untuk dapat mengurangi durasi penggunaan earphone menjadi

<1 jam/hari, frekuensi penggunaan earphone menjadi <5 hari/minggu dan volume penggunaan earphone <60% setiap menggunakan earphone, untuk menghambat terjadinya tinnitus di kemudian hari.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan pemeriksaan audiometri agar dapat sekaligus mengetahui ada tidaknya gangguan pendengaran akibat pola penggunaan earphone yang salah.

3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai komponen pola penggunaan earphone seperti jenis earphone yang digunakan dan jenis musik yang didengarkan.

4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan regresi linear untuk mengetahui sejauh mana lama, durasi, frekuensi, dan volume pada kriteria pola penggunaan earphone mempengaruhi angka kejadian tinnitus.

DAFTAR PUSTAKA

Adamchic, I., Hauptmann, C. and Tass, P. (2012) ‘Changes of Oscillatory Activity in Pitch Processing Network and Related Tinnitus Relief Induced by Acoustic CR Neuromodulation’, Frontiers in Systems Neuroscience, 6(MARCH), pp. 1–11. doi: 10.3389/fnsys.2012.00018.

Al-Swiahb, J. and Park, S. N. (2016) ‘Characterization of tinnitus in different age groups: A retrospective review’, Noise & health, 18(83), pp. 214–219. doi:

10.4103/1463-1741.189240.

Alhazmi, F. et al. (2016) ‘An Investigation of the Impact of Tinnitus Perception on the Quality of Life’, Journal of Phonetics & Audiology, 2(1), pp. 1–7. doi:

10.4172/2471-9455.1000113.

Almeida, R. et al. (2016) ‘High-frequency profile in adolescents and its’, Jornal de Pediatria, (xx). doi: 10.1016/j.jped.2015.07.008.

Almeida, R. and Silvestre, A. (2013) ‘Tinnitus in adolescents and its relation to the use of personal sound systems’, International Tinnitus Journal, 18(2), pp.

138–142. doi: 10.5935/0946-5448.20130017.

Arlinger, S. (2003) ‘Negative Consequences of Uncorrected Hearing Loss’, International Journal of Audiology, 42(sup2), pp. 17–20. doi:

10.3109/14992020309074639.

Atik, A. (2014) ‘Pathophysiology and Treatment of Tinnitus: An Elusive Disease’, Indian Journal of Otolaryngology and Head and Neck Surgery, 66(SUPPL.1), pp. 1–5. doi: 10.1007/s12070-011-0374-8.

Baguley, D. M. (2002) ‘Mechanisms of tinnitus’, British Medical Bulletin, 63, pp.

195–212. doi: 10.1093/bmb/63.1.195.

Baguley, D. M. (2007) ‘Progress on tinnitus’, ENT News, pp. 2–4.

Baguley, D., McFerran, D. and Hall, D. (2013) ‘Tinnitus’, The Lancet, 382(9904),

pp. 1600–1607. doi: 10.1016/S0140-6736(13)60142-7.

Baldo, P. et al. (2006) ‘Antidepressants for patients with tinnitus’, Cochrane Database of Systematic Reviews, (4). doi: 10.1002/14651858.CD003853.pub2.

Bashiruddin, J. and Soetirto, I. (2012) ‘Gangguan pendengaran akibat bising (noise induced hearing loss)’, Dalam Soepardi, EA, Iskandar, N., Bashiruddin, J, dan RD. Restuti. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi, 5, pp. 42–45.

Bhatt, J. M., Lin, H. W. and Bhattacharyya, N. (2016) ‘Prevalence, Severity, Exposures, and Treatment Patterns of Tinnitus in the United States’, JAMA Otolaryngology–Head & Neck Surgery, 142(10), pp. 959–965. doi:

10.1001/jamaoto.2016.1700.

Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, D. J. (2011) ‘Seri Pedoman Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Bagi Petugas Kesehatan: Penyakit THT Akibat Kerja’,

Kementerian Kesehatan RI, 30. Available at:

https://www.depkes.go.id/article/view/19020100003/hari-kanker-sedunia- 2019.html.

Buchari (2007) ‘Kebisingan Industri dan Hearing Conservation Program’,

Universitas Sumatera Utara. Available at:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/1435.

Crummer, R. W. and Hassan, G. A. (2004) ‘Diagnostic Approach to Tinnitus - American Family Physician’, American Academy of Family Physicians, 69, pp. 120–126.

Dahlan, S. (2016) ‘Menentukan besar sampel’, Langkah-langkah membuat proposal penelitian bidang kedokteran dan kesehatan. 2nd ed. Jakarta:

Sagung Seto, pp. 80–98.

Daniel, E. (2007) ‘Noise and hearing loss: A review’, Journal of School Health, 77(5), pp. 225–231. doi: 10.1111/j.1746-1561.2007.00197.x.

DeKalb, F. P. (2004) ‘Earbud Headset’, United States Patent, 1(12).

Ding, T., Yan, A. and Liu, K. (2019) ‘What is noise-induced hearing loss?’, British Journal of Hospital Medicine, 80(9), pp. 525–529. doi:

10.12968/hmed.2019.80.9.525.

Dobie, R. A. (1995) ‘Prevention of Noise-Induced Hearing Loss’, Preventive Medicine, 23(5), pp. 665–669. doi: 10.1006/pmed.1994.1111.

Duthey, B. (2013) ‘Hearing Loss’, World Health Organization, 1(February), p. 6.

Available at:

http://www.who.int/medicines/areas/priority_medicines/BP6_21Hearing.pdf.

Van Eyken, E. et al. (2006) ‘KCNQ4: A Gene for Age-Related Hearing Impairment?’, Hum Mutation, 0(August), pp. 1–6. doi: 10.1002/humu.

Fackrell, K. and Hoare, D. (2014) ‘Questionnaires to Measure Tinnitus Severity’, ENT&Audiology News, 22(6), pp. 4–6.

Ferrite, S. and Santana, V. (2005) ‘Joint effects of smoking, noise exposure and age on hearing loss’, Occupational Medicine, 55(1), pp. 48–53. doi:

10.1093/occmed/kqi002.

Figueiredo, R. R., De Azevedo, A. A. and Oliveira, P. D. M. (2009) ‘Correlation Analysis of the Visual-Analogue Scale and the Tinnitus Handicap Inventory in Tinnitus Patients’, Brazilian Journal of Otorhinolaryngology, 75(1), pp. 76–

79. doi: 10.1016/S1808-8694(15)30835-1.

Fine, N. (2010) ‘Copyright © 2010, Fine, N.’, University of Western Ontario:

School of Communication Sciences and Disorders.

Fligor, B. (2007) ‘The Hearing Journal’, American Speech-Language-Hearing Association (ASHA), 60(10), p. 10.

Fligor, B. (2017) ‘Audiological evaluation and management of teenagers with tinnitus’, ent and audiology news, 25(6).

Folmer, R. L. (2002) ‘Long-term Reductions in Tinnitus Severity’, BMC Ear, Nose and Throat Disorders, 2, pp. 1–9. doi: 10.1186/1472-6815-2-1.

Folmer, R. L., Martin, W. H. and Shi, Y. (2004) ‘Tinnitus: Questions to reveal the cause, answers to provide relief’, Journal of Family Practice, 53(7), pp. 532–

540.

Franke, E. W. et al. (2012) ‘Tinnitus : Distinguishing between Subjectively Perceived Loudness and Tinnitus-Related Distress’, PLoS ONE, 7(4), pp. 1–7.

doi: 10.1371/journal.pone.0034583.

Gilles, A. et al. (2013) ‘Epidemiology of Noise-Induced Tinnitus and the Attitudes and Beliefs Epidemiology of Noise-Induced Tinnitus and the Attitudes and Beliefs towards Noise and Hearing Protection in Adolescents’, (July). doi: 10.1371/journal.pone.0070297.

Gonçalves, C. L. and Dias, F. A. M. (2014) ‘Audiological Findings in Young Users of Headphones’, Revista CEFAC, 16(4), pp. 1097–1108. doi:

10.1590/1982-0216201422412.

Hadinoto, S. O. (2014) ‘Gambaran Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Remaja Tentang Gangguan Pendengaran Akibat Penggunaan Piranti Dengar’, Journal

Hadinoto, S. O. (2014) ‘Gambaran Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Remaja Tentang Gangguan Pendengaran Akibat Penggunaan Piranti Dengar’, Journal

Dalam dokumen HUBUNGAN POLA PENGGUNAAN EARPHONE (Halaman 38-98)

Dokumen terkait