BAB IV KETENTUAN TRANSAKSI THIN CAPITALIZATION DI
3. Hubungan Istimewa
Thin capitalization sangat mungkin terjadi dalam transaksi pendanaan yang melibatkan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa. Pasal 18 ayat 4 UU PPh mendefinisikan hubungan istimewa sebagai berikut:
“Hubungan istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sampai dengan ayat (3d), Pasal 9 ayat (1) huruf f, dan Pasal 10 ayat (1) dianggap ada apabila:
a. Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada Wajib Pajak lain; hubungan antara Wajib Pajak dengan penyertaan paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada dua Wajib
119
Menteri Keuangan RI, Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 254/KMK.04/1985, tanggal 03 Agustus 1985.
120
Pajak atau lebih; atau hubungan di antara dua Wajib Pajak atau lebih yang disebut terakhir;
b. Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih Wajib Pajak berada di bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung; atau
c. terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus dan/atau ke samping satu derajat.” Definisi hubungan istimewa ini sangat penting sebelum melangkah lebih jauh tentang penetapan kewajaran transaksi thin capitalization. Transaksi hubungan sangat berpotensi dalam melakukan rekayasa kewajaran dan kelaziman transaksi sehingga merupakan titik tolak apakah suatu transaksi pinjaman tersebut termasuk kriteria thin capitalization atau bukan.
Pada Pasal 18 ayat (3) Undang-undang Pajak Penghasilan diatur lebih lanjut tentang penerapan prinsip kewajaran dalam transaksi antara pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa sebagai berikut:
“ Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali besarnya penghasilan dan pengurangan serta menentukan utang sebagai modal untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan Wajib Pajak lainnya sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa dengan menggunakan metode perbandingan harga antara pihak yang independen, metode harga penjualan kembali, metode biaya-plus, atau metode lainnya.”
Dalam ketentuan diatas mengatur tentang kewenangan yang dimiliki Direktur Jenderal Pajak untuk menentukan utang sebagai modal perusahaan serta menghitung besarnya penghasilan kena pajak bagi Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan Wajib Pajak lainnya sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa. Dalam konteks transaksi thin capitalization, penentuan kewajaran dapat dilakukan melalui indikasi perbandingan antara utang dengan modal yang lazim terjadi antara pihak yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa. Kemudian dalam penjelasan pasal 18 ayat (3) dinyatakan bahwa maksud dari ketentuan ini adalah untuk mencegah terjadinya penghindaran pajak yang dapat terjadi karena adanya hubungan istimewa. Apabila terdapat hubungan istimewa, kemungkinan dapat terjadi penghasilan dilaporkan
kurang dari semestinya ataupun pembebanan biaya melebihi dari yang seharusnya. Dalam hal demikian, Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali besarnya penghasilan dan atau biaya sesuai dengan keadaan seandainya diantara Wajib Pajak tersebut tidak terdapat hubungan istimewa.
Pada tanggal 6 September 2010, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per - 43/PJ/2010 tentang Penerapan Prinsip Kewajaran Dan Kelaziman Usaha Dalam Transaksi Antara Wajib Pajak Dengan Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa.121 Peraturan ini merupakan ketentuan pelaksanaan bagi ketentuan Pasal 18 ayat 3 UU PPh diatas. Dalam ketentuan ini lebih banyak mengatur tentang transaksi transfer pricing baik berupa transfer barang, jasa, dan imbalan atas hak cipta namun tidak mengatur tentang kewenangan untuk menentukan kembali utang sebagai modal.
Selain peraturan Direktur Jenderal Pajak diatas, belum ada aturan lain yang mengatur ketentuan yang berkaitan mengenai pendanaan melalui utang dan modal secara umum sebagai panduan bagi Wajib Pajak dalam transaksi thin capitalization. Hal ini akan menyulitkan Wajib Pajak untuk menentukan kriteria kewajaran dalam transaksi pendanaan anak perusahaan tersebut. Pada praktek di lapangan, hal ini akan memungkinkan fiskus untuk melakukan penyimpangan dengan menetapkan kewajaran pinjaman secara semena-mena karena berdasrkan kewenangan yang dimilikinya.
4. Kewenangan Melakukan Koreksi
Pasal 18 ayat 3 memberikan kewenangan kepada fiskus untuk memperlakukan utang sebagai modal dalam hal terjadi utang-piutang dari pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa dan memberikan kewenangan kepada fiskus untuk menyesuaikannya bila melebihi kewajaran sesuai Pasal 6 ayat 1 huruf a(3) UU PPh.
121
Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per - 43/PJ/2010 tentang Penerapan Prinsip Kewajaran Dan Kelaziman Usaha Dalam Transaksi Antara Wajib Pajak Dengan Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa, tanggal 6 September 2010.
Dalam peraturan pelaksanaan, otoritas pajak telah menerbitkan aturan sebagai petunjuk bagi fiskus dalam pemeriksaan atas penerapan prinsip kewajaran dalam transaksi hubungan istimewa termasuk thin capitalization. Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor: Kep-01/PJ.7/1994 tentang Pedoman Pemeriksaan Pajak Terhadap Wajib Pajak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa. Dalam peraturan ini,122 fiskus melakukan pengujian kewajaran utang dengan membandingkan rasio antara utang dan modal. Namun mengingat tidak ada standar kewajaran perbandingan antara hutang dan modal sebagaimana dimaksud Pasal 18 ayat 1 UU PPh, maka penerapan pengujian ini tidak menimbulkan efek apapun.
Sebagai aturan tambahan, Direktur Jenderal menerbitkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-04/PJ.7/1993 tanggal 9 Maret 1993 perihal Petunjuk Penanganan kasus-kasus Transfer Pricing yang dianggap masih tetap relevan dan dapat diaplikasikan123. Aplikasi ketentuan ini adalah merekarakterisasi bagian utang sejumlah modal yang belum disetor sebagai modal dengan konsekuensi biaya bunga atas utang tersebut dianggap sebagai deviden124. Namun sayangnya pendekatan kewajaran tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang batasan kewajaran dalam transaksi perbandingan utang terhadap modal tersebut.
Pada triwulan pertama tahun 2010, Direktur Pemeriksaan dan Penagihan menerbitkan surat dengan nomor S-153/PJ.04/2010 tanggal 31 Maret 2010 perihal Panduan Pemeriksaan Kewajaran Transaksi Afiliasi. Dalam surat tersebut dinyatakan bahwa suatu transaksi afiliasi termasuk didalamnya adalah transaksi utang dan imbalan bunga. Masalah utama dalam transaksi pinjam-meminjam adalah kewajaran dari imbalan bunga itu
122
Direktur Jenderal Pajak, Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor: Kep-01/PJ.7/1993 tentang Pedoman Pemeriksaan Pajak Terhadap Wajib Pajak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa, tanggal 09 Maret 1993.
123
Gunadi, loc.cit, hal. 242. 124
sendiri. Dimana dalam transaksi utang dan imbalan bunga, kriteria kewajaran atas transaksi utang adalah sebagai berikut125:
(i) Keberadaan utang, yakni suatu utang dikatakan ada, jika terdapat arus uang masuk ke dalam rekening milik Wajib Pajak dan utang tersebut memberikan manfaat bagi Wajib Pajak. Dalam kriteria ini, utang dianggap ada bila dalam pengujian arus kas anak perusahaan menunjukkan adanya aliran dana dari pemberi pinjaman dari pemegang saham. Selain itu, utang ini dianggap wajar bila anak perusahaan benar-benar membutuhkan dana tersebut dan utang ini akan membantu kebutuhan operasionalnya.
(ii) Kewajaran nilai utang, yakni rasio nilai utang terhadap modal (debt equity ratio) harus diperhatikan pada saat meneliti kewajaran nilai utang. Hal ini mengacu kepada Pasal 18 ayat 1 Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
(iii) Kewajaran tingkat suku bunga utang, yaitu kewajaran tingkat suku bunga yang diterapkan terhadap transaksi tersebut. Tingkat suku bunga ini dapat mengacu kepada suatu standar yang umum berlaku seperti London Interbank Offered Rate (LIBOR) atau Singapore Interbank Offered Rate (SIBOR)126 untuk patokan suku bunga pinjaman dari luar negeri dan suku bunga BI sebagai rujukan bunga wajar untuk utang dalam negeri.
Dalam surat Direktur Pemeriksaan tersebut dipaparkan lebih jauh tentang apa yang dimaksud dengan prinsip kewajaran (arm’s length principle) dan kelaziman usaha (ordinary practice of business) yang ada di dalam penjelasan pasal 18 ayat (1) UU PPh.
125
Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Direktorat Jenderal Pajak, Surat nomor S-153/PJ.04/2010 perihal Panduan Pemeriksaan Kewajaran Transaksi Afiliasi, tanggal 31 Maret 2010.
126
London Interbank Offered Rate (LIBOR) adalah tingkat suku bunga harian yang ditawarkan dalam pemberian pinjaman tanpa jaminan kepada bank lainnya di pasar uang London. Sedangkan Singapore Interbank Offered Rate (SIBOR) merupakan tingkat suku bunga harian pinjaman di pasar uang Singapura. LIBOR lebih banyak dipergunakan untuk transaksi di Eropa dan SIBOR lebih banyak dipergunakan di Asia.
Prinsip kewajaran adalah sebuah prinsip yang mengatur bahwa dalam hal kondisi transaksi afiliasi sama dengan kondisi transaksi independen yang menjadi pembanding, maka harga dan keberadaan transaksi afiliasi tersebut harus sama dengan harga dan keberadaan transaksi independen yang menjadi pembanding. Dengan demikian dalam hal kondisi transaksi afiliasi berbeda dengan kondisi transaksi independen yang menjadi pembanding, maka harga dan keberadaan transaksi afiliasi tersebut harus sama dengan harga dan keberadaan transaksi independen yang menjadi pembanding.
Sedangkan prinsip kelaziman usaha adalah sebuah prinsip yang mengatur bahwa hasil dan keberadaan suatu transaksi afiliasi harus sama dengan hasil dan keberadaan transaksi independen yang dilakukan oleh pelaku usaha lainnya dalam kelompok industri Wajib Pajak, jika kondisi transaksi afiliasi sama dengan kondisi rata-rata transaksi independen dalam kelompok industri Wajib Pajak. Dengan demikian, dalam hal kondisi transaksi afiliasi berbeda dengan kondisi transaksi independen yang dilakukan oleh pelaku usaha lainnya dalam kelompok industri Wajib Pajak yang menjadi pembanding, maka harga dan keberadaan transaksi afiliasi, harus berbeda dibanding harga dan keberadaan transaksi independen yang dilakukan oleh pelaku usaha lainnya dalam kelompok industri Wajib Pajak yang menjadi pembanding, dan nilai beda kondisi transaksi, sama dengan nilai dari beda harga transaksi.
Termasuk dalam arm’s length principle adalah arm’s length profit dimana terkait dengan hal ini, Gunadi menyatakan bahwa sebagaimana yang berlaku di berbagai belahan dunia, sebagai penganut prinsip arm’s length profit, semua transaksi yang terjadi antara induk perusahaan di luar negeri dengan anak perusahaan di Indonesia (Wajib Pajak Dalam Negeri) maupun antar sesama anak perusahaan dari induk yang sama atau lainnya yang termasuk kelompok perusahaan harus dihitung dengan harga yang wajar, yaitu harga yang terjadi seandainya beberapa perusahaan dalam satu grup tersebut bertransaksi yang sama dengan para pihak independent di luar grup dimaksud. Dari harga wajar ini akan dapat diperoleh laba yang wajar (arm’s
length profit). Laba wajar ini akan mendorong keadilan atau ekualitas pengenaan pajak antara perusahaan yang berada dalam dan bertransaksi dengan anggota grupnya dengan mereka yang tidak berada dalam grup perusahaan atau yang bertransaksi dengan pihak yang independen127.
Kewajaran dan kelaziman ini menjadi unsur yang diperhitungkan karena dalam dunia usaha terdapat tingkat perbandingan antara utang dan modal (debt equity ratio) menjadi ukuran pengukuran kinerja. Apabila perbandingan antara utang dan modal sangat besar melebihi batas-batas kewajaran, maka perusahaan tersebut dapat dikategorikan dalam keadaan kurang sehat.
Pengaturan tentang pembayaran bunga dan modal ini bukan hanya diatur dalam Undang-undang domestik saja namun juga diatur dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (tax treaty) antara Indonesia dengan negara mitra (partner). Sesuai Pasal 32A UU PPh memberikan kewenangan kepada Pemerintah untuk melakukan perjanjian perpajakan dengan negara-negara lain.
Untuk melakukan adjustment dalam hal Wajib Pajak melakukan transaksi thin capitalization dengan memanfaatkan P3B seperti dalam contoh 4.1 diatas, Direktur Jenderal Pajak mengantisipasi dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-62/PJ./2009 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda Jo. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : Per - 25/PJ/2010.
Dalam hal Direktur Jenderal Pajak menemukan penyalahgunaan P3B melalui skema transaksi berikut:
1) Transaksi yang tidak mempunyai substansi ekonomi dilakukan dengan menggunakan struktur/skema sedemikian rupa dengan maksud semata-mata untuk memperoleh manfaat P3B;
2) Transaksi dengan struktur/skema yang format hukumnya (legal form) berbeda dengan substansi ekonomisnya (Economic
127
subsctance) sedemikian rupa dengan maksud semata-mata untuk memperoleh manfaat P3B; atau
3) Penerima penghasilan bukan merupakan pemilik yang sebenarnya atas manfaat ekonomis dari penghasilan (beneficial owner).
maka otoritas pajak dapat melakukan koreksi dengan mengabaikan penerapan tarif dalam P3B dan wajib memotong atau memungut pajak yang terutang sesuai dengan UU PPh.
Sedangkan bila mempergunakan transaksi yang berbeda antara format hukum (legal form) suatu struktur/skema dengan substansi ekonomisnya (economic substance), maka perlakuan perpajakan diterapkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku berdasarkan substansi ekonominya (substance over form).
B. Analisis Pengaturan Thin Capitalization dalam Regulasi Pajak Penghasilan Indonesia
1. Kelemahan pengaturan Thin Capitalization di Indonesia
Pengaturan thin capitalization dalam hukum perpajakan Indonesia memiliki beberapa kelemahan dan jauh dari memadai bahkan mengandung kelemahan hukum pajak Indonesia.
a. Tidak Ada Kepastian Hukum
Pasal 18 ayat 1 UU PPh memberikan amanat kepada Menteri Keuangan untuk menetapkan perbandingan antara utang dan modal. Namun sampai dengan saat ini, belum ada aturan pelaksana yang berlaku merujuk kepada tersebut. Hal ini sangat bertentangan dengan hukum positif sebagaimana dibahas sebelumnya pada Bab I.
Dalam teori hukum positif yang diperkenalkan oleh John Austin menganut pendapat bahwa hukum diciptakan dan diberlakukan oleh orang-orang tertentu di dalam masyarakat yang mempunyai kewenangan
untuk membuat hukum.128 Orang-orang tertentu itu adalah para penguasa (law is a command of the lawgivers). Hukum yang bertujuan memberikan kepastian hukum. Bila diabaikan, akibat lebih jauh dari ketidakpastian hukum ini adalah ketidakadilan bagi jumlah orang yang lebih banyak129. Kepastian hukum ini juga berlaku dalam hukum pajak.
Hukum pajak menganut teori Adam Smith tentang certainty yang berkaitan dengan kepastian hukum dalam pemungutan pajak130. Hukum Pajak sebagai hukum positif merupakan bagian dari hukum nasional yang berlaku dengan memiliki sumber hukum. Akan tetapi sumber hukum yang dimiliki hukum pajak hanya bersumber pada sumber hukum tertulis yang berkaitan dengan bidang perpajakan bukan pada kebiasaan yang berlaku dalam dunia bisnis131. Keberadaan hukum pajak hanya didukung oleh peraturan perundang-undangan perpajakan sebagai produk legislatif dan ditindaklanjuti oleh pihak eksekutif dan yudikatif dalam rangka penegakannya.132
Berkaitan dengan peraturan thin capitalization, Pemerintah belum memilki peraturan pelaksana Pasal 18 ayat 1 sebagai amanat dari undang-undang dan peraturan teknis pelaksanaan Pasal 3a Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Tidak adanya peraturan ini menimbulkan ketidakpastian dalam penegakan hukum untuk memastikan kewajaran pada transaksi thin capitalization.
Pada Bab III penulis telah membahas beberapa negara telah mengatur secara jelas tentang transaksi thin capitalization ini dalam hukum pajak mereka, sehingga otoritas pajak dapat mengantisipasi penghindaran pajak melalui transaksi ini.
128
Antonius Cayadi, E. Fernando M. Manuliang, Pengantar ke Filsafat ukum. Jakarta: Kencana, 2007, h. 58.
129
Prof. Darji Darmodiharjo, SH , Dr. Sidharta, SH., M. Hum. Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama,2006, h. 159.
130
R. Santoso Brotodihardjo, loc.cit, h. 28 131
Djafar Saidi, Muhammad, Pembaruan Hukum Pajak, Jakarta: Rajawali Press, 2007 h. 4
132
Untuk mengantisipasi penghhindaran pajak dalam praktik thin capitalization ini, Direktorat Jenderal Pajak menerbitkan beberapa peraturan sebagai berikut:
a. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per - 43/PJ/2010 tanggal 6 September 2010, tentang Penerapan Prinsip Kewajaran Dan Kelaziman Usaha Dalam Transaksi Antara Wajib Pajak Dengan Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa.
b. Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor: Kep-01/PJ.7/1994 tentang Pedoman Pemeriksaan Pajak Terhadap Wajib Pajak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa.
c. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-04/PJ.7/1993 tanggal 9 Maret 1993 perihal Petunjuk Penanganan kasus-kasus Transfer Pricing.
d. Surat Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Direktorat Jenderal Pajak Nomor S-153/PJ.04/2010 tanggal 31 Maret 2010 perihal Panduan Pemeriksaan Kewajaran Transaksi Afiliasi.
Peraturan-peraturan tersebut bukanlah merupakan peraturan pelaksana sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 18 ayat 1 UU PPh.
Penerbitan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor 1002/KMK.04/1984 tanggal 10 Agustus 1984 yang tentang Penentuan Perbandingan Antara Hutang Dan Modal Sendiri Untuk Keperluan Pengenaan Pajak Penghasilan sebenarnya merupakan peraturan pelaksana dari ketentuan Pasal 18 ayat 1 UU PPh ini. Namun Pada tahun 2005, Menteri Keuangan menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor 254/KMK.04/1985 tanggal 03 Agustus 1985 yang menunda keputusan tersebut sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Dengan penundaan ini, maka sampai saat ini Indonesia tidak memiliki ketentuan yang mengatur tentang perbandingan antara hutang dan modal (Debt Equity Ratio) sebagai peraturan pelaksana transaksi thin capitalization.
Hal ini justru akan mengakibatkan lemahnya penegakan hukum oleh otoritas pajak dan ketidakpastian hukum bagi Wajib Pajak dalam menilai kewajaran dalam transaksi thin capitalazition ini. Mengingat banyak negara telah mengatur secara tegas transaksi ini karena rawan dipergunakan untuk menghindari pajak dan dapat berakibat banyak potensi penerimaan negara yang hilang, maka seharusnya pemerintah segera bertindak untuk mengeluarkan regulasi tersebut. Sesuai dengan asas legalitas, maka penegakan hukum pajak tidak dapat dilakukan bila tidak ada aturan yang menjadi dasar penegakan hukum tersebut133.
Pengaturan thin capitalizatioin ini seharusnya juga mengikuti tata urutan perundangan yang berlaku agar tidak menjadi lemah dalam penegakannya.
b. Tidak Mengikuti Hirarki Perundang-undangan
Penerbitan Peraturan pelaksana thin capitalization yang tidak mengikuti tata urutan perundang-undangan yang berlaku akan mengalami kendala dari sisi legalitas.
Dalam hukum terdapat adagium lex superiori derogate lex inferiori134. Artinya Peraturan/UU yang lebih tinggi mengesampingkan peraturan/UU yang rendah.
Hukum pajak merupakan lex specialist sehingga tidak boleh bertentangan dengan norma hukum diatasnya. Begitu pula dalam pengaturan thin capitalization ini, seharusnya juga mengikuti hirarki hukum yang ada dan tidak boleh bertentangan dengan norma dasar hukum yang berlaku di Indonesia.135
Berdasarkan amandemen ketiga konstitusi menyatakan terjadi perubahan paradigma hukum pajak, yaitu pada Pasal 23 ayat 2 UUD 1945 yang sebelum amandemen mengatur:
“Segala pajak untuk keperluan Negara berdasarkan Undang-undang.”
133
Djafar Saidi, Muhammad, loc. cit, h. 138 134
Antonius Cayadi, E. Fernando M. Manuliang, loc. cit, h. 70. 135
Setelah dilakukan amandemen menjadi Pasal 23A yang berbunyi: “Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang.”
Sesuai dengan paradigma baru hukum pajak tersebut diatas, maka seluruh pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa harus diatur dengan undang-undang. Mengingat dinamika bisnis yang berubah dengan cepat, maka peraturan yang bersifat teknis dapat diatur melalui peraturan pelaksana mengikuti hirarki peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Hirarki peraturan perundang-undangan yang berlaku sesuai Pasal 7 ayat 1 UU Nomor 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah 136:
i) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; ii) Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang;
iii) Peraturan Pemerintah, iv) Peraturan Presiden; dan v) Peraturan Daerah.
Berdasarkan hirarki perundang-undangan diatas, maka seharusnya peraturan pelaksana untuk mengatur secara teknis praktik thin capitalization yang seharusnya diamanatkan UU Pajak Penghasilan adalah Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden. Amanat Pasal 18 ayat 1 UU PPh untuk memberikan kewenangan Menteri Keuangan untuk menerbitkan Peraturan Menteri dalam rangka mengatur thin capitalization menyimpang dari kaidah pembentukan peraturan perundang-undangan tersebut.
Lebih jauh, Direktorat Jenderal Pajak menerbitkan Peraturan Direktur Pajak Nomor Per-43/PJ/2010 tentang Penerapan Prinsip Kewajaran Dan Kelaziman Usaha Dalam Transaksi Antara Wajib Pajak Dengan Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa dan Keputusan Direktur Kep-01/PJ./1993 tentang Pedoman Pemeriksaan Pajak Terhadap
136
Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004, No. 53, Sekretariat Negara. Jakarta.
Wajib Pajak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa tidak termasuk dalam hirarki perundang-undangan. Peraturan-peraturan pelaksana ini akan mengalami kendala legalitas bila dijadikan peraturan pelaksana ketentuan thin capitalization.
Kendala-kendala ini akan mengakibatkan penerapan pengaturan transaksi thin capitalization menjadi tidak efektif baik dari sisi administrasi pajak maupun Wajib Pajak, sehingga ‘celah’ ini tetap dapat dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan multinasional untuk menghindari PPh Badan di Indonesia.
2. Celah-celah dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda
Mengingat ketentuan thin capitalization belum memiliki legalitas pelaksanaan yang kuat dan tegas banyak mengundang perusahaan multinasional untuk memanfaatkannya sebagai tax planning. Terlebih dengan adanya pengurangan pajak melalui pemanfaatan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda yang mereduksi tarif withholding tax negara sumber. Hal ini akan lebih menguntungkan lagi bila negara mitra memperlakukan penghasilan dari luar negeri bukan sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak di negara tersebut. Walaupun saat ini Direktur Jenderal Pajak telah menerbitkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: Per-62/PJ./2009 Jo. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : Per-25/PJ/2010 dalam rangka pencegahan penyalahgunaan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B), Penulis berpendapat hal ini belum cukup memadai. Permasalahan terletak pada kedudukan hukum peraturan tersebut yang tidak termasuk dalam hirarki perundang-undangan. Ada dua alternatif untuk menangkal penghindaran tersebut yaitu (i) melalui pencantuman klausul penangkalan tersebut dalam perjanjian137 atau (ii) peraturan penangkal diatur dalam Undang-undang Pajak Penghasilan atau Peraturan Pemerintah sebagai peraturan pelaksana dibawah Undang-undang.
137
Darussalam et all, Konsep dan Aplikasi Perpajakan Internasional, Jakarta: Danny Darussallam Tax Center, 2010, h.212.
Kedudukan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) (tax treaty) sangatlah kuat merupakan kewenang Pemerintah sesuai dengan ketentuan Pasal 32A UU PPh. Dalam Pasal 1 huruf a UU No. 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional menyatakan bahwa perjanjian internasional ini menimbulkan hak dan kewajiban bagi kedua negara di