BAB IV KETENTUAN TRANSAKSI THIN CAPITALIZATION DI
1. Perlakuan Bunga dan Dividen dalam Peraturan Perpajakan
Dalam ketentuan perpajakan Indonesia memperbolehkan bunga pinjaman untuk dikurangkan dari penghasilan bruto. Sesuai Pasal 6 ayat 1 huruf a(3) mengatu bahwa besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk bunga, sewa, dan royalti.
Pengeluaran bunga yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto tersebut harus dilakukan dalam batas-batas yang wajar sesuai dengan adat kebiasaan pedagang yang baik. Dengan demikian, apabila pengeluaran yang melampaui batas kewajaran tersebut dipengaruhi oleh hubungan istimewa, jumlah yang melampaui batas kewajaran tersebut tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto sesuai Pasal 18 Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan beserta penjelasannya.
Sedangkan perlakuan berbeda diterapkan terhadap pembayaran dividen perusahaan. Pasal 9 ayat 1 huruf a UU PPh mengatur bahwa untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.
Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apa pun, termasuk pembayaran dividen kepada pemilik modal, pembagian sisa hasil usaha koperasi kepada anggotanya, dan pembayaran dividen oleh perusahaan
asuransi kepada pemegang polis, tidak boleh dikurangkan dari penghasilan badan yang membagikannya karena pembagian laba tersebut merupakan bagian dari penghasilan badan tersebut yang akan dikenai pajak berdasarkan ketentuan Pajak Penghasilan.
Perlakuan yang berbeda antara pembayaran bunga pinjaman dan dividen tersebut disebut dengan classical system106. Perbedaan ini akan menimbulkan peluang bagi perusahaan khususnya perusahaan multinasional yang berada di luar negeri sebagai alat tax planning dalam memberikan pendanaan kepada anak perusahaan atau perusahaan afiliasi yang berada di Indonesia. Mereka lebih cenderung memberikan dana sebagai utang dibandingkan sebagai penambahan modal. Hal ini akan membuat transaksi tersebut menjadi tidak wajar. Namun demikian ada upaya yang dilakukan otoritas pajak untuk melakukan pendekatan dalam menilai kewajaran utang tersebut.
Selain pengaturan dalam UU PPh, pengaturan dividend an bunga juga terdapat pada Perjanjian penghindaran Pajak Berganda (P3B) atau biasa disebut tax treaty antara Indonesia dengan beberapa negara mitra. Perjanjian penghindaran pajak berganda merupakan perjanjian yang dilakukan oleh dua negara atau lebih untuk membagi yurisdiksi perpajakan agar terhindar dari pemajakan pajak dua kali (double taxation) atau tidak dikenakan sama sekali (double non taxation) atas penghasilan yang sama107. Namun dalam kaitan dengan thin capitalization, sangat mungkin justru membuat kombinasi transaksi tersebut dengan cara memanfaatkan celah-celah yang ditemukan dalam tax treaty ini menjadi alat tax planning bagi perusahaan multinasional.
b. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B)
Dalam Pasal 32A UU PPh memberikan kewenangan kepada Pemerintah untuk melakukan perjanjian perpajakan dengan negara lain yang biasa disebut Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda/P3B (Tax Treaty).
106
Gunadi, Pajak Internasional, Jakarta: Salemba Empat, 2007, h. 279 107
West, “Abuse application of International Tax Agreement”-Preceeding of a Seminar Held in Munich, 2000, Kluwer Law International, h. 5.
Pasal 32 A
“Pemerintah berwenang untuk melakukan perjanjian dengan pemerintah negara lain dalam rangka penghindaran pajak berganda dan pencegahan pengelakan pajak."
Dalam P3B mengatur mengenai jurisdiksi pemajakan termasuk hak pemajakan atas bunga dan dividen. Dalam pembahasan pada Sub Bab ini, Penulis membahas tentang pemajakan atas bunga dan dividen ini, mengingat pembayaran bunga ini memiliki keterkaitan erat dengan praktik thin capitalization sebagai alat tax planning yang dilakukan oleh oleh perusahaan multinasional.
Ketentuan tentang bunga diatur dalam Pasal 11 atau 12 tax treaty sedangkan dividen diatur dalam Pasal 10 atau 11 tax treaty antara Indonesia dengan beberapa negara mitra. Perlakuan pembayaran dividen dan bunga dalam tax treaty adalah sebagai berikut:
i. Dividen
Pengaturan pembayaran dividen dari Wajib Pajak Dalam Negeri kepada Wajib Pajak Luar Negeri umumnya dilakukan dalam Pasal 10 atau Pasal 11 Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (tax treaty) antara Indonesia dan beberapa negara mitra. Hak pemajakan pembayaran dividen ini dibagi antara negara sumber dan negara domisili108, namun tidak boleh melebihi batasan tarif tertentu yang biasanya lebih kecil dari tarif umum withholding tax atas pembayaran dividen ke luar negeri109. Tarif tertentu yang dimaksud dalam tax treaty tersebut berbeda-beda pada setiap perjanjian, tergantung kepada kesepakatan kedua pemerintah. Sedangkan tarif umum yang berlaku sesuai Pasal 26 ayat 1 Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan mengatur bahwa tarif withholding tax atas pembayaran
108
Yang dimaksud dengan Negara Sumber adalah negara tempat asal penghasilan tersebut diperoleh, sedangkan negara domisili adalah negara tempat Wajib Pajak tersebut berdomisili atau bagi perusaaan sebagai tempat terdaftar/berkedudukan.
109
Racmanto Surahmat, Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda, Sebuah Pengantar, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005, h. 148.
dividen kepada Wajib Pajak Luar Negeri yang berlaku secara umum di Indonesia adalah 20%110.
Sebagai contoh adalah Pasal 10 Perjanjian Penghindaran Pajak antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Kerajaan Belanda tentang Dividen mengatur sebagai berikut111:
“Ayat 1
Dividen yang dibayarkan oleh suatu perusahaan yang merupakan penduduk salah satu Negara kepada penduduk Negara lainnya dapat dikenakan pajak di Negara lainnya tersebut.
Ayat 2
Namun demikian, dividen tersebut dapat juga dikenakan pajak di Negara di mana perusahaan pembayar dividen menjadi penduduknya dan dengan tarif pajak sesuai dengan perundang-undangan Negara tersebut; tetapi, jika pemilik manfaat dari dividen tersebut adalah penduduk Negara lainnya, maka pajak yang dikenakan tidak akan melebihi 10% (sepuluh persen) dari jumlah bruto dividen.”
Dari ketentuan Pasal 10 ayat 1 dan 2 perjanjian diatas, pembagian hak pemajakan ada di Indonesia dan Belanda (ayat 1). Namun demikian, bila Pemerintah Indonesia mengenakan pajak (withholding tax) harus tidak melebihi tarif 10%. Tarif berbeda diterapkan dalam perjanjian dengan Pemerintah Inggris yang menerapkan tarif tidak lebih dari 15% dengan persyaratan yang ditambahkan.112
ii. Bunga
Seperti halnya dividen, bunga adalah penghasilan dari modal (movable capital) yang diperoleh orang pribadi atau perusahaan dari peminjaman uang. Dalam hal terjadi pembayaran bunga kepada Wajib
110
Republik Indonesia, 2008. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008, No. 133, Sekretariat Negara. Jakarta.
111
Republik Indonesia, Agreement Between The Government of The Republic of Indonesia And The Government of The Kingdom of The Netherlands For The Avoidance of Double Taxation And The Prevention of Fiscal Evasion With Respect To Taxes on Income
112
Republik Indonesia, Agreement Between The Government Of The Republic Of Indonesia and The Government Of The United Kingdom Of Great Britain and Northern Ireland For The Avoidance Of Double Taxation and The Prevention Of Fiscal Evasion With Respect To Taxes On Income And Capital Gains
Pajak yang berbeda negara, pengenaan pajak atas bunga biasanya dilakukan melalui pemotongan pajak (withholding tax) di negara sumber bunga tersebut berasal. Dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (tax treaty) antara Indonesia dan beberapa negara mitra, pemajakan atas bunga ini diatur dalam Pasal 11 atau 12 tergantung kepada dengan perjanjian. Hak pemajakan transaksi bunga ini dikenakan sebagian di negara sumber dan sebagian di negara domisili dengan tarif tertentu yang disepakatai tidak melebihi tarif umum withholding tax atas pembayaran bunga kepada Wajib Pajak Luar Negeri. Sebagaimana halnya tarif dividen, tarif umum pembayaran pajak bunga adalah 20%.
Tarif Pajak Penghasilan untuk pembayaran bunga yang diterapkan dalam P3B antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Kerajaan Belanda adalah tidak melebihi 10%. Namun demikian, pembayaran bunga kepada Wajib Pajak Luar Negeri tersebut dapat dikenakan pajak di negara Luar Negeri tersebut bila jangka waktu utang tersebut melebihi 2 (dua) tahun.
Sesuai dengan Peraturan Dirjen Pajak Nomor: Per-61/PJ/2009 tanggal 05 November 2009 yang mulai berlaku sejak tanggal 01 Januari 2010 tentang Tata Cara Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda, untuk dapat menerapkan tarif sesuai dengan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda maka harus Wajib Pajak harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
- Penerima Penghasilan bunga merupakan Wajib Pajak Luar Negeri;
- Persyaratan berupa kelengkapan Surat Keterangan Domisili Wajib Pajak Luar Negeri telah sesuai persyaratan dan dilampirkan dalam SPT Masa bersangkutan.
- Tidak terdapat penyalahgunaan P3B oleh Wajib Pajak Luar Negeri.
Berkaitan dengan transaksi thin capitalization, contoh skema tax planning yang dapat dilakukan Wajib Pajak dengan menyalurkan utang
transaksi sekaligus memanfaatkan tax treaty penulis memaparkan dalam contoh berikut:
Contoh 4.1
PT Andalas Indonesia di Indonesia sepakat memberikan utang kepada PT Wong Sewu (hubungan istimewa) di Indonesia sebesar Rp 100 Miliar dengan bunga 15% per tahun dari total pinjaman dalam jangka waktu 5 (lima) tahun. Sesuai dengan Pasal 23, bila perjanjian utang tersebut langsung antara kedua perusahaan di Indonesia tersebut, maka atas pembayaran kompensasi bunga tersebut, pada akhir tahun PT Andalas Indonesia harus menghitung dan melaporkannya sebagai penghasilan yang akan dikenakan PPh Badan sebesar 25% dengan pengurangan (kredit) PPh Pasal 23 yang telah dipotong PT Wong Sewu sebesar 15% pada saat pembayaran bunga. Untuk menghindari PPh Badan tersebut, PT Andalas Indonesia mendirikan anak perusahaan Andora Limited di negara British Virgin Island113 dan Andalan BV di Belanda.
Andora Limited mendapat setoran modal dari PT Andalas Indonesia kemudian menyalurkannya kepada Andalan BV di Belanda. Perusahaan Belanda tersebut kemudian memberikan pinjaman kepada PT Wong Sewu dengan jangka pinjaman lebih dari 2 (dua) tahun. Tingkat suku bunga dan syarat perjanjian pinjaman Andora Limited dengan Andalan BV serta Andalan BV dengan PT Wong Sewu adalah sama dan mirip.
Atas pinjaman tersebut PT Wong Sewu harus membayar bunga sebesar Rp 15 miliar per tahun kepada Andalan BV tanpa pemotongan pajak karena sesuai dengan Pasal 11 ayat 4 P3B antara Pemerintah Indonesia dan Belanda mengatur bahwa hak pemajakan berada di negara domisili (Belanda). Dalam jangka waktu tertentu (tiga hari) setelah menerima imbalan bunga tersebut, Andalan BV meneruskan pembayaran bunga tersebut kepada Andora Limited. Karena berada di bawah kontrol PT Andalas, dana imbalan bunga dari PT Wong Sewu yang berda di Andora Limited dapat dipergunakan untuk investasi di Luar Negeri atau dikirim kembali ke Indonesia melalui skema investasi kembali.
Dalam skema ini, penghasilan bunga dari utang jangka panjang sebesar Rp 15 miliar per tahun tersebut tidak dikenakan pajak di Indonesia. Belanda hanya akan mengenakan pajak atas sebagian kecil dari penghasilan bunga tersebut. Di British Virgin Island, pengasilan
113
Negara British Virgin Island adalah salah satu negara tax heaven countries, yaitu negara yang mengenakan pajak dengan tarif sangat kecil atau tidak mengenakan pajak sama sekali.
bunga tidak dikenakan pajak karena bukan dari bisnis di dalam negeri. Bagi PT Wong Sewu, dapat membebankan biaya bunga untuk mengurangi Penghasilan Kena Pajak PPh Badan pada akhir tahun.
Penerapan skema ini dapat dilakukan modifikasi sesuai dengan kondisi, Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda, hukum dan sistem pajak yang berlaku, serta negara tax heaven dan tujuan investasi yang dipilih.
Pada tahun 2005, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-17/PJ./2005 tentang Petunjuk Perlakuan Pajak Penghasilan Terhadap Pasal 11 Tentang Bunga Pada Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) Antara Indonesia dengan Belanda. Dalam Surat Edaran tersebut, Direktur Jendela Pajak memberikan petunjuk bahwa:
1) Terhadap ketentuan Pasal 11 ayat (2), tidak diperlukan tata cara pelaksanaannya, sehubungan dengan tidak terdapat permasalahan dalam pelaksanaannya. Wajib pajak Indonesia yang mempunyai utang atau pinjaman kepada penduduk Belanda baik perorangan maupun badan, diwajibkan melakukan pemotongan PPh Pasal 26 dengan tarif 10% (sepuluh perseratus) dari jumlah bruto bunga yang dibayarkan.
2) Terhadap ketentuan Pasal 11 ayat (4), mengingat tatacara pelaksanaannya belum dibicarakan antara "Pejabat yang Berwenang" Indonesia dan Belanda, maka berlaku ketentuan sebagaimana tercantum dalam butir 1 tersebut di atas yaitu wajib pajak Indonesia yang mempunyai utang atau pinjaman kepada penduduk Belanda baik perorangan maupun badan, diwajibkan untuk melakukan pemotongan PPh Pasal 26 dengan tarif 10% (sepuluh perseratus) dari jumlah bruto bunga yang dibayarkan. Sejak tanggal 1 Januari 2010, ketentuan ini telah dibatalkan dan diganti dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: Per-62/PJ./2010 tanggal 5 November 2009 tentang Pencegahan Penyalahgunaan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda.
Dengan adanya peraturan tersebut, Direktur Jenderal Pajak berusaha menutup celah dalam perjanjian penghindaran pajak berganda tersebut, namun tidak dapat mencegah pemanfaatan ‘celah’ dalam perjanjian yang telah diratifikasi tersebut oleh Wajib Pajak.
Untuk menghindari praktik yang demikian, Pemerintah perlu mewaspadai setiap transaksi utang-piutang antara pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa untuk memastikan kewajaran transaksi tersebut sesuai dengan kelaziman berbisnis yang berlaku.