BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN…
4.17 Hubungan Kadar Crumb Rubber 40 mesh dan Kadar Aspal yang
Setelah karakteristik campuran didapat melalui pengujian Marshall dan perhitungan, maka selanjutnya dibuat grafik hubungan antara kadar crumb rubber dan kadar aspal yang dikurangi dengan karakteristik yang didapat tersebut di antaranya stabilitas, flow, Marshall Quotient, VMA, VIM dan VFB. Pengurangan kadar aspal
59 dilakukan pada campuran dengan kadar crumb rubber tertinggi yaitu 100% terhadap agregat halus lolos ayakan no.40 dan tertahan ayakan no.50.
4.17.1 Stabilitas
Gambar 4.14 Grafik hubungan antara kadar aspal yang dikurangi dengan stabilitas
rata-rata pada kadar crumb rubber 100% Sumber: Hasil Penelitian (2014)
Berdasarkan hasil pengujian, nilai stabilitas rata-rata campuran latasir pada kadar aspal 7% dan 6,5% adalah 234,39 kg dan 233,04 kg yang kemudian disajikan dalam grafik seperti yang tertera pada Gambar 4.14. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan stabilitas rata-rata dari kadar aspal awal 7,5% sampai dengan penurunan kadar aspal 7%, kemudian mengalami penurunan pada kadar aspal 6,5%, tetapi masih memenuhi spesifikasi minimum campuran latasir kelas A, yaitu 200 kg. Peningkatan stabilitas rata-rata terjadi karena penyelimutan aspal terhadap agregat menjadi lebih efektif dibandingkan dengan kadar aspal pada saat belum dikurangi, sehingga sifat saling kunci antar agregat menjadi lebih optimal. Namun jika kadar aspal dalam campuran terlalu sedikit, ikatan antar agregat menjadi berkurang dan stabilitas pun menurun. . . . St ab ili ta s kg Kadar Aspal %
Batas Mi i u Be da Uji Be da Uji
60 4.17.2 Flow (Kelelehan Plastis)
Gambar 4.15 Grafik hubungan antara kadar aspal yang dikurangi dengan flow rata-rata pada kadar crumb rubber 100%
Sumber: Hasil Penelitian (2014)
Berdasarkan hasil pengujian, nilai flow rata-rata campuran latasir pada kadar aspal 7% dan 6,5% adalah 2,86 mm dan 2,51 mm yang kemudian disajikan dalam grafik seperti yang tertera pada Gambar 4.15. Pada nilai rata-rata flow cenderung mengalami penurunan dari kadar aspal 7,5% sampai 6,5%. Nilai rata-rata flow pada kadar aspal 7% sampai 6,5% memenuhi spesifikasi minimum, yaitu 2 mm dan spesifikasi maksimumnya, yaitu 3 mm. Penurunan nilai rata-rata flow terjadi karena kadar aspal yang dikurangi menyebabkan campuran menjadi relatif lebih kaku, sehingga menyebabkan campuran tidak mudah mengalami deformasi.
4.17.3 Marshall Quotient
Gambar 4.16 Grafik hubungan antara kadar aspal yang dikurangi dengan Marshall Quotient rata-rata pada kadar crumb rubber 100%
Sumber: Hasil Penelitian (2014) . . . . . . Fl ow Kadar Aspal %
Batas Mi i u Batas Maksi u Flow Rata-rata
Be da Uji Be da Uji Be da Uji
. . . M ar sh al l Q uo tie t kg / Kadar Aspal %
Batas Mi i u Be da Uji Be da Uji
61 Berdasarkan hasil perhitungan, nilai Marshall Quotient rata-rata campuran latasir kelas A pada kadar aspal 7% dan 6,5% adalah 82,01 kg/mm dan 92,75 kg/mm yang kemudian disajikan dalam grafik seperti yang tertera pada Gambar 4.16. Hal ini menunjukkan nilai Marshall Quotient rata-rata mengalami peningkatan dari kadar aspal 7,5% sampai dengan kadar aspal 6,5%. Nilai Marshall Quotient rata-rata pada kadar aspal 7% dan 6,5% memenuhi spesifikasi minimum latasir kelas A, yaitu 80 kg/mm. Peningkatan nilai Marshall Quotient terjadi disebabkan oleh nilai flow rata-rata yang cenderung menurun.
4.17.4 Rongga Antar Butiran Agregat (VMA)
Gambar 4.17 Grafik hubungan antara kadar aspal yang dikurangi dengan nilai VMA rata-rata pada kadar crumb rubber 100%
Sumber: Hasil Penelitian (2014)
Berdasarkan hasil perhitungan, nilai VMA rata-rata campuran latasir pada kadar aspal 7% dan 6,5% berturut-turut adalah 19,264% dan 19,335% yang kemudian disajikan dalam grafik seperti yang tertera pada Gambar 4.17. Hal ini menunjukkan bahwa nilai VMA rata-rata cenderung meningkat seiring dengan berkurangnya kadar aspal dalam campuran. Nilai VMA rata-rata pada kadar aspal 7% dan 6,5% tidak memenuhi spesifikasi minimum latasir kelas A, yaitu 20%. Peningkatan nilai VMA terjadi karena dengan berkurangnya kadar aspal maka campuran menjadi lebih kaku sehingga lebih sulit dipadatkan.
. . .
VM
A
%
Kadar Aspal %
Batas Mi i u Be da Uji Be da Uji
62 4.17.5 Rongga Udara Dalam Campuran (VIM)
Gambar 4.18 Grafik hubungan antara kadar aspal yang dikurangi dengan nilai VIM rata-rata pada kadar crumb rubber 100%
Sumber: Hasil Penelitian (2014)
Berdasarkan hasil perhitungan, nilai VIM rata-rata campuran latasir pada kadar aspal 7% dan 6,5% adalah 4,962% dan 6,182% yang kemudian disajikan dalam grafik seperti yang tertera pada Gambar 4.18. Hal ini menunjukkan bahwa nilai VIM rata-rata cenderung meningkat seiring dengan berkurangnya kadar aspal. Nilai VIM rata-rata kadar aspal 7% memenuhi spesifikasi minimum campuran latasir kelas A, yaitu 3% dan spesifikasi maksimum, yaitu 6%, namun pada kadar aspal 6,5% tidak memenuhi spesifikasi tersebut. Nilai VIM rata-rata yang meningkat disebabkan oleh nilai VMA yang juga relatif meningkat. Campuran yang lebih kaku menyebabkan pemadatan tidak dapat dilakukan secara optimal, akibatnya kepadatan menjadi berkurang sehingga porositas meningkat.
4.17.6 Rongga Udara Terisi Aspal (VFB)
Gambar 4.19 Grafik hubungan antara kadar aspal yang dikurangi dengan nilai VFB rata-rata pada kadar crumb rubber 100%
Sumber: Hasil Penelitian (2014)
. . .
VI
M
%
Kadar Aspal %
Batas Mi i u Batas Maksi u VIM Rata-rata
Be da Uji Be da Uji Be da Uji
. . .
VF
B
%
Kadar Aspal %
Batas Mi i u Be da Uji Be da Uji
63 Berdasarkan hasil perhitungan, nilai VFB rata-rata campuran latasir pada kadar aspal 7% dan 6,5% adalah 74,248% dan 68,046% yang kemudian disajikan dalam grafik seperti yang tertera pada Gambar 4.19. Nilai VFB rata-rata cenderung mengalami penurunan. Nilai VFB rata-rata pada kadar aspal 7% dan 6,5% tidak memenuhi spesifikasi minimum, yaitu 75%. Nilai VFB yang menurun disebabkan oleh kadar aspal yang berkurang, sehingga tidak dapat mengisi rongga secara optimal.