• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Karakteristik Sosiodemografi dengan Perilaku Asertif Penelitian terdahulu menemukan bahwa karakteristik sosiodemografi dapat

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Pembahasan Penelitian

5.2.3. Hubungan Karakteristik Sosiodemografi dengan Perilaku Asertif Penelitian terdahulu menemukan bahwa karakteristik sosiodemografi dapat

mempengaruhi perilaku asertif seseorang. Tinggi rendahnya tingkat perilaku asertif yang dimiliki dipengaruhi faktor umur, jenis kelamin, prestasi, pendidikan orang tua, penghasilan keluarga per b ulan, dan lainnya. Beberapa karakteristik sosiodemografi tersebut ditemukan memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku asertif.

a. Hubungan Karakteristik Sosiodemografi Umur dengan Perilaku Asertif Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa umur memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku asertif (Maheswari & Gill, 2015). Penelitian tersebut menyatakan bahwa kelompok usia >50 tahun lebih asertif dibandingkan dengan yang berusia lebih muda. Hasil yang berbeda ditemukan oleh Larijani et al (2017) dimana hubungan yang bermakna antara umur dan asertifitas memiliki arah negatif.

Penelitian saat ini ditemukan bahwa hubungan yang dimiliki faktor pengaruh umur dengan perilaku asertif tidaklah signifikan dan negatif. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Soni & Srinivasan (2017), Amicone & Miller (2015), dan Rezayat & Nayeri (2014) yang menemukan tidak signifikan antara asertifitas dengan umur.

b. Hubungan Karakteristik Sosiodemografi Jenis Kelamin dengan Perilaku Asertif

Karakteristik sosiodemografi jenis kelamin dalam penelitian ini tidak ditemukan hubungan yang bermakna dengan perilaku asertif. Larijani et al (2017) dan Soni & Srinivasan (2017) juga mendapatkan tidak ada hubungan bermakna antara jenis kelamin dan asertifitas. Hasil yang berbeda ditemukan Rezayat &

Nayeri (2014) yang menyatakan jenis kelamin memiliki hubungan bermakna dengan tingkat asertifitas, dimana laki- laki ditemukan lebih asertif daripada perempuan. Hasil yang sama juga ditemukan Amicone & Miller (2015) . Adanya perbedaan hasil penelitian dapat dikarenakan perbedaan budaya, agama, dan adat (Larijani et al, 2017).

c. Hubungan Karakteristik Sosiode mografi Tahun Masuk dengan Perilaku Asertif

Karakteristik sosiodemografi tahun masuk partisipan ditemukan tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan perilaku asertif walaupun ditemukan semakin tinggi tahun angkatan, tingkat perilaku asertif semakin rendah.

Hasil penelitian Uzuntarla et al (2016) terkait hal ini juga menunjukkan hubungan yang tidak signifikan namun ditemukan semakin tinggi tahun angkatan, semakin tinggi juga asertifitas mahasiswa. Semakin menurunnya tingkat perilaku asertif pada partisipan tingkat atas bisa dikarenakan semakin banyaknya masalah yang dihadapi selama masa kuliah mengingat semakin beratnya beban pelajaran dan kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi kondisi psikolgis. Rezayat &

Nayeri (2014) menemukan bahwa adanya hubungan bermakna antara asertifitas

dengan depresi, dimana semakin tinggi tingkat asertifitas menyebabkan semakin rendah tingkat depresi dan sebaliknya. Nirmala & Muraleedharan (2016) menemukan mahasiswa tahun pertama dan tahun kedua memiliki rata-rata nilai asertfitas yang tinggi dibandingkan dengan mahasiswa tahun ketiga dan yang sedang menjalankan internship.

d. Hubungan Karakteristik Sosiodemografi IPK/IP Terakhir dengan Perilaku Asertif

Penelitian ini mendapati IPK/IP terakhir partisipan tidak berhubungan signifikan dengan perilaku asertif. Kekuatan hubungannya juga lemah dan negatif.

Arah hubungan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi IPK/IP terakhir, semakin rendah tingkat perilaku asertif yang dimiliki partisipan. Hasil yang berbeda didapat oleh Ghodrati et al (2016), dimana hasil penelitiannya menunjukkan hubungan yang bermakna antara asertivitas dengan capaian akademik.

Sitota (2018) juga menemukan adanya hubungan bermakna yang sangat kuat antara asertifitas dengan motivasi capaian akademik. Hasil penelitian sebelumnya ini menunjukkan bahwa pelajar yang berperilaku asertif memiliki motivasi capaian akademik dan capaian akademik yang lebih baik dan capaian akademik juga dapat mempengaruhi kepercayaan diri mahasiswa untuk berperilaku asertif.

e. Hubungan Karakteristik Sosiode mografi Pendapatan Keluarga per Bulan dengan Perilaku Asertif

Dinçer & Ö ztunç (2009) menemukan rata-rata pendapatan per bulan tidak mempengaruhi asertifitas. Penelitian yang dilakukan Soni & Sinivasan (2017) menemukan bahwa pendapatan keluarga per bulan tidak mempengaruhi asertifitas secara signifikan. Arslan et al (2013) menemukan status ekonomi tidak mempengaruhi asertifitas. Penelitian saat ini juga menunjukan hal yang sama, dimana hubungan perilaku asertif dengan pendapatan keluarga per bulan tidak signifikan dan negatif. Perbedaan hasil ditemukan Uzuntarla et al (2016) yang menemukan adanya hubungan bermakna antara tingkat asertifitas dengan penghasilan per bulan, dan mahasiswa dengan penghasilan per bulan yang tinggi memiliki tingkat asertifitas yang tinggi juga.

f. Hubungan Karakteristik Sosiodemografi Status Kehidupan Orang Tua dengan Perilaku Asertif

Penelitian ini menemukan bahwa status kehidupan ayah memiliki hubungan positif yang lemah dengan perilaku asertif. Hubungan yang positif menunjukkan bahwa tingginya tingkat perilaku asertif seseorang dikarenakan adanya kehadiran seorang ayah, sebaliknya redahnya tingkat perilaku asertif seseorang dikarenakan tidak adanya kehadiran seorang ayah.

Berbeda dengan status kehidupan ayah yang dapat mempengaruhi perilaku asertif, dalam penelitian ini status kehidupan ibu tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dan negatif. Hasil ini didukung Uzuntarla et al (2016) yang menemukan tidak adanya hubungan bermakna antara tingkat asertifitas dengan status kehidupan orang tua. Penelitian yang dilakukan Demirbilek & Otrar (2014) menemukan hal yang bertentangan dengan penelitian saat ini, dimana pelajar yang hidup bersama kedua orang tuanya memiliki asertifitas yang tinggi dari pada yang hidup bersama orang tua tunggal. Shabgard et al (2011) juga menyatakan bahwa kemampuan asertifitas seorang anak dapat diprediksi dari perilaku, kepribadian, dan kecerdasan emosional orang tua.

g. Hubungan Karakte ristik Sosiodemografi Saat Ini Tinggal Bersama dengan Perilaku Asertif

Uzuntarla et al (2016) menemukan bahwa seseorang yang tinggal bersama dengan mahasiswa tidak memiliki hubungan dengan asertifitas. Arslan et al (2013) menyatakan tempat dimana keluarga dan mahasiswa tinggal tidak mempengaruhi tingkat asertifitas. Penelitian saat ini juga menunjukkan hal yang sama.

Mahasiswa yang tinggal bersama kedua orang tua diharapkan memiliki tingkat perilaku asertif yang tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang tinggal bersama hanya dengan ayah, ibu, kerabat, teman atau sendiri. Keberadaan kedua orang tua mampu memberikan rasa aman bagi seorang anak dan menjadi contoh untuk setiap penyelesaian masalah.\

h. Hubungan Karakteristik Sosiodemografi Pendidikan Orang Tua dengan Perilaku Asertif

Penelitian terdahulu mendapati adanya hubungan yang bermakna antara asertifitas dengan status pendidikan orang tua (Sitota, 2018). Ghodrati et al (2016) mendapati bahwa orang tua dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi memiliki anak dengan tingkat asertifitas yang tinggi. Dinçer & Ö ztunç (2009) menemukan bahwa asertifitas dipengaruhi status pendidikan ibu dan Arslan et al (2013) menyatakan semakin tinggi status pendidikan ibu, semakin tinggi tingkat asertifitas. Khademi & Mehrabi (2015) menyatakan ada hubungan yang kuat antara pendidikan ibu dengan asertifitas. Berbeda dengan penelitian saat ini, dimana ditemukan tidak ada hubungan yang bermakana antara perilaku asertif dengan tingkat pendidikan kedua orang tua. Hasil ini didukung dengan penelitian Soni & Srinivasan (2017) yang juga menemukan tidak ada hubungan yang bermakna antara asertifitas dengan status pendidikan orang tua.

i. Hubungan Karakte ristik Sosiode mografi Pekerjaan Orang Tua dengan Perilaku Asertif

Khademi & Mehrabi (2015), yang menyatakan adanya hubungan yang bermakna antara pekerjaan orang tua dengan asertifitas. Hasil berbeda didapatkan penelitian saat ini, yang menemukan bahwa pekerjaan orang tua tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan perilaku asertif. Hasil ini didukung Uzuntarla et al (2016) yang menemukan bahwa asertifitas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pekerjaan orang tua.

j. Hubungan Karakteristik Sosiodemografi Jumlah Saudara dan Urutan Kelahiran dengan Perilaku Asertif

Penelitian ini menemukan tidak adanya hubungan yang bermakna antara jumlah saudara kandung dengan perilaku asertif dan urutan kelahiran dengan perilaku asertif. Hasil ini didukung hasil penelitian Uzuntarla et al (2016) yang menemukan tidak adanya hubungan bermakna antara asertifitas dengan jumlah saudara. Rezayat & Nayeri (2014) juga tidak menemukan hubungan bermakna antara urutan kelahiran dengan asertifitas. Arslan et al (2013) menyatakan jumlah saudara dan urutan kelahiran tidak mempengaruhi tingkat asertifitas.

Hasil berbeda ditemukan Ghodrati et al (2016) yang menyatakan adanya hubungan bermakna antara asertifitas dengan urutan kelahiran. Banyaknya jumlah saudara dapat menimbulkan persaingan antar saudara karena perbedaan urutan kelahiran.

Sulloway (2002) menyatakan bahwa perbedaan dalam urutan kelahiran dapat menyebabkan anak mengalami perbedaan dalam hubungan keluarga yang dapat mengacu pada kesejahteraannya. Mengacu pada teori Five Factor Model kepribadiannya (conscientious, agreeable, open to experience, neurotic, dan extraverted), terdapat perbedaan kepribadian antara anak pertama dengan anak

yang selanjutnya. Menurut model tersebut, anak pertama memiliki kepribadian yang lebih bertanggung jawab, ambisius, terorganisasi, berprestasi, temperamental dan khawatir dengan statusnya, namun dominan dan asertif. Anak selanjutnya memiliki kepribadian yang lebih mampu berkompromi, ramah, altruistik, suka melawan, dan suka bergaul.

Persaingan antar saudara dapat mempengaruhi dinamika kehidupan keluarga karena adanya perbedaan. Saudara yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah keluarga yang sama akan berbagi pengalaman keluarga yang sama sehingga dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian antar saudara sesuai urutan kelahiran.

Hubungan faktor pengaruh karakteristik sosiodemografi dengan perilaku asertif masih ditemukan kontradiksi. Kondisi ini dapat dipengaruhi masalah perbedaan sosial budaya dimana penelitian dilaksanakan walau beberapa karakteristik sosiodemografi telah dinyatakan menjadi faktor pengaruh perilaku asertif.

Institusi pendidikan yang merupakan lingkungan belajar mahasiswa dimana mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktu harus dapat menumbuhkembangkan perilaku asertif yang ada pada diri mahasiswa. Proses belajar mengajar yang mengutamakan pengembangan perilaku asertif harus dikedepankan mengingat pentingnya perilaku asertif dalam proses asuhan keperawatan yang profesional.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait