III. HASIL DAN PEMBAHASAN
9) Hubungan Kekerabatan antar individu.
Untuk melihat hubungan evolusi antar individu digunakanNeighbor-joining (NJ) berdasarkan type mtDNA yang dimiliki masing-masing individu dan untuk mengetahui jaraknya (Distance) digunakan metode P-distance. Pada analisis lanjutan sebagai pembanding atau outgroup digunakan control region dari Helarctos malayanus dari NCBI dengan kode akses AB098542. Berdasarkan pohon phylogeny dengan menggunakan metode p-distance maka didapat pengelompokkan seperti pada Gambar 15. pada gambar tersebut terlihat bahwa sampel yang digunakan telah terbagi menjadi dua kelompok utama. dengan menggunakan nilai statistik bootstrap 1000 kali dapat dilihat bahwa individu yang mempunyai nilai kepercayaan tinggi (>90) merupakan individu-individu yang sudah memiliki kekerabatan yang erat artinya dari hasil ini mereka sudah mengelompok secara kuat misalnya pada cluster cinta dengan kelompok ongki, mely, john dan patrick, dan pada cluster lainnya yaitu individu jamilah dengan kelompok digo, matoari dan jim. pada kelompok atau individu yang memiliki kekerabatan yang lemah nilai kecil, maka posisinya masih bisa berubah.
ONGKI MELY JOHN PATRICK CINTA AUL TERA MOMO PENAI MAMAT JOJO JUWII RIBANG BEMBI BENO JAMILAH MATOARI DIGO Helarctos malayanus 97 100 74 57 100 92 96 83 39 70 45 63 67 58 0.00 0.05 0.10 0.15 0.20 0.25 0.30
Gambar 15 Pohon phylogenetik yang didapat dari fragmen D-loop mtDNA orangutan Kalimantan Barat dan sebagai outgroupadalah Helarctos malayanus
Pohon phylogeny pada Gambar 16 dengan mengkombinasikan beberapa sampel dari TNDS yang diperoleh dari NCBI (sampel OU-DSME2, OU-DSME1, OU-DSRA DAN OU-DSLE1) yang digunakan oleh Warren et al.(2001) dengan kode akses AJ391100, AJ391101, AJ391102, AJ391103, maka dapat dilihat bahwa cluster bagian atas termasuk ke dalam sub jenis yang berada di bagian utara sungai Kapuas yaitu anak jenisP. p. pygmaeus. beberapa sampel memiliki hubungan kekerabatan dengan tingkat kepercayaan 100% yaitu individu individu yang berasal dari sampel Warren et al. (2001) dengan individu Ongki, Mely, Patrick, John dan Cinta. Tingkat kepercayaan yang tinggi ini artinya cluster ini tidak akan bisa berubah lagi. Demikian juga dengan kluster yang beranggotakan Digo, Jamilah, Matoari dan Jim memiliki tingkat kepercayaan 100%.
Individu Ribang menjadi standar untuk anak jenis P. p. wurmbii. Individu ini berdasarkan sejarahnya disita dari daerah Kaburai Kabupaten katingan Kalimantan Tengan. Berdasarkan hasil analisis dengan Mega4 individu ini membentuk kluster tersendiri baik pada Gambar 15, 16 dan 17. Masing-masing gambar phylogenetik ini memperkuat kedudukan ribang pada kluster yang telah terbentuk tersebut.
Group I P. p. pygmaeus
Group II P. p. wurmbii
OU-DSME2 OU-DSME1 OU-DSRA OU-DSLE1 ONGKI MELY PATRICK JOHN CINTA AUL TERA MOMO PENAI JOJO MAMAT JUWII BEMBI RIBANG BENO DIGO JAMILAH MATOARI JIM 99 88 100 99 97 63 85 89 99 100 90 97 91 82 66 82 0.00 0.05 0.10 0.15 0.20
Gambar 16 Pohon phylogenetik yang didapat dari fragmen D-loop mtDNA orangutan Kalimantan Barat dan sebagai standar pembanding adalah data dari NCBI berupa sampel orangutan yang berasal dari TN Danau Sentarum (OU-DSME1, OU-DSME2, OU-DSRA dan OU- DSLE1)
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan primer SRY, secara umum terbagi menjadi dua cluster, yaitu cluster ribang dan cluster lainnya yang beranggotakan 7 individu. Cluster yang beranggotakan 7 individu ini 5 individu diantaranya merupakan data yang diperoleh dari alam yaitu individu CD_1 yang diperoleh dari daerah Camp Derian yang terletak di TN Betung Kerihun, individu PM.2 yang diperoleh dari daerah Pulau Mayas yang terletak di daerah koridor dan individu 385.2, 388_1 dan 387_1 yang diperoleh dari Bukit Selasih yang terletak di TN Danau Sentarum. Dari hasil ini dapat dilihat bahwa individu John dan Mamat memiliki kekerabatan yang dekat dengan individu 387_1 sehingga bisa Group I P. p. pygmaeus
Group II P. p. wurmbii
disimpulkan bahwa individu John dan Mamat merupakan satu anak jenis yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus.
CD_1 PM.2 385.2 388_1 387_1 JOHN MAMAT RIBANG Pongo abelii 68 54 50 53 10 19
Gambar 17 Pohon phylogenetik yang didapat dengan menggunakan primer SRY_F dan SRY_R dari orangutan Kalimantan Barat dan sebagai outgroup adalah Pongo abelii dengan kode akses XM_003780571 (CD_1: berasal dari TNBK, PM.2: berasal dari koridor, 385.2, 387_1 dan 388_1 berasal dari TNDS, John, Mamat dan Ribang berasal dari rehabilitasi).
IV.
PEMBAHASAN UMUM
1). Sebaran spasial
Berdasarkan hasil analisis spasial dengan menggunakan software arcgis 9.3, sampel orangutan yang berasal dari alam yang telah dianalisis dengan menggunakan primer SRY dapat diketahui sebarannya secara geografi. Gambar 18 memperlihatkan sebaran spasial hasil analisis sampel orangutan. Sampel dengan kode CD_1 merupakan sampel yang didapat dari daerah Camp Derian yang termasuk kedalam kawasan TN Betung Kerihun. Jika dianalisis dengan tingkat kesesuaian habitat maka lokasi sampel ini didapat terletak di wilayah dengan tingkat kesesuaian yang tinggi, yaitu berada di sekitar sungai kecil yaitu sungai Tekelan. Orangutan menyukai wilayah ini karena umumnya daerah tepi sungai atau riparian memiliki komposisi vegetasi tanaman buah yang tinggi, dengan demikian sumber pakan bagi orangutan cukup banyak di wilayah ini, selain itu sungai kecil juga memiliki tajuk yang saling bersambungan diantara tepianya sehingga mudah melakukan perpindahan dari satu sisi ke sisi lain. Wilayah ini memiliki tingkat gangguan yang kecil terhadap aktivitas manusia. (Meijaard et al. 2001). Daerah ditemukannya orangutan merupakan daerah ekoton antara air dan kaki pebukitan atau pegunungan, daerah seperti ini
merupakan tempat-tempat yang memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan penghasil buahnya paling tinggi (Bruenig 1996dalamMeijaard 2001)
Untuk sampel dengan kode PM_2 dijumpai di daerah Pulau Mayas yang termasuk kedalam wilayah koridor. Daerah ini didominasi oleh kawasan bekas ladang dan bekas kebun masyarakat (tembawang) yang sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat, wilayahnya cukup landai yang sangat sesuai sebagai habitat orangutan. Jika dilihat berdasarkan tingkat kesesuaian habitat, maka kawasan Pulau Mayas ini memiliki tingkat kesesuaian yang sedang. Di daerah ini juga dijumpai adanya sungai kecil. Jenis vegetasi yang banyak dijumpai di wilayah tembawang ini diantaranya rambutan, durian, mangga, manggis, cempedak, dan buah asam. Jenis tanaman buah ini menjadi sumber pakan bagi orangutan. Ketersediaan pakan yang tinggi dapat memenuhi kebutuhan hidup orangutan di wilayah ini, lokasi ini sudah jarang didatangi oleh masyarakat.
Sampel orangutan dengan kode 385.2, 387.1 dan 388.1 diperoleh dari daerah Bukit Selasih. Daerah ini terletak dalam kawasan TN Danau Sentarum. Bukit ini tidak terlalu tinggi dan tidak curam, dikelilingi oleh rawa gambut. Orangutan dijumpai di daerah ini seperti disebutkan oleh Marshall et al. (2010) bahwa orangutan menyukai wilayah rawa gambut, karena banyak sumber pakan yang dijumpai di daerah ini yaitu tanaman yang menghasilkan buah. Jika dilihat berdasarkan tingkat kesesuaian habitat, maka orangutan di dalam kawasan ini terdapat dalam kawasan yang memiliki tingkat kesesuaian tinggi. Selain itu (Russon et al. 2001) menyebutkan bahwa sumbaer pakan bagi orangutan lebih banyak dijumpai di rawa-rawa, kemudian di hutan-hutan lembah dan di daerah riparian.
2). Hubungan kekerabatan orangutan
Jika dilihat pada Gambar 17 maka dapat dilihat bahwa individu yang bernama John dan Mamat terletak satu kluster dengan individu 387.1, maka dapat dikatakan bahwa mereka memiliki tingkat kekerabatan yang berdekatan. Individu yang berasal dari TNBK, TNDS dan Koridor Satwa merupakan orangutan anak jenis P. p. pygmaeus, maka individu John dan Mamat juga merupakan individu yang berasal dari anak jenis yang sama.
Diperkuat lagi dengan pohon phylogeny pada Gambar 16, dengan menggunakan data Warren et al. (2001) dari NCBI, individu John terletak satu kluster dengan individu DSME2, DSME1, DSRA dan DSLE yang berasal dari Danau Sentarum. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kluster yang beranggotakan Ongki, Patrick, Mely, John, Cinta, Aul, Tera, Momo, Penai, Jojo, Mamat dan Juwi merupakan orangutan yang berasal dari bagian utara dari sungai Kapuas, artinya mereka termasuk kedalam kelompok anak jenis P. p. pygmaeus. Dengan demikian individu yang berasal dari pusat rehabilitasi ini jika akan dilepasliarkan kembali harus dilepaskan di daerah sebaran anak jenis P. p. pygmaeusyaitu di daerah utara dari sungai Kapuas Kalimantan Barat.
Sebaran spasial berdasarkan Gambar 18 dapat dilihat bahwa individu CD_1 terpisah dengan PM_2 dan terpisah juga dengan individu 385.2, 387.1, dan 388.1. akan tetapi pada gambar 17 memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara PM.2 dengan 385.2 dan CD_1. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa ketiganya memiliki kekerabatan yang erat. Hal lain yang dapat diketahui adalah
individu 387_1 memiliki kekerabatan yang erat dengan individu John dan Mamat yang keduanya berasal dari pusat rehabilitasi.
Jarak antara sampel di TNDS dengan sampel di koridor adalah sekitar 40 km dan antara koridor dengan sampel di TNBK sekitar 30 km. Jika dilihat berdasarkan sifat sosial orangutan, maka orangutan terbagi menjadi tiga kelompok yaitu penetap, penjelajah dan pengembara (Meijaard et al. 2001). Jika dihubungkan antara sifat sosial ini dan sebaran spasialnya, maka bisa dianggap bahwa individu 385.2 merupakan orangutan pengembara, individu ini berkerabat dengan individu dari TNBK akan tetapi dijumpai keberadaannya di TNDS yang jika diukur jaraknya adalah sekitar 70 km.
Individu 388_1 menjadi individu yang terpisah, walau demikian individu ini memiliki keeratan dengan cluster yang beranggotakan CD_1, PM.2 dan 385.2. Selain itu individu, bisa dianggap juga bahwa individu ini sebelumnya memiliki sebaran di TNBK dan koridor dan merupakan individu yang pengembara. Untuk individu 387_1 kelihatannya merupakan individu penetap yang hanya ditemukan di TNDS.
Sifat mengembara pada orangutan biasanya dilakukan oleh individu jantan dewasa muda, yang sudah lepas dari induk betina dan belum memiliki daerah jelajah yang tetap. Sifat penetap dimiliki oleh individu jantan dewasa dominan, individu ini menempati suatu wilayah secara tetap yang memiliki sumber pakan yang melimpah (Meijaard 2001).