• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Kekuatan Otot Tungkai dengan Hasil Smash Normal

Dalam dokumen skripsi pendidikan (Halaman 75-80)

METODOLOGI PENELITIAN

1. Hubungan Kekuatan Otot Tungkai dengan Hasil Smash Normal

Hipotesis yang pertama menyatakan bahwa: ada hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan hasil smash normal dalam permainan bola voli pada siswa putera kelas II SMA Negeri di Kabupaten Pekalongan Tahun Ajaran 2004/2005. Hasil uji hipotesis dengan menggunakan analisis regresi korelasi tersebut dapat dilihat pada output SPSS berikut ini.

Tabel 5

Koefisien Korelasi antara Kekuatan Otot Tungkai dengan Hasil Smash Normal

Berdasarkan hasil analisis tersebut di atas diperoleh koefisien korelasi

antara kekuatan otot tungkai dengan hasil smash normal sebesar 0,441. Uji

keberatian koefisien korelasi tersebut dilakukan dengan cara mengonsultasi

harga rhitung dengan r product moment. Pada α = 5% dengan N = 126 diperoleh rtabel = 0,176. Karena koefisien korelasi tersebut lebih besar dari

rtabel, berarti koefisien korelasi tersebut signifikan sehingga Ha berbunyi ada

hubungan positif antara kekuatan otot tungkai dengan hasil Smash normal

dalam permainan bola voli pada siswa putera kelas II SMA Negeri di

Kabupaten Pekalongan Tahun Ajaran 2004/2005 diterima.

Bentuk hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan hasil smash

normal dapat digambarkan dengan persamaan regresi yang diperoleh.

Berdasarkan hasil analisis melalui perhitungan komputasi program SPSS

Tabel 6

Koefisien Regresi Kekuatan Otot Tungkai dengan Hasil Smash Normal

Berdasarkan tabel 6 di atas maka persamaan regresi antara kekuatan

otot tungkai dengan hasil smash normal adalah Y = 27,928 + 0,441Xˆ 1.

Melalui persamaan tersebut, dimana koefisien regresi yang diperoleh adalah

bertanda positif maka bentuk hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan

hasil Smash normal adalah hubungan postif. Hal ini berarti bahwa setiap

terjadi kenaikan kekuatan otot tungkai sebesar 1 point, akan diikuti pula

kenaikan hasil smash normal sebesar 0,441 point pada konstanta 27,928.

Dengan kata lain untuk memperoleh hasil smash normal yang optimum,

dibutuhkan kekuatan otot tungkai yang tinggi, begitu juga dengan sebaliknya.

2. Hubungan Kekuatan Otot Punggung dengan Hasil Smash Normal

Hipotesis yang kedua berbunyi: ada hubungan antara kekuatan otot

punggung dengan hasil smash normal dalam permainan bola voli pada siswa

putera kelas II SMA Negeri di Kabupaten Pekalongan Tahun Ajaran

2004/2005. Hasil uji hipotesis dengan menggunakan analisis regresi korelasi

tersebut dapat dilihat pada output SPSS berikut ini.

Tabel 7

Koefisien Korelasi antara Kekuatan Otot Punggung dengan Hasil Smash Normal

Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh koefisien korelasi antara

kekuatan otot punggung dengan hasil smash normal sebesar 0,492. Uji

keberatian koefisien korelasi tersebut dilakukan dengan cara mengonsultasi

harga rhitung dengan r product moment. Pada α = 5% dengan N = 126 diperoleh rtabel = 0,176. Karena koefisien korelasi tersebut lebih besar dari

rtabel, berarti koefisien korelasi tersebut signifikan sehingga Ha berbunyi ada

hubungan antara kekuatan otot punggung dengan hasil smash normal dalam

permainan bola voli pada siswa putera kelas II SMA Negeri di Kabupaten

Pekalongan Tahun Ajaran 2004/2005 diterima.

Bentuk hubungan antara kekuatan otot punggung dengan hasil smash

normal dapat digambarkan dengan persamaan regresi yang diperoleh.

Berdasarkan hasil analisis melalui perhitungan komputasi program SPSS

diperoleh persamaan regresi seperti tersaji pada tabel 7 berikut ini :

Tabel 8

Koefisien Regresi Kekuatan Otot Punggung dengan Hasil Smash Normal

Berdasarkan tabel 8 di atas maka persamaan regresi antara kekuatan

otot punggung dengan hasil smash normal adalah Yˆ = 25,383 + 0,492X2.

bertanda positif maka bentuk hubungan antara kekuatan otot punggung

dengan hasil smash normal adalah hubungan yang postif. Hal ini berarti

bahwa setiap terjadi kenaikan kekuatan otot punggung sebesar 1 point, akan

diikuti pula kenaikan hasil smash normal sebesar 0,492 point pada konstanta

27,928. Dengan kata lain untuk memperoleh hasil smash normal yang

optimum, dibutuhkan kekuatan otot punggung yang tinggi, begitu juga dengan

sebaliknya.

3. Hubungan Kekuatan Otot Lengan dengan Hasil Smash Normal

Hipotesis yang ketiga berbunyi: ada hubungan antara kekuatan otot

lengan dengan hasil smash normal dalam permainan bola voli pada siswa

putera kelas II SMA Negeri di Kabupaten Pekalongan Tahun Ajaran

2004/2005. Hasil uji hipotesis dengan menggunakan analisis regresi korelasi

tersebut dapat dilihat pada output SPSS berikut ini.

Tabel 9

Koefisien Korelasi antara Kekuatan Otot Lengan dengan Hasil Smash Normal

Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh koefisien korelasi antara

kekuatan otot lengan dengan hasil smash normal sebesar 0,542. Uji keberatian

koefisien korelasi tersebut dilakukan dengan cara mengonsultasi harga rhitung

dengan r product moment. Pada α = 5% dengan N = 126 diperoleh rtabel = 0,176. Karena koefisien korelasi tersebut lebih besar dari rtabel, berarti

koefisien korelasi tersebut signifikan sehingga Ha berbunyi ada hubungan

antara kekuatan otot lengan dengan hasil smash normal dalam permainan bola

voli pada siswa putera kelas II SMA Negeri di Kabupaten Pekalongan Tahun

Ajaran 2004/2005 diterima.

Bentuk hubungan antara kekuatan otot lengan dengan hasil smash

normal dapat digambarkan dengan persamaan regresi yang diperoleh.

Berdasarkan hasil analisis melalui perhitungan komputasi program SPSS

diperoleh persamaan regresi seperti tersaji pada tabel 9 berikut ini :

Tabel 9.

Koefisien Regresi Kekuatan Otot Lengan dengan Hasil Smash Normal

Berdasarkan tabel 9 di atas maka persamaan regresi antara kekuatan

otot punggung dengan hasil smash normal adalah Yˆ = 22,924 + 0,542X3.

Melalui persamaan tersebut, dimana koefisien regresi yang diperoleh adalah

bertanda positif maka bentuk hubungan antara kekuatan otot lengan dengan

hasil smash normal adalah hubungan yang postif. Hal ini berarti bahwa setiap

terjadi kenaikan kekuatan otot lengan sebesar 1 point, akan diikuti pula

kenaikan hasil smash normal sebesar 0,542 point pada konstanta 22,924.

Dengan kata lain untuk memperoleh hasil smash normal yang optimum,

Dalam dokumen skripsi pendidikan (Halaman 75-80)

Dokumen terkait