• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN KELEMBAGAAN

Dalam dokumen Triwulan I LAPORAN TRIWULANAN TRIWULAN I (Halaman 94-97)

PERLINDUNGAN KONSUMEN

D. Penyelesaian Layanan Konsumen

2. Roadmap Market Conduct

2.7 HUBUNGAN KELEMBAGAAN

Sesuai dengan sistem ketatanegaraan Republik Indonesia, kedudukan OJK sebagai lembaga negara tidak sejajar dengan lembaga tinggi negara lain seperti Dewan Perwakilan Rakyat dan Badan Pemeriksa Keuangan. Kedudukan OJK juga tidak sama dengan Kementerian, mengingat kedudukan OJK yang berada di luar pemerintahan. Adapun status dan kedudukan khusus tersebut diperlukan agar OJK dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagai

lembaga yang independen. Walau demikian, OJK tetap memiliki hubungan kerja dan koordinasi yang baik antar lembaga dengan DPR, BPK, Pemerintah, BI, LPS, serta pihak lainnya. Hubungan baik dan koordinasi antar lembaga tentunya tidak dapat dihindari demi tercapainya tujuan OJK secara optimal.

2.7.1 Kerjasama Domestik

OJK secara aktif mengadakan koordinasi antar lembaga dengan tujuan menjalin kerjasama strategis yang dapat mendukung pencapaian OJK di masa mendatang. OJK melakukan empat penandatanganan kerjasama domestik sebagai berikut:

No. Kerjasama Domestik Ringkasan Kerjasama

1 Penandatanganan nota kesepahaman

OJK dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengenai program Percepatan Pengembangan Energi Baru, Energi Terbarukan Dan Konservasi Energi Melalui Peningkatan Peran Lembaga Jasa Keuangan.

Pelaksanaan koordinasi teknis dalam rangka meningkatkan peran Lembaga Jasa Keuangan dalam pengembangan Energi Baru, Energi Terbarukan, dan Konservasi Energi yang meliputi:

a. Mengkoordinasikan dan mendorong kebijakan; b. Melakukan pertukaran informasi dan data; c. Mengkoordinasikan badan usaha dan pengelola

yang bergerak di bidang Energi Baru, Energi Terbarukan, dan Konservasi Energi dengan Lembaga Jasa Keuangan;

d. Melaksanakan edukasi dan sosialisasi; dan e. Melaksanakan kegiatan dan koordinasi lainnya.

2 Penandatanganan nota kesepahaman BI, MA

dan OJK mengenai Penguatan Koordinasi dan Kerjasama Peningkatan Wawasan Hakim.

Kerjasama untuk saling bertukar informasi, sosialisasi dan fasilitasi terkait aspek aspek hukum yang bersinggungan dengan pelaksanaan tugas Bank Indonesia maupun OJK. Koordinasi dan kerjasama diwujudkan dalam bentuk kegiatan pelatihan dan temu wicara kepada para hakim.

No. Kerjasama Domestik Ringkasan Kerjasama

3 Penandatanganan nota kesepahaman

OJK Dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengenai Kerjasama pengembangan sektor jasa keuangan, peningkatan literasi keuangan, dan pengembangan lembaga keuangan mikro syariah.

Pelaksanaan koordinasi teknis yang meliputi: 1. Sosialisasi dan literasi produk dan layanan

keuangan;

2. Peningkatan akses dan distribusi produk-produk keuangan;

3. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor jasa keuangan;

4. Asistensi perizinan LKM syariah; dan 5. Pengembangan jasa keuangan syariah.

4 Penandatanganan nota kesepahaman

OJK dan KPK mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi di Sektor Jasa Keuangan.

Pelaksanaan tugas dan kewenangan masing-masing Sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan, meliputi

1. Pertukaran data dan/atau informasi;

2. kerjasama dalam penerapan program pencegahan tindak pidana korupsi serta bantuan sebagai narasumber dalam pelaksanaan kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama atau masing-masing,

3. Bantuan OJK sebagai ahli dalam Penanganan perkara tindak Pidana korupsi di sektor jasa keuangan.

Disamping penandatanganan kerjasama antar lembaga, OJK juga menjalin hubungan kelembangan dengan menyelenggarakan 42 kegiatan kelembagaan bersama yang melibatkan beberapa lembaga negara, antara lain:

1. Dewan Perwakilan Rakyat; 2. Kementerian Keuangan; 3. Bank Indonesia;

4. Lembaga Penjamin Simpanan; 5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; 6. Pemerintah Daerah; dan

7. Industri Jasa Keuangan.

Kegiatan kelembagaan yang telah dilakukan mencakup antara lain Focus Group Discussion (FGD) mengenai Protokol Pelaksanaan Di Bidang Jasa Keuangan Dalam Persetujuan Kerangka Kerja ASEAN, FGD mengenai Rancangan

Undang-Undang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK), pendampingan kunjungan kerja DPR, sosialisasi mengenai peran, fungsi, dan kinerja OJK bekerja sama dengan lembaga lain, serta tatap muka dan diskusi denga para pelaku Industri Jasa Keuangan melalui acara

Financial Executive Gathering (FEG).

2.7.2 Kerjasama Internasional

Peningkatan Kerjasama Kelembagaan dengan Pengawas Industri Jasa Keuangan Asing

Pada triwulan I-2016, OJK berkomitmen untuk menjalin kerjasama dalam rangka penyusunan

Bilateral Agreement dalam rangka penerapan

penandatanganan Letter of Intent dengan Bank of Thailand pada 31 Maret 2016.

Sebelumnya, OJK memperluas kerja sama internasional dengan menyepakati Nota Kesepahaman dengan Bank Sentral Timor Leste -Banco Central de Timor-Leste (BCTL) di Dili, Timor Leste, pada 22 Maret 2016 mengenai pertukaran informasi dan peningkatan kapasitas pengawasan di bidang sektor jasa keuangan, pengawasan operasional lintas batas serta pengembangan inklusi keuangan.

Untuk meningkatkan kapasitas pengawasan industri jasa keuangan, OJK memperluas kerja sama dengan Australia di sektor jasa keuangan, dengan menggandeng Australian Centre for Financial Studies - Monash University (ACFS) dan Pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia. Kerja sama dengan dua institusi itu dilakukan untuk peningkatan kapasitas kemampuan pegawai OJK dan industri jasa keuangan Indonesia serta untuk meningkatkan kemudahan lembaga keuangan Indonesia membuka kantor di Victoria.

Untuk meningkatkan hubungan perdagangan antara Indonesia dan Taiwan, OJK menyambut baik penandatangan Letter of Intent (LOI) dalam bidang keuangan antara Kamar Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan dengan Taiwan Economic and Trade Office (TETO) di Jakarta. Hal ini akan mendukung koordinasi antara OJK dengan Financial Supervisory Commission Taiwan, yang diperlukan karena sudah ada kehadiran institusi perbankan Taiwan di Indonesia, dan terdapat potensi ekonomi yang besar yang perlu difasilitasi oleh lembaga keuangan di kedua negara.

Kerjasama Regional

Pada kawasan ASEAN, OJK berpartisipasi aktif dalam penyusunan Protokol 7 dalam Implementasi Komitmen Sektor Jasa Keuangan ASEAN (ASEAN Framework Agreement on

Services), di mana terdapat peningkatan

komitmen Indonesia, khususnya pada industri perasuransian.

Pembentukan OJK PROKSI - Pusat Pengembangan Keuangan Mikro dan Inklusi

OJK meluncurkan Pusat Pengembangan Keuangan Mikro dan Inklusi atau OJK PROKSI sebagai pusat pengembangan keuangan mikro dan inklusi keuangan di Indonesia, Jakarta, pada 15 Maret 2016. Peluncuran “OJK PROKSI” diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad, dan jajaran Dewan Komisioner OJK lainnya. Peresmian OJK PROKSI juga dirangkaikan dengan Seminar Internasional Keuangan Mikro dan Inklusi Keuangan bertajuk Keuangan Mikro dan Inklusi Keuangan Indonesia untuk Dunia. OJK PROKSI akan mengembangkan pengetahuan dan menyediakan terobosan-terobosan model bisnis di bidang keuangan mikro dan inklusi keuangan yang tidak hanya ditataran konsep tetapi benar-benar implementatif yang dapat digunakan baik oleh para pelaku industri, ahli keuangan, akademisi, dan komunitas global.

Pelaksanaan workshop Internasional Pengawasan Terintegrasi - kerjasama antara OJK, APRA, AIPEG, dan Toronto Center

OJK menyelenggarakan program pelatihan pengawasan terintegrasi yang merupakan kerjasama antara OJK, APRA, AIPEG dan Toronto Center.

Program pelatihan ini juga merupakan tindak lanjut dari pertemuan APRA dan OJK pada tanggal 10 September 2015 terkait GPF Program Tahun 2016 dimana salah satu program yang disepakati adalah penyelenggaraan program pelatihan pengawasan terintegrasi.

Penerimaan Kunjungan Delegasi Bank Sentral Mesir dan Etiopia. Kunjungan Delegasi Bank Sentral Mesir (Central bank of Egypt/CBE) kepada OJK dalam rangka studi banding mengenai upaya penanggulangan penghindaran bea masuk produk impor dan

Tabel II - 30 Penilaian Stabilitas dan Pengembangan Sistem Keuangan dalam FSAP

Principles Grading

BCP compliant, largerly compliant, materially non-compliant, bon compliant, dan not applicable

IOSCO Principles fully implmented, broadly implemented, partly implemented, not implemented, dan not applicable

ICPs observed, largely observed, partly observed, not observed, dan not applicable

Selain itu, Central Bank of Ethiopia melakukan studi banding ke OJK pada 26 – 29 Januari 2016 dengan topik mengenai pangaturan, pengawasan, dan perizinan perbankan, pasar modal syariah, Lembaga Keuangan Mikro, dan IKNB syariah, serta kunjungan ke BRI.

2.7.3 Isu-Isu Internasional

1. Financial Sector Assessment Program

Dalam dokumen Triwulan I LAPORAN TRIWULANAN TRIWULAN I (Halaman 94-97)