• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelembagaan BPR 1) Perizinan

Dalam dokumen Triwulan I LAPORAN TRIWULANAN TRIWULAN I (Halaman 57-60)

Tinjauan Operasional

F. Kelembagaan BPR 1) Perizinan

3) Uji Kemampuan dan Kepatutan (New

Entry)

Selama periode laporan, terdapat 37 pemohon Fit & Proper Test New

Entry yang lulus mengikuti proses

wawancara yang terdiri dari dua anggota Pemegang Saham Pengendali atau Pemegang Saham Pengendali Terakhir (PSP/PSPT), 10 anggota Dewan Komisaris dan 25 anggota Direksi. Dari 37 yang lulus proses wawancara tersebut, 41 peserta mendapatkan Surat Keputusan Lulus, dimana empat diantaranya merupakan carry over dari triwulan sebelumnya.

Tabel II - 9 FPT Calon Pengurus dan PSP Bank Umum Selama Triwulan I-2016

New Entry

Wawancara Surat Keputusan (SK) FPT Jumlah Tidak Ditindak-lanjuti Tri wulan I-2016 Lulus Tidak

Lulus Lulus Tidak Lulus

PSP/PSPT 2 0 0 0 0 2 Dewan Komisaris 10 0 12 0 8 30 Direksi 25 1 29 1 10 66 Total 37 1 41 1 18 98 F. Kelembagaan BPR 1) Perizinan

Pada triwulan I-2016, terdapat 25 permohonan yang diproses yang terdiri dari 17 BPR dalam pengawasan

Grafik II - 5 Jaringan Kantor BPR Jawa 56,57% Bali-NTB-NTT 4,52% Kalimantan 3,20% Sulampua 9,88% Sumatera 25,83%

2.2.2 Pengawasan Pasar Modal

A. Pengawasan Lembaga dan

Transaksi Efek

1) Pengawasan Transaksi Saham

Sampai akhir periode laporan, terkait Pengawasan Transaksi Efek, OJK melakukan monitoring terhadap 37 saham atas hasil pantauan laporan harian, mingguan, dan bulanan perdagangan yang diindikasikan tidak wajar dengan hasil dua saham telah ditindaklanjuti ke proses penelaahan dan 10 saham telah diputuskan untuk dicabut, serta 25 saham sedang dilakukan monitoring.

OJK juga melakukan penelahaan terhadap dua saham sebagai tindak lanjut dari hasil kegiatan monitoring

unusual market activity. Terkait dengan

pemeriksaan teknis, OJK melakukan pemeriksaan terhadap satu saham sebagai tindak lanjut dari proses penelaahan untuk membuktikan

Tabel II - 10 Perizinan BPR

Perijinan BPR Triwulan I-2016

Pendirian BPR 3

Merger BPR 3

Konsolidasi BPR 0

BPR dalam Pengawasan Khusus 17 Pencabutan Izin Usaha 2

Konversi Syariah 0

Total 25

Sumber: SIMWAS BPR, Maret 2016

Tabel II - 11 Daftar Hasil Fit and Proper Test

New Entry BPR

Perijinan BPR Triwulan I-2016 Lulus Tidak Lulus Total

Pendirian BPR 35 15 50 Merger BPR 36 11 47 Konsolidasi BPR 1 0 1 Total 72 26 98 Sumber: SIMWAS BPR 2) Jaringan Kantor

Jumlah BPR pada triwulan I-2016 masih sama dengan triwulan sebelumnya yaitu sebanyak 1.635 BPR. Adapun jumlah jaringan kantor dari 1.635 BPR tersebut berjumlah 6.024 kantor bertambah 924 kantor dibandingkan triwulan IV-2015. Penambahan jumlah kantor terdapat di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulampua.

Penyebaran jaringan kantor pada lima wilayah di Indonesia masih belum merata, yaitu masih terpusat di pulau Jawa (56,57% atau 3.408 kantor), diikuti pulau Sumatera (25,83% atau 1556 kantor), pulau Bali-NTB-NTT (4,52% atau 272 kantor), pulau Sulampua (9,88% atau 595 kantor), dan pulau Kalimantan (3,20% atau 193 kantor). khusus, tiga proses pendirian BPR, tiga proses merger BPR, dan dua proses pencabutan izin usaha.

Sumber: Laporan Kantor Pusat Bank Umum (LKPBU), Maret 2016

3) Uji Kemampuan dan Kepatutan (New

Entry)

Pada triwulan I-2016, telah dilakukan

Fit and Proper Test New Entry kepada

98 calon pengurus BPR dan PSP BPR dengan hasil 72 calon Pengurus/PSP BPR yang mendapatkan persetujuan untuk menjadi Direksi, Komisaris dan PSP dan 26 calon Pengurus/PSP BPR yang ditolak.

adanya indikasi transaksi semu, manipulasi perdagangan dan/atau perdagangan orang dalam.

2) Pengawasan Transaksi Surat Utang dan Efek Lainnya.

Terkait dengan pengawasan transaksi Surat Utang dan Efek lainnya, selama periode laporan, OJK melakukan penelaahan atas laporan dari Penerima Laporan Transaksi Efek (PLTE) bulan Januari, Februari dan Maret berupa keterlambatan pelaporan transaksi Efek masing-masing oleh 14, 18, dan 16 Partisipan. Total frekuensi keterlambatan pelaporan sebanyak 442 kali. OJK juga melakukan review

alert pada bulan Januari dan Februari

yang menghasilkan 6.966 alert obligasi pemerintah, 3.201 alert obligasi korporasi dan 172 alert waran. Saat ini sedang dilakukan monitoring terhadap tujuh obligasi pemerintah, 11 obligasi korporasi dan tiga waran.

OJK juga melakukan permintaan keterangan atas permohonan pembatalan pelaporan transaksi obligasi pada sistem PLTE oleh 15 Partisipan yang terdiri dari 461 transaksi. Jumlah pelaporan transaksi obligasi yang disetujui pembatalannya sebanyak 21 transaksi. Terkait dengan penelaahan, OJK melakukan penelaahan atas laporan bulanan mengenai kecenderungan Pasar Surat Utang dari Indonesia Bond Pricing

Agency (IBPA).

3) Pengawasan terhadap Self Regulatory

Organization, Lembaga Penilai

harga Efek dan Penyelenggara Dana Perlindungan Pemodal

Selama periode laporan, OJK melakukan pengawasan terhadap

Self Regulatory Organization (SRO),

Lembaga Penilai Harga Efek (LPHE)

dan Penyelenggara Dana Perlindungan Pemodal (PDPP) telah melaksanakan hal-hal sebagai berikut: melakukan analisis dan menyampaikan tanggapan atas Laporan Realisasi Anggaran dan Rencana Kerja triwulan IV-2015 PT BEI, PT KPEI, PT KSEI dan PT P3IEI; dan melakukan analisis dan menyampaikan penetapan Apresiasi Kinerja bagi Direksi dan Komisaris PT BEI, dan PT KSEI.

Selama periode laporan, OJK juga melakukan analisis dan menyampaikan Penetapan Jumlah Kebutuhan dan Jabatan Direktur PT KSEI; melakukan analisis dan menyampaikan Tanggapan atas Rencana Perubahan Struktur PT BEI; melakukan analisis dan menyampaikan Tanggapan terhadap Program Kerja

Quick Win BEI serta penyampaian

surat pemberitahuan pada PT KSEI untuk melakukan pelaporan harian secara elektronik melalui sistem

e- reporting.

4 Pengawasan Perusahaan Efek

Terkait pelaksanaan pengawasan Perusahaan Efek, OJK memberi persetujuan terhadap 16 perubahan susunan direksi, tujuh perubahan susunan komisaris, dan satu perubahan pemegang saham. Selain itu, OJK juga memberi persetujuan terhadap satu persetujuan peningkatan modal dasar dan modal disetor yang diajukan oleh Perusahaan Efek.

OJK melakukan analisis dan pemantauan atas laporan Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) terhadap 140 Perusahaan Efek dengan rata-rata total MKBD mengalami kenaikan sebesar 25,8% menjadi Rp16,9 triliun. Kenaikan tersebut disebabkan oleh kenaikan nilai aset lancar industri yang lebih besar dari pada kenaikan liabilitas industri.

OJK juga melakukan analisis dan pemantauan atas 11 Perusahaan Efek yang melakukan Penjaminan Emisi Efek terhadap tujuh Emiten. Terkait dengan kegiatan pemantauan terhadap laporan bulanan atas Laporan Kegiatan Perantara Pedagang Efek (LKPPE) periode bulan Desember 2015 sampai dengan LKPPE periode bulan Februari 2016, terdapat 12 Perusahaan Efek (PE) yang belum menyampaikan LKPPE dan dua PE yang terlambat menyampaikan LKPPE.

5) Pemeriksaan Kepatuhan Self

Regulatory Organization, Lembaga

Penilai Harga Efek dan Penyelenggara Dana Perlindungan Pemodal

Sampai akhir periode laporan, OJK melakukan pemeriksaan kepatuhan terhadap PT Bursa Efek Indonesia (BEI), dimana pemeriksaan difokuskan pada aspek perdagangan efek, pengembangan dan perencanaan strategis serta organisasi. OJK juga melakukan penyusunan Laporan Hasil Pemeriksaan PT Bursa Efek Indonesia. 6) Pemeriksaan Kepatuhan Perusahaan

Efek

Pada periode laporan, OJK melakukan pemeriksaan kepatuhan terhadap satu Perusahaan Efek Non Anggota Bursa dimana pemeriksaan tersebut untuk memastikan tingkat kepatuhan Perusahaan Efek terhadap ketentuan perundang-undangan Pasar Modal yang berlaku.

7) Pemeriksaan Teknis

Terkait dengan pemeriksaan teknis, OJK menerima empat pengaduan yang terkait dengan Pasar Modal dimana satu telah selesai dilakukan penelaahan, sedangkan tiga pengaduan lainnya dalam proses penanganan.

B. Pengawasan terhadap Pengelolaan

Dalam dokumen Triwulan I LAPORAN TRIWULANAN TRIWULAN I (Halaman 57-60)