• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Budaya Kaizen

2.4 Hubungan Kerja

2.4.1 Pengertian Hubungan Kerja

UU Nomor 13 Tahun 2003 mendefinisikan hubungan kerja sebagai hubungan antara pengusaha dengan pekerja atau buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upaya dan pemerintah. Menurut Widodo dan Judiantoro (1992 :10) hubungan kerja adalah kegiatan – kegiatan pengerahan tenaga/jasa seseorang secara teratur demi kepentingan orang lain yang memerintahkannya ( pengusaha atau majikan) sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Hubungan kerja juga dapat diartikan sebagai hubungan yang terjalin antara pengusaha dan pekerja ya ng timbul dari perjanjian yang diadakan untuk jangka waktu tertentu maupun tidak tertentu (Aloewic 1996 : 32).

2.4.2 Unsur – unsur Hubungan Kerja

Dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 unsur – unsur hubungan kerja meliputi: 1. Adanya Pekerjaan

Pekerjaan itu bebas sesuai dengan kesepakatan antara buruh dan majikan, asalkan tidak bertentangan dengan peraturan – peraturan perundang-undangan, kesusilaan, dan ketertiban umum. Di dalam hubungan kerja harus ada pekerjaan tertentu sesuai perjanjian karena itulah hubungan ini dinamakan hubungan kerja.

Di dalam hubungan kerja kedudukan majikan adalah pemberi kerja, sehingga ia berhak dan sekaligus berkewajiban memberikan perintah yang berkaitan dengan pekerjaannya. Kedudukan buruh sebagai pihak yang menerima perintah untuk melaksanakan pekerjaan. Dalam hubungan kerja ada satu pihak berhak memberikan perintah dan satu pihak menerima perintah. Dalam hal ini pengusaha/majikan berhak memberikan perintah dan pekerja berkewajiban mentaati perintah tersebut.

3. Adanya Upah

Upah adalah hak pekerja yang diterima dinyatakan dalam bentuk imbalan dari pemberi kerja kepada buruh/pekerja yang ditetapkan dan dibayarkan bedasarkan perjanjian kerja. Dalam hubungan kerja upah merupakan salah satu unsur pokok yang menandai adanya hubungan kerja.

2.4.3 Jenis Hubungan Kerja

Jenis hubungan kerja adalah sebagai berikut: 1. Hubungan Kerja Vertikal

Hubungan kerja vertical adalah hubungan kerja antara pimpinan dan bawahan.

2. Hubungan Kerja Horizontal

Hubungan kerja horizontal adalah hubungan kerja antara pejabat pada tingkat atau eselon yang sama.

Hubungan kerja antara pejabat yang berbeda induk unit kerjanya dan berbeda tingkat eselonnya.

4. Hubungan Kerja Fungsional

Hubungan kerja antara unit atau pejabat yang mempunyai bidang kerja sama. Tingkat atau unit eselon atau pejabat tersebut bisa sama atau tidak.

5. Hubungan Kerja Informatif

Hubungan kerja antar unit atau pejabat dengan tingkat atau bidang apapun untuk saling memberikan dan memperoleh informasi atau keterangan.

6. Hubungan Kerja Konsultatif

Hubungan kerja antar pejabat yang karena jabatannya berkepentingan melakukan konsultasi antar satu dengan yang lainnya.

2.5 Kepemimpinan

2.5.1 Pengertian Kepemimpinan

Dalam suatu organisasi, faktor kepemimpinan memegang peranan penting karena pemimpin itulah yang akan menggerakkan dan mengarahkan organisasi dalam mencapai tujuan dan sekaligus merupakan tugas yang tidak mudah karena harus memahami perilaku bawahan yang berdeda-beda.

Menurut Santosa (dalam Rivai 2013:4) Kepemimpinan sebagai usaha untuk mempengaruhi anggota kelompok agar mereka bersedia menyumbangkan kemampuannya lebih banyak dalam mencapai tujuan kelompok yang telah desepakati. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan

organisasi, memotivasi, perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya (Rivai, 2006 : 64).

Menurut Kartono (2005) Kepemimpinan didefenisikan sebagai suatu sikap seorang pemimpin yang memiliki kemampuan dalam mengadakan koordinasi, membuat konsep sekaligus menjabarkan tujuan – tujuan umum yang jelas, bersikap adil dan tidak berat sebelah, sanggup membawa kelompok kepada tujuan yang pasti dan menguntungkan, dan membawa pengikutnya kepada kesejahteraan. Menurut Siagian (dalam Sutrisno, 2009:213) Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, dalam hal ini para bawahannya sedemikian rupa sehingga orang lain itu mau melakukan kehendak pimpinan meskipun secara pribadi hal itu mungkin tidak disenanginya.

Dari berbagai pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkanbahwakepemimpinanmerupakan kemampuan seorang pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya agar mau berkerja sama untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

2.5.2 Fungsi Dan Tugas Pemimpin

Menurut Brantas (dalam Fahmi, 2014 : 40) agar kelompok kerja berjalan dengan efektif, pemimpin harus melaksanakan dua fungsi utama kepemimpinan yaitu :

a. Fungsi yang berhubungan dengan tugas (task – related) yaitu menyangkut pemberian saran penyelesaian, informasi, dan pendapat.

b. Fungsi pemeliharaan kelompok (group – maintenance) yaitu mencakup segala sesuatu yang dapat membantu kelompok berjalan lebih lancar.

Menurut Gerungan (dalam Sutrisno, 2009:219) Tugas utama pemimpin adalah : 1. Memberi struktur yang jelas terhadap situasi-situasi rumit yang dihadapi

kelompok.

2. Mengawasi dan menyalurkan tingkah laku kelompok.

3. Merasakan dan menerangkan kebutuhan kelompok pada dunia luar, baik mengenai sikap-sikap, harapan, tujuan, dan kekhawatiran kelompok.

2.5.3 Tipe Kepemimpinan

Terdapat lima tipe kepemimpinan yang disesuaikan dengan situasi menurut Siagian (2002), yaitu:

1. Tipe pemimpin yang otokratik

Seorang pemimpin yang otokratik ialah seorang pemimpin yang: a. Menganggap organisasi sebagai milik pribadi

b. Mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi c. Menganggap bahwa sebagai alat semata-mata

d. Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat e. Terlalu tergantung pada kekuasaan formalnya

f. Dalam tindaknya penggeraknya sering mempergunakan approach yangmengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum

Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud seorang pemimpin tipe militeristik berbeda dengan seorang pemimpin modern. Seorang pemimpin yang bertipe militeristik ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat:

a. Dalam menggerakan bawahannya sistem perintah yang sering dipergunakan

b. Dalam menggerakan bawahannya senang bergantung pada pangkat dan jabatan

c. Senang kepada formalitas yang berlebih-lebihan d. Disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahannya 3. Tipe pemimpin yang paternalistik

a. Menganggap bahwa sebagai manusia yang tidak dewasa b. Bersikap terlalu melindungi

c. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan

d. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil inisiatif

e. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasi

f. Sering bersikap mau tahu 4. Tipe pemimpin yang kharismatik

Harus diakui bahwa untuk keadaan tentang seorang pemimpin yang demikian sangat diperlukan, akn tetapi sifatnya yang negatif mengalahkan sifatnya yang positif.

5. Tipe pemimpin yang demokratik

Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern karena:

a. Ia senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritikan dari bawahan b. Selalu berusaha mengutamakan kerjasama teamwork mencapai tujuan c. Selalu berusaha menjadikan lebih sukses dari sebelumnya

d. Selalu berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin

2.5.4 Sifat – Sifat Pemimpin

Menurut Kartono (2005 : 47) sifat-sifat pemimpin terdiri dari : 1. Kekuatan

Kekuatan badaniah dan rohaniah merupakan syarat pokok bagi pemimpin yang harus bekerja lama dan berat pada waktu-waktu yang lama serta tidak teratur, dan ditengah-tengah situasi yang sering tidak menentu.

2. Stabilitas emosi

Pemimpin yang baik itu memiliki emosi yang stabil, artinya seorang pimpinan tidak mudah tersinggung perasaan dan tidak meledak-ledak secara emosional. 3. Pengetahuan tentang relasi insani

Seorang pemimpin harus memajukan dan mengembangkan semua bakat serta potensi anggotanya, untuk dapat bersama-sama maju dan merasakan

4. Kejujuran

Pemimpin yang baik harus memiliki kejujuran yang tinggi, yaitu jujur pada diri sendiri dan pada orang lain (terutama bawahannya).

5. Objektif

Pertimbangan pemimpin itu harus berdasarkan hati nurani yang bersih, supaya objektif (tidak subjektif, berdasarkan prasangka sendiri).

6. Dorongan pribadi

Keinginan dan kesesuaian untuk menjadi pemimpin itu harus muncul dari dalam hati dan sanubari sendiri.

7. Keterampilan berkomunikasi

Pemimpin diharapkan mahir menulis dan berbicara, mudah menangkap maksud orang lain, cepat menangkap esensi pernyataan orang luar dan mudah memahami maksud para anggotanya.

8. Kemampuan mengajar

Pemimpin yang baik diharapkan dapat menjadi guru yang baik bagi bawahannya, mengajar secara sistematis dan intensional pada sasaran tertentu, guna mengembangkan pengetahuan dan keterampilan para pengikutnya. 9. Keterampilan sosial

Seorang pemimpin harus dapat bersikap ramah, terbuka, dan mudah menjalin persahabatan berdasarkan rasa saling percaya dan mempercayai.

Pemimpin harus superior dalam satu atau beberapa kemahiran tekhnis tertentu, juga memiliki kemahiran manajerial untuk membuat rencana, mengelola, menganalisis keadaan, dan membuat keputusan yang baik.

2.5.5 Ciri-Ciri Kepemimpinan

Menurut Davis (dalam Reksohadiprojo dan Handoko 2003:290-291) ciri-ciri utama yang harus dimilki oleh seorang pemimpin adalah :

1. Kecerdasan

Penelitian-penelitian pada umumnya menunjukan bahwa seorang pemimpin yang mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi daripada pengikutnya, tetapi tidak sangat berbeda.

2. Kedewasaan, Sosial dan Hubungan Sosial yang luas

Pemimpin cendrung mempunyai emosi yang stabil dan dewasa atau matang, serta mempunyai kegiatan dan perhatian yang luas.

3. Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi

Pemimpin secara relative mempunyai motivasi dan dorongan berprestasi yang tinggi, mereka bekerja keras lebih untuk nilai intrinsik.

4. Sikap-Sikap Hubungan Manusiawi

Seorang pemimpin yang sukses akan mengakui harga diri dan martabat pengikut-pengikutnya, mempunyai perhatian yang tinggi dan berorientasi pada bawahannya.

2.5.6 Perilaku Kepemimpinan

Staf peneliti dari tim Ohio merumuskan kepemimpinan sebagai suatu perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu grup ke arah pencapaian tujuan tertentu. Dalam hal ini pemimpin mempunyai dekripsi perilaku atas dua dimensi (Thoha, 2009 : 280).

1. Berorientasi pada tugas (initiating structure) , yaitu meliputi : a. Mengutamakan pencapaian tujuan

b. Menilai pelaksanaan tugas bawahan

c. Menetapkan batas-batas waktu pelaksanaan tugas d. Menetapkan standard tertentu terhadap tugas bawahan e. Memberi petunjuk-petunjuk kepada bawahan

f. Melakukan pengawasan secara ketat terhadap tugas 2. Berorientasi pada karyawan (consideration), yaitu meliputi:

a. Melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan b. Bersikap bersahabat

c. Membina hubungan kerjasama dengan baik d. Memberikan dukungan terhadap bawahan e. Menghargai idea atau gagasan

f. Memberikan kepercayaan kepada bawahan.

Dokumen terkait