BAB II. LATAR SOSIAL EKONOMI WARGA BUARAN I
C. Bentuk Modal Sosial Warga Tergusur Buaran I Pra Penggusuran
4. Hubungan Kerjasama dan Kepercayaan dengan Konsumen
Social Capital)
Selain melakukan hubungan kerjasama dengan agen, warga pun melakukan pelebaran interaksi dengan para konsumen. Konsumen adalah raja dalam transaksi jual
beli, dimana konsumen sebagai penentu keberhasilan seorang pedagang dalam mengembangkan usahanya. Konsumen juga sebagai modal akumulasi bagi para pedagang untuk belanja kebutuhkan barang dagang kembali. Selain itu, konsumen juga menyebabkan para pedagang atau pengusaha masih terus melanjutkan usaha atau malah sebaliknya. Begitu pula yang dirasakan warga Buaran I dengan usaha-usahanya. Warga sadar bahwa konsumen yang menentukan laris atau tidaknya usaha yang mereka jalani. Pada awal membangun usaha berbasis besi dan kayu, warga mengalami kesulitan, dikarenakan belum memiliki banyak konsumen, sedikit peminat dan belum menguasai pangsa pasar untuk menarik konsumen. Hari demi hari dilalui dengan penuh kesabaran dan perlahan mereka menemukan titik kenyamanan dalam melakukan usaha. Mereka pun mampu menarik hati masyarakat setempat untuk membeli besi dan kayu. Bahkan sampai menjadi langanan tetap dan hari demi hari sampai puluhan tahun membuka usaha, semakin banyak konsumen yang dimiliki.
Usaha yang dijalani warga Buaran I cukup lama, sehingga mereka telah merasakan asam garam kehidupan. Maka mereka pun telah memiliki bermacam konsumen dalam membeli besi atau kayu. Konsumen biasanya membutuhkan kayu untuk berbagai bentuk furniture, baik kursi, meja, lemari sampai membuat kusen. Sedangkan konsumen yang membutuhkan besi biasanya berupa plat, seng, pipa, siku, seling tower, lokfom dan konsumen dari dealer membutuhkan besi-besi tersebut untuk memperbaiki mobil yang keropos serta kawat untuk ngelas. Konsumen pun lebih memilih untuk membeli di warga Buaran I, karena harga yang ditawarkan jauh lebih
murah jika dibandingkan dengan di toko material. Para warga yang memiliki usaha tersebut sangat memahami, mengenal karakter dan kebutuhan setiap masing-masing konsumen, sehingga diantara mereka memberikan masukan maupun saran dalam hal kualitas barang yang dimiliki.
Apabila hubungan antara keluarga dan agen dapat menimbulkan kepercayaan, maka begitu pun dengan para konsumen. Warga yang memiliki usaha sangat memelihara kepercayaan dengan konsumen, jika tidak konsumen akan berpindah ke toko lain. Kepercayaan tersebut dalam hal memberikan harga spesial apabila konsumen membeli dalam jumlah banyak. Harga normal pun tidak memberatkan para konsumen dan barang yang didapat berkualitas. Hal inilah yang menjadi strategi warga untuk mengambil hati konsumen. Sebaliknya, konsumen pun percaya dengan barang yang dihasilkan dan memuaskan untuk kebutuhannya.
Kepercayaan yang terdapat dalam aktivitas warga tergusur Buaran I, mampu membentuk dan menjalin sebuah hubungan dengan jaringan sosialnya. Hal ini menjadi keuntungan bersama, seperti keluarga inti, sedaerah, tetangga, agen dan konsumen. Kepercayaan itu tumbuh karena memiliki jaringan dan hubungan yang baik, sehingga pihak-pihak yang bersangkutan merasa lebih mudah untuk menjalin kerjasama. Hubungan dan jaringan inilah yang membuat warga bertahun-tahun tinggal di Buaran I. Mulai dari tetangga sampai konsumennya menjalin hubungan kerjasama yang baik dan mampu mengubah perekonomian keluarga.
Tabel III.2
Jaringan dan Kepercayaan Pada Tiga Keluarga Tergusur Buaran I Bentuk
Jaringan dan Kepercayaan
Bapak Muklis Bapak Fawaid Bapak Rafi’i
Keluarga inti Terdapat interaksi dengan keluarga inti dalam hal membangun usaha dan berkehidupan sehari-hari. Tercipta suasana harmonis,
mempererat solidaritas dan saling membantu.
Terdapat pembagian peran antara bapak, ibu dan anak dalam menjalani usaha. Si bapak membantu dalam
penguatan hubungan dengan agen dan konsumen, memastikan penyediaan bahan baku dan
mempertahankan kepercayaan konsumen. Si ibu mengatur keuangan
dan membersihan bahan baku berupa besi.
Bapak Fawaid sebagai anak menjalankan usaha berbasis besi tersebut.
Membentuk hubungan kerjasama dan kekompakan antara keluarga inti. Pada akhirnya menimbulkan kepercayaan.
Tanggung jawab yang diberikan untuk
menjalankan tugas menjadi suatu bentuk kepercayaan.
Terdapat suasana harmonis dengan keluarga inti, sehingga mempererat solidaritas dan saling membantu.
Interaksi yang terjalin dengan keluarga inti dalam hal membangun usaha dan berkehidupan sehari-hari.
Keluarga Sedaerah & tetangga
Terdapat Komunitas Madura Bersatu dan Bapak Muklis menjadi ketua dalam komunitas tersebut.
Mempercayai keluarga sedaerah untuk membantu dalam usaha.
Hubungan sosial dengan warga Madura menimbulkan trust yang mampu memperluas jaringan dan interaksi dengan orang lain.
Memiliki hubungan kerjasama yang baik dengan tetangga, Mengikut kegiatan RT dan RW
Tergabung dalam Komunitas Madura Bersatu, sehingga menambah jaringan dan hubungan sosial dengan warga sekitar.
Saling membantu, memberi masukan dengan keluarga sedaerah maupun tetangga. Memiliki kedekatan dengan
tetangga dengan mengikuti kegiatan RT dan RW.
Pak Rafi’i bergabung dengan Komunitas Madura Bersatu.
Hal ini menambah jaringan dan hubungan sosial yang dimiliki baik dengan keluarga sedaerah pula dan warga sekitar.
Saling membantu, memberi masukan dengan keluarga sedaerah maupun tetangga. Memiliki kedekatan dengan
tetangga dengan mengikuti kegiatan RT dan RW.
Bentuk Jaringan dan Kepercayaan
Bapak Muklis Bapak Fawaid Bapak Rafi’i
Agen Agen membantu dan mempermudah berjalannya usaha ketiga keluarga tergusur Buaran I. Ketiga keluarga tersebut memperoleh bahan baku yang bagus dan murah, agen pun mendapat
keuntungan apabila pesanannya meningkat.
Hubungan kerjasama membuat interaksi diantara mereka semakin dekat.
Apabila warga mengalami kesulitan keuangan, agen pun membantu dengan memberikan tempo untuk membayar.
Hubungan kerjasama membentuk sebuah keterbukaan dan memudahkan ketiga keluarga untuk mendapatkan bahan baku usahanya.
Konsumen Konsumen menentukan laris atau tidaknya usaha ketiga keluarga tergusur Buaran I. Memberikan harga yang terjangkau.
Memahami, mengenal karakter dan kebutuhan setiap konsumen, sehingga diantara mereka memberikan masukan maupun sarapan dalam hal kualitas barang yang dimiliki.
Potongan harga diberikan apabila konsumen membeli dalam jumlah banyak. Konsumen percaya bahwa barang yang dihasilkan bagus dan memuaskan.
Sumber: Diolah Berdasarkan Hasil Temuan Penelitian, 2015
Pada Tabel III.2 terlihat bahwa ketiga keluarga tergusur Buaran I memiliki jaringan dan kepercayaan dengan keluarga inti, keluarga sedaerah dan tetang (bonding social capital), agen dan konsumen (bridging social capital). Hal ini pun memproduksi adanya modal sosial yang tertanam diantara ketiga keluarga tersebut. Fukuyama berpendapat bahwa modal sosial selalu menekankan pada dimensi yang lebih luas yaitu segala sesuatu yang membuat masyarakat bersekutu untuk mencapai tujuan bersama atas dasar kebersamaan dan diikat oleh nilai-nilai dan norma yang tumbuh dan dipatuhi.61 Norma dan nilai tidak nampak pada penjelasan, karena hanya berbentuk himbauan untuk menjaga kebersihan, keamanan dan ketertiban. Namun, keberadaan norma sangat penting dalam hubungan masyarakat. Serangkaian norma dan nilai
61 Jousari Hasbullah, Sosial Capital (Menuju Keunggulan Budaya Manusia), Jakarta, Penerbit: MR-United Press, 2006, hal. 8
informal yang dimiliki bersama diantara warga dalam suatu masyarakat dapat menjalin hubungan kerjasama.62 Akan tetapi keadaan berubah sejak terjadi penggusuran pada 2013 lalu. Mereka kehilangan hubungan dan jaringan sosial serta ekonomi diantara keluarga sedaerah, tetangga, agen dan juga konsumen. Warga tergusur Buaran I harus memulai dari awal kembali hubungan-hubungan tersebut. Modal sosial yang telah dimiliki sebelumnya menjadi strategi bertahan hidup mereka pasca penggusuran. Mereka memanfaatkan modal sosial untuk meningkatkan kualitas hidup dan penyelesaian masalah pasca penggusuran.
Tabel III.3
Modal Sosial Warga Tergusur Buaran I Bentuk Modal
Sosial
Keluarga Inti Keluarga Sedaerah dan Tetangga Agen/Penjual Konsumen Jaringan Sosial Bertukar pikiran dan tenaga Pembagian tugas dalam menjalankan usaha Membentuk Forum Komunikasi Warga Madura dengan tujuan menyambung silahturahmi Hubungan kerjasama yang baik dengan para tetangga Mendapat potongan dan harga spesial Agen mendapat akumulasi modal untuk berdagang kembali Mengetahui apa yang dibutuhkan konsumen Harga terjangkau Kepercayaan Bertanggung jawab atas tugas yang diberikan Saling membantu, bertukar pikiran, baik soal keuangan atau usaha Berbagi informasi dengan agen Memberikan potongan harga Kualitas bahan baku bagus Menjaga kualitas barang Harga terjangkau Memahami dan mengenal akan kebutuhan konsumen Norma Berupa himbauan untuk menjaga
kebersihan, keamanan dan ketertiban di lingkungan sekitar.
Tidak tertulis.
Sumber: Diolah Berdasarkan Hasil Temuan Penelitian, 2015
62 Francis Fukuyama., Op. Cit.
Berdasarkan Tabel III.3 memperlihatkan modal sosial warga tergusur Buaran I. Hubungan yang terjalin menimbulkan trust diantara para warga dan menjadi modal sosial untuk menjalani kehidupan. Kehidupan sosial dan ekonomi yang dibangun, membuat tiga keluarga tergusur Buaran I memiliki jaringan dan juga kepercayaan yang memproduksi adanya modal sosial. Mereka memiliki modal sosial dengan keluarga inti, sedaerah, tetangga, agen dan konsumen. Hal ini pun telah dibangun sangat lama dan cukup mapan.