• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Bertahan Hidup Pasca Penggusuran

Sumber: Analisis Peneliti Berdasarkan Hasil Temuan, 2015

Skema IV.3 terlihat bahwa strategi bertahan hidup yang dilakukan pada pasca penggusuran adalah pemanfaatan jaringan dan hubungan sosial yang telah dimiliki sebelumnya serta subsistensi. Jaringan dan hubungan sosial yang didasari atas trust membuat ketiga keluarga tergusur Buaran I mampu bertahan hidup pasca penggusuran. Mereka memafaatkan modal sosial yang dimiliki. Manfaat dari modal sosial pun dirasakan oleh mereka, tidak hanya bersumber dari adanya hubungan sosial antara keluarga dan tetangga (bonding social capital), tetapi juga hubungan sosial diluar keluarga dengan agen dan konsumen (bridging social capital). Terdapat rasa kepercayaan (trust) yang tumbuh baik diantara ketiga keluarga tergusur Buaran I dengan bonding dan bridging social capital yang dimiliki. Simmel mengatakan bahwa tanpa adanya saling percaya yang merata antara satu orang dengan orang lainnya,

Modal Sosial Kepercayaan (trust) Norma Jaringan Strategi Bertahan Hidup Pasca Penggusuran Level Rumah Tangga Pemanfaatan Jaringan dan Hubungan Sosial serta Subsistensi Hubungan Bonding Social Capital Hubungan Bridging Social Capital Keluarga Inti, Keluarga Sedaerah &

Tetangga

masyarakat itu sendiri akan disintegratif dan kepercayaan itu merupakan salah satu kekuatan yang paling penting dalam masyarakat.83 Norma memang tidak terlihat jelas pada hasil temuan, karena berbentuk himbauan kepada warga. Namun dari adanya bentuk modal sosial berupa jaringan dan kepercayaan telah memberikan manfaat yang cukup signifikan bagi keberlangsungan hidup mereka pasca penggusuran. Hubungan sosial yang terjalin mampu memperlancar strategi subsistensi para informan dalam bentuk meminjam uang, hutang dan pemberian secara suka rela.

Secara umum dapat dikatakan bahwa modal sosial yang dimiliki ketiga keluarga tergusur Buaran I, telah menjadi ‘perekat’ yang mampu mempertahankan kehidupan mereka. Meskipun mereka tinggal di lingkungan yang baru, daerah Kawasan, dengan kondisi seadanya dan keterbatasan sumber daya, mereka dapat memanfaatkan hubungan dan jaringan sosial, serta subsistensi yang di dalamnya terdapat trust untuk bertahan hidup di Jakarta. Terlebih mereka memiliki jaringan sosial dan kepercayaan dengan keluarga inti, sedaerah dan tetangga yang menjadi bonding capital sosial mereka. Keluarga menjadi sumber penting dari modal sosial, karena seseorang cenderung akrab dengan jaringan berdasarkan kekeluargaan, kekerabatan, kedaerahan dan tetangga. Pasca penggusuran pun ketiga keluarga tergusur Buaran I tinggal di lingkungan yang mayoritas warga asal Madura, meskipun hanya mampu menyewa rumah. Hal ini tidak menyulitkan mereka untuk beradaptasi dan

83 Robert M. Z. Lawang, Op. Cit., hlm. 40.

dapat menjalin hubungan sosial dengan baik, karena warga yang berasal dari Madura telah dianggap keluarga sedaerah, kerabat dan tetangga.

Pada kenyataannya perjuangan ketiga keluarga tergusur tidak terlepas dari keterlibatan pihak lain, yaitu agen dan konsumen. Mereka memiliki strategi bertahan hidup melalui pekerjaan apapun yang dapat dilakukan. Usaha yang digeluti berbasis besi dan pastilah warga membutuhkan hubungan dan jaringan sosial dengan agen serta konsumen. Mereka dianggap menjadi kunci dari keberhasilan usaha warga, karena mata pencaharian utama warga adalah jual beli besi. Lambat laun usaha di tempat baru kembali pulih, meskipun omset berkurang. Namun kondisi ini jauh lebih baik daripada saat penggusuran.

Selain itu, dapat dikatakan bahwa modal sosial mampu mengatasi dampak penggusuran yang dialami oleh ketiga keluarga tergusur Buaran I. Dampak penggusuran yang dirasakan ketiga keluarga tergusur Buaran I mulai dari sosial budaya, ekonomi dan psikologi. Dampak sosial budaya yang paling dirasakan adalah mengganggu kegiatan belajar anak, hilangnya hubungan sosial dan ekonomi yang terjalin dengan rekan dan tetangga, serta kebiasaan sekelompok warga pun tidak berfungsi. Sedangkan dampak ekonomi yang dirasakan adalah kehilangan tempat tinggal dan sumber mata pencaharian. Kemudian dampak psikologi adalah merasa tidak berdaya dan terasingkan dari kelompoknya. Dampak tersebut pun dapat teratasi dengan adanya modal sosial yang dimiliki. Hal ini terlihat dari kegiatan yang terjalin dengan keluarga inti, keluarga sedaerah dan tetangga yang menjadi bonding social capital dan agen dan konsumen yang menjadi bridging social capital.

Ketiga keluarga tergusur Buaran I dapat mempertahankan kehidupannya pada pasca penggusuran. Mereka memiliki tempat tinggal baru dan membangun kembali usaha di tempat baru yang dapat memulihkan kondisi ekonomi mereka. Hal ini pun tidak terlepas dari adanya jaringan dan hubungan sosial dengan bonding dan bridging social capital yang telah dimiliki sebelumnya. Ketiga keluarga tergusur Buaran I memiliki tempat tinggal baru di daerah Kawasan. Lokasinya pun tidak jauh dari lokasi sebelumnya, sehingga anak-anak mereka tetap mampu mengikuti kegiatan belajar mengajar di skeolah. Pada awal menempati tempat tinggal baru di daerah Kawasan, mayoritas warga berasal dari Madura. Ketiga keluarga tergusur Buaran I pun tidak asing dengan warga sekitar. Hal ini dapat membantu kondisi psikologis mereka, karena dianggap sebagai keluarga sedaerah dan tidak sulit untuk beradaptasi di lingkungan yang baru.

Selama tinggal di daerah Kawasan, terdapat kegiatan RT dan RW setempat. Kegiatannya pun relatif sama yaitu arisan, kerja bakti, kepanitiaan, PKK dan lainnya. Meskipun dengan tetangga yang berbeda, ketiga keluarga tergusur ini tetap mengikuti kegiatan yang ada guna mempererat silahturahmi dengan warga sekitar. Kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kepercayaan, kerjasama, hubungan sosial dan ekonomi. Kemudian terdapat norma berupa himbauan untuk menjaga kebersihan, keamanan dan ketertiban. Hal ini pun menjadi suatu kebiasaan warga di lingkungan tersebut untuk membayar iuran, sehingga mampu memulihkan kondisi sosial budaya ketiga keluarga. Selain itu, kegiatan arisan yang diikuti oleh para ibu dapat membantu mengatasi kondisi ekonomi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.