II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.10 Hubungan Keterbukaan Perdagangan dan Pertumbuhan Ekonomi 25
internasional sudah ada sejak zaman dahulu, namun dalam lingkup dan ruang yang masih terbatas. Perdagangan internasional berlangsung atas dasar saling percaya dan saling menguntungkan, mulai dari barter hingga transaksi jual-beli antara pedagang dari berbagai penjuru dunia. Menurut Halwani (2005), sebab-sebab yang mendorong perdagangan internasional adalah perbedaan potensi sumber daya alam (natural resources), sumber daya modal (capital resources), sumber daya manusia (human capital) dan kemajuan teknologi antarnegara. Sejumlah keunggulan khusus yang dimiliki oleh masing-masing negara akan dijadikan basis dalam meningkatkan perdagangan yang saling menguntungkan.
Teori pertumbuhan ekonomi dalam hubungannya dengan perdagangan dapat dilacak kembali pada teori keunggulan absolut oleh Adam Smith pada tahun 1776 dan teori keunggulan komparatif oleh David Ricardo pada tahun 1817 (Salvatore, 1997). Menurut teori keunggulan absolut (absolut advantage theory), jika sebuah negara lebih efisien daripada negara lain dalam memroduksi sebuah komoditas (memiliki keunggulan absolut), namun kurang efisien dibanding negara lain dalam memroduksi komoditas lainnya (memiliki kerugian absolut) maka kedua negara tersebut dapat memperoleh keuntungan dengan cara masing-masing
melakukan spesialisasi pada komoditas yang memiliki keunggulan absolut dan menukarkannya dengan komoditas yang memiliki kerugian absolut.
Sementara itu, menurut teori keunggulan komparatif (comparative advantage theory), meskipun sebuah negara kurang efisien dibanding negara lain dalam memroduksi kedua komoditas (tidak memiliki keunggulan absolut) maka kedua negara masih dapat melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak. Caranya adalah negara pertama harus melakukan spesialisasi dalam memroduksi dan mengekspor komoditas yang memiliki kerugian absolut lebih kecil (memiliki keunggulan komparatif) dan mengimpor komoditas yang memiliki kerugian absolut lebih besar atau memiliki kerugian komparatif.
Lebih lanjut, Eli Hecksher dan Bertil Ohlin dalam teorinya (factor-proportion theory) menekankan adanya saling keterkaitan antara perbedaan proporsi faktor-faktor produksi antarnegara dan perbedaan proporsi dalam penggunaannya untuk memroduksi berbagai macam barang. Teorema Hecksher-Ohlin (H-O theorem) menyatakan bahwa sebuah negara akan mengekspor komoditas yang produksinya lebih banyak menyerap faktor produksi yang relatif melimpah dan murah di negara itu, dan dalam waktu yang bersamaan mengimpor komoditas yang produksinya memerlukan sumber daya yang relatif langka dan mahal di negara tersebut.
Kemudian, Paul Samuelson menelaah sebuah teorema mengenai penyamaan harga faktor (price factor equalization theorem) yang merupakan kelanjutan dari teorema Hecksher-Ohlin. Pada intinya teorema tersebut (H-O-S theorem) menyatakan bahwa perdagangan internasional akan mendorong terjadinya penyamaan harga-harga faktor, baik secara relatif maupun secara absolut, di antara negara-negara yang terlibat di dalamnya. Artinya bahwa perdagangan internasional akan membuat tingkat upah riil tenaga kerja menjadi homogen, demikian pula terjadi pada tingkat hasil (bunga modal), yakni risiko dan produktivitas modal relatif sama, di negara-negara yang terlibat dalam perdagangan (Salvatore, 1997).
2.11 Penelitian Terdahulu
ketidakseimbangan neraca perdagangan di Amerika Serikat dan Jepang yang sangat besar. Sementara defisit perdagangan Amerika Serikat mencapai titik terendah, di lain pihak surplus transaksi berjalan Jepang mencapai titik puncaknya. Yang menjadi masalah adalah karena surplus ekspor Jepang sebagian besar bersumber dari pasar Amerika Serikat, sehingga Jepang menjadi sasaran utama kemarahan penduduk Amerika Serikat.
Beberapa pembuat kebijakan internasional menuding ketidakseimbangan transaksi berjalan tersebut sebagai penyebab utama meningkatnya defisit anggaran pemerintah di Amerika Serikat dan mengurangi defisit anggaran pemerintah Jepang. Dari hasil kajian teori berdasarkan data-data yang tersedia, tanpa dilakukan pengujian empiris, disimpulkan bahwa di Amerika Serikat defisit fiskal bukan merupakan penyebab terjadinya defisit perdagangan, tetapi karena ada faktor lain yaitu lonjakan investasi domestik akibat pemberlakuan keputusan pemotongan pajak yang memberikan banyak insentif investasi. Sedangkan untuk kasus negara Jepang didapatkan kesimpulan bahwa perubahan-perubahan dalam defisit anggaran pemerintah Jepang merupakan faktor penting yang sangat memengaruhi posisi transaksi berjalannya (Krugman dan Obstfeld, 2005).
Perbedaan hubungan defisit fiskal dan defisit perdagangan di kedua negara inilah yang menjadi awal kemunculan penelitian-penelitian berikutnya. Penelitian yang akan dilakukan ini tidak hanya menguji secara empiris hubungan kedua defisit pada masing-masing negara ASEAN+3, tetapi melakukan pengujian lebih lanjut tentang dampak yang ditimbulkan oleh kedua defisit terhadap pertumbuhan ekonomi, secara ringkas kajian penelitian terdahulu dapat dilihat pada Lampiran 1. Untuk lebih memperjelas, tinjauan penelitian terdahulu dibagi menjadi tiga bagian:
2.11.1 Defisit Fiskal dan Defisit Perdagangan
Penelitian yang dilakukan oleh Baharumshah, Lau dan Khalid (2006) menguji fenomena twin deficits hypothesis di empat negara ASEAN menggunakan metode VAR dengan data triwulanan dari tahun 1976:1-2000:4. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan tidak langsung antara defisit fiskal dan defisit perdagangan dalam jangka panjang, hubungan tersebut dijelaskan melalui variabel suku bunga dan nilai tukar. Di Thailand hubungan
yang terjadi adalah defisit fiskal memengaruhi defisit perdagangan, sedangkan di Indonesia arah hubungan adalah sebaliknya Indonesia menganut trade targeting. Sementara di Malaysia dan Filipina kedua defisit mempunyai hubungan kausalitas dua arah atau saling menyebabkan satu sama lain.
Ardiyanto (2006) melakukan penelitian mengenai hubungan defisit perdagangan dan defisit fiskal di Indonesia. Hasil analisis dengan metode VAR selama periode 1981-2004 menunjukkan bahwa suku bunga signifikan memengaruhi kedua defisit. Di Indonesia terdapat hubungan satu arah antara kedua defisit yaitu defisit perdagangan menyebabkan defisit fiskal, sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Baharumshah, Lau dan Khalid pada tahun 2006.
Penelitian yang serupa juga dilakukan oleh Bartolini dan Lahiri (2006) dengan menggunakan metode data panel Fixed Effect Model (FEM)pada negara-negara OECD tahun 1972-2003. Variabel yang digunakan adalah defisit fiskal, defisit perdagangan, konsumsi, tabungan, pertumbuhan penduduk dan hutang. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan defisit fiskal yang terjadi pada negara-negara OECD akan meningkatkan tingkat konsumsi dan mengurangi tabungan nasional. Selanjutnya peningkatan defisit fiskal sebesar 1 persen akan menyebabkan defisit perdagangan di negara yang bersangkutan meningkat sebesar 0,6 persen.
Chang dan Hsu (2006) melakukan studi “Causality Relationships Between the Twin Deficits in the Regional Economy”. Studi ini mengambil 5 negara Eropa (Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, Swedia), 4 negara macan Asia (Hongkong, Korea, Singapura, Taiwan) dan Amerika Serikat. Twin deficit hypothesisterbukti di semua negara yang diteliti, dengan kekuatan hubungan yang berbeda di masing-masing negara. Dengan obyek penelitian yang jauh lebih banyak yaitu 176 negara, Abbas et al (2010) melakukan pengujian dengan menggunakan dua metode ekonometrik yang berbeda sekaligus yaitu VAR dan panel data. Penelitian ini menggunakan lima variabel yaitu defisit fiskal, defisit perdagangan, PDB riil per kapita, keterbukaan perdagangan serta keterbukaan finansial dengan periode waktu dari tahun 1980-2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan dua metode ekonometrik yang berbeda ternyata
memberikan kesimpulan yang sama yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara kedua defisit. Kenaikan defisit fiskal 1 persen akan meningkatkan defisit perdagangan sebesar 0,2-0,3 persen.
2.11.2 Defisit Fiskal dan Pertumbuhan Ekonomi
Fatima, Ahmed dan Rehman (2011) melakukan penelitian tentang dampak defisit fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi di negara Pakistan dengan menggunakan data tahunan 1980-2009. Metode yang digunakan adalah persamaan simultan dan 2 Stage Least Square (SLS) dengan beberapa variabel penelitian yaitu pertumbuhan ekonomi, investasi, ekspor, impor, defisit fiskal, suku bunga, tingkat inflasi dan pertumbuhan populasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa defisit fiskal menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah di negara Pakistan. Penelitian yang serupa juga dilakukan oleh Adam dan Bevan pada tahun 2002 menggunakan metode data panel pada 45 Negara Sedang Berkembang (NSB). Variabel yang diteliti meliputi beberapa karakteristik pertumbuhan ekonomi seperti pertumbuhan pendapatan per kapita, pertumbuhan populasi, rasio investasi terhadap PDB dan beberapa karakteristik variabel fiskal seperti penerimaan pajak dan bukan pajak, bunga utang, utang neto, defisit fiskal, seigniorage. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang non linier antara defisit fiskal dan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan akan meng off-side defisit fiskal dan dampak defisit fiskal terhadap pertumbuhan bergantung pada cara pembiayaan defisitnya, apakah dengan utang atau denganseigniorage.
Keho (2010) juga melakukan penelitian tentang hubungan kausalitas antara defisit fiskal dan pertumbuhan ekonomi pada negara-negara di Afrika Barat (WAEMU Countries). Penelitian ini menggunakan metode Granger Causality seperti yang digunakan oleh Toda dan Yamamoto (1995) dengan data tahunan dari tahun 1980-2005. Hasil yang didapatkan bahwa pada 3 negara yaitu Cote d’Ivore, Senegal dan Togo tidak terdapat hubungan kausal antara defisit dan pertumbuhan (neutrality hypothesis), sementara di Niger terdapat hubungan kausal satu arah yaitu defisit fiskal menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi. Di tiga negara lainnya, Benin, Burkina faso dan Mali, terdapat hubungan kausalitas dua arah antara defisit fiskal dan pertumbuhan ekonomi serta defisit fiskal mempunyai efek yang negatif terhadap pertumbuhan.
Gupta et.al (2005) dalam studinya yang berjudul “Fiscal Policy, Expenditure Composition and Growth in Low Income Countries” dengan metode analisis Sys-GMM periode 1990-2000 mendapatkan hasil yang konsisten dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara penyesuaian fiskal dengan tingkat pertumbuhan per kapita. Penurunan 1 persen rasio defisit fiskal terhadap PDB akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi per kapita sebesar 0.5 persen.
2.11.3 Defisit Perdagangan dan Pertumbuhan Ekonomi
Penelitian yang dilakukan oleh Abmann pada tahun 2008 mengenai dampak defisit perdagangan dan krisis mata uang di negara-negara OECD memberikan hasil bahwa kedua variabel yaitu defisit perdagangan dan krisis mata uang mempunyai dampak yang negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Selain itu Tolo (2011) yang melakukan studi tentang “The Determinants of Economic Growth in the Philippines: a New Look” membandingkan kondisi perekonomian Filipina dengan 23 negaraemerging marketsternyata memperoleh kesimpulan yang sama. Dengan menggunakan metode panel GMM dan data tahunan dari tahun 1980-2009, beberapa variabel independen yang diteliti terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi baik di Filipina maupun di 23 negara lainnya. Variabel-variabel tersebut diantaranya adalah investasi, pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan, pertumbuhan populasi, trade openness, defisit fiskal, defisit perdagangan, ketidakpastian politik, serta frekuensi krisis. Secara khusus defisit fiskal dan defisit perdagangan mempunyai dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara tersebut.
Sedangkan pola pikir yang berbeda dikembangkan oleh Calderon dan Chong (2002) dengan meneliti apakah pertumbuhan ekonomi suatu negara mempunyai pengaruh terhadap kondisi defisit perdagangan di negara tersebut. Dua orang peneliti ini melakukan penelitian dengan mengambil sampel sebanyak 44 NSB dengan menggunakan metode ekonometrik GMM dari tahun 1966-1994. Penelitian ini memberikan beberapa kesimpulan yaitu defisit perdagangan hadir secara persisten, peningkatan pertumbuhan output domestik akan meningkatkan defisit perdagangan dan apresiasi mata uang juga akan meningkatkan defisit
kaya/industrialis justru akan mengurangi defisit perdagangan, karena bertambahnya permintaan produk ekspor dari negara kaya tersebut.
Hal yang serupa juga dilakukan oleh Aristovnik (2006) dengan melakukan pengujian pada negara-negara Eropa Timur dan Uni Soviet tentang hubungan antara defisit perdagangan dan pertumbuhan output domestik. Hasil yang didapat sejalan dengan penelitian sebelumnya, yaitu bahwa defisit perdagangan akan meningkat jika output domestik dan pengeluaran pemerintah meningkat melebihi batas kewajarannya. Bussiere, Fratzscher dan Muller (2004) dalam penelitiannya yang berjudul“Current Account Dynamic in OECD and EU Acceding Countries – an Intertemporal Approach” dengan metode panel GMM juga menyatakan bahwa negara-negara dengan pendapatan riil per kapita dan rasio investasi terhadap PDB yang tinggi justru akan meningkatkan defisit perdagangan.