• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Lingkungan Pekerjaan dengan Orientas

BAB VIII. ORIENTASI TUBUH WANITA DAN HUBUNGANNYA

8.2 Hubungan Karakteristik Sosiologis dengan Orientas

8.2.2 Hubungan Lingkungan Pekerjaan dengan Orientas

Lingkungan kerja adalah kondisi atau situasi yang menggambarkan suasana di lingkungan pekerjaan wanita bekerja. Lingkungan kerja meliputi tuntutan pekerjaan dan penilaian rekan kerja akan penampilan wanita bekerja. Tuntutan pekerjaan merupakan tekanan yang dirasakan wanita bekerja untuk melakukan sesuatu hal terkait dengan masalah penampilan sedangkan penilaian rekan kerja merupakan komentar atau pendapat dari rekan satu profesi mengenai penampilan wanita bekerja.

8.2.2.1 Hubungan Tuntutan Pekerjaan dengan Orientasi Tubuh Wanita Bekerja

Berdasarkan hasil uji Korelasi Rank Spearman diperoleh nilai -0,952 artinya antara tuntutan pekerjaan dengan orientasi tubuh wanita bekerja memiliki hubungan yang negatif(nyata), semakin tinggi tuntutan pekerjaan seseorang maka semakin rendah orientasi tubuh pada wanita yang bekerja. Data dilapangan menunjukan wanita yang memiliki citra tubuh negatif terbanyak yaitu wanita yang memiliki tuntutan kerja yang rendah (62,06%).

Tabel 21. Sebaran Responden Menurut Tuntutan Pekerjaan dan Citra Tubuh Wanita Bekerja di Kota Bogor Tahun 2009

Karakteristik tuntutan kerja

Citra tubuh (orang)

Total (orang) Persen (%) Positif (+) Persen (%) Negatif (-) Persen (%)

Tuntutan kerja rendah 11 37.93 18 62.06 29 48.33

Tuntutan kerja tinggi 12 38.70 19 61.29 31 51.66

Total 23 -- 37 - 60 100

Tuntutan pekerjaan merupakan tekanan yang dirasakan wanita bekerja untuk melakukan sesuatu hal terkait dengan masalah penampilan, seberapa besar tekanan yang dirasakan wanita bekerja untuk berpenampilan tertentu ditempat kerjannya akan semakin besar orientasi wanita tersebut terhadap orientasi tubuhnya. Hal ini bisa dilihat dari kutipan wanita bekerja sebagai berikut:

“…Kalau ke kantor emang biasanya aku pake make-up, udah terbiasa..lagipula memang diwajibkan dari kantor untuk berpenampilan menarik mbak...”(Ibu Yuni, Menteng)

“…Ngapain repot-repot lah teh kalo mau ke sawah, ntar juga bajunya kotor, repot nyucinya..”(Nyai, Cihideung Udik)

Tuntutan pekerjaan memang berpengaruh dalam penampilan seorang wanita bekerja, untuk memasuki lingkungan pekerjaan-pun ada kualifikasi tertentu yang mensyaratkan wanita berpenampilan menarik (Professional Beauty Qualification). Wanita dituntut berpenampilan menarik sebagai pencitraan positif dari karyawan perusahaan untuk meningkatkan citra perusahaan di masyarakat. Hal ini dapat diinterprestasikan bahwa untuk pekerjaan non-lapangan (tidak bekerja di sawah, kebun, atau ladang) wanita perkotaan cenderung dituntut lebih tinggi dalam hal tuntutan pekerjaan dibandingkan dengan wanita pedesaan yang bekerja di sektor pertanian.

8.2.2.2 Hubungan Rekan Kerja dengan Orientasi Tubuh Wanita Bekerja Berdasarkan hasil uji Korelasi Rank Spearman diperoleh nilai -0,604 artinya antara penilaian rekan kerja dengan orientasi tubuh wanita bekerja memiliki hubungan yang negatif (nyata), semakin tinggi penilaian rekan kerja seseorang maka semakin rendah orientasi tubuh pada wanita yang bekerja. Data menunjukan wanita yang memiliki citra tubuh negatif yaitu wanita yang penilaian rekan kerjanya rendah (64,10%).

Tabel 22. Sebaran Responden Menurut Karakteristik Penilaian Rekan Kerja dan Citra Tubuh Wanita Bekerja di Kota Bogor Tahun 2009

rekan kerja Positif (+) Persen (%) Negatif (-) Persen (%) (orang) (%) Penilaian rekan kerja

rendah 14 35.89 25 64.10 39 65

Penilaian rekan kerja

tinggi 9 42.85 12 57.14 21 35

Total 23 - 37 - 60 100

Penilaian rekan kerja merupakan komentar atau pendapat dari rekan satu profesi mengenai penampilan wanita bekerja. Penilaian ini bisa berisikan kritik, pendapat, nasihat, atau celaan dari rekan kerja ditempat wanita itu bekerja terhadap penampilan atau tubuh wanita tersebut. Orang-orang yang termaksud kedalam rekan kerja meliputi atasan, rekan satu profesi, dan bawahan. Semakin tinggi jabatan orang yang berkomentar menurut responden, semakin tinggi pula orientasi tubuh responden tersebut. Perbedaan tempat kerja mempengaruhi pula wanita bekerja menilai tubuhnya, yang dalam penelitian ini wanita bekerja di perkotaan kebanyakan bergerak di industri dan jasa, sedangkan wanita bekerja di perdesaan bergerak dibidang pertanian. Hasilnya, wanita bekerja perkotaan cenderung lebih terpengaruh akan penilaian rekan kerja dibandingkan wanita bekerja di wilayah pedesaan. Perbedaan dari lingkungan perkotaan dan pedesaan dapat dilihat dari kutipan berikut:

“..kalo bos komentar tentang penampilan saya, atau harus mengubah penampilan saya, saya cenderung ngikutin mbak, sama ajalah saya anggep sebagai tuntutan pekerjaan…”(Ibu Rina, Menteng)

“…perasaan ga ada yang komentar neng waktu disawah mah, kan penampilannya sama aja..hehe…”(Nyai, Cihideung Udik)

Perbedaan pendapat mengenai rekan kerja disebabkan oleh suasana dan aktifitas pekerjaan wanita bekerja di lingkungan kerja. Untuk pekerjaan yang didalam ruangan dan berhubungan dengan publik kebanyakan besar memang menuntut wanita agar berpenampilan menarik sehingga saran, pendapat ataupun kritikan dari rekan satu profesi berpengaruh terhadap penampilan mereka ditempat kerja, sebaliknya dengan wilayah pedesaan yang sebagian penduduknya bergerak dibidang pertanian dan perkebunan, faktor rekan kerja tidak berpengaruh terhadap gaya penampilan mereka ditempat kerja.

8.2.3 Hubungan Kelompok Sosial dengan Orientasi Tubuh Wanita Bekerja Berdasarkan hasil uji Korelasi Rank Spearman diperoleh nilai +0,438 artinya antara kelompok sosial dengan orientasi tubuh wanita bekerja memiliki hubungan yang positif (nyata), semakin tinggi kelompok sosial seseorang maka semakin tinggi orientasi

tubuh pada wanita yang bekerja. Data dilapangan menunjukan, wanita yang mendapat penilaian kelompok yang rendah mengalami citra tubuh yang negatif (68,18%).

Tabel 23. Sebaran Responden Menurut Pengaruh Kelompok dan Citra Tubuh Wanita Bekerja di Kota Bogor Tahun 2009

Karakteristik pengaruh kelompok

Citra tubuh (orang)

Total (orang) Persen (%) Positif (+) Persen (%) Negatif (-) persen (%) Pengaruh kelompok rendah 7 31.81 15 68.18 22 36.66 Pengaruh kelompok tinggi 16 42.10 22 57.89 38 63.33 Total 23 - 37 - 60 100

Dentifikasi kelompok sosial adalah bagaimana pengaruh orang lain dalam satu kelompok terhadap penampilan wanita bekerja di lingkungan sosialnya. Kelompok sosial yang berada dalam lingkungan sosial wanita bekerja yaitu arisan, pengajian, ataupun teman se-permainan. Dalam kelompok sosial individu akan membandingkan dirinya dengan orang lain, biasanya yang hampir serupa dengannya, kemudian individu akan mengevaluasi dirinya dengan subjek pembandingnya dan mulai melihat perbedaan atau kekurangan yang tidak sesuai dengan subjek pembanding. Dalam hal ini yang biasa dijadikan individu sebagai subjek pembanding adalah orang yang dikagumi individu, baik dari cara ia berjalan, berpenampilan maupun bentuk tubuhnya. Hal ini bisa dilihat dari kutipan berikut :

“…Saya suka dengan gaya ibu X, gayanya enak banget dilihat..fashionable banget, udah gitu badannya oke, soalnya dia suka latihan di tempat fitness..saya mah, mana sempet..”(Ibu Yuni, Menteng)

“…Yah, klo ditanya suka mah ada neng, tapi mau gimana lagi..kita mah pasrah aja udah kayak gini, semuanya udah diatur Allah…”(Nyai, Cihideung Udik)

Penekanan masyarakat sendiri, selama ini mungkin tidak ada aspek dari penampilan mengalami kecemasan yang lebih hebat daripada masalah bentuk tubuh dan berat badan. Menjadi gemuk adalah hal terutama yang dipedulikan perempuan, sebagaimana kelangsingan merupakan aspek utama dari kecantikan fisik itu dilihat. Lingkungan sosial dalam hal ini kelompok sosialpun turut mempengaruhi wanita dalam menilai penampilan fisiknya.

Kesadaran akan adanya reaksi sosial terhadap berbagai bentuk tubuh menyebabkan para wanita prihatin akan pertumbuhan tubuhnya apabila tidak sesuai

dengan standar budaya yang berlaku dan lama kelamaan akan menurunkan rasa percaya diri seseorang sehingga ia-pun memiliki citra tubuh yang negatif.

8.3 Hubungan Iklan Produk Kecantikan di Televisi dengan Orientasi Tubuh Wanita Bekerja

Iklan produk kecantikan di televisi adalah iklan-iklan produk kecantikan yang terdapat di media elektronik televisi. Iklan produk kecantikan dalam penelitian ini dilihat secara umum. Iklan yang dilihat mulai dari iklan produk perawatan rambut, perawatan wajah dan perawatan tubuh. Penilaian iklan produk kecantikan televisi dikategorikan kedalam model wanita dan subtansi iklan, frekuensi dan durasi iklan produk kecantikan di televisi.

8.3.1 Hubungan Model Wanita dan Subtansi Iklan Produk Kecantikan di Televisi dengan Orientasi Tubuh Wanita Bekerja

Berdasarkan hasil uji Korelasi Rank Spearman diperoleh nilai +0,641 artinya antara model wanita dan substansi iklan produk kecantikan di televisi dengan orientasi tubuh wanita bekerja memiliki hubungan yang positif (nyata), semakin tinggi model wanita dan substansi iklan produk kecantikan di televisi maka semakin tinggi orientasi tubuh pada wanita yang bekerja.

Tabel 24. Sebaran Responden Menurut Pengaruh Model dan Subtansi Iklan Produk Kecantikan di Televisi dan Citra Tubuh Wanita Bekerja di Kota Bogor Tahun 2009

Pengaruh model dan substansi iklan

produk kecantikan

Citra tubuh (orang)

Total (orang) Persen (%) Positif (+) Persen (%) Negatif (-) Persen (%) Pengaruh rendah 3 75 1 25 4 6.66 Pengaruh sedang 15 37.5 25 62.5 40 66.66 Pengaruh tinggi 5 31.25 11 68.75 16 26.66 Total 23 - 37 - 60 100

Data menunjukan sebanyak 75% wanita bekerja memiliki citra tubuh positif ketika pengaruh model dan subtansi iklan produk kecantikan rendah, sedangkan sebanyak 68,75% wanita memiliki citra tubuh yang negatif ketika pengaruh semakin besar.

Pengaruh kapitalis ikut berpengaruh besar pada body image. Kapitalisme melalui menentukan standar tubuh ideal masa kini melalui media massa, dalam penelitian ini iklan produk kecantikan di televisi agar perempuan terus menerus memperbaiki penampilannya demi mencapai ukuran yang di idealkan. Kebanyakan bagi para wanita menjadikan para model yang terdapat di media massa, cetak maupun elektronik atau iklan

kecantikan sebagai standar atau patokan baru untuk ukuran kecantikan. Pada saat standar baru kecantikan adalah langsing mulai diperkenalkan melalui model wanita dalam iklan produk kecantikan di televisi, perempuan dengan berat tubuh rata-rata atau lebih berat dari figur yang ditampilkan akan mengalami tekanan untuk mengontrol berat badan mereka. Subtansi atau isi suatu pesan dalam iklan turut mempengaruhi konsumen dalam membeli produk yang ditawarkan. Semakin tinggi keinginan para wanita untuk mengejar ukuran tubuh ideal, semakin terbuka kesempatan para pemilik modal untuk menggembangkan produk-produk kecantikan dan jasa untuk memperbaiki penampilan.

Industri-industri yang bergerak di bidang kecantikan berkembang pesat dalam menumbuhkan keraguan pribadi perempuan. Untuk meraih sukses, industri-industri tersebut tidak hanya memotivasi keinginan terhadap produknya, tetapi juga harus meyakinkan perempuan bahwa tanpa produk tersebut, ia tidak akan disukai atau diinginkan. melalui iklanlah para industri-industri tersebut membudayakan standar kecantikan yang dapat mempengaruhi citra diri konsumennya. Pengaruhnya adalah ketika seorang melakukan perbandingan atas fisiknya sendiri dengan standar kecantikan yang berlaku ia akan semakin rentan terhadap bentuk tubuhnya sendiri. Konsekuensinya, para wanita sulit menerima bentuk tubuhnya.

8.3.2 Hubungan Frekuensi Menyaksikan Iklan Produk Kecantikan dengan Orientasi Tubuh Wanita Bekerja

Berdasarkan hasil uji Korelasi Rank Spearman diperoleh nilai +0,435 artinya antara frekuensi menyaksikan iklan produk kecantikan dengan orientasi tubuh wanita bekerja memiliki hubungan yang positif (nyata), semakin tinggi frekuensi menyaksikan iklan produk kecantikan maka semakin tinggi orientasi tubuh pada wanita yang bekerja. Wanita yang memiliki citra tubuh negatif (84,21%) yaitu wanita yang menonton iklan produk kecantikan sering (lebih dari lima kali sehari)

Tabel 25. Sebaran Responden Menurut Frekuensi Menyaksikan Iklan Produk Kecantikan di Televisi dan Citra Tubuh Wanita Bekerja di Kota Bogor Tahun 2009 Frekuensi

menyaksikan iklan produk kecantikan

(Perhari)

Citra tubuh (orang)

Total (orang) Persen (%) Positif (+) Persen (%) Negatif (-) Persen (%) Jarang 20 48.78 21 51.21 41 68.33 Sering 3 15.78 16 84.21 19 31.66 Total 23 - 37 - 60 100

Frekuensi melihat tayangan iklan adalah jumlah tayangan iklan produk kecantikan yang dilihat oleh wanita bekerja dalam kurun waktu satu hari di televisi. Kategori frekuensi wanita bekerja dalam melihat tayangan iklan produk kecantikan dibedakan menjadi dua, yaitu frekuensi jarang dan frekuensi sering. Wanita bekerja yang dalam kurun waktu satu hari melihat tayangan iklan layanan produk kecantikan sebanyak 1 sampai 5 kali, dikategorikan sebagai wanita bekerja dengan frekuensi jarang dan wanita bekerja yang dalam kurun waktu satu hari melihat tayangan iklan produk kecantikan sebanyak 5 kali atau lebih, dikategorikan sebagai wanita bekerja dengan frekuensi sering.

Semakin sering seseorang menyaksikan iklan produk kecantikan, maka peneguhan akan standar kecantikan semakin kuat. Sehingga terciptalah tujuan iklan tersebut agar para wanita membeli produk yang diiklankan agar memiliki kecantikan seperti model dalam iklan dan semakin tinggi pula orientasi tubuh wanita tersebut.

8.3.3 Hubungan Durasi Menyaksikan Tayangan Iklan Produk Kecantikan dengan Orientasi Tubuh Wanita Bekerja

Berdasarkan hasil uji Korelasi Rank Spearman diperoleh nilai +0,986 artinya antara durasi menyaksikan tayangan iklan produk kecantikan dengan orientasi tubuh wanita bekerja memiliki hubungan yang positif (nyata), semakin tinggi durasi menyaksikan tayangan iklan produk kecantikan maka semakin tinggi orientasi tubuh pada wanita yang bekerja.

Tabel 26. Sebaran Responden Menurut Durasi Menyaksikan Iklan Produk Kecantikan di Televisi dan Citra Tubuh Wanita Bekerja di Kota Bogor Tahun 2009 Durasi menyaksikan

iklan produk kecantikan (perhari)

Citra tubuh (orang)

Total (orang) Persen (%) Positif (+) Persen (%) Negatif (-) Persen (%) Intensitas rendah 13 56.52 21 56.75 34 56.66 Intensitas tinggi 10 43.47 16 43.24 26 43.33 Total 23 100 37 100 60 100

Durasi melihat iklan adalah lama waktu yang digunakan wanita bekerja dalam melihat setiap tayangan iklan produk kecantikan di televisi perharinya. Kategori durasi wanita bekerja dalam melihat tayangan iklan produk kecantikan dibedakan menjadi dua, yaitu durasi pendek dan durasi panjang. Wanita bekerja yang melihat tayangan iklan produk kecantikan dalam waktu kurang dari 20 detik perharinya, dikategorikan sebagai wanita bekerja dengan label intensitas rendah dan wanita bekerja yang melihat tayangan

iklan produk kecantikan dalam waktu 20 detik atau lebih perharinya, dikategorikan sebagai wanita bekerja dengan label intensitas tinggi. Sebagian besar wanita bekerja yang tidak melihat tayangan iklan kecantikan sampai habis biasanya karena tidak ada waktu, tidak sempat, bosan, malas menonton televisi atau iklan produk kecantikan, dan sebagainya. Hal ini bisa dilihat dari kutipan sebagai berikut:

“… yah, males aja ngeliat acaranya sampe abis neng, kita kan juga banyak kerjaan..”(Imas, Cihideung Udik)

8.4 Ikhtisar

Citra tubuh mengacu pada gambaran seseorang tentang tubuhnya yang dibentuk dalam pikirannnya, yang lebih banyak dipengaruhi oleh self-esteem

orang itu sendiri, daripada oleh penilaian orang lain tentang kemenarikan fisik yang sesungguhnya dimiliki orang tersebut, serta dipengaruhi pula oleh keyakinannya sendiri dan sikap terhadap tubuh sebagaimana gambaran tubuh ideal dalam masyarakat.

Citra tubuh yang secara umum dibentuk dengan melakukan perbandingan dengan orang lain, biasanya seseorang yang dijadikan patokan individu tersebut dalam standar kecantikan tertentu. Citra tubuh merupakan hal yang dipelajari. Proses pembelajaran citra tubuh ini sering kali dibentuk lebih banyak oleh orang lain selain individu sendiri, yaitu keluarga dan masyarakat. Sehingga dapat disimpulakan citra tubuh merupakan bagian dari konsep diri yang berkaitan dengan sifat fisik dibentuk oleh banyak faktor.

Citra tubuh yang merupakan cara pandang mempunyai dua komponen cara berfikir, yaitu cara berfikir positif dan cara berfikir negatif. Cara berfikir yang positif atau negatif merupakan hal terpenting dalam meningkatkan atau menurunkan citra tubuh kita. Alasan mengapa banyak perempuan merasakan tubuh mereka sebagai suatu masalah adalah karena hampir seluruh kebudayaan di dunia, tak terkecuali kebudayaan kita, baik wilayah perkotaan maupun wilayah pedesaan mengajarkan kepada para wanita harus berpenampilan menarik untuk dihargai, yang kemudian menciptakan standar kecantikan yang tidak sehat dan sulit dicapai. Peran media massa, khususnya iklan produk kecantikan turut menginjeksi wanita bentuk tubuh yang ideal (standar kecantikan). Sebuah

penelitian menjelaskan bahwa persepsi terhadap tubuh sering kali terdistorsi atau menyimpang, yang disebabkan karena kurang percaya diri, rasa tidak puas dengan keadaan fisiknya dan mempunyai persepsi yang salah terhadap tubuhnya (Arkoff, 1976) dalam Melliana (2006). Oleh sebab itu ketika perempuan mempunyai gambaran ideal tentang tubuh yang berlawanan dengan citra tubuh nyatanya, ini mengindikasikan betapa ia mengalami ketidakpuasan terhadap tubuhnya sendiri.

Tabel 27. Sebaran Responden Menurut Wilayah terhadap Citra Tubuh Wanita Tahun 2009 Citra tubuh Wilayah (orang) Total (orang) Persen (%) Kota Persen (%) Desa Persen (%) Positif (+) 11 36.66 12 40 23 38.333 Negatif (-) 19 63.33 18 60 37 61.66 Total 30 100 30 100 60 100

Hasil dari data tabulasi silang Tabel 27. menjelaskan bahwa sebagian besar faktor-faktor yang diteliti memiliki pengaruh dalam penilaian wanita bekerja dalam menilai dirinya. Umumnya, semakin tinggi faktor-faktor yang diteliti (karakteristik internal, penilaian lingkungan sosial, lingkungan tempat kerja, tuntutan pekerjaan, kelompok sosial dalam masyarakat dan iklan produk kecantikan di televisi) mempengaruhi orientasi tubuh wanita bekerja. Sehingga dalam pembentukan citra tubuh pada seseorang dibentuk bukan hanya oleh satu faktor semisal usia, tetapi pengaruh berbagai faktor-faktor yang saling berhubungan satu sama lainnya.

Banyaknya para wanita bekerja yang mengalami masalah ketidakpuasan terhadap sosok tubuhnya pada saat ini disebabkan adanya kesenjangan tubuh ideal yang didasarkan pada budaya yang saat ini berlaku, yaitu bahwa tubuh ideal bagi perempuan adalah langsing, dengan kenyataan tubuh yang mereka miliki saat ini, yaitu bahwa kebanyakan para wanita bekerja wilayah perkotaan dan pedesaan memiliki tubuh yang lebih gemuk atau sedikit melebihi standar. Ketika para wanita semakin tidak puas akan tubuhnya dapat menyebabkan body image dilemma (Melliana, 2006).

BAB IX

KESIMPULAN DAN SARAN

9.1 Kesimpulan

Wanita bekerja di wilayah perkotaan dan pedesaan memiliki karakteristik individu yang berbeda. Perbedaan ini dilihat dari usia responden, tingkat pendidikan formal, gaya hidup akan kecantikan, aktifitas pekerjaan, dan pendapatan keluarga. Dari usia, kebanyakan responden wilayah perkotaan dan pedesaan berada pada usia dewasa antara 29 tahun sampai 45 tahun. Tingkat pendidikan formal wilayah pedesaan cenderung rendah (tidak sekolah sampai SD), sedangkan kebanyakan responden wilayah perkotaan memiliki tingkat pendidikan formal sedang (SLTP-SLTA). Gaya hidup akan kecantikan wilayah perkotaan dan pedesaan umumnya berada di rentan gaya hidup sedang yaitu antara 2 persen sampai 14 persen dari total pendapatan keluarga. Dilihat dari aktifitas pekerjaan, wanita bekerja wilayah perkotaan memiliki aktifitas di dalam ruangan dan berhubungan langsung dengan publik, karena sebagian besar dari mereka bekerja di sektor industri, lain halnya dengan wanita bekerja wilayah pedesaan, semua wanita melakukan aktifitas bekerjanya di lapangan, karena mereka semua bergerak pada sektor pertanian yaitu buruh tani setengah hari. Sedangkan untuk tingkat penghasilan rumah tangga, kebanyakan responden baik wilayah perkotaan dan pedesaan menempati tingkat pendapatan sedang, yakni untuk wilayah perkotaan antara Rp. 2.500.000,- sampai dengan Rp.10.000.000,- dari pendapatan sebulan, dan wilayah pedesaan antara Rp.800.000,- sampai dengan Rp.1.300.000 dari pendapatan sebulan.

Hubungan Faktor-faktor yang mempengaruhi orientasi tubuh wanita bekerja wilayah perkotaan dan pedesaan yaitu:

1. Hubungan karakteristik individu (Usia, Tingkat pendidikan formal, Gaya hidup, aktifitas pekerjaan, dan tingkat pendapatan) memiliki hubungan positif (nyata) terhadap orientasi tubuh wanita bekerja. Artinya, semakin tinggi Usia, Tingkat pendidikan formal, Gaya hidup, aktifitas pekerjaan, dan tingkat pendapatan maka semakin tinggi pula orientasi tubuh wanita bekerja.

2. Hubungan karakteristik lingkungan sosial (Lingkungan keluarga, Lingkungan kerja, dan Kelompok sosial) dengan orientasi tubuh wanita memiliki hubungan yang positif (nyata). Artinya, semakin tinggi pengaruh karakteristik lingkungan sosial dalam menilai individu atas penampilannya maka akan semakin tinggi pula orientasi tubuh wanita bekerja.

3. Hubungan Iklan produk kecantikan di televisi (Model wanita dan substansi iklan produk. frekuensi, serta durasi lama menyaksikan iklan prosuk kecantikan di televisi setiap harinya) dengan orientasi tubuh wanita bekerja memiliki hubungan yang positif (nyata). Artinya semakin tinggi pengaruh iklan produk kecantikan yang dinilai wanita bekerja, maka semakin tinggi pula orientasi tubuh wanita bekerja.

9.2 Saran

Setiap individu memiliki perbedaan dalam menilai citra terhadap tubuhnya sendiri, tetapi ketika citra individu semakin negatif akan membuat individu merasa tidak nyaman akan dirinya dan tidak/kurang dapat menikmati kehidupannya. Ketika individu memiliki konsep diri yang positif maka ia akan menilai tubuhnya secara positif pula, sehingga ia akan menerima apa adanya dan menghargai tubuh-nya sendiri. Langkah awal yang perlu dilakukan untuk mengubah citra tubuh yang negatif yaitu dengan mengubah pikiran, pandangan, dan perasaan mengenai tubuh individu itu sendiri yaitu dengan cara berkomunikasi dengan diri sendiri.

Kemudian pendidikan dalam keluarga juga sebaiknya tidak mengajarkan wanita dinilai hanya sejauh mana wanita itu menarik secara fisik, melainkan lebih ditekankan untuk melihat hal yang lain semisal peningkatan pendidikan. Selain itu, sebaiknya peran media watch lebih ditingkatkan lagi dalam menilai bentuk tubuh wanita. Serta produsen pembuat iklan diharapkan tidak terlalu menyudutkan wanita yang tidak masuk kategori “cantik” dan tidak melebih-lebihkan isi pesan.

DAFTAR PUSTAKA

Andika, Jurika. 2008. Hubungan Keterdedahan terhadap Media Massa dengan Pengetahuan tentang Kebijakan Pemerintah mengenai Flu Burung (Kasus pada Mahasiswa Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor). Skripsi. IPB. Bogor.

Arief, Agung Suwasana. 2001 Perspektif Gender Dalam Representasi Iklan. Jurusan Desain Komunikasi Visual. Fakultas Seni dan Desain - Universitas Kristen Petra.Yogyakarta

Bachtiar , Aly. (2009). Kompetisi pencitraan. Jakarta : Harian Seputar Indonesia.

Berlo, David K. 1960. The Process of Communication: An Introduction to The Theory and Practice. Winston Publisher. New York.

Biagi, Shirley. 2005. An Introduction to Mass Media. Fifth Edition. Wadsworth Publishing Company. USA.

Black, J A dan D. J Champion. 1992. Metode dan Masalah Penelitian Sosial. PT. Rafika Aditama. Bandung.

Effendy, Onong Uchjana. 1991. Televisi Siaran Teori dan Praktek. CV Mandar Maju. Bandung,

Faturochman, Naomi Srie Kusumastutie. 2004. Analisis Gender Pada Iklan Televisi Dengan Metode Semiotika. JURNAL PSIKOLOGI No.2

Fisher, B. Aubrey, 1986, Teori-teori Komunikasi. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat, Penerjemah: Soejono Trimo. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Goenawan, Felicia. 2007. Ekonomi Politik Iklan Di Indonesia Terhadap Konsep Kecantikan. Jurnal Ilmiah SCRIPTURA, Vol. 1 No.1 Januari 2007

Kasiyan, 2001. Perempuan dan Iklan: Sebuah Catatan tentang Patologi Ideologi Gender di Era Kapital. Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.

Dokumen terkait