• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Hubungan Logis Antar Variabel Dan Perumusan Hipotesis

2.3.1 Pengaruh keterlibatan pemakai sistem informasi terhadap kinerja SIA

Gerald (2011) dalam penelitian Wulandari & Juliarsa (2017) partisipasi

adalah keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran, partisipasi aktif lebih

mengarah ke efektifitas pembelajaran. Menurut Rusmiati (2012), keterlibatan

pengguna merupakan suatu keterlibatan dari segi mental serta emosional setiap

individu yang ada didalam suatu situasi kelompok yang membuat individu tersebut

memberikan kontribusi dalam pelaksanaan kegiatan demi mencapai tujuan

bersama. Vaugan (2001) dalam penelitian Wulandari & Juliarsa (2017) menyatakan

bahwa jika seseorang individu percaya bahwa sistem ini secara pribadi relevan, ia

akan lebih cenderung untuk membentuk sikap positif terhadap sistem karena sifat

umumnya dibentuk atas dasar keyakinan. Penerapan SIA dikatakan sukses apabila

SIA yang digunakan dirasa mampu membantu dalam penyelesaian tugas setiap

harinya, Nurhayati (2014). Irma (2014) menyatakan bahwa keberasilan pengguna

teknologi informasi didukung oleh peran manusia selaku pengguna dari SIA

tersebut. Dalam menjalankan sistem tersebut keterlibatan pemakailah yang akan

menentukan proses penerapan sistem itu berjalan dengan baik atau tidak. Meiryani

(2014) dalam penelitiannya menyatakan bahwa keterlibatan atau partisipasi

pengguna sistem informasi memiliki pengaruh positif signifikan terhadap kualitas

SIA.

Namun demikian, bertentangan dengan penelitian Dalimunte, et. al. (2014),

informasi akuntansi teradap kinerja SIA. Tidak berpengaruhnya keterlibatan

pemakai sistem informasi terhadap kinerja SIA dapat disebabkan oleh karena

jumlah pemakai sistem yang besar jika tidak diimbangi dengan kemampuan

beradaptasi dengan sistem, justru akan berdampak pada tidak efektifnya kinerja

sistem tersebut. Dari uraian diatas maka dapat dirumuskan hipotesis pertama, yaitu:

H₁ : Terdapat pengaruh keterlibatan pemakai pada kinerja SIA.

2.3.2 Pengaruh dukungan manajemen puncak terhadap kinerja SIA

Jen, (2004) dalam Dalimunthe, Agusti & Fitrious, (2014) berpendapat,

semakin besar dukungan yang diberikan manajemen puncak akan meningkatkan

kinerja sistem informasi akuntansi dikarenakan adanya hubungan yang positif

antara dukungan manajemen puncak dalam proses pengembangan dan

pengoperasian sistem informasi akuntansi. Dalam manajemen tradisional, posisi

manajemen puncak adalah sebagai penentu akhir dalam pengambilan keputusan.

Manajemen puncak memiliki kekuasaan-kekuatan untuk menerima dan menolak

setiap gagasan dan akhirnya dialah yang memutuskannya, seingga besarnya

dukungan dari manajemen puncak akan berpengaruh teradap keberasilan strategi

yang dijalankan perusahaan, termasuk didalamnya penerapan sistem informasi

akuntansi. Jen (2002) dalam penelitiannya, menyatakan bahwa keberasilan suatu

kinerja SIA tidak luput dari dukungan manajemen puncak, hal ini disebabkan

karena dengan besarnya dukungan manajemen puncak, maka juga akan

meningkatkan kinerja SIA oleh terdapatnya hubungan yang signifikan antara

Pemimpin organisasi merupakan pihak yang paling berpengaruh dalam hal

pengambilan keputusan. Oleh karenanya dukungan pimpinan dapat dikatakan

mempunyai peran penting dalam tahap pengembangan sistem informasi akuntansi

beserta keberasilan implementasi sistem tersebut. Selain itu pimpinan juga bertugas

mensosialisasikan pengembangan sistem informasi yang digunakan, sehingga akan

memotivasi pemakai untuk partisipasi dalam pengembangan sistem dan yang akan

berpengaruh pada suatu sistem, Soegioto (2001). Andayani (2007) menyimpulkan

bahwa dukungan manajemen puncak mempunyai pengaruh positif signifikan

terhadap efektifitas sistem informasi. Pimpinan harus mempunyai peran atau

terlibat dalam penggunaan sistem informasi sehingga akan berdampak pada

pengguna sistem informasi yang efektif.

DeLone dan Mclean (1992), dan Choe (1996) dalam Komara (2005) telah

mengajukan dan secara empiris menguji bahwa dukungan manajemen puncak

mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja SIA melalui berbagai macam

kegiatan dan manajemen puncak bertanggung jawab atas penyediaan pedoman

umum bagi kegiatan informasi. Tingkat dukungan yang diberikan oleh manajemen

puncak bagi sistem informasi organisasi dapat menjadi suatu faktor yang sangat

penting dalam menentukan keberasilan semua kegiatan yang berkaitan dengan

sistem informasi (Ragunatan, 1988) dalam komara (2005). Dari uraian diatas maka

dapat dirumuskan hipotesis kedua, yaitu:

2.3.3 Pengaruh formalisasi sistem terhadap kinerja SIA

Saat ini banyak perusahaan yang mulai mengembangkan dan memberikan

perhatian khusus pada teknologi informasi sebagai sumber yang memfasilitasi

pengumpulan dan penggunaan informasi secara efektif. Istiniangsi dan Setyo,

(2008). Dalam masalah sistem informasi, hubungan antara formalisasi

pengembangan sistem dan keberasilan sistem informasi diusulkan dan diuji secara

empiris oleh Lee dam Kim (1992) dan Tayer, et. al. (1981) dalam Komara (2005)

keduanya mengusulkan bahwa formalisasi pengembangan sistem mempengaruhi

keberasilan implementasi sistem informasi. Dalam penelitian Jen (2002)

memperoleh hasil bahwa formalisasi pengembangan sistem informasi memiliki

hubungan negatif terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Dalimunthe, et. al.

(2014) berpendapat formalisasi pengembangan sistem tidak berpengaruh terhadap

kinerja SIA. Tidak berpengaruhnya formalisasi pengembangan sistem terhadap

kinerja SIA dapat disebabkan karena meskipun formalisasi dibutuhkan dalam

aplikasi pengguna teknologi, namun pada penerapannya formalisasi cenderung

diabaikan karena para pemakai sistem lebih menyukai bertanya kepada rekan yang

telah bisa menggunakan sistem tersebut terlebih dahulu. Kondisi ini menyebabkan

konsentrasi pemakai sistem menjadi terganggu dan berdampak pada tidak

maksimalnya kinerja SIA. Sejalan dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan

oleh Almilia & Briliantien (2007) dan Fitri (2012) mendapatkan hasil bahwa

formalisasi pengembangan sistem tidak berpengaruh teradap kinerja SIA. Namun

demikian, hasil ini bertentangan dengan penelitian Rusdi & Megawati (2011) yang

berpengaruh terhadap kinerja SIA. Dari uraian diatas maka dapat dirumuskan

hipotesis ketiga, yaitu:

H₃ : Terdapat pengaruh formalisasi sistem pada kinerja SIA

2.3.4 Pengaruh pendidikan dan pelatihan terhadap kinerja SIA

Jen (2004) dalam penelitian Dalimunthe, Agusti & Fitrious, (2014)

berpendapat bahwa kinerja sistem informasi akuntansi akan lebih tinggi apabila

program-program pelatihan dan pendidikan pemakai diperkenalkan. Mendesain

sebuah SIA merupakan upaya bersama antara fungsi akuntansi dari sebuah

organisasi dan profesional sistem. Untuk itu, sebelum melakukan penerapan SIA,

adalah suatu hal yang penting jika diadakan pelatihan dan pendidikan berupa

training terhadap para calon pengguna atau pemakai sistem. Melalui pelatihan,

mereka akan lebih memahami kompleksitas sistem baru yang ditawarkan, dan dapat

memperkecil resiko kesalahan ketika sistem tersebut diterapkan. Sebuah program

pelatihan dan pendidikan yang diadakan untuk memberikan atau meningkatkan

kemampuan dan pemahaman pemakai terhadap sistem informasi akuntansi yang

digunakan untuk pemakai tersebut, membuatnya menjadi lebih puas dan akan

menggunakan sistem yang telah dikuasai dengan baik (Kariyani, 2006). Sejalan

dengan penelitian Dalimunthe, Agusti & Fitrious, (2014) semakin besar pelatihan

dan pendidikan pemakai sistem yang diberikan akan meningkatkan kinerja sistem

informasi akuntansi dikarenakan beranekaragamnya kemampuan individu dalam

pendidikan menjadi suatu hal yang penting dilakukan sebelum sebuah SIA

diterapkan.

Program pendidikan dan pelatihan pemakai merupakan usaha secara formal

untuk mempelajari lebih mendalam mengenai pengetahuan sistem informasi

akuntansi meliputi konsep-konsep sistem informais akuntansi, kemampuan teknis,

kemampuan organisasi, dan pengetahuan mengenai produk-produk sistem

informasi akuntansi secara spesifik (Choe, 1996) dalam penelitian Rivaningrum &

Mahmud (2015). Seingga dengan adanya program pendidikan dan pelatihan

pemakai bisa mendapatkan kemampuan untuk mengidentifikasi persyaratan

informasi mereka serta keterbatasan sistem informasi akuntansi dan kemampuan ini

dapat mengarah pada peningkatan kinerja sistem informasi akuntansi, (Soegiharto,

2001). Program pendidikan dan pelatihan pemakai berpengaruh terhadap kinerja

SIA. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan Anggraini (2012).

Komara (2005), menunjukan bahwa penelitian formal berpengaruh terhadap

persiapan sistem informasi akuntansi. Almilia dan Brilliantine (2007), berpendapat

bahwa kinerja sistem informasi akuntansi akan lebih tinggi apabila program

pendidikan dan pelatihan pemakai diperkenalkan. Sedangkan penelitian yang

dilakukan oleh Mardiana, et. al. (2014) menunjukan tidak adanya pengaruh yang

positif dan sigifikan pada variabel pelatihan dan pendidikan pemakai terhadap

kepuasan pemakai SIA. Hasil pengujian ini mendukung penelitian dari Masma

(2008) dan Parini (2010). Hal ini menjelaskan bahwa kurangnya pelatihan yang

mengakibatkan pemakai kesulitan dalam penggunaan teknologi komputer secara

dengan pngembangan sistem yang spesifik. Dari uraian diatas maka dapat

dirumuskan hipotesis keempat, yaitu:

H₄ : Terdapat pengaruh pelatian dan pendidikan pada kinerja SIA

2.3.5 Pengaruh ukuran perusahaan terhadap kinerja SIA

Dalimunthe et. al. (2014) berpendapat ukuran perusahaan tidak perpengaruh

terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Tidak berpengaruhnya ukuran

perusahaan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi dapat disebabkan oleh

karena penggunaan sistem di dalam perusahaan tidak harus berdasarkan pada besar

atau kecilnya suatu perusahaan, dimana sebuah perusahaan dengan skala yang lebih

kecil mungkin saja menggunakan sistem dan sumber daya manusia yang lebih

tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang lebih besar, sehingga pada akhirnya

besar ataupun kecilnya perusahaan tidak berpengaruh terhadap kinerja SIA. Sejalan

dengan penelitian yang dilakukan oleh Masma (2008) dan Parini (2010). Tetapi

tidak mendukung penelitian dari Tjhai (2002) yang menjelaskan bahwa ukuran

perusahaan yang tidak cukup besar apalagi dengan sumber daya yang sedikit, akan

menghasilkan sistem informasi yang kurang, sehingga pemakai akan merasa belum

cukup puas untuk menggunakan sistem akuntansi yang ada. Dari uraian diatas maka

dapat dirumuskan hipotesis kelima, yaitu:

H₅ : Terdapat pengaruh ukuran perusaaan pada kinerja SIA

Dokumen terkait