• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara usia, mulai terapi dan skor HB awal dengan perubahan skor HB pada kelompok terapi metil prednisolon tunggal

VIRUS AUTOIMUN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN IV.1 HASIL PENELITIAN

IV.1.4. Hubungan antara usia, mulai terapi dan skor HB awal dengan perubahan skor HB pada kelompok terapi metil prednisolon tunggal

dan kombinasi metil prednisolon dan rehabilitasi kabat

Hubungan antara usia dan perubahan skor HB pada kelompok terapi metil prednisolon tunggal dapat diketahui melalui uji korelasi Spearman. Dengan uji ini, didapatkan korelasi negatif sangat kuat yang

signifikan antara usia dengan skor HB hari 1-7 (r= -0,800,p=0,005) (gambar 11). Terdapat korelasi positif yang tidak signifikan antara usia dengan skor HB antara hari 7-14 (r=0,407,p=0,243) dan korelasi negatif sangat kuat yang signifikan antara usia dan skor HB hari 14-21 (r= - 0,800, p=0,005) (gambar 12).

Gambar 11. Grafik hubungan usia dengan skor HB hari 1-7 pada kelompok metil prednisolon tunggal

Gambar 12. Grafik hubungan usia dengan skor HB hari 14-21 pada kelompok metil prednisolon tunggal

Hubungan antara mulai terapi dan perubahan skor HB pada kelompok metil prednisolon tunggal dapat diketahui melalui uji korelasi Spearman. Dengan uji ini, didapatkan korelasi negatif kuat yang signifikan antara mulai terapi dengan skor HB hari 1-7 (r= -0,692,p=0,027) (gambar 13). Terdapat korelasi positif yang tidak signifikan antara mulai terapi dengan skor HB antara hari 7-14 (r=0,117, p=0,747) dan korelasi negatif sangat kuat yang signifikan antara mulai terapi dan skor HB hari 14-21 (r= -0,808, p=0,005) (gambar 14).

Gambar 13. Grafik hubungan mulai terapi dengan skor HB hari 1-7 pada kelompok metil prednisolon tunggal

Gambar 14. Grafik hubungan mulai terapi dengan skor HB hari 14-21 pada kelompok metil prednisolon tunggal

Hubungan antara skor HB awal dan ∆ skor HB pada kelompok metil prednisolon tunggal dapat diketahui melalui uji korelasi Spearman. Dengan uji ini, didapatkan korelasi positif yang tidak signifikan antara skor HB awal dengan skor HB hari 1-7 (r<0,001,p=1,000). Terdapat korelasi positif yang tidak signifikan antara skor HB awal dengan skor HB antara hari 7 – 14 (r<0,001, p=1,000) dan korelasi negatif yang tidak signifikan antara skor HB awal dan skor HB hari 14 – 21 (r= -0,345, p=0,329). Hubungan antara usia, mulai terapi dan skor HB awal dengan perubahan skor HB pada kelompok metil prednisolon tunggal dijelaskan secara sistematis dalam tabel 9.

Tabel 9. Hubungan antara usia, mulai terapi dan skor HB awal dengan perubahan skor HB pada kelompok terapi metil prednisolon tunggal

Variabel Hari 1-7 Hari 7-14 Hari 14-21

r p r p r p Usia -0,800 0,005 0,407 0,243 -0,800 0,005 Mulai terapi -0,692 0,027 0,117 0,747 -0,808 0,005 Skor HB awal <0,001 1,000 <0,001 1,000 -0,345 0,329

Uji korelasi Spearman, p<0,05 signifikan

Pada kelompok terapi kombinasi metil prednisolon dan rehabilitasi kabat, untuk mengetahui hubungan antara usia dan perubahan skor HB dapat dilakukan uji korelasi Spearman. Hasil uji korelasi Spearman, diperoleh didapatkan korelasi negatif yang tidak signifikan antara usia dengan skor HB hari 1-7 (r= -0,430, p=0,214). Terdapat korelasi negatif yang tidak signifikan antara usia dengan skor HB antara hari 7-14 (r= - 0,196, p=0,587) dan korelasi negatif yang tidak signifikan antara usia dan

Hubungan antara mulai terapi dengan perubahan skor HB pada kelompok terapi kombinasi metil prednisolon dan rehabilitasi kabat dapat diketahui melalui uji korelasi Spearman. Dengan uji ini, didapatkan korelasi negatif sangat kuat yang signifikan antara mulai terapi dengan skor HB hari 1-7 (r= -0,861, p=0,001) (gambar 15). Terdapat korelasi positif yang tidak signifikan antara mulai terapi dengan skor HB antara hari 7-14 (r=0,393, p=0,261) dan korelasi negatif yang tidak signifikan antara mulai terapi dan skor HB hari 14-21 (r= -0,088, p=0,809).

Gambar 15. Grafik hubungan mulai terapi dengan skor HB hari 1-7 pada kelompok kombinasi metil prednisolon dan rehabilitasi kabat

Hubungan antara skor HB awal dengan perubahan skor HB pada kelompok terapi kombinasi metil prednisolon dan rehabilitasi kabat dapat diketahui melalui uji korelasi Spearman. Dengan uji ini, didapatkan korelasi positif yang tidak signifikan antara skor HB awal dengan skor

HB hari 1-7 (r=0,154, p=0,670). Terdapat korelasi positif yang tidak signifikan antara skor HB awal dengan skor HB hari 7-14 (r=0,338, p=0,339) dan korelasi negatif yang tidak signifikan antara skor HB awal dan skor HB hari 14-21 (r= -0,094, p=0,75). Hubungan antara usia, mulai terapi dan skor HB awal dengan perubahan skor HB pada kelompok kombinasi metil prednisolon dan rehabilitasi kabat dijelaskan secara sistematis dalam tabel 10.

Tabel 10. Hubungan antara usia, mulai terapi, dan skor HB awal dengan perubahan skor HB pada kelompok terapi kombinasi metil prednisolon dan rehabilitasi kabat

Variabel Hari 1-7 Hari 7-14 Hari 14-21

r p r p r p Usia -0,430 0,214 -0,196 0,587 -0,176 0,627 Mulai terapi -0,861 0,001 0,393 0,261 -0,088 0,809 Skor HB awal 0,154 0,670 0,338 0,339 -0,094 0,795

Uji korelasi Spearman, p<0,05 signifikan

IV.2. PEMBAHASAN

Penelitian ini merupakan penelitian dengan disain kuasi eksperimen berupa rancangan perlakuan ulang atau pretest and post test design yang bertujuan untuk mengetahui perbandingan efek dari metil prednisolon tunggal dan kombinasi metil prednisolon dan rehabilitasi kabat terhadap perbaikan klinis pasien Bell’s palsy. Pada penelitian ini diagnosis Bell’s palsy ditegakkan melalui kriteria diagnosis Taverner melalui anamnesa, pemeriksaan fisik dan neurologis. Bagi pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dilakukan penilaian skor HB dan dilakukan pemberian terapi metil prednisolon atau kombinasi metil prednisolon dan

rehabilitasi kabat, dan kemudian dilakukan penilaian ulang skor HB system pada hari ke 7, 14 dan 21 setelah diberikan terapi.

IV.2.1. Karakteristik Subjek Penelitian

Penelitian ini mengikutsertakan 20 orang pasien Bell’s palsy yang terdiri dari 7 laki- laki (35%) dan 13 perempuan (65%). Dari 7 pasien laki- laki, 2 orang dari kelompok terapi metil prednisolon tunggal dan 5 orang dari kelompok terapi kombinasi metil prednisolon dan rehabilitasi kabat). Dari 13 perempuan, 8 orang dari kelompok terapi metil prednisolon tunggal dan 5 orang dari kelompok terapi kombinasi metil prednisolon dan rehabilitasi kabat. Secara keseluruhan, pasien perempuan berjumlah lebih banyak dibandingkan pasien laki- laki. Hal ini sejalan dengan penelitian Sathirapanya dkk (2008), yang mengikutsertakan 201 pasien Bell’s palsy dalam penelitiannya. Dari 201 pasien tersebut, jumlah pasien perempuan lebih banyak dari pasien laki- laki. Jumlah pasien perempuan adalah 127 orang (63,2%) dan pasien laki- laki berjumlah 74 orang laki- laki (36,8%). Begitu juga pada penelitian Yeo dkk (2007), dari 91 pasien dalam penelitiannya, pasien perempuan (50 orang) berjumlah lebih banyak dari pasien laki- laki (41 orang). Namun pada penelitian Lagalla dkk (2002), dari 62 pasien yang diteliti, dijumpai jumlah pasien laki- laki (34 orang) lebih banyak dari pasien perempuan (28 orang). Sedangkan pada penelitian Barbara dkk (2010), dijumpai jumlah yang sama antara pasien laki- laki dan perempuan yang diikutkan dalam penelitian yang berjumlah 20 orang pasien.

Pada penelitian ini, pasien Bell’s palsy memiliki usia rerata 36,80±14,74 (18- 67) tahun. Sullivan dkk (2007), menyebutkan rerata usia pasien Bell’s palsy pada penelitiannya adalah 44,0 ± 16,4 tahun. Sedangkan pada penelitian Lagalla dkk (2002), rerata pasien Bell’s palsy adalah 47,5 ± 19,0 tahun. Sementara Engstrom dkk (2008), menggunakan median (minimum –maksimum) dalam mendeskripsikan usia pasien dalam penelitiannya, yaitu 40 (31-54) tahun.

Pada penelitian ini didapatkan rerata usia pasien Bell’s palsy pada kelompok terapi metil prednisolon tunggal (38,40 ± 13,71 tahun) lebih tinggi daripada kelompok terapi kombinasi metil prednisolon dan rehabilitasi kabat (35,20 ± 16,27 tahun), namun perbedaan ini tidak signifikan secara statistik. Barbara dkk (2010) juga mendapatkan rerata usia pasien yang tidak direhabilitasi lebih tinggi daripada pasien yang direhabilitasi. Pasien yang tidak direhabilitasi memiliki rerata usia (minimum- maksimum) adalah 45 (28-56) tahun, sedangkan pasien yang direhabilitasi memiliki rerata usia 35 (25-48) tahun.

Pada penelitian ini, tidak dijumpai perbedaan yang signifikan dari sisi wajah yang terlibat, dimana diperoleh jumlah yang sama antara kedua kelompok, yaitu sebanyak 10 pasien (50%). Hal ini sejalan dengan penelitian Engstrom dkk (2008), dimana dari 829 pasien yang diikutkan dalam penelitiannya, sebanyak 415 orang (50%) memiliki paralisis wajah kiri dan 414 orang (50%) mengenai wajah kanan. Penelitian Peitersen

(2002) dijumpai sebanyak 873 orang (51,3%) paralisis wajah kiri dan 828 orang (48,7%) paralisis wajah kanan.

Rerata waktu mulai terapi pasien Bell’s palsy pada penelitian ini adalah 4,35 ±1,84 hari sejak onset penyakit. Pada penelitian Minnerop dkk (2008), rerata mulai terapi sejak onset adalah 2,5 ± 1,9 hari.

Pada penelitian ini, pasien Bell’s palsy masuk dengan rerata skor HB awal adalah 4,05 ± 0,69. Skor HB awal pada penelitian Minnerop dkk (2008) adalah 4,0±1,0. Sullivan dkk (2007), dalam penelitiannya memperoleh rerata skor HB 3,6 ±1,3. Pada penelitian Engstrom dkk (2008) dan Berg (2009) meneliti skor HB awal dengan median (minimum- maksimum) yaitu 4 (3-5) pada masing- masing penelitian tersebut.

IV.2.2. Perbedaan skor HB antara sebelum dan sesudah terapi metil

Dokumen terkait