BAB I: PENDAHULUAN
BAB 2 : ASPEK HUKUM KEPAILITAN EMITEN YANG MENGELUARKAN
2.3 Konsep Umum Kepailitan Emiten yang Mengeluarkan Obligasi
2.3.5 Hubungan Obligasi dengan Kepailitan Emiten
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa pada intinya hubungan dasar dari obligasi adalah hubungan utang-piutang. Pada prinsipnya obligasi
111 Indonesia, Undang-Undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Nomor 37 Tahun 2004, LN. No 31 Tahun 2004, TLN. 4443, Pasal 3 ayat (5).
112 Pasal 207 UU No. 37 Tahun 2004 berbunyi : “Harta kekayaan orang yang meninggal harus dinyatakan dalam keadaan pailit, apabila dua atau lebih Kreditur mengajukan permohonan untuk itu dan secara singkat dapat membuktikan bahwa: a. utang orang yang meninggal, semasa hidupnya tidak dibayar lunas; atau b. pada saat meninggalnya orang tersebut, harta peninggalannya tidak cukup untuk membayar utangnya.”
tersebut merupakan bukti atas suatu prestasi dari penerbit kepada pemegangnya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa antara penerbit dan pemegang obligasi terdapat suatu perikatan. Sehingga pada pihak penerbit timbul suatu kewajiban untuk melakukan suatu prestasi113.
Terhadap hubungan penerbit dan pemegang obligasi ini berlaku ketentuan-ketentuan Pasal 1754 sampai dengan Pasal 1769 KUHPerdata tentang pinjam meminjam (verbruiklening) pada umumnya.
Dalam Pasal 1754 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan bahwa pinjam meminjam (verbruiklening) ialah:
“Persetujuan dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang habis karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula“.
Pasal ini merupakan pengaturan umum dari pinjam meminjam. Pinjam-meminjam merupakan suatu perjanjian. Dalam pasal ini tidak secara eksplisit menenai pinjam meminjam, tetapi yang dapat menjadi objek perjanjian ini ialah barang yang harus habis karena pemakaian (vervangbare zaken). Para sarjana seperti misalnya Wirjono Prodjodikoro114 pada umumnya sependapat bahwa yang dimaksud dengan barang-barang yang habis karena pemakaian (vervangbare zaken) termasuk juga di dalamnya adalah uang.
Penafsiran ini diperkuat dari ketentuan Pasal 1765 yang memperbolehkan pinjam meminjam (uang) dengan bunga. Dalam Pasal 1765 KUHPerdata disebutkan bahwa:
“Adalah diperbolehkan memperjanjikan bunga atas peminjaman uang atau barang lain yang habis karena pemakaian.”
Dengan demikian jelas bahwa dari segi yuridis perikatan dasar antara penerbit dan pemegang obligasi adalah perikatan pinjam meminjam utang atau
113 Adrian Setiadi, op. cit., hal. 7
114 Wirjono Prodjodikoro, Persetujuan-Persetujuan Tertentu, Van Hoeve Uitgeverij, 1974, hlm. 178.
utang piutang. Pada perikatan obligasi, emiten selaku penerbit meminjam kepada para pemegang obligasi sejumlah uang yaitu senilai nominal obligasi yang bersangkutan dan berjanji mengembalikan uang tersebut pada saat jatuhnya tempo obligasi. Pemegang obligasi yang membeli obligasi kepada penerbit dianggap telah menghutangkan sejumlah uang kepada penerbit115.
Namun demikian, perjanjian pinjam meminjam uang dengan cara penerbitan obligasi ini berbeda dalam satu hal dengan perjanjian pinjam meminjam uang biasa. Satu-satunya perbedaan dengan perbedaan pinjam meminjam uang biasa adalah dalam obligasi penerbit dan pemegang obligasi tidak secara langsung berhubungan116. Kadang-kadang bahkan antara penerbit dan pemegang obligasi saling tidak tahu menahu dalam arti tidak saling mengenal117.
Dengan jelasnya kedudukan obligasi sebagai salah satu bentuk “utang”, maka hal ini tentu akan sangat berkaitan pula dengan permasalahan kepailitan.
Pendapat prof. Dr. Sutan Remy Sjahdaeni, S.H. mengenai jenis-jenis pinjaman kiranya dapat semakin menjelaskan hubungan antara obligasi dengan kepailitan.
Menurut beliau jenis-jenis pinjaman yang diperoleh debitur dari kreditur dapat berupa118:
a. Kredit dari bank kredit dari perusahaan selain bank, atau pinjaman dari orang perorangan (pribadi) berdasarkan perjanjian kredit, atau perjanjian meminjam uang.
b. Surat-surat utang jangka pendek (sampai dengan satu tahun), seperti misalnya comercial paper yang pada umumnya jangka waktu tidak lebih dari 270 hari.
115 Adrian Setiadi, Ibid., hal. 13
116 Ibid, hal. 14
117 Kartini Muljadi, Aspek-Aspek Hukum Emisi Obligasi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, BUMN dan Perusahaan Swasta, Makalah tidak diterbitkan.
118 Sutan Remy Sjahdeini, Op. Cit., hal. 3
c. Surat-surat utang jangka menengah (lebih dari satu sampai dengan 3 tahun).
d. Surat-surat utang jangka panjang (di atas tiga tahun), antara lain berupa obligasi yang dijual melalui pasar modal atau dijual melalui direct number.
Berdasarkan uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa obligasi dapat dikategorikan pula sebagai “utang” atau “pinjaman” yang dimaksud dengan pengertian “utang” yang tercantum dalam pasal 1 angka 7 UUK-PKPU, sebab memiliki perikatan dasar utang-piutang antara penerbit obligasi dengan pemegang obligasi.
BAB III
PERAN DAN TANGGUNG JAWAB WALI AMANAT DAN BAPEPAM LK DI PASAR MODAL SERTA KEDUDUKANNYA DALAM KEPAILITAN
EMITEN YANG MENGELUARKAN OBLIGASI
3.1 Peran dan Tanggung Jawab Wali Amanat di Pasar Modal serta Kedudukannya dalam Kepailitan Emiten yang Mengeluarkan Obligasi 3.1.1 Tinjauan Umum Wali Amanat dalam Perdagangan Obligasi
Dalam penerbitan Obligasi di Pasar Modal, Emiten memiliki beberapa kewajiban yang harus dipenuhi. Salah satu diantaranya adalah menunjuk Wali Amanat yang bertugas mewakili kepentingan pemegang obligasi kelak dan juga membuat perjanjian perwaliamanatan dengan Wali Amanat tersebut. Kewajiban ini harus dipenuhi oleh Emiten pada saat sebelum pernyataan pendaftaran ke Bapepam LK terkait dengan penawaran umum obligasi yang akan dilakukan oleh Emiten. Terkait dengan hal ini alangkah baiknya mengetahui Wali Amanat tersebut terkait dengan perdagangan obligasi.
Konsep adanya fungsi Wali Amanat dalam perdagangan obligasi mirip dengan konsep Trusts dalam tradisi hukum Common Law. Banyak pihak yang menyamakan konsep Wali Amanat sebagai Indenture Trusts. Berdasarkan tradisi hukum Common Law, Trust adalah “legal relationship created under the laws of equity whereby property (the corpus) is held by one party (the trustee) for the benefit of other (cestui que trust or beneficiaries)”119. Rumusan tersbut memperlihatkan bahwa trust pada negera-negara dengan tradisi hukum Common Law adalah produk dari equity, yang berada di luar Court of Common Law.
Seiring dengan pertumbuhan equity yang berbeda-beda, perkembangan trusts di Amerika Serikat pun mengalami perbedaan dengan negara Inggris
119 Gunawan Widjaja dan Jono, Penerbitan Obligasi &Peran Serta Tanggung Jawab Wali Amanat dalam Pasar Modal, (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 68
Raya. Trust di Amerika Serikat bukan lagi suatu pranata yang lahir dari equity, yang semata-mata ada dan tercipta untuk memberikan perlindungan bagi hak-hak yang tidak dapat diperoleh atau dipertahankan dalam Common Law120.
Pada negara-negara bagian di Amerika Serikat yang tidak mempunyai hukum “tertulis” mengenai trusts, trusts dimungkinkan untuk dibentuk atau dibuat melalui suatu perjanjian121. Dalam konteks yang demikian trusts sering kali disebutkan sebagai “a three party contract, a private legal agreement.”122 Perjanjian yang mengatur mengenai trusts tersebut disebut dengan Indenture.
Trust yang demikian disebut dengan nama Pure Trusts. Sebagai suatu perjanjian, Pure Trusts tunduk pada ketentuan yang diatur dalam Common Law dan karenanya masuk dalam yurisdiksi Court of Common Law. Pure Trusts tunduk sepenuhnya kepada aturan-aturan hukum perjanjian, terutama asas kebebasan berkontrak yang diberikan oleh Konstitusi (Amerika Serikat).123
Dengan demikian, jelaslah bahwa dalam konsepsi Common Law yang berlaku di Amerika Serikat, suatu Pure Trusts adalah Trusts yang lahir semata-mata dari perjanjian yang seluruh hak dan kewajibannya diatur dalam perjanjian tersebut.perjanjian yang melahirkan Pure Trusts disebut dengan nama Indenture Deed atau Indenture Agreement. Dengan demikian dapat ditarik benang merah bahwa konsep Wali Amanat (Indenture Trusts) merupakan bentuk perkembangan Trusts yang terjadi di Amerika Serikat. Sebagai suatu bentuk trusts, indenture trustee tidak dilahirkan dari suatu Declaration of Trusts,
120 Ibid
121 D. Fullartion, “Trust Fund Laws and Agreements”. Hal. 2, http://www.fullertonlaw.
com/trustfundchap.htm
122 Gunawan Widjaja dan Jono¸ Op. Cit., hal. 69
123 Joe Sweet, “Essay on The International, Souveriegn, Pure, Private, Non-Statutory, Non-Associated Unincorporated Business Trust Organization (UBTO)” hlm. 2, http://www.savingclub.com/truth/TBA/UBTO.htm, diakses pada 22 Maret 2011
melainkan lahir dari perjanjian yang disebut dengan nama Indenture Deed atau Indenture Agreement. Pengertian Indenture menurut Law Dicitonary adalah124:
In a business context, an Indenture is a lenghty written Agreement which sets forth the terms under which bonds or debentures maybe issued.
Terms include the amount or the issue, the interset rate, the maturity, the property pledged as collateral (if any), and the so-called “protective covenants”. An independet Trustee, ussually a bank or Trusts company, is named to oversee the issuance of the bonds, to collect and pay interest nad pricipal, and to protect he bondholder’s right in he Indenture.
Academic’s Legal Dicitonary mendefinisikan Indenture sebagai125: A Deed between two persons conveying real estate, by which both parties assume obligations. Indenture implies a sealed instrument.
Deed are divided into two kinds: (1) Deed poll being contracted by one party only; (2) Indentures being contracted between two or more parties.
Sementara itu dalam Black’s Law Dictionary mendifinisikan Indenture sebagai126:
A formal written instrument made by two or more parties with different interests, traditionally having the edges serrated, or indented, in a zigzag fashion to reduce the possibility of forgery and to distinguish it from a Deed poll.
Yang dinamakan Deed Poll adalah127:
124 Steven H. Gifis, Law Dictionary, 5th ed, (New York: Barons’s Educational Series Inc., 2003), hal. 248
125 SL. Salwan dan U. Narang, Academic’s Legal Dictionary, 14th ed., (New Delhi Academic (India) Publishes (Regd), 2003), hlm.175.
126Bryan A. Garner, Black’s Law Dictionary, 2nd Pocket Edition, (St. Paul Minn.: West Publishing Co. 2001), hlm. 342
127 Ibid., hal. 182
A Deed made by and binding on only one party, or on two or more parties having similar interests. It is so called because, traditionally, the parchment was “poll” (that is, shaced) so that it would even at the top (unlike Indenture)
Dari seluruh pengertian yang diberikan dapat diketahui bahwa pada dasarnya Indenture bukanlah suatu pernyataan sepihak, yang hanya melahirkan kewajiban pada satu sisi. Indenture melibatkan dua atau lebih pihak yang memiliki kepentingan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya128. Indenture Trustee adalah pihak yang mewakili kepentingan-kepentingan para investor pemegang bagian pecahan dari obligasi, termasuk untuk melakukan eksekusi jaminan-jaminan kebendaan yang ada, yang diserahkan untuk kepentingan para investor yang terkait dengan penerbitan surat obligasi yang dipecah-pecah ke dalam bagian obligasi yang dimiliki oleh investor.
Selanjutnya, di Indonesia penggunaan kata-kata “Wali Amanat” dalam Undang-Undang Pasar Modal merupakan penggantian dari rumusan “Trustee”, yang sebelumnya digunakan dalam Keputusan Menteri Keuangan No.
696/KMK.011/1985 tentang Lembaga Penunjang Pasar Modal129. Penggunaan istilah “Trustee” ini selanjutnya diubah dengan nama “Trust Agent” dalam Keputusan Menteri Keuangan No. 1548/KMK.013/1990130. Penggunaan Istilah ini kemudian diganti dengan istilah “Wali Amanat” sebagaimana terdapat dan di atur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Dalam Pasal 1 angka 30 Undang-Undang Pasar Modal, disebutkan bahwa “Wali Amanat adalah pihak yang mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang.” sedangkan pihak diartikan oleh Undang-Undang Pasar Modal sebagai
128 Gunawan Widjaja dan Jono, op. cit., hal. 74
129 Departemen Keuangan, Keputusan Menkeu tentang Lembaga Penunjang Pasar Modal, Kepmen Keuangan No. 696, Tahun 1985, Pasal 1 butir c
130 Departemen Keuangan, Keputusan Menkeu tentang Pasar Modal, Kepmen Keuangan No. 1548 , Tahun 1990, Pasal 1 butir 73 Keputusan Menteri Keuangan No. 1548/KMK.013/1990 tentang Pasar Modal.
orang perseorangan, perusahaan, usaha bersama, asosiasi, atau kelompok131. Pemahaman terkait “pihak” dikaitkan dengan definisi wali amanat menjadi tidak konsisten, sebab hal ini diatur kembali pada Pasal 50 Undang-Undang Pasar Modal mengenai pengaturan pihak yang dapat menjadi Wali Amanat. Dalam Pasal 50 ayat (1), pihak yang dapat menjadi Wali Amanat ditentukan kembali kepada dua pihak, yakni Bank Umum dan Pihak lain yang ditentukan berdasarkan Peraturan Pemerintah132. Akan tetapi hingga saat ini peraturan pemerintah yang mengatur tentang pihak lain tersebut belum ada, sehingga satu-satunya pihak yang dapat menjadi wali amanat dalam emisi obligasi adalah bank umum.
Sementara itu dalam Pasal 1 butir 15 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan menyatakan bahwa :
“Wali Amanat adalah kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh Bank Umum untuk mewakili kepentingan pemegang surat berharga berdasarkan perjanjian atara Bank Umum dengan Emiten surat berharga yang bersangkutan.”
Eksistensi Wali Amanat dalam penerbitan obligasi di Pasar Modal diperlukan mengingat efek bersifat utang (obligasi) tersebut mempunyai sifat yang sepihak dan mempunyai jangka waktu jatuh tempo yang panjang133. Efek bersifat utang (obligasi) yang ditawarkan kepada publik tentunya dimiliki oleh banyak investor. Tanpa adanya lembaga Wali Amanat, pemegang efek selaku kreditur harus berhadapan langsung dan melakukan pengawasan secara sendiri-sendiri untuk memastikan bahwa tidak terdapat hal-hal yang dilanggar dalam kontrak perwaliamanatan. Pengawasan secara individual oleh masing-masing kreditur ini tentunya akan memakan waktu dan biaya yang tidak efisien.
131 Indonesia, Undang-Undang tentang Pasar Modal, Nomor 8 Tahun 1995, LN. No. 64 Tahun 1995, TLN. 3608, Pasal 1angka 23
132 Indonesia, Undang-Undang tentang Pasar Modal, Nomor 8 Tahun 1995, LN. No. 64 Tahun 1995, TLN. 3608, Pasal 50.
133 Gunawan Widjaja & Jono, op. cit., hal. 75-76
Dengan alasan ekonomis tersebut, satu kreditur mungkin akan memanfaatkan hasil pengawasan dari kreditur lainnya. Antara para kreditur mungkin akan saling mengamati untuk menentukan apakah diperlukan suatu tindakan pengawasan pada Emiten atau tidak. Dalam keadaan seperti ini, dapat terjadi terlalu banyak kreditur yang melakukan pengawasan sendiri-sendiri terhadap Emiten, atau sebaliknya, tidak ada satupun investor yang melakukan pengawasan karena saling mengandalkan satu sama lain134. Dengan demikian, maka perlu adanya pihak yang dapat menjembatani hubungan antara Emiten dengan para kreditur, maupun kreditur dengan sesama kreditur, serta melakukan pengawasan serta upaya-upaya yang dibutuhkan guna melindungi kepentingan investor dalam konteks penerbitan efek bersifat utang (obligasi). Pihak tersebut berdasarkan Undang-Undang Pasar Modal adalah Wali Amanat.
Meskipun Wali Amanat bukanlah kreditur dalam penerbitan obligasi, tetapi Wali Amanat adalah satu-satunya pihak yang berwenang untk bertindak sehubungan dengan efek bersifat utang tersebut. Sebagai wakil dari pihak pemegang efek bersifat utang (obligasi), wali amanat dapat melakukan berbagai tindakan yang sesuai dengan kontrak perwaliamanatan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, guna mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang (obligasi) baik di dalam maupun di luar pengadilan.
Langkah awal yang ditempuh oleh Wali Amanat sebagai pihak yang bertugas mewakili kepentingan investor adalah pada tahap pembuatan perjanjian dengan Emiten sebelum penerbitan obligasi di Pasar Modal. Perjanjian yang dibuat tersebut dinamakan dengan Kontrak Perwaliamanatan. Kontrak perwaliamanatan inilah yang menjadi dasar utama dalam mengatur syarat dan kondisi penerbitan efek bersifat utang (obligasi), termasuk hak dan kewajiban para pihak yang terlibat135.
134 Tim Studi Perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia, op. cit, hal 7-9
135 Ibid, hal. 1
Undang-Undang Pasar Modal Pasal 51 menyatakan bahwa Wali Amanat dilarang mempunyai hubungan afiliasi dengan Emiten; mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang (obligasi) di dalam dan luar pengadilan;
mempunyai hubungan kredit dengan Emiten yang dapat mengakibatkan benturan kepentingan; dilarang merangkap sebagai penanggung dalam emisi efek bersifat utang (obligasi) yang sama (Undang-Undang Pasar Modal Pasal 54).
Kontrak Perwaliamanatan kadang-kadang melibatkan pihak yang disebut Guarantor. Guarantor merupakan pihak yang memberikan jaminan akan melunasi surat hutang beserta kewajiban yang berhubungan, yang diterbitkan Emiten jika terjadi wanprestasi dari Emiten. Wali Amanat berfungsi melakukan pencatatan/administrasi mengenai obligasi yang masih beredar, pembayaran bunga yang sering terlambat, dan pengawasan terhadap Emiten. Wali Amanat wajib menyampaikan laporan tengah tahunan dan tahunan kepada Bapepam mengenai segala sesuatu tentang pelaksanaan obligasi yang ditanganinya136.
Di dalam melaksanakan pembayaran bunga maupun pokok, biasanya Wali Amanat menunjuk pihak yang disebut Paying Agent. Sehingga investor yang ingin mengambil bunga atau pokoknya, langsung berhubungan dengan Paying Agent. Kadang-kadang Wali Amanat bertindak sendiri sebagai Paying Agent137.
3.1.2 Kewajiban, Tugas dan Larangan-Larangan bagi Wali Amanat dalam Perdagangan Obligasi
1. Kewajiban Wali Amanat
136 Ibid, hal 13
137 Ibid, hal 14
Wali Amanat memiliki berbagai macam kewajiban yang harus dipenuhi atau dilaksanakan olehnya, khususnya yang terkait dengan kegiatan penerbitan Efek yang bersifat utang (obligasi), yaitu:
a. Wali Amanat wajib bersikap netral dan independen serta tidak memihak kepada Emiten, melainkan mewakili dan melindungi kepentingan pemegang Efek yang bersifat utang (Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Pasar Modal dan Penjelasannya)
b. Wali Amanat wajib membuat kontrak perwaliamanatan dengan Emiten sesuai dengan ketetapan yang ditetapkan oleh Bapepam LK (Pasal 52 Undang-Undang Pasar Modal)
c. Wali Amanat wajib memberikan ganti rugi kepada pemegang Efek yang bersifat utang atas kerugian karena kelalaiannya yang dalam pelaksanaan tugasnya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pasar Modal dan/atau peraturan pelaksanaannya serta kontrak perwaliamanatan (Pasal 53 Undang-Undang Pasar Modal)
d. Wali Amanat wajib menyampaikan laporan kegiatan kepada Bapepam LK dalam rangkap 4 yang meliputi:138
1) Laporan tengah tahunan dan tahunan mengenai kegiatan Wali Amanat yang antara lain memuat:
a) Jumlah dan jenis Efek bersifat utang yang masih beredar;
b) Pembayaran pokok dan/atau bunga Efek yang bersifat utang;
c) Jumlah Efek yang bersifat utang yang telah dikonversikan menjadi saham; dan
d) Pelaksanaan pengawasan yang telah dilakukan oleh Wali Amanat terhadap Emiten.
Laporan tengah tahunan wajib disampaikan kepada Bapepam LK paling lambat 30 hari setelah peridoe laporan yang bersangkutan dan laporan
138 Keputusan Ketua Bapepam No. Kep. 77/PM/1996 tentang Laporan Wali Amanat (Peraturan No. X.I.1).
tahunan wajib disampaikan kepada Bapepam LK paling lambat 60 hari setelah periode laporan yang bersangkutan.
2) Laporan peristiwa penting yang menyangkut kegiatan perwaliamanatan yang wajib disampaikan kepada Bapepam LK paling lambat 2 hari setelah terjadinya peristiwa atau sejak diketahuinya peristiwa tersebut, berupa:
a) Pembayaran pokok dan bunga Efek yang bersifat utang sebelum jatuh tempo, apabila dimungkinkan di dalam kontrak perwaliamanatan;
b) Pelanggaran atas ketentuan dalam kontrak perwaliamanatan termasuk:
(1) Pembayaran pokok dan/atau bunga efek bersifat utang yang tidak tepat waktu; dan
(2) Pengurangan, penambahan, pengalihan, atau penukaran jaminan;
(3) Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Efek bersifat utang.
e. Wali Amanat wajib mengadministrasikan, menyimpan, dan memelihara catatan, pembukuan, data, dan ketentuan tertulis yang berhubungan dengan Emiten yang menggunakan jasa Wali Amanat.
Dokumen tersebut wajib disimpan di tempat yang aman dan terpisah dari kegiatan bank lainnya dan wajib tersedia setiap saat untuk kepentingan pemeriksaan Bapepam LK. Penyimpanan dokumen tersebut sekurang-kurangnya untuk masa 5 tahun sejak seluruh kewajiban Emiten terhadap pemegang Efek bersifat utang telah dipenuhi. Dokumen-dokumen tersebut terdiri dari139:
1) Kontrak perwaliamanatan;
2) Kontrak yang berkaitan dengan pemberian jaminan dan bukti pemeliharaan atau penguasaan atas harta yang dijaminkan
3) Catatan, risalah, dan/atau laporan mengenai jumlah dan jenis Efek bersifat utang yang masih bererdar dan yang telah dilunasi;
4) Catatan, risalah, dan/atau laporan mengenai pelaksanaan pengawasan terhadap Emiten termasuk tindakan yang dilakukan
139 Keputusan Ketua Bapepam No.Kep-78/PM/1996 tentang Pemeliharaan Dokumen oleh Wali Amanat (Peraturan Nomor X.I.2)
oleh Wali Amanat karena tidak dipenuhinya persyaratan kontrak perwaliamanatan, antara lain tidak dibayarnya pokok dan bunga, atau adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal yang dilakukan oleh Emiten;
5) Catatan, risalah dan/atau laporan mengenai jumlah dan jenis Efek bersifat utang yang dapat dikonversikan menjadi saham, apabila ada;
6) Daftar Emiten yang menggunakan jasa Wali Amanat; dan 7) Buku pedoman operasional Wali Amanat
f. Memanggil dan mengadakan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) sebelum mengambil tindakan yang memerlukan persetujuan RUPO, dan melaksanakan dan melakukan tindakan yang sah seusai dengan keputusan RUPO140.
2. Tugas Wali Amaant
Secara simpel tugas Wali Amanat telah dijelaskan dalam pengertian umum mengenai Wali Amanat pada UUPM yakni bertugas untuk mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang. Menurut Tim Studi Perwaliamanatan di Pasar Modal yang dibentuk oleh Bapepam-LK, Tugas tersebut dapat diruai ke dalam beberapa tugas pokok Wali Amanat yang terdiri atas141:
a. Mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang dalam melakukan tindakan hukum yang berkaitan dengan kepentingan pemegang efek bersifat utang di dalam maupun di luar pengadilan.
Tugas ini berlaku efektif sejak tanggal emisi.
b. Melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan kehati-hatian serta bertindak bijaksana untuk kepentingan terbaik pemegang efek bersifat utang.
140 Tim Studi Perwaliamanatan di Pasar Modal Indonesia, op. cit., hal. 28.
141 Ibid, hal. 27.
c. Bertanggungjawab kepada pemegang efek bersifat utang atas kerugian yang timbul akibat dari kelalaian, kecerobohan atau adanya pertentangan kepentingan pada Wali Amanat dalam menjalankan tugasnya
Lebih spesifik lagi, terdapat beberapa kegiatan yang berkaitan dengan tugas pokok Wali Amanat tersebut adalah sebagai berikut142:
a. Menganalisis kemampuan dan kredibilitas Emiten apakah secara operasional perusahaan (Emiten) mempunyai kesanggupan menghasilkan dan membayar obligasi beserta bunganya.
b. Menilai kekayaan Emiten yang akan dijadikan jaminan. Wali Amanat harus mengetahui dengan pasti apakah nilai kekayaan Emiten yang menjadi jaminan setara atau memadai dibanding nilai obligasi yang diterbitkan.
c. Melakukan pengawasan terhadap kekayaan Emiten. apabila harta yang menjadi jaminan tadi dialihkan pemanfaatan atau pemilikanya haruslah
c. Melakukan pengawasan terhadap kekayaan Emiten. apabila harta yang menjadi jaminan tadi dialihkan pemanfaatan atau pemilikanya haruslah