BAB I: PENDAHULUAN
4.4 Analisa Kasus Perlindungan Investor Pemegang Obligasi dalam Kepailitan
4.4.2 Analisis
Berkaitan dengan penelitian dalam penulisan skripsi ini, maka analisa yang hendak dilakukan berpatokan kepada aspek perlindungan kepentingan investor pemegang obligasi dalam hal terjadinya kepailitan Emiten. Dalam kasus, pihak-pihak kunci yang menjadi fokus analisis antara lain:
1. PT. Infoasia Teknolgi Global Tbk, yang berkedudukan sebagai Emiten dalam penerbitan Obligasi Infoasia Teknologi Global I (Obligasi ITG).
2. PT. Bank Mega Tbk., yang berperan sebagai pihak Wali Amanat yang bertindak untuk kepentingan Investor Pemegang Obligasi
3. Investor Pemegang Obligasi, yang terdiri antara lain: Dana Pensiun Perumnas, Dana Pensiun Krakatau Steel, Yayasan Kesejahteraan Pegawai BRI, Reksadana Bahan Dana Arjuna dan Reksadana Ganesha Abadi, dan Reksadana Jisawi Pendapatan Tetap.
4. PT. Sejahtera Globalindo dan Global Communication, kedua perusahaan yang telah mengikatkan dirinya untuk memberikan jaminan kebendaan berupa peralatan telekomunikasi masing-masing perusahaan tersebut dalam hal Infoasia (Emiten) telah lalai dalam membayar kewajibannya dalam obligasi, baik dalam pembayaran pokok maupun bunga.
Dalam perkara pailit, hemat saya Hakim telah tepat dalam memutuskan untuk mengabulkan permohonan kepailitan bagi Infoasia. Hal ini disebabkan secara sederhana dapat dibuktikan bahwa Infoasia telah memiliki lebih dari satu kreditur yang utangnya telah jatuh waktu dan dapat ditagih.
1. Memiliki lebih dari satu kreditur
Dalam perkara Nomor 37/PAILIT/PN.NIAGA JKT-PST, setidaknya Infoasia sebagai debitur telah memiliki setidaknya lebih dari satu kreditur, kreditur-krediturnya adalah:
a. PT. Orix Indonesia Finance, berkedudukan sebagai kreditur dengan adanya sejumlah piutang dalam hal kelalaian pembayaran sewa guna usaha oleh Infoasia kepada PT. Orix Indonesia Finance
b. PT. Bank International Indonesia Tbk., berkedudukan sebagai kreditur dalam perjanjian kredit modal kerja dengan Infoasia
c. Pihak Pemegang Obligasi Infoasia Teknologi Global I, yang terdiri atas Dana Pensiun Perumnas, Dana Pensiun Krakatau Steel, Yayasan Kesejahteraan Pegawai BRI, Reksadana Bahan Dana Arjuna dan Reksadana Ganesha Abadi, dan Reksadana Jisawi Pendapatan Tetap. Masing-masing pihak dalam obligasi ini pada dasarnya merupakan kreditur yang memiliki hubungan utang-piutang sendiri-sendiri dengan pihak Infoasia. Dan masing-masing pihak secara personal merupakan kreditur dari Infoasia dalam penerbitan Obligasi Infoasia Teknologi Global I
2. Utang tersebut telah jatuh waktu dan dapat ditagih
a. Infoasia (Termohon Pailit) menerima fasilitas pembiayaan sewa guna usaha dari PT. Orix Finance (Pemohon Pailit) senilai Rp. 7.724.622.000,- (tujuh milyar tujuh ratus dua puluh empat juta enam ratus dua puluh dua ribu Rupiah) atas peralatan-peralatan sebagai berikut:
i 170 (seratus tujuh puluh) unit SON Metro B250 Outdoor Seed;
ii 128 (seratus dua puluh delapan) unit NDC NWH0303 surge protector.
Berdasarkan Ketenuan dalam Pasal 5.1 dan Pasal 5.2 Perjanjian Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi Untuk Peralatan Nomor L08J-03760D tertanggal 23 Juni 2008 antara Infoasia dengan PT. Orix Finance, Infoasia memiliki kewajiban untuk membayar angsuran sewa guna usaha secara penuh dan tepat waktu pada tanggal 23 setiap bulannya dengan masa sewa una usaha selama 39 bulan yang dimulai sejak 23 Juli 2008. Dalam beberapa kali waktu pembayaran, Infoasia tidak memenuhi pembayaran secara penuh kepada PT. Orix Finance terhitung sejak bulan Oktober 2008. Atas perbuatan lalai Infoasia dalam pembayaran sewa guna usaha, maka pihak PT. Orix Finance melayangkan Surat Peringatan sebanyak 3 (tiga) kali pada tangal 5 November 2008, 17 November 2008, dan 2 Desember 2008. Dan meskipun demikian, pihak Infoasia masih belum melakukan pembayaran secara penuh atas Angsuran Sewa Guna Usaha Peralatan yang terdiri atas pokok, bunga dan/atau denda yang masih tertunggak kepada PT. Orix Finance. Kemudian pada tanggal 9 Juni 2009 PT. Orix Finance melayangkan Surat Peringatan terakhir kepada Infoasia perihal kelalaian dalam membayar sewa guna usaha kepada PT. Orix Finance secara penuh beserta seluruh jumlah angsuran sewa guna usaha untuk seluruh masa sewa guna usaha yang belum dibayar oleh pihak Infoasia selambat-lambatnya tangal 16 Juni 2009. Namun demikian, pihak Infoasia belum juga membayar secara tunai dan penuh kewajibannya kepada PT. Orix Finance sampai dengan tanggal 30 Juni 2009 yang berjumlah Rp. 8.409.673,- (delapan milyar empat ratus sembilan juta enam ratus tuhuh puluh tiga ribu empat ratus enam puluh
tujuh Rupiah). Kelalaian dalam melakukan kewajiban yang bisa dinilai dengan uang merupakan utang berdasarkan pengertian UUK-PKPU, dan lewatnya tenggang waktu upaya somasi terakhir yang dilakukan PT. Orix Finance merupakan masa jatuh tempo sehingga utang atas kewajiban pembayaran sewa guna usaha tersebut menjadi sudah dapat ditagih.
Dalam kasus ini, Pemegang Obligasi ITG berkedudukan sebagai Kreditur bagi Infoasia atas penerbitan Obligasi ITG I. Mengingat adanya sejumlah jaminan dari pihak ketiga atas obligasi tersebut, maka Pemegang Obligasi ITG berkedudukan sebagai kreditur preferen. Dalam proses kepailitan, sebagai kreditur preferen Pemegang Obligasi ITG memiliki hak untuk didahulukan atas pembayaran piutang dibandingkan kreditur konkruen.
Aspek perlindungan kepentingan investor yang menjadi titik permasalahan dalam kasus kepailitan Infoasia ini terhadap investor pemegang obligasi adalah perihal peranan Wali Amanat untuk bertindak melindungi kepentingan pemegang obligasi dalam hal terjadinya kepailitan Emiten, pembayaran pokok dan bunga Obligasi Infoasia Teknologi Global I (selanjutnya disebut dengan Obligasi ITG), dan perihal jaminan kebendaan dari pihak ketiga.
Bank Mega, selaku Wali Amanat, telah melaksanakan perannya untuk bertindak atas nama pemegang Obligasi ITG dalam melindungi kepentingan pemegang obligasi terkait segala aspek yang berkaitan dengan Obligasi ITG.
Hal ini selaras dengan pemahaman tentang Wali Amanat di Pasar Modal dalam Pasal 1 angka 23 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, yang mendefinisikan bahwa Wali Amanat adalah pihak yang mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang (dalam kasus ini efek bersifat utang tersebut adalah obligasi). Satu hal yang menjadi perhatian penulis adalah bahwa ternyata pihak Wali Amanat tidak secara aktif datang untuk menghadiri persidangan dalam persidangan permohonan kepailitan, baik secara langsung ataupun dikuasakan kepada kuasa hukum, dan Wali Amanat juga telah lalai
dengan tidak menyelenggarakan RUPO untuk mengambil keputusan RUPO yang berisikan sikap pemegang Obligasi ITG atas kepailitan Infoasia. Hal ini patut disayangkan, padahal Wali Amanat merupakan pihak yang berwenang mewakili pemegang obligasi baik di dalam maupun di luar persidangan, dan juga Wali Amanat harus secara pro-aktif melakukan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan kepentingan investor pemegang obligasi.
Kepailitan Emiten merupakan peristiwa penting yang harus ditanggapi secara serius oleh Wali Amanat dalam rangka melindungi kepentingan pemegang obligasi. Usaha untuk secara aktif terlibat dan memahami proses kepailitan Emiten yang tengah berjalan wajib diperhatikan oleh Wali Amanat guna menghindari terjadinya kerugian di pihak pemegang obligasi atas kesalahan, kelalaian, atau kealpaan dalam melakukan tindakan hukum perlindungan kepentingan pemegang obligasi.
Terkait dengan gugatan perdata dari Wali Amanat kepada pihak, hemat penulis terdapat kesalahan dalam melakukan tindakan hukum bagi pemegang obligasi selama dalam proses kepailitan. Gugatan tidak seharusnya dilakukan, sebab pada saat tersebut debitur masih dalam pailit. Setelah putusan pailit dijatuhkan oleh majelis hakim Pengadilan Niaga, Bank Mega sebagai Wali Amanat harus terlebih dahulu melakukan pencocokan piutang kepada kurator.
Hal-hal utama yang harus dilakukan investor pemegang obligasi melalui perwakilan Wali Amanat kepada kurator adalah sebagai berikut:
a. Mengajukan klaim atau pernyataan tertulis kepada pihak kurator mengenai adanya sejumlah utang dari Emiten kepada investor pemegang obligasi atas penerbitan obligasi yang dilakukan Emiten di Pasar Modal
b. Menyertakan bukti-bukti berupa dokumen-dokumen tertulis yang menjamin keabsahan adanya hubungan utang-piutang antara Emiten dengan investor pemegang obligasi terkait dengan penerbitan obligasi yang dilakukan oleh Emiten
c. Menyertakan daftar jumlah keseluruhan obligasi yang diterbitkan oleh Emiten beserta nilai per-lembar obligasi yang diterbitkan oleh Emiten tersebut. Uraian tersebut turut pula melampirkan jumlah utang pokok dan bunga obligasi.
d. Dalam hal terdapat jaminan dalam penerbitan obligasi yang dilakukan oleh Emiten, maka Wali Amanat juga wajib menyertakan bukti-bukti adanya hak jaminan dalam penerbitan obligasi yang dilakukan oleh Emiten.
e. Pengajuan piutang dan bukti-bukti di atas dilakukan sebelum batas waktu yang ditentukan oleh hakim pengawas258.
f. Atas pengajuan piutang terhadap kurator ini, pihak investor pemegang obligasi melalui perwakilan Wali Amanat, berhak meminta suatu tanda terima dari kurator259.
Dalam kasus Infoasia, Obligasi dijaminkan dengan jaminan kebendaan dari 2 (dua) Penanggung dengan jaminan kebendaan. Meskipun terdapat penanggung, namun karena dijaminkan dengan jaminan kebendaan ari penanggung, hal ini tidak dapat disamakan dengan konsep corporate guarantee tanpa jaminan kebendaan sehingga seluruh harta penanggung tidak dapat dijadikan jaminan pelunasan utang yang menjadi tanggungannya. Jaminan kebendaan, menurut J. Satrio S.H., adalah hak yang memberikan hak didahulukan dalam pengambilan pelunasan daripada kreditur-kreditur lain, atas hasil penjualan suatu benda tertentu atau sekelompok benda tertentu, yang secara khusus diperikatkan260. Kemudian bila ditilik menurut pasal 141 ayat
258 Hal ini diatur dalam pasal 113 ayat (1) UUK-PKPU dimana dalam pasal tersebut diatur bahwa paling lambat 14 hari terhitung setelah putusan pernyataan pailit diucapkan, hakim pengawas harus menetapkan: a) batas akhir pengajuan tagihan; b) batas akhir verifikasi pajak untuk menentukan besarnya kewajiban pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan; c) hari, tanggal, waktu, dan tempat rapat kreditur untuk mengadakan pencocokan piutang.
259 Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 115 ayat (2) yang berbunyi: “Atas penyerahan piutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kreditur berhak meminta suatu tanda terima dari Kurator.”
(1), pihak Pemegang Obligasi yang diwakilkan oleh Wali Amanat dalam melakukan pencocokan piutang setelah dikurangi dengan pembayaran yang telah diterimanya dari penanggung. Mengingat bahwa penanggungan yang diberikan oleh PT. Sejahtera Globalindo dan Global Communication Inc.
adalah jaminan kebendaan berupa fidusia, maka seharusnya pihak Wali Amanat dapat melakukan eksekusi langsung jaminan fidusia yang dimilikinya tersebut tanpa harus mengajukan gugatan kepada Pengadilan seperti halnya gugatan yang dilakukan oleh Wali Amanat dalam Perkara Nomor 62/Pdt.G/2010/PN.JKT.PST. Hak eksekusi ini merupakan hak yang diatur dalam UUK-PKPU dalam pasal 55 UUK-PKPU yang mengakui hak separatis setiap kreditur pemegang hak jaminan, termasuk pemegang hak jaminan fidusia. Eksekusi tersebut dilakukan setelah menunggu selama 90 (sembilan puluh) hari setelah putusan pailit tersebut dibacakan oleh Hakim. Dalam hal terdapat kekurangan, menurut Pasal 138, barulah Wali Amanat dapat melakukan pencocokan piutang atas sisa piutang yang belum terlunasi oleh jaminan kebendaan yang dimilikinya dengan berkedudukan sebagai kreditur konkruen.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya permasalahan pemenuhan pembayaran piutang baik berupa pokok maupun bunga obligasi masih dalam masa proses kepailitan. Dan menurut penulis, putusan yang dikeluarkan oleh Hakim Pengadilan Negeri telah tepat untuk menolak melanjutkan pemeriksaan dengan dasar bahwa permasalahan yang diajukan oleh Bank Mega selaku Wali Amanat masih dalam lingkup Kepailitan yang masih dalam lingkup wewenang kompetensi absolut Peradilan Niaga, dan Pengadilan Negeri tidak memiliki kompetensi absolut untuk melanjutkan pemeriksaan gugatan perdata tersebut.
Berdasarkan analisis di atas, kiranya dapat ditarik kesimpulan pihak PT. Bank Mega Tbk. telah melakukan kelalaian dan kesalahan. Kelalaian yang
260 J. Satrio, Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Kebendaan, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002) hal. 17
dilakukan oleh Bank Mega sebagai Wali Amanat adalah kelalaian dengan tidak menghadiri proses persidangan kepailitan Infoasia, dan kelalaian dengan tidak menjalankan RUPO untuk menentukan langkah yang hendak diambil terkait kepailitan infoasia. Kesalahan yang dilakukan oleh Bank Mega selaku Wali Amanat Obligasi ITG setidaknya adalah kesalahan dalam menentukan langkah hukum dalam proses pemberian perlindungan pemegang Obligasi ITG yang diwakilinya dalam hal terjadinya kepailitan Infoasia selaku Emiten dari penerbitan Obligasi ITG. Menurut penulis, seharusnya pihak Wali Amanat secara cermat melakukan tindakan sesuai dengan proses sebagaimana mestinya menurut aturan hukum kepailitan yang berlaku di Indonesia.
BAB V PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Sebagai suatu badan hukum emiten dapat saja mengalami kepailitan. Emiten dapat dipailitkan asalkan dapat dibuktikan secara sederhana memenuhi syarat dijatuhkannya pernyataan pailit oleh Undang-Undang Nomor 37 tahun 2004, yakni emiten mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih. Perikatan dasar obligasi pada dasarnya merupakan hubungan utang-piutang antara pihak emiten dengan pihak investor pemegang obligasi. Emiten selaku penerbit obligasi meminjam kepada para pemegang obligasi sejumlah uang yaitu senilai nominal obligasi yang bersangkutan dan berjanji mengembalikan uang tersebut pada saat jatuhnya tempo obligasi. Pemegang obligasi yang membeli obligasi kepada penerbit dianggap telah menghutangkan sejumlah uang kepada penerbit. Dalam konsep hubungan hukum utang-piutang tersebut, maka emiten berkedudukan sebagai debitur bagi investor pemegang obligasi, sedangkan investor pemegang obligasi berkedudukan sebagai kreditur bagi emiten. Dalam hal terjadinya kepailitan, maka otomatis secara hukum obligasi yang diterbitkan oleh emiten merupakan suatu utang yang dapat ditagih oleh pemegang obligasi selaku kreditur dari emiten dalam proses kepaililtan emiten.
2. Dalam penerbitan dan perdagangan obligasi di Pasar Modal, terdapat dua pihak yang menjadi unsur penting dalam rangka mengakomodir kepentingan dari investor pemegang obligasi, yaitu Wali Amanat dan Bapepam LK
Wali Amanat berdasarkan ketentuan regulasi pasar modal yang berlaku di Indonesia merupakan suatu pihak yang bertugas mewakili kepentingan pemegang efek bersifat utang. Tentunya tugas tersebut juga turut berlaku dalam penerbitan dan perdagangan obligasi di Pasar Modal. Peran Wali
Amanat dalam rangka melindungi investor pemegang obligasi dimulai sejak tahap penerbitan obligasi oleh emiten hingga selesainya masa perwaliamanatan. Dalam hal terjadinya kepailitan emiten, tentu memiliki peranan besar dalam melakukan berbagai tindakan hukum untuk melindungi investor pemegang obligasi, tindakan tersebut mencakup segala urusan yang berkaitan dengan kepailitan, mulai dari tahap sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan oleh hakim, maupun proses hukum kepailitan setelah putusan pernyataan pailit diucapkan oleh hakim.
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM LK) merupakan lembaga yang diberi kewenangan dan kewajiban untuk melakukan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan sehari-hari seluruh kegiatan institusi pelaku pasar modal di Indonesia. Sebagai otoritas pasar modal, Bapepam LK mempunyai 3 fungsi utama, yaitu melakukan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan. Dalam rangka memberikan perlindungan bagi investor pemegang obligasi dalam hal terjadinya kepailitan emiten, Bapepam LK memiliki peranan meliputi perlindungan preventif dalam bentuk aturan, pedoman, bimbingan, dan arahan; dan bentuk perlindungan represif dalam bentuk pemeriksaan, penyidikan, dan pengenaan sanksi.
3. Aspek perlindungan hukum pemegang obligasi sebagai kreditur dalam kepailitan emiten dapat digolongkan dalam dua pembagian, yakni aspek perlindungan hukum pemegang obligasi pada saat permohonan pailit emiten, dan aspek perlindungan hukum pemegang obligasi setelah putusan pailit diputuskan oleh hakim. Aspek perlindungan hukum pemegang obligasi pada saat permohonan pailit emiten meliputi hak atas keterbukaan informasi terkait dengan keadaan emiten, besar pertanggungan utang, dan segala hal terkait dengan kepailitan emiten tersebut; Hak atas perlakuan yang sama tanpa diskriminatif dengan kreditur lainnya dalam proses kepailitan berlangsung;
klaim adanya piutang dari para Investor pemegang obligasi kepada emiten terkait dengan penerbitan obligasi; klaim atas jaminan yang disertakan dalam penerbitan obligasi dengan jaminan (bila ada); Actio Pauliana; dan hak
memprakarsai Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang bagi Emiten.
selanjutnya, aspek perlindungan hukum pemegang obligasi setelah putusan pailit diputuskan oleh hakim mencakup hak pemegang obligasi dalam pencocokan piutang; hak investor pemegang obligasi dalam pemberesan harta pailit; hak pemegang obligasi atas penerapan prinsip keterbukaan; Actio Pauliana; dan hak pemegang obligasi dalam upaya perdamaian oleh emiten setelah putusan pailit.
Berdasarkan studi kasus, implementasi perlindungan pemegang obligasi dalam kepailitan PT. Infoasia Teknologi Global Tbk telah dilaksanakan dengan cukup baik. Hal ini ditandai dengan adanya peranan wali amanat dalam melakukan tindakan mewakili kepentingan pemegang obligasi Infoasia Teknologi Global dalam proses kepailitan. Hanya saja terdapat beberapa kekurangan dalam penerapannya, terutama bila dikaitkan dengan peran wali amanat dalam melakukan tindakan-tindakan hukum dalam rangka mewakili kepentingan pemegang obligasi Infoasia Teknologi Global Tbk. Kekurangan tersebut meliputi kelalaian wali amanat untuk menghadiri proses persidangan kepailitan Infoasia di Pengadilan Niaga; kelalaian dalam tidak menyelenggarakan RUPO terkait dengan adanya kepailitan Infoasia tersebut;
dan kesalahan pengambilan langkah hukum dengan pengajuan gugatan perdata padahal proses kepailitan setelah putusan pailit masih berjalan.
4.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis menyarankan:
1. Dalam proses kepailitan, Emiten harus tetap menerapkan pelaksanaan asas-asas kepailitan, terutama Asas Keterbukaan. Hal ini bertujuan agar segala informasi penting dapat tetap diketahui oleh krediturnya, terutama para pemegang obligasi. Selain demi melindungi kepentingan pemegang obligasi, pelaksanaan asas-asas tersebut juga turut menjaga nama baik dan integritas perusahaan di mata publik. Dengan demikian diharapkan, dalam hal emiten
tidak jadi dipailitkan, emiten akan lebih mudah dalam memperoleh simpati dan kepercayaan dari investor.
2. Peraturan Bapepam X.K.5 tentang Keterbukaan Informasi Bagi Emiten atau Perusahaan Publik yang Dimohonkan Pailit, hemat saya perlu diubah dengan menambahkan ketentuan yang berisikan bahwa dalam hal emiten yang dipailitkan tersebut adalah emiten yang mengeluarkan obligasi, maka Bapepam LK tidak semata-mata menyediakannya saja dalam bentuk dokumen publik dalam Pusat Referensi Pasar Modal, tapi juga Bapepam-LK harus turut berperan aktif dengan menyampaikan laporan Emiten yang dimohonkan pailit tersebut kepada pihak Wali Amanat. Hal ini bertujuan agar pelaksanaan keterbukaan informasi tersebut dapat lebih maksimal dalam rangka memaksimalkan perlindungan bagi pemegang obligasi.
3. Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Obligasi perlu dimaksimalkan dalam hal terjadinya kepailitan emiten agar mencegah terjadinya berbagai kesalahan atau kelalaian oleh Wali Amanat, sekaligus juga menjadi legitimasi Wali Amanat dalam melakukan berbagai tindakan dalam mewakili kepentingan pemegang obligasi dalam hal terjadinya kepailitan emiten.
Meskipun memakan waktu dan biaya, penyelenggaraan RUPO harus dilaksanakan dalam hal terjadinya kepailitan emiten karena kepailitan emiten merupakan suatu peristiwa yang amat penting untuk dibahas melalui RUPO.
Pengaturan Kewajiban Penyelenggaraan RUPO dalam hal terjadinya kepailitan emiten ini harus dicantumkan dalam Perjanjian Perwaliamanatan.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Adonis, Adrian, “Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dalam Proses Kepailitan di Indonesia,” Tesis Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2003.
Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis : Kepailitan, Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1999
Aritonang, Maria Imelda, “Pelaksanaan Tanggung Jawab Wali Amanat dalam Penerbitan Obligasi di Indonesia,” Tesis Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, 2008.
Aria Suyudi, et. al. Analisa Hukum Kepailitan di Indonesia : Kepailitan di Negara Pailit, Jakarta: Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia, 2004.
Aruan, Albert Richi, “Kedudukan Utang Negara atas Utang Pajak PT. Atika Optima Inti dalam Kasus Kepailitan,” Tesis Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, 2010.
A.S., Sarmiati, “Fungsi Wali Amanat.” Prosiding Rangkaian Lokakarya Terbatas Masalah-Masalah Kepailitan dan Wawasan Bisnis Lainnya Tahun 2004 yang bertema Transaksi di Pasar Modal Obligasi, 29-30 Juni 2004.
Bahar, Wahyuni, “Aspek Hukum Perwaliamanatan.” Tanggung Jawab Emiten dan Wali Amanat, serta Perlindungan Hukum terhadap Pemegang Obligasi, Prociding, Jakarta : Pusat Pengkajian Hukum, 2005.
Bahar, Wahyuni, “Aspek Hukum Perjanjian Perwaliamanatan,” Tanggung Jawab wali amanat dan Emiten, serta Perlindungan Hukum Pemegang Obligasi, Lampiran Makalah Dalam Prosiding Transaksi Obligasi Di Pasar Modal.
Bakrie, Aburizal, “Good Corporate Governance: Sudut Pandang Pengusaha”, dalam Good Corporate Governance: Konsep dan Implementasi Perusahaan Publik dan Korporasi Indonesia, diedit oleh Hinuri, Hindarmono, Jakarta: Yayasan Pendidikan Pasar Modal Indonesia, 2002.
Bapepam, Cetak Biru Pasar Modal Indonesia 2000-2004, Jakarta: Bapepam, 1999.
Frank H. Easterbrook, dan Daniel R. Fischel, 1, The Economic Structure of Corporate Law, Cambridge, Massachusetts, London: Harvad University Press, 1996.
Garner, Bryan A., Black’s Law Dictionary, 2nd Pocket Edition, St. Paul Minn.:
West Publishing Co. 2001.
Gifis, Steven H., Law Dictionary, 5th ed, New York: Barons’s Educational Series Inc., 2003.
_________. Law Dictionary, Woodbury : Barron’s Educational Series Inc., 1975.
Gunawan Widjaja dan Jono, Penerbitan Obligasi &Peran Serta Tanggung Jawab Wali Amanat dalam Pasar Modal, Jakarta: Kencana, 2006.
Harahap, Agus Salim, “Bentuk Perlindungan dan Upaya Bursa Dalam Melindugi Investor Terhadap Kepailitan Perusahaan Publik,” Tesis Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok : Universitas Indonesia, 2007.
Hartini, Rahayu, Hukum Kepailitan, Jakarta: Direktorat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional, 2002
Hoff, Jerry, Indonesian Bankruptcy Law, .Jakarta: PT Tata Nusa, 1998.
_________. Undang-Undang Kepailitan di Indonesia, Penerjemah Kartini Mulyadi, Cet. I, Jakarta, Tatanusa, 2000.
Indra Surya, Ivan Yustiavandana, dan Arman Nefi, Penerapan Good Corporate Governance : Mengensampingkan Hak-Hak Istimewa Demi Kelangsungan Utama, Jakarta : Kencana, 2006.
James D. Cox, Robert W. Hillman, Donald C. Langevoort, Securities Regulation Cases and Materiels, Boston, Toronto, London: Little, Brown and Company, 1991.
Kartini, Rahayu, Hukum Kepailitan, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, 2002.
Lontoh dkk, Penyelesaian Utang-Piutang: Melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Bandung: Penerbit Alumni, 2001.
Marzuki Usman, Singgih Riphat dan Syahrir Ika, ABC Pasar Modal Indoensia,
Marzuki Usman, Singgih Riphat dan Syahrir Ika, ABC Pasar Modal Indoensia,