• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Orde Baru Dan Etnis Tionghoa Pasca Pembatalan

BAB II. LATAR BELAKANG MUNCULNYA KEBIJAKAN ORDE

C. Hubungan Orde Baru Dan Etnis Tionghoa Pasca Pembatalan

Bergerak Pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, saat itu mengklaim bahwa seluruh orang Tionghoa yang lahir di tanah pemerintahan Kolonial Hindia Belanda (saat ini Indonesia) merupakan warga negaranya (Warga Negara pemerintah Kolonial Hindia Belanda)65. Dikutip dari

Undang-63 Leo Suryadinata, Dilema…, hlm169.

64 Ibid. hlm67.

65 Ibid. hlm122.

39

Undang Kebangsaan Ching tahun 1909 disebutkan bahwa seluruh orang Tionghoa di mana pun mereka dilahirkan mereka tetaplah orang Cina. Oleh karena itu etnis Tionghoa pada masa tersebut memiliki dua kewarganegaraan.66

Pada masa awal kemerdekaan Repubulik Indonesia, Undang-Undang Kewarganegaraan tahun 1946 menyatakan bahwa orang Tionghoa yang lahir di Indonesia merupakan warga negara Indonesia. Akan tetapi warga Indonesia keturunan Tionghoa juga masih terikat Undang-Undang Ching sehingga mereka mempunyai dua kewarganegaraan. Bangsa Indonesia dalam kekhawatirannya terhadap paham komunis yang dapat disalurkan kepada warga Indonesia keturunan Tionghoa menerbitkan Perjanjian Dwi Kewarganegaraan. Selain itu perjanjian Dwi Kewarganegaraan juga lahir karena persepsi orang Indonesia tentang Tionghoa lokal, yang dianggap tidak dapat berasimilasi.67 Pada tanggal 22 April 1955, Perjanjian Dwi Kewarganegaraan atau yang dikenal dengan Perjanjian Sunario-Chou En Lai, ditandatangani. Perjanjian ini kemudian dijadikan Undang-Undang No.2 Tahun 1958, pada tanggal 27 Januari 1958.68 Undang-undang ini mensyaratkan bahwa penolakan kewarganegaraan Cina harus dilakukan di pengadilan negeri Indonesia atau di kedutaan Orang Tionghoa Indonesia di luar negeri. Setiap warganegara yang memiliki kewarganegaraan ganda sebelum 20 Januari 1960 harus menolak kewarganegaraan Cina sampai batas

66Ade Nurcahyo Daud, Kebijakan Orde Baru Terhadap Etnis Tionghoa (Yogyakarta: Repository USD, 2016), hlm 34.

67Ibid, hlm 35.

68Titi Sumbung, ”Perjanjian RI-RRT Mengenai Masalah Dwikewarganegaraan”, Sinar Harapan, 26 Febuari 1969 hlm5.

40

waktu yang ditemtukan yaitu 20 Januari 1960- 20 Januari 1962, kalau tidak orang tersebut akan kehilangan kewarganegaraan Indonesia dengan sendirinya.69

Sehubungan dengan krisis pasca Peristiwa 1965 serta tuntutan pemuda dan mahasiswa pada sidang 9 Oktober 1967, pemerintah Orde Baru membekukan hubungan diplomasi dengan RRC. Hal ini jugalah yang membuat pemerintah Indonesia memutuskan Perjanjian Dwi Kewarganegaraan secara sepihak. Menurut Soeharto perjanjian Dwi Kewarganegaraan memberikan kesempatan pada anak-anak keturunan Tionghoa yang orangtuanya merupakan warganegara Cina, untuk menjadi WNI sampai anak-anak mereka berumur 18 tahun, dengan tanpa penyaringan yang ketat, hal ini membuat Soeharto ingin menghentikan praktek tersebut karena curiga akan orientasi politik orang Tionghoa tersebut. Selain itu, Dwi Kewarganegaraan juga hanya diberikan pada golongan tertentu sehingga menyalahi asas kesamaan pada mata hukum. Dengan dicabutnya perjanjian Dwi Kewarganegaraan ini setiap anak yang orang tuanya merupakan WNA jika anaknya memilih kewarganegaraan Indonesia harus melalui proses naturalisasi. Hal ini juga berdampak pada kewarganegaraan anak-anak mereka. Sejak tahun 1969 anak-anak Tionghoa asing hanya dapat menjadi warga negara Indonesia melalui naturalisasi melalui Undang-undang Kewarganegaraan 1958. Undang-Undang Kewarganegaraan 1959 menentukan syarat persyaratan bagi orang asing yang mengajukan permohonan

69 Leo Suryadinata, Dilema…, hlm125.

41

mendapatkan kewarganegaraan Indonesia melalui naturalisasi, yaitu harus ada pernyataan penanggalan kewarganegaraan dari kewarganegaraan asalnya.70 Namun pasca pemerintahan Orde Baru . hubungan Indonesia-RRC ada dalam masa yang buruk, sehingga nampaknya tidak mungkin mendapat pernyataan resmi dari RRC. Sehingga persyaratan diubah menjadi pernyataan penanggalan kewarganegaraan RRC saja sudah cukup.

70 Leo Suryadinata, Dilema…, hlm130.

42 BAB III

KEBIJAKAN ORDE BARU MENGENAI KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA ETNIS TIONGHOA

A. Sikap Orde Baru Mengenai Kehidupan Sosial Budaya Etnis Tionghoa Setelah Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaannya pada tanggal 11 Maret 1966, Suharto berusaha memenuhi tuntutan-tuntutan yang disuarakan oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Demonstrasi yang marak terjadi pada waktu itu antara lain menyasar kepada golongan Tionghoa. Kekhawatiran Etnis Tionghoa muncul ketika terjadi penyerangan terhadap gedung-gedung diplomatik dan konsuler Tiongkok, perampasan dan penutupan sekolah-sekolah Tionghoa, serta hubungan dengan negara Tiongkok 71. Ketika terjadi kerusuhan yang menyangkut orang Tionghoa sejak 1966,Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB)72 menawarkan diri untuk menjadi perumus utama kebijakan untuk presidium kabinet, tidak hanya mengenai masalah yang berkenaan dengan WNI keterunan Tionghoa namun juga Tionghoa asing.73

71Charles A. Coppel, Tionghoa Indonesia Dalam Krsis (Jakarta: Sinar Harapan, 1993), hlm158.

72Ibid. hlm159.

73Ibid. hlm179.

43

Sejak pembentukannya LPKB terlibat dalam usaha untuk memastikan sistem pendidikan BAPERKI dirombak dan dibangun kembali atas dasar yang tidak ekslusif Tionghoa agar anak-anak keturunan Tionghoa dapat melanjutkan pendidikannya. Bahkan parlemen atas nama kabinet pada tanggal 4 Mei, berkata bahwa pemerintah, lewat LPKB sedang memberikan

perhatian sepenuhnya

kepada keinginan melaksanakan suatu kebijakan berdasarkan prinsip kesetiaan golongan WNI keturunan Tionghoa, langkah-langkah tersebut diantaranya:74

a) Berregistrasi yang teliti dari semua orang asing di Indonesia dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

b) Menertibkan keorganisasian bagi semua Tionghoa asing, sehingga hanya ada satu organisasi tunggal agi mereka.

c) Menertibkan semua organisasi-organisasi yang bersifat esklusif rasional dalam tubuh bangsa Indonesia di bawah pengawasan dan bimbingan LPKB.

d) Mengadakan pembatasan-pembatasan yang sekeras-kerasnya terhadap peranan golongan asing di bidang ekonomi, pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan sampai sedang dipikirkan penutupan sekolah-sekolah Tionghoa asing.

Pemerintah Indonesia pada zaman Orde Baru menegaskan bahwa kebijaksanaan yang diambil menyangkut masyarakat keturunan Tionghoa adalah upaya untuk menyerap masyarakat Tionghoa ke dalam masyarakat Indonesia. Artinya agar terjadi pembauran secara menyeluruh antar golongan masyarakat guna membentuk suatu ketahanan nasional. Beberapa kebijakan tersebut diantaranya warga negara Indonesia harus menerima pendidikan Indonesia (1957), peraturan pengubahan nama bagi orang Indonesia bukan asli (1961, 1967), pemudahan proses naturalisasi (1969), ditutupnya

sekolah-74Ibid. hlm157.

sekolah berbahasa pengantar Tionghoa (1966), berdirinya sekolah-sekolah Sekolah Nasional Proyek Chusus (SNPC) (1969), dan akhirnya ditutupnya sekolah-sekolah tersebut (1975), semuanya menunjukan tindakan resmi yang diambil oleh pemerintah Indonesia untuk mengasimilasi orang Tionghoa ke dalam masyarakat pribumi.

B. Instruksi Presiden No.14 Tahun 1967

Stigma sebagai orang Tionghoa dan keadaan sebagai orang keturunan Tionghoa karena terlibat dalam kudeta komunis tahun 1965 berdampak pada generasi-generasi berikutnya. Pengakuan identitas kultur orang keturunan Tionghoa merupakan satu dari sekian banyak masalah Tionghoa yang belum terselesaikan. Contohnya seperti kebijakan asimilasi yang diterapkan menjadi salah kaprah karena adanya pandangan bahwa loyalitas keturunan Tionghoa hanya dapat dicapai melalui pengingkaran ciri kultur mereka.

Kebijakan asimilasi tertuang pada Instruksi Presiden No.14/1967 yang berbunyi: “Tanpa mengurangi jaminan keleluasaan memeluk agama dan menunaikan ibadatnya, tata cara ibadat Tionghoa yang memiliki aspek afinitas kultur pada negeri leluhur, pelaksanaanya harus dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan." Artinya, semua upacara agama, kepercayaan dan adat istiadat Tionghoa hanya boleh dirayakan di lingkungan keluarga dan ruangan yang tertutup. Ini bertujuan untuk menglikuidasi pengaruh seluruh kebudayaan Tionghoa termasuk kepercayaan, adat istiadat, dan agamanya dan sebagai cara mendorong

asimilasi secara total.

Pemerintah Orde Baru khawatir bahwa adat istiadat dipertontonkan di depan umum akan mengakibatkan orang Tionghoa bebas melestarikan budaya leluhur dan mengganggu jalanya proses asimilasi. Melalu Instruksi Presiden No.14 Tahun 1967 ini pemerintah juga telah mengikis penggunaan bahasa serta kebudayaan Tionghoa. Nasib yang sama menimpa agama Konghuchu pada tahun 1979 setelah sebelumnya pemerintah Orde Baru menyambut baik agama Konghuchu. Adanya deskriminasi dalam beribadah sehingga umat Konghuchu hanya dapat beribadah secara sembunyi-sembunyi di litang atau klenteng. Sedangkan dalam mata pelajaran di sekolah umat Konghuchu dipaksa memilih salah satu mata pelajaran agama dari kelima agama yang ada. Hal ini mengakibatkan banyak umat Konghuchu yang berpindah agama, hal yang sama terjadi pada saat pengurusan kartu tanda penduduk. Pada kitab-kitab Konghuchu yang ditulis dalam bahasa Mandarin harus dibahasa Indonesikan sedangkan mereka yang tidak menterjemahkan akan disita, ditangkap dan diintimidasi.

Orde Baru menaruh kecurigaan terhadap hubungan masyarakat keturunan Tionghoa dengan RRT. Pemerintah memandang bahwa homogenitas merupakan jawaban atas setiap masalah rasial yang ada di Indonesia.

Kebijakan asimilasi pada jaman Orde Baru tidak didasarkan pada semboyan Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Karena pada hakekatnya semboyan ini melambangan berbeda-beda namun tetap satu jua dan Tan Hana Dharma memiliki makna tidak ada kebenaran bermuka dua. Namun melalui kebijakan asimilasi ini orang Tionghoa tetap dipaksakan untuk melunturkan

kebudayaannya, adat istiadatnya dan ciri lainnya dalam kebhinekaan dengan tujuan mencapai cita-cita negara yang satu, adil, makmur dan kesatuan.

Praktek kebijakan asimilasi ini masyarakat Indonesia yang majemuk didasarkan pada prinsip kebangsaan dan memiliki sistem nasional yang askriptif primodial secara etnisitas.75 Yang berarti dalam sistem nasional ini orang Tionghoa tidak dapat menjadi orang Indonesia (pribumi) karena mereka tidak digolongan sebagai salah satu golongan orang pribumi.

Sempitnya ruang gerak kebudayaan orang-orang Tionghoa dianggap benar-benar memutus rantai kebudayaan mereka. Selama masa Orde Baru kebudayaan yang berbau Tionghoa benar-benar lenyap, namun kota Semarang dikecualikan karena kedekatan Oeik Tik Tong dengan Soeharto.

Salah satu perayaan yang setiap tahunnya dirayakan adalah perayaan Cheng Ho, adanya tradisi arak-arakan dilakukan di atas mobil dan tidak menimbulkan kerumunan dengan para pengiring berjalan kaki dari klenteng Tay Kak Sie sampai Simongan. Setiap tahunnya dilakukan dengan terus menerus karena Cheng Ho dianggap sebagai penjaga Semarang, namun dengan izin-izin dari pemerintah. Tidak hanya itu uang khas yang ada juga diberikan kepada pemerintah guna mengurus surat-surat tertentu, perijinannya

dianggap rumit dan panjang.

Pementasan Barongsai dan Wayang Potehi, kecuali di Semarang, dilarang dipertontonkan secara umum dan terbuka. Pementasan-pementasan

75Shandy, Premadha Novita Instruksi Prwsiden No.14 Tahun 1967 Dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Budaya & Ekonomi Keturunan Tionghoa di Pecinan Semarang, 1967-2002. 2014 Masters thesis, UNDIP. hlm63.

hanya berputar di klenteng-klenteng, kendati kebijakan asimiliasi ini hanya kedok dan terasa seperti diskriminasi kepada etnis Tionghoa. Orang-orang Tionghoa tetap menaatinya dengan baik. Mereka mundur dari aktivitas-aktivitas politik, menjalankan kebudayaannya di dalam keluarga.

C. Keputusan Presiden No. 240 Tahun 1967 dan Keputusan Presiden No.

123 Tahun 1968.

Salah satu keputusan kebijakan asimilasi dalam bidang sosial budaya Etnis Tionghoa adalah kebijakan ganti nama yang telah dilakukan pada masa Orde Lama. Pergantian nama bagi Etnis tertuang pada Keputusan Presiden No. 240 Tahun 1967 yang berisi himbauan agar warga Tionghoa mengganti namanya menjadi nama Indonesia, dan Keputusan Presiden No. 123 Tahun 1968 yang berisi tentang perpanjangan masa berlakunya peraturan ganti nama bagi warga Negara Indonesia.76 Kebijakan ini dapat dicontohkan misalnya bagi seseorang yang memiliki nama “Tan” dapat diubah menjadi

“Tanuwijaya” atau seseorang yang bernama “Liem Sioe Liong” diubah menjadi Sudono Salim.

Menurut pemeritah Orde Baru kebijakan ini merupakan upaya dalam membentuk nation dan character building Indonesia. Pergantian nama Tionghoa menjadi nama Indonesia bukanlah sesuatu yang sengaja dilakukan untuk mendapat pekerjaan atau agar dapat membaur menjadi pribumi Indonesia. Namun, hal ini muncul karena kekhawatiran dengan adanya isu SARA, karena orang-orang Tionghoa yang tidak mengganti nama sering

76Dinamika Kehidupan Sosial Budaya Etnis Tionghoa Dalam Bingkai Kebijakan Asimilasi Orde Baru, Factum: Jurnal Sejarah Dan Pendidikan Sejarah, VOL 7 No. 1, 2018, Hlm 113.

dikaitkan dengan PKI.77 Orang-orang Tionghoa pasca peristiwa G30S dihimbau untuk mengganti nama untuk membuktikan kenasionalan mereka kepada Indonesia.

Dalam realitanya tidak semua orang Tionghoa mengganti nama mereka menjadi nama Indonesia, seperti Soe Hok Gie dan Yam Thiam Hien.

Namun tidak semua orang Tionghoa memiliki nyali dan keberanian seperti mereka.78 Kebijakan untuk mengganti nama ini menjadi kontroversi di kalangan etnis Tionghoa sendiri. Beberapa orang menganggap bahwa tidak ada keterkaitan nama dengan nasionalisme mereka. Selain masalah ketidakadaan keterkaitan nasionaslime dan nama, dalam pelaksanaannya mereka yang mengganti nama, memiliki kesulitan dalam beradaptasi pada kehidupan sehari-hari. Dalam prakteknya tidak jarang mereka masih menggunakan nama lamanya karena dirasa sudah banyak yang mengenalnya menggunakan nama tersebut.79

Dalam pemilihan nama baru kebanyakan dari orang Tionghoa memilih nama-nama Jawa, namun tidak memiliki arti baik, ataupun tidak boleh sembarang orang menggunakannya. Oleh karena itu, dalam pengajuannya banyak yang ditolak karena tidak sesuai.

D. Surat Edaran Menteri Kehakiman No. JHB 3/31/3 Tahun 1978 Adanya perlakuan diskrimintaif yang dilakukan institusi di Indonesia adalah ketentuan SBKRI yang ditujukan kepada kelompok etnis Tionghoa warga negara Indonesia berserta keturunannya. SBKRI dikenal sebagai kartu

77Hilangnya Identitas Orang Tionghoa Akibat Asimilasi Paksa, (Tirto.id, Jakarta, 2019)

78Ibid.

79Ibid.

tanda pengenal yang menyatakan bahwa pemiliknya merupakan WNI. Pada penerapannya seorang WNI Tionghoa yang meskipun moyangnya sudah beberapa generasi lahir dan menutup mata di Indonesia sewaktu-waktu harus membuktikan dirinya sebagai WNI. SBKRI ditujukan kepada semua kaum peranakan, misalnya golongan Tionghoa, Arab dan India. Akan tetapi dalam prakteknya ini hanya ditujukan kepada peranakan Tionghoa, sedangkan yang lainnya tidak. SBKRI selalu saja menjadi syarat yang diminta oleh instansi-instansi seperti pendidikan, akta kelahiran, perkawinan, bahkan surat kematian.

Setelah dibatalkannya perjanjian Dwi Kewarganegaraan pada tanggal 10 April 1969 dengan Undang-Undang No. 4 tahun 196980, sebetulnya permasalahan status warga negara Indonesia Tionghoa sudah terselesaikan dan anak-anak WNI Tionghoa yang lahir setelah 20 Januari 1962 sudah menjadi WNI tunggal dan tidak diperbolehkan memilih kewarganegaran lain, serta tidak membutuhkan SBKRI. Pada tahun 1977 pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden No.52 Tahun 1977 tentang pendaftaran penduduk, yang mewajibkan SBKRI dalam pendaftaran penduduk. Keputusan Presiden ini disusul dengan Peraturan Menteri Kehakiman No.2/4/12 tahun 1978 bahwa SBKRI merupakan dokumen khusus yang dilembagakan secara sistematis.

Warga Negara Indonesia seharusnya tidak membutuhkan dokumen SBKRI dalam kehidupan sehari-harinya namun berbeda kisahnya bagi WNI

80Effendi Wahyu, Prasyetadji, Tionghoa Dalam Cengkraman SBKRI, (Jakarta Selatan:

Transmedia Pustaka, 2008), hlm41.

keturunan asing khususnya Tionghoa. Dokumen SBKRI ini harus diurus dan dimiliki sesuai prosedur yang ditentukan oleh pemerintah Orde Baru.

Dalam prakteknya permohonan pembuatan SBKRI tidaklah gratis. Biaya pengurusan SBKRI bisa mencapai Rp.1.000.000 hingga Rp.7.000.000, dan lama prosesnya pun bervariasi dari dua minggu hingga tiga bulan.81 SBKRI kerap kali dihubungkan dengan persoalan loyalitas etnis Tionghoa terhadap Nasionalisme Indonesia. Etnis Tionghoa dianggap berkiblat pada negri leluhur karena masih menjalankan kebudayaan dan adat leluhur mereka.

Padahal mereka pada dasarnya sama seperti Orang Jawa yang masih mengadakan upacara kejawen, atau suku-suku lain di Indonesia yang berpegang teguh pada peninggalan leluhur mereka. Permasalahan sentimen rasial memang wajar terjadi. Namun, hal itu menjadi masalah yang besar ketika pemerintah Orde Baru mengadopsi prasangka rasial dengan kebijakan yang diskriminatif terhadap Etnis Tionghoa.

E. Resolusi MPRS No. 302/MPRS/1966

Resolusi MPRS No. 302 Tahun 1966 ini memperlihatkan bahwa pers Tionghoa berada di bawah binaan pemerintah. Ini merupakan lanjutan dan memiliki keterkaitan yang kuat dengan larangan penggunaan Bahasa dan tulisan Mandarin secara terbuka. Pers Tionghoa pastilah menggunakan bahasa Mandarin yang mana telah dilarang. Pelarangan ini juga mencakup larangan impor, memperdagangkan dan mengedarkan semua jenis barang cetakan

81 Ibid, hlm 64.

dalam bahasa dan aksara Cina yang ditetapkan pada tahun 1978.82 Adapun yang dimaksud sebagai barang cetakan ialah majalah, buku, tulisan, koran dan selebaran. Selain media cetak dalam dunia perfilman yang menggunakan bahasa Mandarin juga dilarang oleh pemerintah Indonesia.

Dalam pelaksanaan pelarangan film berbahasa Mandarin ini tidak hanya berdampak pada berkurangnya hiburan masyarakat namun di beberapa daerah terdampak pengangguran pasalnya film-film berbahasa Mandarin menarik minat masyarakat serta meramaikan bioskop-bioskop pada tahun-tahun itu. Sejak tahun-tahun 1988 munculah televisi-televisi swasta yang membuat banyak peraturan perfilman dalam bahasa Mandarin semakin dipersulit.

SCTV menyajikan film-film Hongkong dan Taiwan yang disuarakan dalam bahasa Indonesia.83

Dengan adanya pelarangan pers/media dalam bahasa Mandarin ini berdampak pada hilangnya kemampuan orang Tionghoa dalam menulis, membaca, dan berbahasa Mandarin.

F. Peraturan Menteri Perumahan No. 55.2-360/1988

Melalui menteri perumahan, Orde Baru membawa dampak besar terhadap klenteng-klenteng di Indonesia. Peraturan Menteri ini berisi tentang larangan penggunaan lahan untuk mendirikan, memperluas, atau memperbaharui klenteng. Pada masa Orde Baru didirikan Perhimpunan Tri Dharma se-Indonesia, yang mengubah klenteng menjadi wihara yang dominan untuk pemeluk agama Buddha bersembahyang. Sedangkan bagi

82Dinamika Kehidupan Sosial Budaya Etnis Tionghoa Dalam Bingkai Kebijakan Asimilasi Orde Baru, Factum: Jurnal Sejarah Dan Pendidikan Sejarah, VOL 7 No. 1, 2018, hlm119.

83Ibid., hlm120.

pemeluk ajaran Konghuchu dan Taoisme hanya dianggap menumpang pada klenteng-klenteng. Akhirnya demi menyelamatkan pemeluknya dari aturan-aturan pemerintah Orde Baru, klenteng-klenteng yang tadinya menganut ajaran Konghuchu maupun Taoisme memasukan arca-arca Buddha.

Bagi pemeluk agama Tionghoa di Jawa Timur, komandan militer mengumumkan peraturan adanya larangan tanda-tanda yang menyolok ke-Tionghoaan di klenteng-klenteng seperti huruf-huruf Tionghoa. Adanya peraturan pelarangan merayakan tahun baru Tionghoa (Imlek) dan Cap Go Meh, serta larangan bagi WNI keturunan Tionghoa untuk memasuki klenteng-klenteng Tionghoa.84 Ada seorang tokoh yang menjabat sebagai kepala saksi Jawa Timur dari LPKB85 bernama M. F Liem Hok Liong atau nama Indonesianya M.F Basuki Soedjatmiko yang mana merupakan seorang Katolik menyinggung mengenai sifat-sifat klenteng yang mempertahankan sentrisme Cina. Ia juga menyerang praktek-praktek Orang Tiongha tentang pemujaan leluhur dan menentang hak ajaran Kong Hu Cu (Konfusianisme).86 Selain menyarankan untuk menghapus semua tanda-tanda kebudayaan Tionghoa dari bangunan dan pemujaan di dalam klenteng, ia juga menyuarakan saran kepada pemerintah untuk tidak lagi mengakui ajaran Konghucu sebagai suatu agama.

84Charles A. Coppel, op.cit., hlm207.

85LPKB merupakan sebuah lembaga organisasi yang didirikan sekelompok orang Tionghoa peranakan pada 12 Maret 1963. LPKB bertujuan meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa termasuk masalah sukuisme, provinisalisme.

86Charles A. Coppel, op.cit., hlm208.

Bertahun-tahun bersembunyi di balik agama Buddha dan 4 agama lain yang diakui pemerintah (Islam,Kristen, Khatolik, dan Hindu), para penganut agama Konghucu tidak jelas nasibnya sehingga kebanyakan dari mereka pindah ke agama lain seperti Buddha atau Krsiten.

BAB IV

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH ORDE BARU TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA ETNIS TIONGHOA

A. SBKRI

Selama masa Orde Baru etnis Tionghoa mengalami tindak kebijakan diskriminasi oleh pemerintah. Orde Baru juga mempertanyakan status kewarganegaraan etnis Tionghoa melalui Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SBKRI). Perjalanan etnis Tionghoa untuk menjadi WNI dinilai sangat ruwet dan sulit sekali karena undang-undang yang mengatur tidak transparan dan cenderung kacau pada masa Orde Baru.87 Etnis Tionghoa harus pontang-panting dan bahkan memeras darah (hanya) untuk mendapat pengakuan sebagai WNI melalui selembar bukti KTP dan SBKRI.88 Pada prakteknya di Surabaya, Liauw Djai Ming menuturkan bahwa ia tidak pernah pergi jauh dari rumahnya. Meskipun lahir dan tumbuh besar di Surabaya, Djai Ming tidak memiliki KTP maupun Kartu Keluarga. Lebih dari setengah abad umurnya ia masih dianggap warga asing. Pasca reformasi 1998 di Surabaya, para korban diskriminasi membentuk sebuah badan organisasi untuk memperkokoh keberadaan dan pengakuan warga Tionghoa sebagai bagian dari warga Negara Indonesia.89

87Choirul Mahfud, Manifesto Politik Tionghoa Di Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hlm 203.

88Ibid.

89 Ibid., hlm204.

SBKRI sebetulnya adalah kartu identitas yang menyatakan bahwa pemiliknya adalah warganegara Republik Indonesia. Namun, SBKRI hanya diberikan kepada Warganegara Indonesia keturunan, terutama Tionghoa.90 Kepemilikan SBKRI adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi seseorang untuk mengurus berbagai keperluan, seperti kartu tanda penduduk, memasuki dunia pendidikan, permohonan paspor, pendaftaran pemilih, menikah, meninggal dunia, dan lain-lain.

B. Agama Konghuchu

Instruksi Presiden No.14 Tahun 1967 yang berisi tentang asimilasi kebudayaan Tionghoa dimaksudkan untuk memaksa orang Tionghoa menghilangkan identitas kebudayaannya. Serta sejak dikeluarkannya Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 477/74054/BA.1.2/95 tanggal 18 November 1978 yang antara lain menyatakan bahwa agama yang diakui oleh pemerintah yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha mulailah keberadaan umat Konghuchu dipinggirkan.91 Peraturan ini berdampak bagi umat Konghuchu secara tidak langsung. Hal ini dikarenakan ajaran Konghuchu merupakan bagian dari budaya etnis Tionghoa. Keputusan ini mestinya batal demi hukum karena bertentangan dengan Hak Asasi Manusia dan UUD 1945 Pasal 29 ayat 2 yang memberikan kebebasan beragama dan beribadat. Namun, Surat Edaran (SE) ini justru dijadikan pegangan oleh aparat pemerintah. Selain itu SE ini juga mengingkari realita bahwa Warga Negara Indonesia yang memeluk agama Konghuchu ada di Indonesia.

90Mona Lohanda, August Mellaz dan Samuel Nitisaputra (eds). Antara Prasangka dan Realita;

Telah Kritis Wacana Anti Cina di Indonesia (Jakarta: Pustaka Inpirasi, 2002), hlm202.

91 Ibid., hlm 303.

Instruksi Presiden No.14 Tahun 1967 membuat masyarakat Tionghoa berpikir dua kali untuk berpegang pada agama tradisional mereka. Umat Konghuchu pun menanggapi hal ini secara damai dan tidak berani melakukan aksi-aksi untuk menentang karena apabila mereka menentang mereka akan dicap sebagai komunis, pemberontak dan dimasukkan ke dalam penjara. Pada awal 1979 Kabinet Soeharto menerbitkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 477/74054/BA.1.2/95 yang berisi tentang keputusan bahwa

Instruksi Presiden No.14 Tahun 1967 membuat masyarakat Tionghoa berpikir dua kali untuk berpegang pada agama tradisional mereka. Umat Konghuchu pun menanggapi hal ini secara damai dan tidak berani melakukan aksi-aksi untuk menentang karena apabila mereka menentang mereka akan dicap sebagai komunis, pemberontak dan dimasukkan ke dalam penjara. Pada awal 1979 Kabinet Soeharto menerbitkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 477/74054/BA.1.2/95 yang berisi tentang keputusan bahwa

Dokumen terkait