• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kehidupan Sosial Budaya Etnis Tionghoa Pra-Orde Baru

BAB II. LATAR BELAKANG MUNCULNYA KEBIJAKAN ORDE

A. Kehidupan Sosial Budaya Etnis Tionghoa Pra-Orde Baru

Setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945 disebutkan pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 26 yang berbunyi; 1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara, (2) Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia, (3) Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang39. Maka orang-orang bangsa lain, misalnya orang peranakan Belanda, peranakan Tionghoa, dan peranakan Arab yang bertempat kedudukan di Indonesia, mengakui Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap setia kepada Negara, Republik Indonesia dapat menjadi warga negara. Maka dari itu penyebutan masyarakat etnis keturunan Cina disebut sebagai Etnis Tionghoa pada masa pemerintahan Soekarno.

Pada masa orde lama, presiden Soekarno membebaskan masyarakat etnis Tionghoa untuk menjalankan kebudayaannya. Orde lama membangun persahabatan erat dengan pemerintah Cina, sehingga perayaan Imlek atau tahun baru Cina mendapat tempat. Ini Ketetapan Pemerintah tentang Hari Raya Umat Beragama Nomor 2/OEM Tahun 1946, butir keempat disebutkan

39 Repbulik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 26, Ayat 1-3.

31

bahwa Tahun baru Imlek, Ceng Beng, dan lahir serta wafatnya Konghuchu merupakan hari libur nasional.

Salah satu kebudayaan / kesenian etnis Tionghoa yang dipraktikan ada masa Orde Lama adalah Wayang Potehi.40 Dari asal-usul namanya, wayang ini menunjukkan identitas kebudayaan asal Tiongkok. Potehi secara harafiah berarti wayang yang terbentuk dari kantong kain. Wayang Potehi dibawa ke Nusantara seiring migrasi warga Tiongkok ke selatan pada abad ke-9 untuk mencari penghidupan yang lebih baik karena di kampung halamannya terjadi huru-hara.41Dalam pertunjukannya, Wayang Potehi diirngi alat musik tradisional dari Tiongkok diantaranya toa loo (gembreng besar), hian na (rebab), piak ko (kayu), bien siauw (suling), siauw loo (gembreng kecil), tong ko (gendang), dan thua jwee (terompet). Dalam perkembangannya, Wayang

Potehi beralkulturasi dengan kebudayaan Jawa. Pertunjukannya sering menggunakan Bahasa Jawa atau Indonesia. Pada masa Orde Lama, Pertunjukan Wayang Potehi dapat dikatakan selalu digelar pada hari perayaan Imlek.

Pada masa Orde Lama, masyarakat Etnis Tionghoa memberi nama keturunannya dengan nama-nama Cina. Bila berbicara dengan sesama orang Tionghoa, mereka leluasa untuk menggunakan bahasa Cina. Namun, mereka juga tidak sulit untuk menggunakan bahasa daerah yang berlaku di tempat mereka tinggal atau pun bahasa Indonesia. Mereka kuat dalam mempraktikkan

40Wayang Potehi merupakan kesenian wayang yang berasal dari Tiongkok. “Po” artinya kain, “te”

berarti kantong, dan “hi” yang berarti wayang.

41Dwi Woro Retno Mastuti, Wayang Potehi Gudo: Seni Pertunjukan Peranakan Tionghoa di Indonesia (Jakarta: Sinar Harapan, 2014), hlm8.

32

dan menanamkan kebudayaan aslinya, tetapi ini dibarengi dengan proses akulturasi budaya di tempat mereka tinggal.

Pedagang Etnis Tionghoa di Asia Tenggara dicap sebagai minoritas dagang, yang tidak mempunyai budaya ataupun sastra42. Padahal sesungguhnya orang-orang Tionghoa memiliki karya sastranya sendiri dalam bahasa Tionghoa sendiri maupun dalam bahasa-bahasa setempat. Sastra Tionghoa peranakan muncul pada akhir abad ke-19, munculah karya terjemahan bebas dari karya klasik Tionghoa seperti Sam Kok dan Sampek Engtai43. Sastra Tionghoa peranakan mencapai masa keemasannya pada tahun

1930-an, bersamaan dengan bangkitnya nasionalisme Tionghoa di Jawa.

Banyak sastrawan Tionghoa peranakan seperti Kwee Tek Hoay, Liem Khing Hoo, dan Soe Lie Piet, karya-karyanya meliputi novel, sandiwara, cerita pendek, esai, dan cerita silat.

Orang Tionghoa peranakan membaca cerita silat dalam bahasa Melayu, yang mana merupakan cerita terjemahan ataupun saduran dari Yangyi Xiaoshuo.44 Sedangkan orang-orang Tionghoa Totok membacanya dalam versi asli. Karya-karya penulis silat seperti Huanzhu Loushu dan Bay Yi sangat populer sehingga dapat dibaca melalui majalah Kiam Hiap dan majalah harian secara bersambung. Cerita silat dalam Bahasa Melayu tidak hanya diminati oleh Tionghoa pernakan namun juga populer di masyarakat Pribumi.

Popularitas cerita silat Tionghoa telah merangsang munculnya cerita silat

42 Leo Suryadinata, Kebudayaan Minoritas Tionghoa Di Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1988), hlm100.

43 Leo Suryadinata, op.cit., hlm 103.

44 Ibid, hlm 120.

33

Indonesia pribumi.45 Sehingga munculah cerita silat pribumi yang berlatar belakang sejarah Indonesia.

Penggunaan bahasa Tionghoa peranakan memunculkan sekolah-sekolah berbahasa pengantar Tionghoa. Pada bulan Oktober 1947, pemerintah Federal Hindia Belanda mengeluarkan kebijakan bahwa sekolah berpengantar bahasa Tionghoa mendapat subsidi/hibah dari pemerintah Hindia Belanda, dengan syarat harus mengajarkan bahasa Indonesia 6 jam/minggu.46 Hal ini menyebabkan pesatnya perkembangan sekolah Tionghoa di wilayah Federal pada tahun 1950 tercatat ada 165.315 siswa Tionghoa di sekolah-sekolah berpengantar Bahasa Indonesia, dan 250.000 siswa Tionghoa pada sekolah-sekolah berpengantar bahasa Tionghoa. Sedangkan pada wilayah Republik diperikirakan jumlahnya 55.00047.

Dalam bidang kepercayaan dan agama, etnis Tionghoa Totok lebih tertarik pada kepercayaan keagamaan tradisonal Tionghoa dan menyembah berbagai dewa di Klenteng daripada menganut Konghucuisme.48 Sedangkan orang-orang Tionghoa peranakan lebih tertarik pada Konghuchuisme, separuh dari orang tionghoa peranakan yang budaya dan bahasanya banyak dipengaruhi budaya Barat dan kebudayaan Indonesia umumnya lebih tertarik pada agama Protestan maupun Katolik, serta Islam.

Konghuchuisme tidak dilembagakan, sehingga tidak efektif dalam menyebarkan ajarannya. Konghuchuisme juga tidak benar-benar membantu

45 Leo Suryadinata, op.cit., hlm125.

46 Ibid. hlm23.

47 Ibid, hlm24.

48 Leo Suryadinata, op.cit., hlm70.

34

memecahkan masalah-masalah sosial-ekonomi dan sosial-budaya Tionghoa yang lebih mendesak.49 Akibatnya Konghuchuisme mengalami kemunduran, namun Khong Kauw Hwee50 melakukan upaya untuk mempromosikan Konghuchuisme. Pada tahun 1955, masyarakat penganut Konghuchuisme mendirikan federasi baru yaitu Khong Kauw Tjung Hwee. Pada tahun 1930-an Sam Kauw Hwee (Sanjiao hui, Masyarakat tiga Agama) muncul berkembang ajeg dan mengalahkan Khong Kauw Hwee.51 Tujuan dari Sam Kauw Hwee adalah mempersatukan, menyebarkan dan mempraktekkan tiga agama yaitu Konghuchuisme, Buddhisme, dan Taoisme.52 Campuran ketiga agama ini dapat dikaitkan dengan latar belakang budaya orang-orang Tionghoa di Asia Tenggara.53 Para leluhur orang Tionghoa dapat dari Tiongkok Selatan dimana ketiga agama itu diterima sebagai satu kesatuan.54

Hubungan masyarakat Etnis Tionghoa dengan pemerintahan pra orde baru bisa dikatakan sebagai hubungan yang baik. Kebudayaan Tionghoa dan Kebudayaan Asli Indonesia memiliki hubungan yang erat, dan saling mempengaruhi, ini memperkaya keragaman kebudayaan Indonesia.

Pemerintah pra-Orde Baru dengan Etnis Tionghoa saling mendukung, serta memberikan kebebasan masing-masing untuk berekspresi dalam budaya, bahasa dan kepercayaanya.

49 Leo Suryadinata, op.cit., hlm 64.

50 Khong Kauw Hwee atau Himpunan Umum Masyarakat Penganut Konghuchu merupakan organisasi yang dibentuk oleh orang-orang Tionghoa untuk mempromosikan ajaran Konghuchu.

Himpunan ini didirikan pada tahun 1923 di Bandung.

51 Leo Suryadinata, op.cit., hlm 65.

52 Ibid.

53 Ibid.

54 Ibid.

35

Dokumen terkait