BAB V HUBUNGAN MOTIVASI BERKOMUNIKASI DENGAN
6.2 Hubungan Pengetahuan Berkomunikasi dengan Perilaku Canggung 44
6.2 Hubungan Pengetahuan Berkomunikasi dengan Perilaku Canggung
Ukuran efektif atau tidaknya proses komunikasi yang dilakukan oleh individu dari etnis Arab dan etnis Sunda, selain dari perilaku tidak tersinggung juga diukur dari perilaku tidak canggung yang dimiliki oleh kedua etnis. Perilaku tidak canggung meliputi kemampuan untuk menyapa, memulai pembicaraan, dan bertukar pendapat dengan orang lain tanpa perasaan malu, ragu-ragu, ataupun takut.
Tabel 11 menunjukkan bahwa pengetahuan berkomunikasi yang dimiliki oleh etnis Arab dan etnis Sunda cukup tinggi, yaitu sebesar 53,3 persen. Sedangkan untuk persentase perilaku canggung, sebesar 56,7 persen etnis Arab dan Sunda memiliki perilaku canggung yang rendah (Tabel 9). Hal ini menunjukkan bahwa rasa canggung antara individu dari etnis Arab dan etnis Sunda ketika berkomunikasi dapat diatasi dengan baik. Dua individu yang sedang berkomunikasi dapat menghilangkan perasaan tidak berani, malu, ataupun ragu-ragu untuk berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Mereka sudah terbiasa untuk saling menyapa, inisiatif untuk memulai pembicaraan, dan bertukar pendapat.
Hipotesis awal menyatakan bahwa semakin tinggi pengetahuan berkomunikasi, maka semakin rendah perilaku canggung antara etnis Arab dan etnis Sunda ketika berkomunikasi. Agar dapat melihat hubungan antar keduanya, maka dilakukan uji hubungan dengan menggunakan tabulasi silang dan analisis
Pearson. Pengambilan keputusan berdasarkan nilai signifikansi (Approx. Sig.),
jika Approx. Sig. lebih besar dari α (0,05) maka Ho diterima, yang artinya tidak terdapat hubungan antara variabel-variabel yang diuji.
Tabel 13. Persentase Pasangan Teman menurut Tingkat Pengetahuan dan Tingkat Perilaku Canggung
Tingkat Perilaku Canggung
Tingkat Pengetahuan (%)
Rendah Sedang Tinggi
Rendah 0,0 12,5 100,0
Sedang 16,7 87,5 0,0
Total (%) 100,0 100,0 100,0
Tabel 13 menunjukkan bahwa sebesar 83,3 persen pasangan yang memiliki tingkat pengetahuan rendah memiliki tingkat perilaku canggung yang tinggi. Sebesar 87,5 persen pasangan memiliki tingkat pengetahuan dan tingkat perilaku canggung yang sedang. Pada tingkat yang lebih tinggi, sebesar 100 persen pasangan yang memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi memiliki tingkat perilaku canggung yang rendah. Angka tersebut menunjukkan kecenderungan dimana semakin tinggi pengetahuan berkomunikasi maka semakin rendah perilaku canggung yang ditunjukkan ketika berkomunikasi. Pengetahuan yang tinggi tentang lawan bicara mendorong dua orang yang sedang berinteraksi dapat mengurangi dan menghilangkan perasaan canggung. Mereka dapat dengan leluasa menyapa, memulai pembicaraan, dan bertukar pendapat. Perasaan ragu-ragu, tidak berani, maupun malu dapat dikendalikan dengan baik oleh keduanya.
Hasil uji menunjukkan, nilai signifikansi untuk hubungan antara pengetahuan berkomunikasi dengan perilaku canggung adalah 0,000. Hal ini berarti terdapat hubungan antara pengetahuan berkomunikasi dengan perilaku canggung antara etnis Arab dan Etnis Sunda ketika berinteraksi. Nilai signifikansi sebesar 0,000 merupakan nilai yang signifikan, yang menunjukkan semakin tinggi pengetahuan berkomunikasi, maka semakin rendah perilaku canggung antara etnis Arab dan Sunda yang sedang berinteraksi.
Perilaku canggung yang rendah didukung oleh pengetahuan yang baik dari etnis Arab dan Sunda tentang lawan bicaranya. Pengetahuan mengumpulkan atau mendapatkan informasi tentang lawan bicara merupakan salah satu aspek yang penting dalam mengatasi perasaan canggung. Sebesar 70 persen orang Arab dan Sunda dapat mengumpulkan informasi tentang gaya berkomunikasi dari lawan bicaranya, yaitu nada bicara. Individu yang dapat mengumpulkan informasi yang banyak tentang gaya berbicara lawan bicaranya akan memiliki perilaku canggung yang rendah. Ketika orang Arab atau Sunda mengenali gaya berbicara orang lain dan mampu memahaminya, maka mereka dapat berinteraksi dengan nyaman tanpa terganggu dengan perbedaan cara berkomunikasi yang terjadi. Orang Arab dan
Sunda dapat mengenali dan memahami cara berkomunikasi masing-masing etnis. Orang Arab cenderung berbicara dengan nada yang keras dan tegas, sedangkan orang Sunda lebih tenang dan halus. Pemahaman akan gaya berkomunikasi dari etnis lain membuat mereka tidak ragu-ragu untuk bertegur sapa bahkan saling bertukar pendapat.
Etnis Arab dan Sunda mengetahui perbedaan etnis di antara mereka, namun hanya sebesar 43,3 persen. Kondisi ini disebabkan karena perbedaan etnis seperti jarak interpersonal dan gerakan tangan untuk menjelaskan maksud ucapan sudah tidak mencolok. Orang Arab dan Sunda secara umum tidak lagi menunjukkan perbedaan tersebut ketika berkomunikasi. Jarak interpersonal mereka sama dan orang Arab tidak terlalu ekspresif ketika berinteraksi dengan banyak menggerakkan tangan untuk menjelaskan maksud ucapannya. Pengetahuan yang rendah tentang perbedaan etnis tidak membuat orang Arab dan Sunda merasa canggung ketika berinteraksi. Orang Arab memandang dirinya tidak jauh berbeda dengan orang Sunda dalam hal cara berkomunikasi, hal inilah yang membuat mereka tidak merasa malu atau ragu-ragu untuk memulai pembicaraan, bertegur sapa, dan bertukar pendapat.
Kerukunan bertetangga antara orang Arab dan Sunda didukung pula oleh sikap mereka dalam memahami persamaan yang ada. Sebesar 76,7 persen orang Arab dan Sunda sudah merasa tidak ada perbedaan di antara mereka. Orang Arab yang sekarang tinggal di Empang merupakan generasi yang lahir dan dibesarkan di Empang. Walaupun secara sekilas fisik mereka berbeda, yang dapat diidentifikasi dari bentuk hidung dan mata, orang Arab lebih senang menyebut dirinya sebagai orang Sunda. Hal ini dikarenakan kakek dan nenek mereka juga sudah melakukan perkawinan campuran dengan orang Sunda. Persamaan individu yang dipahami oleh orang Arab dan Sunda ini, membuat rasa canggung dapat dihindari. Orang Arab merasa sama seperti orang Sunda dalam hal warna kulit dan postur badan, begitupun sebaliknya.
Kemampuan interpretasi alternatif juga membuat perilaku canggung dapat dihindari. Sebesar 70 persen orang Arab dan Sunda yang sedang berinteraksi, mampu menginterpretasikan dengan tepat apa yang dilakukan oleh lawan bicaranya. Salah dalam mengartikan tingkah laku lawan bicara, dapat membuat
salah satu orang yang sedang berinteraksi merasa canggung sehingga proses interaksi tidak akan efektif. Perilaku canggung membuat interaksi menjadi kaku sehingga pertukaran informasi tidak berjalan. Pada kasus ini, orang Arab maupun orang Sunda mampu membuat interpretasi yang tepat tentang jarak interpersonal ketika berkomunikasi. Jarak interpersonal sejauh setengah meter diinterpretasikan sebagai ketertarikan terhadap lawan bicara, bukan sebagai sikap agresif atau pelanggaran atas jarak interpersonal karena terlalu dekat ketika berinteraksi. Interpretasi yang tepat membuat orang Arab dan Sunda yang sedang berinteraksi merasa nyaman, sehingga perasaan tidak berani, malu, ataupun ragu untuk bertukar pendapat dapat dihindari.
BAB VII
HUBUNGAN KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI DENGAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTAR ETNIS
Kim dan Gudykunts (1997) memaparkan bahwa keterampilan berkomunikasi penting agar dapat berkomunikasi dengan efektif untuk mengurangi perasaan cemas dan khawatir. Untuk menghindari hal tersebut, sedikitnya diperlukan tiga keterampilan, yaitu kemampuan untuk berhati-hati ketika berkomunikasi, toleransi terhadap ambiguitas, dan kemampuan menenangkan diri.
Keterampilan berkomunikasi diperlukan sebagai bagian terakhir setelah seorang komunikator atau komunikan mempunyai motivasi dan pengetahuan berkomunikasi. Keterampilan menunjukkan kecakapan seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain, yang juga menciptakan kesan pertama bagi lawan bicara. Jika memiliki keterampilan yang baik, maka kesan yang ditimbulkan akan baik pula. Keterampilan yang diperlukan di antaranya: (1) kemampuan untuk menjadi pembicara dan pendengar yang baik, (2) toleransi terhadap ambiguitas yang terjadi akibat masing-masing etnis menggunakan bahasa daerahnya sendiri dan salah mengartikan kata-kata yang diucapkan ketika berinteraksi, (3) kemampuan berempati dengan cara menjadi pendengar yang baik dan antusias yang tinggi terhadap isi pembicaraan, (4) adaptasi kebiasaan untuk menggunakan bahasa yang bisa dipahami bersama, dan (5) mampu memprediksi dan memberikan penjelasan yang akurat tentang perilaku lawan bicara.
Penyajian data dimulai dengan mendeskripsikan variabel yang akan diuji hubungan kausalnya. Deskripsi variabel faktor keterampilan dan perilaku tersinggung serta canggung bertujuan untuk memberikan gambaran tentang perilaku pasangan teman di lokasi penelitian. Setelah setiap variabel yang akan diuji dideskripsikan, maka penyajian data berikutnya adalah penjelasan mengenai hubungan kausal antara faktor keterampilan dengan efektivitas komunikasi antar etnis. Dimulai dari hasil uji statistik Pearson hingga penjelasan mendalam mengenai hubungan antara faktor keterampilan dengan perilaku tersinggung dan canggung ketika berkomunikasi.
7.1 Hubungan Keterampilan Berkomunikasi dengan Perilaku Tersinggung
Tabel 14 menunjukkan bahwa sebesar 66,7 persen keterampilan berkomunikasi yang dimiliki oleh orang Arab dan orang Sunda berada pada tingkatan sedang. Walaupun berada pada tingkatan sedang, hal ini secara umum menunjukkan, baik individu dari etnis Arab maupun etnis Sunda memiliki keterampilan yang baik ketika berinteraksi. Individu dari etnis Arab maupun etnis Sunda memiliki keterampilan untuk sadar/berhati-hati ketika berkomunikasi, toleransi terhadap ambiguitas, kemampuan menenangkan diri, adaptasi kebiasaan, dan prediksi atau penjelasan yang akurat tentang perilaku lawan bicaranya.
Tabel 14. Persentase Pasangan Teman menurut Tingkat Keterampilan Tingkat
Keterampilan Frekuensi (n) Persentase (%)
Rendah 1 3,3
Sedang 20 66,7
Tinggi 9 30,0
Total 30 100,0
Sebesar 66,7 persen pasangan orang Arab dan Sunda memiliki perilaku tersinggung yang rendah (Tabel 7). Hal ini menunjukkan bahwa perilaku tersinggung antara individu dari etnis Arab dan etnis Sunda ketika berinteraksi dapat dihindari. Dua individu yang sedang berinteraksi secara umum mampu menjaga perasaan lawan bicaranya dengan tidak menirukan bahasa daerah etnis lain sebagai bahan ejekan dan tidak menyinggung ciri fisiknya.
Hipotesis awal menyatakan bahwa semakin tinggi keterampilan berkomunikasi, maka semakin rendah perilaku tersinggung antara etnis Arab dan etnis Sunda ketika berinteraksi. Agar dapat melihat hubungan antar keduanya, maka dilakukan uji hubungan dengan menggunakan tabulasi silang dan analisis
Pearson. Pengambilan keputusan berdasarkan nilai signifikansi (Approx. Sig.),
jika Approx. Sig. lebih besar dari α (0,05) maka Ho diterima, yang artinya tidak terdapat hubungan antara variabel-variabel yang diuji.
Tabel 15. Persentase Pasangan Teman menurut Tingkat Keterampilan dan Tingkat Perilaku Tersinggung
Tingkat Perilaku Tersinggung
Tingkat Keterampilan (%)
Rendah Sedang Tinggi
Rendah 0,0 55,0 100,0
Sedang 0,0 15,0 0,0
Tinggi 100,0 30,0 0,0
Total (%) 100,0 100,0 100,0
Tabel 15 menunjukkan sebesar 100 persen pasangan yang tingkat keterampilan berkomunikasinya rendah, memiliki tingkat perilaku tersinggung yang tinggi. Sebesar 15 persen pasangan yang tingkat keterampilannya sedang memiliki tingkat perilaku tersinggung yang sedang. Untuk tingkat keterampilan yang tinggi, sebesar 100 persen memiliki tingkat perilaku tersinggung yang rendah. Persentase tersebut menunjukkan kecenderungan dimana semakin tinggi tingkat keterampilan berkomunikasi seseorang, maka semakin rendah tingkat perilaku tersinggung yang ditunjukkan ketika berinteraksi. Keterampilan yang baik membuat dua orang Arab dan Sunda yang sedang berinteraksi mampu menghindarkan lawan bicaranya merasa tersinggung akibat menyinggung ciri fisik atau menirukan bahasa etnis lain.
Hasil uji menunjukkan, nilai signifikansi untuk hubungan antara pengetahuan berkomunikasi dengan perilaku tersinggung adalah 0,005. Hal ini berarti terdapat hubungan antara keterampilan berkomunikasi dengan perilaku tersinggung antara etnis Arab dan Etnis Sunda ketika berinteraksi. Nilai signifikansi 0,005 menunjukkan hubungan yang signifikan, dimana semakin tinggi keterampilan berkomunikasi maka semakin rendah perilaku tersinggung antara orang Arab dan Sunda yang sedang berinteraksi.
Keterampilan pertama yang dimiliki oleh orang Arab dan Sunda adalah kemampuan untuk sadar atau berhati-hati ketika berinteraksi. Sadar dalam berinteraksi artinya memiliki perhatian yang penuh terhadap lawan bicara. Tidak hanya bisa berbicara dengan baik, namun juga mampu menjadi pendengar yang baik. Sebesar 80 persen orang Arab dan Sunda mampu menjadi pembicara sekaligus pendengar yang baik ketika berinteraksi. Kemampuan berbicara dan mendengarkan yang seimbang, membuat komunikator dan komunikan berada
dalam posisi yang sejajar. Jika seseorang terlalu banyak bicara, maka lawan bicaranya akan merasa didominasi dalam proses interaksi. Kondisi ini dapat menyebabkan lawan bicara merasa tersinggung karena kesempatan untuk berbicaranya sedikit. Kondisi ini secara umum mampu diatasi oleh orang Arab dan Sunda dengan tidak mendominasi dalam sebuah percakapan. Orang Arab yang dikenal banyak berbicara, tidak menunjukkan hal itu terhadap lawan bicaranya yang orang Sunda dengan tidak terlalu banyak berbicara. Sebaliknya, orang Sunda yang dikenal lebih tenang mampu mengambil bagian untuk berbicara agar seimbang dengan bagian untuk mendengarkan.
Kemampuan lainnya adalah toleransi terhadap ambiguitas. Sebesar 50 persen orang Arab dan Sunda mampu mentoleransi ambiguitas di antara mereka. Kondisi ambigu muncul ketika orang Arab atau Sunda menggunakan bahasa daerahnya masing-masing ketika berbicara. Orang Arab dengan bahasa Arabnya, dan orang Sunda dengan bahasa Sunda. Sikap toleransi yang ditunjukkan adalah ketika seorang komunikan tidak marah dan terganggu ketika lawan bicaranya menggunakan bahasa daerahnya. Terkadang orang Arab menggunakan bahasa Arab ketika berinteraksi dengan orang Sunda, dan ada pula orang Arab yang tidak terbiasa menggunakan bahasa Sunda dalam kesehariannya. Ketika orang Arab menggunakan bahasa Arab ketika berinteraksi, secara umum orang Sunda mampu mentoleransi hal tersebut. Hal ini dikarenakan, bahasa Arab yang digunakan sudah umum dan dipahami oleh orang Sunda seperti syukron (terima kasih), fulus (uang), hareem (perempuan), dan lain-lain. Sedangkan jika orang Sunda berbicara dengan bahasa Sunda ketika berinteraksi dengan orang Arab yang tidak mengerti bahasa tersebut, secara umum orang Arab dapat memakluminya karena orang Sunda hampir selalu menambahkan kata-kata dalam bahasa Sunda ketika berbicara dalam bahasa Indonesia. Sikap toleransi lain yang ditunjukkan adalah ketika seorang komunikator tidak marah ketika lawan bicaranya salah mengartikan kata-kata yang diucapkannya. Terkadang orang Sunda menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Sunda ketika berinteraksi dengan orang Arab seperti
leuleus liat (lemah lembut ketika berbicara) dan heuras genggerong (keras
kepala). Kemungkinan salah mengartikan istilah tersebut bisa terjadi karena istilah yang dipakai tidak umum seperti bahasa Arab yang dipaparkan sebelumnya.
Kemampuan mentoleransi ambiguitas yang baik membuat orang Arab dan Sunda dapat terhindar dari perasaan tersinggung.
Kemampuan untuk menenangkan diri ketika berinteraksi juga mampu menghindarkan seseorang dari perilaku tersinggung. Perasaan kaku dan khawatir yang berlebihan yang ditunjukkan ketika berinteraksi akan membuat lawan bicara merasa tidak nyaman, yang akhirnya membuat dia merasa tersinggung. Interaksi antara orang Arab dan Sunda yang jarang bertemu di lingkungannya, bisa saja menimbulkan rasa kaku dan khawatir. Perasaan ini muncul karena dua orang tersebut jarang bertemu dan tidak akrab. Sebesar 53,3 persen orang Arab dan Sunda sudah mampu menenangkan dirinya dengan mengendalikan rasa kaku dan khawatir ketika berinteraksi. Kemampuan ini didorong oleh sikap untuk menjaga kerukunan dalam hidup bertetangga. Walaupun jarang bertemu dan berinteraksi, hubungan pertetanggaan harus dijalin dengan baik agar tercipta lingkungan bertetangga yang harmonis.
Etnis Arab dan Sunda juga memiliki keterampilan berempati yang baik. Sebesar 76,7 persen orang Arab dan Sunda mampu mendengarkan dengan cermat perkataan lawan bicaranya dan antusias dengan isi pembicaraan yang disampaikan. Jika orang Arab dan Sunda yang terlibat dalam sebuah interaksi tidak memiliki keterampilan berempati yang baik, maka seseorang akan merasa tersinggung. Perilaku tersinggung muncul karena seseorang merasa tidak dihargai ketika berbicara. Lawan bicara tidak mendengarkan dengan baik dan tidak antusias atas apa yang dibicarakan.
Mengadaptasikan perilaku juga memiliki peranan agar seseorang tidak tersinggung ketika berinteraksi. Perilaku yang diadaptasikan adalah penggunaan bahasa daerah ketika berbicara dan jarak interpersonal agar seseorang merasa nyaman. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, orang Arab terkadang berbicara dalam bahasa Arab ketika berinteraksi dengan orang Sunda, dan orang Sunda terkadang berbicara dalam bahasa Sunda ketika berinteraksi dengan orang Arab. Sebesar 83,3 persen orang Arab dan Sunda mampu mengadaptasikan perilakunya ketika berkomunikasi. Orang Arab dan Sunda lebih memilih menggunakan bahasa yang dapat dipahami bersama agar tidak ada yang merasa tersinggung. Jika orang Arab yang diajak berinteraksi memahami bahasa Sunda,
maka interaksi dilakukan menggunakan bahasa Sunda. Jika orang Arab tersebut tidak memahami bahasa Sunda, maka interaksi dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Jarak interpersonal tidak lagi menjadi masalah karena baik etnis Arab atau etnis Sunda memiliki jarak interpersonal yang sama, yaitu sekitar setengah meter agar dapat berinteraksi dengan nyaman.
Keterampilan terakhir yang dipaparkan dalam subbab ini agar terhindar dari perilaku tersinggung adalah kemampuan untuk membuat prediksi dan penjelasan yang akurat tentang perilaku lawan bicara. Perilaku yang diprediksikan adalah jarak interpersonal, nada bicara, dan gerakan tangan. Ketiga perilaku tersebut dijelaskan sebagai budaya asli dari masing-masing etnis. Sebesar 70 persen orang Arab dan Sunda mampu menjelaskan ketiga perilaku tersebut sebagai bawaan dari budaya asli yang sulit dihilangkan. Nada bicara orang Arab cenderung keras dan tegas. Apabila hal ini ditunjukkan ketika berinteraksi, orang Sunda mampu memberikan penjelasan yang akurat tentang perilaku lawan bicaranya. Nada bicara yang keras dan tegas merupakan sifat bawaan dari budaya bangsa Arab, bukan untuk mendominasi pembicaraan atau membuat orang Sunda merasa tidak nyaman. Jika masing-masing etnis memahami hal ini, maka perasaan tersinggung akibat ketidaknyamanan perbedaan gaya berbicara dapat dihindari dan proses interaksi dapat berjalan efektif.