MUHAMMAD AZIS
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010
ABSTRACT
This study is focused on the effectiveness of communication between two different ethnics: Arabic and Sundanese. The objective of the study was to determine 1) to what extent is the correlation between the communication motivation and its effectiveness in inter-ethnic communication, 2) to what extent is the correlation between communication knowledge and its effectiveness in inter-ethnic communication, and 3) to what extent is the correlation between communication skill and its effectiveness in inter-ethnic communication. The research showed that the communication motivation was related to the effectiveness of communication between the Arabic and Sundanese ethnics. The higher the motivation, the lower was the feeling of being offended and awkward during interaction. Of the four dimensions, need to avoid diffuse anxiety obtained the highest value. Both ethnics can avoid offended and awkward feeling because they feel save when communicating each others. The knowledge of communication was also correlated to the effectiveness of communication. The higher the knowledge of communication, the lower was the feeling of being offended and awkward as indicated during interaction. Of the four dimensions, the knowledge to collect or get information obtained the highest value. Both ethnics have a good knowledge of the other speakers ways of communication by looking at and interacting directly. Communication skill was also correlated to the effectiveness of communication between the ethnic groups. The higher the communication skill, the lower was the feeling of being offended and awkward as indicated during interaction. The skill to adapt behavior got the highest value. The adapted skill was seen as the Arabic and Sundanese favored to use understandable forms of language to avoid offense and awkwardness during interaction.
Keywords: intercultural communication, communication competences, communication effectiveness
RINGKASAN
MUHAMMAD AZIS. EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTAR ETNIS. Kasus: Etnis Arab dan Etnis Sunda di Kelurahan Empang, Bogor Selatan. (Di bawah bimbingan SARWITITI SARWOPRASODJO).
Indonesia memiliki beragam kelompok etnis yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Terkadang kelompok etnis tersebut bertemu dan membentuk sebuah lingkungan sosial. Lingkungan yang ditempati oleh dua etnis yang berbeda dapat mengarahkan kedua etnis pada kemungkinan menciptakan kehidupan sosial yang damai atau menciptakan disharmoni yang berujung konflik antar etnis. Etnis Arab merupakan salah satu etnis pendatang yang mampu beradaptasi hampir di setiap lingkungan baru. Mereka dapat membaur dengan kehidupan sosial setempat dan mampu menyerap bentuk kebudayaannya. Kehidupan multi etnis yang dibangun oleh etnis Arab dan Sunda dapat dijadikan pelajaran bagaimana membangun kehidupan multi etnis yang rukun dan damai.
Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) mengetahui sejauh mana hubungan faktor motivasi berkomunikasi dengan efektivitas komunikasi antar etnis, 2) mengetahui sejauh mana hubungan faktor pengetahuan berkomunikasi dengan efektivitas komunikasi antar etnis, dan 3) mengetahui sejauh mana hubungan faktor keterampilan berkomunikasi dengan efektivitas komunikasi antar etnis.
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan strategi survai. Populasi merupakan seluruh kepala keluarga yang berasal dari etnis Arab dan etnis Sunda yang berada di wilayah RW 02. Teknik sampling menggunakan teknik quota
sampling. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara deskriptif dan
eksplanatif dengan menghubungkan faktor motivasi, pengetahuan, dan keterampilan dengan efektivitas komunikasi antar etnis. Uji statistik yang digunakan adalah analisis Pearson.
Hasil penelitian menunjukkan motivasi berkomunikasi berhubungan dengan efektivitas komunikasi antar etnis. Semakin tinggi motivasi berkomunikasi maka semakin rendah perilaku tersinggung dan canggung yang ditunjukkan oleh etnis Arab dan Sunda ketika berinteraksi. Dari keempat dimensi, motivasi untuk menghindari kecemasan memiliki nilai paling tinggi. Seseorang akan merasa
nyaman ketika berkomunikasi dan diakui keberadaannya jika lawan bicaranya menunjukkan sikap ramah tanpa perasaan tegang, khawatir, ataupun takut. Orang Arab dan Sunda mampu menghindari rasa canggung karena mereka merasa aman ketika berinteraksi.
Pengetahuan berkomunikasi memiliki hubungan yang signifikan dengan efektivitas komunikasi antar etnis. Semakin tinggi pengetahuan berkomunikasi maka semakin rendah perilaku tersinggung dan canggung yang ditunjukkan oleh etnis Arab dan Sunda ketika berinteraksi. Pengetahuan yang baik tentang lawan bicara membuat dua orang Arab dan Sunda yang sedang berinteraksi mampu menghindarkan lawan bicaranya merasa tersinggung akibat menyinggung ciri fisik seperti bentuk hidung dan juga mampu mengendalikan rasa canggungnya. Dari keempat dimensi, pengetahuan untuk mengumpulkan atau mendapatkan informasi memiliki nilai paling tinggi. Kedua etnis memiliki pengetahuan yang baik tentang cara berkomunikasi lawan bicaranya dengan cara memperhatikan dan berinteraksi langsung.
Keterampilan berkomunikasi juga memiliki hubungan yang signifikan dengan efektivitas komunikasi antar etnis. Semakin tinggi keterampilan yang dimiliki maka semakin rendah perilaku tersinggung dan canggung yang ditunjukkan oleh etnis Arab dan Sunda ketika berinteraksi. Keterampilan yang tinggi menghindarkan kedua etnis merasa tersinggung akibat menyinggung ciri fisik dan mampu mengendalikan perasaan khawatir ataupun ragu-ragu ketika berinteraksi. Dari keenam dimensi, keterampilan mengadaptasikan perilaku memiliki nilai paling tinggi. Orang Arab dan Sunda lebih memilih menggunakan bahasa yang dapat dipahami bersama agar tidak ada yang merasa tersinggung dan canggung ketika berkomunikasi. Faktor motivasi, pengetahuan, dan keterampilan tinggi yang dimiliki oleh orang Arab dan Sunda membuat kehidupan bertetangga mereka selalu rukun. Tidak pernah ada kasus konflik seperti adu mulut dan perkelahian yang melibatkan keduanya.
EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTAR ETNIS
(Kasus: Etnis Arab dan Etnis Sunda di Kelurahan Empang, Bogor Selatan)
Oleh Muhammad Azis
I34062523
Skripsi
Sebagai Bagian Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Pada
Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang disusun oleh : Nama Mahasiswa : Muhammad Azis
NRP : I34062523
Judul : EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTAR ETNIS
(Kasus: Etnis Arab dan Etnis Sunda di Kelurahan Empang, Bogor Selatan)
dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Menyetujui, Dosen Pembimbing Dr. Sarwititi Sarwoprasodjo, MS NIP. 19630904 199002 2 001 Mengetahui,
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Ketua
Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo, MS NIP. 19550630 198103 1 003
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL
“EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTAR ETNIS (KASUS: ETNIS ARAB DAN ETNIS SUNDA DI KELURAHAN EMPANG, BOGOR SELATAN)” BELUM
PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK
MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU
DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.
Bogor, Oktober 2010
Muhammad Azis I34062523
Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 21 desember 1987. Penulis merupakan anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan Bapak Asep dan Ibu Atih. Penulis menamatkan pendidikannya di TK Purnama tahun 1994, SDN Sirnagalih 1 tahun 2000, SMPN 1 Bogor tahun 2003, dan SMAN 1 Bogor tahun 2006.
Pada tahun 2006, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dan memilih Mayor Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada tahun 2007. Selama masa perkuliahan, penulis juga aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan, di antaranya sebagai Kepala Divisi Humas Asrama Sylvasari periode 2007-2008, staf divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Kewirausahaan BEM FEMA IPB periode 2007-2008, dan staf divisi Pengembangan Budaya Olahraga dan Seni BEM FEMA IPB periode 2008 -2009.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Efektivitas Komunikasi Antar Etnis (Kasus: Etnis Arab dan Etnis Sunda di Kelurahan Empang, Bogor Selatan)” dengan baik.
Penulisan skripsi ini tentunya melibatkan banyak pihak, yang membantu baik secara moril maupun materiil. Oleh karena itu pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Dr. Sarwititi Sarwoprasodjo, MS sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan
bimbingan, saran, dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 2. Dr. Djuara P. Lubis, MS sebagai dosen penguji utama yang telah memberikan kritik dan saran sehingga penulis dapat melengkapi skripsi ini menjadi lebih lengkap
dan mendalam.
3. Ratri Virianita, S.Sos, MSi sebagai dosen penguji wakil departemen yang telah memberikan kritik dan saran terhadap teknik penulisan sehingga naskah skripsi dapat
memenuhi standar penulisan skripsi.
4. Pak Solihin, Pak Umar, Pak Mangkit, dan staf kelurahan yang telah mendukung dan membantu penulis selama berada di lapangan serta seluruh Warga RW 02 atas kerjasamanya.
5. Mamah, Bapak, Teh Nta & Suami, A Dian & Istri, Neng Lala, Deden, dan seluruh keluarga besar yang selalu memberikan kasih sayang dan perhatiannya, memberikan semangat untuk maju, dan tak henti-hentinya memberikan doa kepada penulis.
6. Saudara seperjuangan dan sependeritaan, Adha, Cepy, Ogi, Uphe, Kapten, Andris, hendra, yayan, bedil, Dhea, Tia, Iren, Uchan, neng gina, giwai, dan rauf yang telah berbagi waktu, cerita, dan pengalaman seru selama ini. Tim Cimapag, Pakpok, dan Malasari, lain waktu jalan-jalan lagi. Serta Seluruh teman di KPM 43, 44 (navalinesia relamareta), 45, dan 46 yang tidak dapat disebut semua karena keterbatasan kertas.
7. Orang-orang sekret yang tetap setia di balik meja, serta para atlet angkat beban KPM: Pak Piyat, Pak Haji (Wong Fei Hung), dan Pak Komar yang lebih kuat dari Ade Rai sekalipun.
8. Semua makhluk hidup yang pernah menjadi inspirasi (baca: bahan ceng2-an) sehingga merubah waktu yang suntuk menjadi menyenangkan (penuh dosa lebih tepatnya),mohon maaf y, just kidding..,jangan ada dendam diantara kita.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI xi
DAFTAR TABEL xiii
DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN xiv xv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Perumusan Masalah ... 3 1.3 Tujuan Penelitian ... 4 1.4 Kegunaan Penelitian ... 4
BAB II PENDEKATAN KONSEPTUAL 2.1 Tinjauan Pustaka ... 5
2.1.1 Karakteristik Etnis Arab dan Etnis Sunda ... 5
2.1.2 Interaksi Sosial ... 6
2.1.3 Komunikasi Antar Budaya ... 7
2.1.4 Efektivitas Komunikasi Antar Budaya dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya ... 9
2.2 Kerangka Pemikiran ... 12
2.3 Hipotesis Uji ... 14
2.4 Definisi Operasional ... 15
BAB III METODOLOGI 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 21
3.2 Metode Penelitian ... 21
3.3 Populasi dan Teknik Sampling ... 22
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 22
3.5 Pengolahan dan Analisis Data ... 23
BAB IV GAMBARAN UMUM KELURAHAN EMPANG 4.1 Letak dan Keadaan Fisik ... 24
4.2 Keadaan Penduduk dan Jenis Mata Pencaharian ... 25
4.3 Gambaran Penduduk Etnis Arab dan Sunda di Kelurahan Empang .. 25
4.4 Budaya Komunikasi Etnis Arab dan Etnis Sunda ... 27
4.5 Karakteristik Warga Etnis Arab dan Etnis Sunda ... 28
BAB V HUBUNGAN MOTIVASI BERKOMUNIKASI DENGAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTAR ETNIS 5.1 Hubungan Motivasi Berkomunikasi dengan Perilaku Tersinggung .. 31
BAB VI HUBUNGAN PENGETAHUAN BERKOMUNIKASI DENGAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTAR ETNIS
6.1 Hubungan Pengetahuan Berkomunikasi dengan Perilaku
Tersinggung... 40
6.2 Hubungan Pengetahuan Berkomunikasi dengan Perilaku Canggung 44 BAB VII HUBUNGAN KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI DENGAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTAR ETNIS 7.1Hubungan Keterampilan Berkomunikasi dengan Perilaku Tersinggung ... 49
7.2 Hubungan Keterampilan Berkomunikasi dengan Perilaku Canggung 54 BAB VIII PENUTUP 8.1 Kesimpulan ... 58
8.2 Saran ... 59
DAFTAR PUSTAKA ... 60
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
Teks
Tabel 1. Luas Wilayah menurut Penggunaannya di Kelurahan
Empang, Kecamatan Bogor Selatan, 2009... 24 Tabel 2. Persentase Penduduk menurut Mata Pencaharian di
Kelurahan Empang. Kecamatan Bogor Selatan, 2009 ... 25 Tabel 3. Persentase Kepala Keluarga (KK) di Setiap RT menurut
Kategori Etnis ... 28 Tabel 4. Persentase Responden menurut Jenis Kelamin di Wilayah
RW 02 Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan,
2009... 29 Tabel 5. Persentase Responden menurut Jenis Pekerjaan di Wilayah
RW 02 Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan,
Tahun 2009... 29 Tabel 6. Persentase Pasangan Teman menurut Tingkat Motivasi 31 Tabel 7. Persentase Pasangan Teman menurut Tingkat Perilaku
Tersinggung ... 31 Tabel 8. Persentase Pasangan Teman menurut Tingkat Motivasi dan
Tingkat Perilaku Tersinggung ... 32 Tabel 9. Persentase Pasangan Teman menurut Tingkat Perilaku
Canggung ... 35 Tabel 10. Persentase Pasangan Teman menurut Tingkat Motivasi dan
Tingkat Perilaku Canggung ... 35 Tabel 11. Persentase Pasangan Teman menurut Tingkat Pengetahuan 40 Tabel 12. Persentase Pasangan Teman menurut Tingkat Pengetahuan
dan Tingkat Perilaku Tersinggung ... 41 Tabel 13. Persentase Pasangan Teman menurut Tingkat Pengetahuan
dan Tingkat Perilaku Canggung ... 44 Tabel 14. Persentase Pasangan Teman menurut Tingkat
Keterampilan... 49 Tabel 15. Presentase Pasangan Teman menurut Tingkat
Keterampilan dan Tingkat Perilaku Tersinggung ... 50 Tabel 16. Persentase Pasangan Teman menurut Tingkat
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
Teks
Gambar 1. Model Komunikasi Antar Budaya ... 8 Gambar 2. Kerangka Pemikiran Efektivitas Komunikasi Antar
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
Lampiran 1 Kuesioner Orang Arab... 62 Lampiran 2 Kuesioner Orang Sunda... 65 Lampiran 3 Hasil Pengolahan Data... 68
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki beragam etnis yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Berbagai etnis tersebut membentuk komunitas tersendiri, menentukan ciri-ciri keanggotaannya, dan berinteraksi dengan pola tertentu. Hal ini sejalan dengan pemikiran Barth (1988), bahwa kelompok etnis adalah suatu populasi yang secara biologis mampu berkembang biak dan bertahan, mempunyai nilai-nilai budaya yang sama dan sadar akan kebersamaan dalam suatu bentuk budaya, membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri, menentukan sendiri ciri kelompoknya, yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi lain. Di Indonesia, selain adanya etnis lokal, juga terdapat kelompok etnis yang berasal dari wilayah atau negara di luar Indonesia. Menurut Bahanan (2007), mereka datang dan menetap dengan berbagai tujuan, namun biasanya didominasi oleh alasan ekonomi yaitu untuk melakukan perdagangan.
Wilayah Indonesia yang luas dan dihuni oleh beragam etnis sangat memungkinkan terjadinya dua etnis atau lebih menempati lingkungan sosial yang sama. Kelompok etnis tersebut bertemu, berinteraksi dan menciptakan hubungan sosial yang terpola. Hubungan yang terjalin dengan baik diduga akan menciptakan interaksi yang efektif, sebaliknya, hubungan yang tidak baik menyebabkan interaksi tidak efektif, terjadi disharmoni dalam masyarakat dan dapat mengarah kepada konflik. Salah satu contoh hubungan yang tidak harmonis antar dua etnis yang menyebabkan konflik yaitu antara etnis Cina dan Jawa. Disertasi yang ditulis oleh Habib (2004) di Malang menunjukkan telah terjadi konflik antara kedua etnis tersebut. Konflik dipicu karena penguasaan pasar pertanian oleh etnis Cina. Warga lokal yang tidak menerima keadaan ini, menciptakan suasana agar etnis Cina tidak nyaman. Akibatnya tercipta representasi dimana seolah-olah etnis Jawa sebagai komunitas yang lebih berkuasa dari etnis Cina.
Salah satu kelompok etnis pendatang atau warga keturunan yang dapat bertahan adalah etnis Arab. Di banyak lokasi di Indonesia, komunitas Arab dapat beradaptasi dengan masyarakat lokal dengan baik. Jarang terdengar kasus konflik
antar etnis yang melibatkan orang Arab. Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Bahanan (2007) yang menyatakan bahwa sejauh yang dapat dicatat, konflik keagamaan, baik intra-agama (konflik antar mazhab/aliran dalam satu agama) maupun antar agama jarang sekali terjadi. Berbagai faktor yang menyebabkan etnis Arab jarang terlibat konflik yaitu; (1) sifatnya yang ramah tamah, (2) terbuka terhadap perbedaan, dan (3) toleransi. Berbagai kesamaan ciri etnis Arab dengan masyarakat lokal seperti rasa kolektivisme dan kekeluargaan diduga membuat mereka mudah beradaptasi dan dapat diterima di lingkungan sosial tersebut. Kemampuan etnis Arab untuk bertahan di lingkungan yang baru diduga tidak lepas dari kemampuan mereka untuk beradaptasi. Menurut Kim dan Gudykunts (1997), adaptasi adalah proses dimana pendatang menerima dan menginternalisasi sesuatu yang baru (akulturasi) dengan baik dan meninggalkan beberapa ritual atau kegiatan dari kebudayaan aslinya (dekulturasi). Etnis Arab dalam hal ini berperan sebagai pendatang yang melakukan akulturasi dengan Etnis Sunda sebagai tuan rumah. Proses adaptasi tersebut dimulai ketika etnis Arab masuk ke dalam lingkungan etnis Sunda, dan terus berlangsung selama etnis Arab melakukan kontak langsung dengan etnis Sunda.
Adaptasi menjadi bagian yang penting bagi etnis Arab agar diterima di lingkungan etnis Sunda. Kegiatan adaptasi yang meliputi akulturasi dan dekulturasi diduga terjadi melalui sebuah proses yaitu komunikasi. Kim dan Gudykunts (1997) mengemukakan bahwa proses adaptasi dan komunikasi tidak dapat dipisahkan, karena adaptasi dilakukan melalui proses komunikasi. Kemampuan etnis Arab dalam beradaptasi dengan kebudayaan etnis Sunda ditentukan oleh kemampuan etnis Arab dalam berkomunikasi dengan etnis Sunda sehingga kebudayaan baru dapat diterima dan segera diinternalisasikan oleh etnis Arab sebagai etnis pendatang.
Komunikasi yang terjalin melalui interaksi sosial diduga menjadi faktor penting bagi kelangsungan keberadaan etnis Arab di tengah etnis Sunda. Proses adaptasi dilakukan dengan berkomunikasi secara efektif. Kim dan Gudykunst (1997) menyatakan bahwa komunikasi yang efektif berkaitan dengan usaha untuk mengurangi kesalahpahaman dimana pesan yang disampaikan tidak dimengerti, orang lain salah mengartikan pesan yang disampaikan, atau keduanya terjadi
secara berkesinambungan. Selanjutnya, komunikasi yang efektif dapat terjadi jika komunikator atau komunikan memiliki kompetensi komunikasi berupa motivasi, pengetahuan, dan keterampilan berkomunikasi. Kesalahpahaman yang terjadi antara kedua etnis diduga dapat menyebabkan komunikasi yang tidak efektif. Hal ini dapat mengarahkan proses sosial ke arah disosiatif yang berujung pada potensi konflik antara etnis Arab dan Sunda.
Kasus konflik antara etnis Cina dan Jawa yang dicontohkan, melibatkan banyak orang dari kedua etnis. Namun pemicu konflik diduga terjadi antara individu dari kedua etnis. Konflik yang terjadi di Sampit misalnya, dipicu oleh perkelahian dua orang pemuda. Pemicu konflik diduga karena proses komunikasi yang tidak efektif. Komunikasi interpersonal yang efektif diduga memegang peranan penting untuk meredam atau bahkan menghapuskan potensi konflik antar etnis.
Kemampuan etnis Arab untuk beradaptasi di berbagai lingkungan sosial dapat dijadikan contoh bagaimana membangun kehidupan multi etnis yang harmonis dengan cara menciptakan budaya komunikasi yang baik. Berbagai kompetensi komunikasi yang dimiliki oleh etnis Arab diduga membuat etnis tersebut mudah diterima di lingkungan baru dan mampu beradaptasi dengan baik. Studi kasus etnis Arab dan Sunda diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan konflik antar etnis yang terjadi melalui pendekatan komunikasi interpersonal.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, peneliti mencoba merumuskan beberapa masalah, yaitu:
1. Sejauh mana faktor motivasi berkomunikasi berhubungan dengan efektivitas komunikasi antar etnis?
2. Sejauh mana faktor pengetahuan berkomunikasi berhubungan dengan efektivitas komunikasi antar etnis?
3. Sejauh mana faktor keterampilan berkomunikasi berhubungan dengan efektivitas komunikasi antar etnis?
1.3 Tujuan Penelitian
Berbagai identifikasi masalah yang telah dirumuskan sebelumnya, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Analisis sejauh mana faktor motivasi berkomunikasi berhubungan dengan efektivitas komunikasi antar etnis.
2. Analisis sejauh mana faktor pengetahuan berkomunikasi berhubungan dengan efektivitas komunikasi antar etnis.
3. Analisis sejauh mana faktor keterampilan berkomunikasi berhubungan dengan efektivitas komunikasi antar etnis.
1.4 Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini, di antaranya: 1. Civitas Akademika
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan sebagai literatur ilmiah bagi penelitian berikutnya yang terkait permasalahan komunikasi antar budaya.
2. Masyarakat
Sebagai tambahan informasi mengenai proses komunikasi antar etnis yang berbeda, faktor-faktor apa yang mempengaruhinya, serta bagaimana cara bersikap ketika berinteraksi dengan etnis yang berlainan. Penelitian ini juga dapat menjadi salah satu pedoman bagaimana menciptakan kehidupan masyarakat multi etnis yang harmonis.
3. Pemerintah
Bagi pemerintah daerah bermanfaat sebagai arahan untuk mempertahankan kehidupan multi etnis yang harmonis, sedangkan bagi pemerintah pusat sebagai tambahan informasi mengenai kehidupan multi etnis yang harmonis dan mempersiapkan arah pembangunan bagi lingkungan multi etnis di lokasi lain di Indonesia.
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Karakteristik Etnis Arab dan Etnis Sunda
Kata “Arab” sering dikaitkan dengan wilayah Timur Tengah atau dunia Islam. Negara yang berada di wilayah Timur Tengah dapat dikatakan dunia Arab. Pada bulan Maret tahun 1945, dibentuk sebuah organisasi bernama Liga Arab yang beranggotakan 22 Negara. Negara yang tergabung dalam Liga Arab mempunyai beberapa kesamaan di antaranya; sikap budaya, perilaku, dan kemampuan berbicara yang tinggi. Hal ini tentunya membantu mendefinisikan kata “Arab” yang sering didengar. Lebih jauh Faris dan Husayn seperti dikutip Evanoff (2005) menduga bahwa hal-hal yang mempersatukan bangsa Arab meliputi: bahasa umum yang dipakai, sejarah umum dan mentalitas, agama mayoritas yang dianut, serta daya tarik terhadap ekonomi.
Istilah lain yang sering melekat pada komunitas pendatang (migran) yaitu warga keturunan dan kelompok etnis. Contohnya seperti warga keturunan Cina. Untuk memahami arti kata etnis, pendapat dari Barth (1988) dapat dijadikan acuan. Menurutnya kelompok etnis adalah suatu populasi yang secara biologis mampu berkembang biak dan bertahan, mempunyai nilai-nilai budaya yang sama dan sadar akan kebersamaan dalam suatu bentuk budaya, membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri, menentukan sendiri ciri kelompoknya, yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi lain. Jadi yang dimaksud dengan etnis Arab adalah orang-orang atau sekelompok orang yang berasal dari wilayah Timur Tengah yang mempunyai kesamaan bahasa umum yang dipakai, sejarah umum dan mentalitas, agama mayoritas yang dianut, serta daya tarik terhadap ekonomi.
Ekadjati (1996) memaparkan bahwa etnis Sunda berasal dari bagian Barat Pulau Jawa, dari Ujung Kulon di ujung Barat Pulau Jawa hingga sekitar Brebes (mencakup wilayah administrasi Propinsi Jawa Barat, Banten, sebagian DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Tengah). Lebih jauh Ekadjati mengungkapkan
karakteristik etnis Sunda yang membedakannya dengan etnis lain dilihat dari kebudayaan yang dimilikinya. Dari segi agama, mayoritas orang Sunda memeluk agama Islam. Sedikit sekali orang Sunda yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, maupun Budha. Etnis Sunda senang hidup berkelompok dan berdekatan dengan sanak saudara. Ciri kebudayaan yang membedakan etnis Sunda dengan etnis lainnya juga tercermin dalam kesenian yang dimilikinya. Di antara yang populer yaitu Wayang Golek dan Tari Jaipong yang diiringi alunan musik degung.
2.1.2 Interaksi Sosial
Sebagai makhluk sosial manusia melakukan interaksi dengan manusia lain. Soekanto (2002) menerangkan bahwa interaksi sosial tidak akan terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu kontak sosial dan adanya komunikasi. Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu: 1) antara orang perorangan, 2) antara orang perorangan dengan suatu kelompok, dan 3) antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Lebih jauh Soekanto (2002) menjelaskan bahwa kontak sosial dapat bersifat positif atau negatif. Kontak sosial positif mengarah pada kerjasama, sedangkan kontak sosial negatif mengarah pada suatu pertentangan atau sama sekali tidak menghasilkan interaksi sosial. Warga etnis Arab dan lokal akan mengalami suatu proses sosial menuju bentuk yang konkrit, suatu hubungan yang terpola sesuai dengan nilai-nilai sosial budaya dalam masyarakat. Proses sosial itu sendiri merupakan cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut (Soekanto, 2002).
Proses sosial yang dilakukan oleh kedua etnis akan membawa mereka pada dua kemungkinan. Pertama, kedua etnis meminimalisasi perbedaan kebudayaan yang ada di antara mereka dan hidup berdampingan, Kedua, perbedaan kebudayaan yang ada justru membuat mereka terpisah bahkan menimbulkan konflik. Menurut Gillin dan Gillin seperti dikutip Soekanto (2002), proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial pada akhirnya akan menunjuk pada dua macam bentuk interaksi sosial, yaitu proses sosial yang mendekatkan atau mempersatukan (asosiatif) dan proses sosial yang menjauhkan atau mempertentangkan (disosiatif). Ada beberapa macam tindakan dalam proses
sosial yang mendekatkan. Pertama kerjasama, yaitu bekerja bersama dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam masyarakat pedesaan, bentuk kerjasama biasanya terdiri dari gotong-royong atau kerja bakti, tolong menolong, dan musyawarah.
Kedua, akomodasi yaitu usaha-usaha untuk meredakan pertikaian secara permanen atau sementara antara pihak-pihak yang berkonflik, paling sedikit dalam hal-hal yang disepakati. Sebagai hasil interaksi sosial, akomodasi menunjuk pada suatu keadaan dimana terdapat keseimbangan baru setelah pihak-pihak yang berkonflik berbaikan kembali. Bentuk-bentuk akomodasi menurut Soekanto (2002) antara lain paksaan, kompromi, mediasi, konsiliasi, dan toleransi. Ketiga, asimilasi yaitu proses sosial yang ditandai dengan usaha-usaha mengurangi perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia.
Proses sosial yang menjauhkan (disosiatif) terdiri dari persaingan, kontravensi, dan konflik. Persaingan diartikan sebagai proses sosial dimana dua orang atau lebih berjuang dengan bersaing satu sama lain untuk memiliki atau mempergunakan barang-barang yang berbentuk material atau bukan material. Kontravensi yaitu bentuk antara persaingan dan konflik, ditandai dengan gejala-gejala ketidakpastian mengenai diri seseorang, atau suatu rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan. Konflik yaitu proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lain atau lawan dengan ancaman atau kekerasan.
2.1.3 Komunikasi Antar Budaya
Proses sosial yang dilakukan oleh kedua etnis membawa mereka pada dua kemungkinan. Pertama, kedua etnis meminimalisasi perbedaan kebudayaan yang ada di antara mereka dan hidup berdampingan, Kedua, perbedaan kebudayaan yang ada justru membuat mereka terpisah bahkan menimbulkan konflik. Menurut Gillin dan Gillin (Soekanto, 2002), proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial pada akhirnya akan menunjuk pada dua macam bentuk interaksi sosial, yaitu proses sosial yang mendekatkan atau mempersatukan (asosiatif) dan proses sosial yang menjauhkan atau mempertentangkan (disosiatif).
Dengan pemahaman yang sama, menurut Liliweri (2003) komunikasi antar budaya dapat diartikan melalui beberapa pernyataan sebagai berikut:
1. Pernyataan diri antar pribadi yang paling efektif antara dua orang yang saling berbeda latar belakang kebudayaan.
2. Pertukaran pesan-pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.
3. Pembagian pesan yang berbentuk informasi atau hiburan yang disampaikan secara lisan atau tertulis atau metode lainnya yang dilakukan oleh dua orang yang berbeda latar belakang budayanya.
Setiap individu mempunyai kebudayaan yang melekat pada dirinya. disadari atau tidak, karakteristik budaya yang mereka miliki mempengaruhi komunikasi yang dilakukan. Menurut De Vito (1997), komunikasi antar budaya mengacu pada komunikasi antar orang-orang dari kultur yang berbeda, antara orang-orang yang memiliki kepercayaan, nilai, atau cara berperilaku kultural yang berbeda. Lebih lanjut De Vito menguraikan komunikasi antar budaya ke dalam suatu model komunikasi antar budaya yang digambarkan sebagai berikut:
pesan
Gambar 1. Model Komunikasi Antar Budaya
Penjelasan dari gambar di atas adalah lingkaran yang lebih besar menggambarkan kultur dari komunikator. Lingkaran yang lebih kecil menggambarkan komunikatornya (sumber/penerima). Dalam model ini, masing-masing komunikator adalah anggota dari kultur yang berbeda.
Salah satu contoh komunikasi antar budaya adalah penelitian tentang interaksi antara Suku Lampung dengan Suku Jawa di Kota Bandar Lampung (Rosalia, 2000). Penelitian ini merupakan contoh yang sederhana bagaimana dua individu yang berlainan kultur saling berkomunikasi untuk mencapai pemahaman bersama. Suku Jawa sebagai pendatang bersosialisasi dengan suku Lampung agar
kultur s/ p kultur s/ p
nilai-nilai budaya Lampung dapat terinternalisasi dengan baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai budaya yang dikembangkan seperti musyawarah, keterbukaan, dan gotong royong. Adapun aspek-aspek yang disosialisasikan meliputi; sopan santun, disiplin dan tanggung jawab, nilai keagamaan, kerukunan, dan kemandirian.
Penelitian lain yang melibatkan proses adaptasi yang panjang adalah pola interaksi antara masyarakat keturunan Arab dengan masyarakat lokal di Gresik (Hafidzah, 2007). Penelitian ini tidak hanya melihat proses komunikasi yang terjadi sehari-hari antara orang Arab dan lokal, namun lebih jauh melihat pembauran yang terjadi akibat proses adaptasi yang panjang. Hasilnya adalah berbagai integrasi seperti perkawinan campuran, kerjasama ekonomi, tradisi (makanan, bangunan, bahasa, kesenian, dan pengobatan), dan simbol (musholla dan pakaian).
2.1.4 Efektivitas Komunikasi Antar Budaya dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya
Agar dapat berkomunikasi dengan baik satu sama lain, dalam artian mampu bertukar informasi, ide, gagasan, dan simbol-simbol, maka kedua etnis tersebut menerapkan komunikasi yang efektif. Menurut Kim dan Gudykunts (1997), komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang meminimalisasi kesalahpahaman. Komunikasi yang melibatkan dua etnis terkadang menimbulkan kesalahpahaman yang disebabkan perbedaan-perbedaan kultural, oleh karena itu setiap individu perlu mengembangkan kemampuannya untuk berkomunikasi secara efektif dengan individu dari etnis lain. Berlangsungnya komunikasi yang efektif dapat dianalisis dengan mengadopsi skema An Anxiety/Uncertainly
Managements Perspective yang dikemukakan Kim dan Gudykunts (1997).
Kompetensi komunikasi yang berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi antar budaya tersebut antara lain:
A. Faktor motivasi, yaitu sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan komunikasi yang efektif dengan orang lain, faktor motivasi ini terbagi menjadi: 1. Kebutuhan untuk dapat meramalkan tingkah laku orang lain, yaitu melihat
2. Kebutuhan untuk menghindari kecemasan, yaitu dengan mengendalikan tingkat kecemasan pada saat berkomunikasi dengan individu dari etnis lain 3. Kebutuhan mempertahankan identitas diri, yaitu dengan memperlihatkan atau menunjukkan identitas budaya sendiri ketika berinteraksi dengan orang lain.
4. Kecenderungan untuk mendekat atau menjauh. Ketika berinteraksi dengan etnis lain, individu cenderung mendekat agar dianggap sebagai orang baik dan tidak berprasangka buruk. Di sisi lain, ada kecenderungan untuk menjauh karena ada rasa khawatir ketika individu melakukan interaksi dengan etnis lain kemudian gagal, maka akan sulit untuk keluar dari situasi tersebut.
B. Faktor pengetahuan, yaitu menyangkut kesadaran tentang apa yang dibutuhkan untuk berkomunikasi secara tepat dan efektif. Faktor pengetahuan ini dibagi menjadi:
1. Pengetahuan mengumpulkan/mendapatkan informasi, yaitu cara-cara yang dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai individu dari etnis lain. Cara-cara untuk mengumpulkan informasi adalah dengan strategi pasif (mengamati), aktif (mencari informasi), dan interaktif (mengajukan pertanyaan).
2. Pengetahuan tentang perbedaan antar etnis. Perbedaan-perbedaan yang membuat kita sadar di antaranya sikap etnosentrisme, prasangka, gender, dan stereotipe.
3. Pengetahuan tentang persamaan individu, yaitu mengidentifikasi ciri-ciri yang membuat kita dengan etnis lain merasakan persamaan.
4. Pengetahuan tentang interpretasi alternatif, yaitu kemampuan mengenali berbagai cara dalam menginterpretasikan pesan kita pada orang lain dan kemampuan untuk mengenali interpretasi orang lain terhadap kita.
C. Faktor keterampilan, yaitu sarana yang dibutuhkan untuk berkomunikasi secara efektif dan tepat dengan pihak asing dan berkaitan langsung untuk mengurangi kecemasan dan ketidaktentuan partisipan dalam proses komunikasi antarbudaya. Faktor ini dibagi menjadi:
1. Keterampilan untuk sadar/berhati-hati ketika berkomunikasi, yaitu berusaha semaksimal mungkin untuk menggunakan dua sudut pandang ketika berkomunikasi, sudut pandang sendiri dan sudut pandang orang lain. Hal ini menjadi penting agar dicapai pemahaman bersama.
2. Kemampuan untuk mentoleransi ambiguitas, yaitu kemampuan untuk mengendalikan situasi dalam proses interaksi walaupun banyak informasi yang dibutuhkan untuk berinteraksi secara efektif tidak diketahui oleh kedua kedua etnis yang terlibat.
3. Keterampilan untuk menenangkan diri, yaitu dengan cara menanggulangi distorsi kognitif yang dirasakan ketika berinteraksi dengan orang lain. 4. Kemampuan untuk berempati, yaitu aktivitas masing-masing anggota etnis
Arab dan Sunda dalam mendengarkan orang lain secara cermat, memahami perasaan, saling peka terhadap satu sama lain, dan memahami kondisi satu sama lain
5. Keterampilan untuk mengadaptasi kebiasaan/perilaku, yaitu kemampuan untuk menyesuaikan perilaku kita dengan kondisi lingkungan dan nilai serta norma yang berlaku di lingkungan tersebut.
6. Kemampuan untuk memberi prediksi dan penjelasan yang akurat, yaitu kemampuan untuk memprediksi dan memberikan penjelasan tentang perilaku orang lain.
Kim dan Gudykunts (1997) menyatakan bahwa komunikasi yang efektif bertujuan untuk mengurangi kesalahpahaman, rasa cemas, dan khawatir dari individu yang berkomunikasi. Kesalahpahaman dalam komunikasi dapat terjadi ketika seseorang tidak memahami pesan lawan bicaranya. Salah paham yang terjadi menimbulkan ketidaknyamanan saat berkomunikasi dan dapat timbul perasaan tersinggung dari individu yang berkomunikasi. Rasa cemas dan khawatir ketika berkomunikasi disebabkan seseorang tidak memiliki informasi yang cukup tentang cara berkomunikasi lawan bicaranya. Kurangnya informasi mengenai cara berkomunikasi etnis lain dapat membuat seseorang merasa canggung ketika berkomunikasi karena tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dengan lawan bicaranya.
2.2 Kerangka Pemikiran
Kim dan Gudykunts (1997) menyatakan bahwa proses adaptasi dilakukan melalui proses komunikasi. Agar interaksi yang dilakukan berjalan dengan efektif, etnis Arab dan etnis Sunda diduga berkomunikasi secara efektif. Terdapat tiga kompetensi yang mempengaruhi komunikasi yang efektif, yaitu: (1) Faktor motivasi, yang meliputi kebutuhan meramalkan tingkah laku orang lain, menghindari kecemasan, mempertahankan identitas diri, dan kecenderungan untuk mendekat dan menjauh. (2) Faktor pengetahuan, yang meliputi pengetahuan mengumpulkan atau mendapatkan informasi, perbedaan antar etnis, persamaan individu, dan interpretasi alternatif. (3) Faktor keterampilan, yang meliputi keterampilan untuk Sadar atau berhati-hati ketika berkomunikasi, toleransi terhadap ambiguitas, kemampuan menenangkan diri, kemampuan berempati, adaptasi kebiasaan atau perilaku, dan prediksi atau penjelasan yang akurat.
Kim dan Gudykunts (1997) menyatakan bahwa komunikasi yang efektif bertujuan untuk mengurangi kesalahpahaman, rasa cemas, dan khawatir dari individu yang berkomunikasi. Kesalahpahaman dalam komunikasi dapat terjadi ketika seseorang tidak memahami pesan lawan bicaranya. Salah paham yang terjadi menimbulkan ketidaknyamanan saat berkomunikasi dan dapat timbul perasaan tersinggung dari individu yang berkomunikasi. Rasa cemas dan khawatir ketika berkomunikasi disebabkan seseorang tidak memiliki informasi yang cukup tentang cara berkomunikasi lawan bicaranya. Kurangnya informasi mengenai cara berkomunikasi etnis lain dapat membuat seseorang merasa canggung ketika berkomunikasi karena tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dengan lawan bicaranya. Oleh karena itu kesalahpahaman diukur berdasarkan perilaku tersinggung sedangkan rasa cemas dan khawatir diukur berdasarkan perilaku canggung yang ditunjukkan ketika berkomunikasi. Dua orang dikatakan berkomunikasi secara efektif apabila menunjukkan perilaku tersinggung dan canggung yang rendah.
Motivasi berkomunikasi diduga berhubungan dengan efektivitas komunikasi antar etnis. Motivasi berkomunikasi yang baik mendorong seseorang untuk selalu berusaha menjadi lawan bicara yang baik bagi orang lain. Ketika seseorang memiliki motivasi yang baik untuk meramalkan tingkah laku orang
lain, menghindari kecemasan dalam dirinya, mempertahankan identitas diri, dan memiliki kecenderungan untuk mendekat maka orang tersebut dapat berkomunikasi tanpa perasaan tersinggung dan canggung.
Pengetahuan berkomunikasi juga diduga berhubungan dengan efektivitas komunikasi. Pengetahuan mendorong seseorang untuk mencari informasi tentang cara berkomunikasi, persamaan maupun perbedaan antara etnisnya dengan etnis lain. Pengetahuan yang baik tentang cara mendapatkan informasi bagaimana etnis lain berkomunikasi, perbedaan antar etnis, persamaan antara etnisnya dengan etnis lain, dan pengetahuan tentang alternatif interpretasi akan membuat seseorang berkomunikasi secara efektif. Perilaku tersinggung yang terjadi akibat perbedaan cara berkomunikasi dapat terhindarkan karena pengetahuan tentang perbedaan antara dirinya dengan etnis lain sudah diketahui dan dipahami dengan baik. Persamaan etnis yang telah diketahui juga dapat menghindarkan kedua etnis merasa canggung ketika berkomunikasi. Adanya persamaan membuat dua orang yang sedang berkomunikasi merasa nyaman sehingga proses pertukaran informasi berjalan efektif dan perilaku canggung dapat dihindari.
Keterampilan berkomunikasi berhubungan dengan efektivitas komunikasi antar etnis. Keterampilan menunjukkan sikap dan perilaku seseorang ketika berkomunikasi dengan etnis lain. Keterampilan yang baik mampu menghindarkan seorang komunikator atau komunikan merasa tersinggung maupun canggung ketika berkomunikasi. Keterampilan yang baik untuk sadar atau berhati-hati ketika berkomunikasi, toleransi terhadap ambiguitas, kemampuan menenangkan diri, kemampuan berempati, adaptasi kebiasaan atau perilaku, dan prediksi atau penjelasan yang akurat tentang perilaku seseorang dapat menghindarkan dua orang yang berkomunikasi merasa tersinggung maupun canggung. Penjelasan mengenai efektivitas komunikasi antar etnis dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Kerangka Pemikiran Efektivitas Komunikasi Antar Etnis
2.3 Hipotesis Uji
Berbagai kompetensi yang diungkapkan Kim dan Gudykunts (1997) yang mempengaruhi komunikasi yang efektif antar etnis yang berbeda, dan telah diuraikan dalam kerangka pemikiran, maka terdapat hipotesis yang akan diuji pada penelitian ini, yaitu:
1. Semakin tinggi motivasi berkomunikasi, maka semakin efektif komunikasi antar etnis yang terjadi.
2. Semakin tinggi pengetahuan berkomunikasi, maka semakin efektif komunikasi antar etnis yang terjadi.
3. Semakin tinggi keterampilan berkomunikasi, maka semakin efektif komunikasi antar etnis yang terjadi.
Faktor Motivasi:
Meramalkan Tingkah Laku Orang Lain Menghindari Kecemasan
Mempertahankan Identitas Diri
Kecenderungan untuk Mendekat atau Menjauh Faktor Pengetahuan:
Mengumpulkan/Mendapatkan Informasi Perbedaan Antar Etnis
Persamaan Individu Interpretasi Alternatif
Faktor Keterampilan:
Sadar/berhati-hati Ketika Berkomunikasi Toleransi Terhadap Ambiguitas
Kemampuan Menenangkan Diri Kemampuan Berempati
Adaptasi Kebiasaan/Perilaku Prediksi dan Penjelasan yang Akurat
Efektivitas Komunikasi Antar Etnis: Perilaku Tersinggung
2.4 Definisi Operasional
Kim dan Gudykunts (1997) telah mengemukakan bahwa terdapat tiga kompetensi yang mempengaruhi komunikasi yang efektif, yaitu motivasi, pengetahuan, dan keterampilan berkomunikasi dengan orang lain. Faktor-faktor tersebut membantu pengukuran variabel yang akan diukur dalam penelitian. Adapun beberapa definisi operasional yang membantu pengukuran variabel, di antaranya:
1. Faktor motivasi, yaitu sesuatu yang mendorong etnis Arab maupun Sunda untuk melakukan komunikasi dengan etnis lain.
a. Meramalkan tingkah laku orang lain, yaitu melihat perilaku individu lain sebagai sesuatu yang dapat diprediksi. Perilaku yang dapat diramalkan ketika berinteraksi yaitu gerak tubuh dan ekspresi wajah berupa perasaan senang, sedih, atau marah.
b. Menghindari kecemasan, yaitu mengendalikan tingkat kecemasan pada saat berinteraksi dengan individu dari etnis lain. Kecemasan merupakan perasaan tegang, khawatir, atau takut tentang apa yang mungkin terjadi ketika berinteraksi.
c. Mempertahankan identitas diri, yaitu memperlihatkan atau menunjukkan identitas budaya sendiri ketika berinteraksi dengan orang lain. Identitas yang dimunculkan adalah gaya bicara yang berupa nada bicara (lantang atau lembut ) dan gerak tubuh (gerakan tangan, gerakan kepala).
d. Kecenderungan untuk mendekat atau menjauh, yaitu ketika etnis Arab atau Sunda cenderung mendekat agar dianggap sebagai orang baik dimana dia tidak punya prasangka buruk terhadap lawan bicaranya. Di sisi lain, ada kecenderungan untuk menjauh karena ada rasa khawatir gagal dalam bertukar informasi.
Total keempat dimensi untuk masing-masing faktor motivasi adalah 11 pernyataan. Setiap pernyataan dibagi dalam tiga kategori dengan bobot 0-2.
1. Jika jawaban kedua pasangan teman sama, yaitu Ya dan Ya, maka diberi skor = 2
2. Jika jawaban kedua pasangan teman berbeda, yaitu Ya dan Tidak atau kebalikannya, maka diberi skor = 1
3. Jika jawaban kedua pasangan teman sama, yaitu Tidak dan Tidak, maka diberi skor = 0
Hasil pengolahan dari jawaban responden untuk setiap pernyataan diperoleh nilai faktor motivasi sebagai berikut; nilai minimal = 14, nilai maksimal = 21, nilai rata-rata = 19,2 dengan nilai standar deviasi = 1,7. Kriteria faktor motivasi dalam hubungannya dengan efektivitas komunikasi antar budaya adalah sebagai berikut:
1. Tinggi : Apabila skor total variabel berada pada rentang 19,3-21 2. Sedang : Apabila skor total variabel berada pada rentang 17,4-19,2 3. Rendah : Apabila skor total variabel berada pada rentang 14-17,3
2. Faktor pengetahuan, yaitu menyangkut kesadaran tentang apa yang dibutuhkan untuk berkomunikasi antara etnis Arab dan Sunda.
a. Mengumpulkan atau mendapatkan informasi, yaitu cara-cara yang dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai cara-cara berkomunikasi dari etnis Arab maupun Sunda. Cara-cara untuk mengumpulkan informasi adalah dengan strategi pasif (mengamati), aktif (mencari informasi dengan bertanya pada orang lain, internet, atau membaca buku), dan interaktif (mengobrol atau berdiskusi).
b. Perbedaan antar etnis, yaitu ciri-ciri yang membuat kedua etnis berbeda. Perbedaan di sini adalah perbedaan kultural berupa kebiasaan dalam berinteraksi meliputi jarak interpersonal dan gerak tubuh (gerakan tangan dan gerakan kepala).
c. Persamaan individu, yaitu identifikasi ciri-ciri yang membuat seseorang dari etnis yang berbeda merasakan persamaan. Persamaan diukur dari ciri fisik berupa warna kulit dan tinggi badan.
d. Interpretasi alternatif, yaitu kemampuan mendeskripsikan, interpretasi, dan mengevaluasi tentang apa yang disampaikan atau dilakukan orang lain ketika berinteraksi. Hal yang diinterpretasikan yaitu jarak interpersonal ketika berkomunikasi. Feghali (1997) menyatakan bahwa orang Arab merasa sangat nyaman bila jarak antara mereka dengan lawan bicaranya sekitar dua kaki,
atau sekitar setengah meter. Ketika dua orang berinteraksi pada jarak tertentu, interpretasi yang mungkin muncul yaitu sikap agresif, melanggar jarak pribadi, atau tertarik.
Total keempat dimensi untuk masing-masing faktor pengetahuan adalah 13 pernyataan. Setiap pernyataan dibagi dalam tiga kategori dengan bobot 0-2.
1. Jika jawaban kedua pasangan teman sama, yaitu Ya dan Ya, maka diberi skor = 2
2. Jika jawaban kedua pasangan teman berbeda, yaitu Ya dan Tidak atau kebalikannya, maka diberi skor = 1
3. Jika jawaban kedua pasangan teman sama, yaitu Tidak dan Tidak, maka diberi skor = 0
Hasil pengolahan dari jawaban responden untuk setiap pernyataan diperoleh nilai faktor pengetahuan sebagai berikut; nilai minimal = 9, nilai maksimal = 20, nilai rata-rata = 16, dengan nilai standar deviasi = 3,5. Kriteria faktor pengetahuan dalam hubungannya dengan efektivitas komunikasi antar budaya adalah sebagai berikut:
1. Tinggi : Apabila skor total variabel berada pada rentang 16,1-20 2. Sedang : Apabila skor total variabel berada pada rentang 12,6-16 3. Rendah : Apabila skor total variabel berada pada rentang 9-12,5
3. Faktor keterampilan, yaitu sarana yang dibutuhkan untuk berkomunikasi antara etnis Arab dan Sunda serta berkaitan langsung untuk mengurangi kecemasan dan ketidaktentuan dalam proses komunikasi antar etnis Arab dan Sunda.
a. Keterampilan untuk sadar dan berhati-hati ketika berkomunikasi, yaitu berusaha semaksimal mungkin untuk menggunakan dua sudut pandang ketika berkomunikasi, sudut pandang sendiri dan sudut pandang orang lain. Dua sudut pandang yang digunakan yaitu menyampaikan pesan dengan jelas dan mendengarkan dengan cermat perkataan orang lain.
b. Toleransi terhadap ambiguitas, yaitu kemampuan untuk mengendalikan situasi dalam proses interaksi walaupun banyak informasi yang dibutuhkan untuk berinteraksi tidak diketahui oleh kedua pihak. Informasi yang
dibutuhkan meliputi penggunaan bahasa lokal dan pilihan kata yang digunakan.
c. Kemampuan menenangkan diri, yaitu cara-cara menanggulangi distorsi kognitif yang dirasakan ketika berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan yang dibutuhkan yaitu mengendalikan rasa kaku ketika berbicara dan mengendalikan rasa khawatir jika pesan tidak dimengerti.
d. Kemampuan berempati, yaitu aktivitas masing-masing anggota yang berinteraksi dalam mendengarkan orang lain secara cermat dan tertarik dengan yang dikatakan orang lain.
e. Adaptasi kebiasaan dan perilaku, yaitu kemampuan untuk menyesuaikan perilaku kita dengan kondisi lingkungan dan nilai serta norma yang berlaku di lingkungan tersebut. Adaptasi yang dilakukan yaitu penggunaan bahasa lokal dan jarak interpersonal ketika berkomunikasi.
f. Prediksi dan penjelasan yang akurat, yaitu kemampuan untuk memprediksi dan memberikan penjelasan secara akurat tentang perilaku orang lain. Keterampilan yang dibutuhkan meliputi pemahaman akan jarak interpersonal, nada bicara, dan gerak tubuh (non verbal).
Total keenam dimensi untuk masing-masing faktor keterampilan adalah 14 pernyataan. Setiap pernyataan dibagi dalam tiga kategori dengan bobot 0-2.
1. Jika jawaban kedua pasangan teman sama, yaitu Ya dan Ya, maka diberi skor = 2
2. Jika jawaban kedua pasangan teman berbeda, yaitu Ya dan Tidak atau kebalikannya, maka diberi skor = 1
3. Jika jawaban kedua pasangan teman sama, yaitu Tidak dan Tidak, maka diberi skor = 0
Hasil pengolahan dari jawaban responden untuk setiap pernyataan diperoleh nilai faktor keterampilan sebagai berikut; nilai minimal = 17, nilai maksimal = 28, nilai rata-rata = 23,2 dengan nilai standar deviasi = 2,4. Kriteria faktor keterampilan dalam hubungannya dengan efektivitas komunikasi antar budaya adalah sebagai berikut:
2. Sedang : Apabila skor total variabel berada pada rentang 20,9-23,2 3. Rendah : Apabila skor total variabel berada pada rentang 17-20,8
Selanjutnya Kim dan Gudykunts (1997) memaparkan bahwa komunikasi yang efektif tercapai ketika antara etnis Arab dan Sunda yang berinteraksi mencapai pemahaman bersama. Pada tingkatan yang sederhana, kondisi efektif tercapai ketika dalam proses komunikasi kedua etnis tidak merasa tersinggung dan tidak merasa canggung untuk bertukar informasi.
1. Perasaan tersinggung yaitu salah satu ungkapan emosi disebabkan perasaan tidak nyaman dikarenakan sikap, perkataan, dan perilaku lawan bicara. Perasaan tersinggung merupakan respon berupa tindakan diam, membuang muka, perkataan kasar, atau pergi dari situasi.
Total pernyataan untuk variabel perasaan tersinggung adalah 8 pernyataan. Setiap pernyataan dibagi dalam tiga kategori dengan bobot 0-2.
1. Jika jawaban kedua pasangan teman sama, yaitu Tidak dan Tidak, maka diberi skor = 2
2. Jika jawaban kedua pasangan teman berbeda, yaitu Ya dan Tidak atau kebalikannya, maka diberi skor = 1
3. Jika jawaban kedua pasangan teman sama, yaitu Ya dan Ya, maka diberi skor = 0
Hasil pengolahan data kuesioner untuk variabel ketersinggungan diperoleh; nilai minimal = 5, nilai maksimal = 12, nilai rata-rata = 10,4 dengan nilai standar deviasi = 2,4. Kriteria ketertersinggungan dalam hubungannya dengan efektivitas komunikasi antar budaya adalah sebagai berikut:
1. Tinggi : Apabila skor total variabel berada pada rentang 10,5-12 2. Sedang : Apabila skor total variabel berada pada rentang 8,1-10,4 3. Rendah : Apabila skor total variabel berada pada rentang 5-8
2. Perasaan canggung yaitu perasaan yang timbul dari etnis Arab maupun etnis Sunda dimana individu tersebut tidak berani, malu, atau ragu-ragu dalam menyapa, memulai pembicaraan, atau bertukar pendapat dengan lawan bicaranya.
Total pernyataan untuk variabel perasaan canggung adalah 9 pernyataan. Setiap pernyataan dibagi dalam tiga kategori dengan bobot 0-2.
1. Jika jawaban kedua pasangan teman sama, yaitu Tidak dan Tidak, maka diberi skor = 2
2. Jika jawaban kedua pasangan teman berbeda, yaitu Ya dan Tidak atau kebalikannya, maka diberi skor = 1
3. Jika jawaban kedua pasangan teman sama, yaitu Ya dan Ya, maka diberi skor = 0
Hasil pengolahan data kuesioner untuk variabel kecanggungan diperoleh; nilai minimal = 8, nilai maksimal = 18, nilai rata-rata = 16,1 dengan nilai standar deviasi = 2,7. Kriteria kecanggungan dalam hubungannya dengan efektivitas komunikasi antar budaya adalah sebagai berikut:
1. Tinggi : Apabila skor total variabel berada pada rentang 16,2-18 2. Sedang : Apabila skor total variabel berada pada rentang 13,5-16,1
BAB III METODOLOGI
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Komunitas Arab yang terdapat di kota Bogor berada pada dua lokasi. Yang pertama di kelurahan Empang dan yang kedua di wilayah Puncak. Penelitian ini dilaksanakan di kelurahan Empang, Bogor Selatan, dimana penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive). Hal ini berdasarkan beberapa pertimbangan, yaitu:(1) terdapat komunitas etnis Arab (kampung Arab) yang berada pada satu lingkungan (berkelompok), (2) kampung Arab tersebut bersinggungan langsung dengan lingkungan etnis Sunda (membaur), dan (3) etnis Arab yang berada di lokasi penelitian sudah lama menetap di wilayah tersebut sehingga proses adaptasi dan pembauran dengan masyarakat sekitar diduga terjalin dengan baik. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juli 2010. Kurun waktu penelitian yang dimaksud mencakup waktu semenjak penelitian intensif berada di lokasi penelitian, sehingga penjajagan tidak termasuk dalam kurun waktu tersebut.
3.2 Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survai dengan maksud untuk penjelasan (explanatory), yaitu menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesa (Singarimbun, 1995). Adapun hubungan kausal yang dijelaskan adalah antara variabel-variabel yang berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi antar etnis Arab dan Sunda, yaitu: (1) faktor motivasi, (2) faktor pengetahuan, dan (3) faktor keterampilan dengan efektivitas komunikasi antar etnis. Untuk memperkaya data dan memahami fenomena yang sedang diteliti, maka ditambahkan informasi kualitatif pada penelitian ini. Tambahan informasi diperoleh melalui wawancara bebas dan observasi.
3.3 Populasi dan Teknik Sampling
Populasi dalam penelitian ini adalah pasangan pertemanan antara etnis Arab dan etnis Sunda di wilayah RW 02 kelurahan Empang. Pasangan teman yang dipilih pada penelitian ini adalah pertemanan antara kepala keluarga (KK) dari etnis Arab dan Sunda. Sampel pada penelitian ini berjumlah tiga puluh pasang teman kepala keluarga (KK) dengan menggunakan teknik quota sampling dimana dari setiap rukun tetangga (RT) diambil sebanyak enam pasang kepala keluarga. Dari 142 kepala keluarga (KK) yang tersebar di lima rukun tetangga (RT), dipilih sampel sebanyak tiga puluh pasang teman secara accidental. Penentuan pasangan teman diawali dengan meminta kepala keluarga dari etnis Sunda untuk memilih satu pasangan temannya dari etnis Arab sebagai responden. Hal itu dilakukan untuk menjamin terpenuhinya jumlah tiga puluh pasangan teman mengingat jumlah KK etnis Sunda lebih sedikit dibandingan KK etnis Arab.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian survai, data dikumpulkan dari sampel dengan menggunakan kuesioner (Singarimbun, 1995) yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan survai. Pernyataan dalam kuesioner juga berkaitan langsung dengan hipotesis dan tujuan penelitian. Pernyataan-pernyataan dalam kuesioner disusun berdasarkan hasil penjajagan peneliti ke lapangan. Penjajagan dilakukan oleh peneliti agar mendapatkan gambaran bagaimana interaksi sehari-hari yang terjadi antara etnis Arab dan Sunda yang berkaitan dengan motivasi, pengetahuan, dan keterampilan berkomunikasi, serta bagaimana perilaku tersinggung atau canggung ditunjukkan ketika etnis Arab dan Sunda berinteraksi. Dengan melakukan penjajagan terlebih dahulu, peneliti lebih mudah dalam menyusun kuesioner dan mendapatkan gambaran yang akurat mengenai komunikasi interpersonal yang terjadi antara etnis Arab dan Sunda.
3.5 Pengolahan dan Analisa Data
Jawaban yang diperoleh dari kuesioner yang berupa raw data kemudian dikelompokkan berdasarkan variabelnya dalam bentuk transfer sheet. Adapun variabel yang dikelompokkan yaitu: faktor motivasi, pengetahuan, keterampilan, perilaku tersinggung, dan perilaku canggung. Selanjutnya data yang terkumpul diolah dengan menghitung jumlah dan persentase responden menurut kategori variabel-variabel tersebut.
Uji statistik yang digunakan untuk mengetahui hubungan faktor motivasi, pengetahuan, dan keterampilan dengan efektivitas komunikasi antar budaya adalah analisis crosstabs yang menunjukkan hubungan kausal antara dua variabel. Analisis crosstabs merupakan analisis dasar untuk hubungan antar variabel kategori (nominal atau ordinal) dimana analisis crosstabs yang digunakan adalah analisis Pearson. Hasil uji Pearson ditampilkan dalam bentuk tabel silang antara variabel pengaruh; motivasi, pengetahuan, dan keterampilan berkomunikasi dengan variabel terpengaruh; perilaku tersinggung dan canggung. Tabel silang dari uji Pearson membantu peneliti dalam mendeskripsikan apakah hasil penelitian sesuai dengan hipotesis yang diajukan.
BAB IV
GAMBARAN UMUM KELURAHAN EMPANG 4.1 Letak dan Keadaan Fisik
Kelurahan Empang merupakan kelurahan yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Secara administratif, batas-batas Kelurahan Empang adalah sebagai berikut; sebelah Utara dengan Kali Cipakancilan, sebelah Selatan dengan Kelurahan Batutulis, sebelah Timur dengan Kelurahan Bondongan, dan sebelah Barat dengan Sungai Cisadane.
Kelurahan Empang terbagi atas dua puluh rukun warga (RW) dan 116 rukun tetangga (RT). Kondisi pemukiman termasuk padat dimana dari total luas lahan sebesar 79 Ha, sebesar 42,8 Ha digunakan sebagai pemukiman penduduk. Sisanya berturut-turut digunakan untuk prasarana umum (23,9 Ha), tanah kuburan (11 Ha), perkantoran (1 Ha), dan taman (0,3 Ha) (Tabel 1). Padatnya pemukiman penduduk membuat jarak antar rumah sangat padat dan rapat. Sedikit sekali ruang publik seperti lapangan bulutangkis atau lapangan bola untuk berolahraga, bahkan lahan-lahan kosong dimana anak-anak biasa bermain. Letaknya yang juga dilalui Jalan raya Bondongan juga membuat lingkungan Kelurahan Empang semakin padat. Setiap harinya tidak kurang dari seratus angkutan umum (angkot) melalui daerah ini. Hal ini pula yang menjadikan banyaknya rumah toko (ruko) di sela-sela pemukiman penduduk yang berada di pinggir jalan. Tabel 1 menunjukkan luas wilayah Kelurahan Empang menurut penggunaannya.
Tabel 1. Luas Wilayah menurut Penggunaannya di Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, 2009
Penggunaan Lahan Luas (Hektar) Persentase (%)
Pemukiman 42,8 54,2
Kuburan 11,0 14,0
Taman 0,3 0,4
Perkantoran 1,0 1,3
Prasarana Umum Lainnya 23,9 30,3
Jumlah 79,0 100,0
Sumber: Profil Desa dan Kelurahan, 2009
4.2 Keadaan Penduduk dan Jenis Mata Pencaharian
Data monografi desa tahun 2009 mencatat jumlah penduduk Kelurahan Empang sebanyak 16.230 jiwa, yang terdiri dari 8.247 laki-laki dan 7.982 perempuan. Jumlah tersebut terbagi dalam 4.693 kepala keluarga. Kepadatan penduduk rata-rata per kilometer adalah 206 jiwa.
Mayoritas penduduk Empang mempunyai mata pencaharian sebagai karyawan perusahaan swasta, namun kegiatan yang paling dominan adalah kegiatan berdagang. Kegiatan ini memang didominasi oleh orang Arab yang mempunyai usaha minyak wangi, toko bahan bangunan, mebel, perlengkapan ibadah, dan lain-lain. Pertokoan orang Arab yang berjejer di pinggir jalan utama ini membuat wilayah Empang menjadi unik dibanding wilayah lainnya. Selebihnya, penduduk bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS), TNI, POLRI, dan pensiunan. Tabel 2 menunjukan jenis mata pencaharian penduduk Kelurahan Empang.
Tabel 2. Persentase Penduduk menurut Mata Pencaharian di Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, 2009
Mata Pencaharian Persentase
TNI 0,9
POLRI 4,3
Pegawai Negeri Sipil 2,3 Pensiunan TNI/POLRI/PNS 5,5 Pengusaha kecil dan menengah 33,5
Pengacara 0,01
Notaris 0,03
Dosen Swasta 0,03
Karyawan Perusahaan Swasta 53,4
Jumlah (%) 100,0
Sumber: Profil Desa dan Kelurahan, 2009
4.3 Gambaran Penduduk Etnis Arab dan Sunda di Kelurahan Empang
Asal mula kedatangan bangsa Arab ke wilayah Empang memang tidak diketahui pasti, namun nama Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas selalu dikaitkan dengan kedatangan pertama bangsa Arab ke Indonesia. Dia adalah seorang ulama besar yang berasal dari Negara Yaman. Tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Agar Islam dapat diterima lebih luas oleh warga pibumi, salah satu cara yang digunakan adalah dengan menikah dengan
orang pribumi dan membentuk sebuah komunitas. Hal inilah yang sekarang dikenal menjadi kampung Arab yang dihuni oleh orang-orang yang memiliki garis keturunan orang Yaman.
Seluruh penduduk di Kelurahan Empang sudah dikategorikan sebagai warga Negara Indonesia (WNI). Walaupun banyak etnis Arab yang tinggal di wilayah ini, mereka lahir dan dibesarkan di Indonesia, sehingga kewarganegaraannya adalah Indonesia. Orang Arab yang sekarang tinggal di wilayah Empang merupakan keturunan dari bangsa Arab yang berasal dari Kota Hadramaut, Yaman. Kondisi ini menyebabkan tidak terdapatnya data yang dapat menunjukkan komposisi jumlah orang Arab dan orang Sunda secara akurat.
Etnis Sunda yang tinggal di kelurahan Empang merupakan orang Sunda pribumi dan juga pendatang yang berasal dari Sukabumi, Cianjur, dan Tasikmalaya. Etnis Sunda adalah orang-orang yang menggunakan bahasa Sunda dalam kesehariannya. Orang Sunda Empang menggunakan dialek Sunda-Banten yang cakupannya meliputi wilayah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, hingga Pantura. Tidak seperti dialek Selatan (Bandung, Tasikmalaya, dan sekitarnya) yang mengenal strata dalam berbicara (undak usuk), orang Sunda Empang hanya menggunakan bahasa loma dalam kesehariannya. Bahasa loma adalah bahasa pergaulan yang digunakan untuk berbicara dengan teman sebaya. Adapun stratanya meliputi bahasa halus, loma, dan kasar. Ciri yang melekat pada orang Sunda selain penggunaan bahasa Sunda adalah kebiasaan untuk hidup berdekatan dengan keluarga (kurung batok). Walaupun sudah berumah tangga, mereka memilih untuk satu rumah atau tinggal berdekatan dengan orang tua maupun kerabat dekat lainnya seperti kakak, adik, atau paman. Hal ini merupakan ciri umum orang Sunda dimana mereka lebih senang dan nyaman hidup berkelompok dan jarang hidup merantau.
Orang Arab juga memiliki kecenderungan untuk hidup berkelompok dengan sesamanya. Rasa kolektivisme orang Arab sangat tinggi sehingga hubungan kekerabatannya sangat kuat. Hal ini didukung oleh sistem kekerabatan patrilineal yang meneruskan garis keturunan dari ayah. Orang Arab akan mempertahankan marganya dengan tujuan menciptakan rasa aman dan jaminan
bagi keluarga besarnya. Jaminan yang dimaksud adalah kecukupan dalam pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
4.4 Budaya Komunikasi Etnis Arab dan Etnis Sunda
Hubungan tetangga antara etnis Arab dan Sunda dapat terbentuk karena mereka memiliki beberapa persamaan pandangan dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat. Ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk Empang merupakan salah satu faktor yang membuat keduanya mudah membaur. Kedatangan orang Arab ke Empang yang didasari motif agama, yaitu Islam, merupakan sesuatu yang dipandang positif oleh orang Sunda. Maksud kedatangan mereka dapat diterima karena sebelum kedatangan orang Arab pun orang Sunda Empang sudah beragama Islam. Kehidupan bertetangga di wilayah Empang memang didasarkan pada ajaran Islam seperti toleransi, menjaga kerukunan dengan tetangga, dan menghindari permusuhan. Pembauran juga semakin mudah terjadi karena kedua etnis memiliki sikap ramah tamah yang baik, bahkan terhadap orang asing (Feghali, 1997). Sikap ini membantu mereka untuk saling mengenal melalui proses komunikasi.
Etnis Arab dan Sunda memiliki budaya komunikasi yang berbeda. Etnis Arab berbicara dengan keras dan cepat sehingga terkesan kasar dan mendominasi bagi lawan bicaranya. Dalam berkomunikasi orang Arab juga cenderung terperinci dan detil. Bila orang Amerika mampu mengutarakan sebuah ide dalam sepuluh kata, maka orang Arab akan mengutarakannya dalam seratus kata. Dapat dikatakan bahwa orang Arab menggunakan banyak kata dalam berkomunikasi daripada orang-orang dari bangsa lain (Feghali, 1997). Komunikasi non verbal yang ditunjukkan ketika berinteraksi meliputi gestur, kontak mata, dan jarak interpersonal. Kontak mata terbatas pada individu sesama jenis saja, karena ajaran Islam melarang individu berlainan jenis untuk melakukan kontak mata ketika berinteraksi, begitu juga halnya dengan sentuhan. Ketika berinteraksi, orang Arab merasa sangat nyaman bila jarak antara mereka dengan lawan bicaranya sekitar dua kaki, atau sekitar setengah meter.
Etnis Sunda memiliki budaya berkomunikasi yang berbeda dengan etnis Arab. Etnis Sunda mengenal strata dalam berbicara (undak usuk) yang digunakan
dalam waktu dan kondisi yang berbeda. Bahasa halus digunakan ketika berbicara dengan orang tua atau orang yang lebih tua sebagai ciri kepatuhan dan kesopanan. Bahasa loma merupakan bahasa pergaulan yang digunakan ketika berinteraksi dengan teman sebaya, tingkatannya di bawah bahasa halus. Bahasa kasar bisa digunakan dalam dua situasi. Yang pertama digunakan sebagai bahasa sehari-hari antara teman sebaya dan yang kedua digunakan untuk mencela atau mengejek orang lain. Orang Sunda juga dikenal tenang dalam berbicara. Tidak seperti orang Arab yang berbicara keras dan cepat, orang Sunda berbicara dengan nada yang lembut (leuleus liat) dan tidak cepat.
4.5 Karakteristik Warga Etnis Arab dan Etnis Sunda
Wilayah Empang yang menjadi fokus penelitian adalah wilayah RW 02. Wilayah ini merupakan wilayah paling padat yang ditempati oleh etnis Arab dan etnis Sunda. Lingkungan yang padat dimana satu rumah dengan rumah lainnya berdekatan memungkinkan banyaknya proses interaksi yang terjadi antara orang Arab dan orang Sunda. Wilayah RW 02 dibagi dalam lima rukun tetangga (RT) dimana terdapat 142 orang kepala keluarga (KK) baik laki-laki maupun perempuan. Tabel 3 menunjukkan jumlah kepala keluarga (KK) di setiap RT berdasarkan pembagian etnis.
Tabel 3. Persentase Kepala Keluarga (KK) di Setiap RT menurut Kategori Etnis Wilayah
Persentase
Total
Etnis Arab Etnis Sunda
RT 01 56,3 43,7 100,0
RT 02 57,1 42,9 100,0
RT 03 74,1 25,9 100,0
RT 04 73,7 26,3 100,0
RT 05 62,5 37,5 100,0
Wilayah RW 02 ditempati oleh mayoritas etnis Arab (Tabel 3). Pada setiap rukun tetangga (RT) jumlah kepala keluarga (KK) yang beretnis Arab lebih banyak dibanding kepala keluarga (KK) yang beretnis Sunda. Salah satu penyebab banyaknya warga etnis Arab yang berada di RW 02 adalah karena wilayah ini merupakan tempat terdekat dengan Masjid Agung Empang. Wilayah ini menjadi awal perkembangan komunitas Arab di seluruh kelurahan Empang karena berdekatan dengan pusat kegiatan etnis Arab pada masa awal kedatangannya.