• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat . 108

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 127-132)

5. HASIL PENELITIAN

5.8 Rasio Efektivitas Biaya Tambahan dalam Pengendalian Tingkat Cacat 102

6.3.8 Hubungan Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat . 108

Perawatan diri merupakan salah satu faktor pada penelitian ini yang dinyatakan memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan pengendalian tingkat cacat. OR yang diperoleh dari uji chi-square adalah 39,385, yang artinya penderita yang tidak melakukan perawatan diri memiliki peluang 39 kali untuk tidak dapat dikendalikan tingkat cacatnya. Hasil dari penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Susanto (2006) dan Kurnianto (2002).

ILEP (2006) menyatakan bahwa orang yang menderita kusta dapat melindungi dirinya dari kerusakan lebih lanjut apabila memiliki kebiasaan rawat diri yang baik. Kebutuhan yang ditekankan pada perawatan diri adalah kesadaran, periksa pandang, dan proteksi.

6.4 Faktor yang Paling Berpengaruh terhadap Pengendalian Tingkat Cacat

Berdasarkan hasil analisis bivariat diperoleh 2 variabel yang berhubungan secara bermakna dengan pengendalian tingkat cacat, yaitu variabel pencegahan cacat dan perawatan diri. Namun setelah diuji multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda, hasilnya menyatakan bahwa hanya perawatan diri yang memiliki pengaruh terhadap pengendalian tingkat cacat tanpa adanya variabel interaksi maupun variabel perancu (confounding) dengan OR =39,385.

Variabel metode pengamatan berhubungan dengan pengendalian tingkat cacat namun tidak mempengaruhi pengendalian tingkat cacat secara langsung. Hasil analisis bivariat metode pengamatan dengan perawatan diri diperoleh adanya hubungan yang signifikan (sub bab 5.3.3). Perbedaan metode pengamatan mendorong perbedaan terjadinya perawatan diri yang merupakan faktor tunggal yang mempengaruhi pengendalian tingkat cacat. Pada metode pengamatan semi aktif, petugas tidak hanya memberikan informasi mengenai pentingnya perawatan diri saat penderita datang ke

puskesmas tetapi juga memberikan contoh cara melakukan perawatan diri (Gambar 5.1). Petugas juga melakukan kunjungan ke rumah untuk melihat kondisi penderita apabila penderita tidak datang ke puskesmas pada waktu yang telah dijanjikan. Hal tersebut menyebabkan penderita pada pengamatan semi aktif lebih banyak yang melakukan perawatan diri.

Variabel pencegahan cacat juga dinyatakan berhubungan dengan pengendalian tingkat cacat namun tidak berpengaruh saat dianalisis bersama-sama dengan variabel perawatan diri. Hal ini kemungkinan karena adanya hubungan antara perawatan diri dengan pencegahan cacat. Hasil analisis bivariat menggunakan chi-square terhadap hubungan perawatan diri dengan pencegahan cacat diperoleh p value=0,000 dengan OR = 36,522. Pada penderita yang tidak melakukan perawatan diri memiliki peluang 36 kali untuk tidak mendapat pencegahan cacat.

Adanya kesempatan untuk mendapat pencegahan cacat dari petugas sangat tergantung dari ada atau tidaknya pertemuan antara penderita dengan petugas. Responden yang melakukan perawatan diri biasanya menemui petugas kusta saat mereka tidak mampu mengatasi komplikasi penyakit di rumah dan meminta informasi dari petugas. Pada saat itulah petugas akan memberikan pencegahan cacat sesuai dengan kebutuhan penderita.

Menurut ILEP (2006), orang yang harus mengembangkan kebiasaan rawat diri kusta adalah orang yang menderita kerusakan saraf dan orang yang berisiko mengalami reaksi (selama pengobatan dan selama sekurangnya 2 tahun setelah pengobatan). Penderita kusta akan selalu memiliki risiko kerusakan jaringan dan perubahan bentuk. Apabila memiliki kebiasaan rawat diri yang baik, orang yang menderita kusta dapat melindungi dirinya dari kerusakan lebih lanjut.

Berdasarkan hasil penelitian, perawatan diri pada penderita yang telah menyelesaikan pengobatan merupakan faktor yang paling penting untuk ditingkatkan dan menjadi suatu kebutuhan bagi penderita agar dapat mengendalikan tingkat cacat selama hidupnya. Guna mewujudkan hal tersebut, penderita tidak mungkin dapat menggantungkan pencegahan cacat selama hidupnya kepada petugas kusta atau tenaga medis lainnya. Perlu

dilakukan suatu inovasi yang efektif biaya untuk mendorong perilaku perawatan diri pada penderita yang telah selesai pengobatan agar dapat mengendalikan tingkat cacat secara mandiri.

Selain meningkatkan perawatan diri melalui metode pengamatan semi aktif dan melalui Kelompok Perawatan Diri (KPD), perawatan diri di rumah (home care) merupakan salah satu cara yang relatif murah. Namun untuk meningkat efektivitasnya cara ini perlu dimodifikasi karena seringkali penderita kurang termotivasi untuk melakukan perawatan diri di rumah. Modifikasi perawatan diri dapat dilakukan dengan pemberdayaan dalam bentuk Upaya Perawatan Berbasis Masyarakat (UPBM). Upaya Perawatan Berbasis Masyarakat (UPBM) menekankan pada pemberian informasi, pemberian kapasitas terhadap individu, dan kemandirian individu. Adapun Upaya Perawatan Berbasis Masyarakat meliputi :

a. Informasi Risiko Kecacatan

Memberikan informasi kepada penderita yang akan selesai pengobatan (RFT) mengenai faktor-faktor yang dapat menimbulkan kecacatan, tanda-tanda dini reaksi/neuritis atau luka yang dapat menyebabkan kecacatan, dan bentuk kecatatan yang dapat dialami. Selain memberikan informasi secara lisan, hendaknya terdapat poster yang dilengkapi dengan gambar dan keterangan singkat yang mudah diingat oleh penderita. Dengan demikian, penderita lebih waspada terhadap ancaman kecacatan.

b. Informasi Cara Perawatan Diri dan Pemberian Paket Perlengkapan

Memberikan informasi kepada penderita yang akan selesai pengobatan (RFT) mengenai cara-cara perawatan diri yang sesuai dengan kecacatan yang diderita atau sesuai dengan risiko kecacatan pada anggota tubuhnya. Informasi diperkuat dengan memberikan contoh secara langsung, memberikan paket lengkap alat dan perlengkapan perawatan diri untuk di rumah, dan lembar balik tentang cara perawatan diri dan perlindungan diri. Dengan demikian, penderita dapat melakukan perawatan diri secara mandiri di rumah.

c. Pembentukan Pengawas Cegah Cacat (PCC)

Membentuk Pengawas Cegah Cacat (PCC) dari pihak keluarga atau orang terdekat dengan penderita yang bertugas membantu penderita untuk mengenali faktor-faktor yang dapat menimbulkan kecacatan, tanda-tanda dini reaksi/neuritis atau luka yang dapat menyebabkan kecacatan, dan bentuk kecatatan yang dapat dialami penderita serta cara-cara perawatan diri yang dapat dilakukan oleh penderita untuk mencegah hilangnya fungsi anggota tubuh atau mengembalikan sebanyak mungkin fungsi anggota tubuh. Sebaiknya Pengawas Cegah Cacat (PCC) ikut ke pelayanan kesehatan saat penderita akan dinyatakan selesai pengobatan (RFT) dan mendapatkan informasi langsung dari petugas kusta puskesmas. Pengawas Cegah Cacat (PCC) tidak hanya berfungsi mengingatkan namun juga memberikan motivasi bagi penderita.

d. Informasi Kontak Pertolongan Pencegahan Cacat

Memberikan informasi kepada penderita yang akan selesai pengobatan (RFT) mengenai siapa yang harus dihubungi dan kemana mereka harus datang apabila terdapat masalah terkait kecacatan yang tidak dapat mereka tangani sendiri. Perlu adanya klinik-klinik khusus untuk perawatan luka ataupun kecacatan yang menjadi bidang dari bagian keperawatan. Klinik tidak hanya dapat menangani perawatan pada penderita kusta namun juga dapat diintegrasikan untuk penanganan kasus kecelakaan umum, kecelakaan akibat kerja, perawatan luka pada penderita diabetes, dan kasus lain yang memerlukan perawatan secara intensif. Klinik sejenis ini telah ada di wilayah pulau bali.

e. Pemantauan Terintegrasi

Petugas dapat juga memantau kondisi penderita yang telah selesai pengobatan secara umum pada saat melakukan survei kontak untuk mencari kasus baru. Integrasi kegiatan pemantauan dengan kegiatan pencarian kasus baru dapat meminimalkan biaya pemantauan terhadap penderita yang telah selesai pengobatan yang dapat digunakan untuk kepentingan program.

6.5 Biaya

Berdasarkan gambaran biaya yang dikeluarkan oleh kedua metode pada tabel 5.16 pada Bab 5, biaya yang dikeluarkan oleh metode pengamatan semi aktif relatif lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan oleh metode pengamatan pasif. Komponen biaya yang paling besar adalah biaya pemakaian obat (Rp 87.372.305,00) pada pengamatan semi aktif. Besarnya biaya diakibatkan karena penderita pada pengamatan semi aktif lebih aktif datang ke puskesmas untuk memeriksakan diri dan mendapatkan obat. Apabila obat yang harus diminum telah habis, penderita akan kembali ke puskesmas untuk memeriksakan diri dan mendapatkan obat jika masih dibutuhkan.

Biaya yang paling besar setelah biaya pemakaian obat adalah biaya monitoring dan evaluasi kegiatan dinas kesehatan provinsi pada pengamatan semi aktif (Rp 83.223.750,00). Hal ini disebabkan karena pengamatan semi aktif masih merupakan suatu uji coba sehingga kegiatannya masih dipantau oleh dinas kesehatan provinsi.

Besarnya biaya pada kedua komponen tersebut mempengaruhi besarnya biaya yang dibutuhkan dalam pengendalian kecacatan pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan. Perlu dilakukan analisis sensitivitas untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya apabila kedua biaya tersebut dapat ditekan atau dihilangkan. Biaya obat pada pengamatan semi aktif dapat diturunkan dengan memberikan jumlah obat dan jenis obat sesuai kebutuhan penderita. Sedangkan biaya monitoring dan evaluasi kegiatan dinas kesehatan provinsi pada pengamatan semi aktif dapat dihilangkan apabila metode pengamatan semi aktif bukan merupakan suatu uji coba sehingga hanya dinas kesehatan kabupaten yang bertanggung jawab atas monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan metode ini. Namun, walaupun pada penelitian ini tidak dilakukan analisis sensitivitas dan jumlah biaya seperti yang dipaparkan pada tabel 5.16, metode pengamatan semi aktif masih dinyatakan memiliki efektivitas biaya tinggi yang dibahas lebih lanjut pada sub bab 5.7.

6.6 Efektivitas Biaya dalam Pengendalian Tingkat Cacat

Tingginya efektivitas biaya pada metode pengamatan semi aktif terhadap pengamatan pasif menunjukkan bahwa efektivitas pada metode pengamatan semi aktif sepadan dengan biaya yang dikeluarkan peda metode tersebut dibandingkan dengan pengamatan pasif. Pengamatan semi aktif meningkatkan pengetahuan, mendorong timbulnya perilaku perawatan diri, dan meningkatkan pencegahan cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan. Penderita lebih aktif datang ke puskesmas dan aktif melakukan perawatan diri.

Keaktifan penderita pada pengamatan semi aktif menyebabkan tingginya biaya operasional (Rp 117.897.262,86) hingga mencapai 58 kali lipat dibandingkan biaya operasional pada pengamatan pasif. Selain itu, keaktifan penderita datang ke puskesmas menyebabkan biaya transpor yang dikeluarkan penderita pada pengamatan semi aktif secara kumulatif (Rp 1.635.000,00) tiga kali lebih besar dibandingkan biaya transpor penderita pada pengamatan pasif (Rp 500.000,00). Keaktifan penderita dalam merawat tubuhnya menyebabkan biaya untuk membeli alat dan bahan perawatan dan perlindungan diri (Rp 945.000,00) hampir tiga kali lebih besar dibandingkan biaya transpor penderita pada pengamatan pasif (Rp 367.000,00). Namun besarnya biaya tersebut tidak menyebabkan metode pengamatan semi aktif

menjadi tidak efektif biaya. Rasio efektivitas biaya yang dihasilkan (Rp 16.527.926) kurang dari 1 kali GDP per capita (US$ 3,495)sehingga

metode pengamatan semi aktif lebih efektif biaya dibandingkan metode pengamatan pasif untuk mengendalikan tingkat cacat pada seorang penderita yang telah selesai pengobatan di kabupaten Pasuruan.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 127-132)

Dokumen terkait