• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNIVERSITAS INDONESIA"

Copied!
207
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA

INTERVENSI TERHADAP PENDERITA KUSTA

SETELAH SELESAI PENGOBATAN MELALUI

PENGAMATAN SEMI AKTIF DAN PENGAMATAN PASIF

(STUDI KASUS DI KABUPATEN PASURUAN TAHUN 2012)

TESIS

MEDITA ERVIANTI 0906503130

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DEPOK

(2)

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA

INTERVENSI TERHADAP PENDERITA KUSTA

SETELAH SELESAI PENGOBATAN MELALUI

PENGAMATAN SEMI AKTIF DAN PENGAMATAN PASIF

(STUDI KASUS DI KABUPATEN PASURUAN TAHUN 2012)

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Kesehatan Masyarakat

MEDITA ERVIANTI 0906503130

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT KEKHUSUSAN FARMAKOEKONOMI

DEPOK JANUARI 2013

(3)
(4)
(5)
(6)

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan lindungannya, sehingga tesis yang berjudul Analisis Efektivitas Biaya Intervensi terhadap Penderita Kusta Setelah Selesai Pengobatan melalui Pengamatan Semi Aktif dan Pengamatan Pasif dapat diselesaikan. Tesis ini merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Magister Kesehatan Masyarakat dari Program Pasca Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Pada penulisan tesis ini, banyak pihak yang berperan dari awal hingga akhir. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang memberikan bantuan dalam penyelesaian tesis ini khususnya kepada :

1. Dr. H. Adang Bachtiar, MPH, DSc dan Kurniasari, SKM, MSE selaku pembimbing akademik yang telah banyak memberikan ilmu, waktu, dan motivasi untuk penulisan tesis ini.

2. Kepala Dinas Kabupaten Pasuruan yang telah mengijinkan pelaksanaan penelitian ini

3. Pengelola Program Kusta dan Petugas Kusta Puskesmas di Kabupaten Pasuruan serta Pengelola Program Kusta di Provinsi Jawa Timur yang banyak membantu penulis selama penyusunan tesis.

4. Ayahanda Syaiful Bakhri, Ibunda alm. Niniek Kusmanawaty, Ayah Mertua Sjachrul A. Bustami, Ibu Mertua Nina Samsiah, dan suami tercinta Rizal Ramadhani yang selalu mendoakan dan memberikan dorongan selama masa studi.

5. Dr. Christina Widaningrum, M.Kes selaku Kasubdit Pengendalian Penyakit Kusta dan Frambusia, Ditjen PP dan PL, Kementerian Kesehatan RI yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk menyelesaikan tesis.

6. Ketua dan Tim Penguji Tesis yang banyak memberikan masukan untuk perbaikan tesis ini.

7. Seluruh teman kuliah angkatan 2009, rekan-rekan di Subdit Pengendalian Penyakit Kusta dan Frambusia, rekan-rekan di NLR, serta teman-teman yang terlibat dalam seminar yang telah memberikan banyak masukan dalam penyusunan tesis ini.

(7)

diharapkan.

Depok, 3 Januari 2013

Penulis

(8)
(9)

Medita Ervianti

Ilmu Kesehatan Masyarakat

Analisis Efektivitas Biaya Intervensi terhadap Penderita Kusta Setelah Selesai Pengobatan melalui Pengamatan Semi Aktif dan Pengamatan Pasif

Kecacatan merupakan salah satu indikator beban penyakit kusta. Risiko kecacatan akibat kusta tidak hanya terjadi pada kasus baru kusta, tetapi juga selama pengobatan dan setelah selesai pengobatan. Metode pengamatan berperan untuk mengendalikan tingkat cacat pada penderita yang telah selesai pengobatan. Metode pengamatan pasif diterapkan di Indonesia sejak tahun 1982. Pada tahun 2009, metode pengamatan semi aktif diterapkan di Kabupaten Pasuruan. Belum diketahui metode pengamatan yang lebih efektif biaya.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya antara metode pengamatan pasif dan metode pengamatan semi aktif setelah selesai pengobatan kusta dalam pengendalian tingkat cacat. Efektivitas dan biaya pada masing-masing metode dihitung dan dilihat berapa rasio efektivitas biaya dalam pengendalian tingkat cacat. Hubungan faktor-faktor seperti umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri dengan pengendalian tingkat cacat serta faktor apa yang paling dominan juga diteliti. Desain penelitian adalah cross sectional.

Hasil penelitian menunjukkan metode pengamatan semi aktif lebih efektif biaya dibandingkan dengan metode pengamatan pasif. Berdasarkan hasil analisis bivariat, terdapat hubungan antara pencegahan cacat dan perawatan diri dengan pengendalian tingkat cacat. Sedangkan hasil multivariat menyatakan perawatan diri sebagai faktor yang mempengaruhi.

Kata Kunci : Analisis Efektivitas Biaya, Pengamatan Semi Aktif, Setelah Pengobatan Kusta, Kecacatan

(10)

Medita Ervianti Public Health Science

Cost-Effectiveness Analysis of Intervention for Leprosy Patients after Release from Treatment Through Semi Active Surveillance and Passive Surveillance

Disability is one of indicator of the leprosy burden. The risk of disability due to leprosy, not only in new cases of leprosy, but also during treatment and after release from treatment. Surveillance is one of method to control level of disability in patients who had completed treatment. Passive surveillance implemented in Indonesia since 1982. In 2009, the semi-active surveillance applied in Pasuruan. Not yet known which surveillance is more cost-effective.

This study aims to analyze the cost-effectiveness of the passive and semi-active surveillance after release from leprosy treatment in controlling the level of disability. The effectiveness and cost of each method was calculated and seen the cost-effectiveness ratio to the control of the level of disability. Relationship of factors such as age, education level, knowledge level, economic level, type of leprosy, history of reactions, defect prevention, self-care by controlling the level of disability and what is the most dominant factor is also studied. The study design was cross-sectional.

The results showed semi active surveillance more cost-effective than passive surveillance. Based on the results of the bivariate analysis, there is a relationship between defect prevention and self-care by controlling the level of disability. While the results of the multivariate declared self-care as a affected factor.

Keywords: Cost-Effectiveness Analysis, Semi Active Surveillance, Released from Treatment of Leprosy, Disability

(11)

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

DAFTAR SINGKATAN ... xvii

1. PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 6 1.3 Pertanyaan Penelitian ... 7 1.4 Tujuan Penelitian ... 7 1.4.1 Tujuan Umum ... 7 1.4.2 Tujuan Khusus ... 7 1.5 Manfaat Penelitian ... 8

1.6 Ruang Lingkup Penelitian ... 9

2. TINJAUAN PUSTAKA ... 10

2.1 Pengertian dan Diagnosis Penyakit Kusta ... 10

2.2 Klasifikasi Kusta ... 11

2.3 Pengobatan Kusta ... 12

2.4 Selesai Pengobatan atau RFT ... 14

2.5 Relaps atau Kambuh ... 14

2.6 Kecacatan Akibat Kusta ... 15

2.6.1 Penyebab Kecacatan ... 15

2.6.2 Penilaian Kecacatan ... 17

2.7 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kecacatan ... 18

2.7.1 Karakteristik Responden ... 20 2.7.1.1 Umur ... 20 2.7.1.2 Tingkat Pendidikan ... 20 2.7.1.3 Pengetahuan ... 21 2.7.1.4 Tingkat Ekonomi ... 22 2.7.2 Tipe Kusta... 22 2.7.3 Riwayat Reaksi ... 23 2.7.3.1 Pengertian Reaksi ... 23

(12)

2.7.4.1 Pemeriksaan Fungsi Saraf secara Rutin ... 28

2.7.4.2 Penangan Reaksi dan Neuritis ... 28

2.7.4.3 Hubungan Upaya Pencegahan Cacat dengan Kecacatan . 31 2.7.5 Perawatan Diri ... 31

2.7.5.1 Perawatan Diri pada Mata ... 33

2.7.5.2 Perawatan Diri pada Kulit ... 34

2.7.5.3 Perawatan Diri pada Tangan dan Kaki ... 36

2.7.5.4 Hubungan Perawatan Diri dengan Kecacatan ... 40

2.8 Program Pengawasan Penderita Kusta Setelah Selesai Pengobatan ... 40

2.8.1 Metode Pengamatan Aktif ... 41

2.8.2 Metode Pengawasan Pasif ... 42

2.8.3 Metode Pengamatan Semi Aktif ... 44

2.8.4 Perbedaan Metode ... 47

2.9 Evaluasi Ekonomi ... 49

2.9.1 Pengertian Evaluasi Ekonomi ... 49

2.9.2 Metode Evaluasi Ekonomi... 49

2.10Biaya (Cost) ... 51

2.10.1Klasifikasi Biaya... 52

2.10.1.1 Pengaruh pada Skala Produksi ... 52

2.10.1.2 Lama Penggunaan ... 52

2.10.1.3 Fungsi atau Aktivitas Sumber Biaya ... 53

2.10.1.4 Konsep Akibat Ekstern ... 53

2.10.2Penghitungan Biaya ... 53

2.11Efektivitas (Outcome) ... 54

2.12Analisis Efektivitas Biaya (Cost Effectiveness Analysis) ... 54

3. KERANGKA KONSEP ... 56 3.1 Kerangka Teori ... 56 3.2 Kerangka Konsep ... 57 3.3 Hipotesis ... 58 4. DESAIN PENELITIAN ... 59 4.1 Desain Penelitian ... 59

4.2 Waktu dan Lokasi Penelitian ... 59

4.3 Populasi dan Sampel ... 59

4.4 Definisi Operasional ... 61

4.5 Teknik Pengumpulan Data ... 78

4.6 Manajemen Data ... 78

4.7 Analisis Data ... 79

4.7.1 Pencatatan dan Pemilahan ... 79

(13)

5. HASIL PENELITIAN ... 84

5.1 Gambaran Umum ... 84

5.1.1 Metode Pengamatan Semi Aktif ... 85

5.1.2 Metode Pengamatan Pasif ... 88

5.2 Hubungan Metode Pengamatan dengan Pengendalian Tingkat Cacat ... 90

5.3 Hubungan Metode Pengamatan dengan Tingkat Pengetahuan, Pencegahan Cacat dan Perawatan Diri ... 91

5.3.1 Hubungan Metode Pengamatan dengan Tingkat Pengetahuan ... 91

5.3.2 Hubungan Metode Pengamatan dengan Pencegahan Cacat ... 92

5.3.3 Hubungan Metode Pengamatan dengan Perawatan Diri ... 93

5.4 Hubungan Umur, Tingkat Pendidikan, Tingkat Pengetahuan, Tingkat Sosial Ekonomi, Tipe Kusta, Riwayat Reaksi, Pencegahan Cacat, dan Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat ... 93

5.4.1 Hubungan Umur dengan Pengendalian Tingkat Cacat... 93

5.4.2 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Pengendalian Tingkat Cacat ... 94

5.4.3 Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Pengendalian Tingkat Cacat ... 95

5.4.4 Hubungan Tingkat Ekonomi dengan Pengendalian Tingkat Cacat ... 95

5.4.5 Hubungan Tipe Kusta dengan Pengendalian Tingkat Cacat ... 96

5.4.6 Hubungan Riwayat Reaksi dengan Pengendalian Tingkat Cacat . 97 5.4.7 Hubungan Pencegahan Cacat dengan Pengendalian Tingkat Cacat ... 98

5.4.8 Hubungan Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat .. 99

5.5 Faktor yang Paling Berpengaruh terhadap Pengendalian Tingkat Cacat 99 5.6 Biaya ... 102

5.7 Efektivitas Biaya dalam Pengendalian Tingkat Cacat ... 103

5.8 Rasio Efektivitas Biaya Tambahan dalam Pengendalian Tingkat Cacat 102 6. PEMBAHASAN ... 104

6.1 Hubungan Metode Pengamatan dengan Pengendalian Tingkat Cacat ... 104

6.2 Hubungan Metode Pengamatan dengan Tingkat Pengetahuan, Pencegahan Cacat, dan Perawatan Diri ... 104

6.3 Hubungan Umur, Tingkat Pendidikan, Tingkat Pengetahuan, Tingkat Sosial Ekonomi, Tipe Kusta, Riwayat Reaksi, Pencegahan Cacat, dan Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat ... 105

6.3.1 Hubungan Umur dengan Pengendalian Tingkat Cacat... 105 6.3.2 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Pengendalian Tingkat Cacat

(14)

6.3.4 Hubungan Tingkat Ekonomi dengan Pengendalian Tingkat Cacat 106

6.3.5 Hubungan Tipe Kusta dengan Pengendalian Tingkat Cacat ... 106

6.3.6 Hubungan Riwayat Reaksi dengan Pengendalian Tingkat Cacat 107 6.3.7 Hubungan Pencegahan Cacat dengan Pengendalian Tingkat Cacat ... 107

6.3.8 Hubungan Perawatan Diri dengan Pengendalian Tingkat Cacat . 108 6.4 Faktor yang Paling Berpengaruh terhadap Pengendalian Tingkat Cacat 108 6.5 Biaya ... 112

6.6 Efektivitas Biaya dalam Pengendalian Tingkat Cacat ... 113

6.7 Keterbatasan Penelitian ... 113

7. KESIMPULAN DAN SARAN ... 115

7.1 Kesimpulan ... 115

7.2 Saran ... 115

7.2.1 Program ... 115

7.2.2 Penelitian Selanjutnya ... 116

(15)

Tabel 1 Prevalensi dan jumlah kasus baru kusta di 130 negara pada wilayah

WHO tahun 2010 ... 1

Tabel 2.1 Fungsi Saraf Tepi ... 11

Tabel 2.2 Klasifikasi Kusta berdasarkan Program Pengobatan ... 12

Tabel 2.3 Dosis Obat Penderita PB ... 13

Tabel 2.4 Dosis Obat Penderita MB ... 13

Tabel 2.5 Tingkat Cacat Menurut WHO yang Disesuaikan untuk Indonesia . 17 Tabel 2.6 Hasil Pemeriksaan Keadaan Cacat pada Kartu Penderita Kusta ... 18

Tabel 2.7 Hasil Penelitian Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kecacatan ... 19

Tabel 2.8 Perbedaan Reaksi Ringan dan Berat pada Reaksi Tipe 1 ... 24

Tabel 2.9 Perbedaan Reaksi Ringan dan Berat pada Reaksi Tipe 2 ... 25

Tabel 2.10 Kerusakan Fungsi Saraf Tepi ... 28

Tabel 2.11 Pengobatan Reaksi Berat ... 29

Tabel 2.12 Jenis Kecacatan dan Perawatan Diri pada Mata ... 33

Tabel 2.13 Jenis Kecacatan dan Perawatan Diri pada Kulit ... 35

Tabel 2.14 Jenis Kecacatan dan Perawatan Diri pada Tangan dan Kaki ... 37

Tabel 2.15 Perbedaan Metode Pengamatan Setelah Selesai Pengobatan ... 48

Tabel 2.16 Tabel Pengukuran Biaya dan Konsekuensi pada Evaluasi Ekonomi 51 Tabel 4 Definisi Operasional ... 61

Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Puskesmas di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 85

Tabel 5.2 Hubungan Metode Pengamatan dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 90

Tabel 5.3 Hubungan antara Metode Pengamatan dengan Tingkat Pengetahuan di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 91

Tabel 5.4 Hubungan antara Metode Pengamatan dengan Pencegahan Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 92

Tabel 5.5 Hubungan antara Metode Pengamatan dengan Perawatan Diri di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 93

Tabel 5.6 Hubungan antara Umur dengan Pengemdalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 94

Tabel 5.7 Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 94

Tabel 5.8 Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 95

Tabel 5.9 Hubungan antara Tingkat Ekonomi dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 96

Tabel 5.10 Hubungan antara Tipe Kusta dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 96

Tabel 5.11 Hubungan antara Riwayat Reaksi dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 97

Tabel 5.12 Hubungan antara Pencegahan Cacat dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 98

(16)

dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 100 Tabel 5.15 Model Akhir Uji Multivariat terhadap Faktor yang Berhubungan dengan Pengendalian Tingkat Cacat di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 100 Tabel 5.16 Gambaran Biaya Program dan Penderita pada Metode Pengamatan Semi Aktif dan Metode Pengamatan Pasif di Kabupaten Pasuruan Tahun 2012 ... 102

(17)

Gambar 2.1 Skema Proses Terjadinya Kecacatan Kusta ... 16 Gambar 2.2 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang Datang ke Puskesmas pada Metode Pengamatan Pasif ... 43 Gambar 2.3 Alur Pertemuan Penderita dengan Petugas pada Metode Pengamatan Semi Aktif ... 45 Gambar 2.4 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang Datang ke Puskesmas pada Metode Pengamatan Semi Aktif ... 47 Gambar 3.2 Kerangka Konsep ... 57 Gambar 5.1 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang Datang ke Puskesmas pada Metode Pengamatan Semi Aktif ... 87 Gambar 5.2 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang

Dikunjungi oleh Puskesmas pada Metode Pengamatan Semi Aktif ... 88 Gambar 5.3 Alur Kegiatan Penderita Setelah Selesai Pengobatan Kusta yang Datang ke Puskesmas pada Metode Pengamatan Pasif ... 89

(18)

Lampiran 1 Kartu Penderita Kusta ... 122

Lampiran 2 Form POD ... 126

Lampiran 3 Form Evaluasi Pengobatan Reaksi Berat ... 127

Lampiran 4 Kuesioner Puskesmas ... 129

Lampiran 5 Kuesioner Petugas Puskesmas ... 132

Lampiran 6 Kuesioner Penderita ... 137

Lampiran 7 Hasil Analisis Bivariat ... 145

(19)

ALERT : All Africa Leprosy, Tuberculosis and Rehabilitation Training Centre BTA : Bakteri Tahan Asam

CEA : Cost-Effectiveness Analysis CER : Cost-Effectiveness Ratio DDS : Diamino Diphenyl Sulphone ENL : Erythema Nodosum Leprosum GDP : Gross Domestic Product

ICER : IncrementalCost-Effectiveness Ratio

ILEP : International Federation of Anti-Leprosy Associations KPD : Kelompok Perawatan Diri

MB : Multi Basiler

MDT : Multi Drugs Therapy NCD : New Case Detection OR : Odds Ratio

PB : Pausi Basiler

PCC :Pengawas Cegah Cacat POD : Prevention of Disability RCT : Randomized Clinical Trial RFC : Release From Control RFT : Release From Treatment ST : Sensory Test

UPBM : Upaya Perawatan Berbasis Masyarakat VMT : Voluntary Muscle Testing

(20)

1.1 Latar Belakang

Penyakit kusta merupakan penyakit kronis dan menular yang telah dikenal sejak tahun 2000 sebelum Masehi (Depkes RI, 2007). Namun hingga tahun 2010, masih terdapat 130 negara di wilayah Afrika, Amerika, Asia Tenggara, Mediterania Timur, dan Pasifik Barat yang memiliki beban penyakit kusta tinggi. Data WHO (2011) menunjukkan bahwa Asia Tenggara memiliki penderita kusta terdaftar (prevalensi) dan jumlah kasus baru (NCD) terbanyak dibandingkan dengan empat wilayah lainnya, seperti yang tercantum pada tabel berikut ini :

Tabel Prevalensi dan jumlah kasus baru kusta di 130 negara pada wilayah WHO tahun 2010

Wilayah WHO

Kasus Terdaftar (prevalensi /10.000 penduduk)

Jumlah kasus baru (angka penemuan kasus baru /100.000 penduduk) Afrika Amerika Asia Tenggara Mediterania Timur Pasifik Barat 27.111 (0,38) 33.953 (0,38) 113.750 (0,64) 9.046 (0,17) 8.386 (0,05) 25.345 (3,53) 37.740 (4.25) 156.254 (8,77) 4.080 (0,67) 5.055 (0,28) Sumber : WHO, 2011

Selain besarnya jumlah kasus baru dan prevalensi, WHO (2009) juga menyatakan bahwa lebih dari tiga juta orang di seluruh dunia diperkirakan hidup dengan kecacatan akibat kusta. Besarnya jumlah kasus baru, prevalensi, dan jumlah kecacatan tersebut menunjukkan tingginya beban kusta di dunia pada tahun 2010.

Indonesia sebagai salah satu negara di Asia tenggara, memiliki beban penyakit kusta yang cukup tinggi. Pada tujuh tahun terakhir, Indonesia menempati urutan ketiga di dunia dan urutan kedua di wilayah Asia Tenggara (WHO, 2011). Berdasarkan Kemenkes RI (2011), pada tahun 2010 jumlah

(21)

Universitas Indonesia kasus baru kusta di Indonesia mencapai 17.012 kasus dengan kecacatan tingkat 2 di antara penderita baru sebesar 10,71% (1822 kasus).

Kecacatan sebagai salah satu indikator beban penyakit kusta, menimbulkan masalah yang kompleks. Kecacatan yang terjadi pada bagian mata, tangan, atau kaki penderita seringkali tampak menyeramkan sehingga menimbulkan ketakutan yang berlebihan terhadap kusta (leprofobia) dan stigma di masyarakat (Wisnu dan Hadilukito, 2003). Stigma di masyarakat menyebabkan penderita kusta dijauhi dan dikucilkan oleh masyarakat walaupun penderita tersebut telah diobati dan telah dinyatakan selesai pengobatan (Wisnu dan Gudadi, 1997). Kecacatan menjadi penyebab timbulnya stigma yang mengakibatkan terjadinya permasalahan kompleks, tidak hanya terbatas pada masalah medis melainkan masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan, dan ketahanan nasional (Depkes RI, 2007; Universitas Sumatera Utara, 2008).

Risiko kecacatan akibat kusta tidak hanya terjadi pada kasus baru kusta. Kecacatan dapat terjadi sebelum pengobatan, selama pengobatan, bahkan setelah selesai pengobatan dan risiko cacat tersebut menurun bertahap setelah tiga tahun berikutnya (Rodrigues dan Lockwood, 2011; Depkes RI, 2007; Health Ministry of Ethiopia, 1997). Laporan WHO Expert Committee on Leprosy dari beberapa Negara menyatakan bahwa rata-rata setelah selesai pengobatan kusta terdapat 75% penderita dengan kecacatan (Susanto, 2006). Sedangkan hasil penelitian penilaian kecacatan terhadap 43 penderita setelah selesai pengobatan yang dilakukan di kabupaten Subang provinsi Jawa Barat pada tahun 2001, menunjukkan 21 % mengalami kenaikan tingkat kecacatan (Hasibuan, 2002).

Risiko kecacatan pada penderita kusta setelah selesai pengobatan di seluruh provinsi di Indonesia selama ini dipantau dengan menggunakan metode pengamatan pasif (passive surveillance). Metode ini dilakukan selama 2 tahun setelah selesai pengobatan untuk tipe PB (pauci-baciler) dan 5 tahun setelah selesai pengobatan untuk tipe MB (multi-baciler) tanpa pemeriksaan laboratorium (Depkes RI, 2007). Metode ini disebut dengan pengamatan pasif

(22)

karena petugas tidak akan melakukan tindakan apabila penderita tidak datang. Metode pengamatan pasif yang direkomendasikan oleh WHO ini, lebih mengacu pada keaktifan penderita setelah selesai pengobatan untuk datang ke puskesmas dan berkonsultasi dengan petugas puskesmas tiap tahun atau kapan saja jika terdapat tanda-tanda relaps atau terdapat masalah-masalah lain seperti terjadinya reaksi atau bertambah buruknya akibat kusta yang mereka derita (Jacobson, 1994; Gebre dan Saunderson, 2001).

Setelah diterapkan, diketahui kerugian pada metode pengamatan pasif adalah kesempatan untuk mendeteksi reaksi atau neuritis (terutama silent neuritis) secara dini berkurang. ALERT melakukan penelitian di Ethiopia pusat terhadap 116 penderita setelah selesai pengobatan yang dipantau oleh metode pengamatan pasif selama 5 tahun. Hasil menunjukkan bahwa dari 116 penderita yang didorong untuk datang tiap tahun ke pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan fungsi saraf dan penilaian tingkat kecacatan, hanya sedikit yang datang untuk tindak lanjut . Sebanyak 56,9% penderita tidak pernah datang sama sekali dalam 5 tahun. Berdasarkan penelitian ini juga diperoleh odds ratio (OR) terjadinya kondisi yang memburuk pada kecacatan (nilai kecacatan Mata-Tangan-Kaki meningkat) apabila pengamatan aktif tidak dilakukan adalah 1,9 (disesuaikan umur, jenis kelamin, klasifikasi) (Gebre dan Saunderson, 2001).

Berdasarkan berkurangnya kesempatan mendeteksi reaksi secara dini dan memburuknya kondisi kecacatan pada penderita dalam metode pengamatan pasif, maka pada tahun 2009 dilakukan suatu proyek uji coba pengamatan semi aktif (Semi Active Surveillance). Metode yang dilakukan di Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Gorontalo ini disebut dengan pengamatan semi aktif karena petugas puskesmas akan pasif menunggu penderita datang ke puskesmas atau Kelompok Perawatan Diri (KPD) berdasarkan perjanjian minimal 3 bulan sekali untuk memeriksakan diri. Namun, petugas akan mengunjungi penderita secara aktif apabila penderita tidak datang dan tidak dapat dihubungi dalam tempo 4 bulan dari waktu yang dijanjikan. Saat penderita bertemu dengan petugas puskesmas atau KPD, akan

(23)

Universitas Indonesia dilakukan pemeriksaan tanda awal reaksi dan pencegahan cacat (pemeriksaan fungsi saraf), penilaian kondisi kecacatan, pemberian informasi tentang perawatan diri, serta identifikasi kebutuhan medis dan alat pelindung diri yang dibutuhkan oleh penderita (Kemenkes RI, 2010)

Pengamatan semi aktif secara umum, bertujuan untuk mencegah peningkatan tingkat kecacatan (tingkat tetap atau menurun) pada penderita setelah selesai pengobatan dalam pengamatan selama 5 tahun. Sedangkan tujuan khusus dari metode ini adalah penderita tetap memiliki hubungan dengan petugas puskesmas selama penderita masih berisiko, penderita mampu melakukan perawatan diri secara teratur tiap hari, dan penderita mendapatkan bantuan dalam mengatasi masalah medis yang ada (Kemenkes RI, 2010). Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan (2011), perlu dilakukan kegiatan pengamatan semi aktif untuk mengurangi beban kecacatan penderita kusta setelah selesai pengobatan. Kecacatan dapat dikurangi dan penderita kusta dapat dibantu secara lebih efektif dan efisien dengan menerapkan suatu sistem yang memungkinkan penderita kusta setelah selesai pengobatan untuk tetap berhubungan dengan Puskesmas selama penderita tersebut membutuhkan bimbingan untuk mengatasi kecacatan yang dialami.

Kedua metode pencegahan cacat setelah selesai pengobatan tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu lebih spesifik untuk mencegah terjadinya peningkatan tingkat cacat (timbulnya cacat baru dan kondisi cacat yang bertambah parah). Namun dari kedua metode tersebut, belum dapat ditentukan metode yang mana yang lebih efektif-biaya. Hal ini disebabkan karena metode pengamatan semi aktif belum pernah dilakukan sebelumnya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Penelitian yang pernah dilakukan terkait dengan metode pengamatan pasif adalah penelitian yang dilakukan oleh ALERT di daerah Ethiopia pusat, pada penelitian ini metode pengamatan pasif dibandingkan dengan metode pengamatan aktif. Hasil penelitian menunjukkan pada kedua metode terdapat sedikit perbedaan efektivitas (mengurangi tingkat kecacatan) namun biaya yang dibutuhkan pada metode pengamatan aktif lebih mahal dibandingkan metode pengamatan pasif (Gebre dan Saunderson, 2001).

(24)

Berdasarkan paparan tersebut, peneliti berpendapat bahwa diperlukan metode yang tepat untuk dapat mengevaluasi secara menyeluruh terhadap efektivitas dan biaya dari penerapan metode pengamatan pasif dan pengamatan semi aktif. Peneliti akan menggunakan Analisis Efektivitas Biaya (CEA) yaitu suatu analisis yang mencari bentuk intervensi mana yang paling menguntungkan dalam mencapai suatu tujuan, dengan cara membandingkan hasil suatu kegiatan dengan biayanya, dimana ukuran input diukur dalam nilai moneter dan ukuran output-nya diukur dalam jumlah output yang dihasilkannya (Drummond,2001).

Input yang dimaksud dalam penelitian ini adalah besarnya biaya yang terdiri biaya langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan oleh program dalam mengendalikan nilai kecacatan pada penderita, sedangkan output yang dimaksud adalah jumlah penderita yang tingkat cacatnya dapat dikendalikan sehingga tingkat cacat yang dimiliki tetap bahkan menurun. Selanjutnya melalui penelitian yang akan dilakukan, akan diketahui metode mana yang memiliki efektivitas biaya yang lebih tinggi dan menjadi suatu alternatif yang sesuai untuk mengendalikan tingkat cacat pada penderita setelah selesai pengobatan. Selain itu, peneliti juga akan melihat hubungan antara pengendalian tingkat cacat dengan faktor-faktor yang berhubungan dengan kecacatan seperti umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri (Moshioni,et.al, 2010; Universitas Negeri Semarang, 2009; Susanto, 2006; Universitas Diponegoro, 2002).

Penelitian ini bermanfaat bagi semua pihak baik orang yang pernah mengalami kusta dan keluarga, masyarakat umum, peneliti dan bagi program pengendalian penyakit kusta dan penelitian ini tidak merugikan masyarakat. Harapan peneliti adalah penelitian ini dapat menghasilkan data yang akurat yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk merencanakan dan melaksanakan program pengendalian penyakit kusta terkait pencegahan cacat akibat kusta pada penderita setelah selesai pengobatan.

(25)

Universitas Indonesia Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka dibutuhkan suatu penelitian yang dapat menentukan apakah metode pengamatan semi aktif lebih efektif biaya dibandingkan dengan pengamatan pasif dalam mengendalikan tingkat cacat.

1.2 Rumusan Masalah

Kecacatan merupakan salah satu indikator beban penyakit kusta. Kecacatan dapat terjadi Kecacatan dapat terjadi sebelum pengobatan, selama pengobatan, bahkan setelah selesai pengobatan (Rodrigues dan Lockwood, 2011; Depkes RI, 2007; Health Ministry of Ethiopia, 1997). Upaya dalam pengendalian kecacatan pada penderita yang telah selesai pengobatan adalah dengan menerapkan metode pengamatan. Sejak tahun 1982, telah diterapkan metode pengamatan pasif di seluruh wilayah Indonesia. Namun pada penerapan pengamatan pasif ini, terdapat kerugian dalam pengendalian cacat yaitu berkurangnya kesempatan untuk mendeteksi reaksi atau neuritis (terutama silent neuritis) secara dini (Gebre dan Saunderson, 2001). Guna mengatasi kerugian tersebut, pada tahun 2009 dilakukan suatu proyek uji coba pengamatan semi aktif (Semi Active Surveillance) pada Kabupaten Pasuruan dan Gorontalo. Namun hingga saat ini belum diketahui apakah metode pengamatan semi aktif lebih efektif biaya dibandingkan dengan metode pengamatan pasif yang telah diterapkan sebelumnya dalam mengendalikan tingkat cacat.

Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian untuk melihat metode yang lebih efektif biaya dalam pengendalian tingkat cacat pada penderita kusta setelah selesai pengobatan antara pengamatan pasif dan metode pengamatan semi aktif. Penelitian ini akan dilakukan di Kabupaten Pasuruan pada Mei 2012 karena Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu kabupaten yang melaksanakan metode pengamatan semi aktif di 10 puskesmas dan metode pengamatan pasif di 14 puskesmas. Selain itu, Kabupaten Pasuruan terletak di Provinsi Jawa Timur yang merupakan provinsi dengan jumlah kasus kecacatan terbanyak dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Prosentase kecacatan

(26)

tingkat 2 di antara kasus baru yang terdapat di Kabupaten Pasuruan mencapai 8,9% (Kemenkes, 2011).

1.3 Pertanyaan Penelitian

a. Bagaimana gambaran biaya, metode pengamatan, umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri, dan tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan?

b. Bagaimana hubungan metode pengamatan dengan tingkat pengetahuan, perawatan diri, dan pencegahan cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan?

c. Bagaimana hubungan umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri dengan pengendalian tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan?

d. Faktor-faktor apa yang paling dominan mempengaruhi pengendalian tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan?

e. Bagaimana rasio efektivitas biaya metode pengamatan semi aktif terhadap metode pengamatan pasif dalam mengendalikan tingkat cacat pada penderita kusta setelah selesai pengobatan?

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Menganalisis efektivitas biaya metode pengamatan semi aktif terhadap metode pengamatan pasif setelah selesai pengobatan kusta dalam pengendalian tingkat cacat.

1.4.2 Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi biaya, metode pengamatan, umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat

(27)

Universitas Indonesia reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri, dan tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan.

b. Mengetahui hubungan antara metode pengamatan dengan tingkat pengetahuan, perawatan diri, dan pencegahan cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan.

c. Mengetahui hubungan antara umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri dengan pengendalian tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan.

d. Mengetahui faktor-faktor apa yang paling dominan mempengaruhi pengendalian tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan.

e. Mengetahui rasio efektivitas biaya metode pengamatan semi aktif terhadap metode pengamatan pasif dalam mengendalikan tingkat cacat pada penderita kusta setelah selesai pengobatan.

1.5 Manfaat Penelitian

a. Aplikatif

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pembuat kebijakan dalam merumuskan alternatif terbaik dalam perencanaan dan pelaksanaan pengendalian cacat pada program pengendalian penyakit kusta.

b. Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan pengembangan penelitian tentang efektivitas biaya pada metode lain terkait pengendalian cacat pada penyakit kusta.

c. Metodologis

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai metode atau strategi yang tepat untuk mendapatkan metode yang lebih efektif dan efisien dalam pengendalian cacat pada penyakit kusta.

(28)

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini akan menganalisis efektivitas biaya intervensi terhadap penderita kusta setelah selesai pengobatan melalui metode pengamatan pasif dan metode pengamatan semi aktif di kabupaten Pasuruan pada bulan Mei 2012. Penelitian ini dilakukan pada penderita kusta setelah selesai pengobatan di Kabupaten karena Kabupaten Pasuruan menerapkan metode pengamatan pasif (14 puskesmas) dan metode pengamatan semi aktif (10 puskesmas). Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian cross sectional.

(29)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian dan Diagnosis Penyakit Kusta

Penyakit kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang kulit dan saraf tepi (James Chin, 2009). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae dan ditularkan melalui pernapasan atau kulit dengan kontak erat dan lama. Bakteri pada penyakit kusta memiliki masa inkubasi yang cukup panjang yaitu 2 hingga 5 tahun (Depkes RI, 2007).

Diagnosa penyakit kusta dapat dilakukan oleh petugas puskesmas atau tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan tentang penyakit ini. Berdasarkan Pfaltzgraff dan Ramu (1994) dan Depkes RI (2007), diagnosa penyakit kusta ditegakkan dengan ditemukannya salah satu tanda dari 3 tanda utama yang umum disebut cardinal sign yaitu :

a. Lesi berwarna keputihan (hypopigentasi) atau kemerahan (erithematous) yang mati rasa (anaesthesi).

b. Adanya penebalan saraf tepi disertai dengan adanya gangguan fungsi. Gangguan fungsi saraf merupakan akibat dari peradangan kronis pada saraf tepi (neuritis perifer).

c. Ditemukannya bakteri Mycobacterium leprae dari hasil pemeriksaan BTA pada kerokan kulit.

Saraf tepi yang dimaksud dalam cardinal sign berikut dengan fungsinya dapat dilihat pada tabel 2.1.

(30)

Tabel 2.1 Fungsi Saraf Tepi

Saraf

Fungsi

Motorik Sensorik Otonom

Auricularis magnus Mempersarafi area belakang telinga Mempersarafi kelenjar keringat, kelenjar minyak, dan pembuluh darah Facialis Mempersarafi

kelopak mata agar bisa menutup Ulnaris Mempersarafi jari

manis dan jari kelingking

Rasa raba telapak tangan bagian jari kelingking dan separuh jari manis

Medianus Mempersarafi ibu jari, telunjuk, dan jari tengah

Rasa raba telapak tangan bagian ibu jari, telunjuk, jari tengah, separuh jari manis Radialis Kekuatan pergelangan tangan Peroneus communis Kekuatan pergelangan kaki Tibialis posterior Mempersarafi jari-jari kaki

Rasa raba telapak kaki

Sumber : Depkes RI, 2007

2.2 Klasifikasi Kusta

Menurut Amirudin, Hakim, dan Darwis (2003), klasifikasi penyakit kusta dilakukan untuk menentukan rejimen pengobatan, prognosis, komplikasi, dan perencanaan operasional. Perencanaan operasional yang dimaksud, misalnya menentukan pasien yang mempunyai nilai epidemiologis tinggi sebagai target utama pengobatan, identifikasi pasien yang memiliki peluang cacat.

Klasifikasi penyakit kusta yang umum digunakan antara lain klasifikasi Madrid (1953), klasifikasi Ridley-Jopling (1962), dan klasifikasi WHO (1981 dan modifikasi 1988). Klasifikasi Madrid merupakan klasifikasi internasional yang membagi penyakit kusta menjadi 4 tipe yaitu intermediate (I), tuberkuloid (T), borderline – dimorphous (B), Lepromatosa (L). Sedangkan klasifikasi Ridley-Jopling merupakan klasifikasi yang digunakan untuk kepentingan riset yang membagi penyakit kusta menjadi tipe tuberkuloid (TT), borderline tuberkuloid (BT), mid – borderline (BB),

(31)

borderline lepromatous (BL), Lepromatosa (LL). Klasifikasi berikutnya adalah klasifikasi WHO yang digunakan untuk kepentingan program (memudahkan pengobatan di lapangan), yaitu tipe PB (pausibasilar) dan tipe MB (multibasilar) dengan kriteria yang dijabarkan pada tabel 2.2.

Tabel 2.2

Klasifikasi Kusta berdasarkan Program Pengobatan

Tanda Utama PB MB

Bercak Kusta Jumlah 1 – 5 Jumlah > 5

Penebalan Saraf Tepi yang Disertai dengan Gangguan Fungsi (mati rasa/ kelemahan otot yang dipersarafi oleh saraf yang bersangkutan)

Hanya satu saraf Lebih dari satu saraf

Sediaan Apusan BTA Negatif BTA Positif

Sumber : Depkes RI, 2007

2.3 Pengobatan Kusta

Pengobatan pada penderita kusta dapat membunuh bakteri Mycobacterium leprae sehingga dapat memutus mata rantai penularan, menyembuhkan penyakit pada penderita, dan mencegah terjadinya cacat atau mencegah bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan (Depkes RI, 2007). Pengobatan dengan minyak chaulmoogra (hydnocarpus) dikenal sebagai pengobatan pertama kali yang efektif untuk kusta. Kemudian pada tahun 1945, pengobatan tersebut digantikan dengan pengobatan yang menggunakan dapson (DDS). DDS tidak hanya mengobati penyakit kusta pada suatu individu, namun juga mengontrol kusta pada masyarakat di daerah endemik (McDougall, 1997). Berdasarkan Depkes RI (1993), DDS digunakan sebagai pengobatan kusta di Indonesia sejak tahun 1951. Pada tahun 1969, program kusta diintegrasikan di puskesmas.

Sejak tahun 1982, WHO merekomendasikan pengobatan baru untuk penyakit kusta yaitu rejimen MDT (Multi Drugs Therapy). Pengobatan dengan MDT diterapkan oleh program kusta di Indonesia pada tahun yang sama (McDougall, 1997; Depkes RI, 1993). MDT diharapkan dapat mengantisipasi terjadinya resistensi obat saat penderita kusta hanya

(32)

mengkonsumsi DDS dalam pengobatan penyakit kusta (Soebono dan Suhariyanto, 2003).

MDT (Multi Drugs Therapy) merupakan kombinasi dua atau tiga obat yang terdiri dari obat rifampisin, lampren (clofazimin), dan dapson (DDS). Rifampisin bekerja sinergis mematikan bakteri Mycobacterium leprae, sedangkan obat lampren dan DDS bekerja untuk melemahkan dan menghancurkan sisa-sisa bakteri. Rincian mengenai dosis obat ditampilkan pada tabel 2.3 untuk penderita PB dan 2.4 untuk penderita MB.

Tabel 2.3

Dosis Obat Penderita PB

Obat Umur 10-14 tahun Umur ≥15 tahun Keterangan Rifampisin 450 mg/bulan 600 mg/bulan Minum hari ke 1 di

depan petugas

DDS

50 mg/bulan 100 mg/bulan Minum hari ke 1 di depan petugas 50 mg/hari 100 mg/hari Minum hari ke 2 – 28

di rumah

Sumber : Depkes RI, 2007

Tabel 2.4

Dosis Obat Penderita MB

Obat Umur 10-14 tahun Umur ≥15 tahun Keterangan

Rifampisin 450 mg/bulan 600 mg/bulan Minum hari ke 1 di depan petugas

DDS

50 mg/bulan 100 mg/bulan Minum hari ke 1 di depan petugas 50 mg/hari 100 mg/hari Minum hari ke 2 – 28

di rumah

Lampren

150 mg/bulan 300 mg/bulan Minum hari ke 1 di depan petugas 50 mg/ 2 hari 50 mg/hari Minum hari ke 2 – 28

di rumah

Sumber : Depkes RI, 2007

Informasi pada kedua tabel tersebut adalah rincian dosis pada paket obat yang tersedia dalam bentuk blister, yaitu paket obat untuk orang dewasa

(33)

dan anak umur 10 – 14 tahun. Sedangkan untuk anak yang umurnya di bawah 10 tahun, dosis obat disesuaikan dengan berat badan sebagai berikut :

 Rifampisin : 10 – 15 mg/kgBB  DDS : 1 – 2 mg/kg BB  Lampren : 1 mg/kgBB

Pada awal rejimen MDT ini direkomendasikan, jumlah obat MDT yang diberikan pada tipe PB adalah 6 blister dalam 6 – 9 bulan, sedangkan pada tipe MB adalah 24 blister selama 24 – 36 bulan. Kemudian pada tahun 1997, muncul rejimen MDT generasi kedua oleh WHO sebagai hasil dari penelitian terhadap pengobatan MDT pada tipe MB. Pada rejimen MDT kedua ini, penderita MB direkomendasikan mendapatkan jumlah obat lebih sedikit dari sebelumnya, yaitu 12 blister obat selama 12 – 18 bulan tanpa meningkatkan risiko berkembangnya resistensi terhadap rifampisin (McDougall, 1997; Depkes RI, 2007).

2.4 Selesai Pengobatan atau RFT

Selesai pengobatan atau RFT (Release from Treatment)adalah istilah untuk menyatakan penderita telah selesai pengobatan kusta. Penderita PB yang telah minum 6 blister obat MDT dalam 6 – 9 bulan dan penderita MB yang telah minum 12 blister obat MDT dalam 12 – 18 bulan dinyatakan telah menyelesaikan pengobatan atau RFT oleh petugas puskesmas dan akan memasuki masa pengamatan (Depkes RI, 2007).

2.5 Relaps atau Kambuh

Relaps adalah kembalinya penyakit kusta secara aktif pada penderita yang telah menyelesaikan pengobatan MDT (RFT) dengan gejala meluas dan menebalnya lesi yang telah ada atau terbentuknya lesi baru, penebalan atau kekakuan saraf, adanya saraf baru yang mengalami penebalan disertai gangguan fungsi, ditemukannya bakteri pada tempat yang sebelumnya negatif atau pada lesi baru (Amirudin, Hakim, dan Darwis, 2003). Menurut Depkes RI (2007), pernyataan relaps harus dikonfirmasikan ke dokter kusta yang memiliki kemampuan klinis dalam mendiagnosis relaps.

(34)

Apabila relaps terjadi, maka penderita akan diobati kembali dengan rejimen pengobatan yang sesuai dengan tipe kusta yang diderita berdasarkan hasil pemeriksaan cardinal sign (Depkes RI, 2007). Pada saat pengobatan dengan DDS dilakukan, relaps sering terjadi pada penderita setelah pengobatan (RFT). Namun sejak pengobatan MDT dilaksanakan, angka relaps setelah selesai pengobatan (RFT) sangat kecil, berkurang hingga kurang dari 1 % (Lockwood, 2002).

2.6 Kecacatan Akibat Kusta

2.6.1 Penyebab Kecacatan

Kecacatan pada kusta dapat terjadi sebelum pengobatan, selama pengobatan, bahkan setelah selesai pengobatan dan risiko cacat tersebut menurun bertahap setelah tiga tahun berikutnya (Rodrigues dan Lockwood, 2011; Depkes RI, 2007; Health Ministry of Ethiopia, 1997). Kecacatan dapat terjadi pada mata, tangan, dan kaki. Skema proses terjadinya kecacatan pada penderita penyakit kusta dapat dilihat pada gambar 2.1.

(35)

Gambar 2.1

Skema Proses Terjadinya Kecacatan Kusta

Sumber : Depkes RI, 2007; Wisnu dan Hadilukito, 2003

Pada skema tersebut, kecacatan berdasarkan penyebabnya terbagi atas kecacatan primer dan kecacatan sekunder. Cacat primer adalah cacat yang disebabkan langsung oleh aktivitas penyakit, yaitu melalui infiltrasi langsung Mycobacterium leprae ke susunan saraf tepi dan organ atau dapat juga melalui reaksi kusta. Aktivitas penyakit ini menyebabkan kerusakan pada fungsi sensorik, motorik, dan otonom dari saraf tepi : facialis, auricularis magnus, medianus, radialis, ulnaris, peroneus communis, dan tibialis posterior. Infiltrasi bakteri pada kulit, jaringan subkutan, dan

Kecacatan Primer Kecacatan Sekunder Tangan/ Kaki Mati Rasa Kornea Mati Rasa, Refleks Kedip Berkurang Tangan/ Kaki Lemah/ Lumpuh Mata Tidak Bisa Kedip Kulit Kering dan Pecah-pecah Gangguan Fungsi Saraf Tepi

Sensorik Motorik Otonom

Anestesi

(Mati Rasa) Kelemahan

Gangguan Kelenjar Keringat, Kelenjar Minyak, Aliran Darah

Luka Infeksi Jari-jari bengkok/ kaku Infeksi Luka Mutilasi/ Absorbsi Buta Mutilasi/

(36)

jaringan lain juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan tersebut (Depkes RI, 2007).

Cacat sekunder terjadi akibat adanya cacat primer. Kerusakan fungsi saraf sensorik di bagian tubuh tertentu dapat menyebabkan terjadinya luka apabila bagian tubuh tersebut mengalami trauma mekanis atau termis. Kerusakan fungsi saraf motorik dapat menyebabkan kontraktur yang dapat menimbulkan gangguan menggenggam atau berjalan. Kerusakan fungsi saraf otonom akan mengakibatkan kulit mudah retak-retak dan dapat terjadi infeksi sekunder (Universitas Sumatera Utara, 2008).

2.6.2 Penilaian Kecacatan

Guna menilai kualitas penanganan pencegahan cacat yang telah dilakukan, seluruh penderita kusta dinilai tingkat kecacatannya sesuai dengan petunjuk WHO. Tingkat kecacatan menurut WHO yang disesuaikan untuk Indonesia, secara garis besar terbagi menjadi 3 tingkat. Perbedaan tingkat kecacatan di Indonesia dengan tingkat kecacatan menurut WHO, terletak pada adanya gangguan fungsi sensoris pada mata yang tidak diperiksa (cacat tingkat 1 pada mata) karena keterbatasan pemeriksaan di lapangan. Secara lengkap, penetapan tingkat kecacatan tersebut dapat dilihat pada tabel 2.5.

Tabel 2.5

Tingkat Cacat Menurut WHO yang Disesuaikan untuk Indonesia

Tingkat Mata Telapak Tangan/Kaki

0 Tidak ada kelainan pada mata akibat kusta.

Tidak ada cacat pada tangan dan kaki akibat kusta.

1 Anestesi, kelemahan otot pada

tangan dan kaki (tidak ada kecacatan/ kerusakan yang kelihatan akibat kusta).

2 Ada lagophthalmos pada mata (kelopak mata tidak dapat menutup sempurna)

Ada cacat/kerusakan yang kelihatan akibat kusta, misalnya ulkus, jari kiting, kaki semper.

Sumber : Depkes RI, 2007

(37)

sebagai kecacatan tingkat 1 karena bukan disebabkan oleh kerusakan saraf perifer utama tetapi rusaknya saraf lokal kecil pada kulit. (Depkes RI, 2005 dan 2007).

Pemeriksaan dan penilaian kecacatan pada penderita kusta dilakukan saat mulai pengobatan dan pada saat selesai pengobatan (RFT). Nilai tersebut dicatat pada kartu penderita yang wajib dimiliki oleh penderita baru seperti yang terlihat pada tabel 2.6.

Tabel 2.6

Tabel Hasil Pemeriksaan Keadaan Cacat pada Kartu Penderita Kusta

WAKTU

PEMERIKSAAN TANGGAL

TINGKAT CACAT (WHO : 0.1.2) MATA TANGAN KAKI Nilai

Tertinggi Jumlah Nilai ka ki ka ki Ka ki

Pertama RFT

Sumber : PLKN, 2010

Pencatatan hasil pemeriksaan pada tabel tersebut, dimulai dengan mengisi tanggal kemudian mencatat tingkat kecacatan menurut WHO (nilai 0–2) pada kolom mata kanan, mata kiri, tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, dan kaki kiri. Kolom nilai tertinggi diisi dengan nilai kecacatan yang paling tinggi diantara kolom mata, tangan, dan kaki baik kiri maupun kanan. Nilai tertinggi antara 0–2, nilai ini disebut dengan tingkat kecacatan. Jumlah nilai diperoleh dengan menjumlahkan semua nilai dari kolom mata, tangan, dan kaki. Jumlah nilai berkisar 0–12, nilai ini disebut dengan skor kecacatan. Pada penelitian ini, nilai kecacatan yang digunakan sebagai output adalah jumlah nilai kecacatan atau nilai kecacatan tertinggi, tergantung pada hasil penelitian.

2.7 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kecacatan

Faktor - faktor diteliti hubungannya dengan kecacatan pada beberapa penelitian yang dapat dilihat pada tabel 2.7.

(38)

Tabel 2.7

Hasil Penelitian faktor-faktor yang berhubungan dengan Kecacatan

No Peneliti Tahun Variabel yang diteliti

Hasil Variabel yang Berhubungan Variabel yang Tidak Berhubungan

1 Moshioni,et.al 2010 Umur, tipe kusta, pendidikan, jenis kelamin

Umur, tipe kusta, pendidikan Jenis kelamin 2 Saputri (UNS) 2009 Pengetahuan penderita tentang kecacatan, sikap penderita terhadap kecacatan, perilaku pencegahan cacat penderita kusta, jenis kelamin, pendapatan,

keteraturan berobat, kelambatan berobat, reaksi kusta, tingkat pendidikan, jenis kusta

Pengetahuan penderita tentang kecacatan, sikap penderita terhadap kecacatan, perilaku pencegahan cacat penderita kusta, jenis kelamin, status ekonomi, keteraturan berobat, kelambatan berobat, reaksi kusta Tingkat pendidikan, jenis kusta

3 Susanto 2006 Umur, pendidikan, tipe kusta, reaksi, pengetahuan,

keteraturan berobat, diagnosis, perawatan diri, jenis kelamin, lama sakit, lama kerja

Umur, pendidikan, tipe kusta, reaksi, pengetahuan, keteraturan berobat, diagnosis,

perawatan diri,

Jenis kelamin, lama sakit, lama kerja

4 Kurnianto (UNDIP)

2002 Umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, tingkat penghasilan, riwayat reaksi, tipe kusta, lama sakit, lokasi lesi, keteraturan berobat, motivasi keluarga, pencegahan cacat, perawatan diri Jenis pekerjaan, tingkat ekonomi, riwayat reaksi, tipe kusta, lama sakit, lokasi lesi, keteraturan berobat, motivasi keluarga, pencegahan cacat, perawatan diri Umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tipe kusta

Peneliti memilih faktor- faktor yang berhubungan berdasarkan pada hasil penelitian yang pernah dilakukan minimal oleh dua peneliti dan menunjukkan adanya hubungan antara variabel tersebut dengan kecacatan. Faktor keteraturan berobat tidak diteliti sebagai faktor risiko karena populasi yang diteliti pada penelitian ini adalah penderita yang telah menyelesaikan pengobatan secara teratur. Faktor-faktor risiko kecacatan yang diteliti pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

(39)

2.7.1 Karakteristik Responden (Umur, Tingkat Pendidikan, Pengetahuan, Tingkat Ekonomi)

2.7.1.1 Umur

Umur berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), diartikan sebagai lama waktu hidup seorang individu sejak dilahirkan. Menurut Smith (1992) sebagaimana pada sebagian besar penyakit, kecacatan pada kusta meningkat seiring dengan meningkatnya umur. Penelitian membuktikan bahwa penderita usia lebih tua banyak mengalami cacat dan memiliki kecacatan yang lebih serius daripada penderita yang berusia muda (Guocheng, 1993). Pada usia lanjut terjadi penurunan kemampuan hormonal, kemampuan sensorik, dan kemampuan motorik (Courtright, 2002).

Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa umur ≥15 tahun berhubungan dengan kecacatan (Susanto, 2006). Namun penelitian yang lain menyatakan bahwa tidak hubungan antara umur dengan kecacatan (Universitas Diponegoro, 2002).

2.7.1.2 Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan yang dimaksud pada penelitian ini adalah tingkat pendidikan formal. Pendidikan formal adalah segenap bentuk pendidikan atau pelatihan yang diberikan secara terorganisasi dan berjenjang, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus (Depdikbud, 1990).

Menurut Moschioni, et al (2010), penderita yang telah menempuh pendidikan formal lebih waspada terhadap apa yang mereka butuhkan termasuk dalam perhatian mencari pelayanan kesehatan. Rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan lambatnya pencarian pengobatan terhadap gejala dini kerusakan fungsi saraf yang dapat berkembang menjadi kecacatan. Smith (1992) juga menyatakan bahwa rendahnya

(40)

tingkat pendidikan sebagai salah satu faktor risiko terjadinya kecacatan walaupun efek atau sebab tersebut masih belum dapat dimengerti secara jelas.

Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan berhubungan dengan kecacatan (Susanto, 2006). Namun penelitian yang lain menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kecacatan (Universitas Diponegoro, 2002; Universitas Negeri Semarang, 2009).

2.7.1.3 Pengetahuan

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui mengenai hal tertentu (Depdikbud, 1990). Pengetahuan berisikan aspek positif atau aspek negatif tentang suatu hal sehingga apabila seseorang lebih melihat aspek positif daripada aspek negatif maka akan tumbuh sikap yang positif terhadap hal tersebut, begitu pula sebaliknya (Ancok, 1987). Pengetahuan mengenai terjadinya kecacatan pada kusta, reaksi, upaya pencegahan cacat, dan perawatan diri pada seorang penderita akan mendorong timbulnya sikap dan perilaku penderita tersebut untuk mencegah terjadinya kecacatan apabila penderita dapat melihat kerugian yang disebabkan oleh kecacatan dan reaksi serta melihat keuntungan dalam melakukan upaya pencegahan cacat dan perawatan diri. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan penderita tentang kecacatan berhubungan dengan kecacatan, OR 3,339 (Universitas Negeri Semarang, 2009; Susanto, 2006).

Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi dalam 3 kategori, yaitu:

a. Baik : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 76% - 100% dari seluruh petanyaan

b. Cukup : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 56% - 75% dari seluruh pertanyaan

c. Kurang : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 40% - 55% dari seluruh pertanyaan

(41)

Pada penelitian ini, tingkat pengetahuan akan dibagi menjadi 2 kategori yaitu tinggi dan rendah. Kategori tingkat pengetahuan tinggi mencakup pengetahuan yang baik dan cukup berdasarkan tingkat pengetahuan menurut Arikunto. Sedangkan tingkat pengetahuan rendah sama dengan kriteria pengetahuan yang kurang.

2.7.1.4 Tingkat Ekonomi

Menurut Smith (1992), status ekonomi yang kurang diidentifikasi sebagai salah satu faktor risiko terjadinya kecacatan walaupun efek atau sebab tersebut masih belum dapat dimengerti secara jelas.

Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat ekonomi berhubungan dengan kecacatan dengan OR 5,8 (Universitas Diponegoro, 2002) dan 3,995 (Universitas Negeri Semarang, 2009).

2.7.2 Tipe Kusta

Klasifikasi penyakit kusta telah dipaparkan sebelumnya pada tinjauan pustaka sub bab 2.1.2. Pada penelitian ini, klasifikasi kusta yang akan dikaitkan sebagai faktor risiko kecacatan adalah klasifikasi WHO (tipe PB dan MB) karena penelitian ini berkaitan dengan program.

Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa tipe kusta berhubungan dengan kecacatan (Susanto, 2006). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Guocheng (1993), prosentase penderita kusta tipe MB yang mengalami kecacatan (81,15%) lebih besar daripada prosentase penderita kusta tipe PB yang mengalami kecacatan (53,4%). Hal ini disebabkan banyaknya kuman kusta pada tipe MB yang dapat menginfiltrasi langsung ke susunan saraf tepi yang dapat menyebabkan kerusakan fungsi saraf (Depkes RI, 2007). Namun penelitian yang lain menyatakan bahwa tidak hubungan antara tingkat penghasilan dengan kecacatan (Universitas Diponegoro, 2002; Universitas Negeri Semarang, 2009).

(42)

2.7.3 Riwayat Reaksi

2.7.3.1 Pengertian Reaksi

Reaksi kusta adalah suatu episode dalam perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan suatu reaksi kekebalan (cellular respons) atau reaksi antigen-antibodi (humoral respons) dengan akibat merugikan penderita, terutama jika mengenai saraf tepi karena menyebabkan gangguan fungsi atau cacat (Depkes RI, 2007, p.90).

Reaksi oleh beberapa penulis dianggap sebagai penyakit yang lazim dalam perjalanan penyakit kusta. Namun, dalam kondisi tertentu reaksi dapat berlangsung serius dan merambah serta merusak organ lain dalam tubuh. Reaksi dapat menimbulkan kecacatan apabila tidak ditangani dengan tepat (Martodihardjo dan Susanto, 2003).

Terjadinya reaksi seringkali berkaitan dengan perubahan daya tahan tubuh penderita. Faktor-faktor yang dapat menjadi pencetus timbulnya reaksi kusta adalah stres fisik (kehamilan, masa nifas, imunisasi, penyakit infeksi, anemia, kurang gizi, kelelahan), stres mental (malu, takut), kelelahan, kurang gizi, anemia, penyakit infeksi, sesudah imunisasi, kehamilan dan setelah melahirkan, dan setelah pengobatan yang intensif (Universitas Diponegoro, 2008; Depkes RI, 2007; Martodihardjo dan Susanto, 2003).

2.7.3.2 Gejala dan klasifikasi

Reaksi dibagi menjadi 2 yaitu : a. Reaksi tipe 1 atau reaksi reversal

Reaksi tipe 1 disebabkan karena meningkatnya kekebalan seluler secara cepat sehingga menyebabkan terjadinya respon radang pada daerah kulit dan saraf yang terkena penyakit ini. Apabila dilihat dari sudut pandang penyerangan bakteri, peningkatan imun ini dapat menguntungkan, namun radang yang terjadi pada jaringan saraf dapat menyebabkan kerusakan/kecacatan jika tidak ditangani secara cepat dan tepat. Reaksi tipe 1 ditandai dengan adanya lesi kulit yang memerah,

(43)

bengkak, nyeri, panas, neuritis, gangguan fungsi saraf tepi sering terjadi, dan kadang disertai demam. Reaksi ini biasanya terjadi segera setelah pengobatan, baik pada penderita PB maupun penderita MB (Depkes RI, 2007). Berdasarkan tingkat keparahannya, reaksi tipe 1 terbagi menjadi reaksi ringan dan reaksi berat dengan gejala seperti yang dipaparkan pada tabel 2.8.

Tabel 2.8

Perbedaan Reaksi Ringan dan Berat pada Reaksi Tipe 1

No Gejala Reaksi Ringan Reaksi Berat

1 Kulit Bercak merah,

tebal, panas, nyeri

Bercak merah, tebal, panas, nyeri yang bertambah parah sampai pecah, dekat dengan

saraf 2 Saraf Tepi Tidak ada nyeri

pada perabaan, tidak ada gangguan

fungsi

Nyeri pada perabaan, terdapat gangguan fungsi

3 Keadaan Umum

Tidak ada demam Terkadang timbul demam 4 Gangguan

pada Organ Lain

Tidak ada Tidak ada

Sumber : Depkes RI, 2007

b. Reaksi tipe 2 atau ENL (Erythema Nodosum Leprosum)

Reaksi tipe 2 merupakan reaksi humoral ditandai dengan kumpulan nodul kemerahan (ENL) yang lunak dan nyeri, neuritis, gangguan fungsi saraf tepi, gangguan konstitusi, dan komplikasi pada organ tubuh lainnya seperti mata, kelenjar getah bening, sendi, ginjal, dan testis. Reaksi ini biasanya terjadi setelah mendapat pengobatan yang lama (lebih dari 6 bulan) dan hanya terjadi pada penderita MB (Depkes RI, 2007; Universitas Diponegoro, 2008). Berdasarkan tingkat keparahannya, reaksi tipe 2 terbagi menjadi reaksi ringan dan reaksi berat dengan gejala seperti yang dipaparkan pada tabel 2.9

(44)

Tabel 2.9

Perbedaan Reaksi Ringan dan Berat pada Reaksi Tipe 2

No Gejala Reaksi Ringan Reaksi Berat

1 Kulit Nodul merah,

panas, nyeri

Nodul merah, panas, nyeri yang bertambah parah sampai pecah 2 Saraf Tepi Tidak ada nyeri

pada perabaan, tidak ada gangguan

fungsi

Nyeri pada perabaan, terdapat gangguan fungsi 3 Keadaan Umum Terkadang timbul demam Timbul demam 4 Gangguan pada Organ Lain

Tidak ada Terjadi peradangan pada mata, testis, ginjal, kelenjar limfe, gangguan pada tulang, hidung,

dan tenggorokan

Sumber : Depkes RI, 2007

2.7.3.3 Hubungan Reaksi dan Kecacatan

Prosentase penderita kusta yang mengalami kecacatan dengan riwayat reaksi lebih besar daripada proporsi penderita kusta yang mengalami kecacatan tanpa riwayat reaksi (Universitas Diponegoro, 2002; Susanto, 2006) . Menurut Depkes RI (2007) reaksi merupakan salah satu penyebab terjadinya kecacatan. Reaksi dapat merusak organ dalam tubuh dan mengakibatkan kecacatan yang mendadak (Martodihardjo dan Susanto, 2003).

Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa reaksi berhubungan dengan kecacatan dengan OR yang bervariasi 4,9 (Universitas Diponegoro, 2002) dan 2,404 (Universitas Negeri Semarang, 2009). Berdasarkan penelusuran peneliti, belum ada penelitian lain yang menyatakan bahwa tidak hubungan antara reaksi dengan kecacatan.

2.7.4 Upaya Pencegahan Cacat Akibat Kusta

Upaya pencegahan cacat (prevention of disability) menurut Depkes (2007) adalah penemuan penderita baru secara dini, pengobatan penderita dengan MDT, deteksi dini adanya reaksi kusta dengan pemeriksaan fungsi

(45)

saraf secara rutin, penanganan reaksi, penyuluhan, perawatan diri, penggunaan alat bantu, dan rehabilitasi.

Menurut Srinivasan (1994), terdapat empat tahap pencegahan cacat : a. Tahap pertama yaitu mencegah terjadinya kecacatan primer yang belum berkembang dan mencegah cacat sekunder yang berkembang dari beberapa cacat primer. Upaya pencegahan cacat primer lebih menekankan pada diagnosis dan terapi diantaranya diagnosis kusta secara dini serta pengobatan secara teratur dan adekuat tanpa adanya penundaan. Upaya pencegahan sekunder menekankan pada pendidikan dan perawatan. Pendidikan diberikan agar penderita memahami bagaimana kecacatan sekunder dapat terjadi dan bagaimana cara menghindarinya. Perawatan yang dimaksud diantaranya perawatan diri sendiri untuk mencegah luka, perawatan mata, tangan, dan atau kaki yang anestesi atau mengalami kelumpuhan otot (Wisnu dan Hadilukito, 2003). b. Tahap kedua adalah tindakan pencegahan cacat permanen. Beberapa

cacat pada kusta bersifat sementara namun dapat menjadi permanen apabila diabaikan. Tindakan untuk mencegah cacat permanen yang dapat dilakukan adalah diagnosis dini dan penatalaksanaan neuritis, diagnosis dini dan penatalaksanaan reaksi. Selain itu perlu juga dilakukan pemeriksaan fungsi sensorik, motorik, dan otonom oleh petugas kesehatan. Penderita sebaiknya melaporkan perubahan-perubahan yang terjadi terutama pada mata, tangan, dan kaki sesegera mungkin kepada petugas kesehatan. Perubahan-perubahan yang dilaporkan penderita tersebut sebaiknya dicatat oleh petugas kesehatan secara rutin setiap bulan (Srinivasan, 1994; Wisnu dan Hadilukito, 2003).

c. Tahap Ketiga adalah pencegahan yang bertujuan untuk menghapuskan kecacatan dengan membuat penderita yang cacat sedapat mungkin seperti kondisi semula melalui fisioterapi, pembedahan korektif, dan alat bantu seperti alas kaki khusus, orthesa, dan prosthesa.

d. Tahap Keempat adalah mencegah terjadinya pengucilan penderita dari keluarga dan masyarakat. Pada tahap ini diupayakan agar penderita

(46)

memperoleh kembali kehormatannya yang hilang, menghasilkan kemampuan, dan berbaur kembali dengan keluarga dan masyarakatnya.

Upaya pencegahan cacat yang dimaksud sebagai faktor risiko kecacatan pada penderita setelah selesai pengobatan adalah suatu upaya yang dilakukan penderita sejak menyelesaikan pengobatan dalam mencegah terjadinya kecacatan baru dan bertambah buruknya cacat yang telah ada. Berdasarkan pada pengertian dan tahapan pencegahan yang telah dipaparkan, upaya pencegahan cacat yang sesuai untuk digunakan dalam penelitian ini adalah upaya pencegahan tahap kedua (diagnosis dini dan penatalaksanaan neuritis melalui pemeriksaan fungsi saraf serta diagnosis dini dan penatalaksanaan reaksi).

Upaya pencegahan cacat tahap pertama (kecuali perawatan diri), ketiga, dan keempat tidak termasuk faktor risiko kecacatan dalam penelitian ini. Pencegahan cacat tahap pertama berupa diagnosis dan pengobatan kusta (pencegahan cacat primer) dilakukan untuk penderita baru kusta. Sedangkan perawatan diri (pencegahan cacat sekunder), menjadi faktor risiko terhadap kecacatan yang akan dibahas secara terpisah pada bagian selanjutnya. Pencegahan cacat tahap ketiga (upaya rehabilitasi medik) dan tahap keempat (upaya rehabilitasi sosial) tidak dimasukkan ke dalam penelitian ini karena pencegahan cacat yang ditekankan pada penelitian ini hanya sampai pada upaya pencegahan cacat primer dan sekunder.

Upaya pencegahan cacat dilihat dari bagaimana upaya penderita setelah selesai pengobatan untuk memeriksakan diri secara dini dan teratur mengenai reaksi dan neuritis yang sedang diderita kepada petugas puskesmas. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Wisnu dan Hadilukito (2003), penderita sebaiknya melaporkan perubahan-perubahan yang terjadi terutama pada mata, tangan, dan kaki sesegera mungkin kepada petugas kesehatan. Perubahan-perubahan yang dilaporkan penderita tersebut sebaiknya dicatat oleh petugas secara rutin. Hasil pemeriksaan terhadap penderita akan ditulis oleh petugas di lembar pemeriksaan atau dikenal dengan form POD (Prevention of Disability). Contoh form POD terlampir. Penderita yang diidentifikasi mengalami neuritis ataupun reaksi akan

(47)

ditangani sesuai dengan pengobatan yang telah ditentukan oleh program. Adapun penjelasan mengenai pemeriksaan fungsi saraf dan reaksi secara rutin berikut dengan penanganannya akan diulas sebagai berikut :

2.7.4.1 Pemeriksaan Fungsi Saraf secara Rutin

Penyakit kusta dapat menyebabkan kerusakan fungsi saraf tepi secara permanen, kerusakan yang dialami dipaparkan pada tabel 2.10. Kerusakan saraf yang terjadi kurang dari 6 bulan, jika diobati prednison dengan tepat tidak akan menyebabkan kerusakan saraf permanen. Untuk itu, pemantauan kerusakan fungsi saraf melalui pemeriksaan fungsi saraf secara rutin sangat penting sebagai upaya pencegahan dini cacat (Depkes RI, 2007).

Tabel 2. 10

Kerusakan Fungsi Saraf Tepi

Sumber : Depkes RI, 2007

2.7.4.2 Penanganan Reaksi dan Neuritis

Sebelum melakukan penanganan reaksi yang dialami oleh penderita kusta, terlebih dahulu harus mengidentifikasi tipe reaksi yang dialami serta derajat keparahan reaksi untuk menentukan penanganan dan

Saraf

Fungsi

Motorik Sensorik Otonom

Facialis Kelopak mata tidak menutup

Kekeringan dan kulit retak akibat kerusakan kelenjar

keringat, kelenjar minyak, dan pembuluh darah Ulnaris jari manis dan jari

kelingking lemah/ lumpuh /kiting

Mati rasa telapak tangan bagian jari kelingking dan jari manis

Medianus Ibu jari, telunjuk, dan jari tengah lemah/ lumpuh/ kiting

Mati rasa telapak tangan bagian ibu jari, telunjuk, dan jari tengah

Radialis Tangan lunglai Peroneus

communis

Kaki semper Tibialis

posterior

Jari kaki kiting Mati rasa telapak kaki

(48)

obat yang tepat. Penentuan tipe reaksi dan adanya neuritis dapat dibantu dengan mengisi form POD.

Prinsip penanganan reaksi ringan : a. Berobat jalan, istirahat di rumah.

b. Pemberian analgetik/antipiretik, obat penenang jika perlu.

c. Jika masih dalam pengobatan, MDT tetap diberikan dengan dosis yang sama seperti sebelumnya.

d. Menghindari/menghilangkan faktor pencetus.

Sedangkan prinsip penanganan reaksi berat dan neuritis, yaitu : a. Imobilisasi lokal/ istirahat di rumah.

b. Pemberian analgetik/antipiretik, obat penenang jika perlu.

c. Jika masih dalam pengobatan, MDT tetap diberikan dengan dosis yang sama seperti sebelumnya.

d. Menghindari/menghilangkan faktor pencetus.

e. Memberikan obat anti reaksi yaitu prednison dan lamprene. Obat thalidomid yang juga merupakan obat anti reaksi tidak digunakan dalam program.

f. Jika terdapat indikasi rawat inap, penderita dirujuk ke rumah sakit. Pemberian obat prednison dan lampren terhadap kondisi reaksi berat yang berbeda, secara rinci dapat dilihat pada tabel 2.11.

Tabel 2.11

Pengobatan Reaksi Berat

Tipe Reaksi Pengobatan Keterangan

Tipe 1 dan 2 Berat

Pemberian prednison pada pagi hari sesudah makan:

2 Minggu ke 1 = 40 mg/hari 2 Minggu ke 2 = 30 mg/hari 2 Minggu ke 3 = 20 mg/hari 2 Minggu ke 4 = 15 mg/hari 2 Minggu ke 5 = 10 mg/hari 2 Minggu ke 6 = 5 mg/hari

Setiap 2 minggu penderita diperiksa kembali fungsi sarafnya. Jika kondisi membaik, dosis diturunkan. Jika kondisi tetap, dosis yang sama dilanjutkan 1 minggu. Jika memburuk, dosis dinaikkan satu tingkat diatasnya.

Gambar

Gambar 2.1  Skema Proses Terjadinya Kecacatan Kusta ..................................
Tabel Prevalensi dan jumlah kasus baru kusta di 130 negara   pada wilayah WHO tahun 2010
Gambar 3. Kerangka Konsep
Tabel 4 Definisi Operasional
+3

Referensi

Dokumen terkait

Sulistiyawati, 2014, Hubungan Tipe Reaksi Kusta Dengan Tingkat Kecacatan Penderita Kusta di Puskesmas Pasean Kabupaten Pamekasan Periode 1 Januari 2011-31 Desember 2012,

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang kusta ( Leprosy ) dengan perawatan diri pada penderita kusta di wilayah

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang kusta (Leprosy) dengan perawatan diri pada penderita kusta di wilayah Kabupaten

Analisis bivariat adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor (tingkat pengetahuan, pendidikan, sosial-ekonomi, perawatan diri, lama sakit, reaksi

Distribusi karakteristik umur responden tentang hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku perawatan kaki pada pasien DM sebagai pencegahan ulkus DM di RSI Kendal.. tahun

hubungan antara status vaksinasi BCG, riwayat kontak dan lama kontak dengan kejadian penyakit kusta di Kota Pekalongan tahun 2013. Variabel umur, status sosial ekonomi

Dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini probabilitas atau tingkat risiko seorang penderita kusta untuk mengalami reaksi kusta apabila umur

Leprae secara berlebihan.6 Faktor risiko timbulnya ENL pada penderita kusta antara lain tipe kusta MB, umur saat pasien didiagnosis kusta lebih dari 15 tahun, tingkat pendidikan yang