• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Perhiasan dan Stratifikasi Masyarakat

Dalam dokumen Perhiasan Sebagai Penanda Statifikasi Ma (Halaman 109-121)

Sebagaimana kita ketahui dalam bab sebelumnya, fungsi dari stratifikasi masyarakat ialah pelapisan masyarakat yang diurutkan secara bertingkat. Sehubungan dengan hal tersebut, stratifikasi dapat dikaitkan dengan status dan prestige. Dengan demikian, perbedaan tingkat sosial dapat menjadi pembeda antara kelompok yang satu dengan lainnya (Abercombie, 2010 dan Weber,1958).

Keterangan:

: Atas ↖: Atas bagian kanan √: Ada

: Kanan ↗: Atas bagian kiri −: Tidak

: Kiri : Bawah bagian kanan ○: Tidak Jelas

↔: Tengah : Bawah bagian kiri

Tabel 3.5

Tabel perhiasan dalam relief episode 5 Dibuat oleh: Penulis 

87   

Atas dasar keterangan tersebut, perhiasan dapat dikategorikan sebagai penanda status sosial seseorang. Diungkapkan dalam disertasi Darmosoetopo (2009) bahwa, perhiasan merupakan salah satu isi dari pasék-pasék yang terkait dengan stratifikasi masyarakat, dimana orang yang menerima pasék mendapatkan jenis dan jumlah perhiasan yang berbeda. Perbedaan pasék yang diterima didasarkan pada status sosial dan jabatan orang yang menerima.

Identifikasi jenis perhiasan yang dibedakan oleh para tokoh dalam cerita Lalitavistara juga menyuguhkan hal yang sama. Hal tersebut dapat diamati dari perhiasan yang dikenakan masing-masing golongan sosial dalam masyarakat sebagaimana dalam cerita Relief Lalitavistara sebagai berikut:

1. Raja, mewakili golongan masyarakat atas, dimana seorang raja pada abad 8-10 M mendapatkan gelar Rakryan, dalam sistem kerajaan raja merupakan golongan tertinggi. Perhiasan yang dikenakan jumlahnya

paling raya, terdiri atas jatamakuta, karna pushpa, kundala,

bhujangavalaya, hara yang bermotif, upavita, udara bandha, keyura, kankana, katisūtra dan padavalaya. Dalam Relief Lalitavistara terdapat lebih dari tiga raja yang berbeda, akan tetapi Raja

Śuddhodana mengenakan perhiasan yang paling raya, dimana hanya

Raja Śuddhodana yang mengenakan bhujangavalaya (lihat tabel 3.1,

tabel 3.2, tabel 3.3, tabel 3.4, dan tabel 3.5).

Dari tabel 3.1 – 3.5, dapat kita lihat bahwa seluruh perhiasan yang ditemukan, dikenakan oleh raja. Jumlah dan jenis perhiasan yang dikenakan oleh raja juga dijumpai pada tokoh dewa, yang tidak mewakili golongan masyarakat tertentu. Dalam struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan kuna, raja ialah penguasa tertinggi. Dengan

berlandaskan kosmologis yang diyakini masyarakat pada masa tersebut, raja ialah penjelmaan dewa di dunia (Soejono, 2010:226). Hal tersebut menunjukkan bahwa raja didudukan setara dengan dewa. Kemudian Raffles (2008:209-214) menyebutkan bahwa, dalam masyarakat Jawa kuna raja adalah sosok yang paling diagungkan. Penghormatan yang dilakukan oleh rakyat kepada rajanya dilakukan dengan cara memberi sembah dan membungkukkan badan serendah mungkin, hal tersebut menunjukkan raja adalah sosok yang superior, tidak banyak orang yang dapat mendekatinya apa lagi menyentuhnya. 2. Ratu, mewakili golongan yang sama dengan raja. Ia mengenakan

perhiasan yang jumlahnya sama dengan raja, akan tetapi dengan

jenis yang berbeda, terdiri atas kirita makuta, karna pushpa, kundala,

hara, keyura, kankana, cannavira, raja mengenakan upavita bukan cannavira begitu pula dengan ratu, katisūtra dan padavalaya (lihat tabel 3.1 dan tabel 3.2).

Atas dasar uraian tersebut, dapat kita lihat perhiasan yang identik

digunakan oleh ratu, juga dikenakan oleh sakti dari para dewa. Dalam cerita Relief Lalitavistara hanya terdapat seorang ratu yang digambarkan. Mengacu pada keterangan sebelumnya mengenai raja, yang didudukkan setara dengan dewa, begitu juga dengan ratu yakni pendamping raja yang didudukkan setara dengan sakti para dewa. hal tersebut juga menunjukkan kebesaran seorang ratu sama dengan kebesaran sakti atau pendamping dewa.

3. Pangeran, mewakili golongan yang sama dengan raja, akan tetapi stratanya di bawah raja dan ratu, dalam masyarakat Jawa Kuna

89   

dikenal sebagai Hino. Perhiasan yang dikenakan pangeran terdiri atas kirita makuta, karna pushpa, kundala, hara, keyura, upavita, kankana, udara bandha, katisūtra dan padavalaya. Perhiasan yang dikenakan pangeran hampir serupa dengan raja. Perbedaannya terletak pada

mahkota yang dikenakan. Raja mengenakan jatamakuta sedangkan

pangeran mengenakan kirita makuta (lihat tabel 3.1, tabel 3.2, dan tabel 3.3).

4. Bangsawan pria dan wanita, mewakili golongan masyarakat atas, akan tetapi stratanya di bawah pangeran, biasanya kaum bangswan merupakan kerabat dekat keluarga kerajaan. Dalam masyarakat Jawa Kuna dikenal sebagai Halu. Meskipun dari golongan yang sama, tetapi jumlah dan jenis perhiasan yang dikenakan tidak sama. perhiasan yang dikenakan bangsawan pria terdiri atas kirita makuta, kundala, hara, akan tetapi tidak semua bangsawan pria mengenakan keyura dan kankana (lihat tabel 3.1, tabel 3.2, tabel 3.3, tabel 3.4, dan tabel 3.5).

Bangsawan wanita, perhiasan yang dikenakan oleh bangsawan

wanita terdiri atas thoyyaham, karna pushpa, kundala, keyura,

kankana, dan katisūtra (lihat tabel 3.3 dan tabel 3.4).

5. Dayang-dayang, mewakili golongan menengah, kedudukannya di bawah keturunan raja dan samanak yang hubungan kekerabatannya lebih dekat dengan raja, akan tetapi Aden masih dalam ruang lingkup istana. Dalam masyarakat Jawa Kuna dikenal dengan Aden. Perhiasan yang dikenakan oleh dayang-dayang terdiri atas thoyyaham, kundala, hara, dan kankana. Perhiasan yang dikenakan

oleh dayang-dayang seluruh jenisnya sama, akan tetapi motifnya yang berbeda (lihat tabel 3.1, tabel 3.2, tabel 3.3, dan tabel 3.5). 6. Pengawal, mewakili golongan menengah, kedudukannya di bawah

keturunan raja dan samanak yang hubungan kekerabatannya lebih dekat dengan raja, dalam masyarakat Jawa Kuna disebut dengan Aden, akan tetapi Aden masih dalam ruang lingkup istana. Perhiasan

yang dikenakan pengawal terdiri atas jamang, kundala, hara, dan

kankana. Dari seluruh pengawal yang ada, perhiasan yang dikenakan sedikit berbeda, yaitu pengawal yang letaknya berdekatan dengan raja mengenakan jamang, sedangkan yang letaknya tidak berdekatan tidak mengenakan jamang (lihat tabel 3.1, tabel 3.2, dan tabel 3.3). 7. Rakyat, mewakili golongan bawah, dalam masyarakat Jawa Kuna

disebut dengan panggilan Si. Perhiasan yang dikenakan rakyat hanya segelintir orang yang mengenakan jamang dan kankana, akan tetapi

semua tokoh yang digambarkan mengenakan kundala. Dari seluruh

tokoh rakyat yang dijumpai dalam relief hanya sebagian kecil yang

mengenakan jamang dan kundala, kemudian keletakkannya paling

depan di antara tokoh rakyat lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa rakyat yang mengenakan jamang dan kundala ialah tokoh yang menonjol di antara tokoh rakyat lainnya (lihat tabel 3.1, tabel 3.3, dan tabel 3.5).

Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa ragam perhiasan yang dikenakan oleh tokoh yang tinggi stratanya lebih banyak jumlah dan jenis perhiasan yang dikenakan. Oleh sebab itu, perhiasan juga termasuk sebagai

91   

penanda status sosial seseorang. Beberapa perhiasan yang dapat menunjukkan status sosial seseorang sebagai berikut :

a. Makuta atau yang lebih dikenal dengan mahkota merupakan penanda kelas atas, mahkota yang jenisnya teridiri dari jatamakuta, kiritamakuta, karandamakuta, hanya digunakan oleh raja, ratu, pangeran, dan bangsawan dalam lingkup istana.

b. Bhujangavalaya merupakan penanda kelas atas, hanya digunakan oleh raja sebagai ornamen pada bahu yang menunjukkan raja sudah ditasbihkan (Liebert, 1976:41).

c. Upavita dan udara bandha merupakan penanda kelas atas, hanya digunakan oleh raja, upavita sendiri sebagai penanda seorang raja sebagai pemimpin dalam sebuah kerajaan juga sebagai pemimpin dalam urusan keagamaan (Liebert, 1976:311).

d. Cannavira merupakan penanda kelas atas, hanya digunakan oleh ratu, kegunaan dari cannavira serupa dengan upavita yang digunakan oleh raja.

e. Thoyyaham merupakan penanda kelas atas dan menengah pada wanita, biasanya dikenakan oleh bangsawan dan dayang-dayang.

f. Jamang merupakan penanda kelas menengah dan bawah pada pria, biasanya dikenakan oleh pengawal dan rakyat.

Perhiasan yang dikenakan para tokoh dalam Relief Lalitavistara memiliki perbedaan antara pria dan wanita pada strata sosial yang setara, hal tersebut dapat dilihat dari beberapa perbedaan sebagai berikut:

1. Strata atas, tokoh-tokoh yang masuk dalam kelompok strata ini ialah raja, ratu, pangeran, bangsawan pria dan bangsawan wanita, adapun perbedaan perhiasan yang dikenakan antara lain:

a. Perhiasan kepala pria strata atas adalah makuta, dikenakan oleh raja, pangeran dan bangsawan (lihat gambar 3.44).

Gambar 3.44

(a) Raja (b) Pangeran (c) Bangsawan Sumber: Pleyte, 1901 yang dimodifikasi oleh penulis

  b. d c. P h b Perhiasan k dan bangsaw Perhiasan p hanya raja bandha dan Su Sum kepala wanita wan wanita pada dada dan ratu y cannavira ( (a umber: Pleyt mber: Pleyte a strata atas (lihat gamba yang menu yang mengg lihat gamba Gamba a) Ratu (b) B e, 1901 yan Gamba Tubuh e, 1901 yang s juga makut ar 3.45). njukkan stra gunakannya, r 3.46). ar 3.45 Bangsawan w g dimodifika ar 3.46 h Raja g dimodifikas ta, dikenaka ata atas, di , ialah upav wanita asi oleh penu

si oleh penu 93 an oleh ratu ikarenakan vita, udara ulis ulis

Berdasarkan keterangan di atas, dapat dilihat bahwa makuta yang dikenakan pria ukurannya lebih tinggi dan makuta yang dikenakan wanita. Ornamen pada makuta wanita lebih banyak dibandingkan dengan makuta pria. Bentuk kundala yang dikenakan pria berbentuk bulat atau segitiga, sedangkan yang dikenakan wanita berbentuk seperti bunga. Pria kalangan atas mengenakan upavita dan udara bandha sedangkan wanita dari kalangan tersebut mengenakan cannavira. Keyura dan kankana yang dikenakan, pria dan wanita dari kalangan atas menunjukkan perbedaan. Keyura yang dikenakan pria tidak berornamen sedangkan yang dikenakan wanita keyura berornamen bunga. Kankana yang dikenakan pria berbentuk bulat seperti mutiara, sedangkan yang dikenakan wanita tidak berornamen atau polos.

2. Strata menengah, tokoh-tokoh yang masuk dalam kelompok strata ini ialah dayang-dayang dan pengawal. Perbedaan perhiasan yang dikenakan antara lain:

Gambar 3.47 Tubuh Ratu

95   

a. Perhiasan kepala pria strata menengah adalah jamang, dikenakan oleh pengawal (lihat gambar 3.47).

b. Perhiasan kepala wanita strata menengah adalah thoyyaham dikenakan oleh dayang-dayang (lihat gambar 3.48).

c. Perhiasan tubuh pria strata menengah, terdiri atas hara dan kankana (lihat gambar 3.49).

Gambar 3.47 Pengawal

Sumber: Pleyte, 1901 yang dimodifikasi oleh penulis

Gambar 3.48 Dayang

d. Perhiasan pada bagian tubuh wanita strata menengah, terdiri atas hara, keyura dan kankana (lihat gambar 3.50)

Berdasarkan keterangan diatas, dapat dilihat bahwa perbedaan perhiasan pria strata menengah dengan perhiasan wanita strata menengah terletak pada hiasan kepala. Pria golongan ini

mengenakan jamang, sedangkan wanitanya mengenakan

Gambar 3.49 Tubuh Pengawal

Sumber: Pleyte, 1901 yang dimodifikasi oleh penulis

Gambar 3.50 Tubuh Dayang

97   

thoyyaham. Keyura tidak dikenakan oleh pria pada golongan ini, sedangkan wanita mengenakan keyura dan berornamen bunga. 3. Strata bawah, perhiasan yang dikenakan masyarakat golongan ini tidak

berbeda antara perhiasan yang dikenakan antara pria dan wanita. Atas dasar keterangan tersebut, dapat dikatakan bahwa semakin tinggi strata seseorang semakin banyak ragam perhiasan yang dikenakanannya. Selain itu, ornamen bunga identik dengan tokoh wanita. Hal tersebut dapat dilihat pada perhiasan wanita dari strata atas dan menengah yang menggunakan ornamen bunga.

Hasil identifikasi perhiasan hubungan antara perhiasan dengan stratifikasi sosial sebagai berikut:

Tabel 3.6

Tabel Hubungan Perhiasan dan Stratifikasi Dibuat oleh: Penulis 

Dalam dokumen Perhiasan Sebagai Penanda Statifikasi Ma (Halaman 109-121)

Dokumen terkait