CANDI BOROBUDUR
OLEH
CHITRA PARAMAESTI 07/254911/SA/14100
JURUSAN ARKEOLOGI FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS GADJAH MADA
PERHIASAN SEBAGAI PENANDA STRATIFIKASI
MASYARAKAT PADA RELIEF LALITAVISTARA
CANDI BOROBUDUR
OLEH
CHITRA PARAMAESTI 07/254911/SA/14100
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana
BY
CHITRA PARAMAESTI 07/254911/SA/14100
A Graduating Paper
Submitted to The Board of Examiners in Partial Fulfillment of The Requirement for The Graduate Program in the
Faculty Art and Humanities Gadjah Mada University
I would like to present this paper to my father, Suryono Utomo Diran, who couldn’t see me growing as a lady.
Dear Bapak, thanks for everything that you gave, I realized I could never give all the love and sacrificing like you and Ibu did, but one thing that I can do, is try being a good child as you and Ibu wish.
I wish you read this and feel my happiness,
I miss you and always love you Bapak, where ever you are.
Fall in love with the process and the result will come, because everything is possible if you want it badly enough!
KATA PENGANTAR
Segala pujian dan rasa syukur penulis persembahkan kepada Dzat tertinggi, pencipta alam semesta, atas berkat yang diberikan sehingga skripsi yang berjudul “Perhiasan Sebagai Penanda Stratifikasi Masyarakat Pada Relief Lalitavistara Candi Borobudur” dapat diselesaikan dengan baik, sehingga dapat diajukan sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana pada Jurusan Arkeologi UGM.
Penulis sangat menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik bantuan dalam bentuk dukungan moril maupun materil. Oleh karena itu penulis banyak terima kasih kepada:
1. Dra. DS Nugrahani, selaku dosen pembimbing skripsi yang sangat
sabar dan berbaik hati seperti Sungai Nairaňjanā yang memberikan
kehidupan kepada Sākyāmunī dalam proses menuju pencerahan.
Beliau tiada hentinya memberikan motifasi, dukungan dan dorongan dalam setiap langkah dalam penulisan skripsi.
2. Dwi Pradnyawan S.S, selaku pembimbing skripsi dan pembimbing akademik yang selama ini banyak memberikan dorongan dan membantuk penulis selama proses perkuliahan dan penulisan skripsi. 3. Dr. Mahirta M.A, selaku ketua Jurusan Arkeologi UGM, atas segala
bantuan dalam pengurusan izin penelitian dan ilmu yang diberikan selama penulis mengikuti perkuliahan.
M.Hum atas ilmu, wawasan, dan bantuan yang diberikan hingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan jenjang strata satu.
5. Seluruh staff Balai Konservasi Borobudur, terima kasih atas segala fasilitas dan bantuannya kepada penulis dalam pengumpulan data untuk skripsi ini.
6. Ir Nitra Narulita dan Ir Wentaria, kedua orang tua penulis yang tiada hentinya memberikan dukungan terbaik untuk terselesaikannya skripsi ini.
7. Cakra Karim Narendra, calon dokter pribadi di masa depan, seorang adik yang seperti Jataka kepada Lalitavistara yang selalu bersama memberikan kehidupan bagi lorong tingkatan pertama Candi Borobudur. Ia selalu memberikan dukungan, keceriaan, dan kasih sayang kepada penulis.
9. Para kakak angkatan dan adik angkatan di Arkeologi UGM, Ahmad Surya Ramadhan S.S, Daru Prakoso S.S, Ayu Dipta Kirana S.S, Damai Tegar S.S, Helmi Yanuar S.S, Yoses Tanzak S.S, Anglir Bawono, Mayang Lokahita S.S, Upiek Listiarini S.S, Ebel Bryan Paat, Fika Nuriavi dan teman-teman lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
10. Cahya Mahendrani S.S atas segala bantuannya dalam pengerjaan dan motivasi untuk terselesaikannya skripsi ini.
11. Seluruh Anggota Perpustakaan Jurusan Arkeologi, Dian Purnamasari Lea Elvida, Luhana Martha, dan kawan-kawan, terima kasih atas segalanya. Senang sekali menjadi bagian dari petugas sirkulasi perpustakaan.
12. Seluruh anggota KAPALASASTRA, Hapsoro, Ade Fitrahul, Yeni
Prameswari, Nanda Ummul, Sekar Langit, Sonia Fatmarani, Topik, Novi, Uus, dan lainnya, terimakasih sudah menjadi bagian keluarga kecil penulis di Yogyakarta.
13. Natalie Ong, teman baru yang sangat baik, atas masukan dan bantuannya selama ini.
14. Teman – teman kos Prima Wahyu, Rasti Nugrahani S.Ant, Dhina Pahlawanti S.Si, Wikan Diaswara S.Psi, Riska Rahmananda, dan Ima Rahmawati yang selalu memberikan keceriaan selama tinggal di kos. 15. Sahabat-sahabat penulis, Andien Edardono, Aulia Rakhmah S.H,
dukungan dan dorongan dalam pertemanan yang sangat menyenangkan selama ini.
Sangat penulis sadari bahwa tidak ada yang sempurna, namun penulis berusaha sebaik mungkin untuk menghasilkan skripsi yang baik. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar menjadi pembelajaran untuk penulis. Semoga skripsi ini dapat berguna di masa depan.
Yogyakarta, Juli 2014
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
LEMBAR PERSEMBAHAN ... iii
MOTTO ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR FOTO ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR TABEL ... xviii
DAFTAR SINGKATAN ... xix
BAB I . PENDAHULUAN Rumusan Masalah ... 7
Tujuan Penelitian ... 8
Ruang Llingkup Penelitian ... 8
Keaslian Penelitian ... 9
Metode Penelitian ... 10
II. STRATIFIKASI SOSIAL MASYARAKAT JAWA KUNA DAN ATRIBUTNYA A. Stratifikasi Sosial ... 14
A.1 Masyarakat Mataram Kuna ... 16
B. Atribut Dalam Strafikasi Sosial ... 18
4. Tahun–tahun Gautama Sebagai Pertapa dan
Pengembara ... 66
5. Pencerahan dan Pemutaran Roda Dharma Buddha ... 77
B. Hubungan Perhiasan dan Stratifikasi Masyarakat ... 85
C. Hubungan Perhiasan Dengan Gender ... 96
IV. KESIMPULAN ... 98
DAFTAR PUSTAKA ... 102
DAFTAR FOTO
Foto 3.1 Bhoddisatva dalam Relief no seri Ia 1 ... 32
Foto 3.2 Dewa dalam Relief no seri Ia 9 ... 34
Foto 3.3 Raja Śuddhodana dalam Relief no seri Ia 16 ... 35
Foto 3.4 Ratu Māyādevi dalam Relief no seri Ia 17 ... 36
Foto 3.5 Bangsawan dalam Relief no seri Ia 22 ... 37
Foto 3.6 Dayang dalam Relief no seri Ia 21 ... 38
Foto 3.7 Pengawal dalam Relief no seri Ia 25 ... 39
Foto 3.8 Rakyat dalam Relief no seri Ia 23 ... 40
Foto 3.9 Brahmā, Śiva, Vişņu dalam Relief no seri Ia 35 ... 43
Foto 3.10 Rşi dalam Relief no seri Ia 31 ... 44
Foto 3.11 Vi vāmitra dalam Relief no seri Ia 37 ... 45
Foto 3.12 Raja Śuddhodana dalam Relief no seri Ia 33 ... 46
Foto 3.13 Ratu Māyādevi dalam Relief no seri Ia 28... 47
Foto 3.14 Mahāprajāpatī Gautamī dalam Relief no seri Ia 30 ... 48
Foto 3.15 Pangeran Siddhārtha dalam Relief no seri Ia 51 ... 49
Foto 3.16 Dewadatta dalam Relief no seri Ia 44 ... 50
Foto 3.18 Gopā dalam Relief no seri Ia 50 ... 52
Foto 3.19 Dayang dalam Relief no seri Ia 55 ... 53
Foto 3.20 Pengawal dalam Relief no seri Ia 34 ... 54
Foto 3.21 Dewa dalam Relief no seri Ia 65 ... 58
Foto 3.22 Raja Śuddhodana dalam Relief no seri Ia 61 ... 59
Foto 3.23 Pangeran Siddhārtha Relief no seri Ia 63 ... 60
Foto 3.24 Gopā dalam Relief no seri Ia 60 ... 61
Foto 3.25 Chandaka dalam Relief no seri Ia 64 ... 62
Foto 3.26 Dayang dalam Relief no seri Ia 62 ... 63
Foto 3.27 Rakyat dalam Relief no seri Ia 56 ... 64
Foto 3.28 Dewa dalam Relief no seri Ia 69 ... 67
Foto 3.29 Gautama dalam Relief no seri Ia 76 ... 68
Foto 3.30 rāda Kālāma dalam Relief no seri Ia 71 ... 69
Foto 3.31 Brāhmana dalam Relief no seri Ia 70 ... 70
Foto 3.32 Rudraka Rāmaputra dalam Relief no seri Ia 75 ... 71
Foto 3.33 Māra dalam Relief no seri Ia 95 ... 72
Foto 3.34 Raja Bimbisāra dalam Relief no seri Ia 73 ... 73
Foto 3.36 Bangsawan Wanita dalam Relief no seri Ia 81 ... 75
Foto 3.37 Buddha dalam Relief no seri Ia 105 ... 78
Foto 3.38 Dewa dalam Relief no seri Ia 99 ... 79
Foto 3.39 Petapa dalam Relief no seri Ia 117 ... 80
Foto 3.40 Raja Naga Mucilinda dalam Relief no seri Ia 101 ... 81
Foto 3.41 Bangsawan Wārānasī dalam Relief no seri Ia 114 ... 82
Foto 3.42 Dayang-dayang dalam Relief no seri Ia 112 ... 83
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Keletakan relief pada candi Borobudur ... 4
Gambar 2.1 Perhiasan Pada tokoh Wanita ... 20
Gambar 2.2 Perhiasan Pada Tokoh Pria... 21
Gambar 2.3 Kirita Makuta ... 26
Gambar 2.4 Thoyyaham ... 27
Gambar 2.5 Jamang ... 27
Gambar 3.1 Bentuk Bangunan Borobudur ... 29
Gambar 3.2 Denah Lokasi Relief Lalitavistara ... 30
Gambar 3.3 Perhiasan Pada tokoh Bhoddhisattva ... 33
Gambar 3.4 Perhiasan Pada tokoh Dewa ... 34
Gambar 3.5 Perhiasan Pada tokoh Raja ... 35
Gambar 3.6 Perhiasan Pada tokoh Ratu ... 36
Gambar 3.7 Perhiasan Pada Tokoh Bangsawan Pria ... 37
Gambar 3.8 Perhiasan Pada Tokoh Dayang-dayang... 38
Gambar 3.9 Perhiasan Pada Tokoh Pengawal ... 39
Gambar 3.10 Perhiasan Pada Tokoh Rakyat ... 40
Gambar 3.12 Perhiasan Pada tokoh Rsi ... 45
Gambar 3.13 Perhiasan Pada Tokoh Guru ... 46
Gambar 3.14 Perhiasan Pada tokoh Raja ... 47
Gambar 3.15 Perhiasan Pada Tokoh Ratu ... 48
Gambar 3.16 Perhiasan Pada Tokoh Bangsawan Wanita ... 49
Gambar 3.17 Perhiasan Pada Tokoh Pangeran ... 50
Gambar 3.18 Perhiasan Pada Tokoh Bangsawan Pria ... 51
Gambar 3.19 Perhiasan Pada Tokoh Pangeran ... 52
Gambar 3.20 Perhiasan Pada Tokoh Bangsawan Wanita ... 53
Gambar 3.21 Perhiasan Pada Tokoh Dayang-dayang ... 54
Gambar 3.22 Perhiasan Pada Tokoh Pengawal ... 55
Gambar 3.23 Perhiasan Pada tokoh Dewa ... 58
Gambar 3.24 Perhiasan Pada Tokoh Raja... 59
Gambar 3.25 Perhiasan Pada Tokoh Pangeran ... 60
Gambar 3.26 Perhiasan Pada Tokoh Bangsawan Wanita ... 61
Gambar 3.27 Perhiasan Pada Tokoh Pengawal ... 62
Gambar 3.28 Perhiasan Pada Tokoh Dayang-dayang ... 63
Gambar 3.30 Perhiasan Pada Tokoh Dewa ... 67
Gambar 3.31 Perhiasan Pada Tokoh Gautama ... 68
Gambar 3.32 Perhiasan Pada Tokoh Petapa... 69
Gambar 3.33 Perhiasan Pada Tokoh Brahmana Wanita ... 70
Gambar 3.34 Perhiasan Pada Tokoh Petapa... 71
Gambar 3.35 Perhiasan Pada Tokoh Iblis... 72
Gambar 3.36 Perhiasan Pada Tokoh Raja... 73
Gambar 3.37 Perhiasan Pada Tokoh Bangsawan Pria ... 74
Gambar 3.38 Perhiasan Pada Tokoh Bangsawan Wanita ... 75
Gambar 3.39 Perhiasan Pada Tokoh Buddha... 78
Gambar 3.40 Perhiasan Pada Tokoh Dewa ... 79
Gambar 3.41 Perhiasan Pada Tokoh Petapa... 80
Gambar 3.42 Perhiasan Pada Tokoh Raja... 81
Gambar 3.43 Perhiasan Pada Tokoh Bangsawan Pria ... 82
Gambar 3.44 Perhiasan Pada Tokoh Dayang-dayang ... 83
Gambar 3.45 Perhiasan Pada Tokoh Rakyat ... 84
Gambar 3.46 Ragam Makuta Pria ... 91
Gambar 3.48 Perhiasan Pada Tubuh Raja ... 92
Gambar 3.49 Perhiasan Pada Tubuh Ratu ... 93
Gambar 3.50 Perhiasan Kepala Pada Pengawal ... 94
Gambar 3.51 Perhiasan Kepala Pada Dayang-dayang ... 94
Gambar 3.52 Perhiasan Pada Tubuh Pengawal ... 95
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 perhiasan dalam relief episode I
Tabel 3.2 perhiasan dalam relief episode II
Tabel 3.3 perhiasan dalam relief episode III
Tabel 3.4 perhiasan dalam relief episode IV
Tabel 3.5 perhiasan dalam relief episode V
Tabel 3.6 hubungan perhiasan dengan stratifikasi sosial 96 41
55
65
76
DAFTAR SINGKATAN
Ç : Çaka.
Ditjen : Direktoral Jendral.
Dkk. : dan kawan-kawan.
EFEO : École Fran aise d’Extrême-orient.
HK : Hong Kong.
Inc : Incorporation.
Ing : Inggris.
JK : Jawa Kuna.
KPG : Kepustakaan Populer Gramedia.
LIPI : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
LP3ES : Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan
Sosial.
Ltd : Limited.
M : Masehi.
No. : Nomor.
PT : Perseroan terbatas.
Sans : Sansekerta.
Th : Tahun.
TU : Tarikh Umum.
U.S.A : United State of America.
Penulis : Chitra Paramaesti Tahun Lulus : 2014
Pembimbing : 1. Dra Djaliati Sri Nugrahani 2. Dwi Pradnyawan S.S
Topik:
Studi ikonografi yang berkaitan dengan stratifikasi masyarakat yang digambarkan pada cerita relief Lalitavistara Candi Borobudur.
Permasalahan:
Apakah perhiasan dapat menjadi tolok ukur stratifikasi masyarakat dalam cerita Relief Lalitavistara?
Tujuan:
Mengetahui ragam perhiasan yang dikenakan oleh para tokoh dalam cerita Relief Lalitavistara dan kaitannya dengan stratifikasi masyarakat.
Metode:
Penelitian ini melakukan pendeskripsian cerita dalam relief dan tipologi perhiasan digunakan untuk mengetahui kaitan perhiasan dengan stratifikasi masyarakat.
Kesimpulan:
Sistem pelapisan masyarakat dalam Relief Lalitavistara, yang bersifat tertutup memiliki keistimewaan dalam hal penggunaan perhiasan. Sehubungan dengan masalah tersebut, dapat dikatakan bahwa pelapisan masyarakat yang digambarkan dalam Relief Lalitavistara, ditunjukkan pula oleh kemegahan perhiasan yang dikenakan. Selain itu, Relief Lalitavistara juga menggambarkan sistem stratifikasi terbuka, maka stratifikasi masyarakat selain mengacu pada kekuasaan dan materi, juga pada keahlian dalam menghasilkan sesuatu.
Kata Kunci:
ABSTRACT
Jewelry As Society Stratification Evidence On Lalitavistara Relief
Of Borobudur Temple
Author : Chitra Paramaesti Year : 2014
Supervisor : 1. Dra. Djaliati Sri Nugrahani 2. Dwi Pradnyawan S.S
Topic:
Iconography study associated with the stratification of society depicted in the story of Lalitavistara on Borobudur reliefs.
Issue:
Is jewelry can be measured in a society stratified on Lalitavistara story?
Objectives:
To find out the variety of jewelry worn by the characters in Lalitavistara story and it’s relation to the society stratification.
Methods:
This research was conducted in description of the reliefs story and jewelry typology to determine the association between jewelry and society stratification.
Conclusion:
Society stratification system in Lalitiviatara story is closed stratification system which is the society has privilege in term of wearing jewelry. Related to the issue, Jewelry could be the indicator of stratification in society. Moreover, Lalitavistara reliefs also depicted the open stratification system, therefore the stratification of society beside refers to power and materials it also refers to human expertise to generated something.
Key words:
BAB I
PENDAHULUAN
Banyak hal yang diungkapkan melalui relief. Ada yang berhubungan langsung dengan keadaan yang kini dapat ditemukan di Jawa atau di tempat lain, tetapi sebagian lainnya hanya dapat ditelusuri melalui dokumentasi foto. Hal ini menyebabkan penelitian terkait relief menjadi menarik, karena tidak hanya berhubungan dengan masa lampau, tetapi juga dengan perkembangannya hingga masa sekarang (Kempers, dalam Atmadi, 1979:13).
Salah satu relief yang menarik untuk diteliti ialah relief di Candi Borobudur. JG de Casparis dalam Haryono (2011), menyatakan bahwa secara
etimologis Borobudur berasal dari kamulan i Bhumi Sambhāra yang tertulis
dalam prasarti Çri Kaluhunan 842 M yang bermakna sebuah bangunan permujaan untuk Kamulan (asal-usul dinasti ailendra) bernama Bhūmisambhāra.
Candi Borobudur menggambarkan makrokosmos yang berkaitan dengan
Buddha, yang juga dapat dihubungkan dengan konsep Tridhatu, yaitu
kamadhatu, tingkat pertama, merupakan tingkat dunia manusia biasa yang masih
terkait dengan nafsu. Rupadhatu, tingkat kedua, yaitu dunia manusia yang masih terkait dengan rupa namun telah mampu mencapai kesempurnaan. Tingkat ketiga yaitu Arupadhatu, merupakan tingkat dunia kedewaan yang mengandung
makna tidak berbentuk (Haryono, 2011:12-13). Pada masing-masing tingkatan
2
1. Karmawibhangga
Bagian ini ditemukan di kaki candi asli yang saat ini ditutup kaki tambahan sehingga tidak dapat dilihat. Relief pada tingkatan ini menceritakan tentang hukum sebab akibat atau hukum karma manusia. Semua relief yang terdapat pada tingkatan paling bawah melambangkan kehidupan dengan dunia materi yang mementingkan aspek duniawi (lihat gambar I.I).
2. Lalitavistara
Arti dari Lalitavistara ialah kisah sandiwara, yang menceritakan kehidupan Buddha di dunia yang dianggap sebagai sandiwara. Dikisahkan, kehidupan sang Buddha sejak dilahirkan kembali menjadi
Pangeran Sidharthā hingga mengalami pencerahan dan menyebarkan
Dharma untuk pertama kalinya. Dunia yang digambarkan dalam tingkatan ini ialah gambaran dunia yang tenang dan damai, walaupun masih terkait dengan kehidupan duniawi. Relief digambarkan di teras pertama pada dinding bagian atas (lihat gambar I.I).
3. Jataka
Dalam kisah ini diceritakan peristiwa yang dialami Buddha dan kehidupan Buddha yang telah lalu. Jataka mengisahkan Buddha ketika beringkarnasi menjadi hewan. Relief terletak pada bagian atas dan bawah pagar langkan tingkat ke-1 dan tingkat ke-2 (lihat gambar I.I).
4. Avadana
kisah tentang Pangeran Sudhana dan Putri Manohara. Relief terletak pada dinding bagian bawah tingkat ke-1 (lihat gambar I.I).
5. Gandavyuha
Kisah ini menceritakan Bhodhisatva dalam pengembaraannya untuk melakukan kebajikan Buddha yang dilakukan tanpa mengenal lelah agar mencapai kesempurnaan. Relief terletak pada dinding dan pagar langkan tingkat ke-3 dan pagar langkan tingkat ke-4 (lihat gambar I.I).
6. Bhadracari
Kisah ini merupakan penutup kisah sang Bhodhisatva. Dikisahkan Pangeran Sudhana yang bertekat menaati ajaran Samantabadra, sebagai tokoh Buddha akhir zaman. Relief terletak pada dinding tingkat ke-4 (lihat gambar I.I).
Cerita dalam relief-relief yang terdapat pada bagian candi merupakan mahakarya yang mereprentasikan kehidupan masyarakat Jawa Kuna melalui pahatan. Meskipun tema cerita pada relief bukan kisah asli dari Jawa Kuna, namun cara penggambaran sosok tubuh manusia, jenis binatang dan pepohonan serta bentuk-bentuk bangunan yang tampil dalam relief memiliki ciri Jawa yang Khas (Kusen, 1985:28).
Sehubungan dengan hal keterangan di atas, relief merupakan data yang dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengetahui keadaan masyarakat pada masa relief tersebut dibuat. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya beberapa kemiripan antara gambar yang digambarkan dengan sumber-sumber tertulis (Astuti, 1987:133).
4
mengelilingi candi searah dengan jarum jam, sehingga bangunan ada di sebelah kanan. Cara ini merupakan salah satu cara penghormatan kepada dewa dan memiliki makna tiada awal dan tiada akhir. Hal ini berkaitan dengan hidup, kehidupan, dan kehidupan setelah kematian (Haryono, 2011:7).
Relief yang ada di Borobudur berjumlah 1.460 buah panil, menghiasi 1900 m² area bangunan, mulai dari bagian kaki yang tertutup di bagian Kamadhatu hingga teras dua di Rupadhatu, sedangkan di bagian Arupadhatu
tidak terdapat relief. Hal tersebut dikarenakan tingkatan Arupadhatu memvisualisasikan nirwana sehingga tidak ada lagi hal-hal yang menyangkut rupa, sebagai perwujudan keduniawian (Miksic, 1991:39-42).
Dalam relief Borobudur, setiap tokoh yang di pahatkan mengenakan perhiasan. Ragam perhiasan yang dikenakan cukup bervariasi, mulai dari perhiasan yang sederhana hingga perhiasan yang sangat raya. Oleh karena itu, di antara sejumlah relief yang ada di Candi Borobudur, penulis tertarik untuk
Gambar 1.1
menelusuri Relief Lalitavistara, khususnya pada ragam perhiasan yang dikenakan para tokoh yang ada dalam relief cerita Lalitavistara.
Relief Lalitavistara menggambarkan perjalanan Boddhisatva yang diturunkan dari Swarga Tushita menjadi manusia, yang kemudian dikenal dengan sebutan Buddha Sakyamuni. Dalam kehidupannya, Ia bertugas menyebarkan kebajikan serta melepaskan samsara pada umatnya.
Dikisahkan bahwa Boddhisatva dilahirkan kembali menjadi manusia, menitis pada seorang pangeran dari Kerajaan Kapilawastu, India. Ia terlahir
sebagai putra Raja Śuddhodana dan Permaisuri Māyādevi dengan nama
Sidharthā. Pangeran Sidharthā tumbuh menjadi manusia yang paling menonjol
dalam bidang ilmu pengetahuan dan pertarungan di antara manusia lainnya. Hingga pada akhirnya, Ia memutuskan untuk melakukan sebuah perjalan mencapai pencerahan, mencari kebahagiaan dan ketenangan menuju nirvana (Joesoef, 2004:102-112).
Cerita Lalitavistara berlatar istana, tetapi juga menggambarkan kehidupan sosial di luar istana. Hal tersebut dapat dilihat dari setting penggambaran kisahnya. Konteks adegan dalam relief menunjukkan perbedaan latar kehidupan di dalam dan di luar istana. Oleh karena itu, relief ini dipilih sebagai objek penelitian.
Terkait dengan stratifikasi masyarakat, masyarakat Jawa Kuna sudah mengenalnya, sebagaimana dikutip dari De Casparis, dalam Darmosoetopo (2003), bahwa di dalam masyarakat Jawa Kuna terdapat tiga lapisan sosial, yaitu kelompok agama, bangsawan, dan penduduk biasa. Lebih lanjut Darmosoetopo
(2003) menyebutkan bahwa dalam kelompok agama, terdapat para marhyang,
6
urusan upacara dan pengelolaan bangunan keagamaan. Kelompok bangsawan adalah orang-orang yang menjabat dalam stuktur pemerintahan baik di tingkat kerajaan maupun di luar kejaraan dan mempunyai lungguh. Penduduk biasa merupakan golongan yang cakupannya luas, terdiri atas beberapa kelompok, yaitu golongan petani, pedagang, pengusaha, pengrajin, dan termasuk juga hamba atau budak.
Stratifikasi masyarakat Jawa Kuna tersebut divisualisasikan dengan jelas dalam relief Lalitavistara. Visualisasinya dapat dilihat dari rangkaian cerita dan peristiwa yang diwujudkan dalam adegan-adegan pada relief. Perhiasan yang dikenakan para tokoh dalam relief ditengarai menjadi penanda yang membedakan tokoh satu dengan lainnya.
Stratifikasi masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: kualitas serta keahlian, senioritas, keaslian, hubungan kekerabatan, pengaruh dan kekuasaan, pangkat, serta kekayaan (Koentjaraningrat, 2005:161). Selain itu
terdapat prestige (gengsi) yang merupakan pandangan status atau kehormatan
dari berbagai kelompok yang merupakan suatu dimensi penting dalam stratifikasi sosial. Gengsi tersebut ditentukan oleh sistem nilai yang berlaku pada suatu masyarakat dan keutamaan fungsional yang terlihat dari berbagai macam kedudukan dalam masyarakat tersebut (Warner, 1949:438). Untuk kepentingan tersebut, diperlukan penanda berupa benda.
Keberadaan perhiasan sebagai penunjuk stratifikasi masyarakat Jawa
Kuna dapat ditelusuri melalui pasĕk-pasĕk yang diberikan sebagai hadiah. Dalam
upacara penetapan sima, para pejabat desa yang menghadiri upacara
penetapan sima mendapatkan pasĕk-pasĕk, baik berupa pakaian, perhiasan,
ataupun uang. Jumlah pasĕk yang diterima berbeda-beda antara pejabat satu
dengan lainnya. Perbedaan tersebut dilatari oleh status sosial para pejabat yang menerimanya (Darmosoetopo, 2003:154-155).
RUMUSAN MASALAH
Melalui uraian di atas diketahui bahwa perhiasan memiliki peran sebagai penanda status sosial. Dalam Relief Lalitavistara di Candi Borobudur, ditemukan gambaran akan stratifikasi masyarakat. Salah satu penanda stratifikasi masyarakat tersebut adalah perhiasan yang dikenakan tokoh dalam relief. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji ragam perhiasan dan bagaimana keterkaitannya dengan stratifikasi masyarakat. Adapun permasalahan yang dikaji, yaitu:
1 Apa saja ragam perhiasan yang dikenakan para tokoh dalam cerita Lalitavistara?
8
TUJUAN PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi ragam perhiasan yang dikenakan para tokoh dalam cerita Lalitavistara.
2. Mengelompokkan perhiasan berdasarkan kedudukan tokoh yang mengenakan.
3. Mengidentifikasi perhiasan yang dapat menjadi penanda status dalam stratifikasi sosial masyarakat.
RUANG LINGKUP PENELITIAN
Penelitian ini memfokuskan pada perhiasan yang dikenakan oleh para tokoh dalam relief Lalitavistara. Selain menceritakan kisah lahirnya ajaran Budhis, dalam visualnya Lalitavistara menyuguhkan keragaman kehidupan sosial, yang ditunjukkan antara lain melalui banyak tokoh dan perhiasan yang dikenakan. Dalam kajian ikonografi perhiasan yang dikenakan tokoh disebut abharana, yaitu pakaian dan perhiasan yang dikenakan ikon.
Lingkup kajian dalam penelitian ini ialah kajian ikonografis. Dalam cakupan besar, rangkaian pigura-pigura yang menggambarkan cerita dapat dipandang sebagai ikon dari karya sastra, baik yang disampaikan secara lisan ataupun tertulis. Dalam cakupan yang lebih kecil, cakupannya mengacu pada situasi kehidupan manusia yang mewakili kondisi pada saat pembuatan candi (Sedyawati, 1994:65).
tingkat keterincian bentuk dan jumlah perhiasan yang dikenakan sehingga dapat menunjukan status sosial tokoh dalam relief.
KEASLIAN PENELITIAN
Penelitian tentang stratifikasi dan perhiasan dengan objek relief sebenarnya sudah dilakukan. Akan tetapi, penelitian tentang perhiasan sebagai penanda stratifikasi sosial pada masyarakat berdasarkan Relief Lalitavistara, belum dilakukan. Artinya penelitian-penelitian terdahulu, baik tentang perhiasan maupun tentang stratifikasi sosial tidak saling dikaitan.
Penelitian yang dilakukan Edi Sedyawati dengan judul Saiwa dan Bauddha di Masa Jawa Kuna (2009), menjelaskan perkembangan Agama Hindu dan Buddha. Di dalamnya juga memaparkan pengarcaan beserta ragam hias pada arca secara umum dan tidak spesifik. Penelitian tersebut mendeskripsikan banyak relief dan arca dari berbagai candi di Jawa, tidak terfokus pada satu cerita relief dan candi. Hasilnya tidak membuat tipologi perhiasan dalam kaitannya dengan golongan masyarakat yang tergambar pada relief.
Penelitian Hendrika Tri Sumarni (2000) yang berjudul Variasi Pakaian dan Perhiasan Arca Batu Durga Mahisasuramardhini Koleksi Museum Nasional Jakarta, menghasilkan tipologi perhiasan yang dikenakan Durga dan gambaran sosial budaya pada masa tersebut. Penelitian tersebut menunjukkan variasi perhiasan, akan tetapi tidak digunakan untuk melihat stratifikasi masyarakat.
10
juga mengidentifikasi perhiasan sebagai pelengkap pakaian yang dikenakan bangsawan. Walaupun dalam penelitian tersebut juga dipaparkan penggolongan masyarakat, namun penelitiannya hanya terfokus pada golongan bangsawan saja.
Penelitian yang dilakukan oleh Inda Citraninda Noerhadi (2012), dengan judul Busana Jawa Kuna, menghasilkan beberapa tipologi pakaian yang dikenakan masyarakat Jawa Kuna melalui Relief Karmawibhangga Candi Borobudur. Meskipun dalam penelitian tersebut disebutkan perhiasan yang menjadi salah satu tolok ukur statifikasi masyarakat, akan tetapi identifikasi perhiasan dalam penelitian tersebut bersifat permukaan dan tidak mendalam.
METODE PENELITIAN
Untuk menjawab permasalah yang dikemukakan dalam penelitian ini, kajian yang digunakan ialah studi Ikonografi. Ikonografi adalah kajian tentang identifikasi, deskripsi dan interpretasi ikon berdasarkan atribut yang menjadi penandanya. Salah satu bagian dari penanda ikon adalah abharana, yang terdiri atas pakaian dan perhiasan. Kemudian hasil identifikasi perhiasan dikaitkan dengan stratifikasi masyarakat yang ada dalam relief.
tolak penyimpulan. Konsep-konsep dan definisi oprasional digunakan sebagai pengarah dalam penelitian.
Dengan demikian, sifat penelitian ini ialah deskriptif. Pada hakekatnya, bertujuan untuk memberikan gambaran suatu fakta atau gejala tertentu yang diperoleh dalam penelitian. Dengan demikian penelitian ini mengutamakan kajian data, yang dikaitkan dengan kerangka ruang, waktu, dan bentuk (Tanudirjo, 1988:34).
Terdapat 120 panil dalam Relief Lalitavistara yang digunakan sebagai data. Akan tetapi tidak seluruh panil dalam Lalitavistara digunakan sebagai data. Data dipilih dengan menggunakan teknik Purposive Sampling (Mantra, 1989:155). Penggunaan purposive sampling dikarenakan ditemukan beberapa relief dalam kondisi yang sudah tidak baik dan juga terdapat tokoh yang sama dalam beberapa relief, maka data relief yang diambil merupakan relief dengan kondisi baik dan terdapat tokoh yang dapat mewakili keseluruhan cerita Lalitavistara. Kriteria yang digunakan untuk memilih sample adalah tokoh, yang mewakili stratifikasi masyarakat yang digambarkan dalam relief. Cerita Lalitavistara sudah teridentifikasikan sampai dengan tokoh yang digambarkan. Acuan identifikasi cerita menggunakan publikasi yang ditulis oleh Pleyte (1901) dan Leber (2011).
12
1. Tahap Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan terhadap data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan cara pengamatan, pengenalan dan pendokumentasian tokoh dan perhiasan yang dikenakan. Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka, berupa semua informasi baik tentang perhiasan dan stratifikasi masyarakat Jawa Kuna sebagai data pendukung.
2. Tahap Pengolahan Data
Dalam pengolahan data dilakukan pemilihan relief terbaik yang mewakili keseluruhan tokoh dalam cerita. Kemudian dilakukan pendeskripsian, berupa penjelasan secara naratif (Riyanto, 2000:10) terhadap panil-panil relief terpilih. Dalam prosesnya tersebut dilakukan deskripsi cerita, dengan fokus perhiasan yang dikenakan para tokoh.
3. Tahap Analisis Data
Analisis data dilakukan untuk menjawab permasalahan yang ada. Analisis yang pertama ialah pembuatan tipologi perhiasan, untuk memperoleh ragam perhiasan yang dikenakan tokoh.
Pembuatan tipologi perhiasan yang dikenakan tokoh dalam Relief Lalitavistara dibuat berdasarkan kenampakkan morfologisnya. Melalui pengelompokan perhiasan yang digunakan oleh para tokoh, dapat diketahui variasi dan jumlah perhiasan yang dikenakan.
Dengan mengetahui variasi dan jumlah perhiasan yang dikenakan setiap tokoh dalam Relief Lalitavistara, maka dapat dilihat status sosial pengguna perhiasan. Kemudian, dapat digolongkan dari strata manakah tokoh-tokoh tersebut.
4. Tahap Interpretasi
Setelah mengetahui hasil dari analisis tipologi perhiasan maka dapat dilakukan pemilahan golongan dalam stratifikasi masyarakat yang tergambar dalam relief Lalitavistara, hasil dari analisis tersebut diinterpretasi untuk mencari makna dan implikasi dari hasil penelitian (Effendi, 1989:263). Oleh sebab itu, analisis tipologi menjadi interpretasi yang menghasilkan kesimpulan yang dapat menjawab seluruh permasalahan yang diajukan sebelumnya.
5. Tahap Kesimpulan
BAB II
STRATIFIKASI MASYARAKAT JAWA KUNA DAN ATRIBUTNYA
A. Stratifikasi Sosial
Perbedaan sosial pada masyarakat yang diurutkan secara bertingkat merupakan definisi stratifikasi masyarakat. Sistem stratifikasi dapat ditemukan dalam berbagai kualifikasi sosial, sebagai contoh kelas sosial, ras, gender yang dapat dikaitkan dengan status dan pestige. Pada masyarakat modern stratifikasi menekankan pada kualitas ekonomi, sedangkan pada masyarakat tradisional, kuna dan feodal stratifikasi ditekankan pada prinsip status (Abercombie, 2010:155).
Hal-hal yang dapat dilihat dari ketidaksamaan tersebut ialah sebagian anggota masyarakat memiliki kekuasaan dan sebagian lainnya dikuasai. Masyarakat pun dibeda-bedakan berdasarkan golongan yang terbentuk sendirinya. Golongan yang tercipta dalam masyarakat biasanya berdasarkan garis keturunan, kekayaan atau penghasilan, dan prestige. Pembedaan anggota masyarakat berdasarkan status sosial yang dimilikinya dinamakan stratifikasi sosial (Sunarto, 1993:83).
Stratifikasi sosial dalam masyarakat terbagi menjadi dua sifat, yaitu yang bersifat tertutup (closed social stratification) dan yang terbuka (open social stratification). Stratifikasi sosial yang bersifat tertutup membatasi seseorang
dalam kelompoknya untuk berpindah dari lapisan yang satu ke lapisan lainnya. Dalam sistem ini, satu-satunya cara untuk masuk menjadi anggota lapisan masyarakat ialah karena keturunan. Sementara dalam sistem yang bersifat terbuka, setiap anggota masyarakat berkesempatan untuk berpindah ke lapisan lainnya, atas usahanya sendiri. Namun ada kalanya jika tidak berusaha dapat jatuh kelapisan yang lebih bawah (Arimbawa, 1999:4). Sebagai contoh dari stratifikasi yang bersifat tertutup (closed social stratification) ialah seorang anak laki-laki pertama dari seorang raja, walaupun tidak memiliki kecakapan dalam memimpin sebuah kerajaan, kelak Ia akan memimpin kerajaan untuk menggantikan posisi ayahnya. Sebaliknya, contoh dari stratifikasi yang bersifat terbuka (open social stratification) ialah seorang anak dari keluarga strata bawah mampu berpindah posisi sosial ke strata yang lebih tinggi dikarenakan kecapakannya, misalnya dalam ilmu dagang atau ilmu pengetahuan.
16
Brahmana, Ksatrya, Waisya, dan Sudra. Akan tetapi, stratifikasi masyarakat Jawa Kuna tidak semata-mata sama dengan stratifikasi berdasarkan catur warna seperti yang dikemukakan di India. Nastiti (2009, 56-58) mengemukakan bahwa stratifikasi sosial masyarakat Jawa Kuna berdasarkan profesi, meskipun menggunakan sebutan seperti catur warna yang ada di India.
Menurut Sumadio, dalam Nastiti (2009, 58) seorang kasta Brahmana, merupakan kasta tertinggi dalam masyarakat, dapat menduduki jabatan dalam struktur birokrasi di tingkat desa, tingkat watak, hingga tingkat pusat. Akan tetapi, sang pamagat tiruan yang berasal dari kasta Ksatrya menduduki jabatan
keagamaan di tingkat pusat atau menjadi petapa yang tinggal di biara. Hal tersebut menunjukan ketimpangan antara fungsi dari kasta dengan aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, penggolongan masyarakat pada tiap zamannya memiliki perbedaan. Lebih lanjut dalam bab ini akan di paparkan gambaran stratifikasi masyarakat berdasarkan prasasti yang ditemukan pada kerajaan di wilayah Jawa.
1. Masyarakat Mataram Kuna
Berdasarkan prasati-prasasti yang ditemukan, terdapat setidaknya lima golongan masyarakat yang ditengarai berdasarkan kekuasaan, sebagaimana disebutkan oleh beberapa ahli inskripsi, sebagai berikut:
1.1 Rakryan
Rakryan yang secara harfiah artinya saudara tertua, merupakan gelar
untuk raja, sebagaimana pada kutipan Prasasti Waharu (873M) disebutkan: “… tatkala sang hadyan kuluptiru kapwānakan rakryan tolobong (?) manusuk sīma lmah waharu...”
“… ketika sang hadyan Kuluptiru keponakan Rakryan Tolobong (?) menetapkan daerah perdikan tanah di Desa Waharu…”
Dari kutipan prasasti di atas, Jones (1984) menjelaskan, Rakryan merupakan gelar raja yang digunakan dalam beberapa inskripsi di Jawa Tengah pada abad VIII – X, akan tetapi, dalam beberapa insripsi yang ditemukannya Rakyan juga digunakan untuk menyebutkan istri raja.
1.2 Hino
Hino merupakan gelar putra mahkota, sebagaimana Jones (1984)
menjelaskan bahwa Hino ialah gelar orang kedua dalam kerajaan. Kelak seseorang yang bergelar Hino akan menjadi raja, sebagaimana disebutan antara lain dalam prasari Sri manggala II dan Panggumulan I.
1.3 Halu
Halu merupakan golongan keturunan raja yang statusnya di bawah
keluarga raja, dapat diartikan sebagai sepupu atau saudara jauh keluarga kerajaan. Jones (1984) menjelaskan dalam beberapa inskripsi di Jawa tengah Halu selalu disebutkan setelah Hino.
1.4 Sang Aden, Para Handyan dan Sang Nganden
Istilah tersebut merupakan kelompok masyarakat terhormat, termasuk bangsawan namun kedudukannya di bawah keturunan raja dan samanak yang hubungan kekerabatannya lebih dekat dengan raja, hal tersebut antara lain ditunjukkan melalui Prasasti Waharu (873M):
“… tatkala sang hadyan kuluptiru kapwānakan rakryan tolobong (?) manusuk sīma lmah waharu...”
Artinya:
18
Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa Sang Aden kemudian berubah menjadi Sang Raden, Rahardyan, atau Raden. Gelar tersebutpun masih dikenal dalam masyarakat Jawa masa kini. Dalam surat sarasilah kraton Yogyakarta, gelar raden digunakan oleh keturunan kelima dan seterusnya dalam silsilah keturunan keluarga kerajaan (Atmodjo, 1979:29).
1.5 Si
Si, merupakan nama depan yang digunakan untuk menyebutkan orang
kebanyakan atau orang dari golongan rendah. Dalam prasasti Tlang (903 M) dan prasasti Poh, ditemukan lebih sedikit nama-nama orang yang menggunakan Bahasa Sansekerta dan ditemukan banyak nama lokal yang berawalan Si. Dari temuan tersebut dapat dilihat bahwa orang-orang yang menggunakan nama Sansekerta ialah orang-orang yang berasal dari golongan yang lebih tinggi, sedangkan sebutan Si diperuntukkan bagi orang-orang yang golongannya lebih rendah (Atmodjo, 1979:33).
B. Atribut Dalam Stratifikasi Sosial
Hampir dalam semua masyarakat terdapat gejala bahwa orang yang memiliki kedudukan tertentu cenderung bergaul dengan orang-orang dengan kedudukan yang sama, sehingga terbentuk lapisan sosial. Setiap golongan sosial tersebut kemudian memiliki cara dan gaya hidup tertentu pula untuk menunjukan identiasnya. Salah satunya dengan gelar yang dimiliki serta hak-haknya dan atribut yang dikenakan dalam berkehidupan sosial (Koentjaraningrat, 2005:161-170).
menggunakan senjata dan barang perhiasan ialah orang-orang yang sudah mendapat izin raja. Izin tersebut diberikan dikarenakan dua alasan:
1. Karena jasa-jasa kepada raja atau kerajaan, maka rakyat pada suatu daerah diizinkan atas barang-barang yang ditetapkan oleh raja untuk dimiliki ataupun dikenakan.
2. Karena daerah mereka telah dijadikan daerah perdikan (Boechari, 1977: 38-40).
Beberapa bait dari prasasti Humading 797 menyebutkan pembagian
hak upeti dari sebidang sawah yang dijadikan sīma bangunan prāsādā di
Gununghyang, sebagai berikut:
“(3) hārāja rakai kayuwaňi anun inaňsĕan pasak pasak wyawastha nin manusuk sīma//samgat wadihatu pu mananggih sisim pasada (4) woh 1 wrat mā 8 wdihan aňsit yu 1 tuhan 2 mirah mirah si guwar. Span si wadag sisim pasada who 2 wrat mā 8 wdihan (5) aňsit yu anun kinon milua manusuk sīma. Kuwu si agama sisim pasada woh 1 wrat mā 4 wdihan aňsit yu 1”
Artinya:
“(3) haraja Rakai Kayuwangi. Yang diberi pisung (demi) tegaknya
penetapan sīma (mereka adalah) Samngat Wadihati pu Managih (diberi) cincin
pasada (4) sebuah berat 8 mā bĕbĕd angsit 1 yu. Tuhan dua (dari) mirah-mirah
si Guwar (dan) si Wadag (medapat) cincin pasada 2 buat berat 8 mā bĕbĕd (5)
Angsit 2 yu. Yang disuruh mengikuti menetapkan sīma kuwu si agama
(mendapat) cincin pasada sebuah seberat 4 mā bĕbĕd angsit 1 yu”
(Darmosoetopo, 2009:285).
Dari beberapa bait pada prasasti Humading 797 , dapat dilihat bahwa hanya orang-orang tertentu yang medapat cincin pasada dengan berat yang berbeda sesuai dengan kedudukan mereka di watak. Hal tersebut menunjukan cincin yang merupakan bagian dari perhiasan ialah benda mewah dan termasuk dalam atribut golongan tertentu (Darmosoetopo, 2009:285).
20
berfungsi sebagai penunjuk status sosial dan identitas seseorang, serta media estetika bagi seorang seniman (Drutt dalam Lufiani, 2009:261).
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa di samping fungsinya sebagai sarana berhias, perhiasan juga memiliki nilai-nilai simbolik atau maksud-maksud tertentu yang berhubungan dengan pandangan hidup dari pemakainya ataupun penciptanya. Dengan demikian, perhiasan memiliki fungsi praktis, sosial, dan sekaligus simbolis (Marwoto, 1992:25-26).
Bentuk perhiasan tidak selalu kaku, misalnya gelang yang hanya berbentuk lingkaran dan dikenakan di tangan. Namun, gelang dapat mempunyai ornamen atau motif hias tertentu. Motif hias adalah pangkal atau dasar dari sebuah kesenian dan apabila telah disusun dengan teknik tertentu akan menjadi sebuah ornamen yang bertujuan menambah nilai keindahan objek yang diberi ornamen. Seringkali ornamen juga dibuat untuk menyampaikan pesan tertentu, misalnya untuk menunjukkan status seseorang (Marwoto, 1992:24).
Menurut kitab Shilpa Shastra yang di kutip dari Liebert (1976), Rao
Karna Pushpa
Keyura Cannavira
Gambar 2.1
Perhiasan Pada Tokoh Wanita Sumber: Stapati (2002) dan Rao (1992)
Kiritamakuta
Kundala
Hara
Skandhamālā
22
Padasaras Padavalaya
Muktadāma Kankana Katisūtra Keyura
Udara Bandha Upavita
Bhujangavalaya Graiveyaka Hara
Karna Pushpa karandamakuta
Gambar 2.2
Dari gambar 2.1 dan gambar 2.1 diketahui perhiasan yang dikenakan tokoh atau ikon wanita dan pria terdiri atas:
1. Kiritamakuta
Kirita makuta adalah tata rambut yang menyerupai mahkota. Rambut
disusun sedemikian rupa hingga bagian bawah berbentuk bundaran makin naik ke atas bundaran tersebut berukuran semakin kecil dan juga diberi hiasan untaian manik-manik ataupun bunga (lihat gambar 2.1). 2. Karandamakuta
Karanda makuta adalah mahkota yang berbentuk seperti keranjang
yang mengerucut pada bagian atasnya. Berhiaskan ukiran-ukiran floral untuk memperindah mahkota (lihat gambar 2.2).
3. Karna pushpa
Karna Pushpa adalah untaian bunga yang disisipkan di atas telinga
sebagai pelengkap, untuk menghiasi area kepala (lihat gambar 2.1 dan gambar 2.2).
4. Kundala
Kundala ialah hiasan telinga berbentuk bulat dan bagian tengahnya
dihiasi mutiara bentuk lain kundala berbentuk segitiga atau lingkaran yang masuk ke dalam lubang telinga (lihat gambar 2.1 dan gambar 2.2).
5. Hara
Hara adalah kalung yang melekat ketat pada leher, dihiasi permata
24
6. Skandhamālā
Skandhamālā adalah kelat bahu yang menghiasi bahu kanan dan kiri yang terkait dengan hara, biasanya dikenakan oleh tokoh wanita (lihat gambar 2.1).
7. Bhujangavalaya
Bhujangavalaya adalah kelat bahu yang menghiasi bahu kanan dan
kiri yang terkait dengan hara biasanya dikenakan oleh tokoh pria (lihat gambar 2.2).
8. Cannavira
Cannavira ialah hiasan berbentuk rantai yang melingkari leher dan
menyilang dada dari bagian depan hingga belakang (lihat gambar 2.1). 9. Upavita
Upavita ialah selempang dada yang dikenakan dari bagian bahu kiri
melingkar ke dada hingga bagian pinggang kanan. Upavita dapat berupa untaian manik-manik, pita, atau tali (lihat gambar 2.2).
10. Udara bandha
Udara bandha ialah ikat pinggang, berbentuknya dapat sederhana
atau dengan hiasan mutiara atau permata (lihat gambar 2.2). 11. Keyura
Keyura adalah hiasan pada lengan, bentuknya bervariasi ada yang
polos dan ada juga yang diberi hiasan, misalnya bunga atau mutiara yang membentuk huruf ‘V’ (lihat gambar 2.1 dan gambar 2.2).
12. Kankana
1,3,5,7,9 atau 11 buah gelang. Bentuknya bervariasi ada yang polos ada yang diberi hiasan (lihat gamabar 2.1 dan gamabr 2.2).
13. Anguliya
Anguliya adalah cicin yang berhiaskan bunga dan batu permata yang
dikenakan pada seluruh jari, kecuali pada jari tengah (lihat gambar 2.1). 14. Katisūtra
Katisūtra atau mekalai digunakan pada bagian pinggul, biasanya
dihiasi oleh permata dan mutiara (lihat gambar 2.1 dan gambar 2.2).
15. Muktadāma
Muktadāma ialah bagian dari rangkaian Katisūtra, yang merupakan pengikat antara kain dan perhiasan (lihat gambar 2.1 dan gambar 2.2). 16. Padavalaya
Padavalaya adalah gelang kaki yang berbentuk lingkaran, biasanya
dikenakan lebih dari satu, biasanya tiga atau lima buah pada setiap kakinya (lihat gambar 2.1 dan 2.2).
17. Padasaras
Padasaras ialah gelang kaki yang berbentuk rantai (lihat gambar 2.1
dan gambar 2.2).
Selain yang sudah disebutkan, terdapat beberapa perhiasan lainnya yang terdiri atas:
18. Jatamakuta
Pada intinya jatamakuta adalah mahkota yang disusun dari rambut dan dibentuk seperti bentuk piramida. Tata rambut seperti ini memiliki
sejumlah variasi bentuk dan hiasan yang disebut purinam. Purinam
26
teratai. Pada puncak hiasan rambut terdapat hiasan berbentuk teratai dengan kelopak terbuka. Untaian mutiara diikat di sekitar kepala untuk mengikat rambut. Ornamen tersebut adalah pattigai untuk menambah keindahan pada wajah. Bunga atau karna pushpa juga ditambahkan pada tingkat atas pattigai, satu di tengah dahi, dan dua lagi di atas telinga. Simpul ini ditutupi dengan deretan mutiara yang menghiasi (lihat gambar 2.3).
Gambar 2.3 Jatamakuta (sumber: Sthapati, 2002) 19. Thoyyaham
Thoyyaham merupakan hiasan rambut yang berbentuk liontin di
Gambar 2.4 Thoyyaham (sumber: Sthapati, 2002) 20. Jamang
Jamang merupakan hiasan kepala yang dikenakan melingkari kepala
dengan motif simbar (lihat gambar 2.5).
Gambar 2.5 Jamang (sumber: Astuti, 1987)
BAB III
HUBUNGAN ANTARA PERHIASAN DAN STRATIFIKASI SOSIAL DALAM
CERITA RELIEF LALITAVISTARA
Bab ini berisi deskripsi dan analisis perhiasan. Dalam pendeskripsiannya, tidak hanya disebutkan jenis perhiasan akan tetapi juga tokoh yang mengenakannya. Oleh sebab itu, bab ini juga membahas konteks antara perhiasan dan tokoh dalam cerita relief Lalitavistara yang mewakili stratifikasi sosial.
A. Cerita Lalitavistara
Lalitavistara ialah teks cerita dari ajaran Buddha Mahayana yang
menceritakan Boddhisatva yang beringkarnasi menjadi Pangeran Sidharthā
untuk mendapatkan pencerahan. Cerita Lalitavistara dikisahkan dalam 120 panil pada lorong pertama candi Borobudur (Miksic, 2007:209).
Candi Borobudur terletak di pusat Pulau Jawa, dengan posisinya yang menjulang dikelilingi Bukit Menoreh, yang membujur dari arah timur ke barat serta gunung-gunung berapi, Merapi dan Merbabu di sebelah timur, Sumbing dan Sindoro di sebelah barat. Borobudur terletak di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (Soetarno, 2003: 71).
Bangunan Borobudur pada hakikatnya adalah stupa, yang didirikan di atas punden berundak berbentuk bujur sangkar. Bentuk kesemuanya ada sepuluh tingkat. Enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa induk sebagai puncaknya (lihat gambar 3.1).
Gambar 3.1
Bentuk Bangunan Borobudur (Sumber: Puspitasari dkk, 2011:4)
Secara kosmologis, Borobudur merupakan replika alam semesta yang dibagi menjadi tiga alam. Alam tertinggi ialah Arupadhatu, diwujudkan sebagai bagian tertinggi Borobudur yang diinterpretasikan sebagai alam yang abstrak dan tidak berwujud. Alam kedua ialah Rupadhatu atau alam bentuk yang tarafnya lebih tinggi dari dunia indria atau dunia kehidupan manusia biasa, manusia yang terhitung sebagai Boddhisatva yang menempati alam tersebut. Alam ketiga ialah Kamadhatu, yang merupakan tempat kehidupan manusia biasa dan hewan yang
at gambar 3 yambut kela uk relief. Re hatu (lihat ga ritakan perj atan Rupad f Candi Bo eh teks Saw
ap sebagai
20 panil Lal .2) yaitu: ahiran Boddh
remaja pang an dan pelep autama seba n pemutaran
G
t berbagai elief tersebu
itavistara, d
hisatva
geran Siddhā
pasan Siddh agai pertapa
roda dharm
Gambar 3.2
cerita tau t dapat dite
geran Sidha ayat hidup
ebagaimana Sansekerta
u teks pent
dapat diketa ting dalam
agorikan me
mbara
31
dha, yang a tingkatan
tama yang ha seperti kan Leber alitavistara.
kitab-kitab
1. Episode Menyambut kelahiran Terakhir Sang Buddha
Episode ini dimulai ketika Sang Bhoddhisatva berada di Swarga Tushita, memberitahukan kepada para dewa tentang waktu kelahirannya sebagai manusia setelah berkalpa-kalpa menyempurnakan diri. Para dewa pun menjelma
menjadi Brāhmana, membantu persiapan untuk menyambut kedatangan makhluk
Agung (Leber, 2011).
Setelah dikabarkan Buddha akan turun ke dunia, kemudian ditentukannya
tempat, keluarga, dan bentuk kelahiran Buddha, yaitu di wilayah Wārā as
(Benares India). Para Pratyeka Buddha yang menetap disana memberi tempat bagi kedatangan Buddha. Para resi tersebut segera pergi ke nirvana. Sebelum turun ke dunia, sang Boddhisatva menyerahkan mahkotanya kepada Maitreya, calon pengganti Buddha yang akan datang.
Ratu Māyādev , istri Raja Śuddhodana dari Kapilawastu, dipilih menjadi ibu
untuk Buddha. Ia belum menyadari pilihan agung yang dijauhkan kepadanya.
Ratu Māyādev bermimpi seekor gajah putih kecil dan bergading emas masuk
ke dalam tubuhnya. Ratu Māyādev menceritakan mimpi yang dialaminya
kepada Raja Śuddhodana. Ia memohon kepada suaminya untuk meminta
brāhmana terpelajar menafsirkan mimpi tesebut.
Brāhmana meramalkan bahwa Ratu Māyādev dan Raja Śuddhodana akan
dikaruniai seorang putra, yang kelak menjadi penguasa dunia atau seorang
Buddha. Bahagia dengan penafsiran mimpi tersebut Raja Śuddhodana bermurah
hati memberikan penghargaan kepada para Brāhmana.
ratus gajah mengelilingi dan seluruh
Episode gambar 3.2 diidentifikas
1.1 Boddhis pada p
ushpa, hara
andha, katisū
ev mencap jud di hadap a menyakiti ersiap menya
isasikan dal panil-panil ai berikut:
gambaran B a 1, yang gan sikap
engenakan a, bhujanga
ūtra, dan pa
Rel Doku
pai bulan ter pan Sang R siapapun. S ambut kedat
lam 27 pane tersebut
Boddhisatva penggamb
tangan vit
perhiasan y avalaya, key
adasaras (lih
Foto 3.1 lief no seri Ia
mentasi: Pe
rakhir, yaitu Raja dan ana
Sebuah ked tangan Budd
el, yaitu pan terdapat s
dapat diide arannya te tarka mudra
yang paling r yura, kankan
at foto 3.1 d
a 1 enulis
bulan ke se ak-anak sing erletak di t ra dan sik
raya, yaitu ja na, anguliya
dan gambar
33
puluh, lima ga berjalan sar datang
Ia 27 (lihat okoh yang
elalui cerita tengah. Ia kap duduk atamakuta,
a, upavita,
1.2 Dewa, p an yang seru annavira, ke
mbar 3.4). enis perhiasa
ran dewa da penggamba ayang. Terd upa. Perhias eyura, kanka G an pada toko Sumb
apat diident arannya terle dapat dua o san yang dik
ana, katisūtr ber: Pleyte, 1
tifikasikan m etak pada ba orang dewa kenakan ialah
ra dan pada Makuta agian atas d a mengenak
kripsi cerita dalam panil
kan ragam a, kundala,
si pada cerit nginya deng , hara, upa aya (lihat fot
Jenis perh
ja Śuddhod
ta panil no. gan payung avita, udara
to 3.3 dan ga lief no seri Ia mentasi: Pe
Gambar 3.4 a tokoh Dewa
ber: Pleyte,
gaimana dii pit oleh beb ngenakan p
keyura, ka
a, gambar fo 1901
identifikasika berapa peng
perhiasan ja
ankana, kati makuta
an melalui gawal yang atamakuta,
1.4 Ratu, pe
ana diapit uta, karna p
gambar 3.6) Jenis per
an seorang da cerita pan
oleh daya pushpa, can
).
ratu dapat d nil no. Ia 17 ang-dayang. nnavira, key Foto 3.3 a tokoh Raja ber: Pleyte, 1
diidentifikasi , penggamb . Ratu me yura, kankan
a 16
wan pria, pe deskripsi arkan dua rupa, terdiri mbar 3.7).
an seorang b a panil no gsawan mem
makuta, kun Foto 3.4 tokoh Ratu ber: Pleyte, 1
bangsawan . Ia 22, d mberi sedek ndala, hara,
16
, gambar fot 1901
dapat diiden dalam pani kah. Atribut , keyura (lih to no 3.4
37
ntifikasikan il tersebut
1.6 Dayang-k berisi pers am, karna p san pada tok
Sumb
an dayang panil no. Ia a terletak di
memegang Perhiasan y dala, hara, k
Foto 3.5 ber: Pleyte, 1
-dayang d a 21. Terda
i sisi ratu at camara, ki yang dikena keyura dan k
22 tau raja. Par ipas, alat m akan sama, musik, atau
erita panil no
raja atau ra nakan perhia
a (lihat foto 3 enis perhias
mbaran peng o. Ia 25, ber atu dengan asan yang s 3.7 dan gam Relie Dokum
san pada tok Sum
gawal dapat rjumlah tiga atribut tong gkat, perisai i atas jaman 21
mbar foto no
39
1.9 Rakyat si cerita pada
engan perhia posisi di ba ke arah raja
(lihat foto 3. enis perhias
ggambaran a panil no. Ia asan hampir awah raja a a ataupun r
.8 dan gamb Reli Doku
G san pada tok Sumbe
rakyat jela a 23. Dalam r serupa. Pa atau ratu, d ratu. Perhias er: Pleyte, 19
ta dapat di m panil terseb
ada umumny
al, gambar f 901
identifikasik but terdapat ya, rakyat dig an sikap tan
ikenakan ja
foto no 3.7
Je
enis perhiasa
Rel Doku
G an pada toko Sumb
Foto 3.8 ief no seri Ia umentasi: Pe
Gambar 3.10 oh Rakyat Je ber: Pleyte, 1
a 23 enulis
0
elata, gamba 1901
j
k
ar foto no 3. jamang
kundala
41
Hasil identifikasi perhiasan yang dikenakan para tokoh pada episode 1 cerita relief Lalitavistara adalah sebagai berikut :
Keterangan:
: Atas ↖: Atas bagian kanan √: Ada
: Kanan ↗: Atas bagian kiri −: Tidak
: Kiri : Bawah bagian kanan
↔: Tengah : Bawah bagian kiri
Tabel 3.1
43
2. Masa Kecil dan Remaja Pangeran Sidharthā
Dalam episode ini dikisahkan masa kecil hingga remaja Pangeran Sidharthā
(Leber,2011). Adegan dimulai dari Ratu Māyādev berjalan di Taman Lumbin
yang permai. Sebatang pohon Plākşa raksasa membungkuk di hadapan Ratu
Māyādev untuk menghormati Sang Makhluk Agung yang segera dilahirkan.
Saat bersalin Ratu Māyādev meraih satu cabang pohon, Boddhisatva lahir dari
sisi kanan sang ibu tanpa menimbulkan rasa sakit.
Saat itu juga, Sang Mahkluk Agung, dengan ingatan dan pengetahuan yang lengkap, melangkah tujuh kali ke masing-masing arah mata angin. Pada saat Ia melangkah muncul sebuah teratai disetiap langkah kakinya.
Tujuh hari setelah kelahiran Pangeran Siddhārtha, Ratu Māyādev
meninggal dunia. Sejak saat itu, pangeran muda diasuh oleh bibinya,
Mahāprajāpat Gautam . Pangeran Siddhārtha berprestasi baik di sekolah.
Sejumlah kejadian istimewa mengukuhkan dirinya sebagai makhluk sempurna, seorang Buddha.
Pada usia tujuh tahun, Pangeran Siddhārtha mendapatkan pengalaman
meditasi yang mendalam untuk pertama kalinya. Pengalaman ini merupakan
sebuah tanda bagi Raja Śuddhodana untuk mengambil langkah pencegahan
agar Pangeran Siddhārtha tidak meninggalkan istana dan melepaskan hak
warisnya sebagai penerus takhta.
Salah satu bentuk pencegahan yang dimaksud ialah dengan menikahkan
Pangeran Siddhārtha dengan Gopā yang cantik dan menawan. Untuk
mendapatkan Gopā, Pangeran Siddhārtha harus membuktikan diri melalui
m
an seluruh emudian pas
d di hadapa menghadap ewa tersebut eyura, kanka
pangeran y sangan ters ewahan yang
sasikan dala panil-panil ai berikut:
an Vişņu, p
elalui panil an Boddhisa ke arah Pan t serupa, te ana dan katis
Rel Doku
yang mengik sebut meng g terlindungi
am 28 panil, tersebut
penggamba no. Ia 35 atva. Ketiga ngeran Sidd
rdiri atas jat sūtra (lihat fo
Foto 3.9 ief no seri Ia umentasi: Pe
kuti sayemb ghabiskan b in secara ke
, yaitu panil terdapat s
ran para d yang men a dewa dud
hārtha. Perh tamakuta, ka
oto 3.9 dan
a 35 enulis
bara. Putri beberapa ta etat.
no. Ia 28 – sejumlah to
dewa terse ngisahkan p
uk dalam s hiasan yang arna pushpa
ebut dapat para dewa sikap añjali
dikenakan a, kundala,
g rambut da t foto 3.10 d
Relie Dokum
G hiasan pada Sumb
diidentifikas orang Rşi. an aksamala an gambar 3
Foto 3.10 ef no seri Ia mentasi: Pen Gambar 3.11
tokoh Dewa ber: Pleyte, 1
sikan melalu Penggamb a yang digun
3.12).
a, gambar fo 1901
ui deskripsi barannya b nakan sebag
pa
to no 3.9
45
pada panil berjanggut,
2
merupakan g 37 dalam po
hkan guru te ga beliau ber nya kundala ber: Pleyte, 1
ran Siddhārt mudra ke ara
um akan pe danya. Perh 3.11 dan gam
a 37
tha yang dig ah sang pan
engetahuan hiasan yang mbar 3.13).
no 3.10
wal dan daya kuta, kundal
n gambar 3. Jenis perh
ran raja dap g menggam hiasan pada
Sumb ber: Pleyte, 1
fikasikan m
a Śudhodana
yang diken ra, keyura, d
33 nulis
kundala
3
, gambar fot 1901
elalui deskr a diapit oleh nakan raja t dan kankana
o no 3.11
47
ripsi cerita h beberapa
2 a, cannavira
n gambar 3. Jenis perhia
an seorang 28 yang me asan pada to
Sumbe
ratu dapat enggambark
an yang di ankana, kat
Foto 3.13 okoh Raja, g er: Pleyte, 19
diidentifikas
gambar foto 901
sikan melalu
āyādevi berd erdiri atas ja padavalaya a
no 3.12
ui deskripsi diri disertai atamakuta,
san yang dik
an keyura (li Jenis perh
, diwakili ol ajāpatī Ga engganti ibu
nirvana. Pe
enggendong kenakan terd hat foto 3.14
Relie
u Pangeran enggambara g pangeran diri atas kirita
4 dan gamba
Foto 3.14 ef no seri Ia mentasi: Pen Gambar 3.15 tokoh Ratu ber: Pleyte, jat kisahkan b Siddhārtha an dalam rel Siddhārtha a makuta, k
ar 3.16).
30 nulis 5
, gambar fot 1901 a, setelah d
2 si cerita da rtha duduk d san yang dik a, hara, key
perhiasan p
mbaran seo alam panil di atas sing kenakan pan yura, kankan
Reli Doku G pada tokoh B Sumb
rang panger no. Ia 51 y ggasana dik
ngeran terdi na, dan katis
Foto 3.15 ief no seri Ia umentasi: Pe Gambar 3.16
Bangsawan w ber: Pleyte, 1
kir ka
ku ha ke
ran dapat d yang meng elilingi oleh ri atas jatam sūtra (lihat f
foto 3.15 da bar foto no 3
kan melalui Pangeran ng-dayang. na pushpa,
atta terdiri a
, dan katisūt Jenis perhia
tokoh ban hkan Dewa kepada Pan ada cerita p
tas kirita ma tra (lihat foto
Rel Doku
G san pada to
Sumb
ngsawan d adatta yang ngeran Sidd panil no. Ia akuta, karna
ber: Pleyte, Kirita
a 44. Perhia a pushpa, ke
ambar 3.18)
foto no 3.15
51
Pangeran gajah putih
2
laya (lihat fo s perhiasan p
pangeran da 8 yang men perhiasan y yura, kanka
oto 3.17 dan
Reli Doku Ga pada tokoh B Sumbe
apat diidenti nggambarka
yang relatif ana, upavita
gambar 3.1 er: Pleyte, 19
kirita
ifikasikan m n para pang sama, terd
geran Sakyā
iri atas kirit bandha, kat ar foto no 3.1
ripsi cerita
ā. Terdapat ta makuta,
ala, hara, ka enis perhias
ita, diwakili o
ā diidentifika ya duduk di
Perhiasan ankana, dan
Re Dok G san pada tok Sumbe er: Pleyte, 1
putri yang di lui deskripsi a dan didam enakan terd hat foto 3.18
8 Ia 50 Penulis an, gambar fo
901 i pada panil mpingi dayan
diri atas th 8 dan gamba
oto no 3.17
2 ng memiliki mbarkan me embahan. D genakan per yaham, kund
bar 3.21). s perhiasan
penggamb i cerita pad konteks den megang cam Dalam pan
rhiasan ser dala, hara, pada tokoh Sum
aran dayan da panil no ngan ratu ata
mara, kipas il ini terda upa. Perhia
kankana, d Gambar 3.2 Bangsaawa mber: Pleyte,
ng-dayang d . Ia 55. Pe au raja. Bias , alat musik apat tiga asan yang d dan katisūtra 20
n wanita, ga 1901 k, atau mang
dayang-day dikenakan t a (lihat foto ambar foto n
ntifikasikan an dayang-ang-dayang
gkuk berisi yang yang
terdiri atas o 3.19 dan
kripsi cerita p gan raja atau erapa di
mbarkan be gawal pada
dibandingka iasan yang dan gamba is perhiasan
ggambaran pada panil n u ratu. Atrib antaranya rjumlah seb
barisan de n dengan p dikenakan t r 3.22)
G pada tokoh Sumb
pengawal no. Ia 34. Pe ut yang digu
menggeng belas orang,
pan menge pengawal pa
terdiri atas j Gambar 3.21 h Dayang-da ber: Pleyte, 1
thoy ada barisan
jamang, har h tongkat, p ng. Pengaw
rhiasan yang iasan yang
belakang ro ra, kankana bar foto no 3
55
an melalui liki konteks perisai, dan
wal yang g berbeda.
Jeenis perhias
Reli Dokum
G san pada tok Sumb
Foto 3.20 ef no seri Ia mentasi: Pe
Gambar 3.22 koh Pengawa
er: Pleyte, 1 34 nulis
al, gambar f 901
jamang
hara
kankana
57
Hasil identifikasi perhiasan yang dikenakan para tokoh pada episode 2 adalah cerita relief Lalitavistara sebagai berikut :
3. Empat pertemuan dan pelepasan Siddhārtha
Episode ini mengisahan hal-hal yang mengubah pandangan Pangeran
Siddhārtha akan kehidupan. Pertama, Ia bertemu dengan orang tua. Kedua,
bertemu dengan orang sakit, dan ketiga bertemu dengan orang mati. Pengalaman tersebut membuat pangeran menyadari adanya prinsip ketidak kekalan dalam kehidupan dan kefanaan kehidupan dunia. Peristiwa yang terakhir, yaitu pertemuan dengan seorang petapa memberikan inspirasi
Keterangan:
: Atas ↖: Atas bagian kanan √: Ada
: Kanan ↗: Atas bagian kiri −: Tidak
: Kiri : Bawah bagian kanan
↔: Tengah : Bawah bagian kiri
Tabel 3.2
Pangeran Siddhārtha untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan mencari kebenaran sejati (Leber, 2011).
Episode tersebut diawali dengan adegan pelarian dramatis Pangeran
Siddhārtha dari istana. Pangeran Siddhārtha meninggalkan segalanya yang Ia
miliki di dalam istana.
Para wanita cantik mengelilingi Pangeran Siddhārtha, mereka menampilkan
musik yang merdu berserta tari-tarian dan senandung penuh rindu. Peristiwa tersebut mengingatkannya akan kehidupan-kehidupannya di masa lampau. Ketika Ia menaklukkan nafsu duniawi dalam rangka mencapai tujuan penyempurnaan diri sebagai Bodhisatva yang penuh welas asih (Leber, 2011).
Menindak lanjuti ramalan Brāhmana terhadap Pangeran Siddhārtha, bahwa
kelak Ia akan menjadi Buddha. Raja Śuddhodana membuat rencana
mengalihkan perhatian Pangeran Siddhārtha. Segala upaya dilakukan untuk
mencegah putranya meninggalkan istana. Berkaitan dengan hal tersebut Sang Raja menawarkan tiga istana megah sebagai tempat tinggal Pangeran Siddhārtha.
Dalam perjalanan menuju istana baru, Raja Śuddhodana memastikan bahwa
putranya dikawal ketat dan disertai para wanita cantik istana. Pangeran
Siddhārtha semakin lama-semakin tidak menyukai kehidupan yang diberikan
ayahnya. Ia menganggap kehidupan tersebut penuh kemalasan dan hingar-bingar duniawi.
Pelarian dramatis Pangeran Siddhārtha dilakukan saat malam hari, pada saat
orang terlelap tidur. Pangeran Siddhārtha meninggalkan istri dan putranya. Ia
hanya didampingi pelayannya yang setia, yaitu Chandaka dan kudanya Thaka.
stupa di alam Siddhārtha d
hari dan me a.
an Siddhārth
irikan kelua udian rambu m dewa seb dari ikatan k
tersebut div ar 3.2). Da ikan sebaga
penggamba o. Ia 65, ya uh lima toko rhiasan yang
ut tersebut d agai relik ist keduniawian.
visualisasika alam panil-p ai berikut:
ran dewa d ng penggam oh dewa den
g dikenakan hara, upav
an dalam 12 panil tersebu
dapat diident mbarannya ngan variasi
pada umum vita (dikenak
(lihat foto 3.
Foto 3.21 ef no seri Ia 6 mentasi: Pen
ekadnya me
k memotong t yang dipo n para dewa k mengenan
2 panil, yaitu ut terdapat
tifikasikan m dalam posis perhiasan y mnya terdiri a
kan oleh s ng peristiwa
u panil no. I sejumlah to
melalui desk si melayang yang relatif s
atas jatamak sebagian ke mbar 3.23).
59
ang petapa
panjangnya
kripsi cerita g. Terdapat sama,
rata-kuta, karna
3 san yang dik bhujangavala Jenis perhia
an seorang tu penggam n posisi le kenakan ter aya, keyura Ga asan pada to Sumbe
raja diident mbaran Raja
ebih tinggi diri atas jata
dan kanka
Foto 3.22 ambar 3.23 okoh Dewa, g er: Pleyte, 19
tifikasikan m
Śuddhodan
dari tokoh amakuta, ka
ana (lihat fo gambar foto na yang dud
lainnya da
kripsi cerita duk di atas alam panil.
a, kundala,
nggasana d san yang dik bhujangavala aya, keyura
Relie Dokum
Ga asan pada to Sumbe
geran dapat enggambara elilingi oleh diri atas jata , dan kanka
Foto 3.23 ef no seri Ia mentasi: Pen ambar 3.24
okoh Raja, g er: Pleyte, 19 jata amakuta, ka
ana (lihat fo
63 nulis
gambar foto 901
ui deskripsi a duduk di ng-dayang. a, kundala,
4 ada panil no tha. Perhias dan kankana
enis perhias
tokoh terse o. Ia 60 yan
an yang dike a (lihat foto 3
Reli Doku G san pada tok Sumbe
ebut dapat ng menggam
enakan terd 3.24 dan gam
Foto 3.24 ef no seri Ia mentasi: Pe ambar 3.25 koh Pangera er: Pleyte, 1 jata
iri atas thoy mbar 3.26).
60 nulis
an, gambar fo 901
amakuta
rna pushpa
ndala